• Tidak ada hasil yang ditemukan

Soal Sosiologi Hukum

N/A
N/A
RUTAN KELAS IIB SABANG

Academic year: 2023

Membagikan "Soal Sosiologi Hukum"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Isna Tania

NIM : 048056773

Mata Kuliah : Sosiologi Hukum

1. Analisis kasus ini menggunakan komponen pengaruh efektivitas hukum menurut Soerjono Soekanto!

Jawab :

Dalam modul 8 dijelaskan bahwa terdapat 5 komponen pengaruh efektifitas hukum menurut Prof. Dr. Soerjono Soekanto (2003) :

a. Hukum berfungsi untuk keadilan, kepastian dan kemanfaatan

Dalam praktiknya terjadi pertentangan antara kepastian hukum dan keadilan.

Kepastian hukum sifatnya konkret berwujud nyata sedangkan keadilan bersifat abstrak dan menjadi prioritas utama ketika menyelesaikan suatu permasalahan.

b. Terdapat 3 elemen mekanisme bekerjanya Aparat Penegak Hukum yakni :

 Institusi penegak hukum beserta perangkat sarana dan prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaanya;

 Budaya kerja yang terkait dengan aparatnya, termasuk mengenai kesejahteraan aparatnya;

 Perangkat peraturan yang mendukung baik kinerja kelembagaannya maupun yang mengatur materi hukum menjadi standar kerja.

c. Sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum, ruang lingkupnya adalah sarana fisik sebagai faktor pendukung dan fasilitas pendukung mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil dan sebagainya.

d. Faktor Masyarakat

Masyarakat hidup dalam konteks yang berbeda sehingga yang seharusnya dikedepankan adalah keserasian agar ada titik tolak yang sama.

e. Faktor Kebudayaan

Kebudayaan sebenarnya bersatu padu dengan faktor masyarakat, namun dalam hal ini dibedakan karena di dalam pembahasannya ditengahkan masalah sistem nilai yang menjadi inti dari kebudayaan spiritual. Adanya keserasian nilai dengan kebudayaan masyarakat diharapkan terjalinnya hubungan timbal balik antara hukum adat dan hukum positif di Indonesia sehingga ketentuan pasal hukum

(2)

tertulis dapat mencerminkan nilai yang menjadi dasar dari hukum adat agar hukum perundang-undangan tersebut dapat berlaku secara efektif.

Analisis Soerjono Soekanto

Dari uraian tersebut, maka penulis menganalisis kasus ini dengan komponen pengaruh efektivitas hukum menurut Soerjono Soekanto. Berikut beberapa komponen yang dapat diperhatikan :

Norma Hukum yang relevan dalam konteks ini adalah Pasal 283 Undang- Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Pasal ini mengatur tentang larangan penggunaan ponsel saat berkendara dan menentukan sanksi berupa denda maksimal Rp 750 ribu dan kurungan penjara tiga bulan.

Penegakan Hukum melalui Operasi Patuh Intan 2022 merupakan upaya penegakan hukum dengan memprioritaskan penindakan terhadap penggunaan ponsel saat berkendara. Polisi menggunakan kamera electronic traffic law enforcement (e-TLE) untuk menindak pelanggaran lalu lintas, termasuk penggunaan ponsel.

Efektivitas Penegakan Hukum dapat diukur dari sejauh mana aturan- aturan yang ada diterapkan secara konsisten dan memberikan efek jera.

Dalam hal ini, penggunaan kamera e-TLE dapat meningkatkan efektivitas penegakan hukum dengan meningkatkan ketertiban lalu lintas.

Denda dan Sanksi bertujuan agar dapat memberikan efek jera / detterent (penghindaran) bagi pelanggar. Namun, efektivitasnya juga tergantung pada sejauh mana sanksi tersebut diterapkan secara konsisten.

Kesadaran Masyarakat diberikan melalui Imbauan dari Direktur Lalu Lintas Polda Kalimantan Selatan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya menggunakan ponsel saat berkendara. Kesadaran ini penting untuk menciptakan perilaku yang lebih aman di jalan raya.

Dalam konteks efektivitas hukum, Soerjono Soekanto menekankan bahwa hukum harus mampu memberikan keadilan dan menciptakan tatanan sosial yang baik.

Dalam kasus ini, tindakan penegakan hukum terhadap penggunaan ponsel di jalan raya diharapkan dapat menciptakan tatanan lalu lintas yang lebih aman. Dalam keseluruhan analisis penting untuk memastikan bahwa penegakan hukum dilakukan secara adil, konsisten, dan efektif untuk mencapai tujuan keselamatan di jalan raya.

(3)

Kesadaran masyarakat juga merupakan faktor penting dalam menciptakan budaya keselamatan berkendara.

Sumber : Bahan Materi Pokok Sosiologi Hukum Universitas Terbuka (Modul 8)

2. Bagaimana apabila kasus di atas dilakukan oleh driver ojol (ojek online) yang bekerjanya dengan menggunakan HP saat di jalan? Saat driver ojol sedang berupaya untuk mobilitas vertikal (dari pengangguran menjadi driver ojol)?

Jawab:

Menurut penulis alam kasus ini tidak hanya melibatkan Driver Ojek Online (ojol) namun perusahaan ride hailing indonesia perlu memastikan bahwa industrinya mengedepankan keselamatan dan kepatuhan pekerjanya sesuai dengan penerapan hukum yang berlaku. Driver ojol, harus tetap tunduk pada peraturan lalu lintas dan hukum yang mengatur penggunaan ponsel selama berkendara. Pasal 283 Undang- Undang No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan yang mencakup larangan penggunaan ponsel saat berkendara berlaku bagi semua pengemudi.

Pergeseran dari pengangguran ke pekerjaan sebagai driver ojol mencerminkan upaya untuk meningkatkan mobilitas vertikal. Pemerintah dan masyarakat mungkin ingin mendukung inisiatif semacam ini sebagai cara untuk memberikan kesempatan pekerjaan kepada mereka yang membutuhkan. Meskipun mobilitas vertikal dihargai, keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Penggunaan ponsel saat berkendara dapat meningkatkan risiko kecelakaan, dan keselamatan pengemudi, penumpang, dan pengguna jalan lainnya harus tetap dijaga.

Dalam Operasi Patuh Intan 2022, penggunaan ponsel saat berkendara menjadi prioritas utama untuk ditindak tilang. Penggunaan kamera e-TLE dapat meningkatkan efektivitas penegakan hukum, dan penegakan hukum yang konsisten penting untuk menciptakan kesadaran dan kepatuhan. Dalam upaya penegakan hukum harusnya Ini berlaku untuk semua pengemudi, termasuk driver ojol dan perusahaan yang membidangi transportasi online. Driver Ojol seperti pengemudi lainnya, tetap tunduk pada aturan lalu lintas yang mengatur penggunaan ponsel.

Penerapan aturan ini sebaiknya tetap konsisten, dan penegakan hukum dapat mencakup sanksi atau tindakan preventif untuk memastikan kepatuhan. Harusnya denda dan sanksi yang diberikan tidak semata-mata ditujukan kepada Driver Ojol saja namun perusahaan yang membidanginya harus ikut serta ditindaklanjuti jika terbukti melanggar aturan penggunaan ponsel saat berkendara dapat dikenai denda maksimal Rp 750 ribu dan kurungan penjara tiga bulan sesuai Pasal 283. Denda ini berlaku untuk semua pengemudi, tanpa memandang pekerjaan atau profesi.

(4)

Pemerintah dan perusahaan penyedia layanan Ojol dapat memberikan dukungan dan edukasi kepada para driver terkait risiko penggunaan ponsel saat berkendara.

Program edukasi dapat membantu meningkatkan kesadaran akan bahaya tersebut dan mendorong perilaku yang lebih aman di jalan. Dalam konteks mobilitas vertikal, pertimbangan sosial juga perlu diperhatikan. Masyarakat dan pemerintah dapat berkolaborasi untuk menciptakan kondisi yang mendukung perubahan positif dalam hidup pengangguran. Keselamatan dan Mobilitas Vertikal dalam hal ini perlu dipandang bahwa meskipun Driver Ojol mungkin mencari pekerjaan untuk meningkatkan mobilitas vertikal mereka (dari pengangguran menjadi Driver Ojol), keselamatan tetap menjadi prioritas utama. Menggunakan ponsel saat berkendara dapat mengancam keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya, sehingga penting untuk menghentikan kebiasaan tersebut.

Untuk itu perlu adanya kesadaran dan edukasi mengingat Driver Ojol berkontribusi pada mobilitas kota, penting untuk meningkatkan kesadaran dan edukasi terkait bahaya penggunaan ponsel saat berkendara. Kampanye edukasi dapat membantu mengubah perilaku dan menciptakan lingkungan berkendara yang lebih aman.

Dalam keseluruhan, Driver Ojol seperti pengemudi lainnya, harus mematuhi peraturan lalu lintas untuk menjaga keselamatan diri dan orang lain di jalan raya.

Penegakan hukum yang konsisten dan kampanye edukasi dapat berperan penting dalam menciptakan perilaku berkendara yang lebih aman.

3. Berikan pendapat anda tentang pemberian sanksi pidana dalam mewujudkan efektivitas hukum yang berlaku di masyarakat!

Jawab :

Dalam Modul 8 dijelaskan bahwa efektivitas hukum berkaitan dengan validitas hukum. Validitas hukum berarti memaknai bahwa norma hukum itu mengikat bahwa orang harus berbuat sesua dengan yang diharuskan oleh norma hukum, masyarakat diharuskan mematuhi dan menerapkan norma-norma hukum. Sedangkan efektivitas hukum bahwa orang benar-benar berbuat sesuai norma hukum, masyarakat benar- benar mematuhi norma hukum yang berlaku.

Pemberian sanksi pidana terhadap penggunaan ponsel saat berkendara merupakan langkah yang diambil untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan terhadap aturan lalu lintas. Pemberian sanksi pidana menunjukkan bahwa keselamatan di jalan raya dianggap sebagai prioritas utama. Kecelakaan yang disebabkan oleh

(5)

penggunaan ponsel dapat berakibat fatal, dan tindakan tegas perlu diambil untuk mencegah risiko ini. Sanksi pidana diharapkan dapat berfungsi sebagai langkah pencegahan. Ancaman denda dan kurungan penjara diharapkan dapat mengurangi kecenderungan masyarakat untuk menggunakan ponsel saat berkendara. Hukuman ini diharapkan dapat menjadi deterrent (alat pencegah) efektif. Dengan memberlakukan sanksi pidana, hukum diharapkan dapat ditegakkan secara lebih efektif. Hal ini dapat menciptakan rasa tanggung jawab di antara pengemudi dan mengubah perilaku mereka. Efektivitas hukum dapat meningkatkan keselamatan lalu lintas secara keseluruhan.

Pemberian sanksi pidana menunjukkan pentingnya penegakan aturan lalu lintas.

Dengan menindak tegas pelanggaran seperti penggunaan ponsel, masyarakat dapat lebih sadar akan pentingnya mengikuti aturan dan mematuhi norma-norma yang telah ditetapkan. Selain sanksi pidana, penting juga untuk melibatkan pendekatan edukatif. Memberikan pemahaman yang lebih baik tentang risiko penggunaan ponsel saat berkendara melalui kampanye keselamatan jalan raya dapat memberikan dampak positif dalam jangka panjang. Pemberian sanksi pidana harus mempertimbangkan aspek keadilan, memastikan bahwa hukuman yang diberikan sesuai dengan tingkat pelanggaran. Hal ini dapat melibatkan penyusunan peraturan dan penegakan hukum yang proporsional. Dalam keseluruhan, kombinasi antara sanksi pidana dan pendekatan edukatif dapat menjadi langkah yang seimbang dalam meningkatkan kesadaran, kepatuhan, dan keselamatan di jalan raya.

Sumber : Bahan Materi Pokok Sosiologi Hukum Universitas Terbuka (Modul 8)

Referensi

Dokumen terkait

PENEGAKAN HUKUM MENYALAKAN LAMPU UTAMA DI SIANG HARI BAGI PENGENDARA SEPEDA MOTOR DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN Studi Kasus

xiii lintas dan hubungannya dengan kadar haemoglobin (studi kasus polisi lalu lintas yang bertugas di jalan raya kota Semarang) oleh Sri Suciani (2007) dengan

xiii lintas dan hubungannya dengan kadar haemoglobin (studi kasus polisi lalu lintas yang bertugas di jalan raya kota Semarang) oleh Sri Suciani (2007) dengan

Penelitian ini difokuskan pada hubungan antara hukum dalam keadilan masyarakat, khususnya terkait dengan kasus hukum dan praktik penegakan hukum yang menimpa warga miskin

Faktor yang menjadi hambatan dalam penegakan hukum kecelekaan lalu lintas diakibatkan jalan rusak adalah faktor ketidak jelasan makna kata penyelenggara jalan dalam

Di tengah carut marutnya sistem penegakkan hukum di bangsa ini, bukan berarti jalan untuk menciptakan sistem hukum yang ideal di masyarakat akan terhambat. Begitu

Upaya penegakan hukum Kepolisian dalam penanggulangan tindak pidana pelanggaran lalu lintas di Polres Bengkulu Respon masyarakat terhadap tindakan polisi dalam upaya

1 PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PRAKTIK MODIFIKASI KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UNDANG UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG LALU LINTAS DAN JALAN RAYA STUDI DI DINAS PERHUBUNGAN KOTA