LAPORAN STUDI KASUS
UPAYA MENINGKATKAN RENDAHNYA PEMAHAMAN
PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN BAHASA INDONESIA DALAM MENULISKAN TEKS EKSPLANASI DI KELAS VI
SD NEGERI 078514 KOOLOTANO
Oleh : BATONI LAIA NIM : 233113714506
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI GURU (PPG) DALJAB BIDANG PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat, karunia dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan ini.
Laporan studi kasus ini mengenai “Upaya Meningkatkan Rendahnya Pemahaman Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Dalam Menuliskan Teks Eksplanasi di Kelas VI SD Negeri 078514 Koolotano”. Penyusunan laporan ini tak lepas dari dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulisan ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini. Semoga Tuhan selalu mencurahkan rahmat dan karunia-Nya serta keridhoan-Nya kepada kita semua, Aamiin. Penulis menyadari bahwa tugas laporan ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang membangun penulis dan kritik yang membangun, penulis harapkan untuk kemajuan masa-masa mendatang. Harapan penulis semoga tugas laporan ini dapat diambil manfaatnya oleh pembaca.
Nias Selatan, Februari 2024
DAFTAR ISI
Halaman Judul...i
Kata Pengantar ... ii
Daftar Isi ... iii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 4
B. Tujuan ... 5
C. Manfaat ... 5
D.Ruang Lingkup ... 5
BAB II PEMBAHASAN A. Studi kasus ... 6
B. Analisis Situasi ... 6
C. Alternatif Solusi ... 7
D. Evaluasi ... 8
BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ... 9
B. Saran ... 9
Referensi... 10
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didik sebagai anak didik. Permasalahan belajar adalah segala masalah yang terjadi selama proses belajar itu sendiri. Masalah-masalah belajar tetap akan dijumpai. Hal ini merupakan pertanda bahwa belajar merupakan kegiatan yang dinamis, sehingga perlu secara terus menerus mencermati perubahan- perubahan yang terjadi pada peserta didik. Agar aktivitas-aktivitas pembelajaran yang dilakukan guru dapat lebih terarah, dan guru dapat memahami persoalan- persoalan belajar yang seringkali atau pada umumnya terjadi dikebanyakan peserta didik dalam berbagai bentuk aktivitas pembelajaran, maka akan lebih baik bila mana guru memiliki bekal pemahaman tentang masalah- masalah belajar.
Pemahaman tentang masalah belajar memungkinkan guru dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan munculnya masalah yang dapat menghambat tercapainya tujuan pembelajaran. Dengan pemahaman itu pula guru dapat menemukan solusi tindakan yang dianggap tepat jika menemukan masalah-masalah di dalam pelaksanaan proses pembelajaran. Tugas utama seorang guru adalah membelajarkan peserta didik. Ini berarti bahwa bila guru bertindak mengajar, maka diharapkan peserta didik berajar atau belajar. Namun adakalanya didalam kegiatan belajar mengajar di sekolah sering ditemukannya masalah- masalah yang berkenaan dengan belajar yang dialami peserta didik tersebut. Masalah-masalah tersebut dipengaruhi oleh faktor internal (yang berasal dari dalam diri peserta didik itu sendiri) dan juga oleh faktor eksternal (yang berasal dari luar peserta didik itu sendiri).
Masalah-masalah yang dialami oleh peserta didik apabila tidak segera di atasi tentunya akan menghambat proses belajar peserta didik dan akan berdampak pada pencapaian tujuan dari belajar tersebut. Peserta didik akan berhasil dalam proses belajar apabila peserta didik itu tidak mempunyai masalah yang dapat mempengaruhi proses belajarnya. Jika terdapat peserta didik yang mempunyai masalah dan permasalahan peserta didik tersebut tidak segera ditemukan solusinya, peserta didik akan mengalami kegagalan atau kesulitan belajar yang dapat mengakibatkan hasil belajar yang rendah.
Permasalahan yang sering muncul dan sering ditanyakan guru adalah bagaimana pembelajaran Bahasa Indonesia yang menyenangkan bagi peserta didik sekolah dasar sehingga konsep dan tujuan pembelajaran itu dapat tercapai. Selama ini pembelajaran Bahasa Indonesia menjadi suatu momok yang dianggap remeh oleh peserta didik karena pembelajaran Bahasa Indonesia mudah dipahami dan dimengerti oleh mereka, akibatnya berdampak pada hasil belajar yang tidak maksimal.
Permasalahan yang di hadapi oleh peserta didik kelas VI SD Negeri 078514 Koolotano pada mata pelajaran Bahasa Indonesia disebabkan bukan terletak pada materi saja yang sulit tetapi juga disebabkan oleh faktor guru tersebut selalu menggunakan metode ceramah yang terpusat pada guru yang dimana mencatat dan menerangkan menjadi dominan dalam kelas dan jarang menggunakan media dalam membantu menanamkan konsep Bahasa Indonesia sehingga peserta didik menjadi jenuh dan tidak mampu menarik minat peserta didik belajar Bahasa Indonesia disaat proses pembelajaran peserta didik merasa kesulitan dan merasa bosan karena materi yang diajarkan atau disampaikan oleh guru kurang menarik minat belajara peserta didik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
Masalah-masalah yang dialami oleh peserta didik apabila tidak segera di atasi tentunya akan menghambat proses belajar peserta didik dan akan berdampak pada pencapaian tujuan dari belajar tersebut. Peserta didik akan berhasil dalam proses belajar apabila peserta didik itu tidak mempunyai masalah yang dapat mempengaruhi proses belajarnya. Jika terdapat peserta didik yang mempunyai masalah dan permasalahan peserta didik tersebut tidak segera ditemukan solusinya, peserta didik akan mengalami kegagalan atau kesulitan belajar yang dapat mengakibatkan rendahnya hasil belajar peserta didik. Untuk mengatasi permasalahan yang sudah di bahas dibagian atas. Maka dari itu guru harus mengupayakan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui permasalahan-permasalahan peserta didik dalam bidang belajar.
2. Untuk mengetahui solusi mengatasi permasalahan-permasalahan tersebut.
C. Manfaat
1. Bagi penulis untuk menambah wawasan dan pengetahuan khususnya dalam pembelajaran.
2. Bagi pembaca ini diharapkan bisa dijadikan rujukan untuk mengetahui berbagai permasalahan dalam bidang belajar serta solusinya.
D. Ruang Lingkup
Masalah adalah kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan sesuatu keadaan yang membingungkan. Masalah biasanya dianggap sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan. Dalam laporan studi kasus ini, membahas tentang permasalahan- permasalahan peserta didik dalam bidang belajar. Di sekolah atau di lingkungan masyarakat, peserta didik tentunya mempunyai masalah yang dapat menggangu prestasinya di sekolah, salah satunya yaitu yang Saya bahas, yakni dalam bidang belajar.
BAB II PEMBAHASAN A. Studi Kasus
Praktik pengalaman lapangan dilaksanakan pada kelas VI sekolah dasar.
Berdasarkan pengalaman saya sebagai guru di SD Negeri 078514 Koolotano, bahwa ada beberapa hal yang belum saya lakukan terutama Model pembelajaran yang belum memberikan peluang kepada peserta didik untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Saya belum mendesain media pembelajaran yang menarik, serta dapat memotivasi peserta didik. Hal ini menyebabkan rendahnya hasil belajar peserta didik atau belum mencapai nilai KKM yang ditetapkan oleh sekolah.
Berdasarkan permasalahan tersebut, yang menjadi salah satu alternatif solusi terpilih adalah model Problem Based Learning berbantuan media Aidiovisual.
Model Problem Based Learning merupakan suatu kegiatan pembelajaran yang mengharuskan peserta didik untuk lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas. Penggunaan media audiovisual membantu kegiatan pembelajaran karena dengan menggunakan powerpoint peserta didik akan lebih menikmati dan fokus terhadap teks, gambar dan video yang ditayangkan. Melalui powerpoint pembelajaran dapat menarik daya tarik peserta didik dan dapat mengurangi kejenuhan, memotivasi peserta didik untuk belajar. Kegiatan pembelajaran di dalam kelas menjadi lebih menyenangkan karena peserta didik tidak hanya mendengarkan penjelasan yang diberikan oleh guru saat di dalam kelas melainkan peserta didik juga bisa memperhatikan, menonton video yang ditampilkan di dalam kelas saat proses pembelajaran berlangsung.
B. Analisis Situasi
Model pembelajaran yang belum memberikan peluang kepada peserta didik untuk lebih aktif dalam pembelajaran serta desain media pembelajaran yang belum menarik, serta dapat memotivasi peserta didik. Menyebabkan rendahnya pemahaman peserta didik pada mata pelajaran bahasa indonesia dalam menuliskan teks ekplanasi dan mempengaruhi rendahnya hasil belajar peserta didik sehingga belum mencapai nilai KKM yang ditetapkan oleh sekolah. Pembelajaran menuliskan teks ekplanasi yang pernah diterima peserta didik sebelumnya bersifat konvensional. sehingga rancangan diupayakan memberikan kemudahan bagi seluruhnya untuk mendapat pengajaran dan pembelajaran. Rancangan pembelajaran disusun untuk mempermudah peserta didik dalam memahami teks ekplanasi. Evaluasi dibuat untuk mengetahui perkembangan keterampilan pemahaman menuliskan teks ekplanasi peserta didik. Hasil observasi lapangan, wawancara dengan wali kelas, dan data awal digunakan sebagai dasar untuk merancang pembelajaran dan evaluasinya. Peran mahasiswa dalam merancang dan melakukan evaluasi ialah menyusun pembelajaran inovatif dengan penggunaan model yang tepat guna meningkatkan keterampilan menuliskan teks ekplanasi peserta didik Rancangan pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan dan
karakteristik peserta didik , menerapkan prinsip pengajaran dan asesmen yang efektif, memanfaatkan teknologi, serta memperhatikan unsur-unsur pembelajaran abad 21 lainnya. Mahapeserta didik membuat perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pelaksanaan pembelajaran, bahan ajar, media pembelajaran, lembar kerja peserta didik dan evaluasi pembelajaran. Guru pamong sebagai wali kelas dan dosen pembimbing lapangan terlibat dalam perancangan dan evaluasi. Guru pamong memberikan informasi tentang kondisi peserta didik dan indikator- indikator keterampilan menuliskan teks ekplanasi. Selain itu, dosen pembimbing lapangan mengarahkan terkait pengelolaan kelas. Tantangan dan hambatan yang dihadapi yaitu diketahui bahwa :Pemilihan masalah yang relevan masih belum maksimal dalam langkah kegiatan awal, sehingga masih ada peserta didik kurang terlibat dalam proses kegiatan. Guru belum terbiasa menggunakan model pembelajaran inovatif, karena baru memahami dan menerapkannya sedangkan sebelumnya selalu mengandalkan metode ceramah dalam mengajar. Pada kegitan diskusi di dalam kelompok masih ada peserta didik yang kurang aktif dalam kegiatan diskusi. Peserta didik mengalami kesulitan ketika peserta didik aktif hanya menyelesaikan masalah sendiri dan peserta didik yang kurang aktif tidak mengetahui bagaimana proses penyelesaian masalah. Masih ada peserta didik yang belum percaya diri untuk mempresentasikan hasil laporannya di depan kelas.
Sehingga perlu daya kritis, kreatif, dan inovatif untuk merancang pembelajaran yang memberikan kemudahan bagi seluruhnya. Perlu kecermatan dalam memilih model, metode, media, dan lain-lain untuk menunjang pembelajaran menuliskan teks eksplanasi. Kemudian, evaluasi perlu disusun dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan memuat indikator- indikator menuliskan teks ekplanasi sehingga mampu memberikan gambaran perkembangan peserta didik.
C. Alternatif Solusi
Alternatif solusi untuk mengatasi permasalahan terkait membaca pemahaman ialah melaksanakan pembelajaran inovatif menggunakan model Problem Based Learning. Duch dalam Shoimin (2014) menjelaskan bahwa model ini bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah serta memperoleh pengetahuan. Model ini melatih peserta didik untuk bekerja sama dalam memecahkan suatu masalah yang ada dalam kehidupan nyata serta cara menyelesaikannya. Apabila pembelajaran dimulai dengan suatu masalah, maka dapat mendorong rasa ingin tahu peserta didik sehinggamuncul berbagai perta- nyaan. Apabila pertanyaan tersebut telah muncul dalam diri peserta didik maka motivasi untuk belajar akan tumbuh. Sintaks Problem Based Learning mampu memudahkan peserta didik untuk memahami menuliskan teks ekplanasi. Orientasi peserta didik pada masalah menuntun dirinya pada topik yang akan dibahas terutama teks bacaan melalui pertanyaan-pertanyaan pemantik, tayangan video, dan kegiatan diskusi. Mengorganisasikan peserta didik dilakukan dengan membentuk beberapa kelompok untuk membahas (LKPD). Membimbing penyelidikan dilakukan pendidik secara berkeliling ke setiap kelompok guna memastikan mereka tidak kesulitan mengerjakan penugasan yang diberikan.
Mengembangkan dan menghasilkan karya dilakukan dengan memberikan kesempatan pada peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.
Menganalisis dan mengevaluasi pemecahan masalah dilakukan dengan meminta setiap kelompok saling menanggapi temannya yang sedang presentasi sehingga pada akhirnya mampu mencapai suatu pemahaman. Pembelajaran menekankan pada kolaborasi antara pendidik dengan peserta didik maupun antar peserta didik.
Pengelolaan kelas pun diperhatikan untuk menciptakan pembelajaran yang kondusif. Diskusi kelompok pun berjalan baik sehingga memudahkan peserta didik dalam memahami materi yang dipelajari. Pelaksanaan pembelajaran berbasis Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dengan menggunakan perangkat selular menelaah materi melalui QR oleh setiap kelompok terlaksana dan peserta didik keseluruhan dapat mengaplikasikan dalam kegiatan, proyektor untuk menampilkan powerpoint. Evaluasi pembelajaran berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang mencakup indikator- indikator keterampilan menuliskan teks ekplanasi, menjawab soal berdasarkan teks, menuliskan informasi penting, dan menceritakan kembali isi bacaan. Dengan demikian, evaluasi mampu memberikan gambaran perkembangan keterampilan menuliskan teks ekplanasi peserta didik.
D. Evaluasi
Nilai hasil keterampilan membaca pemahaman teks informasi peserta didik mampu mencapai indikator kinerja penilaian. Hasil dari tes keterampilan membaca pemahaman mencapai ketuntasan sebesar 93% atau sekitar 14 dari 15 peserta didik telah mencapai KKM. Penelitian ini berhasil karena model Problem Based Learning terbukti mampu meningkatkan keterampilan menuliskan teks ekplanasi peserta didik. Hal ini dikarenakan setiap kelompok membantu peserta didik lebih fokus. Kegiatan diskusi kelompok dapat memberi kemudahan bagi peserta didik untuk memahami materi dan mendapatkan informasi di dalamnya.
Penerapan model pembelajaran yang sesuai dapat membantu pemahaman keterampilan menulis peserta didik di sekolah. Model Problem Based Learning dapat mengasah keterampilan berpikir peserta didik terhadap masalah, materi, dan penguatan diri. Oleh karena itu, peserta didik menjadi lebih mudah menjawab soal berdasarkan teks dan menuliskan informasi penting. Peserta didik pun sudah memahami tentang menuliskan teks ekplanasi.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Permasalahan belajar adalah segala masalah yang terjadi selama proses belajar itu sendiri. Masalah-masalah belajar tetap akan dijumpai. Hal ini merupakan pertanda bahwa belajar merupakan kegiatan yang dinamis, sehingga perlu secara terus menerus mencermati perubahan-perubahan yang terjadi pada peserta didik.
Masalah-masalah yang dialami oleh peserta didik apabila tidak segera di atasi tentunya akan menghambat proses belajar peserta didik dan akan berdampak pada pencapaian tujuan dari belajar tersebut. Peserta didik akan berhasil dalam proses belajar apabila peserta didik itu tidak mempunyai masalah yang dapat mempengaruhi proses belajarnya. Jika terdapat peserta didik yang mempunyai masalah dan permasalahan peserta didik tersebut tidak segera ditemukan solusinya, peserta didik akan mengalami kegagalan atau kesulitan belajar yang dapat mengakibatkan rendah prestasinya/tidak lulus, rendahnya prestasi belajar, minat belajar atau tidak dapat melanjutkan belajar.
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan pemahaman peserta didik menuliskan teks eksplanasi mata pelajaran Bahasa Indonesia dan peningkatan hasil belajar peserta didik dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning, dan di bantu pendekatan metode serta media yang inovatif. Secara keseluruhan model, metode dan media yang digunakan efektif dalam membantu guru dan peserta didik dalam meningkatkan pemahaman menulis teks eksplanasi mata pelajaran Bahasa Indonesia.
B. Saran
Kesulitan dalam pembelajaran atau belajar merupakan suatu hal yang di temui oleh guru. Sebagai upaya untuk memberikan terapi terhadap permasalahan kesulitan belajar maka dapat ditempuh melalui berbagai media penanganan yang khusus intensif serta terpadu antara pendidik, peserta didik dan orang tua peserta didik. Karena bagaimanapun juga sebagian waktu anak lebih banyak dihabiskan di rumah dari pada di sekolah.
Dalam hal ini pendidik yakni guru di sekolah dan orang tua di rumah dituntut untuk benar-benar mengerti akan tipe atau jenis masalah yang dihadapi oleh peserta didik. Dengan memahami jenis masalah, dihaarapkan pendidik mampu memberikan solusi penanggulangan sesuai dengan masalah yang bersangkutan.
Referensi
Surya, I. K. A. P., Wiyasa, I. K. N., & Kristiantari, M. G. R. (2023). Model Pembelajaran Problem Based Learning Berbantuan Media Audiovisual terhadap Kompetensi Bahasa Indonesia Peserta didik. Jurnal Ilmiah Pendidikan Profesi Guru,6(1),24-32.
https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JIPPG/article/view/61075/26127
Nikmah, F., & Pristiwati, R. (2019). Keefektifan pembelajaran menyajikan teks eksplanasi menggunakan model PBL dan TTW berbantuan video animasi.
Jurnal Profesi Keguruan, 5(2), 155-161.
https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jpk/article/view/20078/9775