• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI - Universitas Muhammadiyah Makassar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "SKRIPSI - Universitas Muhammadiyah Makassar"

Copied!
130
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN STRATEGI PAIKEM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV PADA MATA PELAJARAN ILMU

PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) DI SD INPRES TALA’BORONG KECAMATAN BAJENG BARAT KABUPATEN GOWA

SKRIPSI

Oleh

Alqadri Agung Munandar 10540967715

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

2020

(2)

PENERAPAN STRATEGI PAIKEM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS IV PADA MATA PELAJARAN ILMU

PENGETAHUAN SOSIAL (IPS) DI SD INPRES TALA’BORONG KECAMATAN BAJENG BARAT KABUPATEN GOWA

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

Alqadri Agung Munandar 10540967715

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

2020

(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

ALQADRI, AGUNG MUNANDAR. 2020. Penerapan Strategi PAIKEM Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD Inpres Tala’borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa. Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Hj.

Syahribulan dan pembimbing II Rubianto.

Masalah utama dalam penelitian ini yaitu bagaimana menerapkan strategi Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa.

Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (Class Action Reaserch) yang terdiri dari dua siklus dimana setiap siklus dilaksanakan empat kali pertemuan. Prosedur penelitian meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Subjek dalam penelitian ini adalah murid kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa sebanyak 14 orang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I yang tuntas secara individual dari 14 murid hanya 7 orang murid atau 50,33% yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) atau berada pada kategori rendah. Secara klasikal belum terpenuhi karena nilai rata-rata diperoleh sebesar 63,36%.

Sedangkan pada siklus II dimana dari 14 murid terdapat 13 orang atau 81,33%

telah memenuhi KKM dan secara klasikal sudah terpenuhi yaitu rata-rata yang diperoleh sebesar 97,36% atau berada dalam kategori tinggi.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut diatas, dapat disimpulkan hasil belajar IPS murid kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa melalui penerapan strategi PAIKEM mengalami peningkatan.

Kata Kunci: hasil belajar, strategi PAIKEM, IPS

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur senantiasa teriring dalam setiap hela nafas atas kehadirat Allas SWT. yang memberikan kekuatan dan keikhlasan menjalankan kewajiban dan rutinitas hidup hinnga terselesainya penyusunan skripsi ini. Bingkisan salam dan shalawat tercurah kepada kekasih Allah, Nabiullah Muhammad SAW, para sahabat dan keluarganya serta ummat yang senantiasa istiqamah dijalan-Nya.

Tiada jalan tanpa rintangan, tiada puncak tanpa tanjakan, tiada kesuksesan tanpa perjuangan. Dengan kesungguhan dan keyakinan untuk terus melangkah, akhirnya sampai dititik akhir penyelesaian skripsi. Namun, semua tak lepas dari uluran tangan berbagai pihak lewat dukungan, arahan, bimbingan, serta bantuan moril dan materil.

Motivasi dari berbagai pihak sangat membantu dalam perampungan tulisan ini. Segala rasa hormat, penulis mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua tercinta H. Munawar dan Hj. Hadariah yang hingga saat ini tak henti-hentinya mendoakan dan mendukung perjuangan selama ini. Demikian pula, penulis mengucapkan terimakasih kepada keluarga, yang tak hentinya memberikan motivasi dan menemaniku dengan candanya, kepada Dra. Hj. Syahribulan K, M.Pd. selaku dosen pembimbing I dan Rubianto, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan bimbingan, arahan serta motivasi sejak awal penyusunan proposal hingga selesainya skripsi ini.

(7)

Tidak lupa juga penulis mengucapkan terimakasih kepada; Prof. Dr. H.

Abdul Rahman Rahim, SE, MM., Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, dan Aliem Bahri, S.Pd., M.Pd., Ketua Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar serta seluruh dosen dan para staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah membekali penulis dengan serangkaian ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis.

Ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya juga penulis ucapkan kepada Kepala Sekolah, guru, staf SD Inpres Tala‟borong, dan Ibu Hasriani, S.Pd., selaku wali kelas IV di sekolah tersebut yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian. Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada sahabat, teman-teman PGSD angkatan 2015 serta kepada saudari A. Ayunita yang hingga penulisan skripsi ini selesai baik susah maupun senang selalu memotivasi dan mendukung penulis untuk terus berjuang.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran dari berbagai pihak yang sifatnya membangun karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan.

Mudah-mudahan skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca, terutama bagi diri pribadi penulis. Amin.

Makassar, Februari 2020

Penulis

(8)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

LEMBAR PENGESAHAN PANITIA UJIAN ... iii

HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ... iv

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... v

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... vi

SURAT PERJAJIAN PENULIS ... vii

ABSTRAK ...viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Relevan dan Teori-teori Pendukung ... 8

1. Hasil Penelitian yang Relevan ... 8

2. Strategi PAIKEM ... 9

3. Hasil Belajar... 18

4. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial ... 22

B. Kerangka Pikir ... 29

(9)

C. Hipotesis Tindakan ... 31

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 32

B. Lokasi dan Subjek Penelitian ... 32

C. Faktor yang Diselidiki ... 33

D. Prosedur Penelitian ... 33

E. Instrumen Penelitian ... 36

F. Teknik Pengumpulan Data ... 37

G. Teknik Analisis Data ... 38

H. Indikator Keberhasilan ... 39

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 40

B. Pembahasan ... 57

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 61

B. Saran ... 61 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN RIWAYAT HIDUP

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Tabel Siklus Kemmis dan Mc. Taggart ... 33

Tabel 3.2 Kategorisasi Hasil Belajar ... 38

Tabel 4.1 Aktifitas Positif Siswa Siklus I ... 41

Tabel 4.2 Aktifitas Negatif Siswa Siklus I ... 43

Tabel 4.3 Statistik Skor Hasil Pembelajaran IPS Siklus I ... 45

Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Skor Hasil Belajar IPS Siklus I ... 46

Tabel 4.5 Distribusi Ketuntasn Belajar Siswa Siklus I ... 47

Tabel 4.6 Aktifitas Positif Siswa Siklus II ... 50

Tabel 4.7 Aktifitas Negatif Siswa Siklus II ... 52

Tabel 4.8 Statistik Skor Hasil Pembelajaran IPS Siklus II ... 54

Tabel 4.9 Distribusi Frekuensi Skor Hasil Belajar IPS Siklus II ... 55

Tabel 4.10 Distribusi Ketuntasn Belajar Siswa Siklus II ... 56

Tabel 4.11 Perbandingan Hasil Belajar Siklus I dan Siklus II ... 56

(11)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Menurut UU No. 20 (2003:1) Pasal 1 : Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memilki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Kemudian pada Pasal 4 : Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan ktreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran.

Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (2013:1) berdasarkan permendikbud No 65. Tahun 2013, proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselengarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif;

kontekstual, dan kolaboratif; memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian peserta didik; dan sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.

Menurut Fatmah, (2018:59) Belajar merupakan proses yang dialami siswa dimana guru memiliki peran penting dalam pelaksanannya walaupun tidak dipungkiri terdapat berbagai hal lain yang dapat mempengaruhinya.

Tugas guru adalah merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan

(12)

pembelajaran. Guru berperan penting dalam membantu keberhasilan proses belajar siswa. Guru berperan dalam memfasilitasi dan menciptakan kondisi yang dapat mengarahkan siswa mencapai tujuan belajarnya dan tujuan pendidikan secara umumnya. Guru harus mampu merencanakan dan mengatur kegiatan belajar siswa melalui model-model pembelajaran.

Dalam model pembelajaran guru juga perlu menentukan strategi pengajaran yang tepat dalam pelaksanaanya. Sehingga dalam pelaksanaan pembelajaran guru berperan penting dalam pemilihan strategi/pendekatan dan model pembelajaran yang berdasarkan pada tujuan dan menentukan keberhasilan belajar siswa.

Menurut Mulyatiningsih (2010:213) “Pendekatan dan strategi pembelajaran mempunyai makna yang sama untuk menjelaskan bagaimana proses seorang guru mengajar dan peserta didik belajar dalam mencapai tujuan”. Untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka guru harus memilih dan melaksanakan strategi pengajaran yang tepat yakni bagaimana guru menkondisikan kegiatan pembelajaran efektif, sistematik, terencana, menyenangkan, berproses dan terevaluasi. Strategi yang dapat dilaksanakan guru adalah PAIKEM. Menurut Uno & Nurdin, (2011:144). berkesimpulan bahwa :

“Dimaksudkan dalam strategi karena bidang garapannya tertuju pada bagaimana cara; (1) pengorganisasian materi pelajaran, (2) menyampaikan atau menggunakan metode pelajaran, (3) mengelola pembelajaran sebagaimana yang dikehendaki oleh ilmuan pembelajaran”.

(13)

Menurut Fatmah (2018:60) Pemilihan strategi PAIKEM dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran diharapkan dapat memaksimalkan kegiatan belajar siswa. Pembelajaran aktif, inovatif, kreatif dan menyenagkan yang diupayakan guru dalampembelajaran diharapkan dapat memaksimalkan kegiatan belajar siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar siswa yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Pembelajaran yang saat ini dikembangkan dan banyak dikenalkan ke seluruh pelosok tanah air adalah Pembelajaran aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan atau disingkat dengan PAIKEM. Disebut demikian karena pembelajaran ini dirancang agar mengaktifkan dan mengembangkan kreatifitas anak, sehingga pembelajaran menjadi aktif dan tetap menyenangkan.

Sebagaimana survei yang telah dilakukan peneliti pada hari Selasa tanggal 5 Maret 2019 siswa kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa untuk pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial belum sesuai harapan karena rendahnya kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sehingga membutuhkan strategi tertentu untuk mengatasinya.

Pembelajaran yang dilakukan di kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa, guru memberikan pengajaran dengan metode ceramah yang umum digunakan oleh para pendidik. Akan tetapi masih perlu metode tambahan sehingga Kegiatan Belajar Mengajar

(14)

(KBM) menjadi menarik perhatian murid dan akan meningkatkan kemampuan murid dalam memahami pelajaran IPS dibanding dengan metode yang umum dilakukan guru agar nilai akhir yang dicapai murid bisa seperti yang diharapkan.

Di kelas IV selama ini muridnya masih kurang aktif, siswa yang aktif ada 5 orang siswa atau 35% dari 14 orang siswa, dan siswa yang mempunyai kemampuan menjawab hanya 3 orang siswa atau 15% dari 14 orang siswa pada hasil ulangan harian yang diperlihatkan pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, hasil yang dicapai siswa kelas IV SD Inpres Tala‟borong kurang dari yang diharapkan, dimana hanya mendapat daya serap kurang dari 50% nila rata-rata kelas atau Ketentuan Kriteria Minimal (KKM) kurang dari 70.

Peneliti melihat proses pembelajaran yang berlangsung saat survei di kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa, didapati sebagian murid didalam kelas tidak berkonsentrasi pada pembelajaran yang sedang diberikan oleh guru kelas, hal ini disebabkan penyampaian materi terlalu cepat dan murid tidak terlalu dilibatkan dalam proses pembelajaran, ditambah lagi dengan pemberian media pembelajaran kurang menarik bagi murid. Oleh karena itu, guru diharapkan memberikan pengajaran dengan memperhatikan pendekatan, metode dan strategi pembelajaran yang tepat, agar hasil belajar murid sesuai dengan harapan.

Berdasarkan fenomena tersebut, maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tindakan kelas tentang judul “Penerapan Strategi

(15)

PAIKEM Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa”.

Dari uraian latar belakang diatas, salah satu permasalahan utama dalam kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahian Sosial pada murid kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa adalah kecenderungan proses pembelajaran yang bersifat konvensional.

Alternatif pemecahan masalah dapat dilihat dari memperhatikan cara pengajaran yang digunakan guru dalam mengajarkan Ilmu Pengetahuan Sosial pada murid kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa. Adapun solusi pemecahan yang digunakan untuk membantu murid kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Ilmu Pengatahuan Sosial melalui penerapan strategi PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) karena pada hakekat dari strategi PAIKEM ini adalah murid bekerja dan berbuat sehingga merangsang daya ingat siswa terhadap pembelajaran yang di pelajarinya.

(16)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang, maka yang menjadi rumusan masalah pada penelitian ini yaitu : “Bagaimana penerapan strategi PAIKEM dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa?”.

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: “Untuk mengetahui penerapan strategi PAIKEM dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa”.

D. Manfaat Penelitian

Hasil dari pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini diharapkan memberikan manfaat yang berarti bagi murid, guru, dan sekolah serta sebagai suatu sistem pendidikan yang mendukung peningkatan proses belajar dan mengajar murid sebagai berikut :

1. Bagi Murid

Dari hasil penelitian ini, murid diharapkan memiliki kemampuan memahami pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dengan baik dan terampil dalam pembelajaran tersebut.

(17)

2. Bagi Guru

Diharapkan mendapatkan manfaat dan ilmu tentang strategi pembelajaran PAIKEM yang menjadi alternatif dalam peningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial murid. Dan dapat membantu guru untuk menentukan suatu teknik yang kreatif dan efektif yang dapat menunjang keberhasilan pembelajaran serta mampu menarik perhatian dan bakat minat murid.

3. Bagi Sekolah

Memberikan sumbangan yang baik bagi sekolah dalam rangka perbaikan proses pembelajaran, sehingga dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

4. Bagi Peneliti

Menambah wawasan tentang penerapan strategi pembelajaran PAIKEM dalam kegiatan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

(18)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian Relevan dan Teori-teori Pendukung 1. Hasil Penelitian yang Relevan

Penelitian dengan menggunakan strategi Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) cukup Banyak dilakukan diberbagai bidang ilmu dan mata pelajaran.

Penelitian yang relevan yang dilakukan oleh Lestari (2015:114) dengan Judul “Penerapan Strategi Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Di MI Negeri Krangean Kecamatan Kertanegara Kabupaten Purbalingga”. Pada penelitian ini, mendapatkan hasil yang signifikan karena pada proses penelitian yang dilakukan oleh Wahyu Widi Lestari dalam penerapan strategi PAIKEM pada mata pelajaran Bahasa Indonesia menerapkan kaidah-kaidah serta yang perlu diterapkan dalam menggunakan Bahasa Indonesia itu sendiri. Dan pada hasil akhir dapat diketahui bahwa penerapan strategi PAIKEM dapat mempengaruhi dan meningkatkan kualitas peserta didik dalam berbahasa khususnya dalam Bahasa Indonesia.

Penelitian yang relevan dengan strategi PAIKEM juga sebelumnya telah diteliti oleh Dwi Apriliana, (2014:78-79) dengan Judul “Penerapan Strategi PAIKEM Dalam Meningkatkan Kreativitas Karya Ilustrasi Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Seni Budaya Di Kelas VIII D SMPN 1 TURI”

hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi PAIKEM dapat

(19)

meningkatkan kreativitas karya ilustrasi peserta didik pada mata pelajaran seni budaya di kelas VIII D SMPN 1 TURI, terbukti dengan adanya peningkatan kreatifitas para siswa dalam membuat sebuah karya ilustrasi pada mata pelajaran seni budaya. Hasil penerapan strategi PAIKEM ini adalah rata-rata skor kelas VIII D yang tadinya hanya 2,93 pada pre-test, meningkat menjadi 3,22 pada siklus I, dan meningkat lagi menjadi 3,47.

Berarti terdapat skor peningkatan sebesar 0,54 dengan persentase peningkatan 18,43% yang diukur dari pre-test samapai siklus II. Dan jika di tinjau menurut kategori yaitu kurang kreatif pada awal atau pre-test menjadi cukup kreatif pada siklus I, dan meningkat lagi menjadi kreatif pada siklus II. Dengan demikian penerapan strategi PAIKEM dengan model teka-teki ini dapat dinyatakan berhasil, karena sudah memenuhi kriteria keberhasilan yaitu 79 tercapainya kategori kreatif pada rata-rata skor karya ilustrasi peserta didik kelas VIII D SMP N 1 Turi.

2. Strategi Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM)

a. Strategi Pembelajaran PAIKEM

Menurut Uno dan Nurdin. (2011:4) Strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Strategi pembelajaran yang akan dipilih oleh guru selayaknya didasari pada berbagai pertimbangan sesuai dengan kondisi, situasi dan lingkungan yang dihadapinya.

(20)

Dalam suatu pembelajaran, strategi sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan suatu pembelajaran itu sendiri. Ada banyak strategi yang bisa digunakan oleh tenaga pendidik untuk menyampaikan materi yang akan disampaikan sehingga peserta didik merasa suka dan tertarik dalam mengikuti pembelajaran tersebut.

Menurut Uno dan Nurdin (2011:10) Pada proses pembelajaran PAIKEM di dalamnya terjadi dialog yang interaktif antara siswa dengan guru, siswa dengan siswa dan siswa dengan sumber belajar lainnya. Dalam suasana pembelajaran seperti itu siswa tidak terbebani secara perseorangan dalam memecahkan masalah yang dihadapi dalam belajar, tetapi mereka dapat saling bertanya, berdiskusi sehingga beban belajar bagi meraka sama sekali tidak terjadi.

Menurut Iru dan La Ode (2012:96) PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan. Aktif yang dimaksudkan bahwa dalam proses pembelajaran guru harus mampu menciptakan suasana yang sedemikian rupa sehingga siswa aktif bertanya, mempertanyakan dan mengemukakan gagasan. Keadaan aktif dan menyenangkan tidaklah cukup jika proses pembelajaran tidak efektif yaitu tidak menghasilkan apa yang harus dikuasai siswa setelah proses pembelajaran berlangsung sebab pembelajaran memiliki sejumlah tujuan pembelajaran yang harus dicapai. Jika pembelajaran hanya aktif dan menyenangkan tapi tidak efektif, pembelajaran tersebut tak ubahnya seperti bermain biasa.

(21)

Menurut Hajar (2017:38), mengatakan bahwa: Sejarah PAIKEM pertama kali munculnya dikenal dengan istilah Pakem, semula dikembangkan dari AJEL (Active Joyful and Effective Learning). Untuk pertama kali di Indonesia yaitu pada tahun 1999 yang dikenal dengan istilah PEAM (Pembelajaran Efektif, Aktif dan Menyenangkan), Seiring dengan perkembangan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS), pada tahun 2002 istilah PEAM diganti menjadi PAKEM, yaitu kependekan dari Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan. Kemudian berkembang penamaannya menjadi PAIKEM penambahan kata Inovatif.

Menurut Hajar (2017:13), Pendekatan PAIKEM sebagai sebuah strategi pembelajaran, memiliki 5 kriteria yang bisa dipaparkan sebagai berikut:

1) Pembelajaran Aktif

Maksudnya adalah bahwa dalam proses pembelajaran guru harus menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga peserta didik aktif mengajukan pertanyaan, gagasan, mencari data dan informasi yang mereka perlukan untuk memecahkan masalah. Belajar memang merupakan suatu proses aktif dari peserta didik untuk membangun pengetahuan, bukan proses pasif yang hanya menerima penjelasan guru tentang pengetahuan. Senada dengan ini ada yang mengatakan pemebaljaran aktif itu adalah dalam proses pembelajaran yang mengajak peserta didik untuk belajar secara aktif.

Menurut Uno dan Nurdin. (2011:77) “Strategi pembelajaran yang aktif dalam proses pembelajaran adalah siswa diharapkan aktif terlibat

(22)

dalam kegiatan pembelajaran untuk berfikir, berinteraksi, berbuat untuk mencoba, menemukan konsep baru atau menghasilkan suatu karya”.

Menurut Remiswal dan Rezki (2013:79) bahwa :

proses pembelajaran adalah suatu proses yang sangat membutuhkan perilaku tolong menolong, pembelajaran aktif membutuhkan kerjasama antara beberapa komponen pembelajaran. Pada umumnya dalam pembelajaran aktif pendidik menggunakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama, maka disini dituntut untuk aktif dan saling bekerjasama dengan teman–temannya.

2) Pembelajaran Inovatif

Menurut Hartono (2013:151) Pembelajaran inovatif adalah : suatu proses belajar mengajar yang selalu menghadirkan sesuatu yang

baru sehingga mampu menghilangkan rasa jenuh dan bosan.

Pembelajaran inovatif selalu menghadirkan sesuatu yang baru dalam setiap elemen pendidikan, mulai dari aspek strategi guru, bahan, perangkat, dan beberapa elemen penting lainnya.

Pembelajaran inovatif ini tentunya berbeda jauh dari model pembelajaran konvensional yang memang sudah menjadi kebiasaan dalam pembelajaran. Guru mencoba untuk menanamkan pemikiran „Learning is fun‟ kepada semua peserta didiknya yang merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan dengan tenggang waktu tugas, kemungkinan kegagalan, keterbatasan pilihan, dan tentu saja rasa bosan.

3) Pembelajaran Kreatif

Mempunyai makna bahwa pembelajaran adalah proses pengembangan kreativitas peserta didik. Dalam kehidupan dan pekerjaan, baik secara pribadi maupun secara berkelompok. Maka guru dituntut untuk menciptakan kegiatan yang beragam sehingga memenuhi berbagai tingkat kemampuan peserta didik. Strategi mengajar untuk mengembangkan kreativitas siswa adalah sebagai berikut:

(23)

a) Memberi kebebasan pada siswa untuk mengembangkan gagasan dan pengetahuan baru

b) Bersikap respek dan menghargai ide–ide siswa c) Penghargaan pada inisiatif dan kesadaran diri siswa

d) Penekanan pada proses, bukan penilaian hasil akhir pada siswa

e) Memberikan waktu yang cukup untuk berfikir dan menghasilkan karya.

f) Mengajukan pertanyaan untuk menggugah kreativitas seperti

“Mengapa”, “Bagaimana”, “apa yang terjadi jika” dan bukan pertanyaan “apa” dan “kapan”

4) Pembelajaran Efektif

Efektifitas menjadi poin penting dalam proses pembelajaran. Efektif tidaknya sebuah pembelajaran bisa dilihat dari sejauh mana sasaran minimal dari kompetensi dasar yang telah ditetapkan itu tercapai. Agar proses pembelajaran menjadi efektif, menurut Hartono (2013:160) ada beberapa hal yang patut dimiliki guru, antara lain sebagai berikut:

a) Menguasai materi dengan baik, b) Menguasai strategi dengan baik c) Memahami gaya belajar siswa, d) Memotivasi siswa.

(24)

5) Pembelajaran Menyenangkan

Dimaksudkan bahwa proses pembelajaran harus berlangsung dalam suasana yang menyenangkan dan mengesankan sehingga tujuan pembelajaran akan dapat tercapai dengan maksimal. Menurut Amri dan Iif Khoiru (2010:134-137) menyatakan bahwa, penerapan PAIKEM dalam proses pembelajaran dapat digambarkan sebagai berikut:

a) Siswa langsung terlibat berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui praktik,

b) Guru dituntut menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa,

c) Guru harus bisa mengatur kelas dengan berbagai variasi seperti memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan alat-alat pembelajaran,

d) Guru menerapkan tentang cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok dalam segala suasana,

e) Guru mendorong, memberikan hasil siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

Berdasarkan permasalahan diatas, pembelajaran perlu dibenahi agar hasil belajar siswa menjadi optimal. Solusi yang dapat dilakukan adalah menggunakan pendekatan PAIKEM dalam pembelajaran. Pendekatan PAIKEM merupakan implementasi proses learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Menurut Amri dan Lif Khoiru (2010:13), “PAIKEM adalah singkatan dari Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan”.

(25)

Menurut Jauhar (2011:150) menyatakan bahwa :

Pendekatan PAIKEM dapat didefinisikan sebagai pendekatan mengajar „approach to teaching‟ yang digunakan bersama metode tertentu dan pelbagai media pengajaran yang disertai penataan lingkungan sedemikian rupa agar proses pembelajaran menjadi aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.

Dengan demikian, para siswa merasa tertarik dan mudah menyerap pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan. Selain itu, PAIKEM juga memungkinkan siswa melakukan kegiatan yang beragam untuk mengembangkan sikap, pemahaman, dan keterampilannya sendiri dalam arti tidak semata–mata disuapi guru."

Dari pemaparan pendekatan PAIKEM tersebut, pembelajaran dengan pendekatan PAIKEM sangat mendukung dalam pembelajaran, khususnya pada pelajaran IPS. Jika melihat potensi, situasi, dan kondisi SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa sesungguhnya lingkungan sekolah sangat mendukung kegiatan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Begitu pula ditinjau berdasarkan karakteristik anak, para siswa di sekolah tersebut masih senang bermain sambil belajar dan senang mencoba-coba (memiliki rasa ingin tahu) terhadap segala hal yang baru dilihat dan didengar anak.

Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan pendekatan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan (PAIKEM) dalam pembelajaran IPS. Penggunaan pendekatan ini dalam pembelajaran membuat siswa lebih berpartisipasi secara aktif dan dapat merangsang kreatifitas siswa untuk terus mengembangkan kemampuan imajinasi dan daya cipta siswa.

(26)

Pembelajaranpun akan menjadi menyenangkan dan lebih bermakna.

Sehingga hasil belajar siswa di kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa dapat menjadi lebih baik.

b. Langkah-langkah dan Proses Pelaksanaan PAIKEM

Sebagai tahapan strategis pencapaian kompetensi, kegiatan PAIKEM perlu didesain dan dilaksanakan secara efektif dan efisien sehingga memperoleh hasil maksimal.

PAIKEM dapat diterapkan pada pembelajaran kontekstual dengan pendekatan konstruktivisme dipandang sebagai salah satu strategi yang memenuhi prinsip pembelajaran berbasis kompetensi. Dengan lima strategi pembelajaran kontekstual (contextual teaching and learning), yaitu relating, experiencing, applying, cooperating, dan transfer ini diharapkan peserta didik mampu mencapai kompetensi secara maksimal.

Pemilihan strategi ekspositori dilakukan atas pertimbangan : a. Karakteristik peserta didik dengan kemandirian belum memadai;

b. Sumber referensi terbatas;

c. Jumlah pesera didik dalam kelas banyak;

d. Alokasi waktu terbatas; dan

e. Jumlah materi (tuntutan kompetensi dalam aspek pengetahuan) atau bahan banyak. (Tim Pengembang MKDP, 2012:24).

(27)

c. Hal-hal yang Perlu diperhatikan dalam Melaksanakan PAIKEM Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa.

Hamdani (2011:106), mengemukakan bahwa :

Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan PAIKEM yakni ; Memahami sifat yang dimiliki anak, mengenal anak secara perorangan, memanfaatkan perilaku anak dalam perorganisasian belajar, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah, mengembangkan ruang kelas sebagai lingkungan belajar yang menarik, memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar, memberikan umpan balik yang baik untuk meningkatkan kegiatan belajar, membedakan antara aktif fisik dan aktif mental.

d. Kelebihan dan Kekurangan PAIKEM 1. Kelebihan PAIKEM

a) PAIKEM merupakan pembelajaran yang mengembangkan kecakapan hidup

b) Dalam PAIKEM siswa belajar bekerja sama

c) PAIKEM mendorong siswa menghasilkan karya kreatif d) PAIKEM mendorong siswa untuk terus maju mencapai sukses e) PAIKEM menghargai potensi semua siswa

f) Program untuk meningkatkat PAIKEM di sekolah harus ditingkatkan kuantitas dan kualitasnya

g) Peserta didik akan lebih termotivasi untuk belajar karena adanya variasi dalam proses pembelajaran

2. Kekurangan PAIKEM

a) Membutuhkan waktu yang lebih lama untuk siswa sehingga sulit mencapai target kurikulum

(28)

b) Membutuhkan kemampuan khusus guru sehingga tidak semua guru dapat melakukannya.

c) Karena guru memainkan peran pusat dalam model ini, kesuksesan strategi pembelajaran ini bergantung pada image guru.

d) Membutuhkan dana, dalam pembelajaran PAIKEM sering kita memakai media sehingga membutuhkan biaya yang lebih untuk menunjang proses pembelajaran

e) Pengembangan RPP, dalam pembelajaran PAIKEM guru dituntut untuk kerja extra dalam pengembangan pembuatan RPP agar dapat menciptakan pembelajaran yang diinginkan

f) Manajemen kelas, “dalam pembelajaran ini guru harus selalu dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif dan menyenangkan”.(Rani Novianti, 2017:32)

3. Hasil Belajar

a. Pengertian Hasil Belajar

Sebelum membahas tentang pengertian hasil belajar. Maka kita harus memahami pengertian belajar itu sendiri. Menurut Slameto (2010:2) dapat didefinisikan sebagai berikut:

Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Artinya belajar selalu menekankan pada proses sehingga seseorang dapat merasakan adanya perubahan perilaku. Belajar juga berarti tidak hanya dikelas saja melainkan sesuatu yang mengakibatkan perubahan perilaku. Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan

(29)

unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan.

Menurut Nurochim (2013:14-15) ada tiga domain belajar yaitu : 1) Cognitive Domain (Kawasan Kognitif) merupakan kawasan yang

berkaitan dengan aspek-aspek intelektual atau secara logis yang bisa diukur dengan pikiran atau nalar. Kawasan ini terdiri dari :

a. Pengetahuan (Knowledge) b. Pemahaman (Comprehension) c. Penerapan (Aplication)

d. Penguraian (Analysis) e. Memadukan (Synthesis) f. Penilaian (Evaluation)

2) Affective Domain (Kawasan Afektif) merupakan kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral, dan sebagainya. Kawasan ini terdiri dari:

a. Penerimaan (receiving / attending) b. Sambutan (responding)

c. Penilaian (valuing)

d. Pengorganisasian (organization) e. Karakterisasi (characterization)

3) Psychomotor Domain (Kawasan Psikomotorik) merupakan kawasan yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem saraf dan otot (neuromuscular system) dan fungsi psikis.

Kawasan ini terdiri dari :

(30)

a. Kesiapan (set) b. Meniru (imitation) c. Membiasakan (habitual) d. Adaptasi (adaption)

Menurut Sudjana (2016:22), hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Kegiatan akhir dalam pembelajaran adalah proses evaluasi yang bertujuan untuk mengetahui hasil belajar yang telah diperoleh siswa.

Sebelum melaksanakan penilaian, seorang guru harus tahu apa yang harus dinilai serta bagaimana cara menilainya. Secara sederhana, hasil belajar merupakan perubahan perilaku anak setelah melalui kegiatan belajar.

Menurut Purwanto, (2014:45) “Hasil belajar adalah perubahan yang mengakibatkan manusia berubah dalam sikap dan tingkah lakunya”.

Menurut Sudjana (2016:23) menyatakan, “Hasil belajar merupakan keseluruhan pola perilaku baik yang bersifat kognitif, afektif maupun psikomotor yang diperoleh peserta didik setelah mengikuti proses belajar mengajar”.

Hasil belajar adalah kemapuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Menurut Jihad dan Haris (2013:14) “Hasil belajar itu sediri merupakan suatu proses dari seseorang yang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relative menetap”. Menurut Jihad dan Haris (2013:15) “hasil belajar adalah pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian dan sikap-sikap, serta apersepsi dan abilitas guru untuk menyamapikan materi pelajaran pada siswa yang lebih baik dari sebelumnya”. Menurut Jihad dan Haris (2013:15) berendapat, hasil belajar

(31)

adalah “kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa ia menerima pengalaman belajarnya”.

Menurut Jihad dan Haris (2013:16) menyatakan bahwa “hasil belajar yang dicapai oleh siswa sangat erat kaitanya dengan rumusan tujuan instruksional yang direncanakan guru sebelumnya yang dikelompokan kedalam tiga katagori, yakni domain kognitif, efektif, dan psikomotor”.

Dari penjelasan di atas dijelaskan bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil proses pembelajaran diri sendiri dari pengaruh lingkungan. Baik perubahan kognitif, afektif, maupun psikomotor dalam diri siswa.

b. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Menurut Rusman, (2012:124) antara lain meliputi faktor internal dan faktor eksternal:

1. Faktor Internal a) Faktor Fisiologis.

Secara umum kondisi fisiologis, seperti kesehatan yang prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani dan sebagainya. Hal tersebut dapat mempengaruhi peserta didik dalam menerima materi pelajaran.

b) Faktor Psikologis.

Setiap indivudu dalam hal ini peserta didik pada dasarnya memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda, tentunya hal ini turut mempengaruhi hasil belajarnya. Beberapa faktor psikologis meliputi intelegensi (IQ),

(32)

perhatian, minat, bakat, motif, motivasi, kognitif dan daya nalar peserta didik.

2. Faktor Eksternal a) Faktor Lingkungan.

Faktor lingkungan dapat mempengaruhi hasil belajar. Faktor lingkungan ini meliputi lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan alam misalnya suhu, kelembaban dan lain-lain. Belajar pada tengah hari di ruangan yang kurang akan sirkulasi udara akan sangat berpengaruh dan akan sangat berbeda pada pembelajaran pada pagi hari yang kondisinya masih segar dan dengan ruangan yang cukup untuk bernafas lega.

b) Faktor Instrumental.

Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan.

Faktor-faktor ini diharapkan dapat berfungsi sebagai sarana untuk tercapainya tujuan-tujuan belajar yang direncanakan. Faktor-faktor instrumental ini berupa kurikulum, sarana dan guru.

4. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial a. Pengertian pembelajaran IPS

Pembelajaran merupakan salah satu tugas utama guru. Istilah pembelajaran merupakan terjemahan dari kata instruction. Menurut Sutikno, (2014:11) pembelajaran adalah “serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa”. Dalam kamus Bahasa

(33)

Indonesia, pembelajaran menekankan pada proses, cara, perubahan menjadikan orang atau mahluk hidup belajar. Pembelajaran dapat diartikan juga sebagai kegiatan yang ditunjukan untuk membelajarkan siswa.

Menurut Sutikno, (2014:11) “pembelajaran adalah usaha-usaha yang terencana dalam memanipulasi sumber-sumber belajar agar terjadi proses belajar dalam diri siswa”. Pembelajaran menurut Sutikno, (2014:12) merupakan “seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar peserta didik, dengan memperhitungkan kejadiankejadian eksternal yaang berperan terhadap rangkaian kejadian-kejadian internal yang berlangsung didalam siswa”. Sutikno, (2014:12) mengartikan pembelajaran sebagai “upaya untuk mempelajarkan pelajar”.

Dari beberapa pengertian pembelajaran tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah segala upaya yang dilakukan oleh pendidik agar terjadi proses belajar pada diri siswa. Secara implisit didalam pembelajaran, ada kegiatan memilih, menetapkan dan mengembangkan metode atau model untuk mencapai hasil pembelajaran yang diinginkan.

Pendidikan IPS merupakan program pendidikan yang banyak mengandung muatan nilai sebagai salah satu karakteristiknya. Menurut Rudy Gunawan (2011:39) menyatakan bahwa: “IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di SD yang mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial”. Ilmu pengetahuan sosial sebagai mata pelajaran tidak semata membekali ilmu saja lebih dari itu membekali juga sikap atau nilai dan keterampilan dalam

(34)

hidup bermasyarakat sehingga mereka mengetahui benar lingkungan, masyarakat dan bangsanya dengan berbagai karakteristiknya.

Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPS SD mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial, memuat materi geografi, sejarah, sosiologi, dan ekonomi. Sistem pengajarannya menelaah dan mengkaji gejala atau masalah sosial dan berbagai aspek kehidupan soial, serta pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis.

b. Pendapat Para Ahli Tentang Ilmu Pengetahuan Sosial

Menurut Sapriya (2009) IPS di tingkat sekolah pada dasarnya bertujuan untuk mempersiapkan para peserta didik sebagai warga negara yang menguasai pengetahuan (knowledge), keterampilan (skills), sikap dan nilai (attitudes and value) yang dapat digunakan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah sosial serta kemampuan mengambil keputusan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan agar menjadi warga negara yang baik.

Menurut Hasanah (2013) bahwa IPS adalah pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk pendidikan tingkat SD, SLTP, dan SLTA.

Penyederhanaan disini mengandung arti menurunkan tingkat kesukaran ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di universitas menjadi pelajaran yang sesuai dengan kematangan berfikir siswa siswi sekolah dasar dan

(35)

lanjutan, dan mempertautkan serta memadukan bahan aneka cabang ilmu- ilmu sosial dan kehidupan masyarakat sehingga menjadi pelajaran yang mudah dicerna.

Berdasarkan dari berbagai pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan ilmu kajian tentang kahidupan manusia sebagai individu sekaligus sebagai makhluk sosial yang berinterkasi dengan lingkungannya. Dengan kata lain bahwa Ilmu Pengetahuan Sosial memiliki kajian yang sangat kompleks tentang kehidupan manusia dan lingkungannya berserta aspek-aspek kehidupan manusia itu sendiri. Oleh karena itu peserta didik yang merupakan bagian dari masyarakat perlu diberikan menguasai Ilmu Pengetahuan Sosial sebagai bekal hidupnya kelak.

c. Ruang Lingkup Ilmu Pengetahuan Sosial

Dalam ruang lingkup mata pelajaran IPS dalam kurikulum KTSP 2006 (2011: 17) meliputi aspek-aspek sebagai berikut:

a) Manusia, tempat, dan lingkungan b) Keberlanjutan dan perubahan c) Sistem Sosial dan budaya

d) Perilaku ekonomi dan kesejahteraan

d. Hakikat Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial

Hakikat dari IPS terutama jika disorot dari anak didik adalah: Sebagai pengetahuan yang akan membina para generasi muda belajar ke arah positif yakni mengadakan perubahan-perubahan sesuai kondisi yang diinginkan

(36)

oleh dunia modern atau sesuai daya kreasi pembangunan serta prinsip- prinsip dasar dan sistem nilai yang dianut masyarakat serta membina kehidupan masa depan masyarakat secara lebih cemerlang dan lebih baik untuk kelak diwariskan kepada keturunannya secara lebih baik. IPS sebagai paduan dari sejumlah subjek (ilmu) yang isinya menekankan pembentukan warga negara yang baik daripada menekankan isi dan disiplin subjek tersebut.

Bidang pengajaran IPS terutama akan berperan dalam pembinaan kecerdasan keterampilan, pengetahuan, rasa tanggung jawab, dan demokrasi. Pokok-pokok persoalan yang dijadikan bahan pembahasan difokuskan pada masalah kemasyarakatan Indonesia yang aktual. IPS mengemban dua fungsi utama yaitu, membina pengetahuan, kecerdasan dan keterampilan yang bermanfaat bagi pengembangan dan kelanjutan pendidikan siswa dan membina sikap yang selaras dengan nilai-nilai Pancasila dan UUD 45.

e. Tujuan Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar Menurut Daryanto (2013:128) “Kecenderungan yang ada siswa tidak begitu menyukai buku-buku teks apalagi yang tidak disertai gambar dan ilustrasi yang menarik”. Oleh karena itu, untuk mengefektifkan pembelajaran IPS dalam rangka menciptakan pembelajaran bermakna, guru dapat secara kreatif memilih media maupun metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan.

(37)

Menurut Rudy Gunawan (2011:37) mengemukakan bahwa:

Pembelajaran IPS bertujuan membentuk warga negara yang berkemampuan sosial dan yakin akan kehidupannya sendiri di tengah-tengah kekuatan fisik dan sosial, yang pada gilirannya akan menjadi warga negara yang baik dan bertanggung jawab, sedangkan ilmu sosial bertujuan menciptakan tenaga ahli dalam bidang ilmu sosial.

Menurut Rudy gunawan, (2011:21) menyatakan bahwa:

Tujuan Pengajaran IPS disekolah tidak lagi semata-mata untuk memberi pengetahuan dan menghapal sejumlah fakta dan informasi akan tetapi lebih dari itu. Para siswa selain diharapkan memiliki pengetahuan mereka juga dapat mengembangkan keterampilannya dalam berbagai segi kehidupan dimulai dari keterampilan akademiknya sampai pada keterampilan sosialnya.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran IPS adalah membantu tumbuhnya warga negara yang baik dapat mengembangkan keterampilannya dalam berbagai segi kehidupan dimulai dari keterampilan akademiknya sampai pada keterampilan sosialnya.

Pada jenjang pendidikan tingkat dasar, mata pelajaran IPS merupakan gabungan dari berbagai ilmu pengetahuan yang didalamnya terdapat pengorganisasian dan pengayaan dari materi Geografi, Sejarah, Antropologi, Sosiologi dan Ekonomi. Konsep dasar mempelajari IPS ditingkat Sekolah Dasar bermanfaat, karena dalam proses pebelajaran IPS anak dapat mengaitkan berbagai fakta, gagasan dan peristiwa dari materi yang dipelajari, sehingga mereka akan lebih mudah menarik kesimpulan dari topik materi yang diajarkan oleh guru IPS.

Dalam hal ini siswa diajak untuk berpikir kritis dalam menyikapi masalah-masalah sosial yang ada disekitarnya dan mampu memberikan gambaran atau contoh dari lingkungan domestik mereka tinggal. Contoh

(38)

yang ditemukan dimulai dari yang sederhana kemudian mampu memberikan contoh yang lebih kompleks.

f. Komponen Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Sekolah Dasar

Komponen pembelajaran IPS di Sekolah Dasar diarahkan pada komponen sistem pembelajaran yang meliputi :

1. Komponen input, yaitu perilaku awal (entry behavior) siswa.

2. Komponen input instrumental, kemampuan profesional guru/tenaga kependidikan.

3. Komponen kurikulum (program studi, metode dan media).

4. Komponen administrative (alat, waktu dan dana).

5. Komponen proses, yaitu prosedur pelaksanaan pembelajaran, dan 6. Komponen output yaitu hasil yang menandai ketercapaian tujuan

pembelajaran.

(39)

B. Kerangka Pikir

Salah satu fenomena dalam pembelajaran ilmu pengetahuan sosial yaitu rendahnya hasil belajar murid, hal ini disebabkan karena dalam pembelajaran IPS di SD, guru lebih sering menggunakan metode ceramah.

Ceramah adalah suatu cara mengajar yang digunakan untuk menyampaikan keterangan atau informasi atau uraian tentang suatu pokok persoalan serta masalah secara lisan.

Dalam metode ceramah, siswa hanya berperan sebagai penerima dan tidak diajarkan untuk berpikir kritis. Dalam PAIKEM bukan hanya guru, tetapi siswa juga berperan aktif dalam proses pembelajaran baik secara individu maupun berkelompok. Sebagaimana Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAIKEM) dalam penerapannya pada pembelajaran membuat siswa lebih berpartisipasi secara aktif dan dapat merangsang kreatifitas siswa untuk terus mengembangkan kemampuan imajinasi dan daya cipta siswa. Pembelajaranpun akan menjadi menyenangkan dan lebih bermakna.

Dari uraian di atas maka penulis melakukan penelitian untuk mengetahui terdapat atau tidaknya pengaruh penerapan metode PAIKEM dalam mata pelajaran IPS terhadap hasil belajar siswa kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa.

(40)

Berikut skema kerangka pikir pada penelitian ini :

Kondisi Awal

ASPEK MURID 1. Pemahaman tentang materi rendah

2. Kurang dilibatkan dalam proses pembelajaran 3. Hasil belajar rendah

ASPEK GURU

1. Metode pengajaran yang monoton (ceramah dan tanya jawab)

2. Berpatokan pada kurikulum tanpa memperhatikan pemahaman murid.

3. Kurang mengaktifkan murid dalam pembelajaran.

Tindakan

Menerapkan strategi Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) untuk meningkatkan Hasil Belajar murid kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kabupaten Gowa dengan menggunakan siklus 1 dan siklus 2.

Kondisi Akhir Hasil belajar murid tentang materi pembelajaran IPS meningkat

(41)

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka pikir di atas maka rumusan hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah “Jika strategi PAIKEM diterapkan dalam pembelajaran Ilmu pengetahuan Sosial (IPS) maka hasil belajar murid kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa dapat meningkat”.

(42)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (classroom action research) Kemmis dan Mc. Taggart (1988) : PTK adalah studi yang dilakukan untuk memperbaiki diri sendiri, pengalaman kerja sendiri yang dilaksanakan secara sistematis, terencana, dan dengan sikap mawas yang dilakukan secara bersiklus Kemmis dan Mc. Taggart. Secara utuh Kemmis dan Taggart (Arikunto, 2010: 138-140) tahap-tahap penelitian tindakan yang dilakukannya, yaitu :

1. PLAN (perencanaan)

2. ACT (Pelaksanaan Tindakan) 3. OBSERVE (Pengamatan) 4. REFLECT (Refleksi)

B. Lokasi dan Subjek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa dengan subjek penelitian kelas IV yang berjumlah 14 murid. Waktu pelaksanaan kegiatan penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2019/2020.

(43)

C. Faktor yang Diselidiki

Adapun faktor yang diselidiki ialah sebagai berikut:

1. Faktor proses pembelajaran yaitu melihat terjadinya interaksi antara guru dengan siswa maupun sebaliknya saat proses belajar mengajar berlangsung.

2. Faktor hasil yaitu dengan melihat hasil belajar siswa dalam pembelajaran yang diberikan terkait dengan aspek kognitif, afektif dan psikomotor siswa.

D. Prosedur Penelitian

Penelitian tindakan ini dilaksanakan di dalam kelas. Desain ini dipilih karena masalah utama muncul dari praktik pembelajaran di kelas sebagai upaya peningkatan hasil belajar siswa melalui pendekatan PAIKEM, prosedur penelitian tindakan ini tampak pada alur pelaksanaan tindakan berikut:

Tabel 3.1 Siklus Kemmis dan Mc. Taggart Perencanaan

Pelaksanaan Observasi

Siklus I Refleksi

Pelaksanaan Siklus II

Observasi Refleksi

Perencanaan

(44)

Pada Penelitian Tindakan Kelas terdapat beberapa tahapan/siklus hingga tujuan dari penelitian dapat tercapai. Dan adapun gambaran kerangka operasional setiap siklus dalam penelitian yakni sebagai berikut :

1. Siklus I

Data setiap siklus dipaparkan secara terpisah, untuk melihat adanya persamaan, perbedaan, dan perkembangan setiap siklus. Setiap siklus memiliki tahap-tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi.

a. Perencanaan

Pelaksanaan perencanaan pembelajaran yang akan dilakukan untuk meningkatkan hasil belajar IPS melalui strategi PAIKEM pada murid kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa, dimulai dengan menyusun perencanaan pembelajaran (RPP) pada materi pelajaran IPS dengan cara melakukan diskusi terlebih dahulu antara peneliti dengan guru kelas, kemudian menyusun lembar observasi dan lembar kegiatan murid.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan kegiatan dilakukan berdasarkan uraian berikut:

1. Peneliti mengamati secara totalitas jalannya pembelajaran.

2. Guru melaksanakan proses belajar yang telah direncanakan sebelumnya yaitu dengan menerapkan strategi PAIKEM dalam pembelajaran IPS pada murid kelas IV SD Inpres Tala‟borong.

(45)

c. Observasi

Kegiatan observasi dapat terlaksana apabila ada kerjasama antara guru dengan peneliti pada saat dilaksanakan penelitian, maka akan diketahui hasil pelaksanaan dari siklus I.

d. Refleksi

Pelaksanaan refleksi pembelajaran IPS melalui strategi PAIKEM dilakukan dengan berpedoman pada langkah-langkah yang telah direncanakan sebelumnya. Selanjutnya peneliti dan guru dengan cara berkolaborasi melaksanakan penelitian. Hasil belajar murid melalui Strategi PAIKEM dianalisis untuk menentukan tingkat kemampuan rata- rata dengan klasifikasi yang telah ditentukan. Dari hasil refleksi siklus I dapat menjadi dasar penyusunan pembelajaran pada siklus II.

2. Siklus II a. Perencanaan

Pembelajaran pada siklus II dilakukan dengan mempertimbangkan hasil pelaksanaan siklus I. Perencanaan pembelajaran pada siklus I proses pembelajaran yang telah memenuhi standar tetap dipertahankan, peneliti merumuskan sejumlah perubahan atau perbaikan dari yang telah dilakukan pada siklus I, kemudian peneliti membuat rencana baru dengan sejumlah perbaikan untuk mencapai nilai yang lebih baik.

b. Pelaksanaan

Penilaian dalam penelitian ini dirancang dengan dua penilaian, yaitu penilaian proses dan penilaian hasil belajar. Penilaian proses dilakukan

(46)

dengan mengamati kegiatan murid pada saat kegiatan pembelajaran IPS berlangsung. Hal yang dinilai adalah keadaan murid yang meliputi apa yang dilakukan, kesulitan murid dan cara mengatasinya. Untuk penelitian hasil belajar dilakukan dengan menilai hasil belajar murid pada akhir pertemuan siklus I dan siklus II.

c. Observasi

Semua aktivitas pembelajaran pada siklus II merupakan perbaikan pembelajaran siklus I yang mengacu pada hasil observasi dari siklus I.

dan akan diketahui peningkatan dari hasil pengamatan observasi yang dilaksanakan pada siklus II dalam keberhasilan strategi pembelajaran yang di terapkan pada pembelajaran.

d. Refleksi

Hasil observasi terhadap keterlaksanaan seluruh rangkaian pembelajaran, seluruh aktivitas siswa dan hasil tes pada siklus II diharapkan meningkat dari siklus I dan telah memenuhi kriteria penilaian yang telah ditetapkan.

E. Instrumen Penelitian

Sebelum dilaksanakannya penelitian, maka disusun berbagai instrumen terlebih dahulu yang akan digunakan selama pelaksanaan penelitian. Dan penelitian ini menggunakan instrumen yaitu melalui lembar observasi, tes objektif/essay dan Check List Dokumentasi.

(47)

F. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data dibedakan menjadi dua, yaitu metode pokok dan metode bantu.

1. Metode Pokok

Metode pokok yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi. Teknik ini menuntut adanya pengamatan dari peneliti secara langsung maupun tidak langsung terhadap obyek penelitiannya.

Pengumpulan data melalui observasi dilakukan oleh peneliti dibantu oleh seorang guru pada kelas yang dipakai untuk penelitian agar diperoleh gambaran secara langsung proses pembelajaran di kelas.

2. Metode Bantu a. Catatan lapangan

Dalam penelitian ini catatan lapangan yang digunakan adalah model catatan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dengan wali kelas IV.

b. Dokumentasi

Dokumen yang digunakan untuk memperoleh data sekolah misalnya daftar hadir, satuan pelajaran, dan data identitas peserta didik antar lain seperti nama peserta didik, nomor induk peserta didik, dengan melihat dokumentasi yang ada di sekolah.

c. Tes

Tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes tertulis bentuk pilihan ganda dan uraian. Tes ini digunakan untuk memperoleh data

(48)

mengenai perkembangan belajar siswa dalam Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan penerapan strategi PAIKEM.

G. Teknik Analisis Data

Deskripsi tentang penerapan strategi PAIKEM dijelaskan berdasarkan tahap-tahap dalam strategi PAIKEM, sedangkan deskripsi tentang keberhasilan belajar siswa didasarkan pada hasil belajarnya. Pengkategorian yang digunakan untuk mengkategorikan hasil belajar siswa dalam penelitian ini ada 4 kategori yaitu A (Sangat Baik), B (Baik), C (Cukup) dan D (Perlu Bimbingan) Skor tersebut dikategorikan berdasarkan teknik kategorisasi dengan empat Presentase seperti tabel berikut ini:

Tabel 3.2 Kategorisasi Hasil Belajar

Presentase Kategori

91-100 A (Sangat Baik)

81-90 B (Baik)

70-80 C (Cukup)

0-69 D (Perlu Bimbingan)

Sumber : SD Inpres Tala‟borong

Hasil kategorisasi skor perolehan, kemudian dipresentasi sesuai dengan tingkat kecendrungan data. Hal tersebut yang menggambarkan nilai masing-masing ketegori variabel.

(49)

H. Indikator Keberhasilan

Untuk memberikan gambaran tentang keberhasilan hasil penelitian ini, maka penulis menetapkan indikator keberhasilan hasil penelitian sebagai berikut :

1. Dalam penelitian ini diterapkan ketuntasan belajar secara individual, dengan kriteria minimal 70

2. Secara klasikal dinyatakan tuntas apabila nilai murid mencapai 71%

dari jumlah keseluruhan murid.

Rumus =

(50)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 23 November 2019 – 23 Januari 2020 dan penelitian tindakan kelas dilaksanakan pada tanggal 04-07 Desember 2019 untuk siklus I dan 15-18 Januari 2020 untuk siklus II. Data penelitian diperoleh dari 2 siklus yang terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi. Adapun hasil penelitian dapat peneliti uraikan sebagai berikut:

1. Paparan kegiatan siklus I

Siklus I dilaksanakan melalui empat tahap yaitu:

a. Perencanaan

Tahap perencanaan yang dilakukan oleh peneliti meliputi permintaan ijin kepada kepala sekolah serta para guru untuk melaksanakan penelitian di kelas IV SD Inpres Tala‟borong.

Peneliti dan guru kelas IV melakukan diskusi seputar kondisi kelas dan membahas rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dengan menerapkan metode yang akan dibawakan oleh peneliti.

Peneliti membuat RPP sesuai dengan format yang digunakan oleh SD Inpres Tala‟borong dan menerapkan Strategi PAIKEM sesuai dengan materi pembelajaran untuk melihat keefisienan dan ketercapaian hasil belajar dari penelitian yang dilakukan peneliti.

(51)

b. Tindakan

Pada tahap pelaksanaan siklus I peneliti melakukan pertemuan sebanyak empat kali yaitu pada tanggal 04 – 06 Desember 2019 proses pemberian tindakan diterapkan strategi PAIKEM dan pada tanggal 07 Desember 2019 dilakukan tes untuk siklus I.

c. Observasi dan Evaluasi

1) Hasil Observasi Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus I

Hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I dicatat dalam suatu lembar observasi. Hasil observasi aktivitas siswa dibagi menjadi dua kategori, yaitu : aktivitas positif siswa dan aktivitas negatif siswa. Hasil observasi aktivitas positif dan negatif siswa pada siklus I dinyatakan dalam tabel. Berikut tabel aktivitas siswa :

Tabel 4.1 Aktivitas Positif siswa

No. Aktivitas Positif Siswa

Pertemuan Ke-

Rata-Rata Persentase 1 2 3 (%)

1 Berpartisipasi pada kegiatan awal pembelajaran

5 8 12 31,67 75,40

2 Mencatat materi 6 9 11 27,33 65,08

3 Menanggapi bahan ajar yang ditampilkan guru

4 8 8 26,67 63,49

4 Memberi respon positif terhadap bahan ajar yang telah dibagikan

4 7 9 28,33 67,46

5 Kerjasama kelompok 7 7 10 33,00 78,57

6 Kerjasama pada fase berfikir bersama

6 6 7 27,67 65,87

7 Memberi respon positif pada fase menjawab pertanyaan

4 6 11 26,67 63,49

Rata-rata persentase aktivitas positif siswa pada siklus I 68,48

(52)

Berdasarkan data pada tabel 4.1 tersebut maka dapat dideskripsikan bahwa pada pertemuan pertama, siswa yang berpartisipasi pada kegiatan awal pembelajaran ada 5 orang siswa dan mencatat materi yang diberikan ada 6 siswa, menanggapi bahan ajar yang ditampilkan hanya 4 orang, memberi respon positif terhadap bahan ajar yang dibagikan ada 4 orang dan pada saat mengerjakan suatu kegiatan dengan berkelompok ada 7 orang siswa yang berperan. Sedangkan pada fase berfikir bersama hanya 6 orang siswa yang aktif dan yang memberikan respon positif pada fase menjawab pertanyaan pada pertemuan pertama ini hanya ada 4 orang siswa.

Pada pertemuan selanjutnya yaitu pertemuan ke dua di siklus I ini siswa yang berpartisipasi pada kegiatan awal pembelajaran ada 8 orang siswa dan mencatat materi yang diberikan ada 9 siswa, menanggapi bahan ajar yang ditampilkan bertambah menjadi 8 orang, memberi respon positif terhadap bahan ajar yang dibagikan ada 7 orang dan pada saat mengerjakan suatu kegiatan dengan berkelompok dan fase berfikir bersama masih sama di hari sebelumnya dan yang memberikan respon positif pada fase menjawab pertanyaan pada pertemuan kedua ini ada 6 orang siswa.

Dan pada pertemuan ke tiga, siswa yang berpartisipasi pada kegiatan awal pembelajaran bertambah menjadi 12 orang siswa dan mencatat materi yang diberikan ada 11 siswa, menanggapi bahan ajar yang ditampilkan sama dengan hari ke dua, yang memberi respon positif

(53)

terhadap bahan ajar yang dibagikan ada 9 orang dan pada saat mengerjakan kegiatan dengan berkelompok ada 10 orang siswa yang berperan. Dan pada fase berfikir bersama hanya bertambah 1 orang di hari sebelumnya menjadi 7 orang siswa yang aktif dan yang memberikan respon positif pada fase menjawab pertanyaan pada pertemuan ke tiga ini meningkat dari 6 orang menjadi 11 orang siswa.

Dari tabel 4.1 di atas menunjukkan persentase aktivitas positif siswa yang dicapai saat proses pembelajaran dilaksanakan dengan menerapkan strategi PAIKEM pada siklus I adalah 68,48% atau 6 orang siswa dari 14 siswa, dengan standar minimal 70% 6 orang siswa dari 14 siswa untuk berada dalam kategori tuntas.

Tabel 4.2 Aktivitas Negatif siswa No. Aktivitas Positif Siswa

Pertemuan

Ke- Rata-Rata Persentase 1 2 3 (%)

1 Bermain-main 9 6 5 7 16,67

2 Keluar masuk kelas 3 0 0 1 2,38

3 Ribut 5 3 4 4 9,52

4 Mengganggu teman 3 1 2 2 4,76

5 Acuh tak acuh saat KBM berlangsung

3 2 2 2,33 5,56

6 Mengantuk 2 2 1 1,67 3,97

Rata-rata persentase aktivitas negatif siswa pada siklus I 7,14

(54)

Berdasarkan data pada tabel 4.2 tersebut maka dapat dideskripsikan bahwa aktivitas negatif siswa pada pertemuan pertama sekitar 9 orang siswa yang bermain-main, 3 orang siswa yang sering keluar masuk ruang kelas dan ribut saat proses pembelajaran berlangsung ada 5 orang, mengganggu teman saat belajar ada 3 orang, kurang memperhatikan/acuh tak acuh saat kegiatan belajar mengajar berlangsung ada 3 dan mengantuk dalam kelas ada 2 orang siswa.

Pada pertemuan ke dua, siswa yang bermain-main ada 6 orang dan sudah mulai tidak ada siswa yang keluar masuk kelas, tetapi masih ada 3 orang siswa yang ribut dalam kelas begitu pula yang mengganggu temannya masih ada 1 orang. Acuh tak acuh saat kegiatan belajar mengajar berlangsung dipertemuan ke dua ini masih ada 2 orang siswa dan yang mengantuk dalam kelas masih sama pada pertemuan pertama.

Dan pada pertemuan ke tiga, ada 5 orang siswa yang bermain-main, tidak ada lagi siswa yang keluar masuk kelas tetapi ribut di kelas masih ada 4 orang dan juga masih ada 2 orang yang mengganggu temannya, 2 orang yang acuh tak acuh saat kegiatan belajar mengajar berlangsung dan 1 orang siswa yang mengantuk dalam kelas.

Data pada tabel 4.2 menunjukkan persentase aktivitas negatif siswa saat diajar menggunakan strategi PAIKEM adalah 7,14% atau 3 orang siswa dari 14 siswa, dengan standar maksimal 5% atau 2 orang dari 14 siswa untuk masuk dalam kategori tuntas.

(55)

Berdasarkan skor rata-rata persentase aktivitas siswa pada siklus I di atas, terlihat bahwa aktivitas positif belajar siswa lebih banyak jika dibandingkan dengan aktivitas negatif siswa saat kegiatas belajar mengajar (KBM) berlangsung.

2) Hasil evaluasi belajar siswa pada siklus I

Pada siklus I, tes hasil pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang berbentuk pilihan ganda dan isian dilaksanakan setelah menyelesaikan satu subtema yaitu perjuangan para pahlawan dengan penerapan strategi PAIKEM. Adapun data hasil analisis skor hasil pembelajaran IPS siswa pada akhir siklus I dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.3 statistik skor hasil pembelajaran IPS akhir siklus I

Statistik Nilai statistik

Subjek penelitian 14

Skor ideal 100

Skor tertinggi 90

Skor terendah 25

Rentang skor 65

Rata-rata 63,36

Tabel 4.3 di atas menunjukkan bahwa skor rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I adalah 63,36 dari skor ideal yang mungkin dicapai yaitu 100 dan skor terendah yaitu 25.

(56)

Apabila skor dikelompokkan kedalam empat kategori, maka diperoleh distribusi frekuensi dan persentase skor pada tabel berikut :

Tabel 4.4 distribusi frekuensi skor hasil belajar IPS siklus I

No

Presentase Frekuensi Kategori

1

91-100 0 (Sangat Baik)

2

81-90 2 (Baik)

3

70-80 5 (Cukup)

4 0-69 7 (Perlu Bimbingan)

Jumlah 14

Berdasarkan tabel 4.4 maka dapat dikemukakan bahwa skor hasil belajar siswa kelas IV SD Inpres Tala‟borong Kecamatan Bajeng Barat Kabupaten Gowa pada siklus I yaitu dari 14 orang siswa yang menjadi subjek penelitian terdapat 7 orang siswa yang berada pada kategori sangat rendah (perlu bimbingan), 5 orang siswa yang berada dikategori rendah (cukup), 2 orang siswa dikategori sedang (Baik) dan belum ada siswa yang berada dikategori tinggi (sangat baik).

Apabila hasil belajar siswa pada siklus I dianalisis, maka persentase ketuntasan belajar siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel berikut :

Gambar

Tabel 3.1 Siklus Kemmis dan Mc. Taggart Perencanaan
Tabel 3.2 Kategorisasi Hasil Belajar
Tabel 4.1 Aktivitas Positif siswa
Tabel 4.2 Aktivitas Negatif siswa  No.  Aktivitas Positif Siswa
+7

Referensi

Dokumen terkait

PENGGUNAAN MEDIA BIG BOOK UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN PADA SISWA KELAS II SD INPRES SERO KECAMATAN SOMBA OPU KABUPATEN GOWA SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi