• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus Komplikasi Diabetes Melitus Tipe 2 dan Stroke

N/A
N/A
Basofi Mujiburrakhman

Academic year: 2024

Membagikan "Studi Kasus Komplikasi Diabetes Melitus Tipe 2 dan Stroke"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

STUDI KASUS KOMPLIKASI

RIWAYAT DMT2 DAN STROKE

ELLYANA ESA LINTONI (202306100169)

(2)

KASUS

Pasien dibawa ke IGD karena dikeluhkan perut membesar sejak +/- 4 hari ini. Pasien juga dikeluhkan terdapat luka pada leher bagian belakang sejak lama.

• Muntah hitam (-)

• Demam (-)

• Batuk (-)

• Pilek (-)

• Riwayat Imobilisasi selama +/- 7 tahun karena stroke

Pasien juga sudah tidak dapat berbicara sejak serangan stroke 7 tahun lalu

(3)

1. No. RM = 058917

2. Nama Pasien = Ny. S.R

3. Alamat = Jl Beringin 04 / 05, Tambakrejo, Gurah, Kediri 4. Jenis kelamin = Perempuan

5. Usia = 79 tahun 6. MRS = 29-01-2024 7. KRS = MD 04-02-2024

8. Ruang rawat= Rawat Inap Cendrawasih dan ICU (Intensive Care Unit) 1. No. RM = 058917

2. Nama Pasien = Ny. S.R

3. Alamat = Jl Beringin 04 / 05, Tambakrejo, Gurah, Kediri 4. Jenis kelamin = Perempuan

5. Usia = 79 tahun 6. MRS = 29-01-2024 7. KRS = MD 04-02-2024

8. Ruang rawat= Rawat Inap Cendrawasih dan ICU (Intensive Care Unit)

Data pasien

(4)

Riwayat Pasien

 Keluhan utama MRS :

Perut membesar sejak +/- 4 hari ini

 Riwayat penyakit sekarang :

- Pasien juga dikeluhkan terdapat luka pada leher bagian belakang sejak lama - Gangguan pada kekuatan otot dan keseimbangan tubuh +/- 7 tahun karena stroke

 Riwayat alergi : ceftriaxone

 Riwayat penyakit : - DM tipe II

- Stroke 7 tahun lalu

 Riwayat penggunaan obat : Insulin Levemir 8-0- 0 IU

 Diagnosa awal pasien : - Asites

- Ulkus Regio Colli Posterior - Sepsis (Leu : 26.400)

- Sinus Aritmia - DMT2

- CVA Sequael/Cerebrovaskular (Stroke)

Riwayat Pasien

Riwayat Pasien

(5)

Diabetes Melitus Tipe 2 Diabetes Melitus Tipe 2

Definisi

Diabetes Melitus merupakan penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia dan gangguan metabolisme dari karbohidrat, lemak, dan protein yang dihubungkan dengan kekurangan secara absolut atau relatif dari kerja dan atau sekresi insulin. Gejala yang biasanya terjadi pada penderita Diabetes Melitus yaitu, polidipsia, poliuria, polifagia, penurunan berat badan, dan kesemutan (Fatimah, 2015).

Diabetes tipe 2 adalah bentuk diabetes yang terjadi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan cukup insulin yang dibutuhkan oleh tubuh.

Patofisologi

Resistensi insulin pada sel otot dan hati, serta kegagalan sel beta pankreas telah dikenal sebagai patofisiologi kerusakan sentral dari DM tipe 2. Hasil penelitian terbaru telah diketahui bahwa kegagalan sel beta terjadi lebih dini dan lebih berat dari yang diperkirakan sebelumnya. Organ lain yang juga terlibat pada DM tipe 2 adalah jaringan lemak (meningkatnya lipolisis), gastrointestinal (defisiensi inkretin), sel alfa pankreas (hiperglukagonemia), ginjal (peningkatan absorpsi glukosa), dan otak (resistensi insulin), yang ikut berperan menyebabkan gangguan toleransi glukosa (PERKENI, 2021).

Definisi

Diabetes Melitus merupakan penyakit yang ditandai dengan hiperglikemia dan gangguan metabolisme dari karbohidrat, lemak, dan protein yang dihubungkan dengan kekurangan secara absolut atau relatif dari kerja dan atau sekresi insulin. Gejala yang biasanya terjadi pada penderita Diabetes Melitus yaitu, polidipsia, poliuria, polifagia, penurunan berat badan, dan kesemutan (Fatimah, 2015).

Diabetes tipe 2 adalah bentuk diabetes yang terjadi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan cukup insulin yang dibutuhkan oleh tubuh.

Patofisologi

Resistensi insulin pada sel otot dan hati, serta kegagalan sel beta pankreas telah dikenal sebagai patofisiologi kerusakan sentral dari DM tipe 2. Hasil penelitian terbaru telah diketahui bahwa kegagalan sel beta terjadi lebih dini dan lebih berat dari yang diperkirakan sebelumnya. Organ lain yang juga terlibat pada DM tipe 2 adalah jaringan lemak (meningkatnya lipolisis), gastrointestinal (defisiensi inkretin), sel alfa pankreas (hiperglukagonemia), ginjal (peningkatan absorpsi glukosa), dan otak (resistensi insulin), yang ikut berperan menyebabkan gangguan toleransi glukosa (PERKENI, 2021).

(6)

Tata Laksana Terapi Diabetes Melitus Tipe 2

Tata Laksana Terapi Diabetes Melitus Tipe 2

(7)

CVA Sequael/Cerebrovaskular (Stroke) CVA Sequael/Cerebrovaskular (Stroke)

Definisi

Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tibatiba terganggu, karena sebagian sel-sel otak mengalami kematian akibat gangguan aliran darah karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak (Anis, 2018)

Stroke dibagi menjadi dua yaitu stroke hemoragik dan stroke non hemoragik (iskemik). Stroke hemoragik merupakan perdarahan yang terjadi karena pecahnya pembuluh darah pada daerah otak tertentu dan stroke non hemoragik merupakan terhentinya sebagaian atau keseluruhan aliran darah ke otak akibat tersumbatnya pembuluh darah (Aisyah dkk, 2013)

Patofisologi

Patofisiologi stroke iskemik : Oklusi iskemik berkontribusi sekitar 85% pada pasien stroke, dengan sisanya karena perdarahan intraserebral. Oklusi iskemik menghasilkan kondisi trombotik dan emboli di otak. Kondisi trombosis adalah ketika aliran darah dipengaruhi oleh penyempitan pembuluh darah akibat aterosklerosis. Penumpukan plak pada akhirnya akan menyempitkan ruang pembuluh darah dan membentuk gumpalan menyebabkan stroke trombotik. Pada stroke emboli, aliran darah ke otak berkurang, menyebabkan stres berat dan kematian sel sebelum waktunya (nekrosis). penurunan aliran darah ke daerah otak menyebabkan stroke emboli (Kuriakose & Xiao, 2020)

Definisi

Stroke adalah suatu kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke suatu bagian otak tibatiba terganggu, karena sebagian sel-sel otak mengalami kematian akibat gangguan aliran darah karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah otak (Anis, 2018)

Stroke dibagi menjadi dua yaitu stroke hemoragik dan stroke non hemoragik (iskemik). Stroke hemoragik merupakan perdarahan yang terjadi karena pecahnya pembuluh darah pada daerah otak tertentu dan stroke non hemoragik merupakan terhentinya sebagaian atau keseluruhan aliran darah ke otak akibat tersumbatnya pembuluh darah (Aisyah dkk, 2013)

Patofisologi

Patofisiologi stroke iskemik : Oklusi iskemik berkontribusi sekitar 85% pada pasien stroke, dengan sisanya karena perdarahan intraserebral. Oklusi iskemik menghasilkan kondisi trombotik dan emboli di otak. Kondisi trombosis adalah ketika aliran darah dipengaruhi oleh penyempitan pembuluh darah akibat aterosklerosis. Penumpukan plak pada akhirnya akan menyempitkan ruang pembuluh darah dan membentuk gumpalan menyebabkan stroke trombotik. Pada stroke emboli, aliran darah ke otak berkurang, menyebabkan stres berat dan kematian sel sebelum waktunya (nekrosis). penurunan aliran darah ke daerah otak menyebabkan stroke emboli (Kuriakose & Xiao, 2020)

(8)

ASITES ASITES

Definisi

Asites merupakan keadaan di mana terdapat akumulasi patologis cairan bebas di rongga peritoneum. Penumpukan cairan dapat disebabkan oleh kondisi yang langsung melibatkan peritoneum (infeksi, keganasan), atau karena penyakit lain yang jauh dari peritoneum (penyakit hati, penyakit ginjal, gagal jantung, hipoproteinemia) (Tasneem et all., 2015).

Patofisologi Definisi

Asites merupakan keadaan di mana terdapat akumulasi patologis cairan bebas di rongga peritoneum. Penumpukan cairan dapat disebabkan oleh kondisi yang langsung melibatkan peritoneum (infeksi, keganasan), atau karena penyakit lain yang jauh dari peritoneum (penyakit hati, penyakit ginjal, gagal jantung, hipoproteinemia) (Tasneem et all., 2015).

Patofisologi

(9)

Tata Laksana Asites Tata Laksana Asites

 Pasien dengan asites pertama kali harus ditangani awalnya hanya dengan aldosteron antagonis (yaitu, spironolakton 100 mg / hari) dari awal terapi dan meningkat secara bertahap setiap 7 hari sampai 400 mg / hari (European Association for the Study of the Liver, 2010)

Pembatasan garam merupakan cara utama untuk pengobatan asites yaitu dengan pemberian obat diuretik. Spironolakton merupakan diuretik pilihan pertama dalam terapi dan berfungsi menghalangi reabsorpsi garam/natrium pada tubulus distal ginjal. Kombinasi dua jenis diuretik dapat diberikan apabila monoterapi dengan spironolakton efeknya tidak memadai. Kombinasi yang terbaik adalah spironolakton dan furosemid yang bekerja pada tempat berbeda dalam nefron (Akil, 2012)

 Pasien dengan asites pertama kali harus ditangani awalnya hanya dengan aldosteron antagonis (yaitu, spironolakton 100 mg / hari) dari awal terapi dan meningkat secara bertahap setiap 7 hari sampai 400 mg / hari (European Association for the Study of the Liver, 2010)

Pembatasan garam merupakan cara utama untuk pengobatan asites yaitu dengan pemberian obat diuretik. Spironolakton merupakan diuretik pilihan pertama dalam terapi dan berfungsi menghalangi reabsorpsi garam/natrium pada tubulus distal ginjal. Kombinasi dua jenis diuretik dapat diberikan apabila monoterapi dengan spironolakton efeknya tidak memadai. Kombinasi yang terbaik adalah spironolakton dan furosemid yang bekerja pada tempat berbeda dalam nefron (Akil, 2012)

(10)

SEPSIS, SYOK SEPTIK SEPSIS, SYOK SEPTIK

Definisi

Sepsis didefinisikan sebagai kegagalan organ yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh respons tubuh yang tidak tepat terhadap infeksi (Srzic Ivana, dkk 2022). Syok septik merupakan sepsis dengan perfusi abnormal dan hipotensi (tekanan darah sistolik <90 mmHg atau menurun >40 mmHg di bawah tekanan darah dasar (baseline) pasien tersebut atau tekanan arteri rata-rata <70 mmHg) selama sekurang-kurangnya 1 jam (Purwanto D, 2018)

Patofisologi

Sepsis timbul akibat respon pejamu terhadap infeksi, yang diarahkan untuk mengeliminasi patogen. Patogen memiliki mekanisme atau faktor virulensi yang bervariasi sehingga memungkinkan patogen untuk bertahan dalam tubuh pejamu dan

menyebabkan penyakit. Paparan terhadap endotoksin dapat menyebabkan efek yang sistemik, seperti perubahan tekanan darah dan suhu tubuh, abnormalitas koagulasi, penurunan jumlah sel leukosit dan trombosit yang bersirkulasi, perdarahan, gangguan sistem imun, dan akhirnya kematian (Purwanto D, 2018)

Definisi

Sepsis didefinisikan sebagai kegagalan organ yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh respons tubuh yang tidak tepat terhadap infeksi (Srzic Ivana, dkk 2022). Syok septik merupakan sepsis dengan perfusi abnormal dan hipotensi (tekanan darah sistolik <90 mmHg atau menurun >40 mmHg di bawah tekanan darah dasar (baseline) pasien tersebut atau tekanan arteri rata-rata <70 mmHg) selama sekurang-kurangnya 1 jam (Purwanto D, 2018)

Patofisologi

Sepsis timbul akibat respon pejamu terhadap infeksi, yang diarahkan untuk mengeliminasi patogen. Patogen memiliki mekanisme atau faktor virulensi yang bervariasi sehingga memungkinkan patogen untuk bertahan dalam tubuh pejamu dan

menyebabkan penyakit. Paparan terhadap endotoksin dapat menyebabkan efek yang sistemik, seperti perubahan tekanan darah dan suhu tubuh, abnormalitas koagulasi, penurunan jumlah sel leukosit dan trombosit yang bersirkulasi, perdarahan, gangguan sistem imun, dan akhirnya kematian (Purwanto D, 2018)

(11)

Tata Laksana Sepsis,Syok Septik Tata Laksana Sepsis,Syok Septik

 Sepsis dengan adanya syok septik dianjurkan untuk menggunakan obat antimikroba segera atau dalam waktu satu jam setelah diketahui (Srzic Ivana, dkk 2022).

 Untuk pasien dengan hipoperfusi atau syok septik akibat sepsis, disarankan agar setidaknya 30 mL/kg cairan kristaloid IV diberikan dalam tiga jam pertama (Srzic Ivana, dkk 2022).

 Sepsis dengan adanya syok septik dianjurkan untuk menggunakan obat antimikroba segera atau dalam waktu satu jam setelah diketahui (Srzic Ivana, dkk 2022).

 Untuk pasien dengan hipoperfusi atau syok septik akibat sepsis, disarankan agar setidaknya 30 mL/kg cairan kristaloid IV diberikan dalam tiga jam pertama (Srzic Ivana, dkk 2022).

(12)

Riwayat Penggunaan Obat di IGD

No. Nama Obat Aturan Pakai

1. Infus PZ 1.000 ml/24 jam

2. Inj. Omeprazole 40 mg Intravena

3. IVFD NS 1500 cc/24 jam

4. IV ceftriaxone 2 ampul

5. IV ranitidine 50 mg 2 ampul

6. Metformin 500 mg 2x500 mg

(13)

Hasil Pemeriksaan Fisik

Data Klinik Nilai Normal

Tanggal

29/01/24 30/05/24 31/05/24 01/02/24 02/02/24 03/02/24 04/02/24

Suhu 36-37,5oC 36,5 36,4 36 36,2 34,6 35,7 -

Nadi 80-100/menit 103 89 102 113 154 104 0

RR 16-20/menit 20 20 22 22 19 30 0

Tekanan Darah 120/80mmHg 75/56 97/75 127/82 118/80 245/214 107/69 -

Saturasi O2 95-100% 99 100 100 98 96 100 -

KU/GCS Baik/456 211 111 111

(14)

Data Klinik dan Laboratorium

Parameter

Data Lab Nilai Normal

Tanggal

29/01/24 30/01/24 31/01/24 01/02/24 02/02/24 03/02/24 04/02/24

Hemoglobin 12,5-16 gl/dl - - - - - 9,5 -

Leukosit 4.300-11.300/ul 26.400 7.900 - - - 29.300 -

Trombosit 150.000 – 450.000/ul 229.000 - - 176.000 - 110.000 -

Eritrosit 3.900.000

-4.800.000/ul 3.260.000 - - 2.910.000 - 3.050.000 -

Hematocrit 35-45% 25.6 - - 25.1 - 27.9 -

GDA 70-140 g/dL 215 - - - - - -

GDS 70-140 g/dL 176 391 259 102 411 - -

GDP 70-99 g/dL 314 285 323 185 111 284 -

Urea 10-50 mg/dL 89 - - - - -

Kreatinin <1,2 0,69 - - - - - -

Albumin 3.5 – 5.5 mmol/L 3.24 - - - - - -

HbA1c 4.5 – 5.7% 10,2 - - - - - -

Kalium 3.5 – 5.5 mmol/L 4,79 0,96 2,79 3,20 - 4,38 -

Natrium 135 – 145 mmol/L 102, 76 144,16 142,50 148,05 - 150.07 -

Chlorida 98 – 108 mmol/L 57,45 112.84 99,20 100,69 - 104.71 -

Kalsium 1,1-1,35 mg/dL 0,92 0,54 0,93 0.93 - 0,82 -

(15)

PERKEMBANGAN DIAGNOSA PASIEN

29/01/2024 1. Asites

2. Ulkus Regio Colli Posterior 3. Sepsis (Leu : 26.400) 4. Sinus Aritmia 5. DMT2 6. CVA Sequaele 30/01/2024 1. Septic encephalopathy

2. Severe hyponatremia 3. Septic shock

4. Ileus obstruktif letak rendah 5. Ulcus regio colli posterior 5. Pneumonia

6. Hyperglicemia in critically ill 7. CVA sequelae

8. GI bleeding

31/01/2024 1. Septic encephalopathy (perbaikan) 2. Severe hyponatremia (teratasi) 3. Septic shock

4. Ileus obstruktif letak rendah 5. Ulcus regio colli posterior 5. Pneumonia

6. Hyperglicemia in critically ill 7. CVA sequelae

8. GI bleeding 9. Severe hypokalemia

01/02/2024 1. Septic encephalopathy (perbaikan)

2. Severe hyponatremia (teratasi) 3. Septic shock

4. Ileus obstruktif letak rendah 5. Ulcus regio colli posterior 5. Pneumonia

6. Hyperglicemia in critically ill 7. CVA sequelae

8. GI bleeding 9. Severe hypokalemia (perbaikan)

02/02/2024 1. Septic encephalopathy (perbaikan)

2. Severe hyponatremia (teratasi) 3. Septic shock

4. Ileus obstruktif letak rendah 5. Ulcus regio colli posterior 5. Pneumonia

6. Hyperglicemia in critically ill 7. CVA sequelae

8. GI bleeding 9. Severe hypokalemia (perbaikan)

10. AF RVR 11. Gagal nafas

03/02/2024 1. Septic encephalopathy (perbaikan) 2. Severe hyponatremia (teratasi) 3. Septic shock

4. Ileus obstruktif letak rendah 5. Ulcus regio colli posterior 5. Pneumonia

6. Hyperglicemia in critically ill 7. CVA sequelae

8. GI bleeding

9. Severe hypokalemia (perbaikan) 10. AF RVR

11. Gagal nafas

04/02/2024 Cardiopulmonary arrest

(16)

PROFIL PENGGUNAAN OBAT RAWAT INAP/DOKUMETASI FARMASI TERAPI

Nama Obat Dosis Indikasi

Tanggal Pemberian

29/01 30/01 31/01 01/02 02/02 03/02 04/02 Omeprazole inj 40 mg, IV 1x1 Mengobati gastroesophageal reflux

disease (GERD), sakit maag (gastritis), atau tukak lambung

- - - - - -

Ceftriaxone 1 gram, IV 1x2 gram Mengobati sepsis - - - - - -

Ranitidine inj 25mg/ml 2x50 gram

Mengobati gejala akibat produksi asam lambung berlebih

-

Ampicilin sulbactam, IV 3X1 gram Mengobati pneumonia - -

Metformin 500 mg, PO 2x500 mg Mengobati diabetes melitus - - - - -

Metronidazole 500 mg, IV 3x500 mg Mengobati terhadap bakteri anaerob - - Asam traneksamat 500

mg, IV

3x500 mg Membantu menghentikan pendarahan - -

Metoclopramide 10 mg 3x10 mg Mengatasi mual dan muntah -

Alinamin F, IV 3x1

ampul

Untuk memenuhi kebutuhan vitamin B1 di dalam tubuh

-

Levemir 8 iu, SC 1x8 iu Mengobati diabetes melitus -

Drip KCl 50 meq

dalam 500 cc

Mencegah atau mengobati kadar kalium darah yang rendah (hypokalemia)

- - - -

Levofloxacin inj 750 mg 1x750 mg Mengobati infeksi bakteri seperti infeksi pneumonia

- - - -

(17)

Nebul combiven 3x1 ampul Mengatasi serangan asma atau penyempitan saluran pernapasan

- - - -

Asetilsitein 200 mg 3x200 mg Mukolitik digunakan pada penyakit paru dengan mukus, seperti pneumonia

- - - - - -

Diazepam 5 mg 1x1 Untuk mengatasi kejang - - - - - -

Digoxin inj, IV 1x1 ampul Mengatasi aritmia - - - - -

Meropenem inj, IV 3X1 gram Mengobati pneumonia - - - - - -

Fenitoin inj, IV 3x100 mg Pencegahan dan pengobatan kejang - - - - - -

Vitamin B comp 2x1 tab Vitamin bagi tubuh - - - - - -

(18)

50

% Despite being red, Mars is cold

Mars

75

Neptune is the %

farthest planet

Neptune

25

It’s the ringed %

one and a gas giant

Saturn

(19)

PROBLEM MEDIS

Despite being red, it is a cold place Venus is the second planet from the Sun

Venus

Earth is the third planet from the Sun

Earth

Saturn is a gas Mars

giant and has several rings

Saturn

(20)

Recommendation

Mercury

Mercury is the smallest planet

Jupiter

Jupiter is the biggest planet

Venus has a beautiful name

Saturn

Saturn is the ringed one and a

giant

Despite being Mars

red, it is a cold place

Neptune

It’s the farthest planet from the

Sun

Venus

(21)

A picture Is worth a

thousand words

(22)

Funny

Examples 02

You could enter a subtitle here if you need it

(23)

Examples

Jupiter

Jupiter is the biggest planet

Venus

Venus has a beautiful name

Mercury

Mercury is the

smallest planet

(24)

Useful tools for this project

Jupiter Mercury Venus Mars

(25)

Practical Exercise

Saturn

Yes, this is the ringed

one

Venus

Venus has a beautiful

name

Neptune

Neptune the farthest

planet

Mercury

Mercury is the smallest

planet

01 02 03 04

(26)

Friends sharing their experiences...

Saturn

Yes, this is the ringed one

Neptune

Neptune is the

farthest planet

(27)

Do you prefer this editable graph?

Mars Despite being red, it is cold

Venus

Venus has a beautiful name

Mercury

It is the smallest planet

50

% 35

% 15

%

(28)

Video Lessons

You can replace the image

on the screen with your

own work. Right-click on it

and then choose “Replace

image” so you can add

yours

(29)

CREDITS: This presentation template was created by Slidesgo, including icons by Flaticon, and infographics &

images by Freepik

Thanks!

Do you have any questions?

[email protected] +91 620 421 838

yourcompany.com

Please keep this slide for attribution

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental secara deskriptif dengan melakukan observasi terhadap rekam medik pasien ulkus diabetikum yang menjalani rawat inap

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ketepatan penggunaan antibiotik pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi ulkus/gangren di RSUD Dr Moewardi

Moewardi Surakarta mengalami komplikasi, dan (3) terdapat hubungan antara olah raga dengan kejadian komplikasi diabetes militus Tipe 2 pada pasien di Poli Dalam RSUD Dr. Kata

Berdasarkan latar belakang di atas, pasien diabetes melitus tipe 2 memiliki risiko untuk mengalami depresi sehingga memerlukan berbagai upaya untuk mengurangi

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi foot ulcer di RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro

Pengaruh Jumlah Hari Pemberian Obat dengan Resep terhadap Kepatuhan dan Biaya “Studi pada Pasien Diabetes Melitus di Puskesmas Wilayah Surabaya Utara”.. Skripsi,

Lama rawatan rata-rata berdasarkan kategori komplikasi adalah komplikasi akut dengan lama rawatan rata-rata 6,78 hari, komplikasi kronik dengan lama rawatan

4.2 Pola Penggunaan Obat DPP-4 Inhibitor pada Pasien Diabetes Melitus Pengobatan pasien DM yang menggunakan DPP-4 inhibitor ditambahkan setelah terapi antidiabetik lain