• Tidak ada hasil yang ditemukan

Stratifikasi Sosial dan Mobilitas Sosial Dosen

N/A
N/A
Wilda Ayu Diah Pramesti

Academic year: 2024

Membagikan "Stratifikasi Sosial dan Mobilitas Sosial Dosen"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

Stratifikasi Sosial dan Mobilitas Sosial Dosen pengampu: Dewi Ayu Hidayati

Disusun oleh:

1. Qarirah Qurratu Aini NPM.2316051021 2. Denny Hartono NPM.2316051041 3. Nuril Hafiza NPM.2316051042

4. Muhammad Rafi Ewaldo NPM.2316051058

5. Muhamad Asyrofi Al-Azizi NPM.2316051065

6. Wilda Ayu Diah Pramesti NPM.2316051097

7. Alia Nablia Khusain NPM.2316051098 8. Nindia Dwi Hapsari NPM.2316051102 9. Miracel Maharani NPM.2356061005

(2)

BAB I PENDAHLUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam setiap masyarakat, perbedaan antar individu maupun kelompok merupakan fenomena sosial umum yang bersifat ho- rizontal maupun vertikal.

Perbedaan horizontal, dikenal pula sebagai diferensiasi sosial, adalah perbedaan individu-individu tanpa adanya peringkat atau jenjang. Seluruh unsur bersifat se- tara; tidak ada unsur yang lebih tinggi atau pun rendah. Hal itu dapat berupa diferensiasi etnis, agama, jenis kelamin, ras. Sedangkan perbedaan secara vertikal merupakan perbedaan in- dividu-individu dalam lapisan-lapisan sosial yang bersifat hierar- kis. Terdapat peringkat atau jenjang yang membedakan posisi sosial seseorang dengan orang lain dalam masyarakat. Perbedaan seperti ini, disebut pula pelapisan sosial, dalam sosiologi dikenal sebagai stratifikasi sosial.

Istilah stratifikasi (stratification) berasal dari kata strata dan stratum yang berarti lapisan. Karena itu stratifikasi sosial (social stratification) sering diterjemahkan dengan pelapisan masyarakat. Sejumlah individu yang mempunyai kedudukan (status) yang sama menurut ukuran masyarakatnya, dikatakan berada dalam suatu lapisan (stratum). Stratifikasi sosial adalah sistem pembedaan individu atau kelompok dalam masyarakat, yang menempatkannya pada kelas- kelas sosial yang berbeda-beda secara hierarki dan memberikan hak serta kewajiban yang berbeda-beda pula antara individu pada suatu lapisan dengan lapisan lainnya.

Stratifikasi sosial diwariskan dari satu generasi ke generasi. Sebagai gambaran, orang tua mewariskan posisi sosialnya kepada anak-anak mereka.

Posisi sosial individu cenderung sama dengan posisi sosial orang tuanya dalam suatu hierarki sosial. Namun ada pengecualian manakala muncul individu- individu yang mengalami perubahan posisi sosial dalam suatu hierarki sosial, yang dimaknai pula sebagai terjadinya mobilitas sosial. Mobilitas sosial itu sendiri dapat bersifat naik maupun turun.

(3)

Mobilitas sosial atau gerak sosial adalah perubahan, pergeseran, peningkatan ataupun penurunan status dan peran anggotanya. Secara etimologis, kata mobilitas tejemahan dari kata mobility yang berkata dasar mobile (Bahasa Inggris). Kata mobile berarti aktif, giat, gesit, sehingga mobility adalah gerakan. Secara harfiah, social mobility berarti gerakan dalam masyarakat. Jadi, mobilitas sosial adalah perpindahan posisi seseorang atau sekelompok orang dari lapisan yang satu ke dalam lapisan yang satu kedalam lapisan yang lain.

Kajian stratifikasi dan mobilitas sosial adalah hal yang signifikan dalam sosiologi. Hal ini berkaitan dengan dampak stratifikasi dan mobilitas sosial terhadap kehidupan individu maupun kelompok dalam sebuah masyarakat.

Berdasarkan uraian yang telah di paparkan diatas maka diperlukan penjelasan lebih detail mengenai dampak, macam macam, bentuk bentuk, serta faktor-faktor dari kedua kajian tersebut. Dengan demikian makalah dengan judul _”Stratifikasi sosial dan Mobilitas Sosial”_ perlu di tulis dan dibahas lebih lanjut.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa itu stratifikasi sosial?

2. Bagaimana Proses Terjadinya Stratifikasi Sosial

3. Bagaimana dampak stratifikasi sosial yang terjadi di masyarakat?

4. Apa saja Macam-macam stratifikasi sosial?

5. Apa Dampak dari adanya mobilitas sosial?

6. Apasaja faktor pendorong dan penghambat mobilitas sosial?

7. Bagaimana bentuk-bentuk dari adanya mobilitas sosial?

8. Apakah perbedaan tugas rumah tangga mempengaruhi stratifikasi social

(4)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Apa yang Dimaksud Dengan Stratifikasi Sosial

Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, terdapat banyak perbedaan yang berbeda antara individu yang satu dengan individu atau kelompok yang lain dan hal tersebut merupakan hal yang lumrah dalam kehidupan bermasyarakat. Keberagaman sosial merupakan fenomena sosial yang bersifat horizontal dan vertikal. Perbedaan antar anggota masyarakat dalam sosiologi disebut stratifikasi sosial. Stratifikasi pada akhirnya menyatukan individu dan kelompok yang menunjukkan perbedaan-perbedaan tersebut.

Dalam masyarakat yang sering kita jumpai, terdapat berbagai jenis kelompok sosial dengan tingkatan yang berbeda-beda antara satu kelompok dengan kelompok lainnya.. Keberadaan kelompok-kelompok ini di berbagai tingkatan mengarah pada stratifikasi sosial.

Kata stratifikasi sendiri berasal dari kata latin stratum yang berarti tingkat.Secara harfiah, stratifikasi sosial berarti tingkatan masyarakat dalam kehidupan bermasyarakat.Para sosiolog juga mengutarakan pandangannya mengenai pengertian stratifikasi sosial.. Soerjono Soekanto berpendapat bahwa stratifikasi sosial adalah pembedaan vertikal kedudukan seseorang atau kelompok dalam kedudukan yang berbeda. Sementara itu, Piritim A. Sorokin menjelaskan stratifikasi sosial sebagai pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas yang bersifat hierarkis dengan manifestasinya berupa kelas-kelas sosial. Dari berbagai definisi yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan kriteria atau tingkatan tertentu ke dalam hierarki yang berbeda-beda, artinya kelompok yang mempunyai kekuasaan lebih tinggi atau dianggap lebih baik dari kelompok lain.

Stratifikasi sosial mengacu pada cara masyarakat mengorganisasikan diri mereka ke dalam struktur hierarki. Hal ini melibatkan alokasi berbagai tingkat atau strata status sosial, kekuasaan, dan kekayaan kepada orang atau kelompok

(5)

berbeda dalam suatu masyarakat. Stratifikasi sosial didasarkan pada berbagai faktor, termasuk pekerjaan, pendidikan, pendapatan, dan penanda kelas sosial atau posisi sosial lainnya.

Ketimpangan merupakan ciri khas stratifikasi sosial, karena alokasi sumber daya dan peluang biasanya tidak merata antar individu dan kelompok.Artinya, ada orang yang mempunyai lebih banyak kekuasaan, status, dan kekayaan dibandingkan orang lain, dan kelebihan ini sering kali diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.Ada berbagai jenis dan tingkat stratifikasi sosial, mulai dari struktur hierarki sederhana dalam masyarakat kecil dan tradisional hingga sistem yang kompleks dan berlapis-lapis dalam masyarakat modern yang besar. Dalam beberapa kasus, stratifikasi sosial didasarkan pada karakteristik tertentu seperti ras, etnis, atau gender, sementara dalam kasus lain, stratifikasi sosial didasarkan pada karakteristik yang dicapai seperti pendidikan, pekerjaan, atau pendapatan.

Stratifikasi sosial dapat mempunyai konsekuensi yang signifikan bagi individu dan kelompok dalam suatu masyarakat.Bagi mereka yang berada pada hierarki terbawah, mobilitas sosial mungkin terbatas dan akses terhadap sumber daya serta peluang mungkin terbatas. Hal ini dapat menyebabkan kemiskinan, pengucilan sosial dan berkurangnya peluang hidup. Sebaliknya, mereka yang berada di puncak hierarki dapat menikmati keuntungan yang signifikan dalam hal pendapatan, kekuasaan, dan status.

Dari berbagai definisi yang telah dijelaskan, dapat disimpulkan bahwa stratifikasi sosial adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan kriteria atau tingkatan tertentu ke dalam hierarki yang berbeda, yaitu kelompok yang mempunyai kekuatan lebih tinggi atau dianggap lebih baik dari kelompok lain

2.2 Bagaimana Proses Terjadinya Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial terjadi melalui dua proses, yang pertama yaitu proses yang terjadi secara alami atau terbentuk dengan sendirinya, proses ini terjadi disebabkan karena faktor yang telah ada sejak manusia dilahirkan atau proses

(6)

pertumbuhan yang terjadi dimasyarakat. Faktor-faktor seperti tingkat kepandaian, jenis kelamin, usia, hubungan dekat dengan orang yang dihormati, atau harta yang dimiliki seseorang dapat memengaruhi pembentukan lapisan masyarakat yang tidak disengaja. Yang kedua yaitu proses yang terjadi secara sengaja, untuk mencapai tujuan tertentu, stratifikasi sosial yang dibentuk dengan sengaja didefinisikan sebagai pembagian kekuasaan dan wewenang secara resmi dalam organisasi formal, seperti pemerintahan, partai politik, militer, dan organisasi sosial lainnya yang dibentuk pada tingkat tertentu.

Stratifikasi sosial pada dasarnya adalah hasil dari proses yang panjang dan kompleks yang dimulai sejak lahirnya manusia. Proses terbentuknya stratifikasi sosial dimulai dengan adanya konsep kelas sosial yang berdasarkan pendapatan, aset, dan status sosial. Dengan seiring berjalannya waktu, gagasan ini menghasilkan berbagai bentuk hierarki sosial.

Berbagai faktor ekonomi, politik, dan sosial mendorong pembentukan stratifikasi sosial. Faktor ekonomi termasuk pendapatan, aset, dan kemampuan untuk mendapatkan sumber daya; faktor politik termasuk kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan publik, sistem pemerintahan, dan berbagai aspek politik lainnya; dan faktor sosial termasuk perbedaan budaya, agama, dan tradisi yang dimiliki setiap orang. Untuk membentuk berbagai hierarki sosial, ketiga komponen ini bekerja sama. Faktor ekonomi memengaruhi tingkat kemakmuran seseorang, faktor politik memengaruhi status sosial, dan faktor sosial memengaruhi bagaimana seseorang bertindak di masyarakat.

Segala proses yang terjadi bukannya tanpa sebab, begitupun dengan stratifikasi sosial. Beberapa penyebab inilah yang melahirkan perbedaan status sosial dan perbedaan golongan lapisan yang ada dimasyarakat diantaranya adalah ukuran kekayaan, ukuran kekuasaan, ukuran kehormatan, dan ukuran ilmu pengetahuan.

Singkatnya, proses terbentuknya stratifikasi sosial adalah hasil dari interaksi kompleks antara berbagai faktor ekonomi, politik, dan sosial; sistem stratifikasi sosial berkembang dan berubah seiring dengan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Memahami proses terbentuknya stratifikasi sosial dapat

(7)

membantu masyarakat meningkatkan keadilan sosial dan membuat lingkungan yang lebih inklusif.

2.3 Bagaimana Dampak Stratifikasi Sosial yang Terjadi Dimasyarakat

Dalam masyarakat, stratifikasi sosial dapat berdampak positif maupun negatif.

Dampak positif yang terjadi adalah :

1. Munculnya keinginan atau memotivasi individu dalam suatu masyarakat untuk dapat bersaing sehingga bisa berpindah ke tingkatan yang lebih tinggi.

Namun dibalik dampak positif, stratifikasi sosial memiliki lebih banyak dampak negatif. Dampak negatif yang terjadi adalah :

1. Terjadinya konflik antar sosial karena ukuran keturunan, kekayaan, kekuasaan, dan kepandaian.

Konflik antar kelas terjadi ketika ada pertentangan antara kelas-kelas sosial dalam suatu masyarakat. Contoh dari konflik sosial ini adalah konflik perusahaan dan karyawan, konflik pernikahan bangsawan dan rakyat jelata, serta konflik Aceh : GAM versus pemerintah Republik Indonesia.

2. Adanya keinginan menguasai dari strata atas

Hal ini terjadi karena strata atas memiliki kekuasaan yang lebih.

3. Timbulnya ketimpangan sosial

Sistem ketimpangan sosial terkonstruksi dalam beberapa aspek, seperti pendapatan, gender, warna kulit, usia, dan bentuk fisik. Contohnya adanya beberapa orang yang memiliki cara pandang berbeda dalam melihat gender. Mereka berpandangan bahwa perempuan tidak bisa melakukan banyak hal dan tidak perlu mengenyam pendidikan terlalu tinggi.

4. Terjadinya penyalahgunaan wewenang bagi strata atas

(8)

5. Contoh dari dampak ini adalah tindakan korupsi, adanya orang yang melakukan penyimpangan dana BOS, penyimpangan dana perbaikan jalan, dan lain lain.

6. Menimbulkan kecemburuan

Stratifikasi sosial akan menimbulkan kecemburuan bagi strata bawah, karena mereka memiliki kelemahan dari berbagai sisi.

7. Menimbulkan disintegrasi sosial

Karena banyaknya perbedaan dan penggolongan kelas kelas yang terjadi, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi disintegrasi dalam masyarakat.

2.4 Apa Saja Macam-macam Stratifikasi Sosial Macam atau jenis stratifikasi sosial:

1. Stratifikasi sosial berdasarkan kekayaan

Salah satu landasan terbentuknya stratifikasi sosial adalah kekayaan. Hal ini dapat menciptakan dasar stratifikasi, karena perbedaan kapasitas untuk memenuhi permintaan, terkait dengan keterbatasan keahlian, modal dan akses.

Dalam perbedaan pemuasan kebutuhan hidup, akhirnya terbentuklah lapisan atas (kebutuhan hidup tercukupi) dan lapisan bawah (kebutuhan hidup tidak tercukupi). Kekayaan merupakan landasan stratifikasi sosial yang dapat diperjuangkan masyarakat. Contohnya, Seseorang yang memiliki harta lebih banyak diletakkan di lapisan sosial teratas. Sebaliknya, seseorang yang tidak berkecukupan akan diletakkan di lapisan paling bawah.

2. Stratifikasi sosial berdasarkan kekuasaan

Kekuasaan merupakan salah satu konsep yang mengawali peradaban manusia. Ketika masyarakat mulai berkomunikasi dengan membentuk kelompok- kelompok kecil. Pemimpin suatu masyarakat mempunyai kekuasaan untuk mengatur dan mempengaruhi orang lain. Kelompok yang berkuasa ada dua yaitu kelompok penguasa yang berada pada kelompok kekuasaan dan juga kelompok yang dikuasai. Maka dari itu stratifikasi sosial dimulai. Suatu kelompok yang

(9)

dominan mendominasi kelompok lain, sehingga menimbulkan perbedaan kelas antar kelompok sosial. Contohnya seperti Presiden, Menteri, Gubernur, dan sebagainya yang memiliki kekuasaan ditempatkan di lapisan sosial atas. Mereka juga memiliki wewenang untuk menguasai dan mengatur jalannya pemerintahan.

3. Stratifikasi sosial berdasarkan kehormatan

Dalam suatu sistem, masyarakat dipimpin oleh seorang tokoh masyarakat yang mempunyai kedudukan paling autentik atau asli dalam masyarakat, karena hal itu diperoleh dengan menilai kharisma individu itu sendiri, siapakah yang dianggap pantas menjadi seorang pemimpin. Max Weber menjelaskan hal ini dengan kepemimpinan yang karismatik. Contohnya, pemuka adat. Mereka mempunyai pengaruh yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Perbedaan status sosial seorang pemimpin adat atau sesepuh di suatu permukiman adat terjadi dimana mereka lebih dihargai dan mempunyai pengaruh yang kuat di masyarakat.

4. Stratifikasi sosial berdasarkan keturunan

Stratifikasi ini dasar pembentukannya berdasarkan keturunan atau kelahiran dari individu tertentu. Sistem ini biasanya terdapat di tempat-tempat yang menganut sistem pemerintahan kerajaan atau monarki. Menurut peneliti David Brusky, status keturunan adalah suatu kondisi yang dialami seseorang secara permanen atau selama hidupnya. Contohnya, D.I. Yogyakarta, dimana garis keturunan bangsawan keturunan Hamengkubuwono menjadi pemimpin daerah dan sistem ini masih dianut hingga saat ini. Contoh lainnya, Pangeran William yang merupakan cucu dari Ratu Elizabeth II atau keluarga konglomerat.

5. Stratifikasi sosial berdasarkan pendidikan

Dari pepatah “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina”. Berdasarkan pepatah tersebut kita dapat mengetahui bahwa pendidikan merupakan hal terpenting yang harus dicapai seseorang. Pendidikan bisa mengubah hidup kita, bahkan termasuk stratifikasi sosial. Lalu bagaimana pendidikan bisa menjadi dasar stratifikasi sosial? Jawabannya adalah pendidikan merupakan alat sosial yang membantu masyarakat mencapai mobilitas sosial atau berpindah dari

(10)

kedudukan yang lebih rendah ke kedudukan yang lebih tinggi. Dengan bantuan pendidikan, seseorang dapat meningkatkan cara berpikir dan keterampilannya, yang kemudian mendominasi bidang pekerjaannya dan meningkatkan status sosialnya. Contohnya, zaman sekarang ini dalam mencari pekerjaan dibutuhkan syarat minimal lulusan sarjana, karena itu bagi mereka yang hanya lulusan sekolah lebih dipandang rendah dibanding lulusan sarjana untuk mencari pekerjaan dan status sosial.

6. Stratifikasi sosial berdasarkan status sosial

Jenis atau macam ini merupakan stratifikasi sosial berdasarkan perbedaan status sosial. Lelas sosial dan status sosial di sini berbeda. Kelas sosial didasarkan pada status ekonomi, sedangkan status sosial mengacu pada hak dan tanggung jawab individu dalam masyarakat. Contohnya, ibumu adalah seorang CEO perusahaan. Di kantornya, ia menempati posisi yang paling tinggi. Akan tetapi, saat dia pulang ke rumah, status ibumu sama seperti ibu-ibu di perumahan lainnya.

2.5 Pengertian dan Dampak Dari Mobilitas Sosial

Mobilitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai gerakan berpindah-pindah atau kesiapsiagaan untuk bergerak. Sedangkan secara etimologis mobilitas berasal dari bahasa latin yaitu ‘mobilis’ yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain.terdapatnya kata sosial pada istilah mobilitas sosial adalah untuk menekankan bahwa istilah tersebut mengandung makna yang melibatkan seseorang atau sekelompok warga dalam kelompok sosial.

Mobilitas sosial adalah perpindahan status sosial yang dimiliki seseorang atau kelompok kestatus sosial yang lain dalam masyarakat. Maka, orang yang mengalami mobilitas sosial, mengalami perubahan kedudukan dalam aspek status sosial. Perpindahan ini, dapat terjadi ke arah status sosial yang lebih tinggi, maupun lebih rendah

(11)

Setiap mobilitas sosial akan menimbulkan peluang terjadinya penyesuaian-penyesuaian atau sebaliknya akan menimbulkan konflik.

a. Dampak Positif

Dampak positif dari mobilitas sosial adalah mendorong seseorang untuk lebih maju. Terbukanya kesempatan untuk pindah dari strata ke strata yang lain menimbulkan motivasi yang tinggi pada diri seseorang untuk maju dan berprestasi agar memperoleh status yang lebih tinggi.Mobilitas sosial akan lebih mempercepat tingkat perubahan sosial masyarakat kearah yang lebih baik.

Terjadinya mobilitas sosial dalam suatu masyarakat dapat meningkatkan integrasi sosial. Misalnya, ia akan menyesuaikan diri dengan gaya hidup, nilai-nilai dan norma-norma yang dianut oleh kelompok dengan status sosial yang baru sehingga tecipta integrasi sosial.

b. Dampak Negatif

Dampak negatifnya adalah konflik yang ditimbulkan oleh mobilitas sosial dibedakan menjadi 3 bagian antara lain:

1) Konflik antar kelas Dalam masyarakat tedapat lapisan-lapisan. Kelompok dalam lapisan tersebut disebut kelas sosial. Apabila terjadi perbedaan kepentingan antarkelas sosial maka bisa memicu terjadinya konflik antar kelas.

2) Konflik antar kelompok sosial. Konflik yang menyangkut antara kelompok satu dengan kelompok yang lainnya. Konflik ini dapat berupa konflik antara kelompok sosial yang masih tradisional dengan kelompok sosial yang modern dan suatu kelompok sosial tertentu tehadap kelompok sosial yang lain yang memiliki wewenang.

3) Konflik antar generasi Yaitu konflik yang terjadi karena adanya benturan nilai dan kepentingan antara generasi yang satu dengan generasi yang lain dalam mempertahankan nilai-nilai lama dengan nilai-nilai baru yang ingin mengadakan perubahan

2.6 Faktor Pendorong dan Penghambat Mobilitas Sosial

(12)

 Faktor Pendorong

Pada setiap masyarakat, kecenderungan mengalami mobilitas sosial berbeda-beda. Ada masyarakat yang mengalami mobilitas sosial dengan cepat dan mudah, namun ada pula masyarakat yang cenderung sulit mengalami mobilitas sosial. Ada beberapa faktor yang mendorong mobilitas sosial, yaitu:

1. Struktural

Faktor ini menyangkut kemampuan seseorang menduduki suatu jabatan dan kemudahan untuk mencapainya. Struktur masyarakat Indonesia yang terbuka membuat setiap individu mempunyai peluang lebih besar untuk menduduki berbagai jabatan tinggi, seperti direktur bahkan ketua. Namun di sisi lain, ketersediaan lapangan kerja dan jumlah penduduk masih belum seimbang. Hal ini mungkin menjadi alasan mengapa individu atau kelompok cenderung mengalami mobilitas sosial ke bawah.

2. Individu

Faktor ini berhubungan dengan kualitas pribadi dilihat dari sikap, pengetahuan dan keterampilan. Manusia dilahirkan dalam status sosial orang tuanya. Jika seseorang tidak puas dengan status sosial yang diwariskannya, ia mungkin berusaha untuk mencapai status sosial yang lebih tinggi. Sampai saat ini pendidikan masih dianggap sebagai social lift atau sarana bagi individu untuk menjadi individu yang lebih baik dan meningkatkan status sosialnya di masyarakat.

3. Ekonomi

Apabila keadaan perekonomian suatu masyarakat secara umum baik maka mobilitas sosial dapat tercapai. Kondisi ekonomi yang baik memudahkan akses terhadap modal, pendidikan dan peluang lainnya. Namun jika kondisi perekonomian buruk, masyarakat akan memiliki pendapatan yang terbatas, sulit memenuhi segala kebutuhan, dan mobilitas sosial tidak dapat dilakukan.

(13)

4. Politik

Faktor ini sangat bergantung pada situasi politik suatu negara. Situasi negara yang tidak stabil akan mempengaruhi kondisi keamanan. Dengan begitu, ketersediaan dan kemudahan bekerja juga akan semakin baik, sehingga masyarakat mampu mencapai mobilitas sosial.

5. Kependudukan

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk Indonesia hampir selalu bertambah dari waktu ke waktu. Peningkatan ini dapat mengurangi lahan pemukiman dan bahkan meningkatkan kemiskinan. Oleh karena itu permasalahan kependudukan seperti ini mendorong individu dan pemerintah mendorong masyarakat untuk melakukan migrasi ke daerah lain sehingga terjadi mobilitas sosial.

 Faktor Penghambat

Selain faktor pendorong, terdapat juga faktor penghambat mobilitas sosial. Jika faktor-faktor di bawah ini masih ada maka masyarakat akan sulit mencapai mobilitas sosial. Faktor penghambat mobilitas sosial yaitu

1. Kemiskinan

Faktor ekonomi merupakan salah satu penghambat mobilitas sosial karena bagi masyarakat miskin, mencapai status sosial tertentu merupakan hal sangat sulit.

Salah satu penyebab kemiskinan adalah pendidikan yang rendah.

Masyarakat yang berpendidikan rendah berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia. Akibatnya, tingkat kemudahan untuk mendapatkan pekerjaan terbatas. Saat ini, negara Indonesia masih memiliki penduduk miskin ± 12%. Hal ini menjadi penghambat mobilitas sosial. Hal ini menyebabkan pemerintah berusaha mengentaskan kemiskinan dengan berbagai cara. Dengan mengentaskan kemiskinan, masyarakat akan mempunyai akses mudah terhadap berbagai fasilitas dasar dan memperlancar mobilitas.

(14)

2. Diskriminasi

Diskriminasi adalah perlakuan yang berbeda terhadap orang lain karena berbeda kebangsaan, suku, ras, agama, dan golongan. Nah, perlakuan berbeda seperti itu sangat tidak baik, karena selain menimbulkan konflik juga dapat menghambat mobilitas sosial.

3. Stereotip gender

Membedakan karakteristik dan kedudukan sosial laki-laki dan perempuan, misalnya menganggap laki-laki mempunyai status lebih tinggi dibandingkan perempuan, juga dapat menghambat mobilitas sosial. Misalnya, pandangan yang menyatakan bahwa perempuan tidak perlu mempunyai pendidikan yang tinggi, karena suamilah yang bekerja. Perilaku tersebut dapat menghambat prestasi dan peluang mobilitas seseorang sehingga meningkatkan status sosialnya.

2.7 Bagaimana Bentuk-bentuk Dari Adanya Mobilitas Sosial

Mobilitas sosial adalah perpindahan posisi sosial seseorang atau kelompok orang dari satu lapisan sosial ke lapisan sosial yang lain dalam masyarakat.

Berikut adalah beberapa bentuk dari adanya mobilitas sosial:

1. Mobilitas sosial vertikal

Mobilitas sosial vertikal terjadi ketika seseorang atau kelompok orang berpindah dari satu posisi sosial ke posisi sosial yang lain yangtidak sederajat.

Mobilitas sosial vertikal terbagi menjadi dua jenis, yaitu:

Mobilitas sosial vertikal ke atas: Mobilitas sosial vertikal ke atas terjadi ketika seseorang atau kelompok orang berpindah ke posisi sosial yang lebih tinggi dari sebelumnya. Contohnya adalah ketika seseorang naik jabatan di tempat kerjanya atau ketika seseorang memulai usaha yang sukses. Mobilitas sosial vertikal ke bawah: Mobilitas sosial vertikal ke bawah terjadi ketika seseorang atau kelompok orang berpindah ke posisi sosial yang lebih rendah dari sebelumnya. Contohnya

(15)

adalah ketika seseorang kehilangan pekerjaannya atau ketika seseorang mengalami kebangkrutan.

2. Mobilitas sosial horizontal

Mobilitas sosial horizontal terjadi ketika seseorang atau kelompok orang berpindah dari satu kelompok sosial ke kelompok sosial lainnya dalam posisi yang sederajat. Contohnya adalah ketika seseorang pindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain yang sejenis atau ketika sekelompok teman bergabung dalam suatu komunitas baru.

3. Mobilitas sosial antargenerasi

Mobilitas sosial antargenerasi terjadi ketika seseorang atau kelompok orang berpindah dari satu lapisan sosial ke lapisan sosial yang lain dalam generasi yang berbeda. Contohnya adalah ketika seseorang dari keluarga miskin berhasil menjadi orang kaya atau ketika seseorang dari keluarga kaya menjadi miskin.

Dalam kehidupan sehari-hari, mobilitas sosial dapat memberikan dampak positif maupun negatif. Mobilitas sosial yang positif dapat membuka peluang baru dan memberikan pengalaman yang berharga, sedangkan mobilitas sosial yang negatif dapat menimbulkan stres dan ketidaknyamanan. Oleh karena itu, penting untuk mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan mobilitas sosial dan mempersiapkan diri dengan baik.

2.8 Apakah Perbedaan Tugas Rumah Tangga Mempengaruhi Stratifikasi Sosial?

Contoh adanya stratifikasi sosial terjadi pada keluarga Ibu Mini (60 tahun) dan Bapak Kluthuk (68 tahun). Keduanya telah dikaruniai tiga orang anak yang semuanya sudah berkeluarga dan hidup mandiri. Secara pendidikan, Ibu mini hanya lulusan Sekolah Dasar, sedangkan Bapak Kluthuk tidak tamat SD. Ibu Mini bekerja sebagai penjual pada toko kecil yang menjual sayur, bumbu dan kebutuhan sehari-hari yang berskala mikro. Bapak Kluthuk setiap harinya hanya membantu Ibu Mini berjualan dan berkebun. Sumber ekonomi utama keluarga ini

(16)

didapat dari usaha Ibu Mini berjualan. Berkaitan dengan hak-hak istimewa dalam keluarga ini, semuanya mempunyai hak yang sama. Keputusan-keputusan yang bersifat penting dalam keluarga didapat melalui hasil musyawarah bersama termasuk dengan para anak-anaknya. Artinya dalam keluarga ini, semuanya berjalan seimbang dan tidak ada yang mendominasi

Stratifikasi sosial dalam keluarga terbentuk karena adanya pembedaan hak-hak dan kewajiban dalam keluarga. Sebagaimana yang terjadi dalam beberapa keluarga di Indonesia, yang mana dalam keluarga tersebut hanya seorang istri yang bekerja. Adanya fenomena tersebut, seakan memperjelas bahwa aturan hukum yang menyebutkan bahwa suami adalah kepala keluarga dan istri adalah ibu rumah tangga dinilai tidak selamanya berlaku dalam realitas sosial yang ada.

Dalam keluarga di mana hanya seorang istri yang bekerja, akan menempatkan istri dalam kelas sosial yang tinggi dalam keluarga. Istri mempunyai kekuasaan yang lebih dominan jika dibandingkan dengan anggota keluarga yang lain.

(17)

BAB III KESIMPULAN

Stratifikasi sosial adalah pengelompokan masyarakat berdasarkan kriteria atau tingkatan tertentu ke dalam hierarki yang berbeda-beda, artinya kelompok yang mempunyai kekuasaan lebih tinggi atau dianggap lebih baik dari kelompok lain.

Faktor terjadinya stratifikasi sosial antara lain: Faktor struktural, faktor individu, faktor ekonomi, faktor politik, faktor kependudukan, faktor kemiskinan, faktor diskriminasi, faktor Stereotip gender.

Kemudian menimbulkan dampak yaitu munculnya keinginan atau memotivasi individu dalam suatu masyarakat untuk dapat bersaing sehingga bisa berpindah ke tingkatan yang lebih tinggi, terjadinya konflik antar sosial, adanya keinginan menguasai dari strata atas, timbulnya ketimpangan sosial, terjadinya penyalahgunaan wewenang bagi strata atas, Menimbulkan kecemburuan, Menimbulkan disintegrasi sosial. Dan dapat disimpulkan bahwa, perbedaan tugas rumah tangga mempengaruhi stratifikasi sosial.

Referensi

Dokumen terkait

Mobilitas sosial dapat terjadi pada setiap system pelapisan sosial,baik yang terbuka maupun yang tertutup. Pada masyarakat pelapisan sosial terbuka akan terjadi mobilitas yang

• Anggota-anggota suatu kelompok sosial tertentu sedikit banyak memiliki kecenderungan untuk menganggap bahwa segala sesuatu yg termasuk kebiasaan kelompoknya merupakan yg

Kelas sosial adalah stratifikasi sosial menurut ekonomi. Ekonomi dalam hal ini cukup luas yaitu meliputi juga sisi pendidikan dan pekerjaan karena pendidikan dan

Stratifikasi Sosial Terbuka merupakan stratifikasi sosial dimana setiap anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk naik ke  pelapisan sosial yang lebih

Social elevator adalah lembaga yang menjadi saluran atau perantara terjadinya gerak sosial vertikal. Sekolah (lembaga pendidikan), lembaga

Social climbing atau disebut mobilitas vertikal naik adalah mobilitas sosial yang di dalamnya terjadi kenaikan derajat. Social climbing memiliki dua bentuk

24 “ Dampak Stratifikasi Sosial dalam kehidupan bermasyarakat”, http://wikanpre.wordpress.com , diunduh pada jumat 23 Maret 2012 Pkl 20.15 Wib.. sosial maupun iri hati. Jika

Randall collins lebih memusatkan pada stratifikasi sosial karena stratifiksi sosial adalah institusi yang menyentuh banyak ciri kehhidupan, seperti kekayaan, politik,