• Tidak ada hasil yang ditemukan

Siapakah Diriku?

N/A
N/A
Kadek Mp

Academic year: 2025

Membagikan " Siapakah Diriku?"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : I Gusti Made Dharma Danan Jaya

NIM : 119130143

Jurusan : Teknik Elektro, Informatika, dan Sistem Fisika Prodi : Teknik Elektro

SILABUS HIDUP UAS

Siapa Sebenarnya diriku?

Jawab:

Saya adalah jiwatman atau roh yang memberi kehidupan kepada badan saya. Jiwatman bereinkarnasi dari kehidupan sebelumnya untuk menjadi lebih baik dalam kehidupan saat ini. Pada kehidupan sebelumnya ada hutang yang belum dibayar hutang tersebut disebut Tri Rna. Tri Rna adalah tiga hutang yang harus dibayar selama kita hidup, yang terdiri atas Dewa Rna (Hutang kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa), Rsi Rna (Hutang kepada rsi atau guru), dan Pitra Rna (hutang kepada leluhur atau orang tua). Maka saya sadar untuk membayar hutang tersebut di dunia sekarang. Dalam menjalani Tri Rna akan ada suatu perbuatan yang akan kita terima hasilnya, ini disebut hukum Karmaphala. Perbuatan yang akan diterima baik perbuatan dahulu diterima sekarang (Sancita Karma Phala) atau perbuatan sekarang akan diterima dikehidupan sekarang (Prarabdha Karma Phala) ataupun perbuatan sekarang akan diterima dikehidupan selanjutnya (Kryamana Karma Phala). Maka dari itu saya akan berusaha senaksimal mungkin untuk selalu melakukan perbuatan yang baik agar hasil yang didapat juga baik. Hukum ini diumpamakan sebagai kita menanam sesuatu jika kita menanam padi maka hasilnya akan padi bila kita menanam jagung maka hasilnya adalah jagung, tidak mungkin kita menanam padi hasilnya adalah jagung. Demikianlah perumpamaan yang pas untuk hukum karmaphala. Dalam manjalani kehidupan di dunia yaitu dalam menjalani Tri Rna dan tak luput dari hukum Karmaphala, saya sebagai manusia lebih diunggulkan dibanding

(2)

dengan makhluk hidup lainnya karena saya memiliki akal yang tidak dimiliki oleh makhluk hidup lainnya. Yang digunakan untuk berpikir sebelum bertindak dan berpikir sebelum berkata.

Apa yang harus kita lakukan saat hidup singkat ini?

Jawab:

Dalam menjalani hidup kita berpacu pada Tri Kaya Parisudha yaitu tiga kerangka dasar dalam menjalani kehidupan. Adapaun ketiga itu adalah berpikir yang baik (Manacika parisudha) berkata yang baik (Wacika parisudha) dan berbuat yang baik (Kayika parisudha). Dalam diri kita memiliki bersemayam atman, atman adalah percikan halus atau tekecil dari brahman yang berada dalam setiap makhuluk hidup. Atman dalam setiap badan manusia disebut dengan jiwatman atau sering disebut dengan roh. Dimana roh ini yang memberi badan kita kehidupan. Dengan adanya atman ini menunjukkan kita mampu untuk mencapai tujuan hidup yaitu moksha. Moksha adalah bersatunya atman dengan brahman dimana jikalau mencapai moksha kita tak akan lagi bereinkarnasi lagi. Untuk mencapai moksha ini selain berpacu pada Tri Kaya Parisudha kita juga harus meningkatkan spritual kita. Untuk meningkatkan spiritual, kita harus melakukan hal yang berkaitan dengan ketenangan yang dimana dalam pikiran kita hanya tertuju pada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Adapun yang harus dilakukan adalah melakukan sadhana, yoga, meditasi, membaca sloka, dan berkidung. Dengan melakukan hal yang telah disebutkan maka jalan menuju moksha akan lebih dekat dengan kita. Untuk melakukan hal tersebut kita harus melakukannya secara rutin agar kualitasnya benar-benar baik. Selain meningkatkan spiritual harus dibarengi dengan yadnya yang tertuang dalam panca yadnya. Panca yadnya adalah lima korban suci yang dilakukan secara tulus ikhlas.

Adapun yadnya itu adalah Dewa yadnya, Rsi yadnya, Manusa yadnya, Pitra yadnya, dan Bhuta yadnya. Dewa yadnya adalah korban suci secara tulus ikhlas yang kita tujukan untuk Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Rsi yadnya adalah korban suci yang ditujukan untuk para rsi, orang suci ataupun guru kita. Adapun contohnya adalah menghormati dan mematuhi

(3)

segala perintahnya. Manusa yadnya adalah upacara suci yang dilakukan untuk menjaga keseimbangan dunia. Pitra yadnya adalah korban suci yang ditujukan untuk para roh-roh leluhur kita. Bhuta yadnya adalah korban suci yang dilakukan untuk para bhuta atau makhluk bawah, tujuannya untuk menjaga keseimbangan dalam kehidupan.

Kemana kitta setelah mati?

Jawab :

Jenis-jenis kematian dalam penelitian ini ada tiga yaitu wafat karena hukum mati, wafat karena bunuh diri, dan wafat karena kecelakaan.

Dalam agama hindu kita mengenal Alam kematian yang disebut dengan Mrtya Loka. Dialam kematian kita dinilai dari segi perbuatan yang dilakukan dan spiritual yang dilakuakan. Dengan itu akan ditentukan ke suarga loka atau dilahirkan kembali (punarbhawa atau reinkarnasi) suarga loka atau nirwana adalah suatu tempat yang sangat tenang. Disana kita akan mendapatkan suatu ketenangan yang sempurna. Untuk mencapai keadaan tenang tersebut kita harus banyak melakukan kebaikan-kebaikan, seperti selalu menolong orang lain, membahagiakan orang lain, tekun melakukan sadhana, tidak menyakiti orang lain, tidak melakukan kejahatan, serta selalu di dalam ajaran dharma, maka saat itu atman berada dalam keadaan tenang. Atman dalam alam kematian (Mrtya loka) cenderung terang dan jernih. Sebaliknya, saat kita hidup di dunia ini memiliki kebiasaan pemarah, mementingkan diri sendiri, jarang menolong, jarang membahagiakan orang lain, sering menyakiti, tidak pernah bersadhana, dan banyak melanggar dharma, maka saat menyambut kematian ada dalam keadaan gelisah. Atman di Alam Kematian cendrung kacau, sedih, takut, sengsara. Bebasnya pikiran di Alam Kematian ini menyebabkan Atman terombang-ambing karena masih terikat dengan sifat duniawi. Sedikit saja muncul gangguan emosi, akan memberi dampak besar terhadap Atman. Contoh, bila semasa hidupnya, orangnya pemarah, sering sedih, sering takut, pemalu, memiliki nafsu seks tidak terkendali, maka apa yang dialami saat hidup di dunia, akan mengalami hal yang sama sampai berkali-kali lipat di alam

(4)

kematian. Begitu juga, saat hidupnya sangat menyayangi harta, maka kerinduan dengan harta berkali-kali lipat menyiksa pikirannya di alam kematian. Seperti pecandu narkoba yang mengalami sakau. Sang Atman juga memiliki kecenderungan ingin mengulangi kembali semua kenangan yang telah lama hilang dan ingin mengulangi kembali di berbagai tempat.

Seperti inilah hayalan Sang Atman melalui pikirannya di alam kematian yang sudah tentu sangat menyiksanya yang menyebabkan Atman terombang-ambing mengikuti pikiran yang liar. Sang Atman juga dapat melihat Atman-atman lain gentayangan sebagai hantu. Sang Atman dapat berdialog sesaat dengan mereka. Tetapi, karena pikirannya selalu bergerak bebas, seketika itu berada di tempat lain. Ada 3 hal buruk yang dialami sang atman bila atman tidak memiliki pengetahuan dharma dan tidak memiliki pengetahuan tentang kematian. 3 hal tersebut adalah : 1. Atman menjadi hantu dalam waktu lama. Penyebabnya:

a) Tidak menyadari bahwa dirinya sudah mati.

b) Menyadari dirinya mati, tetapi tidak rela mati karena masih memiliki ikatan duniawi yang sangat kuat. Ada menjadi hantu sampai puluhan bahkan ratusan tahun.

2. Atman ditangkap orang jahat yang memiliki kekuatan supranatural. Karena kebodohan Sang Atman, menyebabkan Atman dengan mudah ditangkap oleh orang jahat yang memiliki kekuatan supranatural. Di Alam Kematian (Mrtya Loka) ini, alamnya sangat liar dan bebas. Di alam ini berlaku hukum rimba, siapa kuat itu yang berkuasa. Atman yang tertangkap ini dijadikan budak atau diperalat untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan niskala yang jahat.

3. Atman ditarik masuk ke alam bawah untuk dijadikan budak bila tidak ada ajaran Siwa, tidak ada ajaran Tantra, tidak ada ajaran Dharma, atau orang tidak begitu paham ajaran Dharma yang mendalam, maka di tempat itu akan ada banyak hantu atau makhluk-makhluk liar alam bawah. Atman dipancing dengan suara dari orang-orang yang

(5)

dicintainya, sehingga Atman bergerak ke arah itu, lalu dijerumuskan ke alam bawah untuk dijadikan budak.

Apa yang kita bawa setelah mati?

Jawab:

Ketika kita mengalami kematian, harus harus segera melepaskan badan halusnya agar tidak terus bergentayangan di dunia ini. Yaitu dengan cara mengembangkan rasa ikhlas untuk berpisah dengan benda – benda duniawi dan berusaha menyadari bahwa adanya kehidupan yang lebih agung di alam yang lebih halus (alam kehidupan setelah mati atau mrtya loka). Setelah bebas dari badan halus, maka roh akan mengalami tidur yang nyenyak. Setelah terbangun dari tidurnya, sang roh sudah berada di kawasan alam astral (alam kehidupan setelah mati atau mrtya loka).

Telah disebutkan saat mengalami kematian kita harus ikhlas terhadap benda-benda duniawi, maka dari itu saat mengalami kematian yang dibawa adalah perbuatan yang kita lakukan selama kita hidup yang pastinya akan berkaitan dengan karmaphala. Maka dari itu selagi masih hidup teruslah berbuat kebaikan dan selalu meningkatkan jiwa spiritual karena hanya inilah bekal ketika kita mengalami kematian. Untuk meningkatkan jiwa spiritual rutinlah untuk bersadhana serta tak lupa melakukan yoga. Dengan hal tersebut bekal kita telah siap saat mengalami kematian. Tak lupa untuk membaca kitab suci veda karena itu adalah tuntunan kita selama hidup. Dengan melakukan hal tersebut niscaya kita akan mendapatkan tempat dimana tempat tersebut sangat tenang tempat ini disebut sebagai suarga loka. Dengan mencapai suarga loka tak sadar kita telah mencapai tujuan hidup dalam agama hindu itu sendiri yaitu moksha.

Referensi

Dokumen terkait

Mengerjakan studi kasus perhitungan PPh Pasal 21 untuk pegawai tidak tetap yang dibayar upah secara harian dan bulanan baik yang mempunyai NPWP dan tidak mempunyai

Adanya perintah menuliskan hutang adalah sesuatu bukti penghormatan Islam terhadap harta, baik itu berupa hutang uang yaitu sejumlah uang yang akan dibayar pada waktu

Sekali lagi, pendidik dituntut menjadi dewa penyelamat dalam suksesnya tujuan bersama untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa” yang kreatif dan sesuai dengan materi

Untuk menjamin pembayaran kembali sebagaimana mestinya mengenai segala sesuatu yang harus dibayar oleh PEMIN­ JAM kepada BANK berdasarkan perjanjian ini, baik yang berupa

Jurnal untuk membalik AJP Biaya bunga yang masih harus dibayar Hutang bunga

Orang yang mempunyai hutang sebesar atau mengurangi senishab yang harus dibayar pada waktu yang sama (dengan waktu mengeluarkan zakat), maka harta tersebut terbebas dari

Namun, Menurut hasil penelitian I Dewa (2013) menyatakan Debt to Equity Ratio (DER) tidak mempunyai pengaruh signifikan pada tingkat Underpricing diproksi dengan rasio total

Candi Prambanan di persembahkan untuk Trimurti, tiga dewa utama hindu yaitu Brahma sebagai dewa pencipta, Wishnu sebagai dewa pemelihara, dan Siwa sebagai dewa pemusnah.. Di dalam