PENERAPAN KURIKULUM 2013 TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PESERTA DIDIK DI SMK MUHAMMADIYAH 3
KOTA MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)Pada Program Studi
Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
ARYANI AMIR 105 190 1250 11
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1436H/2015M
PRAKATA
Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT, karena hanya berkat, Rahmat dan petunjuk-Nya jualah serta kekuatan iman yang diberikan-Nya, sehingga skripsi ini dapat terwujud serta junjungan Nabi Muhammad saw dan para pengikutnya hingga akhir zaman.
Skripsi ini dapat terselesaikan dengan rintangan dan hambatan yang tidak sedikit, mulai rancangan pembuatannya hingga penelitian di lapangan yang cukup membagi banyak pengorbanan. Oleh karena itu bantuan pikiran, dana dan sebagainya bagi segenap kalangan yang telah memberikan bantuanya, baik moril maupun material, penulis hanturkan banyak terima kasih.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada :
1. Kedua orang tua Amir dan Nonni, yang telah mengarahkan atau membimbing dan memberikan dorongan baik moril maupun materi sejak kecil hingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini, semoga Allah SWT senantiasa mengasihi dan melindungi mereka sebagaimana mereka menyayangiku penulis sejak kecil hingga sekarang ini.
2. DR. H. Irwan Akib, M.Pd Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi di Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Drs. H.. Mawardi Pewangi, M.Pd.I Dekan Fakultas Agama Islam yang telah membantu penulis sejak menjadi mahasiswa hingga berakhirnya masa perkuliahan di Fakultas Agama Islam.
4. Amirah Mawardi, S.Ag, M.Si ketua jurusan pendidikan Agama Islam yang senantiasa membantu penulis dalam persoalan akademik.
5. Dr. Abd. Azis Muslimin, M.Pd.I, M.Pd. dosen pembimbing I dan Dra. B Marjani Alwi, M.Ag selaku dosen pembimbing II yang dalam kesibukannya tetap memberikan bimbingan dan masukan dengan penuh kesabaran hingga terselesaikan penilisan ini.
6. Bapak / ibu dosen Fakultas Agama Islam yang telah membenahi ilmu kepada penulis, yang penuh manfaat dan berkah, semoga amal jariahnya selalu mengalir.
7. Saudara-saudara yang telah memberikan dukungan dan dorongan sehingga penulis berhasil mencapai cita-cita yang diharapkan.
Penulis menyadari bahwa penyusunan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati penulis menerima kritikan dan saran demi penyempurnaan.
ABSTRAK
ARYANI AMIR 105 190 1250 11. Penerapan Kurikulum 2013 Terhadap Peningkatan Kualitas Peserta Didik di SMK Muhammadiyah 3 Makassar (di bimbing oleh Abd. Azis Muslimin dan Marjani Alwi)
Skripsi ini membahas tentang 1) bagaimana penerapan kurikulum 2013, 2) bagaimana peningkatan kualitas peserta didik dalam penerapan kurikulum 2013, 3) apa yang menjadi faktor determinan terhadap penerapan kurikulum 2013.
Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa dan guru sebanyak 360. Adapun tehnik yang digunakan adalah tehnik provosife sampling yaitu sampel diambil secara langsung yakni siswa kelas X jurusan perkantoran dan guru sebagai informan kunci. Selanjutnya data dikumpulkan dengan menggunakan penelitian kepustakaan dan penelitian dilapangan yang terdiri dari tehnik observasi, angket, wawancara, dan dokumentasi.
Adapun tehnik analis datanya dengan cara deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa SMK Muhammadiyah 3 Makassar telah menerapkan kurikulum 2013 meskipun masih dalam tahap pengenalan. Adapun peningkatan kualitas peserta didik dalam penerapan kurikulum 2013 telah terjadi peningkatan baik dari segi sikap, pengetahuan dan keterampilan, misalnya siswa sekarang lebih aktif, lebih banyak berinofatif, bisa mengaplikasikan sikap yang positif dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan faktor determinan dalam penerapan kurikulum 2013 salah satunya adalah kurangnya fasilitas yang mendukung proses pembelajaran.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING... ii
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI... iii
PENGESAHAN SKRIPSI... iv
PRAKATA... v
ABSTRAK... viii
DAFTAR ISI... ix
DAFTAR TABEL... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1
B. Rumusan Masalah... 4
C. Tujuan Penelitian... 5
D. Manfaat Penelitian... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Tentang Kurikulum 2013... 7
1. Pengertian Kurikulum 2013... 7
2. Landasan Pengembangan Kurikulum 2013... 11
3. Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013... 12
4. Model Atau Metode Pembelajaran Kurikulum 2013... 14
5. Penilaian Pembelajaran Kurikulum 2013... 16
6. Tujuan dan Fungsi Kurikulum 2013... 18
B. Tinjauan Tentang Kualitas Peserta Didik... 20
1. Pengertian Kualitas Peserta Didik... 20
2. Faktor-faktor Yang Mempengaruh Kualitas Peserta Didik.. 22
a. Faktor Intern... 22
b. Faktor Ekstern... 26
3. Ragam Kualitas Peserta Didik... 30
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian... 34
B. Lokasi dan Objek Penelitian... 34
C. Variabel Penelitian... 34
D. Definisi Operasional Variabel ... 35
E. Populasi dan Sampel... 36
F. Instrumen Penelitian... 38
G. Teknik Pengumpulan data... 39
H. Tehnik Analis Data... 40 BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum SMK Muhammadiyah 3 Makassar... 41 B. Penerapan Kurikulum 2013 di SMK Muhammadiyah
3 Makassar... 46 C. Peningkatan Kualitas Peserta Didik Dalam Penerapan Kurikulum
2013 di SMK Muhammadiyah 3 Makassar... 51
D. Yang Menjadi Faktor Determinan Penerapan Kurikulum 2013 di SMK Muhammadiyah 3 Makassar... 56
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan... 60 B. Saran-saran... 61 DAFTAR PUSTAKA... 62 LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Keadaan Populasi ...36
2. Keadaan Sampel...38
3. Keadaan guru SMK Muhammadiyah 3 Makassar TA 2014/1015...42
4. Keadaan Siswa SMK Muhammadiyah 3 Makassar TA 2014/2015...45
5. Keadaan sarana dan prasarana SMK Muhammadiyah 3 Makassar Tahun Ajaran 2012/2013……… ...46
6 . Siswa yang senang dengan materi kurikulum 2013 di SMK Muhammadiyah 3 Makassar...……...48
7. Siswa yang sudah memiliki buku tematik yang sesuai dengan kurikulum 2013 di SMK Muhammadiyah 3 Makassar...49
8. Sarana dan prasarana yang mendukung kurikulum 2013 di SMK Muhammadiyah 3 Makassar...50
9. Pemahaman siswa terhadap materi pelajaran kurikulum 2013 di SMK Muhammadiyah 3 Makassar...52
10. Tingkat kemudahan siswa dalam mengerjakan tugas yang di berikan guru di SMK Muhammadiyah 3 Makassar...53
11. Siswa mengimplementasikan nilai tematik kurikulum 2013 dalam kehidupan sehari-hari di SMK Muhammadiyah 3 Makassar...54
12. Upaya siswa dalam meningkatkan kualitas dirinya di SMK Muhammadiyah 3 Makassar...55
13. Kendala dalam penerapan kurikulum 2013 di SMK Muhammadiyah 3 Makassar...56
14. Solusi yang dilakukan sekolah untuk pengadaan materi kurikulum 2013 di SMK Muhammadiyah 3 Makassar...58
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan primer manusia.
Sehingga pendidikan mempunyai peranan penting bagi manusia dalam menjalani kehidupannya, sebagai bekal untuk menghadapi berbagai permasalahan yang datang dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pendidikan juga sebagai sesuatu yang dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa karena merupakan upaya pengembangan sumber daya manusia yang telah berjalan melalui jalur pendidikan, sehingga dapat memperkuat pendidikan nasional. Sebagai mana sabda Rasulullah Saw :
َخ ْنُكَت َلَ َو اًب ِحُم ْوَا اًعِمَتْسُم ْوَا اًمِّلَعَتُم ْوَا اًمِلاَع ْنُك:مَّلَس َو ِهٌَْلَع ُالله ىَّلَص ًُِّبَّنلا َلاَق ) ِقَهٌَْبْلا ُها َو َر( َكِلْهُتَف اًسِما
Artinya:
Telah bersabda Rasulullah Saw: “jadilah engkau orang yang berilmu
(pandai) atau orang yang belajar, atau orang yang mendengarkan ilmu atau yang mencintai ilmu. Dan janganlah engkau menjadi orang
yang kelima maka kamu akan celaka (H.R Baehaqi)
Dari hadits di atas dapat penulis ketahui bahawa pendidikan sangatlah penting bagi manusia dalam kehidupannya, sebagai bekal untuk menghadapi berbagai permasalahan dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangasa yang bermartabat dalam
rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mencapai dan mewujudkan tujuan pendidikan diatas, di perlukan sebuah perencanaan (planning) yang matang, upaya- upaya yang sistematik-optimal dalam berbagai hal. Baik dalam hal komponen lunak maupun dalam komponen keras pendidikan. Dengan kata lain, diperlukannya sebuah perangkat sistem
Pendidikan yang mampu menghantarkan kearah yang tepat. Sistem itu yang akan mampu menata dan mempola proses pendidikan, sehingga proses pendidikan berjalan secara terarah, terencana, dan sistematis guna peningkatkan kualitas peserta didik.
Salah satu penunjang peningkatan kualitas peserta didik adalah kurikulum. Karena kurikulum berperan penting dalam menentukan tujuan dan arah pendidikan ke depan. Dengan kurikulum proses pendidikan akan berjalan dengan arah yang jelas. Dalam pengembangan kurikulum pada setiap satuan pendidikan disekolah satu sama lain boleh jadi berbeda.
Meskipun demikian, perbedaan tersebut tetap berpedoman pada Standar Nasional Pendidikan (SNP/PP. No. 19 Tahun 2005) sehingga kemasan kurikulum yang berbeda-beda ni pada akhirnya akan bermuarah pada visi, misi, dan tujuan yang sama yang diikat oleh Standar Nasional Pendidikan.
Di Indonesia, semenjak pasca kemerdekaan tercatat sembilan kali perubahan kurikulum. Pada kurikulum periode 1947 sampai 1994 kurikulum di Indonesia bersifat sentralistik. Namun, ketika penerapan kurikulum KBK dan KTSP telah diberlakukan kurikulum secara desentralistik dimana sekolah mempunyai tanggungjawab untuk mengembangkan kurikulum untuk diterapkan di setiap satuan pendidikan masing-masing. Perubahan kurikulum dilakukan dengan dua cara, yakni dengan mengganti beberapa komponen di dalam kurikulum ataupun mengganti secara keseluruhan komponen-komponen kurikulum.
Salah satu upaya itu ditempuh dengan menerapkan kurikulum 2013 yang dilandasi pemikiran tentang masa depan, yaitu lahirnya generasi penerus bangsa yang produktif, kreatif, inovatif, dan berkarakter.
Dengan kreatifitas, anak-anak bangsa mampu berinovasi secara produktif untuk menjawab tantangan masa depan yang semakin rumit dan kompleks.
Kurikulum 2013 dikembangkan dalam rangka menyiapkan peserta didik supaya memiliki kemampuan soft skills dan hard skills yang seimbang sehingga mampu beradaptasi di mana pun dan kapan pun.
Kedua kemampuan tersebut ditanamkan kepada peserta didik melalui kegiatan pembelajaran yang lebih menekankan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Namun hal itu juga memberikan dampak kebingungan baik bagi pendidik maupun peserta didik seperti dalam realitanya sampai sejauh ini, pemberlakuan kurikulum 2013 masih
terdapat hambatan terutama pada peserta didik dalam pemahamannya di lapangan. Hal ini, perlu dievaluasi serta diperbaiki agar tujuan pendidikan tercapai dengan baik dan diharapkan mampu meningkatkan kualitas peserta didik.
Semakin berkembangnya kurikulum maka kualitas belajar peserta didik juga akan meningkat. Dalam proses pendidikan, adakalanya sering kita jumpai kegagalan-kegagalan dalam penerapan dan pelaksanaan kurikulum. Dengan ini biasanya dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai konsep kurikulum. Hal demikian tergantung dari tenaga pendidik yang mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan kurikulum yang diterapkan. Untuk lebih memperjelas hal tersebut maka perlu adanya penelitian yang dapat mengungkapkan adanya hubungan antara penerapan kurikulum khususnya kurikulum 2013 dengan meningkatnya kualitas peserta didik. Oleh karena itu, penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Kurikulum 2013 Terhadap Peningkatan Kualitas Peserta Didik Di SMK Muhammadiyah 3 Makassar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka ada beberapa permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana penerapan kurikulum 2013 di SMK Muhammadiyah 3 Makassar?
2. Bagaimana peningkatan kualitas peserta didik dalam penerapan kurikulum 2013 di SMK Muhammadiyah 3 Makassar?
3. Apa yang menjadi faktor determinan terhadap penerapan kurikulum 2013 di SMK 3 Muhammadiyah Makassar?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penerapan kurikulum 2013 di SMK Muhammadiyah 3 Makassar.
2. Untuk mengetahui peningkatan kualitas peserta didik dalam penerapan kurikulum 2013 di SMK Muhammadiyah 3 Makassar.
3. Untuk mengetahui pengaruh yang terjadi dalam penerapan kurikulum 2013 terhadap peserta didik di SMK Muhammadiyah 3 Makassar.
D. Manfaat Penalitian
Manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Memperkaya wawasan ilmu pengetahuan, terutama dalam mengembangkan ilmu pandidikan, khususnya yang berkaitan dengan penerapan kurikulum 2013 terhadap peningkatan kualitas peserta didik.
2. Hasil penelitian diharapkan berguna bagi lembaga pendidikan SMK Muhammadiyah 3 Makassar dalam perkembangan ke depannya.
3. Dapat di jadikan sebagai bahan referensi buat peneliti selanjutnya yang ingin dan bermaksud mengadakan penelitian yang sesuai
dengan judul proposal penelitian ini untuk dijadikan sebagai bahan perbandingan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kurikulum 2013
1. Pengertian Kurikulum 2013
Mulyasa.E (2013:20) mengemukakan istilah “kurikulum” bukanlah asli bahasa Indonesia. Istilah kurikulum ini baru masuk dan di kenal dalam dunia pendidikan Indonesia pada tahun 1968, yaitu sejak lahirnya kurikulum 1968 untuk menggantikan kurikulum sebelumnya, yaitu rencana pembelajaran 1950. Ketika itu istilah yang digunakan dalam dunia pendidikan adalah rencana pembelajaran, bukan kurikulum.
Istilah kurikulum itu sendiri terambil dari bahasa Yunani, yaitu curriculum. Pada masa Yunani dulu, istilah ini pada awalnya digunakan untuk dunia olah raga, yaitu berupa jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari, mulai dari garis start sampai dengan finish, seiring waktu berjalan, istilah ini mengalami perkembangan dan meluas merambah ke dunia pendidikan.
Pengertian kurikulum terdapat dalam Pasal 1 butir 19 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yaitu:
kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Franklin dalam Imas Kurniasih dan Berlin Sani (2014:5) mengemukakan bahwa pengertian kurikulum yaitu:
“Kurikulum sebagai suatu gagasan, telah memiliki akar kata bahasa Latin Race- source, menjelaskan kurikulum sebagai “mata pelajaran perbuatan” dan pengalaman yang dialami anak-anak sampai menjadi dewasa, agar kelak sukses dalam masyarakat orang dewasa.
Dari berbagai defenisi kurikulum yang telah diuraikan di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa kurikulum adalah suatu perangkat pembelajaran yang berisi tentang kegiatan-kegiatan siswa yang dijadikan acuan dalam mengembangkan suatu proses pembelajaran untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran dan pendidikan secara umum.
Dalam sejarah pendidikan di Indonesia sudah beberapa kali diadakan perubahan kurikulum dan perbaikan kurikulum. Perubahan kurikulum tersebut didasari pada kesadaran bahwa perkembangan dan perubahan yang terjadi menuntut perlunya perbaikan sistem pendidikan nasional, termasuk penyempurnaan kurikulum untuk mewujudkan masyarakat yang mampu bersaing dan menyesuaikan diri dengan perubahan. Perubahan–perubahan atau penyempurnaan kurikulum yang terjadi di Indonesia sejak bernama rencana pembelajaran 1947 hingga kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tahun 2006 selalu dibarengi dengan argumen–argumen ilmiah, pendekatan-pendekatan mutakhir, lengkap dengan background teori–teori belajar dan rasionalisasi dari masing-masing itu tidak terbantahkan.
Dari sekian banyak perubahan yang terjadi tentu saja ada “cacat”
dalam pengimplementasian perubahan kurikulum tersebut, hal ini bisa saja karena kurangnya keterampilan, pengetahuan, serta kemampuan
guru dalam memahami tugas-tugas yang harus ia laksanakan. Di sisi lain, segala kekurangan dan kelemahan dalam implementasi kurikulum tersebut bisa saja bersumber pada persepsi yang berbeda di antara komponen-komponen pelaksana dalam hal ini kepala dinas, pengawas, kepala sekolah, dan guru, dan juga kurangnya kemampuan menerjemahkan kurikulum kedalam operasi pembelajaran. Dan kondisi ini kadang diperparah dengan banyaknya para pelaku pendidikan yang diangkat tidak berdasarkan kompetensi dan keahlian mereka, sehingga segala kekacauan dan salah menterjemah sangat mungkin terjadi, dan imbas yang paling terasa tentu saja akan dirasakan oleh semua peserta didik sebagai objek dari kurikulum tersebut.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itulah, pemerintah melalui Kemendikbud berusaha sekuat tenanga untuk menyusun, mengembangkan, dan menerapkan sebuah kurikulum yang berlaku pada tahun pelajaran 2013/2014. Kurikulum baru ini diperkenalkan oleh perintah dengan sebutan kurikulum 2013. Dengan kurikulum baru ini, harapannya apa yang menjadi persoalan-persoalan yang menimpa bangsa ini akan cepat teratasi sehingga secara berkelanjutan cita-cita bangsa tercinta Indonesia akan mudah tercapai, yakni menjadi negara makmur, adil, dan sejahtra.
M. Fadlillah (2014:7) mengemukakan bahwa Kurikulum 2013 merupakan pengembangan dari kurikulum yang telah ada sebelumnya, baik kurikulum berbasis kompetensi yang telah dirintis pada tahun 2004
maupun kurikulum tingkat satuan pendidikan pada tahun 2006. Hanya saja yang menjadi titik tekan pada kurikulum 2013 ini adalah adanya peningkatan dan keseimbangan soft skills dan hard skills yang meliputi aspek kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Kemudian, kedudukan kompetensi yang semula diturunkan dari mata pelajaran berumah menjadi mata pelajaran dikembangkan dari kompetensi, selain itu, pembelajaran lebih bersifat tematik integratif dalam semua mata pelajaran.
Adapun ciri kurikulum 2013 yang paling mendasar yaitu menuntut kemampuan guru dalam berpengetahuan dan mencari tahu pengetahuan sebanyak-banyaknya karena siswa zaman sekarang telah mudah mencari informasi dengan bebas melalui perkembangan teknologi dan informasi. Sedangkan untuk siswa lebih didorang untuk memiliki tanggung jawab kepada lingkungan, kemampuan interpersonal, antar personal, maupun memiliki kemampuan berfikir kritis. Dengan adanya kurikulum 2013, harapannya peserta didik dapat memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang meningkat dan berkembang sesuai dengan jenjang pendidikan yang telah ditempuhnya sehingga akan dapat berpengaruh dan menentukan kesuksesan dalam ke hidupan selanjutnya.
Dari uraian di atas, penulis dapat memahami bahwa kurikulum 2013 adalah sebuah kurikulum yang dikembangkan untuk meningkatkan kualitas peserta didik yang berupa sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
2. Landasan Pengembangan Kurikulum 2013
Mulyasa.E (2013:68) dalam penyusunan kurikulum 2013 ditandai beberapa aspek sebagai berikut:
a. Aspek filosofis
Filosofis adalah landasan penyusunan kurikulum yang di dasarkan pada kerangka berfikir dan hakikat pendidikan yang sesungguhnya.
Dalam konteks ini landasan kurikulum 2013, yaitu:
1) Pendidikan yang berbasis nilai luhur, nilai akademik, kebutuhan peserta didik, dan masyarakat.
2) Kurikulum berorientasi pada pengembangan kompetensi.
b. Aspek yuridis
Aspek yuridis adalah suatu landasan yang digunakan sebagai payung hukum dalam penyusunan dan pengembangan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum 2013 ini, landasan yuridis yang dugunakan antara lain:
1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional.
2) RPJMN 2010-2014 Sekor Pendidikan yang berisi tentang perubahan metodologi pembelajaran dan penataan kurikulum.
3) Inpres No. 1 Tahun 2010 tantang percepatan pelaksanaan prioritas pembangunan nasional; penyempurnaan kurikulum dan metodologi pembelajaran aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk daya saing karakter bangsa.
4) Peraturan pemerintah Repoblik Indonesia Nomor 32 tahun 2013 tentang perubahan atas peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
5) Permendikbud Nomor 81A Tahun 2013 tentang implementasi kurikulum 2013.
c. Aspek konseptual
Aspek konseptual adalah suatu landasan yang didasarkan pada ide atau gagasan yang diabstraksikan dari peristiwa konkret. Dalam penyusunan Kurikulum 2013 ini landasan konseptualnya antara lain:
1) Prinsip relevansi.
2) Model kurikulum berbasis kompetensi.
3) Kurikulum lebih dari sekedar dokumen.
4) Proses pembelajaran, yang meliputi: aktifitas belajar, output belajar, dan outcome belajar.
5) Penilaian, kesesuaian teknik penilaian dengan kompetensi dan penjenjangan penilaian.
Dari beberapa aspek di atas, dapat diketahahui bahwa pengembangan kurikulum 2013 diharapkan peserta didik mampu menjawab tantangan zaman dan dapat mengadapi masa depannya dengan baik.
3. Prinsip Pengembangan Kurikulum 2013
M. Fadlillah (2014:26) Prinsip-prinsip yang dijadikan pedoman dalam pengembangan kurikulum 2013 ini sama seperti prinsip
penyusunan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Sebagai mana telah disebutkan dalam peraturan mentri pendidikan dan kebudayaan (Permendikbud) Nomor 81A tahun 2013 tentang implementasi kurikulum 2013, sebagai berikut:
a. Peningkatan iman, takwa, dan akhlak mulia.
b. Kebutuhan kompetensi masa depan.
c. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemampuan peserta didik.
d. Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkungan.
e. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional.
f. Tuntutan dunia kerja.
g. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
h. Agama.
i. Dinamika perkembangan global.
j. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.
k. Kondisi sosial budaya masyarat setempat.
l. Kesetaraan gender.
m. Karakteristik satuan pendidikan.
Dari uraian di atas, penulis dapat memahami bahwa prinsip-prinsip pengembangan kurikulum 2013 ini bukan hanya merupakan sekumpulan daftar mata pelajaran tetapi juga ditandai oleh pengembangan kompetensi berupa sikap, pengetahuan, keterampilan berpikir, dan keterampilan psikomotorik. Dari setiap sikap, keterampilan dan pengetahuan yang di
rumuskan dalam kurikulum 2013 dapat dipelajari dan dikuasai setiap peserta didik sesuai dengan kaidah kurikulum 2013. Kurikulum 2013 juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan perbedaan dalam kemampuan dan minat yang berpusat pada potensi perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
4. Model Atau Metode Pembelajaran Kurikulum 2013
Imas Mirasih dan Berlin Sani (2014:43) ada beberapa model atau metode pembelajaran yang dapat diterapkan untuk membuat peserta didik aktif dan tentunya dapat dijadikan acuan pada proses pembelajaran di kelas untuk kurikulum 2013, antara lain:
a. Metode pembelajaran kolaborasi
Strategi pembelajaran kolaborasi ini atau collaboration learning merupakan strategi yang menetapkan peserta didik dalam kelompok kecil dan memberinya tugas dimana mereka saling membantu untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan kelompok. Strategi yang dapat diterapkan yaitu mencari informasi, proyek, timquiz dan lain sebagainya.
Hal ini dijelaskan dalam sabda Rasulullah Saw :
ُمٌِبَأْنَعِهِّدَجْنَعَةَد ْرُبٌِبَأِنْبِهَّللاِدْبَعِنْبَةَد ْرُبٌِبَأْنَعُناٌَْفُساَنَثَّدَحَلاَقىٌَْحٌَُنْبُد َّلََّخاَنَثَّدَح ُْْمْلِلَنِم ُْْمْلاَّن ِ ََاَقَمَّلَس َوِهٌَْلَعُهَّللاىَّلَصٌِِّبَّنلاْنَعىَسو
ُهَعِباَصَأَكَّبَش َواًضْعَبُهُضْعَبُّدُشٌَِناٌَْنُبْلاَكِن ِم -
يراخبلا Artinya:
Dari Abu Musa ia berkata : Rasulullah saw bersabda : Seorang mu‟min terhadap sesama mu‟min bagaikan satu bangunan yang sebagiannya menguatkan sebagian yang lain, lalu Nabi Saw.
mengeramkan jari-jarinya. (Bukhari, Muslim).
Dari hadits di atas dapat penulis memahami bahwa Rasulullah Saw memberikan perumpamaan yaitu kepalan jari-jari tangannya untuk memberi pemahaman kepada kita tentang perlunya kesatuan dan saling membantu antar sesama untuk menyelesaikan tugas dan untuk mempererat silaturahmi.
b. Metode pembelajaran individual
Metode pembelajaran individu atau individual learning memberikan kesempatan kepada peserta didik secara mandiri ntuk dapat berkembang dengan baik sesuai dangan kebutuhan peserta didik. Dan strategi yang dapat diterapkan yaitu tugas mandiri, penilaian diri, potofolio, galeri proses dan lain sebagainya.
c. Metode pembelajaran teman sebaya
Metode pembelajaran teman sebaya atau peer learning memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mempelajari untuk sesuatu dengan baik dan tentunya pada waktu yang bersamaan, iya menjadi narasumber bagitemannya. Stratagiyang dapat ditarapkan antara lain pertukaran dari kelompok ke kelompok, studi kasus, pembacaan berita dan sebagainya.
d. Model pembelajaran sikap
Aktivitas belajar afektif atau affective learning membantu peserta didik untuk menguji perasaan, nilai,dan sikap-sikapnya. Strategi yang dapat diterapkan antara lain penilaian diri dan teman, mengenal didi sendiri, posisi penasehat.
e. Metode pembelajaran bermain
Permainan (game) sangat berguna untuk membentuk kesan dramatis yang jarang peserta didik lupakan. Strategi yang dapat diterapkan yaitu tebak kata, tebak gambar, teka-teki, sosio drama, dan bermain peran.
f. Metode pembelajaran kelompok
Model pembelajaran kelompok (cooperative learning) sering digunakan pada setip kegeiatan belajar-mengajar karena selain hemat waktu juga efektif. Metode yang dapat digunakan seperti diskusi terbeka.
g. Model pembelajaran multimodel
Mendapatkan hasil yang optimal dibandingkan dengan hanya satu model. Strategi yang dikembangkan dalam pembelajaran ini adalah proyek, modifikasi, simulasi, elaborasi, dan lain sebagainya.
Dari beberapa model atau metode pembelajaran di atas, dapat diketahui bahwa ada banyak model atau metode pembelajaran kurikulum 2013 yang dapat digunakan guru dalam setiap proses pembelajaran agar siswa tidak jenuh dalam menerima pelajaran dan lebih aktif dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
5. Penilaian Pembelajaran Kurikulum 2013
Imas Kurniasih dan Berlin Sani (2014:66) dalam penilaian pembelajaran kurikulum 2013 ada beberapa teknik penilaian yang digunakan, yaitu:
a. Ketuntasan belajar
Ketuntasan belajar adalah peserta didik dapat mencapai kompetensi yang ditentukan. Ketuntasan belajar untuk kurikulum 2013 ditentukan seperti pada tabel berikut:
PREDIKAT NILAI KOMPETENSI
PENGETAHUAN KETRAMPILAN SIKAP
A 4 4 SB
A- 3.66 3.66
B 3 3 B
B- 2.66 2.66
C+ 2.33 2.33
C 2 2
C- 1.66 1.66 C
D+ 1.33 1.33
D 1 1 K
Keterangan :
SB : Sangat baik B : Baik
C : Cukup K : Kurang b. Penilaian sikap
Pada kurikulum 2013 membagi kompetensi sikap menjadi dua yaitu:
1) Sikap spritual yang terkait dengan pembentukan peserta didik yang beriman dan bertakwa.
2) Sikap sosial yang terkait dengan pembentukan peserta didik yang berkhak mulia, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab.
Cakupan penilaian sikap
Penilaian sikap spritual Menghargai dan menghayati agama yang di anut
Penilaian sikap sosial
1. Jujur 2. Disiplin
3. Tanggung jawab 4. Toleransi
5. Gotong royong 6. Santun
7. Percaya diri
Dari urain di atas, dapat diketahui bahwa penilaian adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Dalam penilaian pembelajaran kurikulum 2013 setiap mata pelajaran mempunyai format penilaian yang meliputi kompetensi pengetahuan, kompetensi sikap spritual dan sosial, dan kompetensi keterampilan yang dilakukan secara terencana dan sistematis, selama dan setelah proses pembelajaran.
6. Tujuan dan Fungsi Kurikulum 2013
Mengenai pungsi dan tujuan kurikulum 2013 secara spesifik mengacu pada Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Dalam undang-undang Sisdiknas ini disebutkan bahwa fungsi kurikulum ialah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam
mencerdaskan kehidupan bangsa. Sementara tujuannya, yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan betakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
M. Fadlillah (2014:25) mengenai tujuan kurikulum 2013, secara khusus dapat di uraikan sebagai berikut:
a. Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemampuan sikap, keterampilan, dan pengetahuan dalam rangka menghadapi tantangan global yang terus berkembang.
b. Membentuk dan meningkatkan sumber daya manusia yang produktif, kreatif, inovatif sebagai modal pembangunan bangsa dan negara Indonesia.
c. Meningkatkan peran serta pemerintah pusat dan daerah serta warga masyarakat dalam menentukan dan mengendalikan kualitas dalam pelaksanaan kurikulum di tingkat satuan pendidikan.
d. Meringankan tenaga pendidik dalam menyempaikan materi dan menyiapkan administrasi mengajar, sebab pemerintah telah menyiapkan semua komponen kurikulum beserta buku teks yang digunakan dalam pembelajaran.
e. Meningkatkan persaingan yang sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan tercapai. Sebab sekolah diberikan keleluasaan untuk mengembangkan kurikulum 2013 sesuai dengan
kondisi satuan pendidikan, kebutuhan peserta didik, dan potensi daerah.
Dengan melihat beberapa tujuan kurikulum 2013 di atas dapat di pahami bahwa secara umum tujuan tersebut hampir sama dengan tujuan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Hanya saja pada kurikulum 2013, pemerintah telah menyiapkan buku teks pembelajaran, serta berusaha meningkatakan hard skills dan soft skills peserta didik secara seimbang dan berkelanjutan.
B. Kualitas Peserta didik
1. Pengertian Kualitas Peserta Didik
Sebelum membahas pengertian kualitas peserta didik, penulis akan terlebih dahulu mengemukakan arti kualitas pada umumnya. Evans dalam J. Supranata (1997:288) mengemukakan bahwa kualitas adalah salah satu kunci keunggulan dalam bersaing atau kemampuan sebuah perusahaan untuk mencapai keunggulan pasar.
Berdasarkan pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa kualitas adalah tingkat baik buruknya atau taraf atau derjat sesuatu.
Kualitas yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah kualitas peserta didik. Adapun kata peserta didik dalam bahasa Arab disebut dengan tilmidz jamaknya adalah talamid, yang artinya “murid” maksudnya adalah “orang-orang yang mengingini pendidikan”. Dalam bahasa Arab dikenal juga dengan istilah thalib, jamaknya adalah thullab, yang artinya
“mencari” maksunya adalah “orang-orang yang mencari ilmu”. Ini sesuai dengan firman Allah SWT:
Terjemahnya:
Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS.An- Nahl16:78).
Dari ayat di atas dapat penulis memahami bahwa Allah Swt memberikan kita pendengaran, penglihatan dan hati karena kita dituntut unuk mencari ilmu. Allah Swt juga berfirman tentang pentingnya menuntut ilmu dalam Q.S Al-alaq : 1-5
Terjemahnya:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam[1589], 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Maksud dari ayat di atas bahwa Allah mengajar manusia dengan perantaraan tulis, baca.
Menurut UU Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 1 butiran 16 tentang Standar Nasional Pendidikan yaitu:
Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu.
Abu Ahmadi (1991:26) juga menuliskan tentang pengertian peserta didik:
Peserta didik adalah orang yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai mahluk Tuhan, sebagai umat manusia, sebagai warga negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai sesuatu pribadi atau indifidu.
Dari uraian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa kualitas peserta didik adalah usaha yang dilakukan untuk mengembangkan potensi diri dan mutu pendidikan melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan baik pendidikan formal maupun pendidikan noformal.
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Peserta Didik
Slameto (2010:54) faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas peserta didik banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu faktor intern dan faktor ekstern.
A. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor intern ini, akan dibahas menjadi tiga faktor, yaitu:
1. Faktor Jasmaniah
Faktor jasmaniah terbagi menjadi dua yaitu:
a) Faktor kesehatan
Sehat berarti dalam keadaan baik segenap badan beserta bagian- bagiannya/bebas dari penyakit. Proses belajar seseorang akan terganggu jika kesehatan seseorang terganggu, jadi kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Sebagai mana sabda Rasulullah Saw :
ملس و هٌلع الله ىلص ًبنلا لاق :لاق امهنع الله ًضر سابع نبا نع ِساَّنلا َن ِم ٌرٌِْثَك اَمِهٌِْف ٌن ْوُبْغَم ِناَتَمْعِن“
ُغا َرَفْلا َو ُةَّح ِّصلا ”
)يراخبلا هاور(
Artinya:
Dari Ibn „Abbas ra beliau berkata: “Nabi Muhammad SAW bersabda Dua kenikmatan yang dapat memperdaya banyak manusia adalah sehat dan waktu luang“” (HR. al-Bukhari)
Dari hadits di atas dapat penulis ketahui bahwa kesehatan sangatlah penting dalam pembelajaran karna seseorang yang kurang sehat tidak mampu belajar dengan baik.
b) Cacat tubuh
Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik atau kurang sempurna mengenai tubuh/badan. Keadaan cacat tubuh juga mempengaruhi belajar siswa.
2. Faktor Psikologis
Ada tujuh faktor yang tergolong kedalam faktor psikologis antara lain:
a) Inteligensi
Inteligensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan kedalam situasi yang baru dengan cepat dan efeksi, mengetahui/menggunakan konsep-konsep yang abstrak secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya dengan cepat.
Inteligensi besar pengaruhnya terhadap terhadap kemajuan belajar.
Siswa yang mempunyai tingkat inteligansi yang tinggi akan lebih berhasil dari pada yang mempunyai tingkat inteligensi yang rendah.
b) Perhatian
Perhatian menurut Gazali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itu pun semata-mata tertuju kepada suatu obyek (benda/hal) atau sekumpulan objek. Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang dipelajarinya, agar siswa dapat belajar dengan baik, usahakan bahan pelajaran selalu menarik perhatian dengan cara pelajaran itu disesuaikan dengan hoby atau bakatnya.
c) Minat
Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang menarik minat siswa akan lebih mudah dipelajari dan disimpan, karena minat menambah kegiatan belajar.
d) Bakat
Bakat adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam belajar, jadi bakat sangat mempengaruhi belajar. Jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya, maka hasil belajarnya akan lebih baik.
e) Motif
Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan dicapai.
Motif yang kuat sangatlah perlu dalam belajar, jadi dalam membentuk motif yang kuat itu dapat dilaksanakan denagn adanya latihan- latihan/kebiasan-kebiasaan dan pengaruh lingkungan yang memperkuat.
f) Kematangan
Kematangan adalah suatu tingkat/fase dalam pertumbuhan seseorang, di mana alat-alat tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan kecakapan baru. Dengan kata lain anak yang sudah siap (matang) belum dapat melaksanakan kecakapannya sebelum belajar, jadi kemajuan baru untuk memiliki kecakapan itu tergantung dari kematangan dan belajar.
g) Kesiapan
Kesiapan adalah kesediaan untuk memberi response atau bereaksi. Kesiapan ini perlu diperhatikan dalam proses belajar, karena jika siswa belajar dan sudah ada kesiapan maka hasil belajrnya akan lebih baik.
3. Faktor Kelelahan
Kelelahan pada seseorang dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani.
Kelelahan jasmani terjadi karena terjadi kekacauan substansi sisa pembakaran didalam tubuh, sehingga darah tidak/kurang lancar pada bagian-bagian tertentu. Dan kelelahan rohani dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu hilang.
Dari urain di atas dapat dipahami bahwa kelelahan itu sangat mempengaruhi belajar. Agar siswa dapat belajar dengan baik haruslah menghindari jangan sampai terjadi kelelahan dalam belajarnya.
B. Faktor Ekstern
Faktor ekstern yang berpengaruh terhadap kualitas peserta didik di kelompokkan menjadi tiga yaitu:
1. Faktor Keluarga
Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa : a) Cara orang tua mendidik
Cara orangtua mendidik anaknya sangatlah besar pengaruhnya terhadap belajar anak. Karena keluarga adalah lembaga pendidikan yang pertama dan utama. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt :
Terjemahnya :
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.( Q.S At Tahrim : 6)
Ayat di atas menjelaskan bahwa keluarga sangat berperan penting dalam mendidik anak. Orangtua harus menjaga keluarga dengan memberikan pendidikan agama Islam sejak dini. Hal ini juga di perjelas oleh sabda Rasulullah Saw:
ٌَْلَع ُالله ىَّلَص ِالله ُل ْوُس َر َلاَق : َلاَق ُهْنَع ُالله ًَ ِض َر َة َرٌْ َرُه ْىِبَا ْنَع ِة َرْطِفْلا ىَلَع ُدَل ْوٌُ ٍد ْوُل ْوَم ُّلُك : َمَّلَس َو ِه
) ْمِلْسُم َو ى ِراَخُبْلا ُها َو َر( ِهِنَسِّجَمٌُ ْوَا ِهِن َرّ ِصَنٌُ ْوَا ِهِناَد ِّوَهٌُ ُها َوَبَاَف Artinya:
Dari Abu Hurairah R.A, Ia berkata: Rasulullah SAW bersabda :
“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, ayah dan ibunyalah
yang menjadikan Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhori dan Muslim.
Dari hadits di atas dapat penulis simpulkan bahwa setiap anak memiliki potensi sejak ia di lahirkan, maka dari itu orang tuanyalah yang harus memperhatikan perkembangan anaknya dan memberikan pendidikan yang memadai agar anak dapat di bentuk menadi lebih berkualitas.
b) Relasi antaranggota keluarga
Relasi antaranggota keluarga yang terpenting adalah relasi orang tua. Selain itu relasi anak dengan saudaranya atau dengan anggota keluarga yang lain pun turut mempengaruhi belajar anak.
c) Suasana rumah
Suasana rumah juga merupakan faktor yang mempengaruhi belajar anak. Agar anak dapat belajar dengan baik perlulah diciptakan suasana rumah yang tenang dan tentram.
d) Keadaan ekonomi keluarga
Keadaan ekonomi keluarga erat hubungannya dengan belajar anak. Fasilitas belajar itu hanya dapat terpenuhi jika keluarga mempunyai cukup uang. Tetapi tidak dapat dipungkiri adanya kemungkinan anak yang serba kekurangan dan selalu menderita akibat ekonomi keluarga yang lemah, justru menjadi cambuk baginya untuk belajar lebih giat dan akhirnya sukses.
e) Pengertian orangtua
Anak perlu dorongan dan pengertian orangtua dalam belajar. Bila anak sedang belajar jangan diganggu dengan tugas-tugas di rumah.
f) Latar belakang kebudayaan
Tingkat pendidikan atau kebiasaan di dalam keluarga mempengaruhi sikap anak dalam belajar. Perlu kepada anak ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, agar mendorong semangat anak untuk belajar. Sebagai mana firman Allah Swt :
Terjamanya :
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya;
dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.( Q.S Ar- rad:11)
Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa keluarga sangatlah berperan penting dalam menanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik terhadap anak karna keluarga adalah pendidikan pertama bagi anak.
2. Faktor Sekolah
Faktor sekolah juga sangatlah mempengaruhi belajar anak, faktor sekolah ini mencakup :
a) Metode mengajar adalah suatu cara atau jalan yang harus dialaui di dalam mengajar. Jadi metode mengajar itu mempengaruhi belajar.
b) Kurikulum dapat diartikan sebagai sejumlah kegiatan yang diberikan kepada siswa. Kegiatan itu sebagian besar adalah menyajikan bahan pelajaran agar siswa menerima, menguasai, dan mengembankan bahan pelajaran itu.
c) Relasi guru dengan siswa terjadi dalam proses belajar mengajar.
Dalam relasi yang baik, siswa akan menyukai gurunya begitu pun dengan mata pelajaran yang diberikannya sehingga siswa berusaha mempelajari sebaik-baiknya.
d) Relasi siswa dengan siswa sanagatlah perlu agar dapat memberikan pengaruh yang positif terhadap belajar anak.
e) Disiplin sekolah sangat berpengaruh terhadap peningkatan belajar siswa.
f) Alat pelajaran yang lengkap dan tepat akan memperlancar penerimaan pelajaran yang diberikan kepada siswa.
g) Waktu sekolah ialah waktu terjadinya proses belajar mengajar di sekolah.
h) Standar pelajaran diatas ukuran, guru dalam menuntut penguasaan materi harus sesuai dengan kemampuan siwa masing-masing.
i) Keadaan gedung yang memadai.
j) Metode belajar.
k) Tugas rumah.
3. Faktor Masyarakat
Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa didalam masyarakat. Faktor itu mencakup :
a) kegiatan siswa dalam masyarakat.
b) mass media.
c) teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.
Dari uraian di atas, maka peneliti dapat menyimpulkan bahwa faktor ekstern yang berpengaruh terhadap kualitas peserta didik diantaranya berasal dari faktor keluarga bagaimana orangtua di dalam mendidik anaknya dan suasana rumah, faktor sekolah bagaimana keadaan dan suasana lingkungan sekolah misalnya metode, media, dan guru dalam proses pembelajaran, faktor masyarakat yang juga berpengaruh terhadap peserta didik bagaimana keadaan lingkungan tempat tinggal dan teman bergaul anak.
3. Ragam Kualitas Peserta Didik
Yatim Riyanto (2009:236) ragam kualitas pesereta didik dapat dilihat melalui kecerdasanya yang meliputi :
a. Kecerdasan Linguistik
Kecerdasan linguistik adalah kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik secara lisan maupun tertulis. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memanipulasi tata bahasa atau struktur bahasa, fonologi
atau bunyi bahasa, semantik atau makna bahasa, dimensi pragmatik atau penggunaan praktis bahasa.
b. Kecerdasan Matematis-logis
Kecerdasan matematis-logis adalah kemampuan menggunakan angka dengan baik (misalnya, ahli matematika, akutan pajak, ahli statistik) dan melakukan penalaran yang benar misalnya, sebagai ilmuan, pemrograman komputer, atau ahli logika. Kecerdasaan ini meliputi kepekaan pada pola hubungan logis, pertanyaan, dan dalil, fungsi logis, dan abstraksi-abstraksi lain. Proses yang digunakan dalam kecerdasan matematis-logis ini antara lain: kategorisasi, klasifikasi pengambilan kesimpulan, generalisasi, perhitungan dan pengujian hipotesis.
c. Kecerdasan Spesial
Kecerdasan spesial adalah kemampuan mempersiapkan dunia spesial-visual secara akurat (misalnya, sebagai pemburu, pramuka, pemandu) dan mentransformasikan persepsi dunia spesial-visual tersebut.
Kecerdasan ini meliputi kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual atau spesial, dan mengorientasikan diri secara tepat dalam atriks spesial.
d. Kecerdasan Kinetis-jasmani
Kecerdasan kinetis-jasmani adalah keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan, dan keterampilan menggunakan tangan untuk menciptakan atau mengubah sesuatu.
Kecerdasan ini meliputi kemampuan-kemampuan fisik yang spesifik,
seperti koordinasi, keseimbangan, keterampilan kekuatan kelenturan, dan kecepatan maupun kemampuan menerima rangsangan (proprioveptive) dan hal yang berkaitan dengan sentuhan.
e. Kecerdasan Musikal
Kecerdasan musikal adalah kemempuan menangani bentuk-bentuk musikal, dengan cara mempersepsi, membedakan, mengubah, dan mengekspresikan. Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada irama, pola titik nada atau melodi, dan warana nada atau warna suara suatu lagu.
f. Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan mempersepsi dan membedakan suasana hati, maksud, motivasi, serta perasaan orang lain.
Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada ekspresi wajah, suara, gerak isyarat; kemampuan membedakan berbagai macam tanda interpersonal dan kemampuan menanggapi secara efektif tanda tersebut dengan tindakan pragmatis.
g. Kecerdasan Intrapersonal
Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Kecerdasan ini meliputi kemampuan memahami diri, kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, tempramen, dan keinginan, serta kemampuan berdisiplin diri, memahami dan menghargai diri.
h. Kecerdasan Naturalis
Kecerdasan naturalis adalah keahlian mengenali dan mengategorikan spesies flora dan fauna di lingkungan sekitar.
Kecerdasan ini meliputi kepekaan pada fenomena alam lainnya dan bagi mereka yang dibesarkan di lingkungan perkotaan, kemampuan membedakan benda tak hidup, seperti karet, dan sampul kaset CD.
i. Kecerdasan Eksistensial
Kecerdasan eksistensial adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kapasitas dan kemampuan.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ragam kualitas peserta didik terdiri dari kecerdasan linguistik yaitu kemampuan peserta didik dalam menggunakan kata-kata secara baik dan benar, kecerdasan matematis-logis yaitu kemampuan dalam mengenali angka-angka, kecerdasan spesial yaitu kemampuan yang terkhusus dimiliki peserta didik, kecerdasan kinetis-jasmani yaitu kemampuan dalam mengarahkan raga untuk menyalurkan ide-ide, kecerdasan musikal yaitu kemampuan membedakan jenis-jenis musik, kecerdasan interpersonal yaitu kemampuan dalam membedakan perasaan orang lain, kecerdasan intrapersonal yaitu kemampuan dalam memahami perasaan sendiri, kecerdasan naturalis yaitu kemampuan dalam mengenali flora dan fauna, kecerdasan eksistensial yaitu kemampuan dalam berhubungan dengan orang lain.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian lapangan field research dan merupakan penelitian kualitatif yakni untuk memahami fenomena baru mengenai penerapan kurikulum 2013 terhadap peningkatan kualitas peserta didik di SMK Muhammadiyah 3 Makassar Jalan Muhammadiyah.
B. Lokasi dan Obyek Penelitian
Adapun lokasi penelitian ini yaitu penulis memilih di SMK Muhammadiyah 3 Makassar Jalan Muhammadiyah, sebagai lokasi penelitian karena disekolah ini telah menerapkan kurikulum 2013.
Adapun yang menjadi objek dari penelitian ini yaitu siswa SMK Muhammadiyah 3 Makassar dan adapun guru sebagai informan kunci untuk pelengkap data.
C. Variabel penelitian
“Variabel adalah gejala yang bervariasi yang menjadi objek penelitian” (Arikunto 2010:159). Jadi variabel dalam penelitian ini adalah Penerapan kurikulum 2013 terhadap peningkatan kualitas peserta didik.
Pada penelitian ini menggunakan 2 variabel yakni variabel bebas dan variabel terikat.
a. Variabel bebas dari penelitian ini adalah kurikulum 2013.
b. Variabel terikat dari penelitian ini adalah peningkatan kualitas peserta didik.
D. Defenisi Operasional Variabel
Dalam rangka memahami secara utuh uraian penulis dalam penelitian yang berjudul “Penerapan Kurikulum 2013 Terhadap Peningkatan Kualitas Peserta Didik di SMK Muhammadiyah 3 Makassar”.
Maka penulis terlebih dahulu menjelaskan variabel penelitian ini yang dianggap memiliki peran yang penting dalam membengun teori tersebut.
Variabel yang dimaksud adalah:
1. Kurikulum 2013 adalah serentetan rangkaian penyempurnaaan terhadap kurikulum 2006 (KTSP) agar peserta didik dapat memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang meningkat dan berkembang untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia, yakni menjadi negara yang makmur, adil, dan sejahtra.
2. Kualitas peserta didik yang dapat peneliti pahami adalah usaha yang dilakukan untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam diri peserta didik melalui proses pembelajaran pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan.
Dari penjelan diatas, dapat di simpulkan bahwa kurikulum 2013 diterapkan agar peserta didik dapat memiliki kompetensi sikap, keterampilan, dan pengetahuan melalui proses pembelajaran pada jalur pendidikan untuk meningkatkan kualitas peserta didik di SMK Muhammadiyah 3 Makassar.
E. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Pada setiap kegiatan penelitian yang dilakukan seseorang selalu memerlukan adanya obyek yang dijadikan sebagai sasaran penelitian, obyek itulah yang disebut populasi. Menurut Suharsimi Arikunto (1998:
115), populasi adalah keseluruhan obyek penelitian. Dalam penelitian ini populasinya adalah 360 siswa dan guru SMK Muhammadiyah 3 Makassar.
Tabel I
Jumlah Populasi siswa SMK Muhammadiyah 3 Makassar.
No.
Siswa dan Guru JENIS KELAMIN
JUMLAH Laki-Laki Perempuan
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
X Akuntansi (AK) X Perkantoran (AP) X Tehnik Jaringan(TKJ) X Keperawatan (KPW) XI Akuntansi (AK) XI Perkantoran (AP) XI Tehnik Jaringan(TKJ) XI Keperawatan (KPW) XII Akuntansi (AK) XII Perkantoran (AP) XII Tenik Jaringan (TKJ) XII Keperawatan (KPW) Guru
10 3 30
- 7 2 25
- 5 4 25
- 20
27 38 12 20 12 10 12 14 22 23 7 17 15
37 41 42 20 19 12 37 14 27 27 23 17 35
JUMLAH 131 229 360
Sumber : Dokumentasi SMK Muhhammadiyah 3 Makassar tahun 2015
2. Sampel
“Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”
(Suharsimi Arikunto, 2010:174). Sedangakan menurut Sugiyono, sample adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Pada dasarnya penentuan sampel dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi atau keterangan-keterangan mengenai hal yang akan diteliti dengan cara meneliti sebagian populasi yang telah dipilih dan dianggap dapat mewakili semua populasi yang ada.
Mardalis (1995:58) purposive sampling merupakan teknik penarikan sampel yang mempunyai suatu tujuan dilakukan dengan sengaja yang dapat mewakili karakteristik populasi yang telah dikenal sebelumnya.
Adapun yang menjadi sampel pada penelitian ini adalah siswa kelas X jurusan Perkantoran yang dibagikan angket penelitian dan guru sebagai informan kunci atau pelengkap data yang hanya diwawancarai.
Dengan menggunakan tehnik penarikan sampel secara purposife sampling yakni sampel diambil secara langsung yaitu kelas X jurusan perkantoran dengan pokok pikiran sebagai berikut:
a. Kelas X jurusan Perkantoran (AP) adalah cluster yang telah menggunakan kurikulum 2013 dalam setiap mata pelajaran. Sehingga dengan demikian dapat membantu peneliti dalam pengumpulan data yang berhubungan dengan permasalahan.
b. Guru sebagai informan kunci karna penelitian ini adalah penerepan kurikulum 2013 sehingga dengan demikian dapat membantu peneliti dalam pengumpulan data yang berhubungan dengan permasalahan.
Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut:
Tabel II
Jumlah Sampel siswa SMK Muhammaiyah 3 Makassar.
No Sampel Jenis Kelamin Jumlah
Laki – laki Perempuan
1. Kelas X Perkantoran 3 38 41
Total 3 38 41
F. Instrumen Penelitian
Arikunto, (1998:121). Instrument penelitian mempunyai kedudukan yang sangat penting, karena instrumen sangat menentukan bagi lancarnya dan valitnya hasil penelitian dan merupakan alat bantu agar kegiatan penelitian berjalan secara sistimatis dan terstruktur. Instrumen penelitian adalah “Alat penelitian pada waktu peneliti menggunakan suatu metode”
Untuk memudahkan peneliti dalam pengumpulan data, maka peneliti menggunakan beberapa instrumen pengumpulan data yang terdiri dari :
1. Pedoman angket yang akan peneliti berikan pada responden dalam hal ini adalah berbentuk cheklist.
2. Catatan observasi yaitu mengamati dan menggunakan komunikasi langsung dengan sumber informasi tentang objek penelitian. Pedoman
obserfasi yang akan digunakan peneliti dalam hal ini adalah catatan obserfasi.
3. Pedoman wawancara dipergunakan untuk mendapatkan informasi berupa pendapat dari kepala sekolah dan wali kelas.
4. Catatan dokumentasi, yaitu mengumpulkan data dokumen yang dapat
dijadikan sebagai pelengkap data yang dibutuhkan.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini, Peneliti menggunakan beberapa teknik / metode antara lain :
1. Observasi, yaitu pengamatan dengan memperhatikan sesuatu meliputi kegiatan pemuatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Dalam hal ini, dengan menggunakan observasi maka peneliti akan mengamati Keadaan sekolah, dan keadaan siswa. Peneliti menggunakan observasi terlibat atau pengamatan secara langsung pada objek penelitian.
2. Angket, merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
3. Interview (wawancara), yaitu sebuah dialog yang dilakukan pewawancara (Interviewe) untuk memperoleh informasi dari terwawancara. Yang akan penulis wawancarai dalam penelitian ini adalah Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 3 Makassar untuk mengetahui keadaan sekolah dan keadaan guru, wawancara dengan
Wali Kelas X – XII semua jurusan dilakukan untuk mengetahui keadaan siswa yang akan diteliti.
4. Dokumentasi yaitu bentuk pengumpulan data dengan cara mengumpulkan data yang berhubungan dengan permasalahan melalui dokumen-dokumen tertulis baik pada instansi terkait maupun referensi- referensi ilmiah lainnya.
H.Teknik Analisis Data
Penelitian ini merupakan deskriptif dengan menggunakan data kualitatif, lalu dianalisis dengan menggunakan teknik induktif untuk melihat persentase kecenderungan variabel penelitian sesuai dengan rumus yang diungkapkan oleh Suharsimi Arikunto (2000: 246) sebagai berikut :
% 100 N x
P f
Keterangan :
F = Frekuensi / banyaknya individu
N = Jumlah Frekuensi banyaknya individu P = Angka Persentase
bidang pendidikan, merupakan lembaga pendidikan dakwah dan lembaga sosial. Riwayat singkat berdirinya SMK Muhammadiyah 3 Cabang Makassar adalah pada tahun 1993 tepatnya pada tanggal 01 dibulan Juni. Dalam usianya yang relatif muda (20 Tahun) SMK Muhammadiyah 3 Makassar telah menamatkan siswanya sebanyak +1500 murid, yang sebagian besar telah terserap diberbagai dunia usaha dan dunia industri, serta instansi pemerintah maupun swasta.
SMK Muhammadiyah 3 Makassar ini telah menerapkan kosep muatan lokal berbasis agama. Manajemen berbasis kompetensi, yaitu mempersiapkan tenaga profesional yang handal dan berakhlak mulia.
Saat ini SMK Muhammadiyah telah membuka empat jurusan, yaitu jurusan administrasi perkantoran, akuntansi, tehnik komputer jaringan, dan keperawatan. SMK Muhammadiyah ini dipimpin oleh bapak Ruslan, S.E, M.M.
Visi dan Misi SMK Muhammadiyah 3 Makassar a. Visi
“ Menjadikan SMK Muhammadiyah 3 Makassar unggul dalam kualitas keislaman, keterampilan dan kewirausahaan”
b. Misi
1) Meningkatkan kemampuan akademik.
2) Mewujudkan iklim sekolah yang islami.
3) Meningkatkan keterampilan berbahasa.
4) Meningkatkan keterampilan komputer.
5) Menanamkan kesadaran berwirausaha.
1. Keadaan Guru
Guru adalah komponen yang penting dalam pembelajaran. Guru mempunyai kewajiban dan kecakapan untuk mencerdasakan anak-anak bangsa dan untuk kesejahtraan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Berdasarkan data yang diperoleh dari kantor SMK Muhammadiyah 3 Makassar menunjukkan jumlah guru yang ada di sekolah tersebut seluruhnya 35 orang. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut :
Tabel III
Keadaan Guru SMK Muhammadiyah 3 Makassar tahun ajaran 2014/2015
No Nama Pendidikan
terakhir
Jabatan 1 Fatmawati A, SE, M.Pd S.2 Kaprol AK 2 St. Rahmiyah S, S.Pd S.1 Kaprol AP 3 Nur Imbran Amin,S.kom S.1 Kaprol TKJ 4 Latifah, S.Kep, NS S.1 Kaprol KPW
5 Rusliah, S.Pd S.1 Wali kelas
6 Drs. Baharuddin S.2 Wali kelas
7 Musdalifah Hanis,
S.Kep.NS S.1 Wali kelas
8 Darmawati, S.Pd S.1 Wali kelas
9 Haryadi Wali kelas
10 Hamrawati, S.Pd.I S.1 Guru
11 Kasmawati, S.Ag S.1 Guru
12 A.Isni pujirana Guru
13 Muh.Fahmi basmar Guru
14 Nurlaila S.Pd.I S.1 Guru
15 A.Tenriugi Dg pine,
S.Far, M.Sc S.2 Guru
16 Ani, S.Pd S.1 Guru
17 A.Sofyan AR, S.Pd S.1 Guru
18 A.Fajriansih, S.Kep, NS S.1 Guru 19 Suhartini Azis, S.Pd S.1 Guru
20 Dra. Jernih amir S.2 Guru
21 Muslimin, A.Md S.1 Guru
22 Ramlah, S.Pd S.1 Guru
23 Ika Amelia, S.Pd S.1 Guru
24 Drs. Ali syahbana abu,
M.Pd S.2 Guru
25 Drs. H Abu S.2 Guru
26 Drs. Syamsuriadi, MA S.2 Guru
27 Rudi, S.Sos S.1 Guru
28 Nasri, S.Ag S.1 Guru
29 Suriadi, S.Pd S.1 Guru
30 St. Masyita, S.Kep, NS S.1 Guru
31 Fitriah setyo rahayu Guru
32 Marjan supiana, S.Pd S.1 Guru
33 Musdalifah Y, S.Pd S.1 Guru
34 Suheman, S.Kom,
M.Ikom S.1 Guru
35 Budiarman, S.Kom S.1 Guru
Sumber data: kantor SMK Muhammadiyah 3 Makassar 2015
2. Struktur Organisasi SMK Muhammadiyah 3 Makassar
Adapun struktur organisasi SMK Muhammadiyah 3 Makassar dapat dilihat pada bagan dibawah ini.
Struktur Organisasi SMK Muhammadiyah 3 Makassar Tahun Ajaran 2014/2015
Dari struktur organisasi di atas dapat dipahami bahwa terlaksananya kegiatan pembelajaran dengan baik jika ada hubungan
Kepsek Ruslan, SE
r Wakepsek Syamsuddin S, S.Pd
Urusankesiswaan Alfan Amin, S.Pd.I
Urusan KK Fatmawati A, SE, M.Pd
Sarana/prasana Alfan Amin, S.Pd.I Guru BK
Nurlaila, S.Pd.I
Kaprol AK Fatmawati A, SE,
Kaprol AP St. Rahmiyah S, S.Pd
Kaprol TKJ Nur Imran Amin, S.Kom
Kaprol KPW Latifah, S.Kep, NS
Siswa