• Tidak ada hasil yang ditemukan

skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "skripsi - Universitas Muhammadiyah Makassar"

Copied!
182
0
0

Teks penuh

(1)“MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PKn MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY PADA MURID KELAS V SDN NO. 20 TALA-TALA KECAMATAN BISSAPPU KABUPATEN BANTAENG”. SKRIPSI. Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan padaJurusan S1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. HARDIANTO NIM 10540 4520 10. UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR 2014. i.

(2) FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR HALAMAN PENGESAHAN Skripsi atas nama HARDIANTO, NIM 10540 4520 10 diterima dan disahkan oleh Panitia Ujian Skripsi berdasarkan Surat Keputusan Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar Nomor : 014/Tahun 1436 H/2015 M, tanggal 01 Jumadil Awal 1436/20 Februari 2015, sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar pada hari Sabtu tanggal 28 Februari 2015. Makassar, 09 Jumadil Awal 1436 H 28 Februari 2015 M PANITIA UJIAN 1. Pengawas Umum. : Dr. H. Irwan Akib, M.Pd.. (…..………..). 2. Ketua. : Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum.. (…………....). 3. Sekretaris. : Khaeruddin, S.Pd., M.Pd.. (……………). 4. Penguji. : 1. Drs. H. Andi Baso, M.Pd.I.. (……………). 2. Aliem Bahri, S.Pd., M.Pd.. (……………). 3. Dra. Hj. Rosleny B, M.Si.. (……………). 4. Muhajir, S.Pd., M.Pd.. (……………). Disahkan Oleh : Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar. Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum. NBM : 858 625 ii.

(3) UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PERSETUJUAN PEMBIMBING Judul Skripsi. : Meningkatkan Hasil Belajar PKn melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray pada Murid Kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng.. Nama Mahasiswa. : HARDIANTO. Nim. : 10540 4520 10. Jurusan. : Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas. : Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Setelah diperiksa dan diteliti ulang, maka skripsi ini telah memenuhi persyaratan untuk diseminarkan pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.. Skripsi telah diseminarkan dengan teliti dan dinyatakan disetujui untuk digunakan dalam kompleks sendiri. Makassar, 28 Februari 2015 Disetujui Oleh, Pembimbing I. Pembimbing II. Drs. H. Andi Baso, M.Pd.I.. Dra. Hj. Rosleny B, M.Si. Diketahui oleh,. Dekan FKIP Unismuh Makassar. Ketua Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Dr. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum. NBM : 858 625. Sulfasyah, MA., Ph.D. NBM : 970 635 iii.

(4) FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN. UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Jl. Sultan AlauddinNo. 259 Telp. (0411) 860 132 Makassar 90221 SURAT PERNYATAAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama. : HARDIANTO. Nim. : 10540 4520 10. Jurusan. : Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Judul Skripsi. : Meningkatan Hasil Belajar PKn melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray pada Murid Kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng.. Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun. Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.. Makassar, 19 Desember 2014 Yang Membuat Pernyataan. Hardianto. iv.

(5) FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN. UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Jl. Sultan AlauddinNo. 259 Telp. (0411) 860 132 Makassar 90221 SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini: Nama. : HARDIANTO. NIM. : 10540 4520 10. Jurusan. : Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Fakultas. : Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut : 1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesainya skripsi ini, saya yang menyusunnya sendiri (tidak dibuatkan oleh siapapun). 2. Dalam penyusunan skripsi ini, saya akan melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pemimpin fakultas. 3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (Plagiat) dalam penyusunan skripsi. 4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir 1, 2, dan 3, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku. Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran. Makassar, 19 Desember 2014 Yang Membuat Perjanjian. Hardianto. v.

(6) PERSEMBAHAN MOTTO :. Jadilah yang paling baik di antara yang baik dari salah satu sisi. Kemenangan yang seindah – indahnya dan sesukar – sukarnya yang boleh direbut oleh manusia ialah menundukkan diri sendiri. Raihlah ilmu, dan untuk meraih ilmu belajarlah untuk tenang dan sabar. PERSEMBAHAN :. Alhamdulillah, atas rahmat dan hidayah-Nya, peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi ini penulis persembahkan kepada: . Kedua orang tua saya Ayahanda Haedar Nusu dan Ibunda Zulfa yang selalu mendo’akan dan memberikan motivasi dengan tiada hentihentinya.. . Adik saya yang tercinta Muhammad Azhar. . Sahabat-sahabatku Yang senantiasa berdoa, mendukung serta membantu penulis dengan tulus ikhlas.. vi.

(7) ABSTRAK Hardianto, 2014. Meningkatan Hasil Belajar PKn melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray pada Murid Kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng. Skripsi. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Dibimbing oleh Andi. Baso dan Rosleny B. Masalah utama dalam penelitian ini yaitu bagaimana menerapkan model Two Stay Two Stray untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada murid kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng. Penelitian ini bertujuan ini untuk meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan model Two Stay Two Stray pada murid kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng. Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) yang terdiri dari dua siklus dimana setiap siklus dilaksanakan sebanayak tiga kali pertemuan. Prosedur penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah murid kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng sebanyak 23 orang. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes, observasi dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I yang tuntas secara individual dari 23 murid hanya 11 murid atau sebanyak 47,83% yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) dan secara klasikal masih kurang terpenuhi, karena nilai rata-rata diperoleh pada siklus I adalah 64,35. Sedangkan pada siklus II dari 23 murid terdapat 21 orang atau 91,30% telah memenuhi KKM dan secara klasikal sudah terpenuhi yaitu nilai rata-rata yang diperoleh sebesar 80,87. Berdasarkan hasil penelitian tersebut di atas, dapat disimpulkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) murid kelas V SDN NO. 20 TalaTala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng melalui penerapan model Two Stay Two Stray mengalami peningkatan.. Kata kunci: Model Two Stay Two Stray, Hasil Belajar, Aktivitas Belajar.. vii.

(8) KATA PENGANTAR. Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Pengasih atas limpahan rahmat dan kasihnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. Skripsi yang berjudul “Meningkatan Hasil Belajar PKn melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray pada Murid Kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng” ini disusun untuk memenuhi sebagian syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan. Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari hambatan dan kesulitan. Namun, berkat bimbingan, bantuan, nasihat, dan dorongan serta saran-saran dari berbagai pihak, khususnya Pembimbing, segala hambatan dan rintangan serta kesulitan tersebut dapat teratasi dengan baik. Oleh karena itu, segala rasa hormat penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terimah kasih yang tak terhingga kepada kedua orang tuaku yang tercinta Ayahanda H. Haedar Nusu, SE dan Ibunda Hj. Zulfa, S.Sos., yang telah berjuang, yang telah mengasuh, membesarkan, mendidik penulis dengan melimpahkan kasih sayang, doa restu, dan pengorbanan tulus, ikhlas dan yang tak terhingga, telah menjadi spirit yang selalu mengiringi langkah penulis dalam menapaki hidup meniti masa depan yang cerah. Selanjutnya penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-setingginya kepada Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk menimba. ilmu. di. Universitas. Muhammadiyah. Makassar,. Dr. A. Sukri Syamsuri, M.Hum., Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan izin penulis untuk melakukan penelitian, Sulfasyah, M.A.,Ph.D. dan Sitti Fithriani Saleh, S.Pd, M.Pd., Ketua dan Sekertaris viii.

(9) Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar. yang. telah. menyetujui. usulan. topik. skripsi. penulis,. Drs. H. Andi. Baso, M.Pd.I. Dosen Pembimbing I yang telah mengarahkan penulis dengan penuh ketekunan dan kecermatan, Dra. Hj. Rosleny B., M.Si. Dosen Pembimbing II yang telah membimbing penulis dengan penuh dedikasi yang tinggi, Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah mengajar dan mendidik mulai dari semester awal hingga penulis menyelesaikan studinya di Perguruan Tinggi ini, ST. Nurhayati, S. Pd., Kepala Sekolah SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng yang telah memberikan izin penulis mengadakan penelitian sehingga penulis menyelesaikan skripsi ini, Indrayani, S. Pd., Guru kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng serta semua guru yang telah membimbing dan memotivasi dalam melaksanakan penelitian, Murid kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng atas kesediaannya menjadi subjek penelitian sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, Saudaraku Muhammad Azhar serta seluruh keluargaku yang telah memberikan perhatian, semangat dan do’a, yang takhenti-hentinya demi kesuksesan penulis, Teman-teman seperjuangan mahasiswa Jurusan PGSD angkatan 2010 kelas I, Teman PPL SDI Pandang-Pandang, Teman Posko P2K SDI Batangkaluku, Serta rekan-rekan mahasiswa Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD S1) Angkatan 2010, dan Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi pendidik, khususnya pendidik di dunia pendidikan dasar. ix.

(10) BillahiFi Sabilil Haq Fastabiqul Khaerat. WassalamuAlaikumWr.Wb.. Makassar, 19 Desember 2014 Penulis. Hardianto NIM. 10540 4520 10. x.

(11) DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL ................................................................................... i. LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................ ii. PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................................... iii. SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN .................................... iv. SURAT PERJANJIAN PENULIS .............................................................. v. PERSEMBAHAN ....................................................................................... vi. ABSTRAK .................................................................................................. vii. KATA PENGANTAR ................................................................................ viii. DAFTAR ISI................................................................................................ xi. DAFTAR TABEL ....................................................................................... xiii. DAFTAR GAMBAR .................................................................................. xiv. DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xv. BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ................................................................. B. Masalah Penelitian ............................................................ 1. Identifikasi Masalah ................................................... 2. Rumusan Masalah …………… .................................. 3. Alternatif Pemecahan Masalah..................................... C. Tujuan Penelitian ............................................................ D. ManfaatPenelitian ............................................................. BAB II. 1 4 4 4 5 5 5. KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka ................................................................. 7 1. Hasil Penelitian yang Relevan .................................. 7 2. Belajar dan Hasil Belajar ......................................... 8 3. Ruang Lingkup Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ......................................................... 14 4. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray .................................................... 22 B. Kerangka Pikir …………………………………………. 27 C. Hipotesis Tindakan .......................................................... 29 xi.

(12) BAB III METODE PENELITIAN A. B. C. D. E. F. G. H.. Jenis Penelitian ................................................................. Lokasi dan Subjek Penelitian ........................................... Fokus Penelitian ................................................................. Prosedur Penelitian ......................................................... Instrumen Penelitian .......................................................... Teknik Pengumpulan Data ................................................ Teknik Analisis Data ....................................................... Indikator Keberhasilan ........................................................ 30 30 31 31 35 35 36 38. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Pemaparan Hasil Penelitian .............................................. 1. Hasil Penelitian Siklus I ........................................... 2. Hasil Penelitian Siklus II ......................................... B. Pembahasan ..................................................................... BAB V. 40 41 50 58. SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ............................................................................ B. Saran ................................................................................... 61 61. DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 63. LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP. xii.

(13) DAFTAR TABEL Tabel. Halaman. 3.1. Indikator Keberhasilan Aktivitas Belajar ...................................... 36. 3.2. Indikator Ketuntasan Belajar Murid .............................................. 36. 4.1. Lembar Observasi Aktivitas Murid Selama Mengikuti Proses Pembelajaran Pada Siklus I ................................................ 40. 4.2. Hasil Evaluasi Siklus I................................................................... 42. 4.3. Statistik Nilai Hasil Belajar PKn Murid Kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng Pada Tes Siklus I. ................................................................................... 4.4. 43. Distribusi Frekuensi Dan Persentase Kategori Hasil Belajar PKn Murid Kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng Pada Siklus I ................................................ 44. 4.5. Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Pada Siklus I........................ 45. 4.6. Lembar Observasi Aktivitas Murid Selama Mengikuti Proses Pembelajaran Pada Siklus II ............................................... 50. 4.7. Hasil Evaluasi Siklus II.................................................................. 51. 4.8. Statistik Nilai Hasil Belajar PKn Murid Kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng Pada Tes Siklus II ................................................................................... 4.9. 53. Distribusi Frekuensi Dan Persentase Kategori Hasil Belajar PKn Murid Kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu. 4.10. Kabupaten Bantaeng Pada Siklus II............................................... 53. Deskripsi Ketuntasan Belajar Murid Pada Siklus II ...................... 54. xiii.

(14) DAFTAR GAMBAR Gambar. Halaman. 2.1. Skema Kerangka Pikir .................................................................. 27. 3.1. Model PTK di Adaptasi dari Kemmis dan Mc. Taggart ................ 29. 4.1. Grafik Deskriptif Ketuntasan Belajar PKn pada Murid kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Pada Siklus I ............................................ 4.2. 45. Grafik Deskriptif Ketuntasan Belajar PKn pada Murid Kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Pada siklus II ........................................... xiv. 55.

(15) DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1.. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Siklus I dan Siklus II. 2.. Soal Tes Siklus I dan Siklus II. 3.. Daftar Hadir Murid Siklus I dan Siklus II. 4.. Nilai Hasil Tes Siklus I dan Siklus II. 5.. Analisis Data dan Distribusi Ketuntasan Belajar Murid Kelas V pada Siklus I dan Siklus II. 6.. Lembar Observasi Aktivitas Belajar Murid Kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala pada Siklus I dan Siklus II. 7.. Format Observasi Kegiatan Belajar Mengajar dengan Menggunakan Model Two Stay Two Stray pada Siklus I dan Siklus II. 8.. Dokumentasi. xv.

(16) 1. BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Proses pengajaran yang baik adalah yang dapat menciptakan proses belajar mengajar yang efektif dengan adanya komunikasi dua arah antara guru dengan murid yang tidak hanya menekankan apa yang dipelajari tetapi menekankan bagaimana ia harus belajar. Salah satu alternatif untuk pengajaran tersebut adalah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS). Penerapan model pembelajaran yang bervariasi akan mengatasi kejenuhan murid sehingga dapat dikatakan bahwa model pembelajaran sangat berpengaruh terhadap tingkat pemahaman murid dan hasil belajar murid. Model penyampaian masalah sangat berpengaruh terhadap keberhasilan murid dalam mempelajari pokok bahasan tertentu. Bisa dikatakan bahwa ini merupakan kemasan yang dibuat untuk membungkus materi agar lebih mudah dipahami, menarik, tidak menjenuhkan sehingga tujuan dari pengajaran yang dilakukan dapat tercapai. Model pembelajaran biasanya dijadikan sebagai parameter untuk melihat sejauh mana murid dapat menerima dan menerapkan materi yang disampaikan guru dengan mudah dan menyenangkan dengan model yang diterapkan. Masalah yang dihadapi seorang guru yaitu kerena murid bukan hanya sebagai makhluk individu dengan segala keunikannya, tetapi juga sebagai makhluk sosial dengan latar belakang yang berlainan. Paling sedikit ada tiga aspek yang membedakan murid yang satu dengan lainnya, yaitu aspek intelektual, psikologis, dan biologis. Maka dari itu terkait dengan masalah yang terpapar di 1.

(17) 2. atas seorang guru dituntut untuk lebih selektif dalam mengembangkan pembelajarannya. Pembelajaran yang berkualitas harus mampu memberikan pengalaman sukses pada murid. Pengalaman sukses yang dimaksud adalah adanya perasaan yang menyenangkan dan membanggakan bagi murid sebagai akibat telah berhasil menyelesaikan atau memecahkan sesuatu. Pengalaman sukses yang diperoleh murid akan menumbuhkan percaya diri. Pengalaman sukses juga akan menumbuhkan motivasi murid untuk belajar lebih lanjut. Sebaliknya, jika murid tidak mendapatkan pengalaman sukses dari proses pembelajaran maka murid akan menemui kegagalan. Sebagaimana kita ketahui bahwa sasaran akhir dari suatu program pembelajaran adalah tercapainya tujuan umum pembelajaran tersebut. Oleh karena itu, setiap perancang harus mempertimbangakan secara mendalam tentang rumusan tujuan umum pengajaran yang akan ditentukan. Proses pembelajaran diharapkan berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan murid untuk bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke murid. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Sugiyanto (dalam Agung 2013: 2). Kegiatan belajar mengajar merupakan suatu kegiatan yang bernilai edukatif. Nilai edukatif mewarnai nilai interaksi yang terjadi antara guru dengan murid. Guru dengan sadar merencanakan kegiatan pengajarannya secara sistematis dengan memanfaatkan segala sesuatunya guna kepentingan pengajaran. Keinginan yang tidak pernah sirna dan selalu guru tuntut adalah bagaimana bahan pelajaran yang disampaikan guru dapat dikuasai oleh murid secara tuntas. Mata pelajaran PKn di SD berfungsi untuk menyiapkan warganegara yang cerdas, dan bertanggung jawab, serta berkeadaban. Kaelan (dalam Agung 2013: 3)..

(18) 3. Kebanyakan guru SD pada saat menyampaikan materi dalam proses pembelajarannya hanya menggunakan metode ceramah saja tanpa menambahkan suatu variasi model pembelajaran sehingga tingkat efektivitas murid dalam menerima pelajaran menjadi kurang. Oleh karena guru itu perlu mengunakan metode pembelajaran yang bisa membuat murid menjadi tertarik dan tidak bosan saat mengikuti pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS). Solusi model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray diharapkan dapat mengatasi masalah karena model ini menuntut guru untuk mengembangkan bahan ajar serta media yang nantinya akan diimplementasikan dalam proses pembelajaran sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang inovatif. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru kelas V SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng, proses pembelajaran didominasi dengan metode ceramah saja, tanpa menambahkan variasi model pengajaran dalam proses belajar mengajar sehingga murid merasa jenuh untuk mengikuti proses pembelajarannya dan berdampak terhadap hasil nilai belajar yang tidak sesuai dengan KKM (Ketuntasan Kriteria Minimal), Di mana nilai rata-rata harian masih rendah yaitu 46,48 sedangkan tuntunan kurikulum, murid harus mencapai tingkat kelulusan 80% secara klasikal dengan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) adalah 65. Oleh karena itu perlu ada alternatif pemilihan model pembelajaran yang bisa meningkatkan motivasi murid. Sehingga nantinya diharapkan hasil belajar murid dapat meningkat dan mencapai KKM yang ditentukan. Model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) diharapkan dapat membuat murid menjadi tertarik dan termotivasi dalam pembelajaran PKn,.

(19) 4. sehingga diharapkan akan berpengaruh positif terhadap prestasi belajar PKn murid kelas V SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng.. B. Masalah Penelitian 1. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang diatas dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut : 1. Masalah yang dihadapi seorang guru yaitu dikarenakan murid bukan hanya sebagai makhluk individu dengan segala keunikannya, tetapi juga sebagai makhluk sosial dengan latar belakang yang berlainan. 2. Jika murid tidak mendapatkan pengalaman sukses dari proses pembelajaran maka murid akan menemui kegagalan. Jika tidak segera diatasi dapat menyebabkan murid kehilangan motivasi belajar. 3. Proses pembelajaran didominasi dengan metode ceramah saja, tanpa menambahkan variasi model pengajaran dalam proses belajar mengajar sehingga komunikasi cenderung terjadi satu arah saja. 4. Guru sebaiknya mengunakan model pembelajaran yang variatif untuk mengatasi kejenuhan murid saat mengikuti pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang bisa digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray.. 2. Rumusan Masalah Dari pemaparan latar belakang maka perumusan masalahnya adalah apakah. model pembelajaran Two Stay Two Stray dapat meningkatkan hasil. belajar PKn di kelas V SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng?.

(20) 5. 3. Alternatif Pemecahan Masalah Masalah tentang rendahnya hasil belajar PKn pada murid kelas V SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng akan dipecahkan melalui model pembelajaran Two Stay Two Stray yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur dalam penelitian tindakan kelas.. C. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui apakah model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) mempengaruhi hasil belajar murid kelas V SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng.. 2. Untuk mengetahui apakah hasil belajar PKn menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) pada murid kelas kelas V SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng dapat mencapai ketuntasan.. D. Manfaat Penelitian Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu dan pengetahuan baik secara teoretis maupun secara praktis. 1. Manfaat Teoretis Secara teoretis hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan, pengetahuan dan dapat mengembangkan khasanah ilmu pengetahuan mendesain proses pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan murid dalam proses pembelajaran..

(21) 6. 2. Manfaat praktis a. Bagi murid, dapat mempermudah saat menerima materi dari pendidik dengan baik. b. Bagi guru, sebagai referensi terhadap proses pembelajaran yang produktif, kreatif, dan mengesankan. c. Bagi peneliti, akan bermanfaat untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan..

(22) 7. BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Kajian Pustaka 1. Hasil Penelitian yang Relevan Pada tahun 2013 peneliltian yang dilakukan oleh Agung mahasiswa IKIP PGRI Semarang yang berjudul “PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TWO STAY TWO STRAY TERHADAP HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS IV SD NEGERI 01 KALITENGAH BANJARNEGARA” menyimpulkan bahwa proses cooperative learning tipe Two Stay Two Stray dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan langkah-langkah sebagai berikut: (a) Murid dibagi kedalam beberapa kelompok, setiap kelompok terdiri dari empat orang atau lebih, (b) Setelah itu 2 orang anggota kelompok bertamu ke kelompok lain untuk mencatat hasil kerja kelompok tersebut, (c) 2 murid yang tinggal bertugas untuk membagikan hasil kerja kelompok kepada anggota kelompok tamu, (d) Tamu mohon diri untuk kembali ke kelompok asal untuk mencocokkan dan membahas hasil kerja mereka. Berdasarkan analisis penelitian, hasil belajar PKn pada murid kelas IV dengan menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray terjadi peningkatan, yaitu dengan nilai rata-rata sebesar 55,24 pada siklus I dan pada siklus II meningkat dengan nilai rata-rata 81,90. Hasil lain ditunjukkan oleh Dwi Lestari pada penelitiannya yang berjudul “PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING DENGAN TEKNIK TWO STAY TWO STRAY (TSTS) UNTUK PENINGKATAN AKTIVITAS. DAN. HASIL. BELAJAR. IPS. POKOK. BAHASAN. KEPAHLAWANAN DAN PATRIOTISME PADA SISWA KELAS IV SDN 7.

(23) 8. ARJASA 02”. Hasil penelitian menunjukkan terjadi peningkatan motivasi belajar PKn pada siswa kelas IV setelah diberikan tindakan berupa pembelajaran kooperatif teknik Two Stay Two Stray. Secara umum, tahap pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan adalah diskusi kelompok, kemudian membagikan hasil kerja ke kelompok lain dan penyampaian hasil diskusi oleh siswa, pembahasan hasil diskusi. Hasil observasi motivasi belajar PKn pada siswa kelas IV menunjukkan adanya peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2, yaitu dengan nilai rata-rata sebesar 55,35 pada siklus 1 dan meningkat pada siklus 2 dengan nilai rata-rata sebesar 85,26. Dari penelitian-penelitian tersebut dapat dianalisa bahwa cooperative learning tipe Two Stay Two Stray merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Namun penerapannya dalam mata pelajaran yang lain masih jarang digunakan. Maka dalam fokus penelitian ini akan diaplikasikan. pada. mata. pelajaran. yang. berbeda. yakni. Pendidikan. Kewarganegaraan pada kelas V (lima) Sekolah Dasar. Diharapkan diperoleh hasil sesuai dengan penelitian-penelitian sebelumnya atau bahkan lebih baik.. 2. Belajar dan Hasil Belajar a. Pengertian Belajar Pengertian belajar menurut Kusdaryani (dalam Agung 2013: 8) adalah ”suatu proses pergaulan (komunikasi) aktif dan positif antara guru dan murid dengan mengelola (memanipulasi, menangani) bahan pelajaran, metode, dan media untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan”. Perubahan sebagai hasil dari suatu proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti. perubahan. pengetahuan,. pemahaman,. sikap. dan. tingkah. laku,.

(24) 9. keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek yang lain yang ada pada individu yang belajar. Sedangkan menurut Slameto (dalam Agung 2013: 8) “belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Dari pengertianpengertian di atas peneliti mengambil kesimpulan bahwa belajar merupakan kegiatan atau proses secara sadar dan terarah memiliki tujuan dan progresif yang dilakukan oleh individu sehingga mengakibatkan perubahan perilaku dan semua aspek yang ada dalam dirinya menjadi lebih baik. Arnie Fajar (2009: 10) mengemukakan bahwa “belajar merupakan suatu proses kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman, maka siswa perlu diberi waktu yang memadai untuk melakukan proses itu. Artinya memberikan waktu yang cukup untuk berfikir ketika siswa menghadapi masalah sehingga siswa mempunyai kesempatan untuk membangun sendiri gagasannya. Tidak membantu siswa terlalu dini, menghargai usaha siswa walaupun hasilnya belum memuaskan, dan menantang siswa sehingga berbuat dan berfikir merupakan strategi guru yang memungkinkan siswa menjadi pembelajaran seumur hidup”. Menurut Abdillah (2002) dalam Aunurrahman (2013: 35) mengemukakan bahwa “belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah laku baik melakukan latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek-aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk memperoleh tujuan tertentu”. Komponen Belajar menurut Djamarah (dalam Agung 2013: 8) adalah sebagai berikut, (1) tujuan, tujuan adalah suatu cita – cita yang ingin dicapai dari.

(25) 10. pelaksanaan suatu kegiatan. Tidak ada suatu kegiatan yang diprogramkan tanpa tujuan, karena hal itu adalah suatu hal yang tidak memiliki kepastian dalam menetukan ke arah mana kegitan itu akan dibawa, (2) bahan pelajaran, bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar mengajar tidak akan berjalan, (3) kegiatan belajar mengajar, kegiatan belajar mengajar adalah inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar, (4) metode, metode adalah suatu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Dalam kegitan belajar mengajar, metode diperlukan dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir, (5) alat, alat adalah segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. (6) sumber pelajaran, sumber belajar merupakan bahan/materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal - hal baru bagi si pelajar. b. Tujuan Belajar Tujuan adalah batas cita-cita yang diinginkan dalam suatu usaha, tujuan dapat. pula diartikan sebagai suatu yang ingin dicapai dalam suatu. kegiatan. Jadi tujuan belajar dapat diartikan sebagai sesuatu yang ingin dicapai dalam kegiatan belajar. Pada dasarnya belajar pada diri manusia, merupakan suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar dan mempunyai tujuan serta sasaran yaitu : 1) Tujuannya mengubah tingkah laku ke arah yang lebih berkualitas; dan 2) Sasarannya. meliputi. tingkah. laku. penalaran. (kognitif),. keterampilan. (psikomotorik), dan sikap (afektif). Sardiman (dalam Haling, 2007: 3) mengemukakan bahwa pada dasarnya ada tiga jenis tujuan belajar:.

(26) 11. 1) untuk mendapatkan pengetahuan, yaitu suatu cara untuk mengembangkan kemampuan berpikir bagi anak untuk memperoleh pengetahuan dan kemampuan berpikir; 2)Untuk penanaman konsep dan keterampilan, yaitu suatu cara belajar menghadapi dan menangani objekobjek secara fisik dan psikis; dan 3) untuk pembentukan sikap, yaitu suatu kegiatan untuk menumbuhkan sikap mental, prilaku dan pribadi anak.. c.. Pengertian Hasil Belajar Menurut Anni (dalam Agung 2013: 9) memaparkan bahwa “hasil. belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Untuk mengetahui seberapa penyampaian hasil belajar yang diperoleh individu (murid) harus dilakukan suatu penilaian. Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar, baik yang menggunakan instrument test maupun non test. Hasil belajar yang dicapai murid dipengaruhi oleh tiga faktor hasil belajar yaitu tipe hasil belajar bidang kognitif, tipe hasil belajar bidang afektif, dan tipe hasil belajar bidang psikomotor. Sudjana (dalam Agung 2013: 10). Dari pendapat ini faktor yang dimaksud adalah faktor dalam diri murid perubahan kemampuan yang dimilikinya. Demikian juga faktor dari luar diri murid yakni lingkungan yang paling dominan berupa kualitas pembelajaran. Hasil belajar murid dipengaruhi oleh kemampuan murid dan kualitas pengajaran. Kualitas pengajaran yang dimaksud adalah profesional yang dimiliki oleh guru. Artinya kemampuan dasar guru baik di bidang kognitif (intelektual), bidang sikap (afektif) dan bidang perilaku (psikomotorik). Dari beberapa pendapat di atas, maka hasil belajar murid dipengaruhi oleh dua faktor dari dalam individu murid berupa kemampuan personal (internal) dan faktor dari luar diri murid yakni lingkungan. Dengan demikian hasil belajar adalah sesuatu yang dicapai atau diperoleh murid berkat adanya usaha atau fikiran yang.

(27) 12. mana hal tersebut dinyatakan dalam bentuk penguasaan, pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai aspek kehidupan sehingga nampak pada diri indivdu penggunaan penilaian terhadap sikap, pengetahuan dan kecakapan dasar.. d. Jenis-jenis Hasil Belajar Menurut Horwart Kingsley (dalam Kustawan, 2013: 15) membagi tiga macam hasil belajar mengajar: “1) keterampilan dan kebiasaan; 2) pengetahuan dan pengarahan; dan 3) sikap dan cita-cita”. Menurut Bloom (dalam Kustawan, 2013: 15-16) bahwa ada tiga domain hasil belajar yaitu sebagai berikut: 1) Cognititive domain (ranah kognitif), yang berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, pemahaman, dan penerapan; 2) Affective domain (ranah afektif) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek perasaan dan emosi, seperti minat, sikap, apresiasi, dan cara penyesuaian diri; dan 3) Psychomotor domain (ranah psikomotor) berisi perilaku-perilaku yang menekankan aspek keterampilan motorik seperti tulisan tangan, mengetik, berenang, dan mengoperasikan mesin. Merujuk pada pemikiran Gagne (dalam Suprijono, 2009:5-6),. hasil belajar. berupa: 1) Informasi verbal yaitu kapabilitas megungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tulisan. 2) Keterampilan intelektual merupakan kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang. 3) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri. 4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi..

(28) 13. 5) Sikap merupakan kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai sebagai standar perilaku. Hasil belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolahan penafsiran dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh murid setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Hasil belajar menunjuk pada prestasi belajar dan derajat perubahan tingkah laku murid. Dari beberapa pengertian hasil belajar yang dikemukakan, jelas terlihat bahwa hasil tidak lain suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan kegiatan kerja, baik secara individual maupun kelompok dalam bidang kegiatan tertentu.Hasil belajar seseorang sering tidak. langsung. kelihatan. tanpa. orang. itu. melakukan. sesuatu. untuk. memperlihatkan kemampuan yang diperolehnya melalui belajar. Namun demikian, hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya. Sebagai hasil dari aktivitas belajar ini akan dilihat sebagai perubahan tingkah laku hasil dari pengalaman, perubahan yang terjadi dalam diri individu sebagai hasil dari pengalaman, itu sebenarnya usaha dari individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Interaksi yang dimaksud adalah interaksi yang memungkinkan terjadinya proses intraksi belajar mengajar. Setelah membaca uraian di atas, maka dapat dipahami mengenai makna kata hasil dan belajar yang apabila dipadukan dapat diambil pengertian sederhana mengenai hal ini bahwa, hasil belajar adalah ukuran yang menyatakan seberapa.

(29) 14. jauh tujuan pengajaran yang telah dicapai oleh murid dengan pengalaman yang telah diberikan atau disiapkan oleh sekolah.. e.. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar Menurut teori Gestalt (dalam Susanto, 2013: 12) bahwa hasil belajar. murid dipengaruhi oleh dua hal, murid itu sendiri dan lingkungannya, yaitu: Pertama, murid; dalam arti kemampuan berpikir atau tingkah laku intelektual, motivasi, minat, dan kesiapan murid, baik jasmani maupun rohani. Kedua, lingkungan; yaitu sarana dan prasarana, kompetensi guru, kreativitas guru, sumber-sumber belajar, metode serta dukungan lingkungan, keluarga, dan lingkungan. Pendapat yang senada dikemukakan oleh Wasliman (dalam Susanto, 2013: 12), hasil belajar yang dicapai oleh murid merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor yang mempengaruhi, baik faktor internal maupun eksternal. Secara perinci, uraian mengenai faktor internal dan eksternal, sebagai berikut: 1) faktor internal merupakan faktor yang bersumber dari dalam diri murid, yang mempengaruhi kemampuan belajarnya. Faktor internal itu meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan; dan 2) faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri murid yang memepengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.. 3.. Ruang Lingkup Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan a.. Hakikat Pembelajaran PKn di SD Pendidikan. Kewarganegaraan. menurut. Priyangga. Kaula. (2013,download 21 juni 2014) adalah wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya Bangsa Indonesia yang diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk perilaku dalam kehidupan sehari-hari murid baik sebagai individu, masyarakat, warga negara dan makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa..

(30) 15. Pendidikan kewarganegaraan merupakan terjemahan dari dua istilah teknis dalam kepustakaan asing, yakni civic education dan citizenship education. Dari kedua istilah terdapat kandungan konsep civic dan citizenship. Oleh karena itu, perlu dijelaskan adanya 4 (empat) istilah, yaitu civic, citizenship, civic education dan citizenship education. ( Winarno, 2013: 1). Perilaku-perilaku tersebut adalah seperti yang tercantum di dalam penjelasan Undang-Undang tentang Pendidikan Nasional pasal 39 ayat (2) yaitu perilaku yang memancarkan iman dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri dari berbagai golongan agama, perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab, perilaku yang mendukung persatuan bangsa dalam masyarakat yang beraneka ragam kebudayaan dan beraneka ragam kepentingan, perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan perorangan dan golongan sehingga perbedaan pemikiran, pendapat atau kepentingan di atas melalui musyawarah dan mufakat, serta perilaku yang mendukung upaya untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Di samping itu Pendidikan Kewarganegaraan juga dimaksudkan sebagai usaha untuk membekali murid dengan budi pekerti, pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara sesama warga negara maupun antar warga negara dengan negara. PKn merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan terpaan moral yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejala-gejala sosial, khususnya yang berkaitan dengan moral serta perilaku manusia. Pendidikan Kewarganegaraan termasuk pelajaran bidang ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari teori-teori serta perihal sosial yang ada di sekitar lingkungan masyarakat kita..

(31) 16. Oleh karena itu dalam pembelajaran PKn perlu diberikan pengarahan, mereka harus terbiasa untuk mendengar ataupun menerapkan serta mencatat halhal yang berkaitan dengan ilmu PKn, salah satu keberhasilan pembelajaran adalah jika murid yang diajar merasa senang dan memerlukan materi ajar. Selain itu juga dengan diterapkannya pemberian tugas dengan bentuk portofolio akan dapat memberikan deskripsi baru mengenai pembelajaran PKn, dan hal tersebut juga sebagai penunjang agar murid tidak merasa bosan dalam mengikuti pembelajaran portofolio. Melihat pengertian dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran PKn tentunya kita sebagai seorang guru berupaya bagaimana pelajaran PKn dapat diterima dan dapat dihayati oleh peserta dengan berbagai metode yang digunakan dalam proses pembelajaran sehingga pelajaran yang semula dianggap sebagai pelajaran yang membosankan akan kembali disemangati oleh anak didik untuk dipelajari dan dikaji.. b. Tujuan dan Fungsi Pembelajaran PKn Tujuan civic. education adalah. partisipasi. yang. bermutu. dan. bertanggung jawab dalam kehidupan politik dan masyarakat baik tingkat lokal, negara bagian, dan nasional. Tujuan pembelajaran PKn dalam Depdiknas (2006:49) adalah untuk memberikan kompetensi sebagai berikut: a. Berpikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu Kewarganegaraan. b. Berpartisipasi secara cerdas dan tanggung jawab, serta bertindak secara sadar dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. c. Berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-karakter masyarakat di Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lain..

(32) 17. d. Berinteraksi dengan bangsa-bangsa lain dalam peraturan dunia secara langsung dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Tujuan. Pendidikan. Kewarganegaraan. yang. dikemukakan. oleh. Djahiri (1994/1995:10) adalah sebagai berikut: a. Secara umum. Tujuan PKn harus seimbang dan mendukung keberhasilan pencapaian Pendidikan Nasional, yaitu : “Mencerdaskan kehidupan bangsa yang mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti yang luhur, memiliki kemampuan pengetahuann dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan”. b. Secara khusus. Tujuan PKn yaitu membina moral yang diharapkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari yaitu perilaku yang memancarkan iman dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dalam masyarakat yang terdiri dari berbagai golongan agama, perilaku yang bersifat kemanusiaan yang adil dan beradab, perilaku yang mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan perseorangan dan golongan sehingga perbedaan pemikiran pendapat ataupun kepentingan diatasi melalui musyawarah mufakat, serta perilaku yang mendukung upaya untuk mewujudkan keadilan sosial seluruh rakyat Indonesia. Sedangkan menurut Sapriya (2001), tujuan pendidikan Kewarganegaraan adalah Partisipasi yang penuh nalar dan tanggung jawab dalam kehidupan politik dari warga negara yang taat kepada nilai-nilai dan prinsip-prinsip dasar demokrasi konstitusional Indonesia. Partisipasi warga negara yang efektif dan penuh tanggung jawab memerlukan penguasaan seperangkat ilmu pengetahuan dan.

(33) 18. keterampilan intelektual serta keterampilan untuk berperan serta. Partisipasi yang efektif dan bertanggung jawab itu pun ditingkatkan lebih lanjut melalui pengembangan. disposisi. atau. watak-watak. tertentu. yang meningkatkan. kemampuan individu berperan serta dalam proses politik dan mendukung berfungsinya. sistem. politik. yang. sehat. serta. perbaikan. masyarakat.. Tujuan umum pelajaran PKn ialah mendidik warga negara agar menjadi warga negara yang baik, yang dapat dilukiskan dengan “warga negara yang patriotik, toleran, setia terhadap bangsa dan negara, beragama, demokratis, dan Pancasila sejati” (Somantri, 2001:279). Djahiri (1995:10). mengemukakan. bahwa. melalui. Pendidikan. Kewarganegaraan murid diharapkan : a. Memahami dan menguasai secara nalar konsep dan norma Pancasila sebagai falsafah, dasar ideologi dan pandangan hidup negara RI. b. Melek konstitusi (UUD NKRI 1945) dan hukum yang berlaku dalam negara RI. c. Menghayati dan meyakini tatanan dalam moral yang termuat dalam butir diatas. d. Mengamalkan dan membakukan hal-hal diatas sebagai sikap perilaku diri dan kehidupannya dengan penuh keyakinan dan nalar. Secara umum, menurut Maftuh dan Sapriya (2005:30) bahwa, Tujuan negara mengembangkan Pendiddikan Kewarganegaraan agar setiap warga negara menjadi warga negara yang baik (to be good citizens), yakni warga negara yang memiliki kecerdasan (civics inteliegence) baik intelektual, emosional, sosial, maupun spiritual;. memiliki. rasa bangga. dan tanggung jawab. (civics. responsibility); dan mampu berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat..

(34) 19. Setelah menelaah pemahaman dari tujuan Pendidikan Kewarganegaraan, maka dapat saya simpulkan bahwa Pendidikan Kewarganegaraan berorientasi pada penanaman konsep Kenegaraan dan juga bersifat implementatif dalam kehidupan sehari - hari. Adapun harapan yang ingin dicapai setelah pengajaran Pendidikan Kewarganegaraan ini, maka akan didapatkan generasi yang menjaga keutuhan dan persatuan bangsa. Adapun fungsi pembelajaran PKn yakni sebagai berikut: . Membantu generasi muda memperoleh pemahaman cita-cita nasional /tujuan Negara.. . Dapat mengambil keputusan-keputusan yang bertanggung jawab dalam menyelsaikan masalah pribadi, masyarakat dan negara.. . Dapat mengapresiasikan cita-cita nasional dan dapat membuat keputusankeputusan yang cerdas.. . Wahana untuk membentuk warga negara yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan dirinya dalam kebiasaan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD NKRI 1945.. c.. Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) Proses belajar yang dialami oleh murid menghasilkan perubahan -. perubahan pemahaman, pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap. Adanya perubahan ini tampak dalam hasil belajar murid, tes, atau tugas yang dibebankan kepada guru. Bercermin kepada prestasi belajar murid, guru harus selalu mengadakan perbaikan mengajarnya baik model maupun penguasaan materi yang diajarkan. Hasil yang diperoleh dari penilaian hasil belajar murid baik individual.

(35) 20. maupun kelompok di dalam kelasnya, akan menggambarkan kemajuan yang telah dicapainnya selama periode tertentu. Murid dikatakan telah belajar jika ia telah menunjukkan perubahan tingkah laku, misalnya dari tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti. Suatu proses pembelajaran dikatakan berhasil manakala murid dapat mencapai tujuan yang optimal. Keberhasilan itu merupakan indikator keberhasilan guru merancang dan melaksanakan proses pembelajaran. Menurut Benyamin S. Bloom,dkk (dalam Ikram 2013: 58) hasil belajar dikelompokkan ke dalam 3 domain yaitu: 1) Domain kognitif (cognitif domain) yang meliputi pengetahuan, pemahaman (comprehension), penerapan (application), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation ). 2) Domain Afektif (affective domain) yang meliputi penerimaan (receiving), respon (responding), penilaian (valuing), organisasi (organization), dan karakteristik (characterization). 3) Domain psikomotorik (psychomotor domain) yang meliputi persepsi (perception), kesiapan melakukan sesuatu pekerjaan (set), respon terbimbing (guided response), kemahiran (kompleks overt response), adaptasi (adaptation) dan orijinasi (origination). Menurut Gagne (dalam Ikram 2013: 62) mengemukakan ada lima jenis atau lima tipe hasil belajar yakni : 1) Belajar kemahiran intelektual (kognitif) Ada tiga tipe yang termasuk ke dalam belajar kemahiran intelektual yaitu belajar membedakan atau diskriminasi, belajar konsep, dan belajar kaidah. Belajar membedakan adalah kesanggupan membedakan beberapa objek berdasarkan ciri ciri tertentu misalnya dilihat dari bentuk, warna, ukuran, dan sebagainya. Kemampuan. membedakan. dapat. dipengaruhi. oleh. tingkat. kematangan,pertumbuhan dan pendidikannya. Belajar konsep adalah kemampuan untuk menempatkan objek yang memiliki ciri atau atribut dalam satu kelompok.

(36) 21. (klasifikasi) tertentu. Sedangkan belajar kaidah adalah belajar melalui simbol bahasa lisan maupun tulisan. 2) Belajar informasi verbal Belajar informasi verbal adalah belajar menyerap atau mendapatkan, menyimpan dan mengkomunikasikan berbagai informasi dari berbagai sumber misalnya belajar membaca, mengarang, bercerita, mendengarkan uraian guru, kesanggupan menyatakan pendapat dalam bahasa lisan atau tulisan, kesanggupan memberi arti dari setiap kalimat atau kata dan lain - lain. 3) Belajar mengatur kegiatan intelektual Merupakan. landasan. kegiatan. intelektual. adalah. belajar. untuk. memecahkan masalah dengan memanfaatkan konsep atau kaidah yang telah dimiliki. Tipe belajar ini menekankan pada aplikasi kognitif dalam pemecahan masalah. Ada dua aspek penting dalam tipe belajar ini yakni prinsip pemecahan masalah dan langkah berpikir dalam pemecahan masalah. Prinsip pemecahan masalah merupakan landasan bagi terealisasinya proses berpikir. Pemecahan masalah memerlukan kemahiran intelektual seperti belajar diskriminasi, belajar konsep dan belajar kaidah. Kemahiran intelektual tersebut, pada gilirannya akan membentuk satu kemampuan intelektual yang lebih tinggi yakni langkah - langkah berpikir dalam pemecahan masalah. Dengan kata lain kemampuan memecahkan masalah merupakan aspek kognitif tingkat tinggi. 4) Belajar sikap Sikap merupakan kesiapan dan kesediaan seseorang untuk menerima atau menolak suatu objek berdasarkan penilaian terhadap objek itu apakah berarti atau tidak bagi dirinya. Hasil belajar sikap tampak dalam bentuk kemauan, minat,.

(37) 22. perhatian, perubahan, perasaan, dan lain - lain. Sikap dapat dipelajari dan dapat diubah melalui proses belajar. 5) Belajar keterampilan motorik Belajar keterampilan motorik berhubungan dengan kesanggupan atau kemapuan seseorang dalam menggunakan gerakan anggota badan, sehingga memiliki rangkaian urutan gerakan yang teratur, luwes, tepat, cepat, dan lancar. Misalnya belajar menjahit, mengetik, bermain basket dan lain –lain. Kemampuan dalam sikap dan kemahiran intelektual merupakan prasyarat belajar motorik. Sebab dalam belajar motorik bukan semata - mata hanya gerakan anggota badan tetapi juga memerlukan pemahaman dan penguasaan akan prosedur gerakan yang harus dilakukan, konsep mengenai cara melakukan gerakan dan lain - lain. Akhir dari belajar motorik adalah kemampuan untuk melakukan gerakan - gerakan tertentu secara otomatis sesuai dengan prosedur tertentu. Misalnya seseorang telah dinilai cakap menggunakan program komputer tertentu manakala ia mampu menghasilkan sesuatu sesuai dengan prosedur jenis program yang digunakan dalam waktu yang relatif singkat. Jadi hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) adalah hasil belajar berupa nilai yang diperoleh murid dalam mata pelajaran PKn berdasarkan penilaian hasil belajar yang dilakukan baik berupa tes atau tugas yang diberikan oleh guru.. 4.. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray. a. Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Teori yang melandasi pembelajaran kooperatif adalah teori konstrukivisme. Menurut Soejadi (dalam Rusman, 2013: 201) bahwa pada dasarnya pendekatan teori konstruktivisme dalam belajar adalah “suatu.

(38) 23. pendekatan. di. mana. murid. harus. secara. individual. menemukan. dan. mentransformasikan informasi yang kompleks, memeriksa informasi dengan aturan yang ada dan merevisinya bila perlu”. Sehubungan dengan itu, menurut Trianto (2009: 28) bahwa: Murid harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai. Bagi murid agar benarbenar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan, mereka harus belajar memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, berusaha dengan susah payah dengan ide-ide. Menurut Slavin (2005: 4-5) bahwa “penggunaan pembelajaran kooperatif untuk meningkatkan pencapaian prestasi para murid, dan juga akibat-akibat positif lainnya yang dapat mengembangkan hubungan antarkelompok, penerimaan terhadap teman sekelas yang lemah dalam bidang akademik, dan meningkatkan rasa percaya diri”. Berdasarkan pernyataan tersebut dapat disimpulakan bahwa pembelajaran kooperatif menggalakkan murid berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Menurut Depdiknas (dalam Komalasari, 2013: 62) bahwa “pembelajaran kooperatif (cooperative learning) merupakan strategi pembelajaran melalui kelompok kecil murid yang saling bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar”. Keberhasilan belajar dari kelompok tergantung pada kemampuan dan aktivitas anggota kelompok, baik secara individual maupun secara kelompok (Slavin, 2005). Pada hakikatnya cooperative learning sama dengan kerja kelompok. Walaupun sebenarnya tidak semua belajar kelompok dikatakan cooperative learning, seperti dijelaskan Abdulhak (dalam Rusman, 2013: 203) bahwa “pembelajaran cooperative dilaksanakan melalui sharing proses antara peserta belajar, sehingga dapat mewujudkan pemahaman bersama di antara peserta belajar itu sendiri”. Dalam model pembelajaran ini guru lebih berperan sebagai fasilitator yang berfungsi sebagai jembatan penghubung ke arah pemahaman yang lebih.

(39) 24. tinggi, dengan catatan murid sendiri. Guru tidak hanya memberikan pengetahuan pada murid, tetapi juga harus membangun pengetahuan dalam pikirannya. Menurut Djumingin (2011: 135) terdapat lima hal penting dalam strategi pembelajaran kooperatif, yaitu: “1) adanya peserta dalam kelompok; 2) adanya aturan kelompok; 3) adanya upaya belajar setiap anggota kelompok; 4) adanya ketergantungan antara anggota kelompok; dan 5) adanya tujuan yang harus dicapai”. Adapun menurut Lungren (dalam Trianto, 2007: 46) menyusun keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut secara terinci dalam tiga tingkatan keterampilan. Tingkatan tersebut yaitu keterampilan kooperatif yaitu: “1) keterampilan kooperatif tingkat awal; 2) keterampilan kooperatif tingkat menengah; dan 3) keterampilan kooperatif tingkat mahir”. Upaya belajar adalah segala aktivitas murid untuk meningkatkan kamampuan baru, baik kemampuan dalam aspek pengetahuan, sikap maupun keterampilan. Aktivitas pembelajaran tersebut dilakukan dalam kegiatan kelompok, sehingga antar peserta dapat saling membelajarkan melalui tukar pikiran, pengalaman, maupun gagasan-gagasan. Slavin (2005: 27) mengemukakan dua alasan, yaitu: Pertama, beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa penggunanan pembelajaran koopertif dapat meningkatkan prestasi belajar murid sekaligus dapat meningkatkan kemampuan hubungan sosial, menumbuhkan sikap menerima kekurangan diri dan orang lain, serta dapat meningkatkan harga diri. Kedua, pembelajaran kooperatif dapat merealisasaikan kebutuhan murid dalam belajar berpikir, memecahkan masalah, dan mengintekrasikan pengetahuan dengan keterampilan. Dari dua alasan tersebut maka pembelajaran kooperatif.

(40) 25. merupakan bentuk pembelajaran yang dapat memperbaiki sistem pembelajaran yang selama ini memiliki kelemahan.. b. Pengertian Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model TSTS. “Dua tinggal dua tamu” yang dikembangkan oleh Spencer Kagan 1992 dan biasa digunakan bersama dengan model Kepala Bernomor (Numbered Heads). Struktur TSTS yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Murid bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan murid yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya. Struktur TSTS memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagi hasil dan informasi dengan kelompok lain, hal ini menunjukkan bahwa empat elemen proses belajar kooperatif yang terdiri atas: saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual, keterampilan menjalin hubungan antar pribadi. Pada saat anggota kelompok bertamu ke kelompok lain maka akan terjadi proses pertukaran informasi yang bersifat saling melengkapi, dan pada saat kegiatan dilaksanakan maka akan terjadi proses tatap muka antar murid dimana akan terjadi komunikasi baik dalam kelompok maupun antar kelompok sehingga murid tetap mempunyai tanggung jawab perseorangan.. c. Langkah-langkah Model Pembelajaran Two Stay Two Stray Spencer Kagan 1992 (dalam Agung 2013: 18) memaparkan langkahlangkah model pembelajaran Dua Tinggal Dua Tamu adalah sebagai berikut..

(41) 26. 1) Murid bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa. 2) Setelah selesai, dua murid dari masing-masing kelompok akan meninggalkan. kelompoknya dan masing-masing bertamu ke kelompok yang lain. 3) Dua murid yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja. dan informasi mereka ke tamu mereka. 4) Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan. temuan mereka dari kelompok lain. 5) Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.. d. Kelemahan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray. Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan. Tidak ada model pembelajaran yang dianggap paling baik untuk setiap mata pelajaran. Ada model yang cocok untuk mata pelajaran dan materi tertentu ada yang tidak, demikian juga dengan model pembelajaran Two Stay Two Stray memiliki beberapa kelemahan. Adapun kelemahan model pembelajaran Two Stay Two Stray yaitu: 1) Membutuhkan waktu yang lama 2) Murid cenderung tidak mau belajar dalam kelompok 3) Bagi guru, membutuhkan banyak persiapan (materi, dana dan tenaga) 4) Guru cenderung kesulitan dalam pengelolaan kelas, untuk mengatasi kekurangan. pembelajaran. kooperatif. model. TSTS,. maka. sebelum. pembelajaran guru terlebih dahulu mempersiapkan dan membentuk kelompokkelompok belajar yang heterogen ditinjau dari segi jenis kelamin dan kemampuan akademis. Berdasarkan sisi jenis kelamin, dalam satu kelompok harus ada murid laki-laki dan perempuannya. Jika berdasarkan kemampuan akademis maka dalam satu kelompok terdiri dari satu orang berkemampuan.

(42) 27. akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis kurang. Pembentukan kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar dan saling mendukung sehingga memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi yang diharapkan bisa membantu anggota kelompok yang lain.. e. Kelebihan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray. Menurut Santoso (dalam Agung 2013: 21) Suatu model pembelajaran pasti memiliki kekurangan dan kelebihan. Adapun kelebihan dari model TSTS adalah sebagaiBerikut: 1) Dapat diterapkan pada semua kelas/tingkatan. 2) Kecenderungan belajar murid menjadi lebih bermakna. 3) Lebih berorientasi pada keaktifan. 4) Diharapkan murid akan berani mengungkapkan pendapatnya. 5) Menambah kekompakan dan rasa percaya diri murid. 6) Kemampuan berbicara murid dapat ditingkatkan. 7) Membantu meningkatkan minat dan prestasi belajar murid.. B. Kerangka Pikir Penggunaan model pembelajaran Two Stay Two Stray bukan semata – mata untuk alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar mengajar supaya lebih menarik perhatian murid, melainkan penggunaan model pembelajaran Two Stay Two Stray lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu murid dalam menangkap pengertian pelajaran.

(43) 28. yang sudah diberikan. Dengan perkataan lain menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray hasil belajar yang dicapai murid akan tahan lama di ingat murid, sehingga mempunyai nilai tinggi. Pelaksanaan model pembelajaran Two Stay Two Stray diterapkan secara tim. Hal ini karena bentuk kegiatannya dapat berupa diskusi tim yang berlomba – lomba mengumpulkan poin terbanyak. Karena diskusi Tim lebih menyenangkan dan menarik bagi para murid, jadi penulis sengaja merancang kegiatan ini dengan teknik Tim. Berdasarkan uraian sebelumnya dapat digambarkan melalui skema kerangka pikir sebagai berikut :. Pengajaran PKn di Sekolah Dasar. Kondisi Awal. Tindakan. Kondisi Akhir. 1. Guru mengajar masih secara konvensional 2. Rendahnya hasil belajar murid pada mata pelajaran PKn.. Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) (S1 S2). Dengan Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) maka Hasil Belajar PKn baru meningkat.. Gambar 2. 1 Skema Kerangka Pikir.

(44) 29. C. Hipotesis Tindakan Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir sebelumnya, maka hipotesis tindakan ini yaitu: jika model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) diterapkan, maka hasil belajar PKn pada murid kelas V SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng dapat meningkat..

(45) 30. BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian tindakan kelas (Classroom Action Research) dengan tahapan-tahapan pelaksanaan meliputi perencanaan (planning), pelaksanaan tindakan (acting), observasi (observing), refleksi (reflecting), dan perencanaan ulang. Adapun jenis penelitian yang dipilih adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karena relevan dengan upaya pemecahan masalah pembelajaran. Menurut Kunandar (2011:45) bahwa: ”Penelitian Tindakan Kelas (PTK) mmiliki tiga unsure atau konsp yakni: (1) penelitian adalah aktivitas mencermati suatu objek trtentu melalui metodologi ilmiah dengan menggunakan data-data dan dianalisis untuk menyelesaikan suatu masalah (2) tindakan adalah untuk aktivitas yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu yang berbentuk siklus kegiatan dengan tujuan utuk memperbaiki atau meningkatkan mutu atau kualitas proses belajar mengajar. (3) kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menenerima pelajaran yang sama dari seorang guru. Menurut Suyatno, 1997 (dalam Muslich, 2012: 9) “Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu agar dapat memperbaiki dan/atau meningkatkan praktik-praktik pembelajaran di kelas secara profesional”.. B. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2014/2015 di SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng. Adapun yang menjadi subjek dalam penelitian ini adalah seorang guru dan murid kelas V. Jumlah murid sebanyak 23 orang yang terdiri dari 12 Laki-laki dan 11 Perempuan. 30.

(46) 31. C. Fokus Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada murid kelas V SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng yang akan difokuskan pada dua aspek yaitu: 1.. Two Stay Two Stray (TSTS) adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. 2.. Hasil belajar yaitu nilai yang dicapai murid dalam memahami materi yang diajarkan pada setiap siklus (siklus pertama dan kedua).. D. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian tindakan kelas ini berdaur ulang yang direncanakan dua siklus tindakan, setiap siklusnya meliputi: perencanaan, pelaksanaan/tindakan, observasi, dan refleksi. Desain penelitian tindakan kelas yang berdaur ulang, digambarkan oleh Arikunto (2012: 16) sebagai berikut: PERENCANAAN REFLEKSI. Siklus I. PELAKSANAAN. PENGAMATAN PERENCANAAN REFLEKSI. Siklus II. PELAKSANAAN. PENGAMATAN. Gambar 3.1 Model PTK di Adaptasi dari Kemmis dan Mc. Taggart..

(47) 32. Berdasarkan skema sebelumnya, maka prosedur kerja penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut : 1.. Siklus I a.. Tahap Perencanaan. 1) Melakukan observasi ke sekolah. Observasi ini dilakukan untuk mengetahui masalah-masalah yang sering dihadapi dalam pembelajaran PKn. Di mana hasil observasi pada SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng, khususnya murid kelas V bahwa proses pembelajaran didominasi dengan metode ceramah saja, tanpa menambahkan model pengajaran yang variatif sehingga murid kurang aktif dalam pembelajaran menyebabkan hasil belajar kurang maksimal. Hasil observasi ini merupakan bahan refleksi untuk melakukan siklus I dengan cara membuat perencanaan tindakan siklus I. 2) Menetapkan materi yang akan diajarkan pada murid kelas V yaitu PKn. 3) Menyusun dan mengembangkan silabus dan 3 (tiga) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Sekolah Dasar (SD) kelas V mata pelajaran PKn disusun berdasarkan kurikulum yang berlaku di sekolah. 4) Mempersiapkan lembar observasi untuk mengamati keaktifan murid dalam mengikuti proses belajar mengajar. Lembar observasi ini digunakan untuk mengamati dan mengidentifikasi segala yang terjadi dalam proses belajar mengajar antara lain : daftar absensi dan keaktifan/kesungguhan murid dalam proses belajar mengajar. 5) Membuat alat evaluasi sebagai informasi untuk mengukur ketercapaian hasil belajar murid. Alat evaluasi ini disusun dalam bentuk soal..

(48) 33. 2) Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan tindakan dilakukan mengacu pada skenario pembelajaran yang telah dibuat. Secara umum tindakan yang dilakukan sebagai berikut : 1.. Kegiatan awal a) Mengabsen murid b) Menggali pengetahuan awal murid tentang konsep yang akan dipelajari. c) Memotivasi murid d) Menyampaikan judul dan tujuan pembelajaran. 2.. Kegiatan inti a) Menyajikan. materi. pelajaran. yang. berkaitan. dengan. tujuan. pembelajaran yang akan dicapai. b) Membagi murid ke dalam kelompok yang beranggotakan 4 orang. Dan setiap anggota kelompok harus heterogen berdasarkan prestasi akademik murid dan suku. c) Guru membagikan lembar kegiatan pada setiap kelompok d) Murid bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa. e) Setelah selesai, dua murid dari masing-masing kelompok akan meninggalkan. kelompoknya. dan. masing-masing. bertamu. ke. kelompok yang lain. f). Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok temuan mereka dari kelompok lain.. g) Perwakilan dari tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya. h) Guru membahas dan mengarahkan murid ke bentuk formal..

(49) 34. i) 3.. Guru memberikan evaluasi kelompok dan penghargaan. Penutup a) Guru dan murid menyimpulkan materi pelajaran. b) Guru memberi pesan-pesan moral. c) Guru. dan. murid. bersama-sama. menutup. pelajaran. dengan. mengucapkan hamdalah (“Alhamdulillah”). Kegiatan belajar mengajar pada siklus I dilaksanakan selama 4 jam pelajaran, sedangkan untuk siklus II juga dilaksanakan selama 4 jam pelajaran. Semuanya berjumlah 8 jam pelajaran, satu jam pelajaran selama 35 menit. Kegiatan belajar mengajar secara keseluruhan dilaksanakan selama 4 kali pertemuan.. 3) Tahap Pengamatan dan Evaluasi Selama pembelajaran, diadakan pengamatan tentang : 1) Aktivitas murid dalam mengikuti pembelajaran. 2) Pengumpulan data melalui tes atau alat penilaian. 3) Evaluasi terhadap hasil observasi dan hasil evaluasi guru.. 4) Tahap Refleksi Adapun langkah- langkah yang dilakukan pada tahap refleksi adalah: 1) Merefleksi tiap hal yang diperoleh melalui lembar observasi, yakni aktifitas guru dan keaktifan murid dalam menyelesaikan tugas secara berkelompok. 2) Menilai dan mempelajari perkembangan hasil pekerjaan murid setiap kelompok yang telah diberikan pada siklus I, serta nilai tes akhir siklus I..

(50) 35. Untuk selanjutnya dibuat rencana perbaikan dan penyempurnaan siklus I pada siklus berikutnya.. 2. Siklus II Adapun prosedur kegiatan pada siklus kedua relatif sama dengan prosedur kegiatan pada siklus pertama. Hal-hal yang perlu diperbaiki dan dikembangkan sesuai hasil refleksi siklus pertama menjadi bahan masukan, sehingga hasil yang diharapkan dapat dicapai pada siklus kedua.. E. Instrumen Penelitian Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini terdiri dari pencatatan laporan, tes/ kuis. Pencatatan laporan digunakan untuk mencatat semua kegiatan selama pembelajaran berlangsung, baik kegiatan guru sewaktu mengajar maupun respon murid sewaktu belajar dan keaktifan murid sewaktu belajar secara berkelompok.. F. Teknik Pengumpulan Data Adapun teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah menggunakan dokumentasi, observasi, dan tes. 1. Observasi Kegiatan observasi dimaksudkan untuk mengamati pembelajaran PKn dengan menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray dan mengamati aktivitas belajar murid dalam mengikuti pelajaran melalui kegiatan kerjasama dalam kelompok di kelas V SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu.

(51) 36. Kabupaten Bantaeng. Kegiatan observasi dilakukan oleh peneliti sebagai observer dengan menggunakan pedoman observasi berbentuk check list.. 2. Tes Tes merupakan instrumen penelitian yang digunakan sebagai alat ukur dalam pengumpulan data hasil belajar murid di kelas V SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng dengan model pembelajaran Two Stay Two Stray. Tes diberikan pada setiap siklus.. 3. Dokumentasi Teknik dokumentasi dilakukan melalui pengumpulan data tertulis dari sekolah mengenai data hasil belajar murid pada mata pelajaran PKn dan KKM, jumlah murid yang menjadi subjek penelitian dan proses kegiatan belajar mengajar yang berlangsung di kelas V SDN No. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng.. G. Teknik Analisis Data Penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode yang menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui hasil belajar yang dicapai murid. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan murid setelah proses pembelajaran, maka setiap siklus dilakukan evaluasi berupa tes unjuk kerja yang dilakukan disetiap akhir siklus. Analisis menurut Daryanto (2011) dihitung menggunakan statistik sederhana dengan rumus sebagai berikut:.

(52) 37. Untuk menilai tes unjuk kerja murid digunakan rumus: Nilai =. 1.. x 100. Untuk menghitung nilai rata-rata murid; ∑. =∑. Keterangan: = Nilai rata-rata X = Jumlah semua nilai murid N = Jumlah murid 2.. Untuk mengitung persentase ketuntasan belajar murid; Persentase =.  . x 100%. Data kualitatif berupa hasil observasi dianalisis dengan menggunakan teknik analisis data yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (dalam Daryanto, 2011:84-85) yang terdiri dari empat tahap kegiatan, yaitu: 1.. Reduksi data dilakukan dengan memilah-milah data yang terkumpul. Data yang diambil adalah yang sesuai dengan tujuan penelitian. Reduksi data bertujuan agar data lebih terarah dan lebih mudah dikelola.. 2.. Penyajian data adalah tahap dimana data yang telah dipilah-pilah sesuai tujuan penelitian kemudian disajikan dalam tabel. Semua data yang terkumpul mulai dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi diatur ke dalam tabel agar mempermudah dalam membaca data.. 3.. Verifikasi data dilakukan dengan cara triangulasi data yaitu membandingkan data yang diperoleh dari hasil observasi dengan sumber data lainnya..

(53) 38. Tujuannya adalah untuk mengecek apakah informasi dari data yang terkumpul tersebut akurat. 4.. Penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan hasil dari semua data yang diperoleh. Adapun menurut Elfanany (2013: 85) kriteria yang digunakan untuk. menggambarkan data hasil pengamatan terhadap aktivitas pembelajaran menggunakan kategorisasi persentase pencapaian yaitu: Tingkat Penguasaan (%) 86 – 100 76 – 85 65 – 75 46 – 64 0 – 45. Kategori Sangat Baik (A) Baik (B) Cukup (C) Kurang (D) Sangat Kurang (E). Tabel 3.1 Indikator Keberhasilan Aktivitas Belajar Berikut adalah tabel yang menggambarkan tingkat ketuntasan belajar murid yang mengacu pada KKM yang ditetapkan untuk mata pelajaran PKn di sekolah. Tingkat Penguasaan. Kategori. 0-64. Tidak Tuntas. 65-100. Tuntas. Tabel 3.2. Indikator Ketuntasan Belajar Murid. H. Indikator Keberhasilan Indikator keberhasilan pembelajaran PKn di kelas V SDN No.20 Tala-Tala dalam penelitian ini meliputi indikator proses dan hasil. Dari segi proses ditandai oleh dua aspek, yakni dari aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar murid. Dari aspek guru ditandai dengan terlaksananya langkah-langkah model.

(54) 39. pembelajaran Two Stay Two Stray yang mencapai kategori baik (B), sedangkan dari aspek murid ditandai dengan peningkatan aktivitas murid dalam penerapan model pembelajaran Two Stay Two Stray sesuai perencanaan yang mencapai kategori baik (B). Kemudian indikator keberhasilan dari segi hasil dapat dilihat dari tes hasil belajar pada setiap siklusnya. Murid dikatakan tuntas jika memperoleh nilai ≥ 65 yang mengacu pada KKM mata pelajaran PKn di sekolah. Dikatakan tuntas belajar secara klasikal, jadi tuntas secara klasikal jika 80% dari jumlah murid tuntas..

(55) 40. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Setelah dilakukan observasi awal penelitian ini dilanjutkan pada bulan Desember. Penelitian ini dilaksanakan 2 siklus, sedangkan sasaran yang dicapai dalam. penelitian. ini. adalah. meningkatkan. hasil. belajar. Pendidikan. Kewarganegaraan (PKn) melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada murid kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng. Penelitian dilaksanakan 2 siklus yang setiap siklus terdiri dari 3 kali pertemuan. Setiap siklus terdiri dari 4 tahap, yakni tahap perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi, dari ke 4 tahap ini dapat dilihat hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada murid kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng.. A. Pemaparan Hasil Penelitian Pada bab ini akan dibahas hasil penelitian dan pembahasan dari penelitian yang telah dilaksanakan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS) dalam meningkatan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) pada murid kelas V SDN NO. 20 Tala-Tala Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng. Hasil penelitian yang diperoleh disajikan berdasarkan hasil yang telah didapatkan di lapangan dengan ditindaklanjuti selama 2 siklus. Setiap siklus dilakukan sebanyak empat kali pertemuan yaitu tiga kali pertemuan untuk proses pembelajaran dan satu kali pertemuan untuk tes hasil belajar, masing-masing dengan alokasi waktu 2x35 Menit. 40.

(56) 41. 1.. Hasil Penelitian Siklus I a. Tahap Perencanaan Sebelum pelaksanaan tindakan dilaksanakan persiapan pembelajaran. berupa penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), media/alat pembelajaran yang diperlukan serta pembuatan instrumen penilaian berupa lembar kerja, lembar observasi dan tes hasil belajar. Pada tahap perencanaan Siklus I ini peneliti telah menelah silabus pada kurikulum KTSP materi pembelajaran PKn Kelas V semester I pada satuan pendidikan SD dengan materi pembelajaran kebebasan berorganisasi. Siklus pertama dilaksanakan selama empat kali pertemuan. Setelah itu, peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang menjadi pedoman peneliti dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. Selanjutnya, peneliti membuat Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk didiskusikan bersama pada tiap pertemuan. Untuk menilai aktivitas belajar dan hasil pelaksanaan pembelajaran pada siklus I, peneliti menganalisis dan menyeleksi soal-soal yang akan diberikan kepada murid setelah menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS). Pemberian tes hasil belajar siklus I ini bertujuan untuk mengukur peningkatan hasil pembelajaran PKn dengan menggunakan model Two Stay Two Stray (TSTS) selama siklus I.. b. Tahap Pelaksanaan Tindakan Adapun pelaksanaan tindakan kelas pada Siklus I berlangsung selama 2 pekan atau 4 kali pertemuan dengan lama waktu setiap pertemuan adalah 2 x 35 menit. Pertemuan pertama pada tanggal 01 Desember 2014, pertemuan kedua.

Referensi

Dokumen terkait

Begitupun dengan penelitian yang dilakukan oleh Wardika 2019 dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Berbantuan Geogebra Terhadap Hasil