MAKALAH
Defenisi, Ruang Lingkup, dan Sejaran Seni Drama Dosen Pengampu : Muhammad Feri Prayoga M.Pd
Disusun Oleh Kelompok 1 :
1. Aulia Rizky Tahira (22.03.06.007) 2. Nur Ramadhani safitri (22.03.06.035)
PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH
AL-WASHLIYAH KOTA BINJAI
TAHUN AJARAN 2024/2025
i
KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah atas segala limpahan karunia Allah SWT. Atas izin- Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Tak lupa pula kami kirimkan shalawat serta salam kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW.
Beserta keluargaNya, para sahabatNya, dan seluruh ummatNya yang senantiasa istiqomah hingga akhir zaman.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah “Seni Drama”. Kami mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, khususnya kepada bapak Muhammad Feri Prayoga selaku Dosen Seni Drama yang telah memberikan tugas ini kepada kami. Kami memperoleh banyak manfaat setelah menyusun makalah ini.
Akhirul kalam, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Karena itu kami mengharapkan saran dan kritik konstruktif demi perbaikan makalah di masa mendatang. Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat dan memenuhi harapan berbagai pihak.
Demikian makalah ini kami susun, semoga bisa memberikan manfaat kepada pembaca.
Binjai, Maret 2025
Kelompok 1
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penulisan ... 2
BAB II PEMBAHASAN ... 3
2.1 Definisi Seni Drama ... 3
2.2 Ruang Lingkup Seni Drama ... 5
2.3 Sejarah Seni Drama ... 10
BAB III PENUTUP ... 12
3.1 Kesimpulan ... 12
3.2 Saran ... 12
DAFTAR PUSTAKA ... 13
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Drama, merupakan salah satu gendre sastra yang juga diajarkan baik pada sekolah lanjutan maupun perguruan tinggi. Pengajaran drama di sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia, selama ini disinyalir masih kurang memuaskan.
Berbagai persoalan yang mempengaruhi kondisi tersebut masih berkaitan dengan masalah lemahnya strategi pembelajaran. Padahal diketahui bersama bahwa, pembelajaran drama, sebagaimana juga gendre sastra lainnya tidak semata-mata bertujuan agar anak didik menjadi sastrawan atau dramawan yang handal, melainkan lebih untuk memberi kemampuan mengapresiasi darma. Kemampuan mengapresiasi tersebut akan mengantar anak didik untuk lebih meminati dan bersikap positif terhadap drama. Dalam konteks pembelajaran bahasa asing, kemampuan memahami teks, menganalisis makna yang terkandung dan keterampilan mengungkapkan ide dan pendapat mereka akan sangat membantu pengembangan kemampuan berbahasa mereka. Persoalannya adalah banyak pengajar yang masih belum memahami secara baik, bagaimana mengajarkan drama. Drama hanya dimaknai sebagai sandiwara yang akan sulit diajarkan di kelas karena berbagai kendala. Padahal dalam konteks belajar bahasa asing, teks drama seharusnya dapat dijadikan sarana yang sangat membantu upaya peningkatan kemampuan berbahasa anak didik. Terkait dengan itu guru memerlukan pemahaman yang baik tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan hakikat drama termasuk didaktik dan metodik pembelajarannya. (Marantika, 2014)
Drama sudah berkembang di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan Bangsa Indonesia. Drama merupakan suatu bentuk cerita konflik sikap dan sifat manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan gerak (action) dihadapan pendengar atau penonton.1 Pada masa setelah kemerdekaan Indonesia, Sastrawan-sastrawan mulai banyak yang muncul dalam sejarah sastra Indonesia. Banyaknya para sastrawan yang mulai berkembang di Indonesia akhirnya memunculkan adanya beberapa periode. Periode pertama
2
tahun 1900-1933, periode kedua 1933-1942, periode keempat 1945-1953, periode kelima tahun 1953-1961 dan periode keenam tahun 1961 sampai sekarang.
(Mulyani, E., S., 2014)
Seni drama merupakan salah
satu cabang seni yang telah berkembang sejak zaman kuno dan terus mengalami transformasi hingga saat ini. Drama memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan, menggambarkan kehidupan sosial, serta menghibur masyarakat. Dalam dunia pendidikan, seni drama juga dijadikan sebagai media pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan kreativitas dan keterampilan komunikasi siswa. Oleh karena itu, pemahaman mengenai seni drama, termasuk definisi, ruang lingkup, dan sejarahnya, sangat penting agar dapat mengapresiasi serta mengembangkan seni ini dengan lebih baik.
Meskipun seni drama telah lama dikenal, tidak semua orang memahami esensi dan cakupannya secara mendalam. Banyak yang menganggap drama hanya sebagai hiburan semata, padahal drama memiliki nilai edukatif, sosial, dan budaya yang tinggi. Untuk itu, perlu adanya kajian yang lebih mendalam mengenai seni drama agar masyarakat dapat memahami dan mengapresiasi seni ini secara lebih luas.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Apa pengertian seni drama?
2. Apa saja ruang lingkup seni drama?
3. Bagaimana sejarah perkembangan seni drama?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Menjelaskan definisi seni drama.
2. Mengidentifikasi ruang lingkup seni drama.
3. Menguraikan sejarah perkembangan seni drama
3 BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi Seni Drama
Seni sebagai estetika emosional telah mampu menunjukan eksistensinya dalam konteks ruang dan waktu. Estetika emosional dimaksudkan sebagai pendidikan emosi bagi setiap manusia. Melalui seni manusia dapat merasakan, merefleksikan kehidupan melalui estetika yang ditawarkan oleh setiap bentuk repertoar karya seni yang dibentuk dari kreativitas manusia. Kreativitas merupakan salah satu aspek penting dalam menghasilkan sebuah karya seni. Seseorang akan mampu menciptakan suatu karya dengan ide gagasan, pengalaman hidup serta hasil imajinasi yang luas. Semua manusia terlahir dengan kemampuan berkreasi, namun dengan tingkatan dan kualitas yang berbeda-beda dalam pencapaiannya. (Renda, R., 2020)
Dalam kehidupan manusia begitu banyak peristiwa yang terjadi di muka bumi ini. Peristiwa ini terlahir dari segala kegiatan dan aktivitas manusia yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pada lingkungannya yang dapat menghasilkan berbagai kisah atau cerita dalam karya sastra tentang pengalaman yang dilalui oleh seseorang. Untuk mengetahui peristiwa kehidupan manusia, pengarang harus mampu mengamati dengan penuh penghayatan tentang peristiwa yang terjadi agar pengarang benar-benar merasakan peristiwa yang di alami oleh manusia. Setelah pengarang mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi dalam kehidupan manusia, pengarang kemudian mengungkapkan kembali melalui rangkaian tulisan yang dituangkan dalam sebuah karya sastra. Tingkat fleksibiltas yang tinggi dari seni drama ini memungkinkan seseorang untuk ikut terlibat dalam sebuah produksi teater bahkan tanpa perlu bisa bermain drama. Ia bisa bertugas sebagai pengisi ilustrasi musik, pembuat dekorasi, penata rias dan busana atau bahkan hanya dengan menjadi portir. (Gustiawan et al., 2023)
Berdasarkan penjelasan di atas, sastra merupakan sebuah ciptaan atau kreasi dari seseorang yang memiliki potensi dalam mengkreasikan pikirannya melalui seni untuk menunjukkan sebuah makna dalam pemikirannya. Pencipta karya sastra
4
disebut dengan sastrawan karna mampu manciptakan sebuah dunia baru dalam hasil karya imajinasinya. Sastra berisi pengungkapan yang “tidak bisa terungkapkan”.
(Anwar, F., 2019)
Drama sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu draomai yang berarti berbuat, bertindak, dan sebagainya. Kata drama dapat diartikan sebagai suatu perbuatan atau tindakan.1 Secara umum, pengertian drama merupakan suatu karya sastra yang ditulis dalam bentuk dialog dan dengan maksud dipertunjukkan oleh aktor.
Pementasan naskah drama dapat dikenal dengan istilah teater. Drama juga dapat dikatakan sebagai cerita yang diperagakan di panggung dan berdasarkan sebuah naskah. (Rohana & Sari, N. I., 2019: 1)
Drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas.
Drama sebagai teks merupakan bagian dari karya sastra.2 Ciri khas drama dibandingkan dengan genre sastra lain adalah adanya dialog dan orientasi pada seni pertunjukan. Oleh karena itu, drama dapat dianggap sebagai suatu karya yang memiliki dua dimensi, yakni dimensi sastra dan dimensi pertunjukan.( Tarsinih, E.,
& Tarsinih, E., 2016)
Drama merupakan jenis genre karya sastra yang berbentuk percakapan. Drama juga dapat diartikan sebagai bentuk lakon seni yang bercerita lewat percakapan dan action tokohtokohnya. Percakapan atau dialog itu sendiri bisa juga dipandang sebagai pengertian action. Akan tetapi, sekalipun merupakan satu bentuk kesusastraan, cara penyajian drama berbeda dari bentuk kesusastraan lainnya.
(Rahmadona et al., 2022)
Sebuah drama tentunya juga memiliki unsur-unsur tertentu. Unsur-unsur drama pun hampir sama dengan karya sastra lain pada umumnya, seperti novel, di antaranya memiliki tema sebagai gagasan utama, latar atau setting, tokoh dan penokohan serta amanat atau pesan yang ingin disampaikan.3
1 Rohana, & Sari, N. I. (2019). Buku seni drama. April, 117.
2 Tarsinih, E., & Tarsinih, E. (2016). Analisis Naskah Robohnya Surau Kami Dan Penggunaannya
Untuk Menyusun Model Menulis Naskah Drama Di Universitas Wiralodra Indramayu.
3 Zakky, Unsur-Unsur Drama https://www.zonareferensi.com/unsur-unsur-drama/ di Akses Pada 12 Maret 2025
5 2.2 Ruang Lingkup Seni Drama
2.2.1 Unsur-Unsur Drama
Struktur merupakan unsur-unsur yang telah disusun berdasarkan bagian yang saling terhubung antara suatu objek dengan objek lainya Struktur pada naskah drama merupakan bagian yang terdiri dari unsur-unsur drama yaitu alur, tokoh, setting, tema, dan amanat yang saling terhubung satu sama lain hingga terdapat satu kesatuan jalanya cerita menarik dan tidak bersifat sederhana, serta maksud yang ingin disampaikan pengarang dapat tersampaikan dengan baik. Dapat dijelaskan struktur tersebut dikenal sebagai struktur dramatik. (Maula et al., 2023)
Satoto (2012) mengemukakan unsur-unsur penting yang membina struktur sebuah drama adalah :
1) tema dan amanat
2) penokohan (karakterisasi, perwatakan) 3) alur (plot)
4) setting (latar):
a) aspek ruang b) aspek waktu 5) tikaian atau konflik
6) cakapan (dialog, monolog)
Drama bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dipentaskan. Karena itu, menurut Brockett (1964) unsur drama meliputi plot, tokoh dan penokohan, tema dan ide, dialog, pertunjukan, latar dan kostum. (Lisnawati et al., 2019)
Secara lebih terperinci Tjahjono (1989) mengemukakan sesungguhnya unsur- unsur dalam drama tidak jauh berbeda dengan unsur-unsur yang terdapat dalam prosa fiksi. Sebagai karya sastra drama memiliki unsur 1) plot atau alur, 2) karakter atau tokoh, 3) dialog, 4) latar atau setting. Dan apabila drama sebagai naskah itu dipentaskan, maka harus dilengkapi dengan unsur 5) gerak atau aksion, 6) tata busana dan tata rias, 7) tata panggung, dan 8) tata bunyi dan tata sinar.
Berkaitan dengan penelitian ini, penulis hanya meneliti unsur drama berupa naskah bukan berupa pementasan. Karena itu, penelitian ini hanya akan mengkaji
6
unsur drama yang meliputi alur, tokoh dan penokohan, latar atau setting, tema, dan dialog.
2.2.2 Jenis Drama
Sebagai karya sastra dan seni, drama memiliki beberapa jenis atau bentuk diantaranya adalah (Santosa, 2012)4:
1) Drama Boneka
Pertunjukan drama boneka sudah sejak lama dilakukan yaitu sejak zaman tradisional. Ketika zaman dahulu boneka sering digunakan oleh pencerita dalam menceritakan kisah-kisah legenda dan kisah yang bersifat religius. Pertunjukan boneka sudah dimainkan ketika zaman mesir kuno, India kuno, dan juga zaman Yunani. Sisa-sisa peninggalannya masih bisa dilihat dari makam-makan yang ada di daerah tersebut.
Boneka-boneka tersebut memiliki bentuk dan cara permainan yang berbeda.
Boneka yang terbuat dari bahan biasanya menggunakan tangan untuk memainkannya. Selanjutnya ada juga jenis boneka yang terbuat dari kayu dengan tongkat yang dimainkannya dengan memegang bagian bawahnya untuk menggerakkan bonekanya. Selain itu ada juga boneka tali yang cara memainkannya dengan cara menggerakkan kayu dengan cara menyilangkan tali boneka yang diikatkan.
Sebenarnya pertunjukkan drama boneka sudah dilakukan sejak zaman dulu di Indonesia, khususnya di pulau Jawa yang namanya wayang kulit. Wayang kulit termasuk dalam pertunjukan drama boneka. Dalam permainanya wayang kulit dimainkan dengan layar tipis dan lampu yang menghasilkan bayangan wayang di layar tipis tersebut. Para penonton duduk di depan layar dan orang yang memainkan berada di balik layar tersebut. Sering kali pertunjukan wayang kulit diiringi dengan musik-musik tradisional jawa.
Selain di Indonesia, pertunjukan boneka juga dimainkan di Jepang. Di negara tersebut pertunjukan boneka dikenal dengan boneka Bunraku. Dalam permainannya boneka Bunraku dimainkan dengan tiga orang dalang. Dalang Utama
4 Jupri, A. R., Solihati, N., & Sari, Z. (2024). Pembelajaran Drama Melalui Metode ‘Menu Baper’
(Membaca Menulis Bermain Peran).
7
menggerakkan boneka secara penuh dan lainnya bernyanyi dan menceritakan kisahnya. (Jupri et al., 2024: 27)
2) Drama Musikal
Drama dalam bentuk musikal adalah suatu pertunjukan yang menggabungkan seni drama dengan seni musik, menyanyi dan menari. Jenis drama ini mengedepankan unsur musik atau nyanyi serta gerak dibanding dengan seni dramanya. Dialog-dialog dalam drama musikal ini tidak diucapkan melainkan dinyanyikan atau diberika nada pada setiap dialognya. Istilah drama musikal sering sekali disandingkan dengan istilah kabaret. Istilah kabaret merupakan jenis pertunjukan yang dilakukan di panggung Broadway. Pemain dituntut bisa menyanyi dan menari dalam pertunjukan ini. Kemampuan penghayatan seorang pemain bukan menjadi satusatunya yang harus dilakukan, namun kemampuan menari, bernyanyi dan juga mendialogkan cerita dengan nada. Jenis drama ini dikatakan drama musikal karena latar belakang musik yang menjadi utama dan dialog-dialog yang dinyanyikan. Selain kabaret, bentuk drama musikal lain yang dapat digolongkan ke dalam drama musikal adalah opera. Dalam pertunjukan opera para pemain mendialogkan cerita juga dengan cara menyanyikan dialognya dengan cara seriosa dan dengan diiringi oleh musik orkestra dan lagu lainnya. Para tokoh menyanyi untuk menceritakan kisah dari cerita yang dibawakan. Perasan-perasan yang muncul dalam cerita tersebut juga dibawakan dengan cara bernanyi dan iringan musik sehinga para penonton terhibur.
3) Drama Gerak
Drama gerak adalah pertunjukan drama yang unsur utamanya ekspresi wajah dan gerak serta tubuh para tokohnya. Dalam drama gerak dialog digunakan secara terbatas bahkan dalam beberapa bentuk seperti pantomin klasik dialog itu dihilangkan. Jadi drama ini mengutamakan kekuatan gerak daripada dialog-dialog para tokohnya. Awalnya drama gerak inin muncul dari ekspresi kebebesan para seniman drama di masa del’ arte di Italia. Pada masa tersebut para pemain drama bebas mengekspresiakan geraknya sesuka hati bahkan dalam beberapa kesempatan peran mereka lepas dari lakon yanhg dimainkan. Gerakan-gerakan tersebut sebenarnya dimaksudkan agar para pemain memperhatikan mereka di atas
8
panggung. Kebebasan gerak tersebut menjadikan titik awal pertunjukan drama berbasis gerak secara mandiri muncul. Bentuk drama gerak yang masih populer saat ini adalah pantomim. Jenis drama ini mencoba mengekspresikan cerita melalui tingkah laku dan gerakan serta mimik wajah yang menghibur dari para pemainnya.
Makna-makna yang tersirat melalui gerakan yang ditampilkan merupakan kekuatan dari pantomim ini. Negara yang banyak menghasilkan pemain pantomim hebat salah satunya adalah Perancis dan Itali.
4) Drama Dramatik
Penggunaan istilah dramatik sebenarnya untuk menyebutkan sebuah pertunjukan drama yang berdasarkan dramatika lakon yang dimainkan atau dipentaskan. Pada drama dramatik ini mengutamakan karakter secara psikologis para pemainnya yang dibuat secara mendetail. Hal ini sangat diperhatikan sekali karena dalam dramatik masalah kejiwaan pemain dan karakter para pemain sangat ditonjolkan. Drama ini tidak terlalu mementingkan artistik yang berlebihan karena fokus utama adalah pemain dan sutradara akan memaksimalkan peran pemain dalam mengungkapkan perasaan-perasaan yang muncul dalam sebuah cerita.
Dengan demikian pemain menjadi sentral dalam drama dramatik ini.
5) Teatrikali Puisi
Teatrikali puisi sebenarnya merupakan sebuah pertunjukan drama yang didasarkan dari sebuah puisi. Karya puisi tersebut menjadi bahan dasar dalam pemain mementaskan atau menggerakan tubuhnya. Istilah lain dari teatrikali puisi adalah dramatisasi puisi. Kedua istilah ini sama maknya yakni menjadikan puisi sebagai naskah yang akan dimainkan pemain. Dalam memainkan gerakan tubuh, para pemain teatrikali puisi mendasarkan gerakannya berdasarkan puisi yang dibacakan. Para pemain bergerak menyesuaikan bait-bait puisi yang dibacakan oleh seseorang. Tidak ada dialog yang diucapkan oleh para pemain dalam teatrikali puisi. Pemain memiliki fungsi memvisualisasikan puisi dalam bentuk gerakan dan tidak ada dialog yang diucapkan.
2.2.3 Ciri-Ciri Drama
Ciri-ciri naskah drama adalah sebagai berikut :
9
a. Seluruh cerita berbentuk dialog, baik tokoh maupun narator. Inilah ciri utama naskah drama. Semua ucapan ditulis dalam teks. (Rahmayantis et al., 2022:
10) Contoh:
Suatu hari di sebuah desa terpencil, ada seorang pemuda berpenampilan sederhana. Ia bernama Sumadi.
b. Semua dialog tidak menggunakan tanda petik (“...”). Dialog drama bukan kalimat langsung. Oleh karena itu, naskah drama tidak memakai tanda petik.5 Contoh:
Ardhi : Kita bisa selesaikan masalah ini.
Sumadi : Sudahlah! kamu tidak perlu memikirkan ini. Ini bukan masalah yang besar. Jadi kita tidak perlu membincangkan terlalu serius.
c. Naskah drama dilengkapi petunjuk tertentu yang harus dilakukan tokoh pemerannya. Petunjuk itu ditulis dalam tanda kurung (...) atau dengan memberikan jenis huruf yang berbeda dengan huruf dialog.
Contoh:
Ardhi : Sudah! Jangan dilanjutkan lagi perkelahian ini. Sebaiknya kita selesaikan secara dewasa (sambil berwajah serius)
d. Naskah drama terletak diatas dialog atau di samping kiri dialog.
Contoh:
Ari Susanti : Hai, kok duduk saja.
Maman : Lagi istirahat. Panas banget.
Ari Susanti : Gimana kabarmu?
Maman : Yah beginilah! Kau bisa lihat sendirikan! (membetulkan tumpukan koran dagangannya yang ada di pangkuannya)
Menulis naskah drama merupakan penciptaan karya sastra yang didasarkan pada konflik kehidupan manusia yang mempunyai nilai kehidupan, yang disajikan dalam bentuk dialog-dialog, yakni nilai-nilai yang bermakna kehidupan, yang mengarahkan dan meningkatkan kualitas hidup kita sebagai manusia. Penulisan
5 Rahmayantis, M. D., Waryanti, E., & Puspitoningrum, E. (2022). Menulis Kreatif Naskah
Drama.
10
naskah drama merupakan suatu proses yang utuh yang mempunyai keseluruhan.
(Khaerul et al., 2019)
2.3 Sejarah Seni Drama
Kebanyakan dari kita mengira bahwa drama berasal dari Yunani Kuno. Namun demikian, sebuah buku yang berjudul A History of the theatre menunjukan pada kita bahwa pemujaan pada Dionisus, yang kelak diubah kedalam festival drama di Yunani, berasal dari Mesir Kuno. Tek Piramid yang bertanggal 4000SM. Adalah naskah Abydos Passion Play yang terkenal. Tentu saja para pakar masih meragukan apakah teks itu drama atau bukan sebelum Gaston Maspero menunjukan bahwa dalam teks tersebut ada petunjuk action dan indikasi berbagai tokohnya.6
Ada tiga macam teori yang mempersoalkan asal mula drama. Menurut Brockett, drama mungkin telah berkembang dari upacara relijius primitif yang dipentaskan untuk minta pertolonga dari Dewa. Upacara ini mengandung banyak benih drama.
Para pendeta sering memerankan mahluk superaalami atau binatang; dan kadang – kadang meniru action berburu, misalnya. Kisah-kisah berkembang sekitar beberapa ritus dan tetap hidup bahkan setelah 7 upacara itu sendiri sudah tidak diadakan lagi.
Kelak mite-mite itu merupakan dasar dari banyak drama. (Mofid, M., 2015: 6) Teori kedua memberi kesan bahwa himne pujian dinyanyikan bersama didepan makam seorang pahlawan. Pembicara memisahkan diri dari koor dan memperagakan perbuatan-perbuatan dalam kehidupan almarhum pahlawan itu.
Bagian yang diperagakan makin lama makin rumit dan koor tidak dipakai lagi.
Seorang kritisi memberi kesan bahwa sementara koor makinlama makin kurang penting, muncul pembicara lain. Dialog mulai terjadi ketika ada dua pembicara diatas panggung.
Teori ketiga memberi kesan bahwa drama tumbuh dari kecintaan manusia untuk bercerita. Kisah – kisah yang diceritakan disekeliling api perkemahan menciptakan kembali kisah – kisah perburuan atau peperangan, atau perbuatan gagah seorang pahlawan yang telah gugur. Ketiga teaori itu merupakan cikal-bakal drama.
6 Mofid, M. (2015). Drama dan Aplikasi. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang.
11
Meskipun tak seorang pun merasa pasti mana yang terbaik, harus diingat bahwa ketiganya membicarakan tentang action. Konon, action adalah intisari dari seni pertunjukan.
Sedangkan perkembangan drama di Indonesia tak sesemarak dan setua perkembangan puisi dan prosa. Kalau puisi dan prosa mengenal puisi lama dan porsa lama, tak demikianlah dengan drama. Genre sastra drama di Indonesia benarbenar baru, seiring dengan perkembangan pendidikan di Indonesia, muncul pada tahun 1900-an.
Sastra drama di Indonesia ditulis pada awal abad 19, tepatnya tahun 1901, oleh seorang peranakan Belanda bernama F. Wiggers, berupa sebuah drama satu babak berjudul Lelakon Raden Beij Soerio Retno. Untuk selanjutnya bermunculanlah naskah-naskah drama dalam bahasa Melayu Rendah yang ditulis oleh para pengarang peranakan Belanda dan atau Tionghoa.
12 BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan dalam makalah ini, dapat disimpulkan bahwa seni drama merupakan salah satu cabang kesenian yang berkembang di Indonesia, baik sebelum maupun setelah kemerdekaan. Drama bukan hanya sebuah bentuk hiburan semata, tetapi juga memiliki nilai edukatif, sosial, dan budaya yang tinggi. Sebagai karya sastra, drama ditulis dalam bentuk dialog yang dapat dipentaskan oleh aktor di atas panggung. Drama memiliki beberapa unsur penting yang membentuk struktur dramatik, seperti tema, tokoh, alur, setting, dan amanat.
Drama dapat dikelompokkan menjadi berbagai jenis, antara lain drama boneka, drama musikal, drama gerak, drama dramatik, dan teatrikali puisi, yang masing- masing memiliki ciri khas dan perbedaan dalam penyajiannya. Di Indonesia, seni drama baru berkembang pada awal abad ke-20, seiring dengan kemajuan pendidikan dan munculnya karya-karya sastra yang ditulis dalam bahasa Melayu Rendah. Pemahaman tentang seni drama sangat penting dalam pembelajaran bahasa dan sastra, karena dapat meningkatkan kemampuan berbahasa serta kemampuan berpikir kritis siswa.
3.2 Saran
Untuk melestarikan warisan budaya Indonesia, penting untuk memperkenalkan dan mempromosikan seni drama tradisional seperti wayang kulit dan pertunjukan boneka yang merupakan bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
13
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, F. (2019). Kritik Sosial dalam Naskah Drama Alangkah Lucunya Negeri Ini Karya Deddy Mizwar. , 4(1), 105-121. Jurnal Bahasa Dan Sastra, 4(1), 105–121.
Gustiawan, R., Mayar, F., & Desyandri. (2023). Analisis Pembelajaraan Seni Drama Untuk Melatih Kreativitas Pada Siswa Sekolah Dasar Kelas Tinggi.
Journal Of Social Science Research, 3, 11372–11383.
Jupri, A. R., Solihati, N., & Sari, Z. (2024). PEMBELAJARAN DRAMA Melalui Metode ‘MENU BAPER’ (Membaca Menulis Bermain Peran).
Khaerul, D., Kusuma, S., & Khaerudin, I. R. (2019). Pengembangan Bahan Ajar Menulis Drama Berdasarkan Pengalaman Pengarang sebagai Bahan Ajar Drama Di SMP / MTS. Jurnal Tuturan, 8(2), 86–95.
Lisnawati, I., Setiartin, T., & Nurjamilah, A. S. (2019). Drama ’ ’Lelakon Raden Bei Surio Retno ’ ’ Karya F. Wiggers Dalam Perspektif Pendekatan Struktural Dan Pendekatan Sosiologis. Jurnal Metabase, 1, 4/5.
Marantika, J. E. R. (2014). Drama Dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Tahuri, 11(2), 92–102.
Maula, M., Roekmana, G. M., & Syamsul, R. (2023). Struktur Dramatik Skema Hudson pada Naskah Drama “Krakatoa” Karya Mahdiduri. 7(3), 159–171.
Mofid, M. (2015). Drama dan Aplikasi. Institut Agama Islam Sunan Kalijogo Malang.
Mulyani, E. S. (2014). DRAMA W.S. RENDRA SEBAGAI KRITIK SOSIAL TAHUN 1973-1977 Endah Sri Mulyani Agus Trilaksana. AVATARA, e- Journal Pendidikan Sejarah, 2(3), 183–196.
Rahmadona, R., Jaya, W. S., & Hastut. (2022). Kemampuan Menulis Naskah Drama dengan Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Concept Sentence pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 8 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2021/2022.
Rahmayantis, M. D., Waryanti, E., & Puspitoningrum, E. (2022). MENULIS KREATIF NASKAH DRAMA.
14
Renda, R. (2020). Penciptaan Karya Seni Drama Belas Me Maling. 3(1), 1–10.
Rohana, & Sari, N. I. (2019). Buku seni drama. April, 117.
Tarsinih, E., & Tarsinih, E. (2016). Analisis Naskah Robohnya Surau Kami Dan Penggunaannya Untuk Menyusun Model Menulis Naskah Drama Di Universitas Wiralodra Indramayu. Bahtera Indonesia; Jurnal Penelitian Bahasa Dan Sastra Indonesia, 1(1), 39–48.
Zakky, Unsur-Unsur Drama https://www.zonareferensi.com/unsur-unsur-drama/
di Akses Pada 12 Maret 2025