• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PENANAMAN KARAKTER KEDISIPLINAN KEPADA PESERTA DIDIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "STRATEGI GURU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PENANAMAN KARAKTER KEDISIPLINAN KEPADA PESERTA DIDIK"

Copied!
136
0
0

Teks penuh

(1)

KEDISIPLINAN KEPADA PESERTA DIDIK (Studi Kasus di SMP Al-Fath Cirendeu, Ciputat Timur, Kota

Tangerang Selatan)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:

MARATUS SHOLEHAH NIM. 14311376

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT ILMU AL-QUR`AN (IIQ) JAKARTA

1439 H/2018 M

(2)

KEPADA PESERTA DIDIK

(Studi Kasus di SMP Al-Fath Cirendeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan)

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh:

Maratus Sholehah NIM. 14311376

Pembimbing

Prof. Dr. Artani Hasbi, MA

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT ILMU AL-QUR`AN (IIQ) JAKARTA

1439 H/2018 M

(3)

i

Skripsi dengan judul “Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Penanaman Karakter Kedisiplinan Kepada Peserta Didik (Studi Kasus di SMP Al-Fath Cirendeu, Ciputat Timur, Kota tangerang Selatan)”. Yang disusun oleh Maratus Sholehah dengan Nomor Induk Mahasiswa 14311376 telah melalui proses bimbingan dengan baik dan dinilai oleh pembimbing telah memenuhi syarat ilmiah untuk diajukan di sidang munaqasyah.

Jakarta, 10 Agustus 2018 Pembimbing

Prof. Dr. Artani Hasbi, MA

(4)

ii

Skripsi dengan judul “Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Penanaman Karakter Kedisiplinan Kepada Peserta Didik (Studi Kasus di SMP Al-Fath Cirendeu, Ciputat Timur, Kota tangerang Selatan)”

yang disusun oleh Maratus Sholehah dengan NIM 14311376 telah diujikan dalam sidang munaqasyah Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta pada tanggal 10 Aguatus 2018. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd).

Jakarta, 10 Agustus 2018 Dekan Fakultas Tarbiyah

Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta

Dr. Hj. Umi Khusnul Khotimah, M. Ag

Sidang Munaqasyah

Ketua Sidang Sekretaris Sidang

Dr. Hj. Umi Khusnul Khotimah, M. Ag Wasmini

Penguji I Penguji II

Dr. Esi Hairani, M.Pd Dr. Hj. Umi Khusnul Khotimah, M. Ag

Pembimbing

Prof. Dr. Artani Hasbi, MA

(5)

iii

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Maratus Sholehah

NIM : 14311376

Tempat/Tanggal Lahir : Natuna, 21 Nopember 1996

Menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Penanaman Karakter Kedisiplinan Kepada Peserta Didik (Studi Kasus di SMP Al-Fath Cirendeu, Ciputat Timur, Kota tangerang Selatan)” adalah benar-benar asli karya saya kecuali kutipan-kutipan yang sudah disebutkan. Kesalahan dan kekurangan di dalam karya ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Jakarta, 10 Agustus 2018

Maratus Sholehah

(6)

iv

حا َجَّنلا ُحاَتْفِم ُماَظِنلا

Discipline is the key of succes

“Disiplin adalah kunci kesuksesan”

(7)

v

KATA PENGANTAR

Tiada untaian kata yang indah nan manis penulis mengucapkan rasa syukur Alhamdulillahirobbil‟alamiin atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat, karunia dan ridho-Nya penulis dianugerahi sehat jasmani dan rohani serta diberikan kesabaran dalam menyelesaikan skripsi yang berjudul “Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Penanaman Karakter Kedisiplinan Kepada Peserta Didik (Studi Kasus di SMP Al-Fath Cirendeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan)”.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah limpah kepada baginda alam, sang penyempurna akhlak manusia dan yang selalu diucapkan sebagai bentuk kerinduan yang tak ada hentinya yakni Nabi Muhammad SAW, semoga kita semua mendapat syafaatnya di yaumil akhir Aamiin yaa Robbal‟alamin.

Dalam penyusunan dan penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan, bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis dengan senang hati menyampaikan terimakasih kepada yang terhormat:

1. Kepada orang tua, Bapak Zainal Arifin dan Ibu Siti Hasanah yang selalu sabar serta tidak pernah berhenti mendoakan anaknya akan kebaikan dan kebahagian. Terima kasih atas segala cinta, kasih sayang yang sangat tulus untuk anaknya. Yang selalu mengingatkan saya akan hal kebaikan, mengingatkan akan tujuan awal untuk mencari ilmu dengan sungguh-sungguh, yang selalu menjadi penyemangat, inspirasi, dan motivasi saya. Terima kasih telah memberikan dukungan yang luar biasa pada penulis hingga saat ini.

(8)

vi

semoga balasan terbaik dari Allah SWT selalu terlimpah untuk kepengurusan Pemda.

3. Ibu Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, MA., selaku rektor Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta.

4. Ibu Dr. Hj. Umi Khusnul Khotimah, M.Ag., selaku dekan Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta yang tidak pernah lelah dalam membimbing dan mengarahkan penulis dalam penulisan skripsi ini supaya baik dan benar.

5. Ibu Dr. Esi Hairani, M.Pd., selaku ketua Prodi Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta.

6. Bapak Prof. Dr. Artani Hasbi, MA., selaku pembimbing penulis.

Terimakasih atas waktu, diskusi dan arahan untuk membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

7. Kepada seluruh instruktur Tahfizh Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta yang selalu memotivasi serta sabar dalam membimbing penulis untuk menghafal ayat-ayat Al-Qur`an.

8. Kepada seluruh dosen Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta yang telah mengajarkan penulis banyak ilmu pengetahuan Agama dan Umum.

9. Kepada Staf Fakultas Tarbiyah Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta yang telah melayani penulis dalam segala kebutuhan dengan baik dan sabar.

10. Kepada bapak kepala sekolah, waka kurikulum, waka kesiswaan, bapak dan ibu guru pendidikan agama islam di sekolah SMP Al-Fath Cirendeu atas bantuan dan kerjasamanya dengan penulis agar dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

(9)

vii

tugas akhir. Semoga selalu menjadi yang terbaik dan kebaikan selalu ada padamu. Dan untuk adikku yang paling kecil Achmad Syafi‟I yang juga tak pernah lelah mengingatkan saya untuk selalu menjaga kesehatan.

12. Kepada seluruh keluarga yang telah memberikan Do‟a serta semangat pada penulis. Terimakasih sudah menjadi keluarga yang baik untukku.

13. Untuk semua kakak-kakak guru RA. Labschool IIQ Jakarta tercinta, atas kebersamaan selama ini, yang selalu memberikan semangat, motivasi kepada saya, menjadi bagian keluarga RA adalah suatu kebahagian bagi saya.

14. Untuk sahabati yang selalu saya repotkan, Yulika, Naila Fatkhiyatul Fitriyah, Nurhasanah, Linda Anggraeni, Hilmi Sittah Khotibah, Diah Fitriana, penulis ucapkan terimakasih atas bantuan dan untaian Do‟a sehingga penulis selalu termotivasi untuk tetap semangat dalam menyelesaikan skripsi ini jazakumullahu khairan dan terimakasih atas persaudaraan yang terjalin selama ini, semoga terus terjalin.

15. Untuk teman-teman seperjuanganku angkatan 2014 terkhusus untuk kelas B yang dari awal masuk ke Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta tanpa semangat, dukungan dan bantuan kalian semua tak kan mungkin aku sampai disini, terimakasih untuk canda tawa, tangis, dan perjuangan yang kita lewati bersama dan terimakasih untuk kenangan manis yang telah mengukir selama ini.

16. Serta semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan satu-persatu selama penyelesaian tugas akhir ini. Semoga Allah SWT memberikan balasan yang berlipat ganda. Akhirnya penulis sampaikan semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya untuk penulis umumnya

(10)

viii

sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.

Akhirnya, kritik dan saran yang membangun diharapkan oleh penulis demi kemajuan di masa depan pada bidang pendidikan. Tak lupa, permohonan maaf di sampaikan kepada semua pihak atas segala kesalahan yang disengaja maupun tidak disengaja oleh penulis.

Jakarta, 10 Agustus 2018

Penulis

(11)

ix

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERNYATAAN PENULIS ... iii

MOTTO ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vi

ABSTRAK ... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 9

C. Pembatasan Masalah ... 9

D. Perumusan Masalah ... 10

E. Tujuan Masalah ... 10

F. Manfaat Penelitian10 G. Tinjauan Pustaka ... 11

H. Sistematika penulisan ... 17

BAB II KAJIAN TEORI A. Guru Pendidikan Agama Islam 1. Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam ... 19

2. Syarat-syarat menjadi Guru Pendidikan Agama Islam ... 23

3. Peran Guru Pendidikan Agama Islam ... 28

4. Tugas dan Tanggung Jawab Guru PAI ... 32

B. Strategi Penanaman Karakter Kedisiplinan 1. Pengertian Strategi ... 36

(12)

x

4. Macam-macam Kedisiplinan Siswa ... 49

5. Tujuan Kedisiplinan ... 51

6. Fungsi Kedisiplinan Bagi Siswa ... 52

7. Faktor yang Mempengaruhi Kedisiplinan Siswa ... 54

8. Strategi Penanaman Karakter Kedisiplinan Siswa ... 55

BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 59

B. Metode Penelitian ... 59

C. Sampel Penelitian ... 59

D. Metode Pengumpulan Data ... 61

E. Sumber Data ... 63

F. Instrumen Penelitian ... 65

G. Teknis Analisis Data ... 66

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Deskripsi Umum SMP Al-Fath 1. Deskripsi Umum ... 67

2. Visi, Misi dan Tujuan ... 69

3. Struktur Organisasi ... 70

4. Program Unggulan ... 71

5. Prestasi Akademik ... 72

6. Data Guru ... 73

7. Data Siswa ... 77

8. Sarana dan Prasarana ... 80 B. Deskripsi Data Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam

Penanaman Karakter Kedisiplinan Kepada Peserta Didik di

(13)

xi BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ... 92 B. Saran ... 93 DAFTAR PUSTAKA ... 95 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(14)

xii

Nama: Maratus Sholehah, Nim: 14311376, judul skripsi: Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Penanaman Karakter Kedisiplinan Kepada Peserta Didik di SMP Al-Fath Cirendeu. Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah, Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta, tahun 2018.

Disiplin diperlukan agar sekolah menjadi sebuah lembaga pembentukan diri yang ada. Tanpa ada nilai kedisiplinan, sekolah hanya akan menjadi tempat berseminya berbagai macam konflik sehingga kekacauan menjadi buah-buah yang tak terelakan dari tindakan indisipliner tersebut.

Untuk itu sebagai guru Pendidikan Agama Islam, memberikan strategi kepada perseta didik dalam penanaman kedisiplinan baik di kelas maupun di luar kelas, dan di manapun berada. Pendidikan yang membangun karakter itu yang sangat diharapkan, sebagai guru harus membangun karakter, dan penanaman sifat. Adapun rumusan masalah pada penelitian ini yaitu bagaimana strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam penanaman karakter kedisiplinan kepada peserta didik. Pentingnya masalah ini diteliti adalah guna untuk mengetahui strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam penanaman karakter kedisiplinan kepada peserta didik. Hubungan timbal balik antara guru dengan peserta didiknya mengarah pada tujuan yang hendak diwujudkan bersama yaitu tujuan proses pembelajaran dengan hasil yang berkulaitas.

Berpijak dari permasalahan tersebut peneliti melakukan penelitian di SMP Al-Fath Cirendeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan dengan judul strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam penanaman karakter kedisiplinan kepada peserta didik.Untuk mencapai tujuan, penelitain ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data dan dilakuakn melalui (1) pengamatan (observasi), (2) wawancara, (interview), dan (3) Dokumentasi.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa guru sudah menanamkan penanaman kedisiplinan di SMP Al-Fath Cirendeu. Penanaman tersebut meliputi: (1) siswa menaati segala peraturan yang ada, (2) di tanamkan kebiasaan agar siswa datang tepat waktu, (3) disiplin dalam beribadah, Memberikan sanksi bagi siswa yang terlambat masuk kelas yakni diberi sanksi berupa menulis kalimat istighfar, atau membaca surat-surat pendek seperti juz „amma yang sudah mereka hafal. Dalam lingkup sekolah maka akan mendapatkan poin dan di tulis di buku kasus.

Kata kunci: Penanaman Karakter Kedisiplinan.

(15)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan Agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati, hingga mengimani, bertakwa, dan berakhlak mulia dalam mengamalkan ajaran agama islam dari sumber utamanya kitab suci Al-Qur`an dan Al-Hadits, melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta penggunaan pengalaman.1 Kehidupan manusia tidak dapat dipisahkan dari bidang pendidikan. Pendidikan memiliki peran yang sangat penting bagi perkembangan kehidupan manusia. Dengan pendidikan manusia sebagai makhluk pengembang tugas kekholifahan di bumi akan menjadi dinamis dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam UU Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.2

Pendidikan merupakan bimbingan dan asuhan terhadap peserta didik agar setelah menerima bimbingan dan asuhan para peserta didik mampu memahami, menghayati dan mengamalkan

1 Abdul Majid, Belajar dan Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), h. 11.

2 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pendidikan serta Wajib Belajar, (Bandung: Citra Umbara, 2010), Cet, Ke-1, h. 2-3.

(16)

ajaran agama. Peserta didik juga menjadikan ajaran agama sebagai suatu pandangan hidup demi keselamatan dan kesejahteraan hidup di dunia maupun akhirat.

Menurut pandangan Islam pendidikan sebagai proses berawal dari saat Allah SWT sebagai rabb al-„alamin menciptakan para Nabi dan Rasul untuk mendidik manusia di muka bumi ini. Pada hakikatnya kata “rabb” (Tuhan) dan murabby (pendidik), dalam Al- Qur`an surah Al-Israa’ ayat 24:



























Artinya: Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Q.S. Al-Israa’ [17]: 24)

Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan dimulai dari kita kecil hingga tua, pendidikan yang pertama dan utama dilakukan oleh kedua orang tua kita di rumah setelah kita beranjak dewasa kita mulai dididik oleh seorang guru di sekolah dan kita sebagai seorang anak dan murid dilarang untuk menyusahkan, selalu bersikap sabar dengan keduanya, menuruti perintahnya yang tidak bertentangan dengan perintah Allah.

Guru merupakan tenaga pendidik yang terdapat disekolah.

Guru adalah semua orang yang berwenang dan bertangguang jawab terhadap pendidikan siswa baik individual ataupun secara klasikal baik di sekolah maupun diluar sekolah. Jadi guru adalah orang yang bekerja tidak hanya mengajar pelajaran siswa dikelas seperti pendidikan moral, budi pekerti, sopan santun dan lain-lain. Guru

(17)

memiliki peranan yang lebih besar dalam membentuk moral, budi pekerti, dan sopan santun siswa adalah guru Pendidikan Agama Islam.3

Guru adalah seorang amanat, karena guru menerima amanat dari orang tua untuk mendidik anaknya. Sebagai pemegang amanat, guru bertanggung jawab atas amanat yang diserahkan kepadanya.

Allah SWT berfirman:





















































Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”. (QS. An-Nisaa’ [4]: 58)

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) mempunyai peran penting, yang di dalamnya terdapat beberapa tujuan. Wiji Suwarno menegaskan dalam undang-undang sistem pendidikan nasional (SISDIKNAS, 2003) pasal 3 tentang fungsi dan tujuan pendidikan nasional menyatakan bahwa: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang

3 Saiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 32.

(18)

Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, ilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.4 Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Pendidikan merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup manusia dalam segala aspek kehidupan di dunia. Pendidikan mempunyai peranan penting dalam menentukan kemajuan sebuah negara. Oleh karena itu, jika ingin memajukan sebuah negara terlebih dahulu harus dimulai dengan meningkatkan kualitas pendidikan yang ada. Pendidikan harus menjadi prioritas utama pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah melakukan reformasi dalam bidang pendidikan. Dari pengertian pendidikan tersebut, pendidikan memiliki tujuan yang luhur. Keluhuran tujuan tersebut selayaknya tercermin dari potensi diri yang tergali, sikap dan tingkah laku yang bermoral dari peserta didik selaku subyek pendidikan. Pendidikan yang ada tidak hanya melahirkan seseorang yang ahli dalam bidang tertentu akan tetapi bagaimana seseorang mampu membawa diri dalam lingkungan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku.

Pendidikan tidak hanya sekedar transfer ilmu saja akan tetapi menurut sisdiknas, 2003 pasal 3 dijelaskan bahwa Pendidikan Nasional berfungsi untuk membentuk watak atau karakter siswa.

4 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas

dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Pendidikan serta Wajib Belajar, (Bandung: Citra Umbara, 2010), Cet, Ke-1, h. 3.

(19)

Salah satunya karakter siswa yang harus dibentuk adalah karakter disiplin yang dibagi menjadi disiplin waktu dan disiplin tempat.

Kedisiplinan adalah suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu organisasi tunduk pada peraturan-peraturan yang telah ada dengan rasa senang hati. Jadi, sekolah memiliki peranan penting dalam membentuk karakter siswa. Saat ini terdapat banyak masalah kedisiplinan siswa. Karakter siswa disiplin saat ini belum terbentuk secara sempurna dan nilai kurang berhasil. Siswa yang disiplin akan terlihat pada perilakunya sehari-hari. Siswa yang telah memiliki karakter disiplin akan teratur dan mengerjakan tugas tepat waktu sesuai dengan yang telah disepakati. Pembiasaan disiplin sejak dini akan berdampak baik bagi kehidupan masa depan siswa.5

Pentingnya pendidikan karakter untuk diterapkan dalam lembaga pendidikan. Karena itu, lembaga pendidikan formal sebagai wadah resmi pembinaan generasi muda diharapkan dapat meningkatkan peranannya dalam membentuk kepribadian peserta didik melalui peningkatan intensitas dan kualitas pendidikan karakter.

Dari hal tersebut, sekolah merupakan salah satu alternatif dalam menerapkan pendidikan karakter. Didirikannya sekolah juga guna membantu mengajarkan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan perilaku atau budi pekerti yang baik kepada siswa.

Keadaan ini akan membantu orang tua yang tidak mampu menanamkan hal tersebut pada anaknya sewaktu di rumah. Dalam hal ini karakter disiplin perlu diterapkan di sekolah. Penegakan disiplin di sekolah tidak hanya berkaitan dengan masalah seputar kehadiran atau tidak. Melainkan lebih mengacu pada pembentukan lingkungan

5 Ali Imron, Manajemen Peserta Didik Berbasis Sekolah, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2011), h. 172.

(20)

yang di dalamnya aturan bersama itu di hormati dan siapapun yang melanggar mesti berani mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Setiap pelanggaran atas kepentingan umum di dalam sekolah mesti diganjar dengan hukuman yang mendidik sehingga siswa mampu memahami bahwa nilai disiplin itu bukanlah bernilai demi disiplinnya itu sendiri, melainkan demi tujuan lain yang lebih luas, yaitu demi stabilitas dan kedamaian hidup bersama.6

Disiplin diperlukan agar sekolah menjadi sebuah lembaga pembentukan diri yang ada. Tanpa ada nilai kedisiplinan, sekolah hanya akan menjadi tempat berseminya berbagai macam konflik sehingga kekacauan menjadi buah-buah yang tak terelakan dari tindakan indisipliner tersebut. Disiplin dalam sekolah, menurut F.W.

Foerster, merupakan keseluruhan ukuran bagi tindakan-tindakan yang menjamin kondisi-kondisi moral yang diperlukan sehingga proses pendidikan berjalan lancar dan tidak terganggu.7 Adanya kedisiplinan dapat menjadi semacam tindakan preventif dan menyingkirkan hal- hal yang membahayakan hidup kaum muda. Untuk sekolah, disiplin sangat perlu diterapkan dalam proses belajar mengajar, alasannya yaitu dapat membantu kegiatan belajar, dapat menimbulkan rasa senang untuk belajar dan meningkatkan hubungan sosial. Disiplin sangat penting dan dibutuhkan oleh setiap siswa. Karena menjadi salah satu prasyarat bagi pembentukan sikap, perilaku dan tata tertib kehidupan yang akan mengantar seorang siswa sukses dalam belajar.

Disiplin merupakan tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

6 Dono Koesoema A, Pendidikan Karakter, (Jakarta: Grasindo, 2007), h. 248.

7 F.W. Foerster, 1908. Scuola e carattere, Versine Italiana Sulla 4a Edizione Tedesca del DR. L.E. Bongioanni, Torino, Societa Tipografica – Editrice Nazionale (S.T.E.N), h. 8.

(21)

Disiplin, menipisnya atau bahkan hilangnya sikap disiplin pada siswa merupakan masalah serius yang dihadapi oleh dunia pendidikan. Dengan tiadanya sikap disiplin, tentu saja proses pendidikan tidak akan berjalan secara maksimal. Selain itu, kurangnya sikap disiplin akan memupuk kebiasaan dan kecenderungan untuk berani melakukan berbagai pelanggaran, baik di sekolah maupun luar sekolah. Karakter ini sesuai dengan QS. Al- Mu’minuun [23] ayat 9:













Artinya: Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. (QS.

Al-Mu’minuun [23] : 9)

Dari ayat diatas dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang mengerjakan sholat secara sempurna pada waktu-waktu yang telah ditetapkan oleh agama. Ayat ini menanamkan sikap kedisiplinan bagi orang Islam. Disiplin dalam menjalankan sholat wajib lima waktu yang telah ditentukan oleh Allah dan Rasul-Nya. Setiap hari sikap disiplin ini diperintahkan oleh Allah buat orang islam yang menjalankan shalat lima kali dalam sehari. Tentunya, umat Islam yang disiplin shalatnya akan mendapatkan pahala dan akan mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, orang Islam yang tidak disiplin dalam menjalankan perintah sholat ini, maka ia juga akan mendapatkan imbalan yang setimpal dengan perbuatannya.

Strategi sebagai perencanaan yang berisi tentang serangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan. Pertama, Strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan termasuk metode dan pemanfaatan

(22)

berbagai sumber daya dalam pembelajaran. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Oleh sebab itu, sebelum menentukan strategi harus sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai.8

SMP Al-Fath Cirendeu berdiri sejak tahun 2007, dimana sekolah yang akan mencetak lulusan Al-Fath In Sya Allah adalah anak yang kreatif, inovatif, percaya diri yang berakhlakul karimah, ditambah penanaman moral islami dan pembiasaan beribadah. Di sekolah Al-Fath tersebut hanya mecapai 110 siswa. Tingkat kedisiplinan yang ada disekolah tersebut berlaku untuk guru dan juga siswa, kedisiplinan tersebut sangat diterapkan kepada guru, karena dari guru terlebih dahulu diberi pengarahan atau materi pengetahuan, diingatkan kembali tentang peraturan-peraturan yang ada di sekolah.

Ketika guru sudah menghadapi siswa maka guru harus sudah siap, karena apapun yang sudah di dapat oleh guru maka sudah bisa untuk dicontohkan dan ditanamkan kepada siswa.

Meskipun dalam peraturan untuk siswa selalu ada yang dibatasi, namun sekolah tetap selalu menghindarkan kepada faktor- faktor yang negatif, misalkan bullying, karena disekolah Al-Fath sangat anti atau menghindari bullying. Dari keterangan diatas, sekolah sangat mengutamakan kerjasama atau komunikasi antara sekolah dan orang tua, juga menyamakan visi misi sekolah dan orang tua, karena dengan adanya hal tersebut maka selama proses belajar mengajar di sekolah akan berjalan sesuai dengan tujuan pendidikan.

Penanaman karakter disiplin sangatlah penting bagi sekolah Al-Fath, karena semua siswa sangat dibentuk untuk mempunyai

8 Sutarjo Adisusilo, Pembelajaran Nilai Karakter, (Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 2012), Cet. ke-1, h. 85.

(23)

karakter, sesuatu yang perlu dicontoh adalah hal-hal yang positif, karena karakter tersebut adalah salah satu visi misi sekolah.

Dari uraian diatas dan melihat pentingnya karakter kedisiplinan akan menjadi bahan penelitian skripsi yang akan penulis lakukan dengan judul “Strategi Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Penanaman Karakter Kedisiplinan Kepada Peserta Didik di SMP Al-Fath Cirendeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan”.

B. Identifikasi Masalah

Dari latar belakang diatas maka dapat di identifikasikan sebagai berikut:

1. Masih banyaknya peserta didik yang kurang menerapkan kedisiplinan disekolah.

2. Upaya dari guru untuk meningkatkan kedisiplinan kepada peserta didik masih kurang.

3. Belum sepenuhnya terwujud penanaman karakter kedisiplinan kepada peserta didik.

4. Strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam penanaman karakter kedisiplinan kepada peserta didik.

5. Faktor pendukung dan penghambat dalam penanaman karakter kedisiplinan kepada peserta didik.

6. Kurang efektifnya penanaman karakter kedisiplinan kepada peserta didik.

C. Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini lebih terarah dan untuk menghindari kesimpangsiuran masalah dalam pembahasan skripsi ini sekaligus

(24)

untuk mempermudah penelitian, maka masalah hanya dibatasi pada:

Strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam penanaman karakter kedisiplinan kepada peserta didik.

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka rumusan masalah dalam skripsi adalah: Bagaimana strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam penanaman karakter kedisiplinan kepada peserta didik di SMP Al-Fath Cirendeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan?

E. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: “Untuk mengetahui Strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam penanaman karakter kedisiplinan kepada peserta didik di SMP Al-Fath Cirendeu, Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan.”

F. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat penelitian ini antara lain:

1. Manfaat Teoritis

a. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan khasanah ilmu pengetahuan dan mengembangkan Pendidikan Agama Islam. Khususnya di jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan selanjutnya bagi yang hendak melakukan penelitian.

2. Manfaat Praktis

(25)

a. Bagi siswa adalah hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kedisiplinan siswa.

b. Bagi guru adalah hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan bagi guru dalam rangka menanamkan kedisiplinan siswa.

G. Tinjauan Pustaka

Tinjauan pustaka adalah kajian literaturnya relevan tugas pokok bahasan penelitian yang akan dilakukan, atau bahkan memberikan inspirasi dan mendasari dilakukannya penelitian.9

Untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini, ada beberapa penelitian yang relevan dan dapat dijadikan bahan telaah antara lain:

1. Rahmawati Rodhiyatun, Tahun 2012, Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan judul skripsi “Penanaman Karakter Siswa Melalui Pembelajaran PAI di SDIT Ibnu Mas’ud Wates Kulon Progo. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif, pada skripsi ini menjelaskan bahwa nilai-nilai Pendidikan Agama Islam yang dikembangkan dalam penanaman karakter siswa di SDIT Ibnu Mas’ud Wates Kulon Progo yakni: religius, jujur, kedisiplinan, semangat kebangsaan, kerja keras, cinta tanah air, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, menghargai prestasi, santun, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial, peduli lingkungan, tanggung jawab, kesehatan, tolong menolong, sopan, demokratis, tertib aturan, kesederhanaan, kepemimpinan. Pelaksanaannya dilakukan dengan cara kegiatan pembelajaran, pengembangan diri,

9 Huzaemah T Yanggo, dkk, Pedoman Penulisan Skripsi, Tesisi, dan Desertasi, (Jakarta: IIQ Pers, 2011), h. 13

(26)

keteladanan, pendidikan kecakapan hidup, poster atau hiasan dinding sekolah, menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua siswa. Faktor penghambat dan pendukungnya yaitu: Faktor Pendukung (peran orang tua, partisipasi semua pihak sekolah, motivasi dan komitmen guru, komunikasi yang terjalin antara orangtua dan guru), Faktor Penghambat (kurikulum diknas yang padat, latar belakang keluarga siswa yang berbeda).

Persamaan skripsi ini dengan skripsi penulis adalah terletak pada penanaman karakter siswa, sama-sama terdapat dalam kedisipilinan siswa di sekolah dan proses belajar mengajar dan memberikan nilai-nilai yang positif kepada siswa.

2. Maulida Zulfa Kamila, Tahun 2013, Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Dengan judul skripsi “Penanaman karakter disiplin dan tanggung jawab siswa kelas X melalui pembelajaran PAI di SMA Negeri 1 Prambanan”. Jenis penelitian skripsi ini menggunakan metode kualitatif, pada skripsi ini menjelaskan bahwa disiplin dan tanggung jawab merupakan hal yang sangat penting agar sekolah menjadi sebuah lembaga pembentukan diri untuk mencapai kesuksesan. Menipisnya kesadaran bahkan hilangnya untuk bersikap disiplin dan tanggung jawab pada siswa yang menjadikan menghambatnya kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu diperlukan penanaman karakter yang baik untuk mewujudkan pembelajaran yang optimal terutama pembelajaran PAI serta untuk mengendalikan perilaku siswa.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Pelaksanaan penanaman karakter disiplin dan tanggung jawab yaitu untuk penanaman karakter disiplin dilakukan dengan beberapa kaidah yang dilakukan guru, antara lain konsisten, bersifat jelas

(27)

menghadiahkan pujian, memberikan hukuman, bersikap luwes, bersikap tegas, melibatkan siswa. Begitu juga untuk penanaman karakter tanggung jawab yang dilakukan dengan beberapa kaidah yang dilakukan guru, antara lain memulai dari tugas-tugas sederhana, menebus kesalahan saat berbuat salah, segala sesuatu mempunyai konsekuensi, sering berdiskusi tentang pentingnya tanggung jawab. 2) Hasil penanaman karakter disiplin dan tanggung jawab siswa melalui pembelajaran pendidikan agama Islam adalah banyaknya peningkatan dari waktu ke waktu. Dapat dikatakan bahwa siswa sudah banyak mengalami peningkatan dan mempunyai kesadaran untuk memiliki sikap disiplin dan tanggung jawab dalam mengikuti pembelajaran pendidikan agama Islam.

Persamaan dari skripsi ini dengan skripsi penulis adalah terletak pada penanaman karakter disiplin agar menjadi lebih baik lagi bagi siswa dalam menuju kesuksesan dan juga untuk mewujudkan pembelajaran yang optimal. Disamping dalam penanaman karakter disiplin maka siswa juga harus di tanamkan rasa tanggung jawab.

3. Riana Ika Nurrizza, Tahun 2014, Mahasiswi Institut Ilmu Al- Qur`an (IIQ) Jakarta. Dengan judul skripsi “Pendidikan karakter anak usia dini di TK Semai Benih Bangsa, Ruhul Ukhuwah, Tanjung Barat, Jakarta Selatan”. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif, pada skripsi ini menjelaskan bahwa pendidikan karakter perlu di ajarkan kepada anak sedini mungkin, karena karakter memegang peranan penting dalam berbagai aspek kehidupan individu dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Oleh karena itu pendidikan karakter bagi anak usia dini memegang peranan penting, yang akan mewarnai

(28)

perkembangan pribadinya secara keseluruhan. Untuk mewujudkan pendidikan karakter bagi anak usia dini, perlu adanya dukungan dari semua pihak, pendidikan karakter tidak menjadi kewajiban sekolah dan instansi pendidikan saja, tetapi juga menjadi kewajiban semua lapisan masyarakat, terutama para orang tua, karena anak lebih lama bersama keluarga dari pada di sekolah. Selain itu, lingkungan tempat tinggal juga akan menjadi pengaruh dalam membentuk karakter anak usia dini. Jadi, pendidikan karakter tidak bisa diajarkan secara teoritis saja, tetapi perlu di butuhkan keteladanan dari lingkungan sekitarnya, dan membutuhkan suatu proses, yaitu pembiasaan untuk melakukannya.

TK Semai Benih Bangsa sudah berjalan dengan efektif, walaupun masih ada kendala sedikit dari lingkungan sekitar, yaitu pengaruh dari teman bermain anak yang belum membiasakan berakhlak baik. Sehingga anak dengan cepat terbawa dan meniru apa yang dilihatnya. Persamaan dari skripsi ini adalah pendidikan karakter, namun penulis lebih meneliti tentang pendidikan karakter anak usia dini karena dengan di bentuknya suatu karakter dari sejak usia dini maka akan lebih berpengaruh dengan perkembangan pribadimya secara keseluruhan.

4. Eva Naili Mazidah, Tahun 2015, Mahasiswi Institut Imu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta. Dengan judul skripsi “Peranan pembelajaran Agama Islam dalam pembentukan karakter siswa di SMP Darul Ma’ruf, Cipete Jakarta Selatan”. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif, pada skripsi ini menjelaskan bahwa lingkungan keluarga, merupakan lingkungan pendidikan pertama yang diterima oleh seorang anak. Orang tua mempunyai peranan yang sangat penting dalam membina kepribadian dan

(29)

membentuk karakter generasi bangsa, khususnya anak-anak mereka, dalam lingkungan sosial mayarakat juga mempunyai andil dalam membina kepribadian dan membentuk karakter generasi muda, sedangkan dalam lingkungan sekolah, guru yang mempunyai tugas dan wewenang dalam membina dan membentuk karakter siswa, yaitu karakter yang seluruh aspek-aspeknya yakni baik tingkah lakunya, kegiatan-kegiatan jiwanya, maupun filsafat hidup dan kepercayaannya menunjukkan pengabdian kepada Allah SWT.

Kenyataan tersebut memberikan peluang bagi seorang guru untuk memberikan perannya melalui pembelajaran Agama Islam dalam usaha membentuk karakter siswa.

Persamaan dari skripsi ini dengan skripsi penulis adalah sama-sama meneliti tentang guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter siswa. Namun dari penelitian Eva Naili Mazidah penelitian ini menghasilkan bahwa pembentukan karakter melalui pembelajaran agama islam dilakukan dengan cara penanaman nilai-nilai karakter yang sudah terpenuhi walaupun belum sempurna prosesnya.

5. Himawan Puput Raharjo, Tahun 2017, Mahasiswa IAIN Surakarta. Dengan judul skripsi “Strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan siswa di SMA Muhammadiyah 5 Karanganyar Jawa Tengah”. Jenis penelitian skripsi ini menggunakan metode kualitatif, pada skripsi ini menjelaskan bahwa Strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan kedisiplinan siswa di SMA Muhammadiyah 5 Karanganyar yang dilihat dari strateginya meliputi memberikan pujian bagi siswa yang disiplin, sosialisasi kedisiplinan, pembinaan secara halus, memberikan hukuman bagi siswa yang

(30)

tidak disiplin berupa menulis surat pernyataan sebanyak seratus kali, pembuatan jadwal tabel sholat sehari-hari, memberikan contoh berpenampilan yang rapi, memeriksa kelengkapan siswa dan tidak disiplin di dalam kelas. Adapun macam-macam disiplin di SMA Muhammadiyah terdapat pada pedoman tata tertib sekolah yang harus ditaati siswa.

Persamaan dari skripsi ini dengan skripsi penulis adalah terletak pada guru Pendidikan Agama Islam dan pada kedisiplinan siswa di mana sama-sama untuk mengembangkan kedisiplinan siswa dengan baik dan optimal mempunyai akhlakul karimah dan menjadikan insan kamil.

6. Wuri Wuryandani, Tahun 2017, Mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta. Dengan judul jurnal “Pendidikan Karakter Disiplin Di Sekolah Dasar”. Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif, pada skripsi ini menjelaskan bahwa dalam melaksanakan pendidikan karakter disiplin di SD Muhammadiyah Sapen dilakukan melalui Sembilan kebijakan, yaitu (1) membuat program pendidikan karakter, (2) menetapkan aturan sekolah dan aturan kelas, (3) melakukan sholat dhuha dan sholat zhuhur berjamaah, (4) membuat pos afektif disetiap kelas, (5) memantau perilaku kedisiplinan siswa di rumah melalui buku catatan kegiatan harian, (6) memberikan pesan-pesan afektif diberbagai sudut sekolah, (7) melibatkan orang tua, (8) melibatkan komite sekolah, dan (9) meenciptakan iklim kelas yang kondusif.

Dalam pelaksanaan kesembilan kebijakan tersebut perlu dukungan dari seluruh warga sekolah baik kepala sekolah, karyawan, dan siswa. Di samping itu, juga perlu perencanaan yang matang untuk menyusun program-program sekolah. Dalam

(31)

pelaksanaannya juga perlu konsistensi yang kuat dari seluruh warga sekolah, terutama dalam hal peelaksanaan program dan penegakan aturan sekolah maupun aturan kelas.

Persamaan dari jurnal ini dengan skripsi penulis adalah terletak pada karakter kedisiplinan, di mana sangat penting pendidikan karakter untuk siswa yang benar-benar harus diterapkan baik di sekolah maupun di kelas, karena melalui pendidikan karakter akan tertanam nilai-nilai karakter yang baik di dalam diri individu dan menjadikan anak yang beraklakul karimah.

H. Sistematika Penulisan

Mengenai sistematika dan teknik penulisan skripsi ini, penulis mengacu pada buku pedoman penulisan skripsi saja, yang diterbitkan oleh Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta. Adapun sistematikanya, penulis dibagi kedalam lima bab dan setiap bab terdiri dari sub bab, yaitu:

BAB I PENDAHULUAN, yang mencakup latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN TEORI, yang berisikan pengertian guru Pendidikan Agama Islam, syarat-syarat menjadi guru Pendidikan Agama Islam, peran guru Pendidikan Agama Islam, tugas dan tanggung jawab guru Pendidikan Agama Islam, pengertian strategi, pengertian karakter, pengertian disiplin siswa, macam-macam disiplin siswa, tujuan kedisiplinan, fungsi kedisiplinan bagi siswa, faktor yang mempengaruhi kedisiplinan siswa, strategi penanaman karakter kedisiplinan siswa.

(32)

BAB III METODE PENELITIAN, yang berisikan tempat dan waktu penelitian, metode penelitian, sampel penelitian, metode pengumpulan data, sumber data, instrumen penelitian dan teknis analisis data.

BAB IV HASIL PENELITIAN, yang berisikan deskripsi tempat penelitian, pengolahan dan analisis hasil penelitian.

BAB V PENUTUP, meliputi kesimpulan dan saran-saran.

(33)

19 A. Guru Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian Guru Pendidikan Agama Islam

Kata guru berasal dari bahasa bahasa Indonesia yang berarti orang yang mengajar. Dalam bahasa Inggris, dijumpai kata teacher yang berarti pengajar. Selain itu terdapat kata tutor yang berarti guru pribadi yang mengajar di rumah, mengajar ekstra, memberi les tambahan pengajaran, educator, pendidik, ahli didik, lecturer, pemberi kuliah, dan pencerahan.1

Dalam bahasa Arab istilah yang mengacu kepada peengertian guru lebih banyak lagi seperti al-alim atau al-mu’allim yang berarti orang yang mengetahui dan banyak digunakan para ulama atau ahli pendidikan untuk menunjuk pada hati guru. Selain itu ada sebagian ulama yang menggunakan istilah al-mudarrisi untuk arti orang yang mengajar atau orang yang memberi pelajaran.2

Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didiknya di sekolah yang telah berpengalaman dalam bidang profesinya, dengan keilmuan yang dimilikinya sehingga anak didik menjadi cerdas.3 Firman Allah Swt dalam Al-Qur`an surat Al-„Alaq ayat 5:













1 Abudin Nata, Perspektif Islam tentang Pola Hubungan Guru-Murid, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2001), Cet. Ke-1, h. 41-42.

2 Abudin Nata, Perspektif Islam tentang Pola Hubungan Guru-Murid, (Jakarta: PT

Raja Grafindo Persada, 2001), Cet, Ke-1, h. 41.

3 Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT RIneka Cipta, 2010), Cet. Ke-4, h. 112.

(34)

Artinya: “Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. (QS. Al-„Alaq [96]: 5)

Dalam undang-undang No. 14 tahun 2005, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, megajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru adalah sosok yang rela mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mengajar dan mendidik siswa.4

Guru juga diartikan digugu dan ditiru, guru adalah orang yang dapat memberikan respon positif bagi peserta didik dalam Proses Belajar Mengajar (PBM) untuk sekarang ini sangatlah dipeerlukan guru yang mmpunyai dasar, yaitu kompetensi sehingga Proses Belajar Mengajar (PBM), yang berlangsung beerjalan sesuai dengan yang kita harapkan.5

Jadi dari beberapa pengertian guru diatas dapat disimpulkan bahwa guru adalah pendidik profesional yang bertugas untuk mengajar di dalam kelas serta mendidik siswa dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Mendidik dapat dilakukan dimana saja tidak hanya di dalam kelas tetapi juga di luar kelas.

Di dalam undang-undang Sistem Peendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 bab X Pasal 36 ditegaskan bahwa isi kurikulum (1) peng embangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

(2) kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan

4 Ngainun Naim, Menjadi Guru Inspiratif, (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2013), h.

1.

5 Akmal Hawi, Komptensi Guru Pendidikan Ahgama Islam, (Jakarta: Raja Grafindo

Persada, 2013), h. 9.

(35)

dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. (3) kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Republik Indonsia dengan memperhatikan: a) peeningkatan iman dan taqwa, b) peningkatan akhlak mulia, c) peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik , d) agama. (4) ketentuan mengenai pengembangan kurikulum sebagaimana dimaksud pada ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Dari isyarat pasal tersebut dapat dipahami bahwa bidang studi pendidikan agama, baik agama Islam maupun agama lainnya merupakan komponen dasar/wajib dalam kurikulum pendidikan agama nasional.6

Menurut Dzakiyat Darajat “Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha untuk meembina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami kandungan ajaran islam secara menyeluruh, menghayati makna tujuan, yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan islam sebagai pandangan hidup”.

Sedangkan menurut Tayar Yusuf dalam Abdul Majid megartikan “Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar generasi tua untuk mengalihkan pengalaman, pengetahuan, kecakapan, dan keterampilan kepada generasi muda agar kelak menjadi manusia- manusia, bertakwa kepada Allah, berbudi pekerti luhur dan berkepribadian yang memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Agama Islam dalam kehidupannya”.

Pendidikan agama islam adalah usaha sadar untuk menyiapkan siswa dalam meyakini, memahami, menghayati, dan mengamalkan agama islam melalui kegiatan bimbingan, pengarahan, atau latihan

6 Akmal Hawi, Komptensi Guru Pendidikan Ahgama Islam, (Jakarta: Raja Grafindo

Persada, 2013), h. 19.

(36)

dengan memerhatikan tuntutan untuk menghormati agama lain dalam hubungan kerukunan antar umat beragama dalam masyarakat untuk mewujudkan kesatuan nasional.

Di tinjau dari segi religius, Pendidikan Agama Islam berlandaskan pada sumber ajaran agama Islam yang tertera dalam ayat Al-Qur`an dan Hadits Nabi. Dalam ajaran Islam pendidikan agama harus dilaksanakan dan hal itu merupakan salah satu bentuk ibadah.

Hal ini sebagaimana dalam firman Allah dalam Al-Qur`an surat An- Nahl ayat 125:















































Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. An-Nahl [16]: 125)

Ayat tersebut mengandung pengertian bahwa dalam ajaran Islam terdapat perintah untuk melaksanakan pendidikan agama Islam, dimana dengan pendidikan tersebut akan dapat mengantarkan seseorang kepada agama Allah, yaitu agama Islam.

Jadi dari beberapa pengertian diatas dapat disimpukan bahwa pendidikan agama islam adalah suatu usaha atau upaya untuk membina dan menyiapkan siswa dalam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran agama islam yang sesuai ajaran Al-Qur‟an dan hadits.

(37)

2. Syarat-syarat menjadi Guru Pendidikan Agama Islam

Menurut M. Ngalim Purwanto dalam Akmal Hawi bahwa untuk menjadi guru harus memenuhi beberapa persyaratan diantaranya:

a) Bertaqwa kepada Allah SWT dan berkelakuan baik

Dalam hal ini mudah dipahami bahwa guru yang tidak bertaqwa sangat sulit atau tidak mungkin bisa mendidik muridnya menjadi bertaqwa kepada Allah SWT. Mengingat guru harus memberikan keteladanan yang memadai dan berlaku bagi sejauh mana guru memberikan keteladanan kepada muridnya, In Sya Allah juga akan sejauh muridnya dapat mengikuti keteladanan dari gurunya. Walaupun seringkali terjadi gurunya bertaqwa, tetapi muridnya bersikap sebaliknya. Firman Allah dalam Al-Qur`an surat Ali „Imran ayat 102:



























Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam”. (QS. Ali „Imran [3]:

102) b) Berijazah

Yang dimaksud dengan berijazah artinya disini ijazah yang dapat memberi wewenang untuk menjalankan tugas sebagai guru di sekolah tertentu. Ijazah bukanlah semata-mata sehelai kertas saja, ijazah adalah bukti yang menunjukkan bahwa seseorang telah mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan-kesanggupan tertentu yang diperlukannya untuk suatu jabatan atau pekerjaan.

(38)

c) Sehat jasmani dan rohani

Kesehatan psikis jauh lebih penting untuk dimiliki oleh guru. Namun bukan berarti kesehatan psikis atau jasmani tidak diperlukan. Dalam batas-batas tertentu keadaan sakit secara fisik atau adanya cacat bagi guru selama masih memungkinkan menunaikan tugas dengan baik, masih dapat ditolelir. Kesehatan jasmani sangat membantu kelancaran guru dalam mengabaikan diri untuk mengajar, mendidik, dan memberikan bimbingan kepada muridnya.

d) Bertanggung jawab

Dalam tujuan pendidikan selain membentuk manusia yang susila yang cakap, juga terdapat manusia tanggung jawab dan cinta tanah air. Hal ini berarti guru harus bertanggung jawab atas pekerjaannya dengan segala tugas dan kewajiban sebagai seorang guru di sekolah atau didalam anggota masyarakat. Firman Allah dalam Al-Qur`an surat Al-Israa‟ ayat 36:



































Artinya: “dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al-Israa‟ [17]: 36)

Dalam ayat ini jelas bahwa segala apa yang didengar, dilihat dan tersirat dalam hati manusia kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Allah. Menurut Quraish Shihab ayat ini menegaskan bahwa manusia akan dituntut mempertanggungjawabkan kerja alfi’ad atau hatinya.

(39)

e) Berjiwa Nasional

Sama halnya dengan syarat-syarat guru yang lain yang sudah diuraikan, dalam menanamkan jiwa nasional guru hendaknya selalu ingat dan menjaga agar jangan sampai timbul chauvivisme, yaitu perasaan kebangsaan yang sangat berlebih-lebihan.

Dari beberapa persaratan untuk menjadi guru pendidikan agama islam (PAI) diatas, jadi seorang pendidik harus beragama islam, lulus berpendidikan tinggi, sehat jiwa dan raga, professional bertanggung jawab, berjiwa patriotisme.

Sedangkan menurut Athiyah Al-Abrasi seorang guru pendidik harus memiliki kriteria sebagai berikut:

1) Zuhud, tidak mementikan materi (tidak materialistik) dan mendidik mencari keridhoan Allah. Firman Allah dalam Al- Qur`an surat ghafir ayat 38-39:











































Artinya: 38. Orang yang beriman itu berkata: "Hai kaumku, ikutilah Aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. 39. Hai kaumku, Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat Itulah negeri yang kekal. (QS. Gafir [40]: 38-39)

Mutaurid berkata bahwa Nabi Shallallahu‟alaihi wa sallam bersabda:

اللهَو اَه اَيْنُّدلا ىِف ِةَزِخلآا الِإ

لْثِه اَه لَع ْجَي ْن ك دَحَأ وَعَبْصِإ ِهِذَى

-

َراَشَأَو ىَي ْحَي ِتَبااباسلاِب ىِف -

نَيْلا ْز ظْنَيْلَف َنِب

عِجْزَي

Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelup, Yahya

(40)

berisyarat dengan jari telunjuk di lautan, maka perhatikanlah apa yang dibawa”. (HR. Muslim: 2858)

Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan,

“Dunia seperti air yang tersisa di jari ketika jari tersebut dicelup di lautan sedangkan akhirat adalah air yang masih tersisa di lautan”. Bayangkanlah, perbandingan yang amat jauh antara kenikmatan dunia dan akhirat.7

2) Bersih, yaitu berusaha membersihkan diri dari bertaubat dosa dan kesalahan secara fisik serta membersihkan jiwa dari sifat- sifat tercela dengan cara membersihkannya. Firman Allah dalam Al-Qur‟an surat Al-Baqarah ayat 222:















Artinya: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri”.

(QS. Al-Baqarah [2]: 222)

3) Iklas, antara lain dengan cara menyesuaikan antara perkataan dan perbuatan, serta tidak malu menyatakan secara jujur bahwa saya tidak tahu terhadap masalah yang belum ia ketahui. Firman Allah dalam Al-Qur`an surat Al-A‟raaf ayat 29:



































Artinya: Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". dan (katakanlah): "hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada Setiap shalat dan sembahlah Allah dengan

7 Ibnu Hajar Al Asqolani , Fathul Bari, 11/232, (Beirut: Darul Ma‟rifah, 1379), h.

232.

(41)

mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kanu diciptakan semula”. (QS. Al-A‟raaf [7]: 29)

4) Suka pemaaf, yaitu memiliki sifat pemaaf yang tinggi. Firman Allah dalam Al-Qur`an surat Asy-Syura ayat 40:































Artinya: “Dan Balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) Maka pahalanya dar Allah.

Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.

(QS. Asy-Syura [42]: 40)

5) Berperan sebagai bapak atau ibu bagi siswa.

6) Menguasai materi pelajaran.8

Adapun persyaratan yang lain adalah:

1) Harus memiliki sifat rabbani.

2) Menyempurnakan sifat rabbani dengan keikhlasan.

3) Memiliki rasa sabar.























Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah [2]: 153)

8 Muhammad At-Thiyah Al Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 136-139.

(42)

4) Memiliki kejujuran dengan menerangkan apa yang diajarkan dalam kehidupan pribadi.

5) Meningkatkan wawasan, pengetahuan, dan kajian.

6) Menguasai variasi serta metode mengajar.

7) Mampu bersikap tegas dan meletakkan sesuatu sesuai dengan tempatnya (proposisi) sehingga ia akan mampu mengontrol diri dan siswanya.

8) Memahami dan menguasai psikologis anak dan memperlakukan mereka sesuai dengan kemampuan intelektual dan kesiapan psikologisnya.

9) Mampu menguasai fenomena kehidupan sehingga memahami berbagai kecenderungan dunia beserta dampak yang akan ditimbulkan bagi peserta didik.

10) Dituntut memiliki sifat adil (objektif) terhadap peserta didik.9

3. Peran Guru Pendidikan Agama Islam

Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah yang wajib dipelajari. Pendidikan agama Islam di sekolah diajarkan oleh seorang guru. Menurut Syaiful Bahri Djamarah Guru pendidikan agama Islam (PAI) memiliki berbagai peran diantaranya adalah sebagai berikut:10

a) Demonstrator

Seorang guru harus mampu menjelaskan materi pelajaran kepada peserta didik dan memahami kemampuan intelektual yang dimiliki peserta didik. Dalam interaksi edukatif, tidak semua bahan

9 Abdurrahman An-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, (Jakarta: Gema Insani Press, 1995), h. 170-176.

10 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), h. 43.

(43)

pelajaran dapat anak didik dipahami. Apalagi anak didik yang memiliki intelegensi yang sedang. Untuk pelajaran yang sukar dipahami anak didik, guru Pendidikan Agama Islam hanya berusaha membantunya dengan cara memperagakan apa yang diajarkan secara dedaktis, sehingga apa yang guru agama Islam inginkan sejalan dengan pemahaman anak didik, tidak terjadi kesalahan pengertian antara guru agama Islam dan anak didik.

Tujuan pengajaran pun dapat tercapai dengan efektif dan efesien.

b) Pengelolaan kelas

Sebagai pengelola kelas, guru pendidikan agama Islan hendaknya dapat mengelola kelas dengan baik, karena kelas adalah tempat berhimpun semua anak didik. Kelas yang dikelola dengan baik akan menunjang jalannya interaksi edukatif, sebaliknya kelas yang tidak dikelola dengan baik akan menghambat kegiatan pengajaran. Anak didik tidak mustahil akan merasa bosan untuk tinggal lebih lama di kelas. Hal ini akan berakibat mengganggu jalannya proses interaksi edukaif. Jadi, maksud dari pengelolaan kelas adalah agar anak didik betah tinggal di kelas dengan motivasi yang tinggi untuk senantiasa belajar didalamnya.

c) Fasilitator

Sebagai fasilitator, guru Pendidikan Agama Islam dapat menyediakan fasilitas yang memungkinkan kemudahan kegiatan belajar anak didik. Lingkungan belajar tidak menyenangkan, suasana kelas yang pengap, meja kursi yang berantakan, fasilitas belajar yang kurang tersedia menyebabkan anak didik malas belajar. Oleh karena itu menjadi tugas guru Pendidikan Agama Islam bagaimana menyediakan fasilitas, sehingga akan tercipta lingkungan belajar yang menyenangkan.

(44)

d) Motivator

Sebagai motivator, guru Pendidikan Agama Islam hendaknya mendorong anak didik agar bergairah dan aktif belajar.

Dalam upaya memberikan motivasi, guru Pendidikan Agama Islam dapat menganalisis motif-motif yang melatarbelakangi anak didik malas belajar dan menurun prestasinya di sekolah. Setiap saat guru Pendidikan Agama Islam harus bertindak sebagai motivator.

Motivasi dapat efektif bila dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan anak didik.

e) Inisiator

Dalam peranannya sebagai inisiator, guru Pendidikan Agama Islam harus dapat menjadi pencetus ide-ide kemajuan dalam pendidikan dan pengajaran. Proses interaksi edukatif yang ada sekarang harus diperbaiki, sesuai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dibidang pendidikan. Kompetensi guru agama Islam harus diperbaiki, keterampilan penggunaan media pendidikan dan pengajaran harus diperbaharui sesuai kemajuan media komunikasi dan informasi. Guru agama Islam harus menjadikan dunia pendidikan. Khususnya interaksi edukatif agar lebih baik.

f) Informator

Sebagai informator, guru Pendidikan Agama Islam harus dapat memberikan informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, selain jumlah bahan pelajaran untuk setiap mata pelajaran yang telah diprogramkan dalam kurikulum. Sehingga guru Pendidikan Agama Islam tidak hanya menyampaikan materi pelajaran saja tetapi juga ikut memberikan sumbangsih pemikiran terhadap pelaksanaan kurikulum.

Referensi

Dokumen terkait

.Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pembelajaran pendidikan agama Islam yang digunakan di SMP IT Fitrah Insani adalah strategi pembelajaran inkuiri,

Teori tersebut dibuktikan dengan hasil penelitian yang dilakukan yaitu variabel strategi guru Pendidikan Agama Islam berada pada kategori sedang (69%)

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1 perencanaan pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang ada di SMPN 1 Kediri dan SMPN 3 Kediri berdasar temuan lintas situs

Didik Menghafal Al-Qur‟an di SMAN 1 Bulukumba. Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mendeskripsikan strategi guru Pendidikan Agama Islam dalam memotivasi peserta didik

Berdasarkan hasil temuan penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan, sebagai berikut: (1) Strategi implementasi nilai kejujuran kedisiplinan dan tangung jawab

Tinjauan tentang Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengatasi Kenakalan Peserta Didik .... Kajian Penelitian terdahulu

Adapun hasil penelitian ini adalah strategi guru PAI dalam pembentukan karakter toleransi beragama pada peserta didik di SD Negeri 101 Kota Bengkulu yaitu atas kebijakan kepala sekolah

Tujuan dari penelitian disini ada tiga yaitu, untuk mendeskripsikan strategi guru pendidikan agama islam PAI dalam membentuk karakter siswa di SDN Manggis 3 Puncu, selain itu juga untuk