PENDAHULUAN
Latar Belakang
Permasalahan stigma negatif yang melekat di masyarakat membuat proses interaksi sosial perempuan bercadar dalam bidang komunikasinya terhambat. Karena pada dasarnya perempuan bercadar masih menjadi bagian dari masyarakat majemuk yang tidak bisa dipisahkan dari aktivitas dan interaksi sosial. Kami telah mengeluarkan peraturan dress code dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan kampus IAIN Jember.
Fokus Penelitian
Mahasiswa pemakai niqab di lingkungan kampus khususnya IAIN semakin terpinggirkan karena merupakan kelompok minoritas yang sulit berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya. Berdasarkan uraian tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai “Pola komunikasi mahasiswi bercadar dalam hubungan sosial di masyarakat (studi kasus mahasiswi bercadar di IAIN Jember)”.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Kami berharap hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan evaluasi dan pengembangan lebih lanjut, serta meningkatkan kualitas mahasiswa dan lulusan komunikasi di masa depan, sehingga dapat dijadikan informasi dan referensi bagi seluruh pegiat akademik untuk memahaminya lebih dalam. . dan lebih maksimal lagi untuk menghasilkan pendidikan yang berkualitas.
Definisi Istilah
Sedangkan secara harafiah “student” terdiri dari dua kata, yaitu “maha” yang berarti tinggi dan “student” yang berarti mata pelajaran yang dipelajari (menurut Bobbi De Porter), yaitu linguistik. Hubungan sosial disebut hubungan sosial, yang merupakan hasil interaksi sistematis (rangkaian perilaku) antara dua orang atau lebih. Oleh karena itu, sebagai makhluk sosial, manusia perlu berinteraksi atau membangun hubungan sosial dengan manusia lainnya.
Sistematika Pembahasan
Masyarakat adalah sekelompok orang yang saling terkait erat satu sama lain karena sistem tertentu, tradisi tertentu, konvensi dan hukum tertentu yang sama dan mengarah pada kehidupan kolektif.19 Secara sederhana, masyarakat diartikan sebagai suatu hubungan sosial yang diciptakan oleh orang-orang. . Individu terlibat dalam masyarakat melalui perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela. Berdasarkan pengertian masing-masing istilah yang menjadi pokok penelitian, maka dapat dipahami bahwa hubungan sosial dalam masyarakat sedemikian rupa sehingga untuk memenuhi kebutuhannya, masyarakat tidak dapat hidup sendiri, melainkan membutuhkan orang lain.
KAJIAN KEPUSTAKAAN
Penelitian Terdahulu
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Bedanya, penelitian Vanni Adriani Puspanegara lebih menekankan pada perilaku komunikasi muslimah bercadar, sedangkan penelitian ini lebih menekankan pada pola komunikasi siswi bercadar dalam membangun relasi atau hubungan sosial dengan masyarakat. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data dan verifikasi/penarikan kesimpulan.
Kajian Teori
- Pola Komunikasi Mahasiswi Bercadar
- Relasi Sosial Masyarakat
Misalnya, menatap mata orang lain dapat berarti kasih sayang dalam satu situasi dan agresi dalam situasi lain. Porter, dalam buku ilmu komunikasi pengantar Dedy Mulyana menyatakan bahwa komunikasi nonverbal mencakup seluruh rangsangan (kecuali rangsangan verbal) dalam suatu setting komunikasi yang dihasilkan oleh individu dan pemanfaatan lingkungan oleh individu, yang mempunyai potensi nilai pesan bagi masyarakat. pengirim. atau penerima; Jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja dan tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan; kita mengirimkan banyak pesan nonverbal tanpa menyadari bahwa pesan tersebut bermakna bagi orang lain.30. 37 Faricha Hasinta Sari, Salmah Lilik, Rin Widya Agustin, “Studi Fenomenologi Penyesuaian Diri pada Wanita Bercadar”, Artikel Ilmiah, Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, 119.
Berdasarkan teori fenomenologi Alfred Schultz, seseorang melakukan suatu tindakan berdasarkan suatu motif karena suatu alasan dan dengan maksud untuk memotivasi, seperti yang dilakukan oleh wanita bercadar. 44. Perbuatan yang dilakukan oleh wanita bercadar (Karena Motifnya) mengacu pada pengalaman atau hal yang menjadi landasan bagi seorang wanita muslimah, sehingga pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan untuk memutuskan bercadar secara berkelanjutan. Penyesuaian diri merupakan respon mental atau perilaku individu untuk mengatasi kebutuhan, ketegangan, frustasi dan konflik yang ada dalam dirinya serta berfungsi untuk menjaga keselarasan antara tuntutan yang ada dalam dirinya dengan lingkungan hidupnya.
Penyesuaian diri pada hakikatnya terdiri dari dua unsur yaitu intrapersonal dan ekstrapersonal yang keduanya saling mendukung untuk proses berfungsinya kepribadian.45 Dalam hal ini proses penyesuaian diri paling sedikit mencakup tiga unsur yaitu motivasi. sikap terhadap kenyataan dan pola penyesuaian diri. 45 Faricha Hasinta Sari, Salmah Lilik, Rin Widya Agustin, “Studi Fenomenologi Penyesuaian Diri Pada Wanita Bercadar”, Artikel Ilmiah, Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, 119. 46 Oki Tri Handono dan Khoirud “Hubungannya antara penyesuaian diri dan dukungan sosial terhadap stres lingkungan pada Santri Baru”, Jurnal Fakultas Psikologi, 1 (Desember) menyusun self-response agar dapat mengatur dan merespon segala permasalahan secara efisien.
Pentingnya komunikasi adalah seseorang memberikan penafsiran terhadap tingkah laku orang lain (yang berupa ucapan, gerak tubuh atau sikap), perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. 51 Yang bersangkutan kemudian bereaksi terhadap perasaan yang diinginkan orang tersebut. lainnya untuk ditransfer.
METODE PENELITIAN
Pendekatan dan Jenis Penelitian
Lokasi Penelitian
Subyek Penelitian
Informan yang dipilih peneliti adalah mahasiswi yang baru beberapa bulan bercadar yang tersebar di setiap fakultas di kampus IAIN Jember. Sumber data primer merupakan sumber utama untuk memperoleh data primer yang diperoleh melalui metode wawancara dengan informan. Dalam penggalian data tersebut, peneliti banyak menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban mengenai pola komunikasi mahasiswa bercadar dalam hubungan sosial di komunitas IAIN Jember.
Dalam menentukan subjek penelitian, hendaknya perhatian diberikan kepada pihak-pihak yang terlibat dalam penelitian dan mempunyai waktu yang cukup untuk meminta informasi. Oleh karena itu yang menjadi subjek penelitiannya adalah para mahasiswi pemakai niqab kampus IAIN Jember sebagai data primer dalam penelitian ini yang tersebar di beberapa fakultas yaitu Ana, mahasiswi Fakultas Tarbia dan Pendidikan Guru Ifa, mahasiswi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Khairunnisa, mahasiswi Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan. , Safira, mahasiswa Fakultas Syariah, dan Zulfi, mahasiswa Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora. Data sekunder merupakan data bekas yaitu informasi yang diperoleh dari pihak lain yang mendukung perolehan informasi yang menjadi fokus penelitian ini.
Peneliti mengambil beberapa informan yang dijadikan sumber data sekunder yaitu beberapa mahasiswa kampus IAIN Jember yang sering melakukan interaksi sosial dengan mahasiswa bercadar seperti Diki Candra, Iskandar dan Vivi. Sumber data sekunder lainnya adalah catatan pendukung yang mengkaji pola komunikasi siswi bercadar dalam hubungan sosial di masyarakat. Misalnya dari buku-buku yang relevan dengan penelitian, jurnal ilmiah, artikel dan kontribusi ilmiah lainnya yang berkaitan dengan subjek penelitian tersebut.
Teknik Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pedoman wawancara semi terstruktur yaitu peneliti telah menyiapkan beberapa pertanyaan untuk diajukan kepada mahasiswa berniqab dan beberapa informan mahasiswa kampus IAIN Jember yang dipilih untuk mendukung data dalam penelitian ini. Namun peneliti masih memperdalam pertanyaan yang ada agar lebih jelas seluruh data yang terkumpul terkait penelitian tersebut. Peneliti mewawancarai beberapa mahasiswi bercadar dan non-cadar di kampus IAIN Jember yaitu mahasiswi bercadar dari beberapa fakultas: 2 mahasiswi bercadar dari Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan Guru, 1 mahasiswi dari Fakultas Ekonomi dan Islam. Bisnis, 1 orang mahasiswa fakultas Syariah dan 1 orang mahasiswa Ushuluddin Adab dan Humaniora.
Jadi, jumlah responden dalam penelitian ini adalah 8 orang yang mewakili penelitian ini. Metode dokumentasi merupakan suatu teknik mempelajari data yang telah dicatat dalam beberapa dokumen, dimana data tersebut dapat dijadikan bahan pelengkap data yang diperlukan dalam penelitian.
Analisis Data
Penarikan kesimpulan dalam penelitian kualitatif dapat dilakukan untuk menjawab fokus penelitian yang telah dirumuskan sejak awal, kesimpulan tersebut merupakan temuan baru yang belum pernah ada sebelumnya. Temuan dapat berupa deskriptif atau uraian terhadap objek yang sebelumnya masih redup sehingga menjadi jelas setelah dilakukan penelitian.56.
Keabsahan Data
Tahap-Tahap Penelitian
- Visi Misi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember
- Letak Geografis Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember
- Struktur Organisasi Institut Agama Islam Negeri
- Dinamika Kehidupan Sosial dan Motif Mahasiswi Bercadar
- Penyesuaian Mahasiswi Bercadar dengan Lingkungan Sosial
75 Data diperoleh dari hasil wawancara dengan Anna selaku mahasiswa penyamaran Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Selasa 6 Maret 2018 pukul 10.00 WIB. 77 Data diperoleh dari hasil wawancara dengan Khairunnisa selaku mahasiswa penyamaran Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Selasa 13 Maret 2018 pukul 09:00 WIB. 80 Data diperoleh dari hasil wawancara dengan Ana selaku mahasiswa penyamaran Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Selasa 6 Maret 2018 pukul 10.00 WIB.
85 Data diperoleh dari hasil wawancara dengan Anna selaku mahasiswa liputan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Selasa 6 Maret 2018 pukul 10.00 WIB. 86 Data diperoleh dari hasil wawancara dengan Anna selaku mahasiswa liputan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, Selasa 6 Maret 2018 pukul 10.00 WIB. 93 Data diperoleh dari hasil wawancara dengan Anna selaku mahasiswa liputan Fakultas Tabiyah dan Keguruan, Selasa 6 Maret 2018 pukul 10.00 WIB.
95 Data diperoleh dari hasil wawancara dengan Khairunnisa selaku mahasiswa berjilbab Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan Guru, Selasa 13 Maret 2018 pukul 09:00 WIB. 102 Data diperoleh dari hasil wawancara dengan Ana selaku mahasiswi berkerudung Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan Guru, Selasa 6 Maret 2018 pukul 10.00 WIB. 108 Data diperoleh dari hasil wawancara dengan Ana selaku mahasiswi berkerudung Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan Guru, Selasa 6 Maret 2018 pukul 10.00 WIB.
112 data diperoleh dari hasil wawancara dengan Ana selaku mahasiswi berkerudung Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan Guru, Selasa 6 Maret 2018 pukul 10.00 WIB.
Penyajian Data dan Analisis
- Bentuk komunikasi verbal mahasiswi bercadar
- Bentuk komunikasi verbal mahasiswi bercadar
Pembahasan Temuan
Berdasarkan data yang diperoleh, pembahasan temuan ini akan mengungkap pola komunikasi siswi bercadar dalam hubungan sosial di masyarakat. Berdasarkan data yang diperoleh dari wawancara, observasi dan dokumentasi, siswi bercadar terus berkomunikasi dengan orang disekitarnya, seperti menyapa setiap kali bertemu dengan teman laki-laki atau perempuan. Dalam hal berkomunikasi dengan laki-laki, siswi berniqab selektif terhadap lawan bicaranya; mereka hanya mau berinteraksi dengan komunikan laki-laki ketika dirasa sangat penting dan mendesak.
Dalam hal ini, siswi berniqab dalam penelitian ini menghindari percakapan yang benar-benar informal dan bebas tanpa tujuan pesan tertentu dengan lawan bicara laki-laki yang bukan mahramnya. 114 Data diperoleh dari hasil wawancara dengan Safira selaku mahasiswa berjilbab Fakultas Syariah, Jumat 16 Maret 2018 pukul 07.30 WIB. Sebab menurut pengalaman beberapa informan, orang lain dalam penelitian ini enggan menyapa perempuan bercadar terlebih dahulu.
Bentuk komunikasi verbal masih dilakukan antara siswi bercadar dengan lingkungannya, seperti saling menyapa setiap kali bertemu teman. Jiwa-Jiwa Agama Berjilbab: Kajian Fenomenologi Pada Mahasiswa Perempuan Berjilbab Universitas Negeri Yogyakarta Kota.” Bagaimana cara memposisikan diri sebagai mahasiswi bercadar di tengah kehidupan mahasiswa yang penuh dengan campuran laki-laki dan perempuan?
Bagaimana bisa berinteraksi dengan siswi bercadar jika ekspresi wajah dan gerakan bibir tidak terlihat.
PENUTUP
Kesimpulan
Bentuk komunikasi nonverbal pada siswi bercadar antara lain komunikasi mata, gerak tubuh, komunikasi sentuhan, komunikasi spasial dan penampilan. Semua bentuk nonverbal tersebut memberikan makna dan pesan yang disampaikan oleh wanita bercadar kepada lawan bicaranya.
Saran
Perempuan Bercadar dalam Gerakan Pemberdayaan (Studi Kasus Komunitas Perempuan di Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari Pogung Dalangan, Sinduadi, Sleman, Yogyakarta). Konstruksi Makna Berjilbab Oleh Perempuan Bercadar Jamaah Umar Masjid Bin Khattab, Desa Delima, Kecamatan Tampan, Pekanbaru", dalam Jurnal Fisip “Konstruksi Makna Cadar oleh Perempuan Bercadar pada Jamaah Pengajian Masjid Umar Bin Khattab Desa Delima Kecamatan Tampan Pekanbaru.”
Apakah ada kesenjangan jarak yang Anda rasakan saat berinteraksi dengan orang lain setelah bercadar?