• Tidak ada hasil yang ditemukan

RANGKUMAN MATERI SOSIOLOGI HUKUM

N/A
N/A
nurul khairiyah

Academic year: 2023

Membagikan "RANGKUMAN MATERI SOSIOLOGI HUKUM"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

Sosiologi Hukum (sosiologi hukum) adalah pengetahuan hukum tentang pola perilaku masyarakat dalam konteks sosial. Sosiologi Hukum merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara hukum dan fenomena sosial lainnya secara empiris dan analitis. Yurisprudensi normatif lebih menitikberatkan pada kajian hukum dalam buku, sedangkan sosiologi hukum lebih fokus pada hukum dalam tindakan (Yesmil Anwar dan Adang, 2008, 128).

Sosiologi hukum lebih menggunakan pendekatan deskriptif empiris, sedangkan yurisprudensi normatif lebih bersifat preskriptif. Hans Kelsen berpendapat bahwa setiap peraturan hukum harus didasarkan pada peraturan hukum yang tingkatnya lebih tinggi. Sosiologi hukum Hakim Cardoso berangkat dari refleksi perlunya pemutakhiran teknik hukum yang ada saat ini dengan menutup kesenjangan antara teknik hukum dengan realitas hukum yang ada saat ini.

Realisme Hukum Dan Selanjutnya

Kajian tentang “sejarah hukum sosiologis” berkaitan dengan dampak sosial yang ditimbulkan oleh doktrin-doktrin hukum dan cara memproduksinya. Membela apa yang disebut sebagai penerapan hukum yang adil dan menegaskan bahwa doktrin hukum harus dipandang sebagai pedoman untuk mencapai hasil yang adil bagi masyarakat dan bukan sebagai bentuk yang tidak dapat diubah. Karya pertamanya yang berjudul The Nature of Judicial Proceedings (1921, edisi ke-8, 1932) bertujuan untuk menunjukkan bahwa "meningkatnya kesementaraan putusan pengadilan" merupakan manifestasi tak terelakkan dari fakta bahwa proses peradilan "bukanlah penemuan, melainkan ciptaan". penciptaan yang diperkuat dengan keadaan kehidupan hukum yang sebenarnya.

Buku terakhir Cardozo, Paradoxes of Legal Sciences (1982), yang merupakan karyanya yang paling mengesankan, mengedepankan sosiologi hukum yang bebas dari teknik hukum (yurisprudensi) dan menjadi landasan. Bahwa hukum-hukum sosiologi harus berpedoman pada kesadaran Dinamika relatif dan anti-konseptualisme mulai mendominasi pemikiran-pemikiran akhir Cardozo, yang didukung oleh refleksi partikularisme, kekhususan, nilai-nilai konkrit dan pluralisme, pluralisme sosiologis. Lewelyn menyatakan dalam buku pertamanya bahwa satu-satunya yang dapat menjadi landasan ilmiah bagi yurisprudensi adalah sosiologi hukum.

Sosiologi hukum menyimpulkan bahwa ‘konsepsi tentang masyarakat mengalami perubahan, dan jauh lebih cepat dibandingkan dengan hukum, sehingga selalu ada kemungkinan setiap unsur hukum perlu dikaji ulang untuk mengetahui apakah masih konsisten. dengan masyarakat. Menghubungkan alam sebagai peran hukum hukum, yang ditempatkan di antara otonomi dan heteronomi, dengan struktur batin pengaturannya, yang kontras dengan struktur dalam agama, moralitas, dan estetika. Menembus hukum hingga ke lapisan terdalam realitas sosial, yang melampaui tingkat pola yang sesuai dan berkonsentrasi pada simbol faktual, nilai-nilai kolektif, dan keyakinan.

Beberapa Mazhab Dewasa ini

Sosiologi hukum kritis mengkaji permasalahan perwujudan norma dalam perilaku kolektif yang efektif. Sosiologi hukum teoritis mengkaji pengaruh unsur-unsur spiritual serta aspek morfologi dan ekonomi terhadap struktur realitas hukum. Sosiologi hukum deskriptif sekadar mengumpulkan fakta-fakta tentang kehidupan hukum di berbagai masyarakat. Sosiologi hukum genetik mengikuti perubahan hukum sesuai dengan lingkungan dan zaman yang konkrit.Sosiologi hukum kritis didasarkan pada sosiologi deskriptif, sosiologi hukum genetik bertumpu pada kedua sosiologi hukum tersebut, sedangkan sosiologi hukum teoritis menjadi puncak bangunannya. Hukum bukanlah model moral masyarakat yang idealis atau masyarakat bukan merupakan perwujudan normatif dari apa yang dihukum. Ketika mengemukakan pendapatnya tentang pencurian kayu dalam Marx, ia mengatakan bahwa hukum adalah peraturan yang memenuhi kepentingan golongan orang yang mempunyai kepemilikan dalam masyarakat.

Teori ini menyatakan bahwa masyarakat progresif adalah masyarakat yang berpindah dari status ke kontrak. Dalam masyarakat terdapat atribusi-atribusi tertentu, yang sebenarnya merupakan anugerah sifat-sifat dan kemampuan pada anggota masyarakat yang bersangkutan, dengan kedudukannya dalam tatanan status yang telah mengakar dalam masyarakat. Realitas di masyarakat akan berubah ketika masyarakat melakukan transisi ke situasi baru yang berhubungan dengan meningkatnya agregasi dalam kehidupan.

Durkheim mengajukan tipologi yang secara dikotomis membedakan dua tipe solidaritas, yakni solidaritas mekanis dan organik.Masyarakat berkembang dari tipe mekanis ke tipe organik. Dukheim mengatakan, ketika masyarakat masih pada tahap diferensiasi segmental, masyarakat muncul sebagai kumpulan dari banyak unit terpilih yang masing-masing mempunyai format kecil dan seragam satu sama lain. Dalam solidaritas ini, seorang warga negara terikat langsung dengan komunitasnya, yang dapat dilakukan dengan adanya indikasi cita-cita bersama.

Undang-undang yang tidak mencerminkan masyarakat yang bersifat kolektif, sedangkan undang-undang penggantinya merupakan cerminan masyarakat yang terdiferensiasi dan terspesialisasi fungsinya.Keadaan ini menimbulkan perbedaan pengalaman dan pandangan. Tipe inilah yang disebut Durkheim sebagai tipe solidaritas organik. Dalam masyarakat yang modern, heterogen dan terdiferensiasi, solidaritas organik dapat mengalahkan solidaritas mekanis. Hukum represif tidak lagi berfungsi secara dominan.

Tokoh Amerika Serikat

Ia mengkaji konsekuensi sosial nyata dari keberadaan lembaga hukum dan yurisprudensi (lebih banyak membahas fungsi hukum dibandingkan muatan abstraknya). Penerapan kajian sosiologi untuk menyusun peraturan perundang-undangan dan pertimbangan hukum sebagai pranata sosial yang dapat ditingkatkan dengan upaya yang bijaksana untuk menemukan cara terbaik untuk melanjutkan dan mengarahkan upaya tersebut. Untuk menciptakan efisiensi dalam pembuatan peraturan perundang-undangan dan tekanan anggota terhadap undang-undang untuk mencapai tujuan sosial (tidak menekankan sanksi).

Positivisme Hukum dan Masalahnya

Tiga Pilihan Cara: Kajian Normatif; Kajian Filosofis; Kajian Empiris

Metode empiris ini lahir karena metode atau kajian hukum normatif sudah tidak mendapat tempatnya lagi.

Menuju Pendekatan Sosiologi Terhadap Hukum

Pemikiran Hukum Sosiologis

Ia merupakan peraturan yang mengatur keperibadian manusia dan terdiri daripada peraturan akidah dan akhlak.Peraturan akidah bertujuan untuk mencapai kehidupan beriman manakala peraturan akhlak pula bertujuan kepada orang yang berakhlak atau mempunyai hati nurani yang bersih. Sebaliknya, terdapat peraturan yang mengatur kehidupan antara manusia atau individu, yang terdiri daripada peraturan adab dan peraturan undang-undang. Peraturan kesopanan bertujuan untuk menjadikan kehidupan sosial berjalan dengan menyenangkan, manakala kedaulatan undang-undang bertujuan untuk mencapai keamanan dalam hubungan manusia.

Kedamaian ini akan tercapai dengan terciptanya keselarasan antara kedamaian (yang bersifat eksternal) dan ketenangan (yang bersifat internal). Kedamaian, melalui keselarasan antara kenyamanan dan ketenangan, merupakan ciri yang membedakan hukum dengan aturan sosial lainnya.

Lembaga-Lembaga Kemasyarakatan

Kelompok-Kelompok Sosial dan Hukum

Lapisan-Lapisan Sosial dan Hukum

Hukum dipandang sebagai fenomena yang dapat diamati dalam kehidupan masyarakat melalui pola perilaku warganya. Artinya hukum sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor non hukum seperti: nilai-nilai, sikap dan kepercayaan masyarakat yang biasa disebut dengan budaya hukum. Adanya budaya/budaya hukum inilah yang menjadi penyebab terjadinya perbedaan penegakan hukum antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain.

Hukum dipandang sebagai suatu sistem nilai, dimana seluruh hukum dalam sistem penegakan hukum didasarkan pada norma-norma dasar yang kemudian menjadi sumber nilai sekaligus pedoman dalam penegakan hukum itu sendiri; Hukum dipandang sebagai bagian dari masyarakat (realitas sosial), dimana hukum tidak dapat dipisahkan dari lingkungan sosial, karena dalam hal ini hukum merupakan salah satu subsistem dari subsistem sosial lainnya. a) serupa dengan yang telah disebutkan sebelumnya pada BAB I, Lawrence M. Friedman menjelaskan bahwa hukum sebagai suatu sistem mempunyai komponen-komponen sebagai berikut. Peningkatan kesadaran hukum hendaknya menitikberatkan pada upaya memasyarakatkan nilai-nilai yang menerapkan peraturan hukum yang berlaku dan memperhatikan faktor komunikasi hukum agar isi peraturan hukum tersebut dapat diketahui secara luas sebagai sasaran dari peraturan hukum itu sendiri.

Penegakan Hukum

Setelah Belanda berhasil memantapkan kekuasaannya pada awal abad ke-19, Belanda mampu mentransformasikan sistem kolonialnya yang semula berupa bidang perdagangan swasta menjadi pemerintahan Hindia Belanda. Kekuasaan Hindia Belanda berlangsung selama satu setengah abad, terhitung sejak berakhirnya VOC pada akhir tahun 18. Tujuan sistem hukum ini adalah untuk menjamin terpeliharanya ketertiban dan terpeliharanya kekuasaan kolonial demi kepentingan ekonomi rakyat. negara dan bangsa Belanda dan sama sekali tidak untuk kepentingan rakyat.

Dalam melaksanakan kebijakan hukumnya, Hindia Belanda menetapkan bahwa dalam bidang hukum perdata bagi Indonesia berlaku hukum adatnya masing-masing, dengan dalih mengakui persamaan semua kebudayaan. Mereka memperkenalkan Het indische adat recht atau hukum adat Indonesia. Kritik ini diawali oleh Cornelis Van Vollenhoven dan kemudian dilanjutkan oleh Christian Snouck Hurgonje. Begitu pula dengan hukum Islam, saat ini yang berlaku adalah hukum adat yang bersangkutan. Suasana tatanan hukum yang represif banyak terjadi, misalnya melalui kebijakan hukum yang sepihak, kewenangan yang melampaui batas, dan ketidakmampuan pemerintah memenuhi tuntutan masyarakat.

Tatanan Hukum Pada Masa Penjajahan Jepang

Tatanan Hukum Sejak Tahun 1945 Sampai 1948

Dalam hukum adat telah terjadi perubahan nilai budaya, kehidupan perekonomian penduduk sangat sulit, masyarakat terpaksa melakukan kerja paksa untuk membangun lapangan terbang, lubang shelter dan shelter. Tatanan hukum yang ditampilkan merupakan tatanan hukum yang opresif karena konfigurasi politik saat ini bertolak belakang dengan apa yang terjadi pada era demokrasi parlementer. Pada masa Orde Baru dan Pemerintahan Transisi (pasca Orde Baru), tatanan hukum Indonesia muncul dalam berbagai bentuk.

Namun sangat menakutkan, kemudian ternyata hukum di Indonesia kembali mengalami fluktuasi selama kurang lebih 33 tahun (1966 hingga 1998) pada masa Orde Baru dan Pemerintahan Transisi (setelah Orde Baru, tatanan hukum Indonesia tidak berkembang lebih baik. Pengertian hukum represif mengatakan bahwa keberadaan hukum tidak serta merta menjamin keadilan, sebaliknya setiap tatanan hukum pada suatu saat terikat oleh status quo dan menjadikan kekuasaan menjadi lebih efektif. Selama kurang lebih 33 tahun, hukum hanya dijadikan instrumen kekuasaan untuk melindungi kepentingan pemerintah dalam melegalkan suatu tindakan.

Tipologi pemikiran ini menunjukkan ciri pemikiran yang mengutamakan penegasan asas dan format postulat hukum yang ketat. Namun ide ini tidak berkembang lama. Pada tahun 1970-1990, pemikiran hukum berkembang ke arah modern. Pada saat yang sama, hukum sosiologis lahir ke permukaan dan membawa sesuatu yang sangat berbeda dengan teori formalis. Satjipto Rahardjo dalam pengembangan pemikiran hukum menyatakan perlu adanya perubahan radikal terhadap pemikiran hukum yang berkembang selama ini, menuju pemikiran hukum yang mempunyai basis sosial Indonesia.

Menuju Tatanan Hukum Responsif

Referensi

Dokumen terkait

Secara sederhana sosialisasi dapat diarikan sebagai sebuah proses seumur hidup yang berkenaan dengan bagaimana individu mempelajari cara-cara hidup serta nilai dan norma

34 Beberapa hal yang selalu menjadi topik utama sehubungan dengan proses penegakan hukum tersebut adalah masalah tidak memuaskan atau bahkan bisa dikatakan

Kebijakan akademik ini akan menjadi pedoman untuk mengelola dan mengembangkan tatanan perangkat keras, perangkat lunak, dan sumber daya manusia yang berkualitas

Dalam penegakan hukum responsive, penegakan hukum tidak hanya berdasarkan secara hukum formal, dimana hukum diberlakukan hanya berdasarkan aturan- aturan dan hukum hanya

Alasan saya memilih mendefinisikan hukum menurut mazhab sosiologis hukum karena kajian sosiologis hukum didasarkan pada suatu konsep yang memandang hukum sebagai suatu alat

Dalam tulisan ini Yang dimaksud dengan penegak hukum akan dibatasi pada kalangan yang secara langsung berkecimpung dalam bidang penegakan hukum yang tidak

Eksistensi  hukum  ekonomi  internasional  tentu  didasarkan  pada  sumber­  sumber hukum baik  yang besifat formil  maupun  materiil. Coba sebutkan apa  sajakah 

UU no 31 t.1999 – uu no.20 th.2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi pasal 2 ayat 1 “setiap orang secara sengaja melawan hukum dg melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri