PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Studi Kasus : Pada Kelompok Tani Makmur
MAGANG DAN STUDI INDEPENDEN BERSERTIFIKAT (MSIB)
AMRINA ROSADA RAHMAWATI NIM : 54521121004
FAKULTAS SAINS TERAPAN UNIVERSITAS SURYAKANCANA
2024
Lembar Pengesahan
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Ilahi Robbi, karena atas hidayah dan karunia-Nya penulis diberikan kemudahan dalam melaksanakan segala sesuatu. Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan umatnya hingga akhir zaman.
Dengan kemudahan yang telah diberikan, penulis dapat menyelesaikan laporan magang yang berjudul : “Pemberdayaan Masyarakat”. Penulis menyadari bahwa pembuatan laporan magang ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan kemampuan yang penulis miliki. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, guna penyempurnaan laporan magang ini.
Dalam penyelesaian laporan magang ini, penulis telah banyak memperoleh bantuan baik secara moril maupun material dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada :
1. Allah SWT yang dimana atas kuasanya penulis selalu diberi kelancaran dan kemudahan dalam melakukan setiap kegiatan termasuk magang dan menyelesaikan laporan ini.
2. Kepada kedua orang tua dan keluarga yang telah banyak memberikan semangat, motivasi, dan dukungan baik moril maupun material sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan magang ini
3. Seluruh karyawan Badan Penyuluh Pertanian Kecamatan Panimbang
4. Para metor yang telah membantu dalam melaksanakan setiap tugas dan kompetensi yang ada
Penulis berharap semoga laporan magang ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi semua pembaca.
Panimbang, 24 Oktober 2024
Penuli
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI... i
DAFTAR TABEL ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
1.3 Manfaat ... 2
BAB II TEORI ... 3
2.1 PENYULUHAN ... 3
2.2 PENDIDIKAN ORANG DEWASA ... 3
BAB III PROSEDUR KERJA ... 5
2.2 Prosedur Kegiatan ... 5
BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN... 6
4.1 Rencana Kegiatan Penyuluhan ... 6
4.2 Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan ... 8
4.3 Analisis Hasil Kegiatan dan Dampak ... 9
4.4 Kendala Yang Dihadapi ... 9
4.1 Upaya Keberlanjutan Program ... 10
V KESIMPULAN DAN SARAN ... 11
5.1 Kesimpulan ... 11
5.2 Saran ... 11
DAFTAR PUSTAKA ... 12
LAMPIRAN... 13
ii
DAFTAR TABEL
Table 1 Prosedur Kegiatan ... 5 Table 2 Materi Penyuluhan ... 7 Table 3 Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan ... 8
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pemberdayaan merupakan serangkaian kegiatan untuk memperkuat dan mengoptimalkan keberdayaan (dalam arti kemampuan dan keunggulan bersaing) kelompok lemah dalam masyarakat, termasuk didalamnya. Selain itu pemberdayaan adalah tindakan sosial sebuah komunitas di dalam penduduk dimana ia mengorganisasikan dirinya dalam membuat perencanaan dan tindakan kolektif agar mampu menyelesaikan persoalan sosial atau memenuhi kebutuhan sosial dengan kemampuan dan sumber daya yang dimilik. Salah satu yang termasuk kegiatan pemberdayaan sendiri yakni pemberdayaan masyarakat.
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya atau proses untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kapasitas masyarakat untuk mengenali, menangani, memelihara, melindungi, dan meningkatkan kesejahteraannya sendiri.
Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya non konstruktif yang memfasilitasi peningkatan pengetahuan dan kapasitas masyarakat untuk mengidentifikasi, merencanakan dan menyelesaikan masalah dengan memanfaatkan potensi lokal dan fasilitas yang ada, baik dari lintas sektor instansi maupun LSM dan tokoh masyarakat (Syakhirul Alim et al., 2022)
Didalam pemberdayaan masyarakat sendiri terdapat pemberdayaan masyarakat petani mengambil andil didalamnya. Pemberdayaan petani merupakan sebuah kegiatan yang melibatkan partisipasi dan kepemimpinan dari kelompok tani yang diberdayakan. Pemberdayaan petani lebih efektif dilakukan melalui kelompok tani. Menurut Permentan Nomer 82 tahun 2013 tentang kelompok tani dan gabungan kelompok tani mengungkapkan bahwa klasifikasi kemampuan kelompok tani dibagi ke dalam empat kategori yaitu kelas pemula, kelas lanjut, kelas madya dan kelas utama. Keempat kelas ini menunjukkan kemampuan yang dimiliki para petani tergolong pad tingkatan tersebut, Artinya tingkat keberdayaan yang dimiliki atas kegiatan pemberdayaan yang diberikan akan memberikan dampak terhadap tingkat kemampuan yang dimiliki anggota kelompok tani (Wulanjari & Setiani, 2016).
2 1.2 Tujuan
1. Memberi informasi kepada petani terkait pemanfaatan limbah rumah tangga 2. Menumbuhkan kesadaran petani untuk mulai bertransisi ke pertanian
organik
3. Memperbaiki kondisi tanah dan mencegah adanya resistensi hama penyakit pada tanaman
1.3 Manfaat
1. Bertambahnya pengetahuan petani dalam memanfaatkan limbah rumah tangga untuk pertanian
2. Adanya keinginan petani untuk bertransisi ke pertanian organic
3. Membaiknya kondisi tanah untuk lahan pertanian dan berkurangnya hama penyakit pada tanaman
3
BAB II TEORI
2.1 PENYULUHAN
Penyuluhan adalah suatu kegiatan mendidik sesuatu kepada individu ataupun kelompok, memberi pengetahuan, informasi-informasi dan berbagai kemampuan agar dapat membentuk sikap dan perilaku hidup yang seharusnya.
Hakekatnya penyuluhan merupakan suatu kegiatan nonformal dalam rangka mengubah masyarakat menuju keadaan yang lebih baik seperti yang dicita-citakan (Putu, Ni Manis, 2018)
. Penyuluhan juga dapat diartikan sebagai perubahan perilaku (sikap, pengetahuan dan keterampilan) petani, sehingga fungsi penyuluhan dapat tercapai, yaitu sebagai penyebar inovasi, penghubung antara petani, penyuluh dan lembaga penelitian, melaksanakan proses pendidikan khusus, yaitu pendidikan praktis dalam bidang pertanian dan mengubah perilaku lebih menguntungkan. Penyuluh pertanian berperan sebagai pembimbing petani, organisator, motivator dan dinamisator petani, pendamping teknis bagi petani, penghubung komunikasi antara petani dengan lembaga penelitian dan pemerintah dan sebagai agen pembaruan bagi petani dalam membantu masyarakat petani dalam usaha mereka meningkatkan kesejahteraan melalui peningkatan dan mutu hasil produksi usaha tani mereka (Pipit Muliyah, Dyah Aminatun, Sukma Septian Nasution, Tommy Hastomo, Setiana Sri Wahyuni Sitepu, 2020).
2.2 PENDIDIKAN ORANG DEWASA
Pendidikan orang dewasa atau dengan istilah lain Andragogi berasal dari bahasa Yunani dari kata aner artinya orang dewasa, dan agogos artinya memimpin.
Maka secara harfiah andragogi berarti seni dalam mengajar orang dewasa, berlawanan dengan paedagogi yang berati seni dan pengetahuan mengajar anak.
Karena pengertian pedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak, maka apabila menggunakan istilah pedagogi untuk kegiatan pelatihan bagi orang dewasa jelas tidak tepat, karena mengandung makna bertentangan. Pada awalnya, bahkan hingga sekarang, banyak praktek proses belajar dalam suatu pelatihan yang ditunjukan kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara pedagogis. Dalam hal
4
ini prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak di anggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pelatihan bagi orang dewasa (Sunhaji, n.d.).
5
BAB III
PROSEDUR KERJA
3.1 Prosedur Kegiatan
Kompetensi Kegiatan Keterangan
Merancang pemberdayaan
1. Need assessment dengan salah satu metode
(RRA/PRA/SLA) bisa disesuaikan dengan
kompetensi program
2. Menyusun strategi pemberdayaan 3. Menyusun
proposal perencanaan program pemberdayaan
Hal ini lebih ditekankan pada siklus pemberdayaan yang meliputi:
penyadaranpengkapasitasan (dengan
edukasi/pendampingan, dst) dan berdaya.
Menerapkan kegiatan pemberdayaan masyarakat (C6)
1. Melakukan kegiatan pemberdayaan dalam bidang pertanian sesuai dengan tahapan, ruang lingkup, metode dan media dalam proses pemberdayaan 2. Evaluasi
pemberdayaan (mengacu pada kompetensi Evaluasi pemberdayaan)
Kegiatan pemberdayaan dapat mengacu pada kegiatan pendampingan petani dalam meingkatkan produksi lahan pertanian (kompetensi budidaya lahan pertanian) Dapat juga kegiatan yang meibatkan sasaran lain misalnya petrempuan (KWT) melalui kegiatan pembuatan olahan yang sesuai dengan potensi lokal.
Table 1 Prosedur Kegiatan
6
IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Rencana Kegiatan Penyuluhan
Program pemberdayaan petani dilaksanakan pada 24 Oktober 2024 dengan tempat di saung tanpa solusi untuk kelompok tani Makmur yang berada di Desa Mekarjaya, Kecamatan Panimbang. Kegiatan ini terdiri dari satu pertemuan dengan dua materi yang akan disampaikan, yaitu pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) berbasis air cucian beras dan pembuatan pestisida nabati dari daun bebadotan, serai, dan kulit bawang. Pertemuan tersebut dihadiri oleh 16 peserta, dengan kelompok tani Makmur sebagai sasaran utama program ini.
Kelompok tani Makmur di Desa Mekarjaya merupakan kelompok petani yang bersifat independen, tetapi memiliki ketergantungan pada pupuk kimia.
Ketergantungan ini dapat mengakibatkan kerusakan tanah jika terus dilakukan tanpa diimbangi penggunaan bahan organik dan nabati. Oleh karena itu, kegiatan penyuluhan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan pengetahuan petani tentang penerapan bahan-bahan organik dalam pertanian.
4.1.1 Materi Penyuluhan
Dalam program pemberdayaan yang dilaksanakan, dua metode penyuluhan digunakan untuk menyampaikan materi kepada peserta: metode ceramah dan diskusi. Metode ceramah bertujuan untuk memberikan pemahaman teori secara komprehensif, sedangkan diskusi interaktif dirancang untuk mendorong keterlibatan peserta dalam pembahasan dan sesi tanya jawab.
Materi yang disampaikan selama penyuluhan terdiri dari dua topik utama. Pertama, mengenai pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari air cucian beras. Penyuluhan ini menerangkan cara pemanfaatan limbah air cucian beras sebagai bahan dasar dalam pembuatan POC. Kandungan nutrisi dalam air cucian beras bermanfaat untuk tanaman, sehingga peserta diajarkan cara fermentasi untuk menghasilkan POC yang ramah lingkungan dan hemat biaya. Kedua, materi tentang pembuatan pestisida nabati dari daun bebadotan, serai, dan daun bawang. Materi ini bertujuan untuk mengajarkan peserta cara meracik pestisida nabati yang alami dan aman
7
dengan memanfaatkan tanaman tersebut. Metode ini menawarkan alternatif bagi petani untuk mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia, menjadikannya lebih ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan manusia serta ekosistem.
NO KONDISI MATERI
1. Bahan baku pembuatan pestisida yang mudah didapatkan dan dapat menggunakan limbah rumah tangga untuk bahan utamanya, daerah dengan masalah hama yang terjadi di sini menjadikan hama wereng coklat harus di atasi dengan pestisida nabati
Pembuatan Pestisida Nabati dari Daun Bebadotan, serai dan Kulit Bawang
2. Ketersediaan air cucian beras yang melimpah, area pertanian di desa mekarjaya yang memiliki lahan terbuka yang cocok untuk holtikultura, palawija dan tanaman pangan
Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) Dari Air Cucian Beras
Table 2 Materi Penyuluhan
4.1.2 Media Penyuluhan
Media penyuluhan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah leaflet. Leaflet adalah lembaran informasi yang menyajikan materi penyuluhan secara singkat dan jelas, sehingga mudah dibaca dan dipahami oleh masyarakat.
4.1.3 Metode Penyuluhan
Pemberdayaan petani dilaksanakan melalui Metode Participatory On-farm Demonstration (POD), yakni suatu pembelajaran yang sangat urgen karena orang dewasa perlu bersaing secara sehat dengan generasi milenial (Mau et al., 2022). POD merupakan salah satu pendekatan penyuluhan yang mengajak petani untuk berperan aktif dalam praktik lapangan di lahan pertanian mereka sendiri. Dengan metode ini, petani tidak hanya berfungsi sebagai penerima informasi, tetapi juga menjadi peserta aktif yang berkolaborasi dengan penyuluh untuk menerapkan teknologi atau teknik pertanian yang baru. Kegiatan ini memberi kesempatan kepada petani untuk mendapatkan pengalaman langsung dalam menerapkan teknologi tersebut di lingkungan nyata, sehingga proses pembelajaran sesuai dengan kondisi lahan yang mereka kelola.
Melalui pendekatan POD, petani belajar secara partisipatif melalui berbagai tahap, seperti pengamatan langsung, praktik di lapangan, dan
8
evaluasi hasil yang dilakukan secara bersama-sama. Keterlibatan aktif mereka tidak hanya meningkatkan pemahaman tentang teknik yang diajarkan, tetapi juga memungkinkan penyesuaian teknologi sesuai dengan kondisi spesifik di lapangan, termasuk jenis tanah, iklim, atau masalah hama tertentu. Proses pembelajaran ini juga melibatkan diskusi dan umpan balik, sehingga teknologi baru dapat diterima dan dipahami dengan lebih baik oleh petani.
Metode ini telah terbukti efektif dalam meningkatkan penyuluhan pertanian karena memberikan pengalaman praktis yang mendalam, membuat petani merasa lebih percaya diri untuk mengadopsi inovasi yang diperkenalkan. Partisipasi mereka dalam setiap tahap proses penyuluhan, mulai dari penerapan hingga evaluasi, membantu memperkuat pengetahuan mereka dan mempersiapkan mereka untuk menerapkan teknologi secara mandiri di lahan pertanian mereka.
4.2 Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan
Tanggal Penyuluhan
Materi Penyuluhan
Media Penyuluhan
Metode Penyuluhan
Sasaran 24 Oktober
2024
Pembuatan pestisida nabati dari tumbuhan bebandotan
Leafleat Ceramah, diskusi dan demonstrasi cara
Kelompok Tani Makmur
24 Oktober 2024
Pembuatan pupuk organik cair (POC) dari air beras
Leafleat Ceramah, diskusi dan demonstrasi cara
Kelompok Tani Makmur
Table 3 Pelaksanaan Kegiatan Penyuluhan
Berdasarkan tabel 3, kegiatan penyuluhan dilaksanakan pada
tanggal 24 Oktober 2024 di Desa Mekarjaya, dengan sasaran kelompok tani
Makmur. Materi yang disampaikan selama penyuluhan mencakup
pembuatan pestisida nabati dari daun bebandotan, serai, dan limbah kulit
bawang yang digunakan untuk pengendalian hama wereng batang coklat,
dan Pupuk Organik Cair (POC) dari air cucian beras. Pemilihan media dan
metode penyuluhan disesuaikan dengan target audiens dan kondisi lokasi
pelaksanaan.
9
Media penyuluhan yang digunakan adalah leaflet yang berisi informasi tentang manfaat aplikasi pestisida nabati dan POC pada tanaman budidaya, serta alat, bahan, cara pembuatan, dan cara pengaplikasian.
Leaflet ini dirancang agar materi penyuluhan mudah diingat dan dapat dipelajari kembali oleh petani setelah kegiatan selesai. Leaflet dibagikan setelah penyuluhan untuk memastikan peserta tetap fokus mendengarkan informasi yang disampaikan oleh pemateri. Penyuluhan mengenai pembuatan pestisida nabati dari tumbuhan bebandotan dan POC dari air cucian beras dilakukan dengan metode ceramah, diskusi, dan demonstrasi pembuatan. Metode ini dipilih agar para peserta dapat memahami manfaat dan cara pembuatan pestisida nabati dari bebandotan, serai, dan limbah kulit bawang serta POC dari air cucian beras.
4.3 Analisis Hasil Kegiatan dan Dampak
Masyarakat Desa Mekarjaya dengan antusias menyambut program penyuluhan pembuatan Pupuk Organik Cair dari air cucian beras dan Pestisida Nabati dengan bahan utama daun bebandotan, serai, serta limbah kulit bawang.
Dukungan dan partisipasi aktif ditunjukkan oleh warga, kelompok tani, dan Kepala Desa Mekarjaya. Acara ini dihadiri oleh banyak peserta mereka mendengarkan pemaparan materi oleh mahasiswa dengan jelas dan menunjukkan antusiasme saat menyaksikan demonstrasi pembuatan pupuk organic cair dan pestisida nabati.
Kegiatan ini diakhiri dengan sesi foto bersama. Diharapkan melalui program penyuluhan ini, masyarakat, khususnya petani di Desa Mekarjaya, memahami manfaat dan cara pembuatan POC dari air cucian beras serta pesnab dari daun bebandotan, serai, dan kulit bawang sebagai pupuk tambahan dan pestisida untuk tanaman mereka. Masyarakat dan kelompok tani Desa Mekarjaya juga dapat melihat penjelasan proses pembuatan dan manfaat POC serta pestisida nabati yang disajikan dalam bentuk leaflet.
4.4 Kendala Yang Dihadapi
Pelaksanaan kegiatan Penyuluhan terkait pembuatan Pupuk Organik Cair dan Pestisida Nabati menghadapi kendala daslam perbedaan bahasa. Penyampaian materi dan demonstrasi dilaksanakan menggunakan bahasa Indonesia, sedangkan masyarakat di Desa Mekarjaya lebih terbiasa berkomunikasi menggunakan bahasa
10
Jawa dan Sunda dalam keseharian mereka. Bahasa Indonesia hanya digunakan saat belajar di sekolah, namun dalam kehidupan sehari-hari mereka lebih sering memakai bahasa ibu atau bahasa daerah. Untuk mengatasi hal ini, kami menyediakan leaflet yang berisi informasi tentang manfaat, alat dan bahan, serta cara pembuatan dan pengaplikasian Pupuk Organik Cair dari air cucian beras dan Pestisida Nabati dari daun bebandotan, serai, dan limbah kulit bawang.
4.5 Upaya Keberlanjutan Program
Keberlanjutan program pembuatan pupuk organic cair dari air cucian beras dan pestisida nabati dari daun bebadotan, serai, dan limbah kulit bawang membutuhkan peran ketua dan anggota kelompok tani yang berada di Desa Mekarjaya. Penyebaran akan pengetahuan tentang proses pembuatan dan manfaat dari pupuk organic cair dari air cucian beras dan pestisida nabati dari daun bebadotan, serai, dan limbah kulit bawang ini perlu dilakukan kepada petani yang menyebar luas di desa. Kegiatan yang dapat dilakukan kedepannya yakni pelatihan terus menerus dan pendampingan untuk petani agar penyuluhan yang disampaikan dapat di praktekan di rumah masing masing oleh petani. Hal ini juga membangun kesadaran akan manfaat jangka panjang bagi petani dalam pengaplikasian pupuk organik cair dan pestisida tersebut.
11
V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa penyuluhan terkait materi pembuatan pestisida nabati dari daun bebadotan dan pembuatan pupuk organic cair dari air cucian beras dilakuan secara aktraktif di kelompok tani Makmur Desa Mekarjaya. Dalam penyuluhannya kami menggunakan leaflet sebagai media penyuluhannya dengan metode penyuluhan yakni Pendidikan orang dewasa (POD). Dalam pelaksanaannya anggota kelompok tani dapat menerima informasi dengan baik dan terbuka, program ini dapat dilanjut agar menjadi upaya adanya transisi pertanian menuju pertanian organic yang berkelanjutan.
5.2 Saran
1. Dalam pelaksanaannya harus dipastikan terkait bahan bahan yang digunakan apakah akan cukup dalam praktik proses pembuatan
2. Penyuluhan yang lebih aktraktiv lagi perlu dilakukan untuk menarik minat lebih para petani
12
DAFTAR PUSTAKA
Mau, M., Saenom, S., Martha, I., Ginting, G., & Sirait, S. (2022). Model Pembelajaran Orang Dewasa di Era Masyarakat 5.0. Skenoo : Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, 2(2), 165–178. https://doi.org/10.55649/skenoo.v2i2.38
Pipit Muliyah, Dyah Aminatun, Sukma Septian Nasution, Tommy Hastomo, Setiana Sri Wahyuni Sitepu, T. (2020). 済無No Title No Title No Title. Journal GEEJ, 7(2), 4–23.
Putu, Ni Manis, M. D. (2018). Metode Penyuluhan Di Puskesmas II Denpasar Selatan.
Poltekkes Denpasar, 1–23. http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/1079/3/BAB II.pdf
Syakhirul Alim, W., Orba Manullang, S., Aziz, F., Romadhon, S., Marganingsih, A., Mansur, Ratnaningtyas, E. M., Sulandjari, K., Hanifah, Wulandari, R., & Efendi, Y.
(2022). Pemberdayaan Masyarakat: Konsep dan Strategi (Issue June).
www.gaptek.id
Wulanjari, M. E., & Setiani, C. (2016). Strategi Pemberdayaan Petani Dalam Berusahatani. Jurnal Pengkajian Teknologi Pertanian, 1(10), 41–51.
http://digital.library.ump.ac.id/51/1/4. STRATEGI PEMBERDAYAAN PETANI DALAM BERUSAHATANI.pdf
Sunhaji. (n.d.). Konsep Pendidikan Orang Dewasa. Doktor Ilmu Pendidikan, Alumnus Universitas Sebelas Maret Surakarta. Dosen Pascasarjana dan Jurusan Tarbiyah STAIN Purwokerto.
13
LAMPIRAN
Lampiran 1 Lembar Persiapan Menyuluh
Judul : Pestisida nabati dari tumbuhan bebandotan dan POC dari air cucian beras Tujuan : Meningkatkan pemahaman dan kemampuan kelompok tani
Makmur Desa Mekarjaya dalam pembuatan pestisida nabati dari tumbuhan bebandotan dan POC dari air cucian beras
Metode : Ceramah, diskusi dan demonstrasi cara Media : Leaflet
Waktu : 20 menit
Alat Bantu : Alat tulis dan sinopsis
Pokok Kegiatan Uraian Kegiatan Waktu Keterangan Pendahuluan 1. Pembukaan
2. Perkenalan
3. Penyampaian maksud dan tujuan
5 menit
Isi/Materi 1. Ceramah pemaparan materi pestisida nabati
dari tumbuhan
bebandotan dan POC dari air cucian beras
2. Diskusi dan tanya jawab 3. Demosntrasi cara
10 menit
Pengakhiran 1. Kesimpulan
2. Membagikan leaflet
untuk membantu
menginformasikan kembali materi yang telah disampaikan dalam penyuluhan
3. Penutup
5 Menit
14 Lampiran 2 Sinopsis
SINOPSIS
Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Air Cucian Beras
Air cucian beras, yang seringkali dianggap sebagai limbah dapur, ternyata menyimpan potensi besar sebagai pupuk organik. Kandungan nutrisi seperti vitamin B, mineral, dan pati yang terlarut dalam air cucian beras menjadi sumber makanan yang baik bagi mikroorganisme tanah. Air cucian beras berupakan salah satu limbah yang akan mudah kita temui dalam kehidupan kita. Konsumsi beras yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari menyebabkan banyaknya air cucian beras yang terbuang dan jarang untuk dimanfaatkan. Beberapa kandungan yang dimiliki oleh air cucian beras meliputi karbohidrat, nitrogen, fosfor, kalium, magnesium, sulfur, besi, dan Vitamin B1.
Pupuk organik cair (POC) dari air cucian beras adalah pupuk alami yang dibuat dari fermentasi air cucian beras dengan penambahan mikroorganisme efektif (EM4) dan Gula meah. Meskipun terdengar sederhana, POC ini kaya akan nutrisi penting bagi tanaman, seperti Fosfor, kalium, zat besi, dan mangan yang sangat dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan. POC juga mengandung Bakteri menguntungkan yang membantu mengurai bahan organik dalam tanah, meningkatkan kesuburan tanah, dan melindungi tanaman dari penyakit.
Penggunaan Pupuk Organik Cair dapat mengurangi limbah organik dan mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Bahan-bahannya mudah didapat dan proses pembuatannya sederhana. Meningkatkan kandungan organik tanah, memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan kapasitas menahan air. Mempercepat pertumbuhan tanaman, meningkatkan produksi, dan meningkatkan kualitas hasil panen.
Cara pembuatan Pupuk Organik Cair (1)Simpan air cucian beras dalam wadah bersih.(2) Masukan EM4, dan gula merah untuk mempercepat proses fermentasi dan menyediakan sumber energi bagi mikroorganisme.(3) Tutup wadah rapat dan fermentasikan selama 1-2 minggu pada suhu ruangan. Cara Pengaplikasian (1) Encerkan POC dengan air bersih dengan dosis 1 Liter untuk 10 Liter air. (2) Siramkan POC pada pangkal batang tanaman. Atau bisa juga Semprotkan POC pada daun tanaman.
Sumber : Sifaunajah, A., Azizah, C., Amelia, N. F., & Sholehah, N. A. (2022).
Pemanfaatan Limbah Air Cucian Beras Sebagai Pupuk Organik Cair. 4, 1–5.
15 Sinopsis
Pembuatan Pestisida Nabati dari Daun Bebadotan, Serai, dan Limbah Kulit Bawang
Pestisida nabati menjadi solusi penting dalam upaya mengembalikan pertanian ke konsep Back to Nature, di mana bahan-bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar digunakan sebagai pengganti pestisida kimia. Berdasarkan identifikasi potensi wilayah di Desa Mekarjaya, ditemukan bahwa hama Wereng Batang Coklat masih menjadi tantangan utama dalam budidaya padi. Penggunaan pestisida kimia secara berlebihan telah menyebabkan hama ini menjadi resisten, dan dalam beberapa tahun ke depan, diprediksi akan terjadi peningkatan serangan wereng. Untuk itu, pestisida nabati diharapkan menjadi solusi efektif yang tidak hanya mengurangi penggunaan bahan kimia, tetapi juga menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
Bahan utama yang digunakan untuk membuat pestisida nabati ini adalah daun bebadotan, serai, dan limbah kulit bawang. Tanaman bebadotan, yang biasanya dianggap sebagai gulma di lahan pertanian, ternyata mengandung senyawa aktif seperti saponin, flavonoid, tanin, minyak atsiri, dan polifenol yang dapat digunakan sebagai pestisida alami yang aman dan ramah lingkungan. Serai mengandung citronella, senyawa dalam minyak atsiri yang dikenal efektif dalam mengusir hama serangga. Sementara itu, kulit bawang merah mengandung senyawa acetogenin dan squamocin yang dapat mengganggu nafsu makan serangga dan merusak sistem respirasi sel mereka, yang akhirnya menyebabkan kematian hama secara perlahan. Selain berfungsi sebagai pestisida, kulit bawang merah juga membantu meningkatkan kesuburan tanaman.
Proses pembuatan pestisida nabati ini cukup sederhana. Daun bebadotan, serai, dan kulit bawang merah dipotong kecil-kecil lalu diblander hingga halus . Setelah di blader maka campurkan bahan bahan dengan air sebanyak 2 liter lalu masukan kedalam botol dan diamkan selama 2-3 hari. Untuk mengaplikasikannya pestisida dalam boto yang telah disimpan 2- 3 hari selanjutnya disaring untuk memisahkan ekstrak dengan ampasnya, 1 liter pestisida nabati dicampur dengan 10 liter air, kemudian disemprotkan pada tanaman yang terkena serangan hama setiap 1-2 minggu, terutama pada bagian bawah daun dan batang.
Pestisida nabati ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia, mengurangi resistensi hama, serta menjaga kesehatan tanah dan lingkungan secara keseluruhan. Bahan-bahan yang digunakan pun mudah ditemukan di sekitar, menjadikan metode ini lebih efisien dan ramah lingkungan.
16 SUMBER :
Oliveira, 2018. Studi Penggunaan Tanaman Bebadotan sebagai Pestisida Nabati.
Layali Damanik et al., 2022. Pemanfaatan Kulit Bawang Merah sebagai Pestisida Nabati.
17 Lampiran 3 Media Penyuluhan
18 Lampiran 4 Dokumentasi Kegiatan
19 Lampiran 5 Daftar Hadir