Kolaborasi untuk Tumbuh dan Maju Bersama
serta Meningkatkan Kualitas Layanan
SISTEM PEMBAYARAN
ELEKTRONIK
CATUR ISWAHYUDI | BISNIS DIGITAL
Ekonomi digital adalah seluruh kegiatan perekonomian yang
memanfaatkan kecanggihan teknologi,
yaitu internet dan kecerdasan buatan
atau artificial intelligence (AI).
Pokok Bahasan
• Sistem Pembayaran
• Evolusi Sistem Pembayaran
• Pembayaran Elektronik (E-Payment)
• Uang Elektronik (E-Money)
• Mata Uang Digital
• Mata Uang Virtual
• Central Bank Digital Currencies (CBDC)
• Perkembangan Financial Technology (Fintech)
Capaian Pembelajaran
• Mahasiswa mampu menjelaskan bentuk-bentuk sistem pembayaran elektronik, perkembangan Fintech, serta
Ekosistem layanan keuangan di masa depan.
Cashless Payment Prediction
Ekonomi dan Keuangan Digital di Indonesia
Video: Evolution of Payment Method
Sistem Pembayaran
• Sistem Pembayaran adalah sistem yang mencakup seperangkat
aturan, lembaga, dan mekanisme yang dipakai untuk melaksanakan
pemindahan dana, guna memenuhi suatu kewajiban yang timbul dari suatu kegiatan ekonomi.
• Sistem Pembayaran lahir bersamaan dengan lahirnya konsep 'uang' sebagai media pertukaran (medium of change) atau intermediary
dalam transaksi barang, jasa dan keuangan.
• Pada prinsipnya, sistem pembayaran memiliki 3 tahap pemrosesan yaitu otorisasi, kliring, dan penyelesaian akhir (settlement).
Evolusi Sistem Pembayaran
• Evolusi uang sebagai sistem pembayaran digerakkan oleh:
• inovasi teknologi & model bisnis,
• tradisi masyarakat, dan
• kebijakan otoritas.
• Awal mula alat pembayaran yaitu sistem barter antar barang yang diperjualbelikan. Masalah muncul ketika dua orang ingin bertukar tidak sepakat dengan nilai pertukarannya atau salah satu pihak tidak terlalu membutuhkan barang yang akan ditukar.
• Untuk mengatasi hal itu, manusia mengembangkan uang komoditas. Komoditas adalah barang dasar yang hampir dibutuhkan oleh semua orang, misalnya garam, teh, tembakau, hingga biji-bijian.
• Hewan ternak digunakan sebagai uang komoditas pada tahun 900 hingga 6000 Sebelum Masehi (SM). Gandum, sayuran, dan tumbuhan kemudian juga dijadikan uang komoditas setelah muncul budaya pertanian.
• Uang primitif mulai digunakan sekitar tahun 1200 SM dan berupa cangkang kerang atau cangkang hewan lainnya.
• Orang Tionghoa mulai memproduksi imitasi kerang cowrie yang terbuat dari logam dan tembaga.
• Sekitar tahun 100 SM, potongan kulit rusa putih dengan ukuran dan diberi berbagai jenis warna juga pernah digunakan sebagai alat pembayaran.
• Uang kertas mulai digunakan pada sebagai alat pembayaran. Swedia merupakan negara pertama di benua Eropa yang menggunakan uang kertas di tahun 1661 setelah pabrik kertas didirikan pada tahun 1150
Evolusi Sistem Pembayaran
Sistem Pembayaran di Indonesia
Jenis Sistem Pembayaran
• Sistem Pembayaran Tunai
• Sistem pembayaran tunai menggunakan uang kartal (uang kertas dan logam) sebagai alat pembayaran.
• Sistem Pembayaran Non Tunai
• Pada sistem pembayaran non-tunai, instrumen yang digunakan
berupa Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK), cek, bilyet giro, nota debit, maupun uang elektronik (card based dan server based).
• Cakupan sistem pembayaran non tunai dikelompokkan menjadi 2 jenis transaksi yaitu transaksi nilai besar (wholesale) dan transaksi
Transaksi Nilai Besar vs Ritel
• Transaksi nilai besar
• bersifat penting dan segera (urgent), meliputi transaksi antar bank, transaksi di pasar keuangan atau transaksi dengan nilai ticket size ≥ Rp1 Miliar.
• Infrastruktur yang digunakan untuk memroses aktivitas transaksi ini
adalah Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (BI-RTGS) dan Bank Indonesia Scripless Securities Settlement System (BI-SSSS).
• Transaksi ritel
• meliputi transaksi antar individu dengan nilai ticket size < Rp1 Miliar dengan karakteristik bernilai kecil dan relatif tinggi frekuensinya.
• Infrastruktur yang digunakan untuk memroses aktivitas transaksi ini adalah Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI).
Evolusi Sistem Pembayaran di Indonesia
• Alat pembayaran di Indonesia berkembang sangat pesat dan maju.
• Alat pembayaran terus berkembang dari alat pembayaran tunai (cash based) ke alat pembayaran nontunai (non-cash) seperti alat
pembayaran berbasis kertas (paper based) misalnya cek dan bilyet giro yang diproses menggunakan mekanisme kliring/settlement.
• Dikenal juga alat pembayaran paperless seperti transfer dana
elektronik dan alat pembayaran memakai Kartu ATM, Kartu Kredit, Kartu Debit dan Kartu Prabayar (card-based).
• Pada satu dekade terakhir, terjadi gelombang digitalisasi dan
penetrasinya ke kehidupan masyarakat yang mengubah secara drastis perilaku masyarakat.
• Instrumen alat pembayaran pun semakin bervariasi dengan kehadiran uang elektronik berbasis kartu (chip based) maupun peladen/server
(server based).
• Pola konsumsi masyarakat mulai bergeser dan menuntut pembayaran serba mobile, cepat serta aman melalui berbagai platform, antara lain web, mobile, Unstructrured Supplementary Service Data (USSD) dan
SIM Toolkit (STK).
• Selanjutnya, muncul instrumen mata uang digital (virtual currency) yang merupakan uang digital yang diterbitkan oleh pihak lain selain otoritas moneter dan diperoleh dengan cara mining, pembelian atau transfer pemberian (reward).
• Kepemilikan virtual currency sangat berisiko dan sarat akan spekulatif.
• tidak ada administrator resmi,
• tidak ada underlying asset yang mendasari harga
• nilai perdagangan sangat fluktuatif sehingga rentan terhadap risiko penggelembungan (bubble)
• rawan digunakan sebagai sarana pencucian uang dan pendanaan terorisme,
• dapat mempengaruhi kestabilan sistem keuangan dan merugikan masyarakat.
Perkembangan Kebijakan Sistem Pembayaran
di Indonesia
Visi Sistem Pembayaran Indonesia 2025
Inisiatif untuk mencapai SPI 2025
1. Open banking dan interlink bank-fintech yang terwujud melalui standarisasi open API yang memungkinkan keterbukaan informasi keuangan bank dan
fintech kepada pihak ketiga secara aman.
2. Pengembangan retail payment yang mengarah kepada penyelenggaraan secara real time 24/7 dengan keamanan dan tingkat efisiensi yang lebih tinggi. Hal ini dilakukan melalui fast payment, optimalisasi Gerbang Pembayaran Nasional
(GPN) dan pengembangan unified payment interface.
3. Pengembangan wholesale payment dan financial market infrastructure, a.l meliputi pengembangan RTGS.
4. Pengembangan data nasional yang kolaboratif dan terintegrasi sehingga dapat dioptimalkan pemanfaatannya.
5. Pengaturan, pengawasan, perizinan, dan pelaporan untuk percepatan Ekonomi Keuangan Digital (EKD).
Blueprint Sistem Pembayaran 2025
Electronic Payment (e-payment)
• Electronic payment (e-payment), mengacu pada proses
melakukan transaksi keuangan secara elektronik, di mana uang ditransfer dari satu pihak ke pihak lain melalui saluran digital,
menghilangkan kebutuhan akan uang tunai fisik atau instrumen berbasis kertas.
• Biasanya, pembayaran elektronik dilakukan melalui kartu debit, kartu kredit, atau setoran bank langsung. Namun, ada juga
metode pembayaran alternatif lain seperti e-wallet dan
cryptocurrency.
Sistem Pembayaran Elektronik
• Sistem pembayaran elektronik adalah sistem pembayaran alternatif yang memudahkan konsumen untuk melakukan
pembayaran melalui jaringan internet sebagai sarana perantara.
• Dalam sistem pembayaran elektronik, semua data pembayaran
berbentuk format digital. Contohnya uang elektronik (e-money)
dan dompet elektronik (e-wallet)
Jenis Pembayaran Elektronik
• Transfer (Bank Transfer)
• Dapat dilakukan menggunakan mobile banking dan internet banking dengan virtual account
• Kartu Kredit (Credit Card)
• Menggunakan mesin/alat EDC (electronic data capture)
• Kartu Debit (Debit Card)
• Serupa dengan kartu kredit
• Dompet Elektronik (E-Wallet)
• Berupa aplikasi yang diinstal pada smartphone. Biasanya dilengkapi dengan QR code
• Pay Later
• Pembayaran dengan cara cicilan
• Kartu Virtual (Virtual Card)
Contoh E-payment
• Dompet digital (e-Wallet): Gopay, Shopee Pay, OVO, DANA, LinkAja
• QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard), adalah standarisasi pembayaran menggunakan kode QR yang ditetapkan oleh BI
• Transfer Bank
• PayPal, merupakan rekening virtual untuk jasa transfer dan transaksi online
• Kartu Kredit dan kartu Debit
QRIS Cross-Border
• Cross-border payment memungkinkan adanya pembayaran lintas batas antarnegara dengan konversi mata uang secara otomatis.
• QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) digunakan sebagai format kode QR yang dapat digunakan secara universal di berbagai
negara.
• Transaksi pembayaran antarnegara menjadi lebih mudah dan cepat
karena memungkinkan penggunaan QR Code yang sama pada negara- negara yang sudah bekerja sama.
Video: Online Payment
Evolusi Uang sebagai Alat Pembayaran
Kriteria Uang Elektronik (e-Money)
• Uang Elektronik (Electronic Money) didefinisikan sebagai alat pembayaran yang memenuhi unsur-unsur:
• diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu kepada penerbit;
• nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media seperti server atau chip; dan
• nilai uang elektronik yang dikelola oleh penerbit bukan merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang
mengatur mengenai perbankan.
Manfaat Uang Elektronik
• Memberikan kemudahan dan kecepatan dalam melakukan
transaksi transaksi pembayaran tanpa perlu membawa uang tunai.
• Tidak lagi menerima uang kembalian dalam bentuk barang (seperti permen) akibat padagang tidak mempunyai uang kembalian bernilai kecil (receh).
• Sangat applicable untuk transaksi massal yang nilainya kecil
namun frekuensinya tinggi, seperti: transportasi, parkir, tol, fast
food, dll.
Risiko Uang Elektronik
• Risiko uang elektronik hilang dan dapat digunakan oleh pihak lain, karena pada prinsipnya uang elektronik sama seperti uang tunai
yang apabila hilang tidak dapat diklaim kepada penerbit.
• Risiko karena masih kurang pahamnya pengguna dalam
menggunakan uang elektronik, seperti pengguna tidak menyadari uang elektronik yang digunakan ditempelkan 2 (dua) kali pada
reader untuk suatu transaksi yang sama sehingga nilai uang
elektronik berkurang lebih besar dari nilai transaksi.
Jenis Uang Elektronik
• Uang Elektronik registered, merupakan Uang Elektronik yang data identitas pemegangnya tercatat/terdaftar pada penerbit Uang
Elektronik.
• Penerbit harus menerapkan prinsip mengenal nasabah dalam menerbitkan Uang Elektronik Registered.
• Batas maksimum nilai Uang Elektronik yang tersimpan pada media chip atau server untuk jenis registered adalah Rp5.000.000,00 (lima juta Rupiah).
• Uang Elektronik unregistered, merupakan Uang Elektronik yang data identitas pemegangnya tidak tercatat/terdaftar pada penerbit Uang
Elektronik.
• Batas maksimum nilai Uang Elektronik yang tersimpan pada media chip atau server untuk jenis unregistered adalah Rp1.000.000,00 (satu juta Rupiah).
Pihak-Pihak dalam Penyelenggaraan Uang Elektronik
• Pemegang kartu adalah pengguna yang sah dari Uang Elektronik.
• Prinsipal adalah bank atau lembaga selain bank yang bertanggung jawab atas pengelolaan sistem dan/atau jaringan antar anggotanya, baik yang berperan sebagai penerbit dan/atau acquirer, dalam transaksi Uang Elektronik yang kerjasama dengan anggotanya didasarkan atas suatu perjanjian tertulis.
• Penerbit adalah bank atau lembaga selain bank yang menerbitkan Uang Elektronik.
• Acquirer adalah bank atau lembaga selain bank yang melakukan kerjasama dengan pedagang (merchant), yang dapat memproses Uang Elektronik yang diterbitkan oleh pihak lain.
• Pedagang (merchant) adalah penjual barang dan/atau jasa yang menerima pembayaran dari transaksi penggunaan Uang Elektronik.
• Penyelenggara kliring adalah bank atau lembaga selain bank yang melakukan perhitungan hak dan
kewajiban keuangan masing-masing penerbit dan/atau acquirer dalam rangka transaksi Uang Elektronik.
• Penyelenggara penyelesaian akhir adalah bank atau lembaga selain bank yang melakukan dan
bertanggungjawab terhadap penyelesaian akhir atas hak dan kewajiban keuangan masing-masing penerbit
Digital Currency (Mata Uang Digital)
• Mata uang digital adalah mata uang, uang, atau aset seperti uang yang dikelola, disimpan, atau dipertukarkan di sistem komputer
digital, terutama melalui internet
• Jenis mata uang digital: cryptocurrency, virtual currency, dan central bank digital currency (CBDC).
• Mata uang digital dapat dicatat pada database terdistribusi di internet, database komputer elektronik terpusat yang dimiliki
oleh perusahaan atau bank, dalam file digital atau bahkan pada
kartu nilai tersimpan (stored-value card).
Evolusi Cryptocurrency
Mata Uang Digital
• Mata uang digital (electronic currency atau cyber cash) adalah
bentuk mata uang yang hanya tersedia dalam bentuk digital atau elektronik, dan tidak dalam bentuk fisik.
• Mata uang digital tidak berwujud dan hanya dapat dimiliki dan ditransaksikan menggunakan komputer atau smartphone yang terhubung ke Internet.
• Contoh: OVO, Gopay, DANA
• Bank Indonesia (BI) telah merumuskan panduan dalam
menerbitkan Central Bank Digital Currency (CBDC) → disebut
rupiah digital → pesaing OVO, Gopay, dll.
Jenis Uang Digital
• Stablecoins yang merupakan variasi dari aset kripto dengan nilai yang lebih stabil dibanding mata uang kripto.
• Aset ini memecahkan masalah volatilitas aset kripto yang sangat tinggi.
• Nilai dari koin ini berpatokan pada nilai benda fisik yang harganya stabil seperti emas, komoditas, atau Dolar Amerika Serikat.
• Uang digital bank sentral, yaitu sebagai uang digital yang diterbitkan dan peredarannya dikontrol oleh bank sentral.
• Penggunaannya sebagai alat pembayaran yang sah menggantikan uang kartal.
• CDBC akan menjadi representasi digital dari mata uang suatu negara.
• Negara yang sudah meluncurkan uang digital bank sentral : Jamaika, Bahama, Grenada, Antigua dan Barbuda, Saint Kitts dan Nevis, Montserrat, Saint Vincent dan Grenadines, Republik Dominika, Saint Lucia, Nigeria.
• Mata uang kripto, yaitu aset digital yang dirancang untuk bekerja sebagai media pertukaran memanfaatkan kriptografi.
• Pemanfaatannya untuk mengamankan transaksi keuangan, mengontrol penciptaan unit tambahan, dan verifikasi pertukaran.
• Terdapat lebih dari 9 ribu jenis mata uang kripto dengan nilai kapitalisasi pasar mencapai 872 miliar dolar AS
Fitur Uang Digital
• Transferability
• Adanya Batasan transaksi oleh nasabah dari satu kartu ke kartu lain
• Otorisasi online
• Penerbit kartu melakukan validasi atas transaksi yang dilakukan nasabah, misalnya saat top up (isi ualng saldo)
• Information collection
• Penyelenggara mengumpulkan data nasabah untuk pelacakan jika terjadi kejahatan (fraud)
• Pengisian ulang (top up)
• Nasabah dapat melakukan isi ulang saldo dengan cara transfer, pembayaran rekening, atau kartu kredit
• Single currency
• Uang elektronik dirancang hanya menggunakan mata uang yang beredar di negara penerbit
• Single/multiple application
Contoh Uang Digital di Indonesia
• Bank Mandiri: Indomaret Card, E-Toll, E-Cash, LinkAja
• Bank BCA: Flazz, Sakuku
• Bank BNI: Tap Cash
• Bank BRI: Brizzi
• Bank Permata: BBM Money
• Dompetku
• Doku Wallet
• OVO
Mata Uang Virtual
• Uang virtual adalah uang digital di dalam lingkungan yang tidak dapat diatur, dikeluarkan maupun dikendalikan oleh pengembangnya dan
digunakan untuk metode pembayaran di antara anggota komunitas virtual tertentu (Bank Sentral Eropa, 2012)
• Mata uang virtual adalah jenis mata uang digital yang tidak diatur dan hanya tersedia dalam bentuk digital.
• Mata uang virtual disimpan dan diperdagangkan dalam piranti lunak khusus di ponsel maupun komputer, maupun melalui dompet digital.
• Mata uang virtual sebagian besar tidak diatur oleh otoritas tertentu, dapat ditransfer, disimpan, dan diperdagangkan secara elektronik, serta tidak
memiliki legalitas hukum (legal tender)
• Mata uang virtual juga dikenal sebagai cryptocurrency
Perbedaan Mata Uang Virtual dan Digital
• Mata uang virtual juga dianggap bagian dari kelompok mata uang digital
• Mata uang virtual yaitu mata uang yang dipegang di dalam jaringan blockchain dan tidak dikendalikan oleh otoritas perbankan yang
tersentralisasi (Bank Sentral).
• Mata uang digital adalah mata uang yang dikeluarkan oleh pihak bank
dalam bentuk digital. Sedangkan Mata uang virtual hanya tersedia dalam bentuk elektronik dan digunakan oleh anggota komunitas virtual tertentu.
• Mata uang virtual tidak dapat diatur oleh siapapun, karenanya mengalami pergerakan harga yang dramatis → ditentukan oleh sentimen konsumen.
• Kesimpulannya → mata uang virtual tidak diatur dan berada dalam jaringan blockchain, sedangkan mata uang digital dikeluarkan oleh bank sentral dan dapat diatur atau tidak diatur
Contoh Mata Uang Virtual
1. Bitcoin (BTC)
2. Ethereum (Ether) 3. Ripple (XRP)
4. Bitcoin Cash (BCH) 5. EOS
6. Cardano (ADA) 7. Stellar (XLM)
8. IOTA 9. NEO
Harga Uang Digital
(sumber: https://id.investing.com/crypto/, 17 April 2024, 09:27 WIB)
Central Bank Digital Currencies (CBDC)
• Beberapa bank sentral di dunia, termasuk Bank Indonesia (BI) sedang mengkaji untuk mengembangkan Rupiah Digital atau dikenal dengan Central Bank Digital Currency (CBDC).
• BI meluncurkan Proyek Garuda yang memayungi berbagai inisiatif
eksplorasi atas berbagai pilihan desain arsitektur CBDC Indonesia yang dinamai Rupiah Digital.
• Negara yang sudah meluncurkan uang digital bank sentral : Jamaika, Bahama, Grenada, Antigua dan Barbuda, Saint Kitts dan Nevis,
Montserrat, Saint Vincent dan Grenadines, Republik Dominika, Saint Lucia, Nigeria.
Proyek CDBC
Rupiah Digital
• Rupiah Digital merupakan uang Rupiah yang memiliki format digital serta dapat digunakan seperti halnya uang fisik (uang kertas dan
logam), uang elektronik (chip dan server based), dan uang dalam Alat Pembayaran Menggunakan Kartu/APMK (kartu debit dan kredit) yang kita pakai saat ini.
• Rupiah Digital hanya diterbitkan oleh Bank Indonesia selaku Bank Sentral Negara Republik Indonesia.
• Rupiah Digital tidak termasuk dalam aset kripto ataupun stablecoins
Jenis Rupiah Digital
Rupiah Digital akan diterbitkan dalam dua jenis:
• Rupiah Digital wholesale (w-Rupiah Digital) dengan cakupan akses terbatas serta hanya didistribusikan untuk penyelesaian transaksi
wholesale seperti operasi moneter, transaksi pasar valas, serta transaksi pasar uang;
• Rupiah Digital ritel (r-Rupiah Digital) dengan cakupan akses yang terbuka untuk publik serta didistribusikan untuk berbagai transaksi
ritel baik dalam bentuk transaksi pembayaran maupun transfer, oleh personal/individu maupun bisnis (merchant dan korporasi).
Perkembangan Financial Technology (Fintech)
• Financial technology adalah bentuk penerapan teknologi yang dapat menciptakan inovasi-inovasi terbaru dalam bidang finansial.
• Financial technology/FinTech merupakan hasil gabungan antara jasa keuangan dengan teknologi yang akhirnya mengubah model bisnis
dari konvensional menjadi moderat, yang awalnya dalam membayar harus bertatap-muka dan membawa sejumlah uang kas, kini dapat
melakukan transaksi jarak jauh dengan melakukan pembayaran yang dapat dilakukan dengan cepat.
Evolusi Industri Fintech
Sejarah Fintech
1. Fintech 1.0 (1886 – 1967)
• Selama tahap ini, dasar diletakkan untuk layanan keuangan global.
• Tonggak penting termasuk "kabel transatlantik pertama" pada tahun 1866 dan
pembentukan "Fedwire" di Amerika Serikat pada tahun 1918, yang memfasilitasi sistem transfer dana elektronik pertama menggunakan teknologi seperti telegraf dan kode Morse.
2. 1990 - 2000
• Pengadopsi awal sektor fintech menawarkan layanan keuangan fundamental seperti perdagangan saham online dan perbankan elektronik ketika sektor ini masih dalam masa pertumbuhan.
3. 2005–2010
• Periode ini menyaksikan penciptaan produk dan layanan baru di industri seperti pembayaran, pinjaman, dan asuransi, berkat pertumbuhan bisnis fintech baru.
4. 2010–2015
• Lanskap fintech terus berkembang, dengan inovasi di berbagai bidang
seperti pinjaman peer-to-peer (P2P landing), mobile payments, dan robo- advisor.
5. 2015–2020
• Industri ini melihat peningkatan kolaborasi antara lembaga keuangan tradisional dan startup fintech.
6. 2020–present
• Era saat ini ditandai dengan kemajuan berkelanjutan dalam AI, open banking, dan inklusi keuangan.
• Fintech terus mengganggu layanan keuangan tradisional, membentuk masa
Jenis Usaha Fintech di Indonesia
• Agregator
• Merupakan pengumpul informasi agar konsumen mendapatkan informasi pasar dan memanfaatkannya sesuai kebutuhan.
• Semua informasi dikumpulkan dalam satu wadah dan konsumen dapat mengambil keputusan berdasarkan hal tersebut.
• Contoh dari jenis ini di Indonesia adalah Cermati dan Cekaja.
• Manajemen Risiko dan Investasi
• Jenis usaha ini tidak hanya mengadakan platform untuk konsumen
berinvestasi atau menjual produk investasi, tetapi juga mengedukasinya.
Konsumen diberikan pendidikan tentang manajemen risiko dan juga hal-hal lainnya yang perlu dipersiapkan sebelum investasi.
• Contoh dari jenis ini di Indonesia adalah Finansialku dan Bibit.
• Pembayaran, Kliring, dan Penyelesaian
• Menyediakan metode pembayaran secara online atau dompet digital. Usaha ini bisa diadakan oleh lembaga bank ataupun non-bank.
• Contoh dari jenis ini adalah Sakuku BCA, Flip, GoPay, dan DANA.
• Deposito, Peminjaman, dan Penambahan Modal
• Jenis usaha ini menghubungkan para investor dengan pencari modal atau orang-orang yang ingin meminjam dana.
• Investor mendapatkan keuntungan dari peminjaman tersebut.
• Contoh dari jenis ini adalah Modalku, iGrow, dan Akseleran.
Contoh Fintech di Indonesia
• GoPay
• GoPay adalah salah satu layanan dompet digital pertama di Indonesia. Berdiri sejak 2016, GoPay awalnya adalah startup fintech di Indonesia yang mengakuisisi 3 perusahaan fintech lain yaitu
Kartuku, Midtrans, dan Mapan.
• OVO
• Berada di naungan PT Visionet Internasional yang awalnya didirikan oleh Lippo Group pada 2017
• Kredivo
• Kredivo didirikan tahun 2016 di bawah naungan perusahaan fintech asal Singapura, FinAccel.
• DANA
• Berdiri sejak Desember 2018. DANA dikembangkan oleh perusahaan startup PT Elang Sejahtera
Mandiri. Namun, saat ini aplikasi DANA berada di bawah manajemen PT Espay Debit Indonesia Koe.
• Akulaku
• Akulaku berperan penting dalam mempromosikan inklusi keuangan di Indonesia dengan menyediakan akses mudah ke kredit dan layanan keuangan lainnya bagi penduduk yang tidak memiliki rekening
bank dan underbanked.
• Modalku
• Modalku adalah platform pendanaan digital yang berada di bawah PT Modalku Indonesia Makmur. Modalku hadir di 5 negara Asia Tenggara yang meliputi Indonesia, Vietnam, Singapura, Thailand, dan Malaysia.
• Perusahaan ini berdiri sejak 2015, dan telah melayani lebih dari 50.000 UMKM dan 100.000 pemberi dana
• Investree
• Investree berfokus untuk mendukung UKM dengan menyediakan pasar pinjaman peer-to-peer di mana mereka dapat mengakses pendanaan dari investor individu dan institusi.
• Bareksa
• Perusahaan fintech ini telah mengantongi lisensi dari OJK sejak 2016. Bareksa berada di bawah naungan PT Bareksa Marketplace Indonesia.
• Bareksa adalah yang menyediakan layanan investasi terintegrasi di Indonesia.
• Xendit
• Xendit adalah perusahaan fintech yang mengkhususkan diri dalam menyederhanakan solusi pembayaran untuk bisnis.
Platformnya memungkinkan pedagang untuk menerima pembayaran dengan mulus, mengelola faktur, dan mencairkan dana dengan mudah.
• Qoala
• Qoala telah menjadi game-changer di sektor asuransi, menawarkan solusi asuransi yang inovatif dan personal kepada
Ekosistem Layanan Keuangan Digital
• Salah satu kunci utama dari ekosistem digital di industri jasa keuangan adalah ketersediaan infrastruktur.
• Kebutuhan infrastruktur dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu
infrastruktur utama dan infrastruktur pendukung. Infrastruktur utama diantaranya pengembangan platform aplikasi digital, software
pendukung, dan aspek pengamanannya.
• Bank Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran nasional, telah mengembangkan QR Code Indonesian Standard (QRIS) yang
menyatukan seluruh model pembayaran digital berbasis QR Code menjadi satu, yaitu QRIS
• Pengembangan ekosistem keuangan digital juga perlu didukung
dengan ketersediaan regulasi yang dikeluarkan oleh otoritas yang berwenang.
• Transformasi digital di industri jasa keuangan harus dibarengi dengan pengembangan dan penyiapan sumber daya manusia yang
dibutuhkan, seperti analis big data, programmer untuk artificial intelligent, pengawas cyber security
• Pemerintah, otoritas terkait dan pelaku usaha di industri jasa
keuangan, perlu melakukan edukasi keuangan digital secara masif dan terencana untuk meningkatkan pemahaman literasi keuangan digital
Perkembangan Sistem Pembayaran di
Indonesia
“In the digital age, the
possibilities are endless, and the opportunities for growth and
innovation are boundless.”
#TumbuhdanBerinovasi