SKRIPSI
Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam Program Studi Pendidikan Agama Islam
Oleh:
SITI FAIKOTUL IKRIMA NIM. T20151377
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
MEI 2019
Artinya: Rasul telah beriman kepada Al Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdoa):
"Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali (Qs. Al-Baqarah: 285)*
* Al- Qur’an, 02:285.
hati skripsi ini saya persembahkan kepada:
1. Kedua orang tua saya H. Asnawi dan Hj. Sanaweni terimakasih telah membimbing ananda dan memberikan do’a penuh keikhlasan serta kasih sayang yang begitu besar.
2. Bapak Bupati Banyuwangi H. Abdullah Azwar Anas, M. Si yang telah memberikan kesempatan untuk menempuh S1 dengan Program Banyuwangi Cerdas.
3. Kakak tersayang Sai’in Alim yang selalu mendukung saya dalam menuntut ilmu hingga ke jenjang yang lebih tinggi.
4. Keluarga Komunitas Program Banyuwangi Cerdas (K-PBC) IAIN Jember yang telah memberikan makna indah dalam kebersamaan, persaudaraan dan kekeluargaan di kampus IAIN Jember.
5. Ibu Wiwin Indiarti selaku Inisiator Persatuan Mocoan Lontat Yusup yang telah memberikan izin dan pengarahan terhadap penyusunan skripsi ini.
6. Badan Pemuda Adat Nusantara dan Persatuan Mocoan Lontar Yusup Milenial yang memberi dukungan dan kesempatan kepada saya dalam proses penelitian hingga dapat menyelesaikan tugas penulisan skripsi.
7. Keluarga besar Wahaha Cost yang selalu memberikan dukungan kepada saya serta memberikan makna indah dalam kebersamaan dan kekeluargaan 8. Keluarga kelas A-10 yang menjadi sahabat sekaligus teman belajar dalam
setiap kesempatan di kampus IAIN Jember.
Segala puji bagi Allah SWT Tuhan alam beserta isinya, Sang pencipta dan penguasa seisi alam semesta, berkat taufik, hidayah, beserta inayah-Nya, kami akhirnya dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Model Pembinaan Moralitas Generasi Muda Berbasis Kearifan Lokal dalam Lontar Yusuf Banyuwangi (Studi Kasus Komunitas Adat Osing Banyuwangi)”.
Shalawat serta salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada sang sevolusioner dunia Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang yakni adanya addinul Islam.
Setelah melalui beberapa tahapan rintangan dalam sistematika penulisan skripsi ini, tiada kata yang pantas untuk dilontarkan selain ungkapan rasa syukur yang tiada tara kepada-Nya. Keberhasilan dan kesuksesan ini penulis peroleh karena dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyadari dan menyampaikan terima kasih sedalam-dalamnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM. selaku Rektor IAIN Jember yang telah memfasilitasi kami selama proses kegiatan belajar mengajar di lembaga yang dipimpinnya.
2. Ibu Dr. H. Mukni’ah, M.Pd.I. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan yang telah mengesahkan secara resmi tema penelitian ini sehingga penyusunan skripsi berjalan dengan lancar.
4. Drs.H.D.Fajar Ahwa, M.Pd.I. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam yang telah memotivasi dalam proses mengerjakan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.
5. Bapak Dr.H.Abd.Muhith, S.Ag.,M.Pd.I.selaku dosen pembimbing skripsi yang dengan penuh kesabaran dan keikhlasan di tengah-tengah kesibukannya meluangkan waktu memberikan bimbingan dan pengarahan.
6. Bapak Dr. H. Abd. Muis Thabrani, MM selaku Dosen Penasihat Akademik yang telah memberi arahan dan memotivasi selama proses belajar di IAIN Jember dengan sebaik-baiknya.
Semoga segala amal yang telah Bapak dan Ibu berikan mendapat balasan yang terbaik dari Allah SWT. Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi sempurnanya skripsi ini. Akhirnya tidak ada yang penulis harapkan kecuali ridho Allah SWT. Semoga karya tulis ini bermanfaat bagi penulis dan bagi para pembaca.
Jember, 24 Mei 2019
Penulis
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memberi dampak terhadap kehidupan manusia, baik itu dampak positif maupun negatif. Dengan berkembangnya IPTEK manusia lebih mudah mendapatkan informasi apapun yang dikehendaki. Hal ini mengakibatkan pengikisan moral jika tidak dibarengi dengan langkah selektif dalam memilih informasi secara tidak langsung terjadi kenakalan- kenakalan khususnya bagi generasi muda yang lebih berperan aktif dalam perkembangan IPTEK. Sebagaimana sering ditemui, anak-anak yang beranjak remaja banyak yang sukar dikendalikan, nakal, keras kepala, berbuat keonaran, maksiat, dan hal-hal yang mengganggu ketentraman umum. Untuk itu pembinaan moralitas generasi muda perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak sebagai kontribusi dalam menjaga moral anak bangsa Indonesia.
Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah Pertama, Bagaimana model yang digunakan dalam pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal dalam Lontar Yusup Banyuwangi di Komunitas Adat Osing Banyuwangi? Kedua, Bagaimana Lontar Yusup Banyuwangi dapat dijadikan sebagai model pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal di Komunitas Adat Osing Banyuwangi ? Ketiga, Bagaimana menjadikan Lontar Yusup Banyuwangi sebagai pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal di Komunitas Adat Osing Banyuwangi?
Tujuan penelitian dalam skripsi ini adalah Pertama, Untuk mendeskripsikan model yang digunakan dalam pembinaan moralitas generasi muda berbasis keariafan lokal dalam Lontar Yusup Banyuwangi di Komunitas Adat Osing Banyuwangi Kedua, Untuk mendeskripsikan bahwa Lontar Yusup Banyuwangi dapat dijadikan sebagai model pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal di Komunitas Adat Osing Banyuwangi Ketiga, Untuk mendeskripsikan cara menjadikan Lontar Yusup Banyuwangi sebagai pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal di Komunitas Adat Osing Banyuwangi.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, dan jenis penelitian adalah field research berbentuk deskriptif. Teknik penentuan informan penelitian menggunakan purposive, Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumenter. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif model Miles dan Huberman, yang meliputi: Kondensasi data , Penyajian Data dan Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi.
Hasil penelitian yang dilakukan, disimpulkan antara lain : Pertama, Persatuan Mocoan Lontar Yusup Milenial menggunakan model di luar pengajaran Kedua, Lontar Yusup ini merupakan suatu tradisi yang sudah melekat dalam masyarakat secara turun temurun dan masih dilaksanakan hingga saat ini. Dalam fungsi ritualnya diharapkan membawa kebaikan, masyarakat juga menjadikannya sebagai pedoman bermasyarakat, Lontar Yusup Banyuwangi mengandung nilai-nilai keislaman yang termasuk di dalamnya nilai moral. Ketiga, Nilai-nilai moral disampaikan dengan cara metode dialog qur’ani dan nabawi (diskusi) metode kisah qur’ani dan nabawi, metode mauidzah (ceramah), dan metode pembiasaan dengan kepribadian terpuji.
PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii
PENGESAHAN TIM PENGUJI ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Fokus Penelitian ... 8
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 9
E. Definisi Istilah ... 10
F. Sistematika Pembahasan ... 11
BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN ... 13
A. Kajian Terdahulu ... 13
B. Kajian Teori ... 17
1. Konsep Model Pembinaan Moralitas Generasi Muda ... 17
d. Metode Pembinaan Kepribadian ... 22
2. Konsep Kearifan Lokal ... 30
a. Definisi Kearifan Lokal ... 30
b. Bentuk-Bentuk Kearifan Lokal ... 31
BAB III METODE PENELITIAN ... 37
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 37
B. Lokasi Penelitian ... 37
C. Subyek Penelitian ... 38
D. Teknik Pengumpulan Data ... 38
E. Analisis Data ... 42
F. Keabsahan Data ... 44
G. Tahap-tahap Penelitian ... 45
BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA ... 47
A. Gambaran Obyek Penelitian ... 47
B. Penyajian Data dan Analisis Data ... 55
C. Pembahasan Temuan ... 72
BAB V PENUTUP ... 92
A. Kesimpulan ... 92
B. Saran-saran ... 93
DAFTAR PUSTAKA ... 95
Lampiran 2. Surat Izin Penelitian
Lampiran 3. Surat Keterangan Selesai Penelitian Lampiran 4. Jurnal Kegiatan Penelitian
Lampiran 5. Kisi-kisi Instrumen Penelitian Lampiran 6. Pedoman Penelitian
Lampiran 7. Galeri Dokumentasi Kegiatan Lampiran 8. Program Kerja BPAN PD Osing
Lampiran 9. Daftar Hadir Mocoan Lontar Yusup Milenial Lampiran 10. Biodata Penulis
2.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian ... 16
4.1 Daftar Pengurus Badan Pemuda Adat Nusantara Osing ... 53
4.2 Daftar Anggota Persatuan Mocoan Lontar Yusup Milenial ... 54
4.3 Rangkuman Temuan Penelitian ... 71
4.1 Buku Lontar Yusup Banyuwangi: Teks Pegon-Transliterasi-
Terjemahan ... 60
4.2 Tanda Merah pada Bait Lontar Yusup dalam Naskah Asli ... 62
4.3 Kegiatan Mocoan Lontar Yusup Milenial ... 65
4.4 Diskusi Makna Lontar Yusup ... 67
4.5 Quotes di Instagram MLY Milenial ... 70
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memberi dampak terhadap kehidupan manusia, baik itu dampak positif maupun negatif.
Dengan berkembangnya IPTEK manusia lebih mudah mendapatkan informasi apapun yang dikehendaki. Hal ini mengakibatkan pengikisan moral jika tidak dibarengi dengan langkah selektif dalam memilih informasi secara tidak langsung terjadi kenakalan-kenakalan remaja. Sebagaimana sering ditemui, anak-anak yang beranjak remaja banyak yang sukar dikendalikan, nakal, keras kepala, berbuat keonaran, maksiat, dan hal-hal yang mengganggu ketentraman umum.1
Menangani perilaku moral generasi muda bukan hal yang mudah karena perlu dikemas sedemikian rupa untuk menyesuaikan dengan karakter generasi muda. Masyarakat adat di Banyuwangi yang dikenal dengan Masyarakat Adat Osing (biasa disebut juga Using) memiliki tradisi mocoan atau menembangkan naskah kuno yang bernama Lontar Yusup. Sekelompok masyarakat Adat Osing berupaya untuk mempertahankan tradisi ini. Lontar Yusup Banyuwangi dikatakan masih hidup dalam masyarakat Osing, masyarkat lokal Banyuwangi karena Lontar Yusup ini masih dibaca. Yakni ada yang dibaca seminggu sekali ada yang dua minggu sekali dan ada yang dibaca dalam rangka ritual. Contohnya di desa Adat Osing Kemiren ada dua
1 Observasi, Masyarakat, 25 Desember 2018
kelompok mocoan yaitu kelompok reboan dan kelompok kemisan. Kelompok reboan ini adalah kelompok orang-orang tua dan kelompok kemisan adalah kelompok orang-orang yang lebih muda. Namun sebenarnya orang-orang lebih muda ini pun sudah tua. Desa kemiren ini merupakan salah satu ikon desa adat Osing. Di Kemiren tradisi mocoan ini memang masih hidup.
Kegiatan mocoan yang seminggu sekali atau dua minggu sekali ini hanya untuk berlatih saja. Membaca nya tidak satu kitab penuh dan tidak dengan umborampe atau perlengkapan yang harus ada di ritual itu.2
Lontar Yusup berisi tentang kisah Nabi Yusuf sejak berumur dua belas tahun sampai beliau dinobatkan sebagai raja di Mesir. Menanggapi pelaku mocoan Lontar Yusup yang hanya dilakukan orang-orang tua, seorang dosen dari Universitas Banyuwangi yang bernama Wiwin Indiarti berinisiatif untuk mengenalkan tradisi mocoan ini kepada generasi muda agar tradisi tersebut tidak hilang. Beliau melakukan bakti masyarakat kusus untuk memberdayakan atau membangkitkan kembali minat membaca Lontar Yusup di desa Adat Kemiren Banyuwangi, di samping itu kegiatan ini juga digunakan sebagai sarana pembinaan moral terhadap generasi muda.3
Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN) membentuk Persatuan Mocoan Lontar Yusup Milenial. Mereka berkumpul setiap dua minggu sekali untuk berlatih menembangkan Lontar Yusup. Persatuan itu terbentuk setelah adanya pembaruan naskah dan teks Lontar Yusup oleh Wiwin Indiarti. Beliau mendapatkan naskah kuno Lontar Yusup dari pegiat tradisi pembacaan Lontar
2 Wiwin Indiarti, Wawancara, Banyuwangi, 1 Januari 2019.
3 Wiwin Indiarti, Wawancara, Banyuwangi, 1 Januari 2019.
Yusup yaitu Adi Purwadi lalu diterbitkan dalam buku baru yang dilengkapi dengan transliterasi dan terjemahan sehingga mudah dipahami oleh masyarakat. Wiwin Indiarti, yang juga seorang penasehat di Barisan Pemuda Adat Nusantara PD Osing mengatakan bahwasannya, model pembinaan moral dapat dilakukan jika makna Lontar Yusup telah dipahami. Jadi dengan buku yang telah dilengkapi dengan transliterasi dan terjemahan tersebut nilai-nilai moral yang terkandung dalam Lontar Yusup dapat tersampaikan kepada pembacanya.4
Ada sekitar 20-an anak muda yang mengikuti pelatihan membaca Lontar Yusup ini. Awalnya mereka mendengarkan lantunan bait demi bait tulisan kuno Lontar Yusup yang dibacakan Adi Purwadi dengan seksama.
Lantas mereka menirukan suara dan cengkok seperti yang dilantunkan.
Uniknya terdapat cengkok khusus tembang lokal Banyuwangi yang harus dilantunkan. Di akhir latian tersebut diadakan diskusi singkat tentang Lontar Yusup seperti, makna naskah Lontar Yusup serta makna isi Lontar Yusup per larik. Pada kegiatan inilah proses pembinaan moral berlangsung. Jadi di samping peserta dapat meneladani nilai moral yang terkandung dalam buku Lontar Yusup yang telah dilengkapi dengan transliterasi dan terjemah secara autodidak dalam kajian ini juga diperdalam dengan adanya diskusi.5
Hal tersebut dikembangkan menurut teori Abdullah Idi bahwasanya pembinaan moral meliputi dua hal penting, yakni tindakan moral (moral behavior) dan pengertian tentang moral (moral concept). Tindakan moral
4 Wiwin Indiarti, Wawancara, Banyuwangi, 1 Januari 2019.
5 Wiwin Indiarti, Wawancara, Banyuwangi, 1 Januari 2019.
adalah pembinaan akhlak sejak dini untuk mengarah kepada moral yang baik.
Sebab moral tumbuh bersamaan dengan pengalaman langsung dari lingkungan di mana anak-anak hidup, berkembang menjadi kebiasaan, baik dimengerti maupun tidak. Kelakuan atau perilaku adalah hasil dari pembinaan yang terjadi secara langsung atau tidak langsung, formal atau tidak formal.
Pembinaan moral fokus kepada keteladanan pendidik atau orang tua.
Sedangkan moral concept adalah pengajaran mengenai konsep-konsep akhlak kepada anak didik yang bertujuan untuk memberikan pemahaman yang kuat kepada mereka mengenai berbagai akhlak yang baik dalam bergaul dalam masyarakat.6
Untuk remaja moral merupakan suatu kebutuhan tersendiri oleh karena mereka sedang dalam keadaan membutuhkan pedoman atau petunjuk dalam rangka mencari jalannya sendiri. Pedoman ini juga untuk menumbuhkan identitas dirinya, menuju kepribadian yang matang dan menghindari diri dari konflik-konflik peran yang selalu terjadi dalam masa transisi ini.7
Pada era globalisasi saat ini, memberikan perubahan besar pada tatanan dunia secara menyeluruh dan perubahan itu dihadapi bersama sebagai suatu perubahan yang wajar. Sebab, mau tidak mau, siap tidak siap perubahan itu diperkirakan akan terjadi. Dalam kondisi seperti ini, barangkali manusia akan mengalami konflik batin secara besar-besaran. konflik tersebut sebagai
6 Abdullah Idi, Dinamika Sosiologi Indonesia: Agama dan Pendidikan dalam Perubahan Sosial, (Yogyakarta: PT. LkiS Pelangi Aksara, 2015), 307.
7 Sunarto, Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: PT Rineka Cipta,2002), 180.
dampak dari ketidak seimbangan antara kemampuan IPTEK yang menghasilkan kebudayaan materi dengan kekosongan ruhani. 8
Era global ditandai oleh proses kehidupan mendunia, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama dalam bidang teknologi dan komunikasi serta terjadinya lintas budaya. Hal ini mendukung terciptanya berbagai kemudahan dalam hidup manusia. Akan tetapi kondisi ini juga dapat menciptakan pengaruh negatif terhadap berbagai kalangan, khususnya pada generasi muda yang aktif dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dengan dukungan teknik komunikasi yang canggih, manusia dengan mudah dapat berhubungan dan memperoleh informasi. Akulturasi budaya yang mudah diterima dan ditiru oleh generasi muda mengakibatkan merosotnya nilai moral generasi muda. pengaruh ini ikut melahirkan pandangan yang serba boleh. Apa yang sebelumnya dianggap tabu, selanjutnya dapat diterima dan dianggap biasa.9
Moral merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan dalam kehidupan sosial. Di dalam moral terdapat perbuatan atau tingkah laku, ucapan seseorang dalam menjalankan interaksi dengan manusia. Jika yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta mampu menyenangkan lingkungan masyarakat, maka orang itu dapat dikatakan memiliki nilai mempunyai moral yang baik. Begitu sebaliknya.
Dalam pembinaan moral erat kaitannya dengan pendidikan Islam, sebagaimana yang diungkapkan oleh asy-Syaibani bahwa pendidikan Islam
8 Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2015), 205.
9 Ibid., 205.
merupakan proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam masyarakat.10
Dalam bahasa Indonesia, moral diterjemahkan sebagai susila. Moral artinya sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, yang baik dan wajar, sesuai dengan ukuran tindakan yang oleh umum diterima, meliputi kesatuan sosial atau lingkungan tertentu.11 Dalam Islam moral dikenal dengan kata akhlak, kata akhlaq berasal dari bahasa Arab khuluq yang jamaknya akhlaq. Menurut bahasa, akhlaq adalah perangai, tabiat, dan agama. Berkaitan dengan pengertian khuluq adalah agama, Al- Fauruzzabadi berkata, “Ketahuilah, agama pada dasarnya adalah akhlak.
Barang siapa memiliki akhlak mulia, kualitas agamanya pun mulia. Agama diletakkan di atas empat landasan akhlak utama, yaitu kesabaran, memelihara diri, keberanian, dan keadilan.12
Dalam Islam, dasar atau alat pengukur yang menyatakan bahwa sifat seseorang itu baik atau buruk adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Segala sesuatu yang baik menurut al-Qur’an dan as-Sunnah, itulah yang baik untuk dijadikan pegangan dalam kehidupan sehari-hari. Sebaliknya segala sesuatu yang buruk menurt al-Quran dan as-Sunnah, berarti tidak baik dan harus dijauhi. 13
10Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan islam (Jakarta: Amzah, 2011), 27.
11 Rosihon Anwar, Akhlak Tasawuf (Bandung: CV PUSTAKA SETIA, 2010), 17.
12 Ibid., 12.
13 Ibid., 20.
Pribadi Rasulullah SAW adalah contoh yang paling tepat untuk dijadikan teladan dalam membentuk pribadi yang akhlakul karimah. Dalam Qs. Al-Ahzab:21, Allah SWT berfirman:
ْﺪَﻘَﻟ َنﺎَﻛ ْﻢُﻜَﻟ ِلﻮُﺳَر ِﰲ
ِﻪﱠﻠﻟا ٌةَﻮْﺳُأ ٌﺔَﻨَﺴَﺣ ْﻦَﻤِﻟ َنﺎَﻛ ﻮُﺟْﺮَـﻳ َﻪﱠﻠﻟا َمْﻮَـﻴْﻟاَو َﺮِﺧﻵا َﺮَﻛَذَو َﻪﱠﻠﻟا اًﲑِﺜَﻛ
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. 14
Kegiatan pembinaan pribadi dilakukan sebagai bentuk pembinaan terhadap akhlak yaitu dalam rangka pembentukan pribadi yang akhlakul karimah. Akhlak adalah keadaan jiwa manusia yang menimbulkan perbuatan tanpa melalui pemikiran dan pertimbangan yang diterapkan dalam perilaku dan sikap sehari-hari.15 Berarti akhlak adalah cerminan keadaan jiwa seseorang. Apabila akhlaknya baik, maka jiwanya juga baik dan sebaliknya, bila akhlaknya buruk, maka jiwanya juga buruk. Faktanya dewasa ini dekadensi moral terjadi baik di kalangan remaja maupun di usia menginjak dewasa. Salah satu penyebab dari hal ini yaitu karena akulturasi budaya yang dengan mudah nya diterima oleh generasi muda tanpa langkah yang selektif.16
Pembinaan moralitas generasi muda ini menjadi menarik untuk diteliti karena pembinaan moral ini menjadi bagian dari upaya masyarakat untuk mempertahankan nilai kearifan lokal serta mengakrabkan generasi muda dengan tradisi lokal Osing Banyuwangi. Dalam penelitian ini peneliti mengambil judul “Model Pembinaan Moralitas Generasi Muda Berbasis
14 Al- Qur’an, 33:21.
15 Zakiyah Darajat, et. Al, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Angkasa, 1993), 64.
16 Jalaluddin, Psikologi Agama, 205.
Kearifan Lokal dalam Lontar Yusup Banyuwangi (Studi Kasus Komunitas Adat Osing Banyuwangi)”
B. Fokus Penelitian
Karena terlalu luasnya masalah, peneliti akan membatasi penelitian dalam satu atau lebih variabel. Batasan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan fokus, maka dapat dikemukkan fokus masalah dalam penelitian sebgai berikut:
1. Bagaimana model yang digunakan dalam pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal dalam Lontar Yusup Banyuwangi di Komunitas Adat Osing Banyuwangi?
2. Bagaimana Lontar Yusup Banyuwangi dapat dijadikan sebagai model pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal di Komunitas Adat Osing Banyuwangi ?
3. Bagaimana menjadikan Lontar Yusup Banyuwangi sebagai pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal di Komunitas Adat Osing Banyuwangi?
C. Tujuan Penelitian
Sehubungan dengan deskripsi di atas, maka peneliti memiliki tujuan yang ingin dicapai sebagai berikut:
1. Untuk mendeskripsikan model yang digunakan dalam pembinaan moralitas generasi muda berbasis keariafan lokal dalam Lontar Yusup Banyuwangi di Komunitas Adat Osing Banyuwangi
2. Untuk mendeskripsikan bahwa Lontar Yusup Banyuwangi dapat dijadikan sebagai model pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal di Komunitas Adat Osing Banyuwangi
3. Untuk mendeskripsikan cara menjadikan Lontar Yusup Banyuwangi sebagai pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal di Komunitas Adat Osing Banyuwangi.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat memberikan manfaat, baik manfaat secara teoritis maupun praktis. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Manfaat teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi pengetahuan dan wawasan tentang model pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal dalam Lontar Yusup Banyuwangi.
2. Manfaat Praktis a. Bagi peneliti
Hasil penelitian ini nantinya diharapkan akan memberikan pengalaman dan pengetahuan tentang model pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal dalam Lontar Yusup Banyuwangi.
b. Bagi instansi
Bagi instansi, yaitu IAIN Jember, diharapkan penelitian ini dapat menambah literature perpustakaan IAIN Jember khususnya pada Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, sebagai bahan informasi dan ilmu pengetahuan tentang model pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal dalam Lontar Yusup Banyuwangi.
c. Bagi lembaga
Penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan atau sumbangsih pemikiran bagi Komunitas Adat Osing Banyuwangi khususnya mengenai model pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal dalam Lontar Yusup Banyuwangi.
E. Definisi Istilah
Penelitian ini mengkaji tentang “Model Pembinaan Moralitas Generasi Muda Berbasis Keariafan Lokal dalam Lontar Yusup Banyuwangi (Studi Kasus Komunitas Adat Osing Banyuwangi)” sehingga ada beberapa istilah pokok yang didefinisikan dan dijelaskan dalam penelitian ini agar tidak ada kesalah pahaman makna. Definisi istilah dalam penelitian ini dijelaskan sebagai berikut:
1. Model pembinaan moralitas generasi muda adalah cara yang telah di konsep oleh pengajar untuk membimbing atau mengarahkan perilaku moral generasi muda atau remaja.
2. Berbasis kearifan lokal adalah berdasarkan pada tradisi atau kebiasaan suatu masyarakat yang dapat dijadikan sebagai acuan berperilaku
3. Lontar Yusup adalah sebuah naskah kuno yang menceritakan tentang kehidupan Nabi Yusuf sejak beliau berumur sebelas tahun sampai menjadi raja Mesir.
Jadi, Model Pembinaan Moralitas Generasi Muda Berbasis Kearifan Lokal dalam Lontar Yusup Banyuwangi adalah cara yang telah dikonsep oleh pengajar untuk membimbing atau mengarahkan perilaku moral generasi muda dengan berdasarkan pada tradisi atau kebiasaan suatu masyarakat yang mengacu pada naskah kuno Lontar Yusup Banyuwangi.
F. Sistematika Pembahasan
Agar Penelitian ini tidak keluar dari jalur yang telah ditentukan dan agar lebih berarti susunannya, maka perlu memberikan gambaran sistematika pembahasan, antara lain:
BAB I, yang berisi latar belakang, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan sistematika pembahasan.
BAB II, kajian kepustakaan, pada bab ini dipaparkan penelitian terdahulu dan kajian teori yang dijadikan sebagai pijakan dalam melakukan penelitian.
BAB III, metode penelitian yang terdiri dari pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data dan tahapan penelitian.
BAB IV, berupa penyajian dan analisis data yang terdiri dari gambaran objek penelitian, penyajian, dan analisis, pembahasan temuan.
BAB V, berupa penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.
Sebagai acuan dan data yang dihasilkan dalam penyusunan penelitian ini akan dicantumkan kepustakaan dan lampiran-lampiran
Berangkat dari judul yang peneliti pilih, dalam hal ini terdapat beberapa penelitian terkait, di antaranya:
Pertama, tesis yang ditulis oleh Muhammad Faishol (2017) dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Program Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana dengan judul “Model Pembinaan Moralitas Masyarakat Berbasis Ekonomi Kerakyatan dan Kearifan Lokal (Studi Kasus di Pesantren Rakyat Al-Amien Sumberpucung Kabupaten Malang)”.
Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif analisis yaitu penelitian untuk mengetahui berdasarkan data empiris yang bersifat deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi, dokumentasi. Subjek dalam penelitian ini berjumlah lima orang yaitu pengasuh utama, ustadz/ah pesantren, santri, tokoh masyarakat, masyarakat biasa. Penelitian ini dilakukan di Pesantren Rakyat Al-Amien Sumberpucung Kabupaten Malang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembinaan moralitas masyarakat di Pesantren Rakyat Al-Amien Sumberpucung Kabupaten Malang
adalah dengan meningkatkan ekonomi masyarakat dan pendekatan kearifan lokal.17
Kedua, dalam artikel yang ditulis oleh M. Rizqon Al Musafiri (2016) dari Institut Agama Islam Darussalam Banyuwangi, dengan judul “Peran Kearifan Lokal bagi Pengembangan Pendidikan Karakter Pada Sekolah Menengah Atas”.
Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa a. Pengembangan karakter di sekolah didasarkan pada empat langkah yaitu pembelajaran, kegiatan ko-kuler maupun ekstra kulikuler, alternatif pengembangan dan pembinaan karakter di sekolah sebagai aktualisasi budaya sekolah, serta kegiatan keseharian di rumah dan di masyarakat. b. Penerapan pendidikan karakter di sekolah menengah atas didasari pada tahapan anak usia dini, pendidikan dasar dan pendidikan menengah pertama. c. Integrasi pendidikan karakter dengan kearifan lokal diawali dengan pengenalan kearifan lokal secara umum beserta contohnya seperti budaya “sasi” di Maluku, “tara bandu” di Papua atau yang dikenal di Jawa sebagai “pranata mangsa” tidak hanya berperan dalam pelestarian lingkungan, tetapi lebih jauh mampu mempertahankan keselarasan hubungan
17 Muhammad Faishol, “Model Pembinaan Moralitas Masyarakat Berbasis Ekonomi Kerakyatan dan Kearifan Lokal ( Studi Kasus di Pesantren Rakyat Al-Amien Sumberpucung Kabupaten Malang)”, (Tesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, 2017)
manusia dengan alam, keselarasan hidup dan pemanfaatan sumberdaya alam secara lebih arif.18
Ketiga, dalam skripsi yang ditulis oleh Benk Budi Nestiti (2018) dari Institut Agama Islam Negeri Jember, dengan judul “Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Mocoan Lontar Yusuf di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kab Banyuwangi”.
Metode penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa a. nilai-nilai pendidikan Islam dalam tradisi Mocoan Lontar Yusuf terbagi menjadi tiga komponen yakni Aqidah, Ibadah dan Akhlak. Nilai Aqidah terdapat pada tembang pangkur IV yang menceritakan tentang keelokan dan ketampanan paras Nabi Yusuf sebagai mukjizat dapat mengislamkan semua orang yang memandangnya. Nilai Ibadah terdapat pada tembang Durma VII yang menceritakan tentang keesaan dan kekuasaan Allah SWT. Barang siapa yang mencintai Allah maka akan lebih dicintai oleh Allah SWT dan jika melakukan suatu kebaikan karena Allah maka surga akan menjadi balasannya. Nilai Akhlaq terdapat pada tembang kasmaran I dan Sinom yang menceritakan tentang Akhlak Nabi Yusuf yang patuh dan taat kepada Allah SWT b. Dalam tradisi Mocoan Lontar Yusuf terdapat tiga proses yakni pembukaan, pelaksanaan atau pembacaan kitab Mocoan Lontar Yusuf dan yang ketiga yakni penutup. Pembukaan berisikan pembacaan yasin dan tahlil dan dilanjutkan dengan ramah tamah, prosesi yang
18 M. Rizqon Al Musafiri, “Peran Kearifan Lokal Bagi Pengembangan Pendidikan Karakter Pada Sekolah Menengah Atas”, Jurnal Darussalam: Jurnal Pendidikan, Komunikasi dan Pemikiran Hukum Islam, 1 (September 2016), 18.
kedua yakni pembacaan kitab Lontar Yusup yang dibacakan semalam suntuk, dan proses yang ketiga yakni penutup yakni berdo’a bersama memohon agar selalu diberikan, keselamatan dan terhindar dari segala macam mara bahaya. 19
Table 2.1
Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu No Nama dan Judul Penelitian Persamaan Perbedaan 1 Muhammad Faishol, 2017,
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang dengan judul
“Model Pembinaan Moralitas Masyarakat Berbasis Ekonomi Kerakyatan dan Kearifan Lokal ( Studi Kasus di Pesantren Rakyat Al-Amien Sumberpucung Kabupaten Malang.
a. Membahas
Pembinaan moralitas berbasis kearifan lokal
b. Pendekatan Kualitatif deskriptif c. Mendeskripsikan pembinaan moralitas dengan kearifan lokal, dan konsep moral
a. Terdapat tiga variable yaitu pembinaan
moralitas, ekonomi kerakyatan dan kearifan lokal b. Pembinaan moral ditunjukkan kepada masyarakat
2 M. Rizqon Al Musafiri, 2016, Institut Agama Islam Darussalam Banyuwangi, dengan judul “Peran Kearifan Lokal Bagi Pengembangan Pendidikan Karakter Pada Sekolah Menengah Atas”.
a. Membahas peran kearifan lokal b. pendekatan kualitatif deskriptif c. mendeskripsikan kearifan lokal
a. Terdapat dua variable yaitu kearifan lokal dan pengembangan pendidikan karakter.
3 Benk Budi Nestiti, 2018, Institut Agama Islam Negeri Jember, dengan judul
“Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Mocoan Lontar Yusuf di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kab Banyuwangi”
a. Membahas tentang Naskah Lontar Yusup b. Membahas
tentang akhlaq (moralitas) c. pendekatan
kualitatif deskriptif
a. Terdapat dua variable yaitu nilai-nilai pendidikan Islam dan tradisi Mocoan Lontar Yusuf b. Objeknya
persatuan Mocoan Lontar Yusuf orang tua
19 Benk Budi Nestiti, “Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Mocoan Lontar Yusuf di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kab Banyuwangi”, (Skripsi Institut Agama Islam Negeri Jember, Tarbiah dan Ilmu Keguruan, 2018)
Dari penjelasan di atas sudah jelas bahwa penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Fokus penelitian ini adalah Bagaimana model yang digunakan dalam pembinaan moralitas generasi muda, bagaimana Lontar Yusup dapat dijadikan sebagai model pembinaan moralitas dan bagaimana menjadikan Lontar Yusup Banyuwangi sebagai pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal di Komunitas Adat Osing Banyuwangi.
B. Kajian Teori
1. Konsep Model Pembinaan Moralitas Generasi Muda a. Definisi Pembinaan Moralitas
Pembinaan adalah usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Pembinaan kepribadian membentuk kepribadian mulia merupakan bagian dari tujuan pendidikan Indonesia, tujuan tersebut membutuhkan perhatian besar berbagai pihak dalam rangka mewujudkan manusia yang memiliki skill, kreatif, sehat jasmani dan rohani sekaligus berkepribadian mulia. 20
Moralitas berasal dari bahasa Latin mos, yang dalam bentuk jamaknya mores berarti adat istiadat atau kebiasaan. Bertens menyatakan bahwa moralitas pada dasarnya sama dengan moral, yaitu berpegangan pada nilai dan norma yang melebihi para individu dan
20 Pupuh Fathurrohman, Pengembangan Pendidikan Karakter (Bandung: PT Refika Adi Tama, 2017),46.
masyarakat. Bertens menegaskan moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.21
Sementara itu, menurut E. Sumaryono, moralitas adalah kualitas yang terkandung dalam perbuatan manusia, yang dengannya kita dapat menilai perbuatan itu benar atau salah, baik atau jahat.
Moralitas dapat bersifat objektif atau subjektif. Moralitas objektif adalah moralitas yang diterapkan pada sebagai perbuatan, terlepas dari modifikasi kehendak pelakunya. Adapun moralitas subjektif adalah moralitas yang memandang suatu perbuatan ditinjau dari kondisi pengetahuan dan pusat perhatian perilakunya, latar belakangnya, training, stabilitas emosional, serta perilaku personal lainnya.22
b. Model Pembinaan moralitas
Secara kaffah Mayer, W.J., memaknai model sebagai suatu objek atau konsep yang digunakan untuk merepresentasikan sesuatu hal. Sesuatu yang nyata dan dikonversi untuk sebuah bentuk yang lebih komprehensif. 23 Adapun Soekamto, mengemukakan maksud dari model pembelajaran adalah “kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai pedoman bagi para pengajar dalam merencanakan aktifitas belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan apa yang
21 Syaiful Sagala, Etika dan Moralitas Pendidikan Peluang dan Tantangan (Jakarta: KENCANA, 2017), 13.
22 Anwar, Akhlak Tasawuf , 18.
23 Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada KTSP (Jakarta: Kencana Prenada Media Group,2009),21.
dikemukakan oleh Eggen dan Kauchak bahwa, model pembelajaran memberikan kerangka dan arahan bagi guru untuk mengajar.24
Menurut Edi Sedyawati budi pekerti sering diartikan sebagai moralitas yang mengandung pengertian antara lain adat istiadat, sopan santun, dan perilaku.25 Untuk itu dalam hal model pembinaan moralitas dapat ditanamkan melalui pendidikan budi pekerti, ada empat model yang dapat kita terapkan dalam pembinaan moral melalui pendidikan budi pekerti yang disebut dengan model penyampaian.
1) Model sebagai mata pelajaran tersendiri
Pendidikan budi pekerti disampaikan sebagai mata pelajaran tersendiri seperti bidang studi yang lain.
2) Model terintegrasi dalam semua bidang studi
Guru dapat memilih nilai-nilai yang akan ditanamkan melalui materi bahasan bidang studinya. Nilai-nilai hidup dapat ditanamkan melalui beberapa pokok atau sub pokok bahasan yang berkaitan dengan nilai hidup.
3) Model di luar pengajaran
Penanaman nilai dengan model ini lebih mengutamakan pengolahan dan penanaman nilai melalui suatu kegiatan untuk dibahas dan dikupas nilai-nilai hidupnya. Model kegiatan ini dapat dilaksanakan oleh guru sekolah yang bersangkutan yang mendapatkan sampiran tugas tersebut atau dipercayakan pada lembaga diluar sekolah untuk melaksanakannya.
4) Model gabungan
Model gabungan berarti menggunakan gabungan antara model terintegrasi dan di luar pelajaran secara bersama. Penanaman nilai lewat pengakaran formal terintegrasi bersama dengan kegiatan di luar pelajaran. Model ini dapat dilaksanakan dalam kerja sama dengan tim, baik oleh guru maupun dalam kerjasama dengan pihak luar sekolah.26
24 Ibid.,22.
25 Suparno,et. Al, Pendidikan Budi Pekerti, 27.
26 Ibid., 44.
c. Upaya Mengembangkan Moral Generasi Muda
Perwujudan moral tidak terjadi dengan sendirinya. Apa yang terjadi di dalam diri pribadi seseorang hanya dapat didekati melalui cara tidak langsung, yakni dengan mempelajari gejala dan tingkah laku seseorang tersebut, maupun membandingkannya dengan gejala serta tingkah laku orang lain. Di antara proses kejiwaan yang sulit untuk dipahami adalah proses terjadinya dan terjelmanya nilai-nilai hidup dalam individu, yang mungkin didahului oleh pengenalan nilai secara intelektual, disusul oleh penghayatan nilai tersebut, dan yang kemudian tumbuh di dalam diri seseorang sedemikian rupa kuatnya sehingga seluruh jalan pikiran, tingkah lakunya, serta sikapnya terhadap segala sesuatu di luar dirinya, bukan hanya diwarnai tetapi juga dijiwai oleh nilai tersebut.27
Karena itu ada kemungkinan bahwa ada individu yang tahu tentang sesuatu nilai tetap menjadi pengetahuan. Tidak semua individu mencapai tingkat perkembangan moral seperti yang diharapkan, maka kita dihadapkan dengan masalah pembinaan.
Adapun upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengembangkan moral remaja adalah:28
1) Menciptakan Komunikasi
Dalam komunikasi didahului dengan pemberian informasi tentang nilai-nilai dan moral. Anak tidak pasif mendengarkan dari
27 Sunarto, Perkembangan Peserta Didik , 178.
28 Ibid.,178.
orang dewasa bagaimana seseorang harus bertingkah laku sesuai dengan norma dan nilai-nilai moral, tetapi anak-anak harus dirangsang supaya lebih aktif. Hendakny ada upaya untuk mengikutsertakan remaja dalam beberapa pembicaraan dan dalam pengambilan keputusan keluarga, sedangkan dalam kelompok sebaya, remaja turut serta secara aktif dalam tanggung jawab dan penentuan maupun keputusan kelompok. Nilai-nilai kehidupan baru betul-betul berkembang apabila telah dikaitkan dalam konteks kehidupan bersama.
2) Menciptakan Iklim Lingkungan yang Serasi
Seseorang yang mempelajari nilai hidup tertentu dan moral, kemudian berhasil memiliki sikap dan tingkah laku sebagai pencerminan nilai hidup itu umumnya adalah seseorang yang hidup dalam lingkungan yang secara positif, jujur dan konsekuen senantiasa mendukung bentuk tingkah laku nilai hidup hendaknya tidak hanya mengutamakan pendekatan-pendekatan intelektual semata-mata tetapi juga mengutamakan adanya lingkungan yang kondusif di mana faktor-faktor lingkungan itu sendiri merupakan penjelmaan yang kongkret dari nilai-nilai hidup tersebut. Karena lingkungan merupakan faktor yang cukup luas dan sangat bervariasi, maka tampaknya yang perlu diperhatikan adalah lingkungan sosial terdekat yang terutama
terdiri dari mereka yang berfungsi sebgai pendidik dan pembina yaitu orang tua dan guru.
Akhirnya perlu juga diperhatikan bahwa satu lingkungan yang lebih banyak bersifat mengajak, mengundang, atau memberi kesempatan, akan lebih efektif dari\pada lingkungan yang ditandai dengan larangan-larangan dan peraturan-peraturan yang serba membatasi.29
Para remaja sering bersikap kritis, menentang nilai-nilai dan dasar-dasar hidup orang tua dan orang dewasa lainnya. Ini tidak berarti mengurangi kebutuhan mereka akan suatu sistem nilai yang tetap dan memberi rasa aman kepada remaja. Mereka tetap menginginkan suatu sistem nilai yang akan menjadi pegangan dan petunjuk bagi perilaku mereka. Karena itu, orang tua dan guru serta orang dewasa lainnya perlu memberi model- model atau contoh perilaku yang merupakan perwujudan nilai- nilai yang diperjuangkan.30
d. Metode Pembinaan Kepribadian
Dalam mendidik kepribadian perlu sebuah sistem ataupun metode tepat agar proses internalisasi berjalan dengan baik, lebih penting adalah anak mampu menerima konsep kepribadian dengan baik serta mampu mewujudkan dalam kehidupan keseharian31
29 Ibid.,180.
30 Ibid., 180.
31 Fathurrohman, Pengembangan Pendidikan Karakter,49.
Mengenai hal ini, Ahmad Tafsir mengatakan bahwa metode pendidikan Islam sangat efektif dalam membina kepribadian anak didik, bahkan tidak sekedar itu metode pendidikan Islam memberikan motivasi sehingga memungkinkan umat Islam mampu menerima petunjuk Allah SWT. Islam mempunyai metode tepat untuk membentuk kepribadian mulia yaitu: metode ibtida’ atau metode yang dikhusukan bagi anak didik di masa pertumbuhan dan remaja. Dan yang kedua adalah metode lanjutan yag biasanya dikhususkan bagi pelajar dewasa (mahasiswa) dan orang tua. Untuk memperjelas metode-metode tersebut akan dibahas sebagai berikut:32
1) Metode Ibtida’
a) Metode Dialog Qur’ani dan Nabawi
Metode dialog adalah metode menggunakan tanya jawab, apakah pembicaraan dua orang atau lebih, dalam pembicaraan tersebut mempunyai tujuan dan topik pembicaraan tertentu. Metode dialog berusaha menghubungkan pemikiran seseorang dengan pemikiran orang lain, serta memiliki manfaat bagi pelaku dan pendengarnya. Uraian tersebut memberi makna bahwa dialog dilakukan oleh seseorang dengan orang lain, baik mendengar langsung atau melalui bacaan.33
32 Ibid.,52.
33 Ibid.,52
b) Metode Kisah Qur’ani dan Nabawi
Al-Qur’an banyak menceritakan kejadian masa lalu, kisah mempunyai daya tarik tersendiri yang tujuannya mendidik kepribadian, kisah-kisah para Nabi dan Rasul sebagai pelajaran berharga. Banyak ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan kisah dan mengandung banyak pelajaran bagi umat manusia. Kisah tersebut mengandung aspek pendidikan, yaitu dapat mengaktifkan dan membangkitkan kesadaran pembacanya, membina peran ketuhanan dengan cara mempengaruhi emosi, mengarahkan emosi, mengikutsertakan psikis yang membawa pembaca larut dalam seting emosional cerita, topik cerita memuaskan pikiran.
Metode mendidik kepribadian melalui kisah akan memberi kesempatan bagi anak untuk berpikir, merasakan, merenungkan kisah tersebut, sehingga seolah ia ikut berperan dalam kisah tersebut. Adanya keterkaitan emosi anak terhadap kisah akan memberi peluang bagi anak untuk meniru tokoh-tokoh berkepribadian baik, dan berusaha meninggalkan tokoh-tokoh berkepribadian buruk.34
34 Ibid.,53
c) Metode Mauidzah (ceramah)
Nasihat mempunyai beberapa bentuk dan konsep penting yaitu, pemberian nasihat berupa penjelasan mengenai kebenaran dan kepentingan sesuatu dengan tujuan orang diberi nasihat akan menjauhi maksiat, pemberi nasihat hendaknya menguraikan nasihat yang dapat menggugah perasaan efeksi dan emosi, seperti peringatan melalui kematian, peringatan melalui sakit peringatan melalui hari penghitungan amal. Kemudian dampak yang diharapkan dari metodi mauidzah adalah untuk membangkitkan perasaan ketuhanan dalam jiwa anak didik, membangkitkan keteguhan untuk senantiasa berpegang kepada pemikiran ketuhanan.35 d) Metode Pembiasaan dengan Kepribadian Terpuji
Manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan bersih, dalam keadaan seperti ini manusia akan mudah menerima kebaikan atau keburukan. Karena pada dasarnya manusia memiliki potensi untuk menerima kebaikan atau keburukan.
Metode pembiasaan dalam membentuk kepribadian menjadi sangat terbuka luas, dan merupakan metode yang tepat.
Pembiasaan yang dilakukan sejak dini atau sejak kecil akan membawa kegemaran dan kebiasaan tersebut menjadi
35 Ibid., 54
semacam adat kebiasaan sehingga menjadi bagian tidak terpisahkan dari kepribadian.36
e) Metode Keteladanan
Pendidik itu besar di mata anak didiknya, apa yang dilihat dari gurunya akan ditirunya, karena murid akan meniru dan meneladani apa yang dilihat dari gurunya.
Dengan memperhatikan kutipan di atas dapat dipahami bahwa keteladanan mempunyai arti penting dalam mendidik kepribadian anak, keteladanan menjadi titik sentral dalam mendidik dan membina kepribadian anak didik, kalau pendidik berkepribadian baik ada kemungkinan anak didiknya juga berkepribadian baik, karena murid meniru gurunya. Sebaliknya, kalo guru berkepribadian buruk ada kemungkinan anak didiknya juga berkepribadian buruk.
Dengan demikian keteladanan menjadi penting dalam pendidikan kepribadian, keteladanan akan menjadi metode ampuh dalam membina kepribadian anak.37
f) Meteode Targhib dan Tarhib
Targhib adalah janji yang disertai bujukan dan rayuan untuk menunda kemaslahatan, kelezatan, dan kenikmatan. Sedangkan tarhib adalah ancaman, intimidasi melalui hukuman. Dari kutipan di atas dapat dipahami bahwa
36 Ibid.,55.
37 Ibid., 56.
metode pendidikan kepribadian dapat berupa janji atau pahala atau hadiah dan dapat juga berupa hukman. Sesuai teori motivasi Maslow menyatakan metode pemberian hadiah dan hukuman sangat efektif dalam mendidik kepribadian terpuji.38
2) Metode Lanjutan (‘Ulya) a) Ilmu Amaliah
Ialah segenap pengetahuan yang dihasilkan dari tangkapan panca indra yang masuk kedalam memori otak manusia, baik melalui pembelajaran maupun pembiasaan, yang kemudian meresap dalam kedalaman akal dan hati dan terealisasikan lewat pembicaraan dan amalan seseorang dalam sehari-hari.39
Ilmu tidak dapat dilihat, namun hanya dapat dirasakan dan diketahui oleh sipemiliknya. Seseorang bisa dikatakan berilmu manakala ia berusaha untuk mencarinya dengan segenap usaha dan tujuan yang jelas serta disertai dengan masa yang relatif panjang dalam mencarinya. Ia merupakan sesuatu yang membuat perkara lain menjadi mudah, dengannya apa saja menjadi terealisasi dalam kenyataan, dengannya pancaran mata hati menjadi terbuka,
38 Ibid., 57.
39 Ibid., 62.
dan dengannya pula segala sesuatu menjadi jelas dan tidak samar.40
Dalam hal ini, terdapat ilmu yang menjadi paling utama untuk wajib diketahui dan dicari oleh segenap umat (khususnya umat Islam), yaitu sebagaimana yang dijelaskan oleh Sayyid Quthub, ia mengatakan berdasarkan hadis Nabi bahwasannya ilmu yang wajib dicari adalah ilmu yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari atau ilmu hal, dan amal yang lebih utama adalah menjaga hal. Dalam kitab tersebut ilmu terdiri dari tauhid, syari’at dan akhlak. Ketiga ilmu ini yang senantiasa diwajibkan kepada umat Islam untuk selalu dipelajari dan didalaminya dalam kehidupan sehari- hari.41
b) Amaliah Ilmiah
Alamiah ilmiah adalah beramal (praktik) dengan berlandaskan ilmu atau petunjuk sebuah ilmu, tidak dengan ikut-ikutan dan kebodohan. Dalam hal ini Allah SWT sangat melarang hamba-hambanya untuk beramal tanpa berlandaskan ilmu yang benar. Dalam konteks yang luas, mengamalkan ilmu berarti tidak hanya pada pemenuhan ibadah yang disyariatkan dalam agama, namun juga umat diperintahkan untuk menjadikan segala aktifitasnya ditujukan
40 Ibid., 62.
41 Ibid., 62.
kepada tujuan agung akhirat dan mencari ridho Allah, dengan berlandaskan amaliah ilmiah serta men-setting niat yang baik.
Perlu aplikasi pemahaman yang kuat tentang pentingnya beramal ilmiah untuk dijadikan motivasi dalam mengerjakannya. Apabila telah terbiasa, maka amalan ilmiah itu menjadi mudah dan tidak membosankan. Selanjutnya, akan tercapailah apa yang menjadi harapan untuk memperoleh kepribadian sempurna.42
c) Istiqomah
Setelah berilmu amaliah dan beramaliah yang berlandaskan ilmu, maka langkah selanjutnya ialah berkomitmen untuk selalu berkesinambungan mengamalkannya (istiqamah). Istiqamah artinya berkesinambungan, tidak berubah-ubah, atau tidak terputus.
Istiqamah juga menyebabkan amalan menjadi sempurna, dan dengan istiqamah berbagai kebaikan akan terwujud. Dan orang yang tidak istiqamah dalam ibadahnya, tidak akan mencapai kehendaknya.43
Dalam beristiqamah diperlukan ketekunan khusus untuk melaksanakan apa yang telah menjadi pengetahuan dan amalan nya sehari-hari. Disamping itu, perlu adanya pemahaman mengenai gerak hati sebagai daya dorong atau
42 Ibid., 64.
43 Ibid., 65.
motivasi dan sebagai pencegah dari perkara-perkara yang dapat menggagalkan jalannya ibadah, seperti ikhlas, tawakal, ridho, sabar, tawadhu’, dan lain sebagainya. Dalam ber- istiqamah pula, dapat meningkatkan dari satu maqam ke maqam yang lain. 44
2. Konsep Kearifan Lokal a. Definisi Kearifan Lokal
Kearifan lokal terdiri dari dua suku kata yaitu kearifan dan lokal. Kata kearifan secara etimologi berarti kemampuan seseorang dalam menggunakan pikiran dalam menyikapi sesuatu kejadian, obyek dan situasi. Sedangkan lokal menunjuk kepada interaksi di mana peristiwa atau situasi tersebut terjadi. Dengan demikian kearifan lokal secara subtansial merupakan norma yang berlaku dalam masyarakat yang ada kebenarannya dan menjadi acuan dalam bertindak dan berperilaku sehari-hari. Oleh karena itu, kearifan lokal merupakan identitas yang sangat menentukan harkat martabat manusia dalam komunikasinya.45
Sibrani mendefinisikan kearifan lokal yaitu sebuah kebijakan ilmu pengetahuan asli suatu masyarakat yang berasal dari nilai luhur tradisi budaya dalam mengatur tatanan kehidupan masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam suatu ekosistem masyarakat, dapat dihayati, dipraktekkan, diajarkan dan
44 Ibid., 65.
45 Hermanto Suaib, Nilai-Nilai Kearifan Lokal dan Moda Sosial dalam Pemberdayaan Masyarakat Suku Moi, ( Tanggerang: AN1MAGE, 2017), 7.
diwariskan dari suatu generasi ke generasi lainnya yang sebenarnya membentuk dan menuntun pola perilaku manusia sehari-hari.46
Kearifan lokal juga dapat didefinisikan sebagai nilai budaya lokal yang dapat dimanfaatkan untuk mengatur tatanan kehidupan masyarakat secara arif/bijaksana, serta dapat dikatakan bahwa kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat berkaitan dengan kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap universal.47
b. Bentuk-Bentuk Kearifan Lokal Adat Osing
Sebagian besar orang Osing di Banyuwangi sekarang ini bermukim di 9 kecamatan dari 24 kecamatan di Banyuwangi. Desa yang masih tetap mempertahankan budaya, adat istiadat dan seni tradisional Osing semakin berkurang. Komunitas adat Osing yang masih bertahan hingga saat ini, yaitu Komunitas Adat Mangir, Komunitas Adat Cungking, Komunitas Adat Grogol, Komunitas Adat Kemiren, Komunitas Adat Dukuh, Komunitas Adat Glagah, Komunitas Adat Andong, Komunitas Adat Olehsari, Komunitas Adat Mandaluko, Komunitas Adat Bakungan, Komunitas Adat Macan
46 Ibid.,7.
47 Ibid.,8.
Putih, Komunitas Adat Tambong, Komunitas Adat Aliyan, dan Komunitas Adat Alasmalang.48
Di antara ke-14 komunitas adat tersebut, Komunitas Adat Kemiren di Kecamatan Glagah dianggap sebagai salah satu desa yang paling teguh dengan tetap menjalankan tradisi Osing hingga saat ini yang telah diturunkan oleh leluhurnya. Tak heran bila pada tahun 1995 Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman menetapkan desa ini sebagai Desa Wisata Adat Osing.49
Tradisi dan kearifan lokal Osing berarti tradisi (kebiasaan) dan kearifan lokal masyarakat Osing. Terdapat variasi antara satu komunitas dengan komunitas Osing yang lainnya, beberapa bentuk kearifan lokal antara lain pola pemukiman, arsitektur, agama dan kepercayaan, kesenian, pola komunikasi serta pertanian. Tradisi dan kearifan lokal Osing dalam bentuk kesenian yang terdapat di desa Adat Osing Kemiren adalah sebagai berikut: 50
Kesenian di Kemiren sebagian besar merupakan bentuk ekspresi seni masyarakat Osing yang agraris. Jenis-jenis kesenian tradisional yang masih bertahan hingga saat ini antara lain:51
1) Gandrung
Gandrung adalah sebuah seni pertunjukan yang di dalamnya terdapat tarian dan nyanyian yang melibatkan seorang
48 Wiwin Indiarti dalam Annasrullah (ed.), Jagat Osing Seni, Tradisi dan Kearifan Lokal Osing (Banyuwangi: Lembaga Mayarakat Adat Osing – Rumah Budaya Osing), 141.
49 Ibid., 142
50 Ibid., 142.
51 Ibid.,149
penari perempuan yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan iringan instrumen musik khas perpaduan Jawa-Bali.
Gending-gending Osing yang dibawakan penari gandrung terkadang berisi petuah-petuah bijak dan kisah perjuangan melawan penjajahan, sementara itu dalam interaksinya pemaju (pengibing), penonton dan penari gandrung berbalas pantun (basanan) dengan bahasa Osing. Gandrung merupakan seni tertua di Banyuwangi yang lahir dan muncul pertama kali pada waktu orang-orang Blambangan menebang hutan untuk dijadikan kota baru yang kelak menjadi Banyuwangi, tidak lama setelah Mas Alit dilantik oleh Belanda menjadi bupati pertama pada tahun 1773.
Gandrung saat itu, selain untuk menghibur para penebang hutan, juga untuk mengiringi upacara meminta selamat berkaitan dengan penebangan hutan yang dikenal angker
2) Barong
Di desa Kemiren, Barong berfungsi secara sakral (berhubungan dengan ritual) dan berfungsi secara profan sebagai pertunjukan kesenian rakyat. Fungsi secara sakral, Barong merupakan unsur terpenting dalam ritual selametan Ider Bumi dan Tumpeng Sewu. Sedangkan secara profan, Barong merupakan sarana hiburan rakyat pada acara hajatan pernikahan, khitanan dan acara-acara lainnya. Pada konteks profan inilah Barong menjadi hiburan baik dalam bentuk teater tradisional berupa drama tari
maupun arak-arakan dan atraksi tari Barong, meskipun unsur spiritual magis masih berperan dalam pertunjukannya . Pertunjukan Barong Tuwek secara tidak langsung berisi petuah kebajikan serta bisa didapati gambaran relasi gender dalam masyarakat Osing dan gaya berpantun (basanan) masyarakat Osing dalam babak ketika para badutnya berinteraksi. 52
3) Lontar Yusup
Istilah lontar di sini berarti “manuskrip” atau “cerita”, sedangkan “Yusup” adalah nama tokoh utama dalam cerita ini, pada bait awal naskah ini terdapat larik yang berbunyi cerita Yusup Ginita (mendendangkan kisah yusuf) (kasmaran1: 1). Larik ini menunjukkan bahwa naskah ini adalah kisah atau cerita Yusuf dan kemudian lebih dikenal dengan Lontar Yusup.53
Lontar Yusup Banyuwangi kemungkinan besar merupakan hasil salinan tidak langsung dari naskah Tembang Yusup dari Cirebon yang disusun pada tahun Jawa 1555 (1644-1634 M).
meskipun demikian, di antara kedua naskah kisah Yusuf tersebut terdapat perbedaan-perbedaan yang menonjol terutama dalam hal pemilihan kosa kata dan detil-detil pengisahannya.54
Mocoan Lontar Yusup merupakan produk dari proses akulturasi udaya antara Islam dan kepercayaan serta kebudayaan
52 Ibid., 150.
53 Wiwin Indiarti, Lontar Yusup Banyuwangi Teks Pegon-Transliterasi-Terjemah (Yogyakarta:
Elmatera, 2018), 1.
54 Ibid.,3
lokal masyarakat Osing. Persilangan budaya ini bisa dilihat dari wujud karya sastra yang dibaca, isi, bentuk, tembang, cara melagukan, bahasa yang dipakai, dan fungsinya dalam masyarakat. Lontar Yusup pada dasarnya adalah sebuah kitab beraksara Arab pegon dalam bahasa Jawayang di dalamnya banyak ditemukan kosakata bahasa Osing. Kitab ini disalin dan diturunkan dari generasi ke generasi. Mocoan Lontar Yusup merupakan suatu cara dan harapan untuk mengambil barakah dari kemuliaan Nabi Yusuf. Masyarakat Osing meyakini bahwa dengan pembacaan ini, harapan dan keinginan bisa terkabulkan.
Meski pada umumnya mereka tidak mengerti arti bahasa Lontar Yusup ini, kesakralannya tetap diyakini. Di Kemiren terdapat dua kelompok yang membacakan Lontar Yusup, yaitu kelompok tua (kelompok reboan) dan kelompok muda (kelompok kemisan).55
Di Banyuwangi, Lontar Yusup merupakan satu-satunya naskah kuno yang hingga kini masih hidup dalam masyarakat lokal, terutama di wilayah pedesaan. Naskah-naskah kuno Banyuwangi lainnya, seperti Kidung Sritanjung dan berbagai varian Babad Blambangan, hampir tidak pernal lagi dibacakan lagi saat ini. Sementara Lontar Yusup, hingga sekarang secara berkala masih dibacakan atau ditembangkan (puisi yang didendangkan) di hadapan khalayak dalam ritual tradisi selametan
55 Wiwin Indiarti dalam Annasrullah (ed.), Jagat Osing, 151.
daur hidup manusia (kelahiran, sunatan dan perkawinan) maupun ritual tahunan bersih desa. Namun dalam hal-hal tertentu ia juga bisa diselenggarakan untuk sebuah acara pemenuhan nadar seseorang. Beberapa kelompok pembaca Lontar Yusup juga secara periodik, seminggu sekali, masih mengadakan acara pembacaan Lontar Yusup (mocoan) secara bergiliran di rumah masing-masing anggota kelompok mocoan, namun bukan pembacaan secara lengkap.56
56 Wiwin Indiarti, Lontar Yusup Banyuwangi, 4.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan penelitian ini digunakan karena peneliti memaparkan hasil penelitiannya berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Selain itu penelitian diharapkan mendapatkan data yang mendalam, serta mendapatkan suatu data yang bermakna. Metode kualitatif digunakan untuk mendapatkan data yang mendalam, suatu data yang mengandung makna.57
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan di dalam penelitian ini adalah penelitian lapangan (Filed Research) karena peneliti melakukan pengamatan langsung di lapangan serta membuat catatan lapangan yang berisi informasi yang berhubungan dengan penelitian.58
B. Lokasi Penelitian
Adapun lokasi penelitian yang peneliti ambil yaitu Komunitas Adat Osing Banyuwangi. Pemilihan lokasi ini dikarenakan dalam Komunitas ini terdapat Barisan Pemuda Adat Nusantara PD Osing yang beralamat di : Jl.Perkebunan Kalibendo Kedaleman RT/RW : 01/02, Kemiren, Kec. Glagah, Kab. Banyuwangi
Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN Osing) dipilih sebagai lokasi penelitian dengan alasan Barisan Pemuda Adat Nusantara ini membentuk
57 Sugiyono, Metode Penelitian, Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2018), 9.
58 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), 26.
Persatuan Mocoan Lontar Yusup Milenial untuk mengakrabkan generasi muda dengan kearifan lokal. Yang mana Lontar Yusup ini mengandung banyak sekali nilai-nilai dakwah keislaman termasuk di dalamnya nilai-nilai moral yang dapat diteladani.
C. Subyek Penelitian
Subyek penelitian yang peneliti gunakan saat di lapangan yaitu purposive sampling. Ini adalah teknik pengambilan sampel sumber data sudah tertuju kepada pihak-pihak yang peneliti kehendaki. Adapun yang menjadi subjek penelitian ini adalah:
1. Inisiator Persatuan Mocoan Lontar Yusup Milenial yaitu Wiwin Indiarti.
2. Pengurus Barisan Pemuda Adat Nusantara (BPAN Osing), Ilham Saifullah sebagai ketua
3. Pelatih Mocoan Lontar Yusup Milenial yaitu Adi Purwadi
4. Ketua Persatuan Mocoan Lontar Yusup Milenial yaitu Riedo Andi Kurniawan.
5. Anggota Persatuan Mocoan Lontar Yusup Milenial Nur Kumala Sari yang sekaligus sebagai sekertaris Persatuan Mocoan Lontar Yusup Milenian.
D. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun teknik yang dilakukan sebagai berikut:
1. Observasi
Dalam metode ini, peneliti menggunakan jenis observasi non partisipan, di mana dalam observasi ini peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen.59 Adapun data yang diperoleh oleh peneliti dari metode observasi ini antara lain:
a. Situasi dan kondisi Persatuan Mocoan Lontar Yusup Milenial, situasi mocoan disesuaikan dengan karakteristik anggota yaitu generasi muda sehingga dikemas dengan suasana yang menyenangkan agar generasi muda nyaman selama mengikuti latihan mocoan dan pembinaan moralitas.
b. Aktifitas objek penelitian, objek penelitian menembangkan secara bergiliran tembang Lontar Yusup Banyuwangi, anggota yang lain menyimak sekaligus menuntun penembang yang belum menguasai.
Kemudian di akhir acara diisi dengan penyampaian kandungan nilai moral dalam Lontar Yusup Banyuwangi perbait.
c. Media yang digunakan dalam mocoan Lontar Yusup Milenial, yaitu buku Lontar Yusup Banyuwangi: Teks Pegon - Transliterasi – Terjemahan karya Wiwin Indiarti.
2. Wawancara
Wawancara yang peneliti gunakan adalah wawancara terstruktur dan tidak terstruktur. Wawancara terstruktur adalah wawancara yang pewawancaranya menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-pertanyaan
59 Sugiyono, Metode Penelitian, 146.
yang akan diajukan. Pertanyaan-pertanyaan ini telah disusun dengan rapi dan ketat.60 Wawancara tak berstruktur, artinya peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. 61
Adapun data yang diperoleh melalui metode wawancara ini adalah:
a. Model pembinaan moralitas generasi muda berbasis keariafan lokal dalam Lontar Yusup Banyuwangi di Komunitas Adat Osing Banyuwangi, model yang dugunakan yaitu model di luar pengajaran.
b. Bagaimana Lontar Yusup Banyuwangi dapat dijadikan sebagai model pembinaan moralitas generasi muda berbasis kearifan lokal di Komunitas adat Osing Banyuwangi. Lontar Yusup Banyuwangi dapat dijadikan sebagai model pembinaan moralitas generasi muda dengan meneladani nilai moral Nabi Yusuf yang termuat dalam Lontar Yusup Banyuwangi, Lontar Yusup Banyuwangi syarat akan nilai-nilai keislaman termasuk di dalam nya nilai moral, selain itu Lontar Yusup ini merupakan tradisi kuno yang masih dilestarikan hingga saat ini yang dalam fungsi ritualnya diharapkan membawa kebaikan bagi masyarakat dan secara tidak langsung masyarakat menjadikan sebagai pedoman dalam hidup sehari-hari.
60 Moleong, Metodologi Penelitian, 190.
61 Sugiyono, Metode Penelitian, 140.