• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Kasus pada Sakit Gigi yang Parah

N/A
N/A
dian syafitri

Academic year: 2024

Membagikan " Studi Kasus pada Sakit Gigi yang Parah"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS MATA KULIAH BIMBINGAN KONSELING

Oleh :

Dian Syafitri Riflinda, AMKG NIM. PO71271240160

POLTEKKES KEMENKES JAMBI JURUSAN TERAPIS GIGI DAN MULUT

TAHUN 2024

(2)

BEBERAPA PERMSALAHAN YANG DI JUMPAI PADA PASIEN DI POLI GIGI

KASUS 1

Pasien atas nama Ny.R umur 30 tahun, memiliki 2 anak, datang ke Puskesmas mengeluhkan tentang gigi geraham belakang bawah sangat sakit sehingga Ny.R tidak bisa beristrahat saat malam, rasa sakit menjalar sampai ke kepala.

Kemudian petugas melakukan pemeriksaan dan ternyata ditemukan adanya gigi geraham belakang baru tumbuh, dimana gigi tersebut belum seutuhnya muncul, dan nampak gusi sekitar gigi tersebut memerah.

Ny.R bercerita bahwa dirumah dia uring-uriangan karena sakit gigi ini, selain itu Ny.R juga bercerita bahwasanya suaminya sudah beberapa hari ini tidak pulang karena alasan yang penting. Jadi Ny.R merasa sangat berat sekali mengurus anak dan juga pergi berladang karet sementara Ny.R juga sedang menderita sakit gigi.

Ny.R bercerita cukup lama dengan sembari mengeluarkan emosinya, lalu petugas menjadi pendengar yang baik sehingga Ny.R dapat mengurangi beban emosi yang ada dihatinya.

KASUS 2

Pasien seorang laki-laki an.AN umur 21 tahun, sudah bekerja, datang ke Puskesmas dengan keluhan gigi geraham atas sangat sakit sudah 2 hari, AN sudah minum obat yang dijual di warung akan tetapi tidak mengurangi rasa sakit gigi, kemudian AN bercerita bahwa dia disuruh oleh ibunya untuk memeriksakan giginya tersebut ke Puskesmas.

Petugas Poli gigi kemudian memeriksa keadaan gigi AN, dan meang ditemui lubang gigi besar beserta gusi yang meradang kemerahan disekitar gigi. Petugas memberikan komunikasi terapeutik pada pasien, dan meresepkan obat untuk pasien tersebut. Lalu kemudian AN kembali menyeletuk kepada Petugas Poli Gigi bahawa ditempatnya bekerja sudah 2 hari ini tidak berkonsentrasi bekerja sehingga AN selalu dimarahi oleh atasannya. AN pun sudah hilang akal

(3)

KASUS 3

Pasien seorang perumpuan belum menikah bernama Ny.S berumur 20 tahun. Pada saat datang berkunjunng pasien langsung mengutarakan bahwa ada masalah pada mulutnya, yaitu bau mulut. Ny.S sangat tida nyaman dengan keadaan ini.

Kemudian petugas Poli gigi melakukan pemeriksaan terhadap Ny.S dan ditemui bahwa Ny.S ini memiliki karang gigi calculus dengan skor buruk.

Ny.S bercerita bahwa ditempatnya bekerja dia disisihkan oleh rekan kerjanya yang lain, kejadian ini sudah 1 tahun dia alami, sehingga membuat Ny.S ini tertekan saat berada dilingkungan kerja dan hampir ingin mengundurkan diri karena Ny.S cukup sedih. Kami sebagai petugas mendengerkan keluh kesah dari pasien tersebut dengan antusias agar pasien tersebut merasa diterima. Kemudian kami memberikan saran, mungkin saja ini permasalah berawal dari bau mulut yang dialami oleh pasien, kami sebagai petugas sangat hati-hati dalam menyampaikan hal ini, karena dapat membuat pasien tersebut merasa tersinggung.

Kami petugas menyarankan agar dilakukan ppembersihan karang gigi terlebih dahulu, baru setelahnya bisa melakukan perawatan gigi selanjutnya. Karena di puskesmas tidak bias dilakukan scaling gigi maka pasien kami rujuk ke Rumah Sakit.

Setelah 1 minggu kemudiian pasein tersebut berkunjung kembali dan bercerita bahwa giginya sudah dibersihkan karang gigi, sekarang mulutnya jauh lebih segar. Dan yang lebih baiknya lagi sesame rekan kerjanya mulai satu persatu mendekati pasien tersebut, Ny.S merasa sangat bahagia begitu menceritakannya kepada kami petugas.

KASUS 4

Pasien bernama Nn.W usia masih 15 tahun, masih bersekolah di tingkat SMP, pasien datang bersama orang tuanya, petugas memeriksa keadaan gigi pasien

(4)

tersebut, dari hasil pemeriksaan ditemukan bahwa gigi seri 1 atas kanan sudah berlubang besar dan patah dengan sisa mahkota gigi 1/3. Pasien bercerita sering ditertawakann di Sekolah oleh teman-teman karena gigi depan patah dan nyaris ompong. Pasien sudah malas untuk pergi ke Sekolah karena takut ditertawakan terus menerus oleh teman-temannya. Nampak dari wajah pasien tersebut cukup murung. Maka dari itu kami petugas menyarankan untuk membuat gigi palsu untuk pasien tersebut, akan tetapi membuat gigi palsu harus mencabut gigi yang patah terlebihdahulu, baru kemudian setelah 3 bulaln baru bisa dibuatkan gigi palsu. Orang tua pasien tersebut menanyakkan berapa biaya membuat gigi palsu tersebut lalu kami jelaskan bahwa kami dipuskesmas tidak ada layanan untukk membuat gigi palsu, pasien akan kami rujuk kerumah sakit bila ada BPJS, bila tidak mempunyai BPJS pasien bisa ke Praktek dokter atau ke Rumah Sakit juga bisa. Lalu orang tua pasien cukup terkejut mendengar biaya yang harus dikeluarkan karena mereka tidak memili kartu BPJS, tapi bila tidak menggunakan kartu BPJS harga lumayan besar bagi mereka, setelah negosiasi dengan doter gigi di puskesmas maka dokter puskesmas bisa membantu di prakteknya dengan biaya yang sudah dikurangi oleh dokter gigi tersebut. Hal ini membuat pasien dan keluarga gembira karena ada potongan harga dari Dokter Gigi.

KASUS 5

Pasien anak-anak usia 5 tahun jenis kelamin laki-laki, pasien tersebut dibawa oleh orang tuanya karena pada pipi anak tersebut bengkak. Setelah kami periksa ternyata ada lubang gigi yang cukup besar, kemudian menyebabkan gusi membengkak. Lalu petugas memberikan obat. Orang tua pasien bercerita bahwa anak mereka sering makan makanan jajanan warung seperti coklat, permen dan minum susu masih menggunakan botol susu. Kemudian kami petugas menyarakan pada anak tersebut untuk tidak menggunakan dengan dot, kami petugas melakukan edukasi cara sikat gigi pada anak tersebut menggunakan boneka phantom sehingga anak tersebut tertarik mendengarkan petugas.

Setelah diberikan edukasi diharapkan anak tersebut memahami pentingnya memelihara kesehatan gigi dan mulut.

(5)

waktu tidur dan emosi sudah mulai meningkat kemudian pekerjaan dirumah juga sudah tertunda karena kurang tidur dan emosi yang tidak stabil.

KASUS 2

Pada kasus 2 sudah masuk pada kategori Reacting karena sudah menganggu waktu tidur dan waktu bekerja pasien tersebut

KASUS 3

Pada kasus 3 sudah msuk pada kategori injured karena pasien merasa sangat sedih merasa disishkan di tempat bekerjanya dan hampir ingin mengundurkkan diri dari tempatkerjanya.

KASUS 4

Pada kasus ke 4 sudah masuk kategori injured karena pasien juga merasa minder dan tidak percaya diri karena sering ditertawakann oleh teman-teman sekolah sehingga pasien sudah malas untuk pergi ke Sekolah.

Kasus 5

Pada kasus ke 5 masuk pada kategori Healty. Karena pasien masih bisa bermain dan mendengarkan edukasi dari petugas.

Referensi

Dokumen terkait

Sesungguhnya keluhan pasien dan keluarga pasien (masyarakat) seperti yang dikemukan diatas memberikan gambaran ketidakpuasan terhadap kegiatan pelayanan Rumah Sakit

Jawaban responden baik kelompok pasien maupun keluarga pasien bahwa mereka puas, berarti rumah sakit Panti Rapih sejauh ini sejauh ini selalu berupaya menciptakan kepercayaan

Tingkat kepuasan pada indikator bukti fisik ( tangible ) berdasarkan hasil analisis menunjukkan puas, berarti pasien Poli Gigi RSUD Arifin Achmad Pekanbaru telah

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran penggunaan material restorasi SIK di Poli Gigi RS Bhayangkara Manado tahun 2011 – 2013 berdasarkan waktu penumpatan, usia pasien,

menghasilkan rancangan Rumah Sakit Gigi dan Mulut yang sehat dan memenuhi segala kebutuhan pasien dalam proses pengobatan sampai penyembuhan dan diharapkan dapat

Dalam bimbingan dan konseling, dapat digunakan pendekatan CBT karena memiliki relevansi untuk setting rumah sakit. Misalnya dalam menangani pasien yang mengalami gangguan

Pasien penambalan gigi tetap lebih besar dibandingkan dengan jumlah pasien pencabutan gigi di Puskesmas Sumbersari bulan Januari-Juni 2012 , faktor-faktor yang dapat

Prevalensi dan distribusi fissure tongue, geographic tongue, median rhomboid glossitis, dan hairy tongue pada Pasien Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Fakultas Kedokteran Gigi