PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Idetifikasi Masalah
Pembatasan Masalah
Perumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Panaliten menika langkung fokus kangge ngandharaken faktor-faktor ingkang ndadosaken produksi gula klapa wonten ing Desa Pengalusan, Kabupaten Purbalingga. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula kelapa di Desa Pengalusan, Kecamatan Mrebet, Kabupaten Purbalingga.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan pengambilan keputusan dalam produksi gula kelapa untuk mencapai hasil yang maksimal.
KAJIAN TEORI
Kajian Teori
- Pertanian Gula Kelapa Masa Kini
- Teori Produksi
- Gula Kelapa
Meskipun Indonesia merupakan produsen gula kelapa terbesar setelah Filipina, namun sangat disayangkan kesejahteraan petani gula kelapa masih relatif rendah. Pelatihan yang diberikan berupa cara pengolahan gula yang baik dan terstandar, cara pengemasan dan distribusi produk gula kelapa. Gula kelapa untuk pasar ekspor memiliki persyaratan mutu produk yang lebih ketat dan harus bersertifikat resmi.
Teori fungsi ini sesuai dengan masukan lokasi penelitian peneliti petani gula kelapa di Desa Pengalusan. Petani gula di desa Pengalusan mempunyai input utama produksi gula kelapa yaitu sumber daya alam berupa nira kelapa, tenaga kerja dan modal. Di Indonesia, gula kelapa sering digunakan sebagai pelengkap jamu kuliner untuk masakan sehari-hari.
Penggunaan tempurung kelapa dimaksudkan untuk mencegah kontaminasi logam dan kimia pada gula kelapa bubuk. Perdagangan gula kelapa kini sudah mendunia karena diyakini lebih sehat dibandingkan gula tebu.
Penelitian yang Relevan
Penelitian produksi gula kelapa di Desa Pengalusan menggunakan fungsi Produksi Cobb Douglass yaitu menggunakan pendekatan kuantitatif. Faktor produksi yang mempunyai pengaruh besar terhadap produksi gula kelapa adalah produksi nira (X4), teknologi (X5) berupa mesin oven dan anggota (X6). Peneliti menekankan untuk mengkaji perbedaan faktor produksi gula kelapa karena jumlah petani gula kelapa di desa Pengalusan sedikit.
HASIL UJI REGRESI BERGANDA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI GULA KELAPA PETANI GULA KELAPA DI DESA PENGALUSAN.
Kerangka Berfikir
Hipotesis Penelitian
METODE PENELITIAN
- Desain Penelitian
- Jenis dan Sumber Data
- Sampel Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Spesifikasi Model
- Definisi Operasional
- Tahapan Analisis Data
- Analisis Data
- Analisis Model
- Uji Diagnostik
- Uji Signifikansi
Data primer diperoleh dari penyebaran kuesioner kepada petani gula kelapa di Desa Pengalusan Kecamatan Mrebet Kabupaten Purbalingga. Gula kelapa merupakan sumber penghidupan warga Desa Pengalusan yang merupakan sentra pohon kelapa. Dengan rata-rata pendapatan petani sesuai tabel pendapatan, maka petani gula kelapa membelanjakan pendapatannya untuk kebutuhan pokok.
Menurut Bapak Madratum (Wawancara, 20 Juli 2017), pendapatan petani gula kelapa bubuk dari produksi gula kelapa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sampel petani gula kelapa yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa petani gula kelapa mempekerjakan anggota keluarga dalam proses produksinya. Sebab barang yang dijadikan modal petani gula kelapa adalah dapur, kompor yang berbahan bakar kayu.
Keanggotaan petani gula kelapa dalam kelompok tani memiliki partisipasi yang kecil yaitu 31 dari 425 petani gula kelapa di desa Pengalusan.
HASIL PENELITAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
- Kondisi Sosial Ekonomi Petani Gula Kelapa
- Uji Asumsi Klasik
Dalam proses pembuatannya, para laki-laki akan membantu menjaga api yang masih menyala melalui kayu dan membantu tahap akhir penggilingan gula kelapa bubuk. Berbentuk gula kelapa, prosesnya akan selesai jika sarinya mengental lalu dipres ke dalam cetakan bambu. Kemudian pada tahun 2011, dengan suksesnya gula bubuk yang diproduksi di Purbalingga tepatnya di Desa Bojong Kecamatan Mrebet, pada tahun 2014 para petani gula kelapa disuruh membuat gula kelapa bubuk yang harga pasarannya lebih mahal dari gula cetak.
Produk gula kelapa di Pengalusan mempunyai empat sertifikat yaitu dari JAS, USDA, BE, INOFICE. Petani di desa Pengalusan memilih bekerja sebagai petani gula kelapa karena menjadi petani gula merupakan pekerjaan yang paling mudah dibandingkan pekerjaan lain yang memerlukan kualifikasi tinggi. Selain itu, mereka juga mendapat kontak dari Dinas Pertanian Daerah dan Internal Control Service (ICS) bagi pihak yang memproduksi gula kelapa bubuk.
Petani yang berpartisipasi sebagian besar adalah mereka yang tergabung dalam kelompok tani gula kelapa, yang mana di Desa Pengalusan hanya ada satu kelompok tani bernama “Kelompok Tani NIRA MULYA” yang beranggotakan 31 orang. Pak Dirjo sebagai petani gula pun mengamini pendapat tersebut, karena mereka memutuskan untuk menggarap gula kelapa secukupnya untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Karena pendapatan petani cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti bahan pangan pokok, sandang sehari-hari, tempat tinggal, pendidikan dan kesejahteraan sosial, maka wajar jika kesejahteraan petani gula kelapa dapat meningkat (Alwia, 2014).
Petani yang kini bekerja sama dengan eksportir gula kelapa bubuk mempunyai pendapatan tertentu, meski harganya masih berfluktuasi antara Rp12.000,00-Rp18.000,00. Sepeda motor yang dibeli digunakan sebagai alat transportasi para petani gula kelapa untuk mengangkut sari kelapa dari areal penyadapan yang jarak antara lahan tempat tumbuh kelapa dengan pemukiman petani gula cukup jauh, berkisar antara 5 km hingga 10 km di daerah perbukitan yang landai. daerah. Petani gula kelapa biasanya bekerja +12 jam -+14 jam dari mengumpulkan nira pada pagi dan sore hari, memasak sari perasan hingga 8 jam dan mencari kayu bakar.
Uji t bertujuan untuk mengetahui pengaruh secara parsial variabel yang terdiri dari modal, tenaga kerja, jumlah tanaman (SPH), produksi benih, teknologi dan anggota terhadap produksi gula kelapa. 0,006 < 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa keanggotaan petani dalam suatu kelompok berpengaruh signifikan terhadap jumlah produksi gula kelapa. Berdasarkan hasil tersebut, angka return to scale (RTS) kurang dari 1 yang berarti industri gula kelapa dalam negeri di desa Pengalusan kecamatan Mrebet berada dalam kondisi return to scale yang menurun.
Pembahasan
Dengan modal yang berasal dari dirinya sendiri dan bersifat homogen, maka modal tidak berpengaruh terhadap produksi gula kelapa. Dalam penelitian ini tenaga kerja dihitung dengan menggunakan satuan orang yang bekerja pada saat proses produksi gula kelapa. Namun sayangnya dalam penelitian ini pekerjaan tersebut tidak berpengaruh karena industri gula kelapa dalam negeri di desa Pengalusan hanya mempunyai dua orang pekerja yaitu suami dan istri.
Sedangkan tugas istrilah yang mengatur proses produksi gula kelapa mulai dari wadah nira yang diambil suami hingga selesai produksinya, baik dengan cara dicetak maupun dihancurkan. Di pasaran, gula kelapa harus memiliki tingkat kekeringan tertentu agar dapat memenuhi standar pasar yang diminta konsumen. Oleh karena itu, keanggotaan mempunyai dampak tidak langsung terhadap permodalan dengan mempengaruhi produksi gula kelapa, serta akses yang lebih mudah terhadap permodalan dan distribusi produk.
Pada penelitian ini, hasil industri rumah tangga gula kelapa di Desa Pengalusan menunjukkan diminishing return to scale (RTS) yang berarti rata-rata biaya produksi akan menurunkan output. Diminishing return to scale (RTS) bagi petani gula kelapa disebabkan oleh adanya pengurangan output yang dilakukan oleh pekerja dengan input yang homogen berkisar antara dua hingga tiga pekerja, dan anggota tidak berperan dalam proses produksi sehingga meningkatkan produksi gula. Berdasarkan penelitian, kondisi sosial ekonomi petani gula kelapa menunjukkan pendapatan petani gula kelapa sebesar Rp di atas upah minimum Purbalingga sebesar Rp.
Dengan 24% petani gula kelapa tidak memiliki utang dan terbesar kedua mempunyai utang sebesar satu hingga lima juta rupiah. Petani gula kelapa desa Pengalusan hendaknya lebih memperhatikan penggunaan pendapatannya tidak hanya untuk konsumsi tetapi juga untuk tabungan, dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan. Petani gula kelapa desa Pengalusan harus mengumpulkan nira dua kali sehari untuk menghasilkan panen gula yang besar, menggunakan teknologi kiln dan mengikuti keanggotaan kelompok tani Nira Mulya.
Petani gula kelapa desa Pengalusan hendaknya meningkatkan upaya dalam pengolahan dan pemanfaatan input yang baik dengan proporsi antara modal (X1), tenaga kerja (X2), jumlah tanaman (X3), produksi benih (X4), teknologi (X5) dan anggota (X6). ) yang lebih proporsional sehingga petani mendapatkan skala hasil yang lebih baik, masing-masing meningkatkan skala hasil. Strategi Pengembangan dan Jaringan Pemasaran Industri Gula Kelapa Nasional dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Makalah disampaikan pada Program Bimbingan Teknis Pemasaran Gula Kelapa Dinas Perkebunan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pendistribusian gula kelapa +76% dijual ke perusahaan, sisanya dijual ke pabrik gula dan dipasarkan di pasar lokal Kabupaten Purbalingga.
Saran
Keadaan industri rumahan di Desa Pengalusan dalam penelitian berada pada kondisi return to scale yang menurun.
Keterbatasan
Diunduh pada 11 Januari 2017 dari https://docs.education.gov.au/system/files/doc/other/human-capital-and-productivity-literature-review-march-2013.pdf. Diakses tanggal 4 Januari 2017 dari https://purbalinggakab.bps.go.id/website/pdf_publikasi/Kecamatan-Kutasari-dalam-Angka-2016.pdf. Diakses tanggal 5 Agustus 2017 dari https://media.neliti.com/media/publications/48375-ID-statistic-tebu-indonesia-2015.pdf.
Diakses pada 1 November 2016 dari https://kisumu.uonbi.ac.ke/sites/default /files/chss/economics/SoE%20Annual%20Report.pdf. Diakses tanggal 31 Juli 2017 dari http://www.snv.org/public/cms/sites/default/files/explore/download/sn v_indonesia_coconut_sugar_brochure.pdf. Jurnal Medwell Manajemen Bisnis Internasional No 7 Diakses tanggal 5 Agustus 2017 dari http://docsdrive.com/pdfs/medwelljournals/ibm pdf Soekartawi.