• Tidak ada hasil yang ditemukan

Situasi dan Solusinya

N/A
N/A
Andrian Adi

Academic year: 2024

Membagikan " Situasi dan Solusinya"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

Kesehatan Situasi Gangguan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat

Disusun Oleh : Kelompok 3 :

Sherlien Amelia Putri (2120001)

Risma Wahyu Septiana (2120018)

Andrian Adi Suryadi (2120024)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANGTUAH SURABAYA

D3 KEPERAWATAN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas rahmat dan hidayah- Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul "Kesehatan Situasi Gangguan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat" dengan tepat waktu.

Makalah disusun untuk memenuhi tugas. Selain itu, makalah ini bertujuan menambah wawasan tentang “Kesehatan Situasi Gangguan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat” bagi para pembaca dan juga bagi penulis.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada para pengajar yang telah memberikan bimbingannya. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada semua pihak yang telah membantu diselesaikannya makalah ini.

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Surabaya, 18 September 2021

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar...1

Daftar Isi...2

BAB I PENDAHULUAN...3

A. Latar Belakang...3

B. Rumusan Masalah...4

C. Tujuan Penulisan...4

BAB II PEMBAHASAN...5

A. Mobilisasi Bantuan Kesehatan... B. P BAB III PENUTUP...15

A. Kesimpulan...15

B. Saran...15

DAFTAR PUSTAKA...16

(4)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Sesuai dengan kebijakan penal di Indonesia di Indonesia, para pelaku kejahatan yang tertangkap diproses secara hukum dan apabila terbukti bersalah melakukan tindak pidana, maka pengadilan menjatuhi hukuman. Salah satu hukuman atau pidana pokok adalah pidana perampasan kemerdekaan atau pidana penjara, dimana Pengadilan kemudian mengirim terpidana ke Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS), untuk menjalani hukuman yang telah ditetapkan sampai ia bebas pada waktu yang telah ditentukan.

Perlakuan yang dilakukan terhadap narapidana dengan memberikan pelayanan maka dapat menumbuhkan kemauan di dalam diri untuk menjalani hidup setelah kelak bebas.

Apabila pemberian pelayanan kesahatan terlaksana sesuai dengan aturannya maka hal ini dapat menimbulkan perasaan ingin berbuat baik, menumbuhkan sikap yang lebih responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan diri sendiri dan memberikan perlindungan hak-hak narapidana. Penyediaan layanan kesehatan yang memadai, termasuk kesehatan reproduksi, kesehatan jiwa, penggunaan obat dan pengobatan serta rawatan penyakit lainnya, masih merupakan tantangan besar bagi banyak Lapas. Perubahan dalam kesadaran, sikap danpraktik dapat dicapai apabila ada komitmen dalam investasi pelatihan sumber daya manusia yang memungkinkan terhadinya perubahan itu, termasuk kepada para pembuat kebijakan, Kepala Lapas dan staf Lapas

(5)

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah Analisis Situasi Wilayah dan Potensi Gangguan Keamanan dan Ketertiban di Lembaga Pemasyarakatan?

2. Bagaimanakah Sistem Kewaspadaan Dini?

3. Bagaimanakah Pemetaan Sumber Daya Kesehatan?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui Analisis Situasi Wilayah dan Potensi Gangguan Keamanan dan Ketertiban di Lembaga Pemasyarakatan?

2. Mengetahui Sistem Kewaspadaan Dini?

3. Mengetahui Pemetaan Sumber Daya Kesehatan?

(6)

BAB II PEMBAHASAN

A.

Mobilisasi Bantuan Kesehatan

Mobilisasi tenaga kesehatan pada saat bencana dibagi dalam 3 tim penanggulangan yaitu terdiri dari tim gerak cepat (bertugas dalam 0-24 jam setelah informasi kejadian bencana), tim penilaiain cepat kesehatan (Rapid Health Assessment/RHA) bersama tim gerak ceoat atau menyusul dalam 24 jam dan tim bantuan kesehatan (dikirim berdasarkan kebutuhan atas laporan tim gerak cepat dan tim RHA).

Tim gerak cepat terdiri dari dokter umum, dokter spesialis bedah, dokter spesialis anastesi, perawat mahir (bedah atau gawat darurat), apoteker, sopir, ambulans, epidemiolog atau sanitarian. Sedangkan tim bantuan kesehatan terdiri dari dokter umum, apoteker dan asisten apoteker, perawat mahir, perawat bidan, sanitarian, ahli gizi, tenaga surveilans dan entomology.

Mobilisasi nakes dilakukan apabila masalah kesehatan akibat bencana memerlukan bantuan dari daerah lain atau regional atau nasional, pembentukan tim gerak cepat, tim RHA dan tim bantuan kesehatan di tingkat kabupaten atau kota, provinsi dan pusat.

Mobilisasi nakes harus dilaksanakan sesuai kebutuhan di lapangan dengan pertimbangan ketersediaan alat transportasi, bantuan kebutuhan hidup dan peralatan.

Koordinasi bantuan sesuai kualifikasi atau kompetensi, adanya sistem pergantian dalam penugasan dan bagi mobilisasi nakes di tingkat regional atau lintas provinsi harus disesuaikan dengan jejaring rujukan medik

Langkah-langkah mobilisasi SDM kesehatan yang dilakukan pemerintah yaitu mulai dari menyiagakan SDM kesehatan untuk ditugaskan ke wilayah yang mengalami bencana, menginformasikan kejadian bencana dan meminta bantuan melalui jalur administrasi dan jalur rujukan medik, fleksibilitas dalam penentuan kebutuhan jumlah, jenis, kualifikasi tenaga kesehatan, jenis bencana, luas wilayah terdampak, jumlah penduduk terdampak dan tingkat keparahan bencana dan akibat yang ditimbulkan

B.

Penemuan dan Pertolongan Korban dan Musibah Massal

1. Triase

Triase (Triage) adalah tindakan untuk memilah atau mengelompokkan korban berdasar beratnya cidera, kemungkinan untuk hidup dan keberhasilan tindakan

(7)

berdasar sumber daya (SDM dan sarana) yang tersedia. Tujuan triase pada musibah massal adalah bahwa dengan sumber daya yang minimal dapat menyelamatkan korban sebanyak munkin.

Dalam triase memiliki kebijakan yaitu :

a) Memilih korban berdasarkan beratnya cidera, besarnya kemungkinan untuk hidup, fasilitas yang ada atau kemungkinan keberhasilan tindakan

b) Triase tidak disertai tindakan

c) Triase dilakukan tidak lebih dari 60 detik/pasien dan setiap pertolongan harus dilakukan sesegera mungkin

Dengan prosedur triase yaitu :

a) Penderita datang diterima petugas atau paramedis UGD

b) Diruang triase dilakukan anamneses dan pemeriksaan singkat dan cepat (selintas) untuk menentukan derajat kegawatannya. Oleh paramedis yang terlatih atau dokter c) Namun bila jumlah penderita atau korban yang ada lebih dari 50 orang, maka traise

dapat dilakukan di luar ruang triase (di depan gedung IGD)

d) Penderita dibedakan menurut kegawatannya dengan memberi kode warna :

 Segera- immediate (I)- MERAH. Pasien mengalami cedera mengancam jiwa yang kemungkinan besar dapat hidup bila ditolong segera. Misalnya : Tension pneumothorax, distress pernafasan (RR< 30x/menit), perdarahan internal vasa besar dsb

 Tunda- Delayed (II)- KUNING. Pasien memerlukan tindakan defintif tetapi tidak ada ancaman jiwa segera. Misalnya : Perdarahan laserasi terkontrol, fraktur tertutup pada ekstrimitas dengan perdarahan terkontrol, luka bakar

<25% luas=”” permukaan=”” tubuh=”” dsb=”” br=””>

 Minimal (III)-HIJAU. Pasien mendapat cedera minimal, dapat berjalan dan menolong diri sendiri atau mencari pertolongan. Misalnya : Laserasi minor, memar dan lecet, luka bakar superfisial.

 Expextant (0)- HITAM. Pasien mengalami cedera mematikan dan akan meninggal meski mendapat pertolongan. Misalnya : Luka bakar derajat 3 hampir diseluruh tubuh, kerusakan organ vital dsb

e) Penderita atau korban mendapatkan prioritas pelayanan dengan urutan warna merah, kuning, hijau, hitam

f) Penderita atau korban kategori triase merah dapat langsung diberikan pengobatan

(8)

diruang tindakan IGD. Tetapi bila memerlukan tindakan medis lebih lanjut, penderita atau korban dapat dipindahkan ke ruang operasi atau dirujuk ke rumah sakit lain

g) Penderita atau korban dengan kategori triase kuning yang memerlukan tindakan medis lebih lanjut dapat dipindahkan ke ruang observasi dan menunggu giliran setelah pasien dengan kategori triase merah selesai ditangani

h) Penderita atau korban dengan kategori triase hijau dapat dipindahkan ke rawat jalan atau bila sudah memungkinkan untuk dipulangkan, maka penderita atau korban dapat diperbolehkan untuk pulang

i) Penderita atau korban kategori triase hitam dapat langsung dipindahkan ke kamar jenzah

2. Pemberian Terapi Bagi Korban Bencana

Terapi adalah tindakan medis yang dilakukan oleh petugas medis kepada korban atau penderita sesuai dengan kondisi atau keadaan penderita tersebut. Dengan bertujuan meminimalisir luka dan kecacatan serta menyembukan penyakit penderita atau korban bencana. Kemudian kebijakannya pemberian terapi bagi korban tanpa membeda-bedakan status sosial, suku atau ras, agama dan golongan.

Prosedur dalam Penanganan Medis Pemberian Terapi Bagi Korban Bencana : a) Penanganan korban di RS meliputi tindakan resusitasi sampai dengan tindakan

definitif.

b) Sistim pelimpahan wewenang berlaku dengan pengawasan dan tanggung jawab Tim Penanggulangan Bencana

c) Perkiraan jumlah korban yang akan dirawat adalah berdasar pada jumlah korban yang pernah dirawat pada bencana terdahulu atau berdasar pada scenario terburuk dan dengan mempertimbangkan jumlah korban dilakukan sesuai dengan Standar Pelayanan Medis yang dibuat oleh Staf Medik Fungsional (SMF)

3. Evakuasi Korban Bencana

Memindahkan korban atau penderita bencana dari lokasi bencana ke tempat yang lebih aman dan mengusahakan penderita atau korban yang masih bernyawa untuk dapat diselamatkan. Bertujuan menyelematkan nyawa penderita atau korban yang masih hidup dan memindahkan penderita atau korban yang sudah tidak bernyawa.

Dengan kebijakan mendahulukan korban yang masih bernyawa dan kemungkinan besar dapat diselematkan, korban yang tingkat kegawatannya tinggi dan beresiko mati, lebih baik ditinggalkan terlebih dahulu

(9)

Prosedur Evakuasi Korban Bencana :

a) Petugas evakuasi harus membekali diri dengan segala keperluan pribadi serta membekali diri dengan membawa alat dan obat untuk pertolongan pertama

b) Menentukan skalasi bencana; luas wilayah, jumlah korban, jenis penyakit, saranan dan prasarana yang tersisa, sisa SDM dan akses jalan menuju lokasi bencana

c) Menyampaikan hasil survey awal ke rumah sakit, sehingga rumah sakit dapat mempersiapkan diri

d) Petugas lapangan menilai tingkat kegawatan korban untuk korban luka ringan dan sedang diberi pertolongan pertama di tempat kehadian atau pos kesehatan lapangan e) Korban luka ringan dan sedang diperlakukan sama seperti masyarakat umum

f) Korban luka berat segera dievakuasi ke RS rujukan wilayah/RS Polri/RS TNI terdekat

g) Korban yang memerlukan perawatan lebih lanjut dapat dievakuasi ke pusat rujukan melalui jalan darat/sungai/laut/udara sesuai sarana yang dimiliki

Memindahkan dan mengangkat penderita atau korban :

a) Sebelum mengangkat penderita perlu memperhatikan beberapa hal seperti berapa berat objek, apakah memerlukan bantuan tambahan dalam mengangkat dsb

b) Komunikasi rencana untuk mengangkat dan mengangkut dengan rekan anda.

c) Pada saat mengangkat penderita, ada peraturan yang harus dipatuhi untuk mencegah cedera. Diantaranya:

 Posisikan kaki dengan baik. Kaki harus kokoh, menapak pada permukaan dan diposisikan sepanjang lebar bahu

 Ketika mengangkat, gunakan kaki anda, bukan punggung anda untuk mengangkat

 Ketika mengangkat, jangan berputar atau membuat gerakan lain selain mengangkat. Usahakan untuk berbelok atau berputar ketika mengangkat merupakan penyebab utama cedera

 Ketika mengangkat dengan satu tangan, jangan mengkompensasi

 Hindari bersandar ke sisi manapun. Jaga punggung anda tetap lurus dan terkunci

 Jaga beban sedekat mungkin dengan tubuh anda. Semakin jauh beban dari tubuh anda, semakin besar kemungkinan anda cedera

 Ketika membawa penderita pada tangga, jika memungkinkan gunakan kursi

(10)

tangga daripada tandu

d) Pada saat menjangkau penderita, ada peraturan yang harus dipatuhi untuk mencegah cedera. Diantaranya:

 Jaga punggung tetap dalam posisi lurus atau terkunci

 Hindari berputar ketika menjangkau

 Hindari menjangkau yang berkepanjangan ketika diperlukan usaha yang besar

e) Pada saat mendorong atau menarik penderita, ada peraturan yang harus dipatuhi untuk mencegah cedera. Diantaranya:

 Lebih baik dorong daripada Tarik, jika memungkinkan

 Jaga punggung tetap lurus atau terkunci

 Jaga garis tarikan melalui pusat tubuh anda dengan menekuk lutut

 Jaga beban dekat dengan tubuh anda

 Jika beban dibawah pinggang, dorong atau tarik dari posisi berlutut

 Hindari mendorong atau menarik melebihi kepala

C.

Pelayanan korban dipos depan pelayanan kesehatan dan pelayanan rujukan

Setelah pengumuman adanya kasus pertama di Indonesia, pemerintah mengimbau warga untuk tidak panik, termasuk untuk tidak melakukan panic buying. fakta lapangan menunjukkan bahwa penularan virus korona terjadi dengan sangat cepat. Dalam 11 hari setelah pengumuman kasus pertama, jumlah kasus positif Korona mencapai 69 orang, 4 orang di antaranya meninggal dan 5 kasus sembuh. Penanganan cepat diupayakan pemerintah dengan membentuk tim satuan tugas penanggulangan covid-19 yang dipimpin langsung oleh Presiden. Kepala Badan Nasioanl Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoordinasi tim reaksi cepat. tanggal 13 Maret 2020 Presiden menandatangai Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 2020 tentang Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Gugus tugas ini dipimpin oleh Kepala BNPB, Langkah strategis juga segera diambil pemerintah terutama dalam bidang kesehatan. Rumah sakit rujukan covid-19 ditambah. Awalnya disiapkan 100 RS pemerintah ditambah menjadi 132 RS pemerintah, 109 RS milik TNI, 53 RS Polri, dan 65 RS BUMN.

Tanggal 10 Maret 2020, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus menulis surat kepada Presiden Jokowi. Salah satu isi surat ini adalah agar pemerintah Indonesia meningkatkan mekanisme tanggap darurat menghadapi Covid-19 melalui deklarasi darurat nasional. Tanggal 15 Maret 2020, Presiden meminta pemda membuat kebijakan belajar dari rumah untuk pelajar dan mahasiswa. Hingga akhir Maret 2020, kasus positif covid-19 di Indonesia terus meningkat. Pada tanggal 27 Maret 2020, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 melaporkan jumlah pasien positif covid-19 mencapai 1.406 orang.

(11)

Dengan berbagai pertimbangan, Presiden Jokowi menetapkan peraturan tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19.

Selain itu, Presiden juga menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2020 tentang Penetapan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat Covid-19.

Untuk melindungi warga dari risiko penularan, Presiden menetapkan peraturan tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan mulai berlaku sejak 1 April 2020.

Pemerintah daerah yang ingin memberlakukan PSBB di daerahnya harus melalui persetujuan pemerintah pusat. Mekanisme dan indikator penerapan PSBB di tingkat daerah diatur secara rinci dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9/2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Provinsi pertama yang mengajukan PSBB adalah DKI Jakarta, yang menjadi wilayah terdampak korona paling tinggi.

Pengajuan PSBB DKI Jakarta disetujui oleh Menteri Kesehatan Agus Terawan dengan Keputusan Menteri Kesehatan mengenai PSBB di Wilayah Provinsi DKI Jakarta dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19 yang ditandatangani tanggal 7 April 2020.

Memasuki bulan Mei, penanganan covid-19 mendapat tantangan besar. Pasalnya, tanggal 24-25 Mei 2020 merupakan Hari Raya Idul Fitri. Sudah menjadi adat kebiasaan masyarakat untuk melakukan mudik pada kesempatan itu. Padahal, pemberlakuan PSBB di beberapa daerah belum bisa dicabut sebab kasus positif covid-19 belum menunjukkan penurunan. Selain seruan larangan mudik, sejumlah daerah yang belum menerapkan kebijakan PSBB mulai menerapkan kebijakan tersebut. Hingga akhir Mei, Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 melaporkan sudah ada 29 wilayah yang menerapkan PSBB yang terdiri atas 4 provinsi dan 25 kabupaten/kota.

Tidak bisa dimungkiri dengan adanya pembatasan aktivitas masyarakat, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung mandeg. Awal Juni 2020, Bank Dunia memproyeksikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah 0 persen pada 2020. Bahkan, dalam skenario terburuk bahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa minus 3,5 persen. Demi mencegah situasi ekonomi Indonesia semakin tidak kondusif, pemerintah mulai melihat kemungkinan untuk melakukan relaksasi pembatasan sosial, tanggal 27 Mei 2020 dilakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang protokol tananan normal baru. Demi memperkuat pedoman bagaimana masyarakat dalam situasi normal baru, Kementerian Kesehatan menerbitkan Keputusasn Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/ Menkes/382/2020 Tentang Protokol Kesehatan Bagi Masyarakat di Tempat dan Fasilitas umum dalam rangka Pencegahan dan Pengendalian COVID-19. Kebijakan pemerintah untuk menerapkan normal baru ini diharap berbarengan dengan kesadaran masyarakat untuk tetap menjaga protokol kesehatan secara ketat sebab covid-19 belum sepenuhnya sirna.

D.

Pelayanan medis korban di unit pelayanan kesehatan terdekat

Atas indikasi medis, sosial, politik dan hukum, maupun permintaan negara yang bersangkutan atau atas permintaan keluarga seringkali pasien/ korban pindah ataupun keluar dari RSUD Kelet untuk dilakukan perawatan di rumah sakit tertentu di luar RSUD Kelet. Perpindahan/ evakuasi korban ini dilakukan atas persetujuan tim medis dengan keluarga maupun negara yang bersangkutan bila korban adalah warga negara asing.

(12)

Kelengkapan dokumen medik serta persetujuan keluarga/ negara ybs diperlukan untuk pelaksanaan proses evakuasi.

Tempat : IGD, Unit Perawatan

Penanggung jawab : Ketua medical support Prosedur :

1. Pastikan adanya persetujuan medis, maupun persetujuan keluarga/ negara yang bersangkutan sebelum proses evakuasi dilakukan

2. Koordinasikan rencana evakuasi korban kepada pihak/ rumah sakit penerima 3. Pastikan pasien dalam keadaan stabil dan siap untuk dievakuasi.

4. Siapkan ambulans sesuai standar untuk evakuasi pasien

5. Bila diperlukan hubungi pihak penerbangan untuk kesiapan transportasi pasien 6. Pastikan adanya tim medis yang mendampingi selama proses evakuasi

E. Pengamanan terhadap pos kesehatan lapanagn dan unit pelayanan kesehatan rujukan

F.

Vfv

G.

Surveilans Kesehatan

Surveilans Kesehatan didefinisikan sebagai kegiatan pengamatan yang sistematis dan terus menerus terhadap data dan informasi tentang kejadian penyakit atau masalah kesehatan dan konidisi yang mempengaruhi terjadinya peningkatan dan penularan penyakit atau masalah kesehatan untuk memperoleh dan memberikan informasi guna mengarahkan tindakan penaggulangan secara efektif dan efisien. Surveilans Kesehatan diselenggarakan agar dapat melakukan tindakan penaggulangan secara efektif dan efisien melalui proses pengumpulan data, pengolahan data, analisis data dan diseminasi kepada pihak-pihak terkait yang membutuhkan.

Surveilans Kesehatan mengedepankan kegiatan analisis atau kajian epidemiologi serta pemanfaatan informasi epidemiologi, tanpa melupakan pentingnya kegiatan pengumpulan data dan pengolahan data. Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan harus mampu memberikan gambaran epidemiologi antara lain komponen pejamu, agen penyakit dan lingkungan yang tepat berdasarkan dimensi waktu, tempat dan orang. Karakteristik pejamu, agen penyakit dan lingkungan mempunyai peranan dalam menentukan cara pencegahan dan penaggulangan jika terjadi gangguan keseimbangan yang menyebabkan sakit.

Kegiatan Surveilans Kesehatan meliputi:

(13)

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan cara aktif dan pasif. Jenis data Surveilans Kesehatan dapat berupa data kesakitan, kematian dan faktor risiko. Pengumpulan data dapat diperoleh dari berbagai sumber antara lain individu, fasilitas pelayanan kesehatan, unit statistik dan demografi dsb.

Metode pengumpulan data dapat dilakukan melalui wawancara, pengamatan, pengukuran dan pemeriksaan terhadap sasaran. Dalam melaksanakan kegiatan pengumpulan data, diperlukan instrumen sebagai alat bantu. Instrumen dibuat sesua dengan tujuan surveilans yang akan dilakukan dan memuat semua variable data yang diperlukan.

2. Pengolahan Data

Sebelum data diolah dilakukan pembersihan koreksi dan cek ulang, selanjutnya data diolah denagn cara perekaman data, validasi, pengkodean, alih bentuk (transform) dan pengelompokan berdasarkan variable tempat, waktu dan orang.

Hasil pengolahan dapat berbentuk tabrl, grafik dan peta menurut variable golongan umur, jenis kelamin, tempat dan waktu atau berdasarkan faktor risiko tertenu. Setiap variabel tersebut disajikan dalam bentuk ukuran epidemiologi yang tepat (rate, rasio dan proporsi). Pengolahan data yang baik akan memberikan informasi spesifik suatu penyakit dan atau masalah kesehatan. Selanjutnya adalah penyajian hasil olahan data dalam bentuk yang informatif dan menarik. Hal ini akan membantu pengguna data untuk memahami keadaan yang disajikan

3. Analisis Data

Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode epidemiologi deskriptif dan atau analitik untuk menghasilkan informasi yang sesuai dengan tujuan surveilans yang ditetapkan. Analisis dengan metode epidemiologi deskriptif dilakukan untuk mendapat gambaran tentang distribusi penyakit atau masalah kesehatan serta faktor- faktor yang mempengaruhinya menurut waktu, tempat dan orang. Sedangkan analisis dengan metode epidemiologi analitik dilakukan untuk mengetahui hubungan antar variable yang dapat mempengaruhi peningkatan kejadian kesakitan atau masalah kesehatan. Untuk mempermudah melakukan analisis dengan metode epidemiologi analitik dapat menggunakan alat bantu statistik.

(14)

Hasil analisis akan memberikan arah dalam menentukan besaran masalah, kecenderungan suatu keadaan, sebab akibat suatu kejadian, dan penarikan kesimpulan. Penarikan kesimpulan hasil analisis harus didukung dengan teori dan kajian ilmiah yang sudah ada.

4. Diseminasi Informasi

Diseminasi informasi dapat disampaikan dalam bentuk buletin, surat edaran, laporan berkala, forum pertemuan, termasuk publikasi ilmiah. Diseminasi informasi dilakukan dengan memanfaatkan sarana teknologi informasi yang mudah diakses.

Diseminasi informasi dapat juga dilakukan apabila petugas surveilans secara aktif terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan dan monitoring evaluasi program kesehatan, dengan menyampaikan hasil analisis.

H.

Inspeksi Sanitasi dan Perbaikan Kualitas Air Bersih dan Sanitasi di Wilayah yang Terdampak Bencana

Kebutuhan air bersih menjadi sangat penting pada wilayah bencana, khususnya pada daerah pengungsian. Dari aspek kesehatan, kecukupan air bersih sangat penting, misalnya terkait dengan upaya pencegahan dan penanggulangan penyakit diare. Penyakit diare merupakan penyakit menular yang sangat potensial terjadi di daerah pengungsian maupun wilayah bencana. Selain karena keterbatasan akses air bersih, penyebaran penyakit ini juga sangat erat terkait dengan masalah perilaku dan masalah sanitasi lain.

Berdasarkan kondisi tersebut, beberapa upaya dapat dilakukan untuk mencegah berkembangnya penyakit diare di wilayah bencana, seperti dengan selalu menggunakan air bersih yang memenuhi syarat, pemanfaatan jamban untuk sarana buang air besar,berperilaku membuang tinja bayi dan anak kecil di jamban, selalu berperilaku CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) sebelum makan atau menjamah/memasak makanan dan sesudah buang air besar.

Mengingat pentingnya air bersih pada wilayah bencana, maka harus dapat dipastikan akses air bersih yang memadai untuk mampu berperan memelihara kesehatan pengungsi.

Masalah lain juga harus selalu diperhatikan jika akses ini sudah memadai, yaitu berbagai upaya pengawasan dan perbaikan kualitas air bersih dan sarana sanitasi di wilayah bencana. Tujuan utama perbaikan dan pengawasan kualitas air adalah untuk mencegah timbulnya risiko kesehatan akibat penggunaan air yang tidak memenuhi persyaratan. Pada

(15)

tahap awal kejadian bencana atau pengungsian ketersediaan air bersih bagi pengungsi perlu mendapat perhatian, karena tanpa adanya air bersih sangat berpengaruh terhadap kebersihan dan mening-katkan risiko terjadinya penularan penyakit seperti diare, typhus, scabies dan penyakit lainnya.

1. Sumber air bersih dan pengolahannya

 Bila sumber air bersih yang digunakan untuk pengungsi berasal dari sumber air permukaan (sungai, danau, laut, dan lain-lain), sumur gali, sumur bor, mata air dan sebagainya, perlu segera dilakukan pengamanan terhadap sumber-sumber air tersebut dari kemungkinan terjadinya pence-maran, misalnya dengan melakukan pemagaran ataupun pemasangan papan pengumuman dan dilakuk perbaikan kualitasnya.

 Bila sumber air diperoleh dari PDAM atau sumber lain yang cukup jauh dengan tempat pengung-sian, harus dilakukan pengangkutan dengan mobil tangki air.

 Untuk pengolahan dapat menggunakan alat penyuling air (water purifier/water treatment plant).

Beberapa cara pendistribusian air bersih berdasarkan sumbernya

Air Permukaan (sungai dan danau) : Diperlukan pompa untuk memompa air ke tempat pengolahan air dan kemudian ke tangki penampungan air di tempat penampungan pengungsi; b. Area disekitar sumber harus dibebaskan dari kegiatan manusia dan hewan

Sumur gali : a. Lantai sumur harus dibuat kedap air dan dilengkapi dengan SPAL (saluran pembuangan air limbah); b. Bilamana mungkin dipasang pompa untuk menyalurkan air ke tangki tangki penampungan air

Sumur Pompa Tangan (SPT): a. Lantai sumur harus dibuat kedap air dan dilengkapi dengan SPAL (saluran pembuangan air limbah); b. Bila lokasinya agak jauh dari tempat penampungan pengungsi harus disediakan alat pengangkut seperti gerobak air dan sebagainya

Mata Air: Perlu dibuat bak penampungan air untuk kemudian disalurkan dengan pompa ke tangki air; b. Bebaskan area sekitar mata air dari kemungkinan pencemaran

2. Tangki Penampungan Air Bersih di Tempat Pengungsian

Tempat penampungan air di lokasi pengungsi dapat berupa tangki air yang dilengkapi dengan kran air. Untuk mencegah terjadinya antrian yang panjang dari

(16)

pengungsi yang akan mengambil air, perlu diperhatikan jarak tangki air dari tenda pengungsi minimum 30 meter dan maksimum 500 meter.

Untuk keperluan penampungan air bagi kepentingan sehari hari keluarga pengungsi, sebaiknya setiap keluarga pengungsi disediakan tempat penampungan air keluarga dalam bentuk ember atau jerigen volume 20 liter.

3. Perbaikan dan Pengawasan Kualitas Air Bersih

Pada situasi bencana dan pengungsian umumnya sulit memperoleh air bersih yang sudah memenuhi persyaratan, oleh karena itu apabila air yang tersedia tidak memenuhi syarat, baik dari segi fisik maupun bakteriologis, perlu dilakukan dengan membuang bahan pencemar, serta melakukan beberapa hal berikut.

 Melakukan penjernihan air secara cepat apabila tingkat kekeruhan air yang ada cukup tinggi.

 Melakukan desinfeksi terhadap air yang ada dengan menggunakan bahan bahan desinfektan untuk air

 Melakukan pemeriksaan kadar sisa klor jika air dikirim dari PDAM

 Melakukan pemeriksaan kualitas air secara berkala pada titik-titik distribusi 4. Perbaikan Kualitas Air

Jika air yang tersedia tidak memenuhi syarat, baik dari segi fisik maupun bakteriologis dapat dilakukan upaya perbaikan mutu air seperti berikut:

Penjernihan Air Cepat, dengan menggunakan Alumunium Sulfat (Tawas). Sedangkan cara Penggunaan tawas sebagai berikut:

 Sediakan air baku yang akan dijernihkan dalam ember 20 liter

 Tuangkan/campuran tawas yang sudah digerus sebanyak 1/2 sendok teh dan langsung diaduk perlahan selama 5 menit sampai larutan merata

 Diamkan selama 10–20 menit sampai terbentuk gumpalan/flok dari kotoran/lumpur dan biarkan mengendap. Pisahkan bagian air yang jernih yang berada di atas endapan, atau gunakan selang plastik untuk mendapatkan air bersih yang siap digunakan

 Bila akan digunakan untuk air minum agar terlebih dahulu direbus sampai mendidih atau didesinfeksi dengan aquatabs

Penjernihan Air Cepat, dengan menggunakan Poly Alumunium Chlorida (PAC). Lazim disebut penjernih air cepat yaitu polimer dari garam alumunium

(17)

chloride yang dipergunakan sebagai koagulan dalam proses penjernihan air sebagai pengganti alumunium sulfat.

Kemasan PAC terdiri dari: a). Cairan yaitu koagulan yang berfungsi untuk menggumpalkan kotoran/ lumpur yang ada di dalam air dan b). Bubuk putih yaitu kapur yang berfungsi untuk menetralisir pH

Cara Penggunaan:

 Sediakan air baku yang akan dijernihkan dalam ember sebanyak 100 liter

 Bila air baku tersebut pH nya rendah (asam), tuangkan kapur (kantung bubuk putih) terlebih dahulu agar pH air tersebut menjadi netral (pH=7). Bila pH air baku sudah netral tidak perlu digunakan lagi kapur

 Tuangkan larutan PAC (kantung A) kedalam ember yang berisi air lalu aduk perlahan lahan selama 5 menit sampai larutan tersebut merata

 Setelah diaduk merata biarkan selama 5 – 10 menit sampai terbentuk gumpalan/flok flok dari kotoran/lumpur dan mengendap. Pisahkan air yang jernih dari endapan atau gunakan selang plastik untuk mendapatkan air bersih yang siap digunakan

 Bila akan digunakan sebagai air minm agar terlebih dahulu direbus sampai mendidih atau di desinfeksi dengan aquatabs

5. Desinfeksi Air

Proses desinfeksi air dapat menggunakan Kaporit (Ca(OCl)2) atau Aquatabs (Aqua tablet);

Desinfeksi dengan Kaporit (Ca(OCl)2)

 Air yang telah dijernihkan dengan tawas atau PAC perlu dilakukan desinfeksi agar tidak mengandung kuman patogen. Bahan desinfektan untuk air yang umum digunakan adalah kaporit (70% klor aktif).

 Kaporit adalah bahan kimia yang banyak digunakan untuk desinfeksi air karena murah, mudah didapat dan mudah dalam penggunaanya.

 Banyaknya kaporit yang dibutuhkan untuk desinfeksi 100 liter air untuk 1 KK (5 orang) dengan sisa klor 0,2 mg/liter adalah sebesar 71,43 mg/hari (72 mg/hari).

Desinfeksi dengan Aquatabs (Aqua tablet)

 Sesuai namanya aquatabs berbentuk tablet, setiap tablet aquatabs (8,5 mg) digunakan untuk mendesinfeksi 20 liter air bersih, dengan sisa klor yang dihasilkan 0,1 – 0,15 mg/liter

(18)

 Setiap 1 KK (5 jiwa) dibutuhkan 5 tablet aquatabs per hari untuk mendesinfeksi 100 liter air bersih.

6. Pengawasan Kualitas Air

Pengawasan kualitas air dapat dibagi menjadi beberapa tahapan, antara lain:

 Pada awal distribusi air: a). Air yang tidak dilakukan pengolahan awal, perlu dilakukan pengawasan mikrobiologi, tetapi untuk melihat secara visual tempatnya, cukup menilai ada tidaknya bahan pencemar disekitar sumber air yang digunakan;

b). Perlu dilakukan test kekeruhan air untuk menentukan perlu tidaknya dilakukan pengolahan awal; b). Perlu dilakukan test pH air, karena untuk desinfeksi air memerlukan proses lebih lanjut bilamana pH air sangat tinggi (pH >5); c). Kadar klor harus tetap dipertahankan agar tetap 2 kali pada kadar klor di kran terakhir (rantai akhir), yaitu 0,6 – 1 mg/liter air.

 Pada distribusi air (tahap penyaluran air), seperti di mobil tangki air perlu dilakukan pemeriksaan kadar sisa klor.

 Pada akhir distribusi air, seperti di tangki penampungan air, bila air tidak mengandung sisa klor lagi perlu dilakukan pemeriksaan bakteri Coliform.

Sementara itu pemeriksaan kualitas air secara berkala yang perlu dilakukan antara lain meliputi:

 Pemeriksaan Sisa klor. Pemeriksaan dilakukan beberapa kali sehari pada setiap tahapan distribusi untuk air yang melewati pengolahan

 Pemeriksaan Kekeruhan dan pH. Pemeriksaan dilakukan mingguan atau bilamana terjadi perubahan cuaca, misalkan hujan.

 Pemeriksaan Bakteri E. coli tinja. Pemeriksaan dilakukan mingguan disaat KLB diare dan periode emergency dan pemeriksaan dilakukan bulanan pada situasi yang sudah stabil dan pada periode paska bencana.

I.

Pemulihan Pasca Gangguan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat

(19)

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian dalam pembahasan tersebut situasi wilayah dan potensi gangguan keamanan dan ketertiban di Lembaga Pemasyarakatan pada tahun 2012 hingga 2013 terdapat banyak insiden di Lapas yang berujung pada konflik dan berdampak negatif tetapi dengan kewaspadaan dini seperti peranan unit utama di lingkungan Kementerian Hukum dan HAM kemudian khusus unit pelaksana pengawasan, manajemen kepegawaian dan riset.

Dalam kesehatan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan sudah ditetapkan di Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1999 tentang Syarat dan Tata Cara Pelakasanaan Hak Warga Binaan Pemasyarakatan di Bagian Pelayanan Kesehatan dan Makanan. Meskipun sudah ada peraturan atau pasal terdapat banyak Lapas yang belum tersedianya tenaga kesehatan selain itu peralatan kesehatan yang masih terbatas dan tidak ada ruang pelayanan kesehatan bagi yang rawat inap serta terbatasnya persedian obat-obatan.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan tersebut maka dilihat dari sisi regulasi terkait pelayanan kesehatan harus ditingkatkan

(20)

DAFTAR PUSTAKA

http://news.unair.ac.id/2018/12/31/mobilisasi-tenaga-kesehatan-dalam-situasi-bencana/

https://bencana-kesehatan.net/index.php/30-hospital-disaster-plan/hasil-poa-diskusi?start=6 http://www.indonesian-publichealth.com/standar-pengawasan-kualitas-air-bersih-pada- wilayah-bencana/

Referensi

Dokumen terkait

Menjamin   dan   mengusahakan   keamanan,   ketertiban, ketentraman dan

masyarakat demokratis untuk kepentingan keamanan nasional dan masyarakat demokratis untuk kepentingan keamanan nasional dan keselamatan publik, ketertiban umum, perlindungan

Capaian Program Peningkatan upaya pemberdayaan masyarakat untuk menjaga ketertiban dan

Capaian Program Peningkatan upaya pemberdayaan masyarakat untuk menjaga ketertiban dan keamanan.

Dalam menciptakan dan memelihara Keamanan, Keselamatan, Ketertiban serta Kelancaran Lalu lintas, telah dilakukan pengaturan yang disesuaikan dengan perkembangan

Gangguan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat - Menyediakan petugas dan sarana keamanan yang memadai - Tidak melakukan aktifitas yang menganggu warga masyarakat - Melakukan

Dokumen ini membahas tentang situasi biasa yang dihadapi orang dalam kehidupan sehari-hari, termasuk kesalahpahaman, kesabaran, dan komunikasi yang

Dokumen ini membahas masalah yang terjadi di Raw Mill dan langkah yang diambil untuk