• Tidak ada hasil yang ditemukan

strategi pengembangan wisata rumah adat senaru di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "strategi pengembangan wisata rumah adat senaru di"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

i SENARU

Oleh:

RIWANTO NIM.180503009

Oleh : RIWANTO NIM.180503009

PROGRAM STUDI PARIWISATA SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2022

(2)

ii

STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA RUMAH ADAT SENARU DI DESA SENARU KECAMATAN BAYAN KABUPATEN LOMBOK UTARA

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Mataram Untuk Persyaratan Mencapai Gelar

Sarjana Ekonomi

SENARU

Oleh:

RIWANTO NIM.180503009

Oleh : RIWANTO NIM.180503009

PROGRAM STUDI PARIWISATA SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM

MATARAM 2022

(3)

iv

(4)

v

(5)

vi

(6)

vii

(7)

viii MOTTO

“Lebih Baik Gagal Tapi Pernah Mencoba Daripada Tidak Pernah Gagal Karena Tidak Pernah Mencoba”

(8)

ix

PERSEMBAHAN

“Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berbagai macam kenikmatan sehingga bisa sampai di tahap ini. Kupersembahkan skripsi ini kepada keluargaku sebagai wujud kasih sayang, bakti dan terimakasih kepada ibuku tersayang (Nurjanah), bapakku tercinta (Kertadi), Kakakku (Ratnisah S.Pd), Adekku (Irman dan Sopa Halida) kakek dan nenekku yang senantiasa memberikan limpahan kasih sayang dan do’a yang tulus serta kupersembahkan skripsi ini untuk orang yang selalu menemaniku, organisasiku English Study Club, teman-temanku, almamaterku, semua guru dan dosenku yang telah membimbingku menyelesaikan skripsi ini.”

(9)

x

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Tuhan semesta alam dan shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya. Amin.

Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan sukses tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis memberikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu sebagai berikut:

1. Ibu Yunia Ulfa Variana, S.E., M.Sc.. sebagai dosen pembimbing I dan Ibu Syukriati, S.Pd., M.Hum. selaku pembimbing II yang memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi mendetail, terus menerus, dan tanpa bosan di tengah kesibukannya dalam suasana keakraban menjadikan skripsi ini lebih matang dan cepat selesai.

2. Bapak Johari, M.SI. sebagai ketua jurusan.

3. Bapak Dr. Riduan Mas’ud, M.Ag selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.

4. Bapak Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberi tempat bagi penulis untuk menuntut ilmu dan memberi bimbingan dan peringatan untuk tidak berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai.

(10)

xi

5. Bapak ibu Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat dan berguna bagi penulis.

6. Kedua orang tua tercinta, keluarga dan sahabt, penulis sampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya atas doa, motivasi dan semangat yang tak terhingga, sehingga penulis mampu menyelesaikan skripsi ini tepat waktunya.

Semoga bantuan dari semua pihak yang bersangkutan menjadi amal shaleh di sisi Allah SWT. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan skripsi ini, oleh karena itu saran dan kritik sangat diperlukan demi kesempurnaan skripsi ini.

Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat, khususnya bagi penulis sendiri dan pembaca pada umumnya untuk perkembangan pengetahuan dalam bidang pariwisata. Amin.

Mataram, 31 Agustus 2022 Penulis

Riwanto

(11)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS PEMBIMBING ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI ... vi

HALAMAN MOTTO ... vii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

ABSTRAK ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar belakang ... B. Rumusan masalah... 6

C. Tujuan dan manfaat penelitian ... 6

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 7

E. Telaah Pustaka ... 8

F. Kerangka Teori... 12

G. Metode penelitian ... 23

H. Sistematika Pembahasan ... 32

BAB II TEMUAN DAN PAPARAN ... 33

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 33

1. Profil Desa Senaru ... 33

a. Sejarah Desa Senaru ... 33

b. Kondisis Perekonomian dan Pertumbuhan Penduduk ... 36

c. Kondisi Sarana dan Prasarana ... 37

d. Struktur organisasi pemerintahan Desa Senaru... 37

B. Strategi pengembangan wisata Rumah Adat di Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara ... 43

1. Fasilitas... 43

2. Atraksi wisata ... 44

3. Pelayanan ... 45

4. Harga ... 46 C. Implikasi dalam Pengembangan wisata Rumah Adat Terhadap

(12)

xiii

Ekonomi di Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok

Utara ... 47

1. Perekonomian ... 48

2. SDM (Sumber Daya Manusia) ... 50

BAB III PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN ... 52

A. Strategi Pengembangan Wisata Rumah Adat di Desa Senaru Kecamatan bayan Kabupaten Lombok Utara ... 52

B. Implikasi dalam Pengembangan wisata rumah adat terhadap ekonomi di Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara ... 59

BAB IV PENUTUP ... 62

A. Kesimpulan ... 62

B. Saran ... 63

DAFTAR PUSTAKA ... 65

LAMPIRAN ... 70

(13)

xiv

DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Luas Wilayah Kecamatan Bayan, 36.

Tabel 2.3 Sektor pekerjaan di Desa Senaru tahun 2022, 37.

Tabel 2. 5 Sarana transportasi darat, 38.

Tabel 2. 6 Jenis Prasarana Air, 39.

Tabel 2. 7 Jenis prasarana ibadah, 40.

Tabel 2. 8 Jenis prasarana kesehetan, 40.

Tabel 2. 9 Jenis Prasarana Pendidikan, 41.

Tabel 2. 10 Jumlah Wisata, 42.

(14)

xv

DAFTAR GAMBAR Gambar 2. 1 Struktur pemerintah Desa, 43.

Gambar 2.2 Wawancara bersama masyarakat selaku pengurus wisata rumah adat, Hal, 70.

Gambar 2.3 Wawancara bersama ketua pokdarwis Desa Senaru, 70.

(15)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Wawancara bersama masyarakat selaku pengurus wisata rumah adat, 70.

Lampiran 2 Wawancara bersama Sekertaris Desa, 70.

Lampiran 3 Wawancara bersama ketua pokdarwis Desa Senaru, 71 Lampiran 4 Kartu Konsultasi Pembimbing 1 dan 2, 72

(16)

xvii

STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA RUMAH ADAT SENARU DI DESA SENARU KECAMATAN BAYAN KABUPATEN LOMBOK UTARA

Oleh:

Riwanto NIM 180503009

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui strategi pengembangan wisata rumah adat senaru di Desa Senaru Kcamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, (2) mengetahui implikasi pengembangan wisata rumah adat senaru terhadap ekonomi di Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus untuk memperoleh gambaran serta informasi yang berhubungan dengan wisata rumah adat. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan pengumpulan dokumentasi yang berkaitan tentang wisata rumah adat. Data yang diperoleh ekmudian dianalisis secara kualitatif dan disajikan secara dsekriptif.

Hasil penelitian menunjukan bahwa strategi pengembangan wisata rumah adat rumah adat di Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaen Lombok Utara dengan cara mengembangkan fasilitas, atraksi wisata, pelayanan dan juga harga tiket dan makanan tradisional yang ada di wisata rumah adat senaru.Wisata rumah adat di Desa Senaru memiliki konsep bangunan rumah adat yang khas dan memiliki pemandangan alam yang indah seperti hamparan sawah memiliki area pegunungan yang bisa dijadikan sebagai tempat wisata yang mampu menjadi daya tarik tersendiri bagai wisatawan yang berkunjung. Pengembangan sumberdaya manusia perlu dilakukan kepada pelaku pariwisata agar mampu bertahan mengikuti zaman, membuat regulasi yang kuat sehingga mampu membuat desa wisata berkelanjutan dan mengurangi persaingan yang tidak sehat.

Kata Kunci: Strategi, Pengembangan, Wisata Rumah Adat

(17)

xviii

TOURISM DEVELOPMENT STRATEGY OF SENARU TRADITIONAL HOUSE IN SENARU VILLAGE, BAYAN DISTRICT, LOMBOK UTARA

REGENCY By:

Riwanto NIM 180503009

ABSTRACT

This study aims to: (1) find out the strategy for developing Senaru traditional house tourism in Senaru Village, Bayan District, North Lombok Regency, (2) find out the implications of developing Senaru traditional house tourism on the economy in Senaru Village, Bayan District, North Lombok Regency. This research uses a qualitative approach with a case study type to obtain an overview and information related to traditional house tourism. The data was collected by observing, interviewing and collecting documentation related to traditional house tourism. The data obtained were then analyzed qualitatively and presented descriptively. The results showed that the strategy for developing traditional house traditional house tourism in Senaru Village, Bayan District, North Lombok Regency by developing facilities, tourist attractions, services and also ticket prices and traditional food in Senaru traditional house tours. Traditional house tours in Senaru Village have the concept of building a typical traditional house and has beautiful natural scenery such as a stretch of rice fields has a mountainous area that can be used as a tourist spot that can be a special attraction for tourists who visit. Human resource development needs to be carried out for tourism actors to be able to survive with the times, make strong regulations so that they are able to make tourism villages sustainable and reduce unfair competition.

Keywords: Strategy, Development, Traditional House Tourism

(18)

1 BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang

Pariwisata merupakan salah satu aset yang paling berkontribusi besar terhadap devisa negara, saat ini pariwisata mengalami degradasi dikarenakan pandemi covid-19 khususnya di daerah pariwisata seperti di Lombok sendiri tepatnya di Desa Senaru Kabupaten Lombok Utara, wisata rumah adat senaru menjadi salah satu ikon di Desa tersebut. Dengan berkembangnya sektor pariwisata maka akan mempengaruhi sektor lain seperti produk lokal, budaya lokal, dan lain-lain.1 Pariwisata juga merupakan aspek pelayanan jasa yang memiliki cara kerja yang mencakup p

eraturan pergerakan wisatawan di tempat wisata. Oleh karenanya pelayanan (service) memiliki peran yang penting dalam pengembangan suatu tempat wisata.2

Penghasilan devisa negara Indonesia dominan dihasilkan dari sektor pariwisata dan dapat dijadikan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat. 3 Dewasa ini, industri pariwisata atau tepatnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif merupakan aset besar untuk memulihkan perekonomian di Indonesia.4 Dalam peraturan perundang-undnagan UU No. 10 tahun 2009 tentang kepariwisataan pasal 1 menyebutkan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan keindahan dan nilai yang berupa keanekaragaman

1Dewi Kusuma Sari, “Pengembangan Pariwisata Obyek Wisata Pantai Sigandu Kabupaten Batang”, (Skripsi, Universitas Diponegoro, Semarang, 2011), hlm. 1

2Isdarmanto, Dasar-Dasar Kepariwisataan dan Pengelolaan Destinasi Pariwisata, (Yogyakarta:

Gerbang Media Aksara ,Yogyakarta, 2016), hlm. 13.

3Novalia Ariyani, “Strategi Peningkatan Kualitas Pelayanan di Museum Monpera Kota Palembang”, (Skripsi, Politeknik Negeri Sriwijaya, Plaembang, 2018), hlm. 1.

4Kusudianto Hadinoto, Perencanaan Pengembangan Destinasi Pariwisata, (Jakarta: Universitas Indonesia, 2002), hlm. 1.

(19)

2

kekayaan alam, budaya dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.5 Daya Tarik Wisata (DTW) merupakan segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.6 Daya tarik wisata (DTW) adalah elemen terpenting dalam pengembangan suatu destinasi atau daerah tujuan wisata.

Nusa tenggara barat (NTB) juga terkenal dengan potensi pariwisatanya yang beraneka ragam. Mulai dari wisata alam seperti pantai, air terjun, pegunungan , dan wisata budaya yang masih kental dengan adat budaya dari berbagai macam suku, budaya yang ada di daerah Indonesia. Salah satu daerah objek wisata indonesaia yang memiliki potensi wisata sangat besar adalah pulau Lombok. Lombok merupakan salah satu pulau di Indonesia yaitu provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), di pulau ini banyak sekali objek wisata yang sangat menarik, eksotis, dan mempesona untuk dikunjungi. Diantara keanekaragaman wisata yang ada di pulau Lombok, salah satu potensi wisata yang ada di Kabupaten Lombok Utara yang saat ini berkembang yaitu Desa Wisata Rumah Adat Dusun Senaru Desa Senaru Kecamatan Bayan.

Desa Senaru merupakan salah satu desa wisata budaya yang masih mempertahankan kebudayaan Suku Sasak, tradisi lokal, pedesaan yang masih alami lengkap dengan bangunan rumah adat, serta warisan leluhur yang terus

5Sri Sukarni Gestuti, MarketingMixMuseum Gula Gondang Baru Klaten dalam Meningkatkan Jumlah Wisatawan, Hotelier Journal Politeknik Indonusa Surakarta ISSN : 2442-7934 Vol. 3 Nomor 2 Desember 2017, hlm. 1.

6 Pidii, Investment Potentials and Opportunities In Dairy Regency; Potensi dan Peluang Investasi Kabupaten Dairi, (Sumatra: Pidii, 2020), hlm. 47.

(20)

3

dijaga dan dikembangkan sampai saat ini oleh masyarakat Desa Senaru . Kondisi permukiman tradisional yang ada di Indonesia perlu digali nilai-nilai dan kaidah-kaidah keunggulannya serta kesesuaiannya dengan desain ekologis.

Hingga saat ini sebagian besar komunitas tersebut masih tetap mempertahankan adat dan budayanya dan belum terpengaruh modernisasi.

Dengan kondisi tapak permukiman tradisional mereka yang tidak bertambah, dan populasinya bertumbuh terus, dikawatirkan daya dukung tapaknya akan terlampaui. Oleh sebab itu dibutuhkan model konseptual untuk menjaga sustainibilitas permukiman tradisional Sasak. Kekayaan budaya seperti permukiman tradisional Sasak harus distabilisasikan sustainibilitasnya berdasarkan konsep ecohouse dan ecoliving sehingga dapat diwariskan kepada generasi mendatang.7

Kebertahanan rumah tradisional Desa Senaru dikarenakan masih memegang teguh kepercayaan kepercayaan terhadap prinsif kearifan lokal dan kekuatan supranatural termasuk dalam tatanan ruang permukiman.8 Konsep kosmis yang mempengaruhi kehidupan masyarakat Desa Senaru adalah penghormatan penduduk terhadap Gunung Rinjani. Gunung Rinjani sebagai gunung tertinggi tertinggi di Pulau Lombok dianggap memberikan kekuatan gaib dan berkah bagi masyarakat desa Senaru. Konsep ini berlanjut pada sistem kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Dusun Senaru adlah kepercayaan serba roh, bukan kebendaan. Kebertahanan pola pemukiman tradisional desa

7 Agus Zulkarnain Arief ”Implementasi Konsef Ecohouse dan Ecoliving Pada Arsitektur–

Pemukiman Tradisional sasak”

8 I.G. Suka, I.K. Darmana”Kebertahanan Desa Tradisional Senaru Sebagai Wujud Kearifan Lokal Dalam Pembangunan Pariwisata Budaya Di Kecamatan Bayan Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat”

(21)

4

Senaru membuat salah satu daya tarik pariwisata untuk berkunjung sebelum mendaki Gunung Rinjani sebagai gunung tertinggi di Pulau Lombok.

Wisata budaya atau tradisi merupakan kekayaan yang ditinggalkan oleh para leluhur yang harus dilestarikan dan dipertahankan, akan tetapi, melihat kondisi wisata budaya dewasa ini mengalami degradasi eksistensi yang dipengaruhi oleh media dan tekonologi seperti instagram, facebook, whatsapp, tiktok, dan lain-lain. Di samping itu dengan kondisi covid-19 yang masih melanda juga merupakan faktor penyebab mundurnya pariwisata atau kurangnya pengunjung terlebih lagi di bidang wisata budaya khsusnya rumah adat.

Rumah adat Desa Senaru mempunyai berbagai ragam daya tarik yang mampu menjadi maghnet wisatawan untuk brkunjung ke destinasi tersebut. Di Kampung Tradisional Senaru berdiri beberapa bangunan khas Lombok yang terbuat dari bambu mulai dari tiang, dinding sampai pintu. Sementara atapnya menggunakan alang-alang yang banyak didaerah tersebut. Sedangkan fondasi rumah berupa tanah atau batu. Deretan rumah-rumah tradisional itu berjejer rapi dalam satu halaman seluas 2 hektare yang memang dikhususkan untuk dikunjungi wisatawan. Ada bangunan yang terdiri dari empat tiang atau disebut sakepat. Ada juga rumah yang terdiri dari enam tiang atau sakenem. Penduduk Rumah Adat Desa Senaru menunjukan berbagai keahlian mereka . Misalkan membaca lontar tentang kisah masuknya agama Islam di Pulau Lombok. Ada pula permainan musik tradisional genggong, mendewa, minangin, presian, gegerok tandak, dan menjoget. Kuliner tradisional Desa Senaru yang tersaji, yakni dodol ketan merah, serabi, kelepon, dan peset (ketan yang dimasak lebih

(22)

5

kental bercampur gula merah dankelapa parut). Ada pula ketimus (ubi yang dihaluskan dengan gula merah dan kelapa), jaje bantal (ketan isi pisang atau kacang-kacangan), penimbung (beras atau ketan yang dibakar dalam bambu).

Wisata rumah adat merupakan aset yang monumental yang harus diperhatikan oleh para pelaku wisata maupun pemerintah. Pengembangan Wisata Adat Senaru berdampak secara positif terhadap pendapatan masyarakat.

Peningkatan pendapatan terjadi pada berbagai bidang mata pencaharian masyarakat seperti pedagang, pekerja jasa pariwisata dan sebagainya.

Pengembangan Wisata Rumah Adat Senaru juga banyak membuka peluang baru bagi masyarakat untuk mendapat penghasilan tambahan selain dari sector pertanian. Sedikit demi sedikit warga dapat merasakan dampak manfaat yang dirasakan.

Manfaat yang dirasakan seperti pemilik homestay, terutama pemandu sedikit demi sedikit menambah penghasilan atau perekonomian. Masyarakat menyadari bahwa pariwisata itu bias menghasilakan selain daripada pertanian.

Pengembangan wisata Rumah Adat Senaru berkontribusi positif terhadap peningkatan penghasilan masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat pengembangan Wisata Rumah Adat Senaru yang dapat dirasakan secara langsung oleh warga berupa peningkatan omzet penjualan bagi masyarakat yang berdagang, serta penghasilan tambahan bagi masyarakat yang bekerja di sektor pariwisata. Sedangkan dampak tidak langsung adalah semakin meningkatnya nilai jual yang berarti juga sebuah investasi masyarakat di desa senaru terutama masyarakat yang dekat dengan wisata rumah adat senaru.

(23)

6

Berdasarkan uraian latar belakang di atas tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti lebih lanjut tentang “STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA RUMAH ADAT SENARU DI DESA SENARU KECAMATAN BAYAN KABUPATEN LOMBOK UTARA”

B.Rumusan Masalah

Berdasarkan latanr belakang di atas maka rumusan masalahnya adalah:

1. Bagaimana strategi pengembangan wisata rumah adat senaru di Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara?

2. Bagaimana implikasi dari pengembangan wisata rumah adat senaru terhadap ekonomi di Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara?

C.Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui strategi pengembangan wisata rumah adat senaru di Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara

b. Untuk mengetahui implikasi dari pengembangan wisata rumah adat senaru terhadap ekonomi di Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara

2. Manfaat Penelitian

Dalam suatu penelitian tentunya penulis mengharapkan agar apa yang diteliti bagi siapapun yang membutuhkan, baik itu bermanfaat secara teoritis maupun praktis:

a. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis penelitian ini bias dijadikan sebagai tambahan refrensi, konsep-konsep, atau teori-teori bagi peneliti-peneliti yang akan

(24)

7

meneliti mengenai peningkatan jumlah pengunjung wisata, terutama di wisata rumah adat senaru.

b. Manfaat Praktis

Manfaat praktis penelitian ini dapat memberikan informasi secara langsung dari hasil penelitian kepada semua pihak yang membutuhkan, terutama yang sedang melakukan penelitian mengenai wisata rumah adat, untuk memecahkan berbagai jenis rumusan masalah.

D.Ruang lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup adalah batasan-batasan yang dibuat oleh peneliti dalam mendapatkan informasi dan data-data dari objek yang akan diteliti karena dalam melaksanakan penelitian ini disadari bahwa masih banyak keterbatasan baik itu ilmu pengetahuan, fasilitas dan sumber daya manusia.

Oleh karena itu perlu adanya pembatasan yang dibeikan terhadap ruang lingkup penelitian yang berfokus kepada “ Strategi Pengembangan Wisata Rumah Adat Senaru dalam rangka Meningkatkan Kunjungan Wisatawan di Desa Senaru, Kec. Bayan, Kab. Lombok Utara”.

2. Setting Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara yang terkenal sebagai desa wisata yang menawarkan adat budaya. Peneliti memilih lokasi ini karena beberapa pertimbangan salah satunya yaitu bangunan rumah adat yang menjadi potensi utama daya tarik wisata, wisata rumah adat yang mampu menarik banyak wisatawan untuk datang berkunjung dan menikmati keunikan dan

(25)

8

keindahan rumah adat yang masih kental dengan nuansa budaya Desa Senaru.

E.Telaah Pustaka

Telaah Pustaka adalah penelusuran terhadap karya-karaya terdahulu yang terkait untuk menghindari duplikasi, plagiasi, replikasi, serta menjamin kesahehan dalam keabsahan peneliti yang dilakukan.9

Dalam telaah pustaka ini, peneliti akan memaparkan beberapa skripsi lain sebagai sumber acuan perbandingan yang mempunyai kaitan dengan penelitian yang akan dilakukan, diantaranya:

1. Dalam Kripsi Muhammad Noris 2021, yang berjudul “Pengembangan Pariwisata Rumah Adat (UMA NCUHI) Dalam Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Sekitar Rumah Adat (UMA NCUHI) Desa Mbawa kecamatanDonggo Kabupaten Bima” Dalam penelitian ini membahas tentang pengembangan pariwisata Rumah Adat (Uma Ncuhi) dalam meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar rumah adat Desa Mbawa Kecamatan Donggo Kabupaten Bima. Penelitian ini memiliki fokus peneliti untuk mengetahui bagaimana dampak pengembangan pariwisata rumah adat (UMA NCUHI) Antara penelitian studi terdahulu dengan proposal penelitian yang diajukan oleh peneliti maka terdapat perbedaan yang signifikan yaitu subjek dan objek penelitian berbeda sehingga hasil penelitian pun berbeda oleh karena itu penelitian yang akan dilakuakan peneliti dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sedangkan yang

9 Husain Umar, Riset SDM dalam Organisasi, Edisi keenam, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004), hlm. 69.

(26)

9

menjadi persamaan dalam penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada penelitian tentang wisata adat atau budaya.

2. Dalam Skripsi Izza Julianti Astari 2018, yang bejudul “Pengembangan Pariwisata Rumah Adat Desa Beleq Dalam Peningkatan Masyarakat Sekitar Rumah Adat Kecamatan Sembalun Tahun 2018”10Penelitian ini membahas tentang pemgembangan pariwisata Rumah Adat Desa Belek dalam peningkatan pendapatan masyarakat sekitar rumah adat kecmatan sembalun tahun 2018 yang dilatar belakangi dengan berkurangnya pendapatan Negara dari sektor migas dan non migas. Penelitian ini memilki fokus penelitian untuk untuk mengetahui bagaimana dampak dampak pengembangan pariwisata rumah adatkecamatan sembalun tahun2018. Antara penelitian studi terdahulu dengan proposal penelitian yang diajukan oleh peneliti maka terdapat perbedaan yang signifikan yaitu subjek dan objek penelitian berbeda sehingga hasil penelitian pun berbeda oleh karena itu penelitian yang akan dilakuakan peneliti dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Sedangkan yang menjadi persamaan dalam penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada penelitian tentang wisata adat atau budaya.

3. Penelitian yang dilakukan oleh, Ian Asriandy, dengan judul “Strategi pengembangan obyek wisata air terjun bissapu di kabupaten bantaeng”11. Jenis penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif diskriptif, untuk mengetahui atau menggambarkan kenyatan atau dari kejadian yang diteliti

10 Izza Julianti Astari, ”Pengembangan Pariwisata Rumah Adat Desa Beleq Dalam Peningkatan Pendapatan Masyarakat Sekitar Rumah Adat kecamatan Sembalun Tahun 2018”, (Skripsi, UIN MATRAM,2018),Hlm.1-4

11 Ian Asriandy, “Strategi pengembangan obyek Wisata Air terjun Bissapu di Kabupaten Bantaeng”, (Skripsi, UNHAS,2016), Hlm.78

(27)

10

atau penelitian yang dilakukan terhadap variable mandiri atau tunggal.

Berdasarkan hasil dari penelitian terdahulu strategi yang dilakukan ialah strategi sebagai rencana dalam pengembangan focus pada satu titik, melibatkan semua elemen terkait d engan pengembangan yang akan dilakukan dan melakukan pelatihan-pelatihan baik pemandu wisata, pelaku wisata dan pengelola wisata. Persamaanya terletak pada judul penelitian yang mengenai Strategi pengembangan Wisata. Sedangkan perbedaan dengan penelitian terletak pada aspek dan lokasi. Antara penelitian studi terdahulu dengan proposal penelitian yang diajukan oleh peneliti maka terdapat perbedaan yang signifikan yaitu subjek dan objek penelitian berbeda sehingga hasil penelitian pun berbeda oleh karena itu penelitian yang akan dilakuakan peneliti dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Sedangkan yang menjadi persamaan dalam penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada penelitian tentang wisata adat atau budaya.

4. Penelitian yang dilakukan oleh, Evi Fitriana, dengan judul “Strategi pengembangan taman wisata kum-kum sebagai wisata edukasi di kota palangkaraya”12. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian Deskriftif dengan pendekatan kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian tersebut antara lain membangun sarana prasarana atau akomodasi, mengembangkan produk wisata, dan bekerjasama dengan pihak swasta dan pemerintah untuk menanamkan modal. Jika kekuatan dan peluang

12 Evi Fitriana,”Strategi pengembangan taman wisata Kum-Kum sebagai wisata eduksi di kota Palangkaraya”, (Skripsi, Jurusan Pendidikan Geografi Universitas PGRI Palangka Raya, 2018) hlm. 3-11

(28)

11

ditingkatkan serta meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman dilakukan oleh pengelola dan didukung oleh penerapan strategi pengembangan yang tepat, maka taman wisata Kum Kum yang terletak di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah ini akan mampu bersaing dengan objek wisata lainya yang ada di Kota Palangka Raya bahkan di Provinsi Kalimantan Tengah persamaanya terletak pada pada judul penelitian yaitu mengenai Strategi pengembangan wisata. Sedabgkan perbedaan dengan penelitian ini terletak pada aspek dan lokasi. Antara penelitian studi terdahulu dengan proposal penelitian yang diajukan oleh peneliti maka terdapat perbedaan yang signifikan yaitu subjek dan objek penelitian berbeda sehingga hasil penelitian pun berbeda oleh karena itu penelitian yang akan dilakuakan peneliti dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Sedangkan yang menjadi persamaan dalam penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada penelitian tentang wisata adat atau budaya.

5. Jurnal An-nisaa Kurnia Widianti, yang berjudul”Reservasi Rumah Adat Desa Sade Rembitan Lombok Sebagai Upaya Konservasi” Hasil penelitian yang dilakukan terhadap Rumah Adat Desa Sade Lombok (Bale Tani) adalah keaslian dan keutuhan material arsitektur yang digunakan. Dengan di latar belakangi hal seperti itu pemerintah NTB mengupayakan konservasi dengan cara preservasi sebagai bentuk apresisi dan penghargaan terhadap peninggalan budaya leluhur Nusa Tenggara Barat (Lombok).

Desa Sade merupakan tempat untuk mengali banyak sejarah dan mengetahui warisan dari leluhur nenek moyang kita.

(29)

12

Adat istiadat Desa Sade sangatlah masih kental, walau mereka sedikit demi sedikit menerima modernisasi namun adat tetaplah mereka pertahankan.

Karena bagi mereka adat istiadat sangatlah penting danmerupakan warisan leluhur nenek moyang.

Namun, kesadaran masyarakat dan pemerintah lah yang harus turut menjaga, dan mempertahankan keutuhan dan keaslian peninggalan budaya nenek moyang seperti contohnya Rumah Adat Desa Sade ini. Sehinga dengan diupayakanya preservasi dalam suatu arsitektur peninggalan budaya bias memajukan bidang pendidikan (edukasi), budaya dan tentunya pariwisata. Sedangkan yang menjadi persamaan dalam penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada penelitian tentang wisata adat atau budaya.

F. Kerangka Teori

1. Strategi pengembangan Wisata

Setiap perusahaan ataupun organisasi pasti memiliki yang amanya plan jangka panjang dan plan jangka pendek, cara mencapai tujuan tersebut tentunya adanya strategi dari prusahaan yang sudah di rancang sedemikian rupa. Menurut Ismail Solihin, kata strategi berasal dari bahasa yunani

“stratagos” yang berarti militer dan “ag” yang berarti memimpin. Strategi dalam kontek awalnya didefinisikan sebagai generalship atau suatu yang di kerjakan oleh para jendral dalam membuat rencana untuk menaklukan dan memnangkan perang. Sementara itu Nanang Fatah berpendapat bahwa

(30)

13

strategi adalah langkah-langkah yang systematis dalam melakukan rencana secara menyeluruh dan berjangka panjang dalam mencapai tujuan.13

Menurut A. Yoeti menyatakan bahwa dalam perencanaan strategis suatu daearah tujuan wisata dilakukan analisis lingkungan dan analisis sumber daya. Tujuan analisis ini tidak lain adalah untuk engetahui dan mengidentifikasi sumber daya utama, terutama mengenai kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknes) organisasi atau lembaga yang bertanggun Jurnal An-nisaa Kurnia Widianti, yang berjudul ”Reservasi Rumah Adat Desa Sade Rembitan Lombok Sebagai Upaya Konservasi”

Dimana hasil penelitian ini adalah keaslian dan keutuhan material arsitektur yang digunakan. Dengan di latar belakangi hal seperti itu pemerintah NTB mengupayakan konservasi dengan cara preservasi sebagai bentuk apresisi dan penghargaan terhadap peninggalan budaya leluhur Nusa Tebggara Barat (Lombok).

Desa Sade ialah tempat untuk menggali jejak sejarah untuk mengetahui warisan dari leluhur nenek moyang suku Sasak daerah Sade.

Adat istiadat Desa Sade sangatlah kental, walau sedikit demi sedikit menerima modernisasi namun adat tetaplah dipertahankan. Karena bagi masyarakat adat istiadat sangatlah penting danmerupakan warisan leluhur nenek moyang.

Akan tetapi kesadaran masyarakat merupakan hal yang paling penting untuk mempertahankan keutuhan dan keaslian peninggalan budaya nenek moyang seperti di Desa Sade. Sehingga dengan diupayakannya

13 Ahmad, “Manajemen Strategis” (Makassar: CV.Nas Media Pustaka,2020),hal 1-2

(31)

14

preservasi dalam suatu arsitektur peninggalan budaya dapat memajukan bidang pendidikan (edukasi), budaya dan tentunya pariwisata. Sedangkan yang menjadi persamaan dalam penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan diteliti terletak pada penelitian tentang wisata adat atau budaya.g jawab terhadap pengembangan pariwisata di daerah tujuan

wisata tersebut.14 Jadi strategi merupakan suatu rencana yang dibuat untuk mencapai tujuan yang di inginkan baik itu tujuan jangka pendek maupun tujuan janghka panjang dengan cara menganalisis lingkungan dan sumber daya yang ada.

Menurut Suwantoro pengembangan adalah suatu proses atau cara menjadikan sesuatu menjadi maju, baik, sempurna, dan berguna.

Selanjutnya Suwantoro menyebutkan bebrapa bentuk produk pariwisata alternative yang berpotensi untuk dikembangkan yaitu pariwisata budaya (cultural tourism), ekowisata (ecotourism), pariwisata bahari (marine tourism) pariwista petualangan (adventure tourism), pariwisata agro (agrotourism), pariwisata pedesaan (village tourism), gastronomi (culinary tourism), dan pariwisata spiritual (spiritual tourism.)15 Ada beberapa unsur pariwisata yang sangat menentukan dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan antara lain:

a. Daya tarik wisata, keinginan seseorang untuk menuju ke destinasi wisata, merusakan kawasan geografis maupun strategis yang didalamnya terdapat daya tarik wisata seperti, fasilitas umum, fasilitas pariwisata,

14 Roco Bayu W,” Pengertian Strategi Pengembangan Pariwisata”, dalam http://madebayu.blogspot.com, diakses tanggal 10 November 2021, Pukul 08.30.

15 Syafrudin,” Persepsi Masyaraka Terhadap Makanan Tradisional Yang Ada di Dili, Timor-Leste”,(2011)

(32)

15

akses yang mendukung, serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Dengan demikian, faktor daya tarik wisata merupakan salah satu unsur yang membentuk dan menentukan suatu daerah menjadi destinasi pariwisata.

Setiap destinasi pariwisata memiliki daya tarik berbeda-beda sesuai dengan potensi yang dimiliki. Antara lain:

1) Daya tarik wisata alam (natural tourist attractions), segala bentuk daya tarik yang dimiliki oleh alam misalnya: laut, pantai, gunung, danau, lembah, bukit, air terjun, ngarasi, sungai , hutan.

2) Daya tarik wisata buatan manusia (man-made tourist attractions), meliputi daya tarik wisata budaya (cultural tourist attractions), 15 misalnya: tarian, wayang, tarian adat, lagu, upacara ritual dan dayatarik wisata yang merupakan hasil karya cipta, bangunan seni, seni pahat, ukir, lukis.

b. Fasilitas dan jasa pelayanan wisata

Segala fasilitas pendukung yang bias memenuhi kebutuhan dan keinginan wisatawan selama berada di destinasi. Fasilitas terkait dengan ketersediaan sarana dan prasarana atau akomodasi untuk menginap, serta restoran atau warung untuk makan dan minum. Kebutuhan lain yang yang mungkin juga dibutuhkan oleh wisatawan, seperti toilet umum rest area, tempat parkir, klinik kesehatan, dan sarana ibadah sebaiknya juga tersedia di sebuah destinasi.

c. Kemudahan untuk mencapai destinasi wisata

(33)

16

Di samping itu hal yang penting dan menjadi daya tarik pariwisata ialah faktor aksesibilitas (kemudahan) yang tersedia untuk mencapai destinasi wisata. Aksesibilitas merupakan sarana yang memberi kemudahan kepada wisatwan untuk untuk mencapai tujuan pengertian aksesiblitas tidak terbatas pada alat transportasi akan tetapi juga meliputi semua aspek yang memperlancar dalam proses perjalanan.

d. Ramah Tamah

Keramah-tamahan berkaitan dengan ketersediaan sebuah organisasi atau pengurus destinasi tersebut ini menjadi penting karena walaupun destinasi sudah mempunyai atraksi, aksesibilitas, dan amenitas yang baik. Organisasi sebuah destinasi akan melakukan tugasnya seperti sebuah perusahaan mengelola destinasi sehingga bias memberikan keuntungan kepada pihak terkait seperti pemerintah, masyarakat sekitar, wisatawan, lingkungan dan para stakeholder lainya.16

Dalam rangka mengembangkan sebuah destinasi pariwisata, seorang perencana (Tourism planner) paling tidak harus memperhatikan lingkup suatu pengembangan yaitu, pengembangan spasial yang dimaksud dengan pengembangan spasial adalah keharusan seorang perencana pengembangan destinasi untuk memahami dan memperhatikan latar belakang kontekstual atau lingkungan makro dari destinasi yang akan di kembangkan. Selain itu ada suatu konsep pengembangan destinasi pariwisata yang disebut dengan konsep Destination Management Organization (DMOS) Menurut Angelo Presenza konsep

16 Isdamanto,“Dasar-Dasar Kepariwisataan dan Pengelolaan Destinasi Pariwisata”,Yogyakarta Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo 2017,hlm 33

(34)

17

Destination Management Organization merupakan bentuk otoritas pengelolaan destinasi yang terkoordinasikan dalam suatu otoritas manajemen yang mencakup keseluruhan fungsi pengelolaan terhadap elemen-elemen pembemtuk suatu destinasi itu sendiri. Ada 3 aspek pengembangan yang ada dalam Destination Management Organization (DMOS) diantaranya:

a. Pengembangan Produk

Pada aspek ini fungsi intinya ialah untuk mengembangkan produk destinasi agar dapat memberikan kulitas produk wisata yang lebih dari yang tadinya hanya memberikan pengalaman menjadi memberikan kepuasan terhadap produk yang di sediakan terhadap wisatawan.

b. Pengembangan Pemasaran

Pengembangan pemasaran yang dimaksud disini ialah bagaimana cara memasarkan destinasi sgsr dapat menarik wisatwan untuk berkunjung ke destinasi wisata seperti: promosi destinasi dan penyediaan informasi kepariwisataan yang jelas.

c. Pengembangan lingkungan.

Aktivitas manajemen lingkungan iniantara lin perencanaan dan penyediaan infrastruktur dan pengembangan sumber daya manusia.17 2. Pariwisata

17 Bambang Supriadi dan Nanny Roedjinandari,”Perencanaan dan Pengembangan Destinasi Pariwisata”,(Skripsi, Universitas Negeri Malang,2017),hlm.48-50

(35)

18

Kepariwisataan merupakan gabungan dari beberapa istilah sebelumnya yaitu istilah wisata, pariwisata dan kepariwisataan.

Kepariwisataan ini berarti keseluruhaan kegiatan wisata yang dilakukan oleh wisatawan dengan dilengkapi oleh fasilitas dengan infrastruktur pendukung yang disediakan oleh para pelaku pariwisata. Namun unsur yang paling utama dalam pembangunan kepariwisataan adalah unsur daya tarik wisata.

Objek daya tarik wisata (ODTW) menurut Hadiwijoyo ODTW yaitu sebagai suatu bentukan dan fasilitas yang saling berhubungan dan menjadi alasan atau sebab wisatawan mengunjungi suatu daerah atau tempat tertentu.

Objek daya tarik wisata dapat dibedakan menjadi tiga ialah, objek wisata alam atau lingkungan (ekowisata), objek wisata sosial budaya dan objek wisata minat khusus (special interest).18

Silbelberg menjelaskan dalam Demanik mendefinisikan bahwa pariwisata budaya sebagai kunjungan orang dari luar destinasi yang didorong oleh ketertarikan pada objek-objek atau peninggalan sejarah, seni, ilmu pengetahuan dan gaya hidup yang dimiliki oleh kelompok, masyarakat, daerah ataupun lembaga. Sedangkan Kristiningrum dalam mendefinisikan pariwisata budaya sebagai wisata yang didalamanya terdapat aspek atau nilai budaya mengenai adat istiadat masyarakat, tradisi keagamaan, dan warisan budaya di suatu daerah.

Pariwisata budaya berhubungan erat dengan daya tarik wisata budaya. Penjelasan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional

18 Khuanul Khotimah Wilopo dan Luchman Hakim,”Strategi Pengembangan Destinasi Pariwisata Budaya Unggulan di Kabupaten Mojokerto”.Jurnal Administrasi Bisnis,Vol.45,Nomor 1, Januari 2017,hlm. 3.

(36)

19

(PRIPARNAS) pasal 14 ayat (1) huruf b menjelaskan bahwa daya tarik wisata budaya adalah daya tarik wisata berupa hasil olah cipta , rasa dan karsa manusia sebagai mahluk budaya. 19 Daya tarik wisata budaya dibedakan menjadi dua yaitu daya tarik wisata budaya yang bersifat berwujud (tangible) dan daya tarik wisata budaya yang bersifat tidak berwujud (intangible).20

3. Rumah Adat

Rumah adat merupakan bangunan rumah yang memiliki ciri khas bangunan suatu daerah di Indonesia yang melambangkan kebudayaan dan masyarakat lokal setempat. Indonesia dikenal sebagai Negara yang memiliki keragaman dan kekayaan budaya, banyak ragam bahasa dan suku dari Sabang hingga Merauke sehingga Indonesia memiliki banyak koleksi arsitektur rumah adat.21 Sampai saat ini masih banyak suku atau daerah di Indonesia yang tetap mempertahankan rumah adat sebagai usaha untuk memelihara nilai-nilai budaya yang mulai tergeser oleh budaya modernisasi.

Rumah adat tertentu biasanya dijadikan sebagai aula (tempat pertemuan), museum atau dibiarkan begitu saja sebagai objek wisata. Dalam arsitektur tradisional, artinya bahwa arsitektur tradisional tersebut tergabung dalam wujud ideal, sosial, material dan kebudayaan. Sesuai dengan pelestarian adat istiadat dan kebudayaan suatu suatu daerah, maka bersamaan dengan kegiatan tersebut, pesletarian dan perawatan juga juga

19 Ibid.

20 Ibid.

21 Muhammad Noris, “Prngrmbangan Pariwisata Rumah Adat (UMA NCUHI) Dalam Rangka Meningkatkan Pendapatan Masyarakat Sekitar Rumah Adat (UMA NCUHI) Desa Mbawa Kecamatan Donggo Kabupaten Bima, (Skripsi, Universitas Muhamadiyah Mataram, Mataram, 2021), hlm. 30.

(37)

20

dilakukan pada bangunan-bangunan tradisional terutama pada rumah adatnya.22

4. Adat

Indonesia merupakan Negara kesatuan yang penuh dengan keanekaragaman, yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras. Suku bangsa, agama dan kepercayaan, dan lain-lain. Indonesia dikenal dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika, dimana kata ini berasal dari bahasa jawa kuno dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda- beda tetapi tetap satu”. Semboyang ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Kesatuan Republik Indonesia yang trdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan. Pengertian Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah.23 Dalam ilmu hokum dan teori, secara fomal dikenal Masyarakat Hukum Adat, tetapi dalam perkembangan terakhir, masyarakat asli Indonesia menolak dikelompokan sedemikian mengingat perihal adat tidak hanya mencakup hokum, tetpi mencakup segala aspek dan tingkatan kehidupan.

5. Hubungan Pariwisata Dengan Eonomi

Hubungan pariwisata dengan ekonomi dapat dilihat melalui pendekatan, yaitu pertama, pendekatan Keynesian tentang pengganda (multiplier), yang memperlakukan pariwisata internasionalsebagai

22 Ibid.,hlm. 31

23 Munis Salim. Bhineka Tunggal Ika Sebagai Perwujudan Ikatan Adat-Adat Mayarakat Aat Nusantara: Jurnal Hukum Pidana Dan Ketatanegaraan 6 (1), 65-74, 2017

(38)

21

komponen oksogen dari permintaan agregat yang mempunyai pengaruh positif terhadap pendapatan, dank arena itu terhadap lapangan kerja melalui proses multiplier. Namun pendekatan ini banyak menerima kritik karena agak statis dan tidak memungkinkan untuk menyimpulkan dampak pariwisata dalam jangka panjang. 24

Kedua, pendekatan model pertumbuhan endogen dua sektor lucas, yang penggunaanya untuk sector pariwisata dipelopori oleh Lanza and Pigliaru.

Dalam model ini pariwisata dikaitkan dengan kondisi maksimisasi laju pertumbuhan. Apabila produktivitas menjadi elemen utama dari pertumbuhan dengan asumsi kemajuan teknologi di sektor manufaktur lebih tinggi dibandingkan sektor pariwisata, maka spesialisasi pariwisataakan mendorong pertumbuhan. Hal ini bisa menjadi hanya apabila perubahan nilai tukar perdagangan (terms of trade) antara pariwisata dan barang-barang manufaktur lebih dari sekedar menyeimbangkan kesenjangan teknologi (technological gap) sector pariwisata. Kondisi tersebut apabilaelastisitas subtitusi antara pariwisata dan barang manufaktur lebih kecil dari satu (inelastic).

Selain itu, denegan mengacu pada teori hubungan perdagangan dan pertumbuhan, hubungan antara pariwisata dan pertumbuhan ekonomi diidentifikasi bersifat kualitas. Pola hubungan kualitasini didasarkan pada tiga (3) hipotesis yang berada, yaitu:

24 Mustafa Akal. Economic Implications of international Tourism on Turkish Economy, Tourismos: An International Multidisciplinary Journal of Tourism. Vol. 5.

No.1. (Spring), 131-152

(39)

22

1. Hipotesis pertumbuhan yang bertumpu pada pariwisata (tourism-led economic growth hypothesis), yang menganggap ekspansi pariwisata mempengaruhi pertumbuhan ekonomi:

2. Hipotesis pertumbuhan pariwisata yang digerakan oleh pertumbuhan ekonomi (economic-driven tourism growth hypothesis), yang mengangap pertumbuhan ekonomi mempengaruhi ekspansi pariwisata;dan

3. Hipotesis kausalitas timbal balik (reciprocal causal hypothesis), yang menganggap hubungan causal antara pertumbuhan ekonomi dan ekspansi pariwisata bersifat dua arah (bi-directional), dimana dorongan pada kedua variable tersebut saling memberikan manfaat.

Pengakuan adanya hubungi kausal antara pertumbuhan ekonomi dan ekspansi pariwisata sangat penting karena bisa memberikan implikasi yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan kebijikan yang relevan. Namun demikian apabila ditemukan tidak adanya hubungan kasual antara ekspansi pariwisata dan pertumbuhan ekonomi hasilnya dapat digunakan sebagai indikasi untuk menunjukan efektivitas strategi promosi pariwisata.25

Beberapa argument lain melihat keterkaitan antara pariwisata dan pertumbuhan ekonomi dengan fokus pada dampak ekonomi makro dari pariwisata, yitu: Pertama pariwisata memiliki dampak langsung terhadap perekonomian , antara lain terhadap penciptaan lapangan kerja, redistribusi pendapatan dan penguatan neraca pembayaran.

25 Guntur Sugiyarto, Blake, Adam. and Sinclair, M. Thea. (2003). Tourism and Globalization: Economic Impact in Indonesia. Annals of Tourism Research, Vol. 30, No. 3. hlm. 683-701.

(40)

23

Belanja turis, sebagai bentuk alternatif dari ekspor memberikan kontribusi berupa penerimaan devisa (neraca pembayaran) dan pendapatan yang diperoleh dari ekspansi pariwisata, penerimaan devisa dari pariwisata juga bisa digunakan untuk mengimpor barang-barang modal untuk menghasilkan barang-barang dan jasa yang pada giliranya menyebabkan pertumbuhan ekonomi.

Kedua, efek stimulasi (induced affects) terhadap pasar produk tertentu, sektor pemerintah, pajak dan juga efek imitasi (imitation effects) terhadap komunitas. Salah satu manfaat utama bagi komunitas lokl uang diharapkan dari pariwisata adalah kontribusinya yang signifikan terhadap perekonomian daerah, terutama peningkatan pendapatan dan pekerjaan baru di daerah. Pelaku bisnis di daerah tentu saja memperoleh manfaat langsung dari belanja turis. Karena pelaku bisnis membayar pekerja dan dan dan pekerja karena pelaku bisnis dan pekerja membelanjakan kekayaan mereka yang meningkat, maka secara keseluruhan komunitas di daerah juga memperoleh manfat. Sehinga uang yang yang dibelanjakan oleh turis adalah uang baru dalam perekonomian daerah, bukan kekayaan sebelumnya yang digunakan kembali (recycling).

G. Metodelogi Penelitian

Metode penelitian merupakan cara dalam proses pengumpulan data dan analisis atau pengolahan data yang dilakukan secara sistematis dan logis

(41)

24

untuk dapat memecahkan masalah-masalah yang ada.26 Metode yang akan digunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan suatu penelitian yang menggunakan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan pelaku yang dapat diamati.27

1. Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan cara orang yang akan meneliti harus datang ke lapangan dan mengamati serta terlibat secara insentif sampai peneliti menemukan secara rinci apa yang diingnkan. Peneliti kualitatif bersifat deskriptif yaitu peneliti harus menentukan suatu obyek, fenomena, atau setting social yang akan di tuangkan dalam tulisan yang bersifat naratif. Dalam penulisan laporan penelitian kualitatif berisi kutipan-kutipan data (fakta) yang diungkap di lapanganuntuk memberikan dukungan terhadap apa yang ditulis dalam laporan.28

2. Kehadiran Penelitian

Kehadiran peneliti merupakan suatu hal yang sangat berpengaruh dalam proses penelitian ini. Peneliti sebagai orang yang akan obseravasi diharuskan datang ke lapangan untuk mengamati dan ikut serta secara intensif dalam kegiatan-kegiatan oleh masyarakat Rumah Adat Desa

26 Rukin, Metode penelitian Kualitatif, (Sulawesi Selatan: Yayasan Ahmar Cendikia Indonesia, 2019).hlm.5.

27 Abdul Hakim, Metode Penelitian: Penelitian Kualitatif, Tindakan Kelas dan Studi Kasus, (Jawa Barat: CV. Jejak,2017),hlm.44.

28 Albi Anggito dan Johan Setiawan, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jawa Barat:

CV.Jejak,2018), hlm.11

(42)

25

Senaru, yang bertujuan ntuk mendapatkan data, sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan lancer dan peneliti juga harus mengkonfirmasikan terlebih dahulu kepada pihak Rumah Adat Desa Senaru bahwa akan mengadakan penelitian disana sehingga pihak masyarakat atau pengelola wisata Rumah Adat Desa Senaru bahwa akan mengadakan penelitian disana sehingga pihak pengelola atau masyarakat dapat mempermudah proses untuk mendapatkan data-data penelitian.

3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini merupakan salah satu dsetinasi wisata yang bersifat budaya yang lokasinya terbilang sangat strategis dan mudah di cari yaitu di Desa Senaru Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara. Yitu tepat berada di gerbang utama jalur pendakian gunung rinjani 400 meter dari Kantor Desa Senaru. Peneliti ingin mengetahui bagaimana strategi pengembangan wisata rumah adat Desa Senaru yang di lakukan oleh pengelola wisata rumah adat maupun masyarakat yang tinggal di lingkungan tersebut. Berhubung rumah adat tradisional desa senaru masih tetap di jaga oleh pengelola maupunmasyarakat setempat, oleh karena itu peneliti tertarik untuk memilih wisata rumah adat desa senaru sebagai lokasi penelitian.

4. Sumber Data

Sumber data adalah subjek penelitian atau informasi dari mana data diperoleh, sehingga dapat di peroleh data-data yang akurat. Biasanya dalam melakukan penelitian ada dua sumber data yang digunakan, yaitu a. Primer

(43)

26

Sumber data primer merupakan data yang diperoleh melalui wawancara, data yang didapatkan dari sumber asli atau sumber yang datanya akurat dan terpercaya. Sehingga data yang di dapatkan dapat di jadikan bahan penelitian. 29 Yang dimaksud sumber asli dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan ketua Pokdarwis atau anggota Pokdarwis dan masyarakat setempat di Wisata Rumah Adat Senaru.

b. Sekunder

Sumber data sekunder merupakan data yang diperoleh peneliti tetapi tidak secara langsung ialah bisa melalui perantara media, kemudian dicatat, lalu dibukaka n, dan pada hasil akhirnya data skunder digunakan untuk memperkuat data primer penelitian. 30 Data dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seperti, profil desa, jumlah kunjungan wisatawan, profil desa wisata, dan tingkat kesejahtaran masyarakat yang ada di Desa Senaru.

5. Prosedur Pengumpulan Data

Pada bagaian ini dijelaskan tentang teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian. Teknik pengumpulan data yang digukan adalah sebagai berikut:

a. Observasi

Metode observasi adalah proses pengumpulan data dengan cara peneliti terjun langsung ke lapangan, sehingga peneliti dapat melihat,

29 Amin Kuncoro dan Sudiman, Metodologi Penelitian Manajemen, (Yogyakarta: CV.

Andi)hlm. 9. Offset, 2018

30 Ibid… 10.

(44)

27

mendengar, atau merasakan informasi yang ada secara langsung.

Observasi ini dapat dilacak kemapanan akar teoritis, karena dalam pengumpulan data, peneliti sekligus dapat berinteraksi dengan subjek penelitianya.31

Adapun observasi yang peneliti lakukan adalah observasi partisipasi pasif artinya peneliti datang ke lokasi penelitian, tetapi tidak terlibat dalam aktivitas yang dilakukan oleh objek yang diamati.

Artinya dalam proses observasi peneliti tidak ikut berperan dalam pengembangan wisata, tetapi peneliti hanya mengamati bagaimana strategi pengembangan wisata dan mengamati serta mencatat suasana di wisata rumah adat senaru.

b. Wawancara

Metode wawancara merupakan salah satu proses dalam pengumpulan informasi atau data melalui kegiatan Tanya jawab sambil bertatap muka antara peneliti dengan yang diteliti atau yang akan dijadikan narasumber. 32 Dalam kegiatan wawancara ini peneliti melakukan wawancara langs ung dengan para informan-informan yang terlibat dalam kegiatan penelitian yaitu pokdarwis dan tokoh masyarakat yang ada di desa senaru. Metode wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah Wawancara Semi Struktur (Semi Strucure Interview) artinya peneliti menyiapkan pertanyaan terlebih dahulu, akan tetapi pelaksanaanya lebih bebas, dalam arti tidak

31 Albi Anggito….., hlm. 110

32 Fandi Rosi Sarwo Edi, Teori Wawancara Psikodiagnostik, (Yogyakarta: PT, Leutika Nouvatilera, 2016), hlm. 2.

(45)

28

menutup kemungkinan untuk muncul pertanyaan baru yang masih relevan agar mendapatkan pendapat dan ide dari Pokdarwis, dan Tokoh Masyarakat.

c. Dokumentasi

Metode dokumentasi merupakan metode untuk pengumpulan data yang bersifat tidak tentu, Data dokumen dapat berupa tulisan atau gambar, dapat pula berupa benda-benda. Data dokumen dapat dibedakan menjadi dua yaitu: Dokumentasi primer adalah dokumen yang dibuat oleh orang yang mengalami atau mengamati langsung keadaan yang didokumentasikan. Sedangkan dokumen skunder merupakan dokumen yang dibuat oleh orang yang mengalami atau mengamati sendiri keadaanya melainkan hanya mendasarkan pada informasi yang diperoleh tentang dokumen tersebut melalui bacaan, wawancara, maupun pengamatan.33 Data dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu seperti, profil desa, jumlah kunjungan wisatawan, profil desa wisata, dan tingkat kesejahtaran masyarakat yang ada di Desa Senaru.

6. Teknik Analisis Data

Analisis data merupakan suatu upaya dalam menguraikan suatu masalah atau fokus kajian menjadi bagian-bagian sehingga susunan dan tatanan bentuk sesuatu yang diurai tersebut tampak dengan jelas terlihat dan mudah dicerna atau terlihat atau ditangkap maknanya. Analisis data dalam penelitian kualitatif merupakan proses mencari dalam menyusun secara

33 Didin Fatihudin, dkk. Kapita Selekta Metodologi Penelitian, (Jawa Timur: CV.

Penerbit Qiara Media, 2020), hlm. 128

(46)

29

sistematis data yang diperoleh di lapangan melalui wawancara mendalam, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain sehingga mudah dipahami.34

Kedudukan penganalisisan data dalam sebuah penelitian adalah sebagai alat. Sumbernya ada dua macam, yaitu ide-ide yang bersifat rasional dan pengalaman empiric atau fakta. Perbedaan pendapat tentang pentingnya kedua sumber itu menuntun kepada munculnya dua aliran besar filsafat, yang dikenal dengan aliran rasionalisme dan empirirsme. Kedua aliran itu bukan hanya berbeda dalam memandang pentingnya kedua sumber pengetahuan, tetapi juga dalam metode penemuanya. Metode deduktif adalah metode andalan bagi filsafat rasionalisme. Proses deduktif yaitu proses pengambilan kesimpulan berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah yang ditemukan, terutama untuk kepentingan observasi selanjutnya. Proses deduktif tercermin dari proses penalaran yang dimulai dengan pengajuan- pengajuan proposisi-proposisi yang mengandung kebenaran umtum. Prinsif deduktif menyatakan bahwa sesuatu yang dianggap benar secara umum pada suatu kelas tertentu berlaku pula kebenaranya pada semua peristiwa yang terjadi pada setiap yang termasuk kedalam kelas itu.35

Sedangkan metode induktif adalah metode andalan bagi filsafat empirisme. Proses induktif adalah kebalikan dari proses deduktif, yaitu proses pengambilan kesimpulan berdasarkan bukti-bukti empirik. Dalam proses deduktif penarikan kesimpulan berkaitan dengan hal-hal atau peristiwa yang bersifat khusus sebagai konsekuensi dari berlakunya dari

34 Helaludin dan Hengki Wijaya, Analisis Data Kualitatif Sebuah Tinjauan Teori &

Praktik, (Skripsi, Makasar: Sekolah Tinggi Theologia Jaffray,2019), hlm. 102.

35 Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan (Bagian 1 Ilmu Pendidikan Teoritis), (Bandung: PT. Imperial Bhakti Utama, 2009), hlm. 330-333

(47)

30

premis mayor. Sebaliknya kesimpulan yang diambil melalui proses induktif merupakan generalisasi kebenaran dari sejumlah peristiwa yang mempunyai ciri-ciri yang sama dalam suatu kelas tertentu. Kedua metode penalaran yaitu deduktif dan induktif mempunyai peran penting dalam konteksnya masing-masing peristiwa.36

Milles dan Huberman seperti dikutip Sugiyono, mengemukakan bahwa kegiatan analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif berlangsung secara terus menerus hingga datanya mencapai jenuh. Analisis data model interaktif ini dapat diuraikan sebagai berikut:37

a. Reduksi Data

Reduksi data merupakan bentuk analisis untuk memepertajam,memiliki, memfokuskan, membuat dan menyusun data kearah pengambilan kesimpulan. Melalui proses reduksi data, maka data yang relevan disusun dan disistematiskan kedalam pola dan kategori tertentu, sedangkan data yang tidak terpakai terbuang.

b. Display Data

Display data merupakan proses penyajian data setelah dilakukan reduksi data. Penyajian data dalam penelitian kualitatif dilakukan dalam bentuk ikhtisar, bagan, hubungan antar kategori. Data yang disajikan perlu disusun secara sistematis berdasarkan kriteria tertentu uraian konsep katagori dan lain-lain sehingga mudah dipahami pembaca. Data yang telah tersusun secara sistematis akan memudahkan pembaca

36 Ibid, hlm. 331

37 Umrati dan Hengki Wijaya, Analisis Data Kualitatif Sebuah Tinjauan Teori &

Praktik, (Makasar:Jaffray, Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2020), hlm. 103.

(48)

31

memahami konsep, kategori serta hubungan dan perbedaan masing- masing pola atau kategori.

c. Pengambilan Kesimpulan

Pengambila kesimpulan hasil penelitian harus dapat memberikan jawaban terhadap rumusan masalah yang diajukan. Selain memberikan jawaban atas rumusan masalah, kesimpulan juga harus menghasilkan tumbuhan baru dibidang ilmu yang sebelumnya pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi suatu objek garis miring fenomena yang sebelumnya masih samar, setelah diteliti menjadi lebih jelas, dapat pula berupa hipotesis bahkan bahkan teori baru.38

7. Pengecekan Keabsahan Data

Untuk menghindari kesalahan atau kekliruan data yang telah terkumpul, perlu dilakukan pengecekan keabsahan data. Pengecekan keabsahan data didasarkan pada kriteria derajat kepercayaan dengan teknik triangulasi, perpanjangan pengamatan, pengecekan teman sejawat.39

a. Triangulasi

Triangulasi dalam penelitian sangat diperlukan agar keseimbangan antara data, metode, teori, analisis, dan temuan. Melalui tringulasi tersebut, hasil penelitian kualitatif bias menjadi kokoh dan memiliki kredibilitas yang tinggi dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan memiliki kemanfaatan yang tinggi bagi masyarakat.

Trigulasi dalam penelitian dilakukan dalam rangka sebagai strategi untuk

38 Ibid, hlm. 105-107

39 Deny Nofriansyah, Penelitian Kualitatif: Analisis Kinerja Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan, (Yogyakarta: CV. Budi Utami, 2018), hlm. 12-13.

(49)

32

memvalidasi penelitian, strategi untuk memantabkan temuan, strategi untuk mempertajam hasil penelitian, strategi untuk meminimalisi subjektivitas peneliti.40

b. Perpanjangan Pengamatan

Perpanjangan pengamatan merupakan teknik pemeriksaan keabsahan data berdasarkan perpanjangan penelitian dalam rangka pengamatan data. Dengan perpanjangan pengamatan ini, peneliti akan mengecek kembali apakah data yang telah didapat selama ini merupakan data yang sudah benar atau tidak. Bila data yang diperoleh selama ini setelah dicek kembali pada sumber data asli atau sumber data lain ternyata tidak benar, maka peneliti melakukan pengamatan lagi yang lebih luas dan mendalam sehingga diperoleh data yang pasti.41

c. Pengecekan Teman Sejawat

Pengecekan teman sejawat dilakukan dengan cara berdiskusi mengenai data atau informasi yang telah terkumpul dengan seorang yang memiliki pengetahuan dan keahlian yang relevan. Peneliti menandatangi atau mengundang teman sejawat sesuai dengan kriteria tersebut untuk mendiskusikan mengenai data atau informasi yang telah terkumpul sesuai dengan fokus penelitian.42

H.Sistematika Pembahasan

40 Anas Ahmad, Metode Penelitian Sastra, (Gresik: Graniti, 2009),hlm. 249.

41 Sasa Sunarsa, Penelusuran Kualitas & Kuantitas Sanad Qiraat SAB (Kajian Takhrij Sanad SAB), (Jawa Tengah: CV. Mangku Bumi Media, 2020),hlm.28.

42 Asmoni, Kebijakan Peningkatan Mutu Sekolah Menengah Kejuruan, (Jawa Timur:

Jakad Media Publishing, 2018), hlm. 125.

(50)

33

Untuk memberikan gambaran yang jelas serta terperinci tentang isi proposal skripsi ini, maka penulisan proposal skripsi ini dengan membaginya menjadi lima bab dengan sistematika mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, ruang lingkup dan setting penelitian, telaah pustaka, kerangka teori, metodologi penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II

PAPARAN DATA DAN TEMUAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Profil Desa Senaru a. Sejarah Desa Senaru

Desa Senaru merupakan salah satu dari 5 Desa yang dimekarkan tahap I ( Pertama ) di Kabupaten Lombok Barat pada thun 1994, dan Desa Senaru ini merupakan desa yang paling muda di Kecamatan Bayan , dan pemekaran dari Desa Bayan Pada saat

(51)

34

pemekaran Desa Bayan menjadi 2 ( dua ) Desa yaitu Desa Bayan sebagai Desa induk dan Desa Senaru sebagai Desa Persiapan .

Awalnya pada tahun 1992 diusulkan pemekaran Desa Bayan dan rencana lokasi pembangunan kantor desa persiapan ini ada di 3 tempat yaitu di dusun Lokok Kelungkung, Dusun Tumpang Sari dan dusun senaru, sedangkan rencana nama desa pada saat usulan pemekaran tersebut yaitu dengan nama Desa Karang Pinang , yang diambil dari salah satu tempat yang merupakan bagian dari Dusun Dasan Baro,sedangkan rencana lokasi pembangunan Kantor Desa tersebut bukan di Karang Pinang Dusun Dasan Baro tapi di Dusun lain Pada saat Musyawarah Lembaga Musyawarah desa ( LMD ) Desa Bayan berikutnya dengan agenda pembahasan rencana pemekaran desa bayan tersebut dari usul, saran dan masukan para peserta musyawarah mengenai nama dan tempat maupun lokasi pembangunan kantor desa yang diusulkan sebelumnya darai para peserta musyawarah sepakat untuk

Gambar

Gambar 2.2 Wawancara bersama masyarakat selaku pengurus wisata rumah  adat, Hal, 70.
Tabel 2.1  Luas Wilayah Kecamatan Bayan
Tabel 2.3 Sektor pekerjaan di Desa Senaru tahun 2022  Sektor mata pencaharian  Jumlah Orang
Tabel 2. 5 Sarana transportasi darat
+7

Referensi

Dokumen terkait

Namun pada dasarnya obyek wisata dan atraksi wisata adalah segala sesuatu yang ada di daerah tujuan wisata yang merupakan daya tarik agar orang-orang mau datang berkunjung ke

pada Kawasan Pantai Widuri mampu menjadi atraksi wisata yang mempunyai. daya tarik tersendiri, baik untuk wisatwan yang sedang berkunjung

Kriteria Prioritas pada pengembangan Desa Slopeng sebagai desa wisata adalah atraksi wisata yang menghubungkan pengembangan desa wisata dengan objek wisata Pantai Slopeng,

Suatu daerah wisata sangat dikenal dengan daya tarik dan atraksi wisata, di mana dalam dunia kepariwisataan segala sesuatu yang menarik dan bernilai untuk dikunjungi dan

Pengembangan atraksi wisata di Pantai Bangsring perlu dilakukan agar pengunjung Pantai Bangsring tidak merasa bosan, hal ini sesuai dengan pendapat Yoeti (2008)

Pengembangan pariwisata secara nyata di Desa Wisata Gubugklakah adalah pengembangan produk atau daya tarik dan atraksi wisata yang setiap tahunnya pasti ada

Rencana strategi Desa Wisata Belok yang masuk dalam kategori desa wisata belum berkembang adalah penganekaragaman atraksi wisata, pemberdayaan kelompok sadar wisata, mencari

Kekuatan dari pengembangan atraksi donat boat adalah adanya potensi alam yang bisa dimanfaatkan untuk mengembangkan atraksi wisata yang dapat menarik minat pengunjung, dapat