STUDI KASUS KOMPLIKASI
RIWAYAT DMT2 DAN STROKE
ELLYANA ESA LINTONI (202306100169)
KASUS
Pasien dibawa ke IGD karena dikeluhkan perut membesar sejak +/- 4 hari ini. Pasien juga dikeluhkan terdapat luka pada leher bagian belakang sejak lama.
• Muntah hitam (-)
• Demam (-)
• Batuk (-)
• Pilek (-)
• Riwayat Imobilisasi selama +/- 7 tahun karena stroke
Pasien juga sudah tidak dapat berbicara sejak serangan stroke 7 tahun lalu
1. No. RM = 058917
2. Nama Pasien = Ny. S.R
3. Alamat = Jl Beringin 04 / 05, Tambakrejo, Gurah, Kediri 4. Jenis kelamin = Perempuan
5. Usia = 79 tahun 6. MRS = 29-01-2024 7. KRS = MD 04-02-2024
8. Ruang rawat= Rawat Inap Cendrawasih dan ICU (Intensive Care Unit) 1. No. RM = 058917
2. Nama Pasien = Ny. S.R
3. Alamat = Jl Beringin 04 / 05, Tambakrejo, Gurah, Kediri 4. Jenis kelamin = Perempuan
5. Usia = 79 tahun 6. MRS = 29-01-2024 7. KRS = MD 04-02-2024
8. Ruang rawat= Rawat Inap Cendrawasih dan ICU (Intensive Care Unit)
Data pasien
Riwayat Pasien
Keluhan utama MRS :
Perut membesar sejak +/- 4 hari ini
Riwayat penyakit sekarang :
- Pasien juga dikeluhkan terdapat luka pada leher bagian belakang sejak lama - Gangguan pada kekuatan otot dan keseimbangan tubuh +/- 7 tahun karena stroke
Riwayat alergi : ceftriaxone
Riwayat penyakit : - DM tipe II
- Stroke 7 tahun lalu
Riwayat penggunaan obat : Insulin Levemir 8-0- 0 IU
Diagnosa awal pasien : - Asites
- Ulkus Regio Colli Posterior - Sepsis (Leu : 26.400)
- Sinus Aritmia - DMT2
- CVA Sequael/Cerebrovaskular (Stroke)
Riwayat Pasien
Riwayat Pasien
Diabetes Melitus Tipe 2 Diabetes Melitus Tipe 2
Definisi
Diabetes Melitus merupakan penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia dan gangguan metabolisme dari karbohidrat, lemak, dan protein yang dihubungkan dengan kekurangan secara absolut atau relatif dari kerja dan atau sekresi insulin. Gejala yang biasanya terjadi pada penderita Diabetes Melitus yaitu, polidipsia, poliuria, polifagia, penurunan berat badan, dan kesemutan (Fatimah, 2015).
Diabetes tipe 2 adalah bentuk diabetes yang terjadi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan cukup insulin yang dibutuhkan oleh tubuh.
Patofisologi
Resistensi insulin pada sel otot dan hati, serta kegagalan sel beta pankreas telah dikenal sebagai patofisiologi kerusakan sentral dari DM tipe 2. Hasil penelitian terbaru telah diketahui bahwa kegagalan sel beta terjadi lebih dini dan lebih berat dari yang diperkirakan sebelumnya. Organ lain yang juga terlibat pada DM tipe 2 adalah jaringan lemak (meningkatnya lipolisis), gastrointestinal (defisiensi inkretin), sel alfa pankreas (hiperglukagonemia), ginjal (peningkatan absorpsi glukosa), dan otak (resistensi insulin), yang ikut berperan menyebabkan gangguan toleransi glukosa (PERKENI, 2021).
Definisi
Diabetes Melitus merupakan penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia dan gangguan metabolisme dari karbohidrat, lemak, dan protein yang dihubungkan dengan kekurangan secara absolut atau relatif dari kerja dan atau sekresi insulin. Gejala yang biasanya terjadi pada penderita Diabetes Melitus yaitu, polidipsia, poliuria, polifagia, penurunan berat badan, dan kesemutan (Fatimah, 2015).
Diabetes tipe 2 adalah bentuk diabetes yang terjadi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan cukup insulin yang dibutuhkan oleh tubuh.
Patofisologi
Resistensi insulin pada sel otot dan hati, serta kegagalan sel beta pankreas telah dikenal sebagai patofisiologi kerusakan sentral dari DM tipe 2. Hasil penelitian terbaru telah diketahui bahwa kegagalan sel beta terjadi lebih dini dan lebih berat dari yang diperkirakan sebelumnya. Organ lain yang juga terlibat pada DM tipe 2 adalah jaringan lemak (meningkatnya lipolisis), gastrointestinal (defisiensi inkretin), sel alfa pankreas (hiperglukagonemia), ginjal (peningkatan absorpsi glukosa), dan otak (resistensi insulin), yang ikut berperan menyebabkan gangguan toleransi glukosa (PERKENI, 2021).
Tata Laksana Terapi Diabetes Melitus Tipe 2
Tata Laksana Terapi Diabetes Melitus Tipe 2
CVA Sequael/Cerebrovaskular (Stroke) CVA Sequael/Cerebrovaskular (Stroke)
Definisi
Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tibatiba terganggu, karena sebagian sel-sel otak mengalami kematian akibat gangguan aliran darah karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak (Anis, 2018)
Stroke dibagi menjadi dua yaitu stroke hemoragik dan stroke non hemoragik (iskemik). Stroke hemoragik merupakan perdarahan yang terjadi karena pecahnya pembuluh darah pada daerah otak tertentu dan stroke non hemoragik merupakan terhentinya sebagaian atau keseluruhan aliran darah ke otak akibat tersumbatnya pembuluh darah (Aisyah dkk, 2013)
Patofisologi
Patofisiologi stroke iskemik : Oklusi iskemik berkontribusi sekitar 85% pada pasien stroke, dengan sisanya karena perdarahan intraserebral. Oklusi iskemik menghasilkan kondisi trombotik dan emboli di otak. Kondisi trombosis adalah ketika aliran darah dipengaruhi oleh penyempitan pembuluh darah akibat aterosklerosis. Penumpukan plak pada akhirnya akan menyempitkan ruang pembuluh darah dan membentuk gumpalan menyebabkan stroke trombotik. Pada stroke emboli, aliran darah ke otak berkurang, menyebabkan stres berat dan kematian sel sebelum waktunya (nekrosis). penurunan aliran darah ke daerah otak menyebabkan stroke emboli (Kuriakose & Xiao, 2020)
Definisi
Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tibatiba terganggu, karena sebagian sel-sel otak mengalami kematian akibat gangguan aliran darah karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak (Anis, 2018)
Stroke dibagi menjadi dua yaitu stroke hemoragik dan stroke non hemoragik (iskemik). Stroke hemoragik merupakan perdarahan yang terjadi karena pecahnya pembuluh darah pada daerah otak tertentu dan stroke non hemoragik merupakan terhentinya sebagaian atau keseluruhan aliran darah ke otak akibat tersumbatnya pembuluh darah (Aisyah dkk, 2013)
Patofisologi
Patofisiologi stroke iskemik : Oklusi iskemik berkontribusi sekitar 85% pada pasien stroke, dengan sisanya karena perdarahan intraserebral. Oklusi iskemik menghasilkan kondisi trombotik dan emboli di otak. Kondisi trombosis adalah ketika aliran darah dipengaruhi oleh penyempitan pembuluh darah akibat aterosklerosis. Penumpukan plak pada akhirnya akan menyempitkan ruang pembuluh darah dan membentuk gumpalan menyebabkan stroke trombotik. Pada stroke emboli, aliran darah ke otak berkurang, menyebabkan stres berat dan kematian sel sebelum waktunya (nekrosis). penurunan aliran darah ke daerah otak menyebabkan stroke emboli (Kuriakose & Xiao, 2020)
ASITES ASITES
Definisi
Asites merupakan keadaan di mana terdapat akumulasi patologis cairan bebas di rongga peritoneum. Penumpukan cairan dapat disebabkan oleh kondisi yang langsung melibatkan peritoneum (infeksi, keganasan), atau karena penyakit lain yang jauh dari peritoneum (penyakit hati, penyakit ginjal, gagal jantung, hipoproteinemia) (Tasneem et all., 2015).
Patofisologi Definisi
Asites merupakan keadaan di mana terdapat akumulasi patologis cairan bebas di rongga peritoneum. Penumpukan cairan dapat disebabkan oleh kondisi yang langsung melibatkan peritoneum (infeksi, keganasan), atau karena penyakit lain yang jauh dari peritoneum (penyakit hati, penyakit ginjal, gagal jantung, hipoproteinemia) (Tasneem et all., 2015).
Patofisologi
Tata Laksana Asites Tata Laksana Asites
Pasien dengan asites pertama kali harus ditangani awalnya hanya dengan aldosteron antagonis (yaitu, spironolakton 100 mg / hari) dari awal terapi dan meningkat secara bertahap setiap 7 hari sampai 400 mg / hari (European Association for the Study of the Liver, 2010)
Pembatasan garam merupakan cara utama untuk pengobatan asites yaitu dengan pemberian obat diuretik. Spironolakton merupakan diuretik pilihan pertama dalam terapi dan berfungsi menghalangi reabsorpsi garam/natrium pada tubulus distal ginjal. Kombinasi dua jenis diuretik dapat diberikan apabila monoterapi dengan spironolakton efeknya tidak memadai. Kombinasi yang terbaik adalah spironolakton dan furosemid yang bekerja pada tempat berbeda dalam nefron (Akil, 2012)
Pasien dengan asites pertama kali harus ditangani awalnya hanya dengan aldosteron antagonis (yaitu, spironolakton 100 mg / hari) dari awal terapi dan meningkat secara bertahap setiap 7 hari sampai 400 mg / hari (European Association for the Study of the Liver, 2010)
Pembatasan garam merupakan cara utama untuk pengobatan asites yaitu dengan pemberian obat diuretik. Spironolakton merupakan diuretik pilihan pertama dalam terapi dan berfungsi menghalangi reabsorpsi garam/natrium pada tubulus distal ginjal. Kombinasi dua jenis diuretik dapat diberikan apabila monoterapi dengan spironolakton efeknya tidak memadai. Kombinasi yang terbaik adalah spironolakton dan furosemid yang bekerja pada tempat berbeda dalam nefron (Akil, 2012)
SEPSIS, SYOK SEPTIK SEPSIS, SYOK SEPTIK
Definisi
Sepsis didefinisikan sebagai kegagalan organ yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh respons tubuh yang tidak tepat terhadap infeksi (Srzic Ivana, dkk 2022). Syok septik merupakan sepsis dengan perfusi abnormal dan hipotensi (tekanan darah sistolik <90 mmHg atau menurun >40 mmHg di bawah tekanan darah dasar (baseline) pasien tersebut atau tekanan arteri rata-rata <70 mmHg) selama sekurang-kurangnya 1 jam (Purwanto D, 2018)
Patofisologi
Sepsis timbul akibat respon pejamu terhadap infeksi, yang diarahkan untuk mengeliminasi patogen. Patogen memiliki mekanisme atau faktor virulensi yang bervariasi sehingga memungkinkan patogen untuk bertahan dalam tubuh pejamu dan
menyebabkan penyakit. Paparan terhadap endotoksin dapat menyebabkan efek yang sistemik, seperti perubahan tekanan darah dan suhu tubuh, abnormalitas koagulasi, penurunan jumlah sel leukosit dan trombosit yang bersirkulasi, perdarahan, gangguan sistem imun, dan akhirnya kematian (Purwanto D, 2018)
Definisi
Sepsis didefinisikan sebagai kegagalan organ yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh respons tubuh yang tidak tepat terhadap infeksi (Srzic Ivana, dkk 2022). Syok septik merupakan sepsis dengan perfusi abnormal dan hipotensi (tekanan darah sistolik <90 mmHg atau menurun >40 mmHg di bawah tekanan darah dasar (baseline) pasien tersebut atau tekanan arteri rata-rata <70 mmHg) selama sekurang-kurangnya 1 jam (Purwanto D, 2018)
Patofisologi
Sepsis timbul akibat respon pejamu terhadap infeksi, yang diarahkan untuk mengeliminasi patogen. Patogen memiliki mekanisme atau faktor virulensi yang bervariasi sehingga memungkinkan patogen untuk bertahan dalam tubuh pejamu dan
menyebabkan penyakit. Paparan terhadap endotoksin dapat menyebabkan efek yang sistemik, seperti perubahan tekanan darah dan suhu tubuh, abnormalitas koagulasi, penurunan jumlah sel leukosit dan trombosit yang bersirkulasi, perdarahan, gangguan sistem imun, dan akhirnya kematian (Purwanto D, 2018)
Tata Laksana Sepsis,Syok Septik Tata Laksana Sepsis,Syok Septik
Sepsis dengan adanya syok septik dianjurkan untuk menggunakan obat antimikroba segera atau dalam waktu satu jam setelah diketahui (Srzic Ivana, dkk 2022).
Untuk pasien dengan hipoperfusi atau syok septik akibat sepsis, disarankan agar setidaknya 30 mL/kg cairan kristaloid IV diberikan dalam tiga jam pertama (Srzic Ivana, dkk 2022).
Sepsis dengan adanya syok septik dianjurkan untuk menggunakan obat antimikroba segera atau dalam waktu satu jam setelah diketahui (Srzic Ivana, dkk 2022).
Untuk pasien dengan hipoperfusi atau syok septik akibat sepsis, disarankan agar setidaknya 30 mL/kg cairan kristaloid IV diberikan dalam tiga jam pertama (Srzic Ivana, dkk 2022).
Riwayat Penggunaan Obat di IGD
No. Nama Obat Aturan Pakai
1. Infus PZ 1.000 ml/24 jam
2. Inj. Omeprazole 40 mg Intravena
3. IVFD NS 1500 cc/24 jam
4. IV ceftriaxone 2 ampul
5. IV ranitidine 50 mg 2 ampul
6. Metformin 500 mg 2x500 mg
Hasil Pemeriksaan Fisik
Data Klinik Nilai Normal
Tanggal
29/01/24 30/05/24 31/05/24 01/02/24 02/02/24 03/02/24 04/02/24
Suhu 36-37,5oC 36,5 36,4 36 36,2 34,6 35,7 -
Nadi 80-100/menit 103 89 102 113 154 104 0
RR 16-20/menit 20 20 22 22 19 30 0
Tekanan Darah 120/80mmHg 75/56 97/75 127/82 118/80 245/214 107/69 -
Saturasi O2 95-100% 99 100 100 98 96 100 -
KU/GCS Baik/456 211 111 111
Data Klinik dan Laboratorium
Parameter
Data Lab Nilai Normal
Tanggal
29/01/24 30/01/24 31/01/24 01/02/24 02/02/24 03/02/24 04/02/24
Hemoglobin 12,5-16 gl/dl - - - - - 9,5 -
Leukosit 4.300-11.300/ul 26.400 7.900 - - - 29.300 -
Trombosit 150.000 – 450.000/ul 229.000 - - 176.000 - 110.000 -
Eritrosit 3.900.000
-4.800.000/ul 3.260.000 - - 2.910.000 - 3.050.000 -
Hematocrit 35-45% 25.6 - - 25.1 - 27.9 -
GDA 70-140 g/dL 215 - - - - - -
GDS 70-140 g/dL 176 391 259 102 411 - -
GDP 70-99 g/dL 314 285 323 185 111 284 -
Urea 10-50 mg/dL 89 - - - - -
Kreatinin <1,2 0,69 - - - - - -
Albumin 3.5 – 5.5 mmol/L 3.24 - - - - - -
HbA1c 4.5 – 5.7% 10,2 - - - - - -
Kalium 3.5 – 5.5 mmol/L 4,79 0,96 2,79 3,20 - 4,38 -
Natrium 135 – 145 mmol/L 102, 76 144,16 142,50 148,05 - 150.07 -
Chlorida 98 – 108 mmol/L 57,45 112.84 99,20 100,69 - 104.71 -
Kalsium 1,1-1,35 mg/dL 0,92 0,54 0,93 0.93 - 0,82 -
PERKEMBANGAN DIAGNOSA PASIEN
29/01/2024 1. Asites
2. Ulkus Regio Colli Posterior 3. Sepsis (Leu : 26.400) 4. Sinus Aritmia 5. DMT2 6. CVA Sequaele 30/01/2024 1. Septic encephalopathy
2. Severe hyponatremia 3. Septic shock
4. Ileus obstruktif letak rendah 5. Ulcus regio colli posterior 5. Pneumonia
6. Hyperglicemia in critically ill 7. CVA sequelae
8. GI bleeding
31/01/2024 1. Septic encephalopathy (perbaikan) 2. Severe hyponatremia (teratasi) 3. Septic shock
4. Ileus obstruktif letak rendah 5. Ulcus regio colli posterior 5. Pneumonia
6. Hyperglicemia in critically ill 7. CVA sequelae
8. GI bleeding 9. Severe hypokalemia
01/02/2024 1. Septic encephalopathy (perbaikan)
2. Severe hyponatremia (teratasi) 3. Septic shock
4. Ileus obstruktif letak rendah 5. Ulcus regio colli posterior 5. Pneumonia
6. Hyperglicemia in critically ill 7. CVA sequelae
8. GI bleeding 9. Severe hypokalemia (perbaikan)
02/02/2024 1. Septic encephalopathy (perbaikan)
2. Severe hyponatremia (teratasi) 3. Septic shock
4. Ileus obstruktif letak rendah 5. Ulcus regio colli posterior 5. Pneumonia
6. Hyperglicemia in critically ill 7. CVA sequelae
8. GI bleeding 9. Severe hypokalemia (perbaikan)
10. AF RVR 11. Gagal nafas
03/02/2024 1. Septic encephalopathy (perbaikan) 2. Severe hyponatremia (teratasi) 3. Septic shock
4. Ileus obstruktif letak rendah 5. Ulcus regio colli posterior 5. Pneumonia
6. Hyperglicemia in critically ill 7. CVA sequelae
8. GI bleeding
9. Severe hypokalemia (perbaikan) 10. AF RVR
11. Gagal nafas
04/02/2024 Cardiopulmonary arrest
PROFIL PENGGUNAAN OBAT RAWAT INAP/DOKUMETASI FARMASI TERAPI
Nama Obat Dosis Indikasi
Tanggal Pemberian
29/01 30/01 31/01 01/02 02/02 03/02 04/02 Omeprazole inj 40 mg, IV 1x1 Mengobati gastroesophageal reflux
disease (GERD), sakit maag (gastritis), atau tukak lambung
√ - - - - - -
Ceftriaxone 1 gram, IV 1x2 gram Mengobati sepsis √ - - - - - -
Ranitidine inj 25mg/ml 2x50 gram
Mengobati gejala akibat produksi asam lambung berlebih
√ √ √ √ √ √ -
Ampicilin sulbactam, IV 3X1 gram Mengobati pneumonia √ √ √ √ √ - -
Metformin 500 mg, PO 2x500 mg Mengobati diabetes melitus √ - - √ - - -
Metronidazole 500 mg, IV 3x500 mg Mengobati terhadap bakteri anaerob √ √ √ √ √ - - Asam traneksamat 500
mg, IV
3x500 mg Membantu menghentikan pendarahan √ √ √ √ √ - -
Metoclopramide 10 mg 3x10 mg Mengatasi mual dan muntah √ √ √ √ √ √ -
Alinamin F, IV 3x1
ampul
Untuk memenuhi kebutuhan vitamin B1 di dalam tubuh
√ √ √ √ √ √ -
Levemir 8 iu, SC 1x8 iu Mengobati diabetes melitus √ √ √ √ √ √ -
Drip KCl 50 meq
dalam 500 cc
Mencegah atau mengobati kadar kalium darah yang rendah (hypokalemia)
- √ √ √ - - -
Levofloxacin inj 750 mg 1x750 mg Mengobati infeksi bakteri seperti infeksi pneumonia
- - - √ √ √ -
Nebul combiven 3x1 ampul Mengatasi serangan asma atau penyempitan saluran pernapasan
- - - √ √ √ -
Asetilsitein 200 mg 3x200 mg Mukolitik digunakan pada penyakit paru dengan mukus, seperti pneumonia
- - - - - √ -
Diazepam 5 mg 1x1 Untuk mengatasi kejang - - - - √ - -
Digoxin inj, IV 1x1 ampul Mengatasi aritmia - - - - √ √ -
Meropenem inj, IV 3X1 gram Mengobati pneumonia - - - - - √ -
Fenitoin inj, IV 3x100 mg Pencegahan dan pengobatan kejang - - - - - √ -
Vitamin B comp 2x1 tab Vitamin bagi tubuh - - - - - √ -
50
% Despite being red, Mars is cold
Mars
75
Neptune is the %
farthest planet
Neptune
25
It’s the ringed %
one and a gas giant
Saturn
PROBLEM MEDIS
Despite being red, it is a cold place Venus is the second planet from the Sun
Venus
Earth is the third planet from the Sun
Earth
Saturn is a gas Mars
giant and has several rings
Saturn
Recommendation
Mercury
Mercury is the smallest planet
Jupiter
Jupiter is the biggest planet
Venus has a beautiful name
Saturn
Saturn is the ringed one and a
giant
Despite being Mars
red, it is a cold place
Neptune
It’s the farthest planet from the
Sun
Venus
A picture Is worth a
thousand words
Funny
Examples 02
You could enter a subtitle here if you need it
Examples
Jupiter
Jupiter is the biggest planet
Venus
Venus has a beautiful name
Mercury
Mercury is the
smallest planet
Useful tools for this project
Jupiter Mercury Venus Mars
Practical Exercise
Saturn
Yes, this is the ringed
one
Venus
Venus has a beautiful
name
Neptune
Neptune the farthest
planet
Mercury
Mercury is the smallest
planet
01 02 03 04
Friends sharing their experiences...
Saturn
Yes, this is the ringed one
Neptune
Neptune is the
farthest planet
Do you prefer this editable graph?
Mars Despite being red, it is cold
Venus
Venus has a beautiful name
Mercury
It is the smallest planet
50
% 35
% 15
%
Video Lessons
You can replace the image
on the screen with your
own work. Right-click on it
and then choose “Replace
image” so you can add
yours
CREDITS: This presentation template was created by Slidesgo, including icons by Flaticon, and infographics &
images by Freepik
Thanks!
Do you have any questions?
[email protected] +91 620 421 838
yourcompany.com