Sedangkan gender – secara sederhana – merupakan karakteristik yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan budaya. Sehingga diketahui bahwa laki-laki bersifat kuat, rasional, maskulin dan berkuasa, sedangkan perempuan dianggap lembut, emosional dan keibuan. Konstruksi sosial yang menjadi narasi besar di masyarakat adalah bahwa “kodrat” laki-laki adalah bekerja di luar rumah dan “kodratnya”.
Dengan fakta di atas, berarti istilah “kodrat” bukan hanya hak prerogratif Tuhan saja, tetapi juga milik manusia, yaitu kaum laki-laki yang diatur oleh budaya patriarki. Di sinilah laki-laki menang, yang juga mempunyai hak untuk mengkonstruksi bahwa laki-laki harus memainkan peran tersebut dan perempuan memainkan peran tersebut. Kajian Sensitivitas Gender, Dosen Uiis Ma/ang 125 ketidakadilan terhadap laki-laki dan perempuan, baik secara individu maupun bersama-sama, yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga maupun kehidupan yang lebih luas.
5 Dalam pengertian yang lebih luas, gender dapat diartikan sebagai seperangkat nilai, harapan, kepercayaan, dan seringkali stereotip yang harus dimainkan oleh laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sosial mereka. Perbedaan seperti ini banyak terjadi di berbagai bidang kehidupan yang sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk pembagian ruang publik dan domestik antara laki-laki dan perempuan. Marginalisasi perempuan hampir dapat dipastikan disebabkan oleh dominasi struktur dan ideologi patriarki yang diyakini telah melahirkan sikap “maleisme” dalam berbagai aspek kehidupan. Dosa-dosa terhadap permasalahan perempuan pun semakin lama semakin meningkat karena ia mengakomodir dan berkolaborasi dengan kepentingan developmentisme yang telah merampas hak-hak perempuan dan meminggirkan mereka.
Justeru, segala jenis pekerjaan dan jawatan awam termasuk menjadi rektor boleh disandang oleh lelaki dan wanita.
KEWAJIBAN ISTRI MENTAATI SUAMI SECARA MUTLAK
34; “Seorang muslim wajib tegas dan taat terhadap apapun (apa yang diperintahkan Ulil Amri), suka atau tidak suka, kecuali jika diperintahkan ma’iyat, maka tidak ada ketaatan” (HR al-Bukhari-Muslim Keluarga dibangun berdasarkan kedudukan top-down (simetris), penguasa dan dikuasai dan sebagainya, sehingga sulit membangun keluarga dengan pola relasi gender yang berkeadilan.Hal ini dikarenakan potret pembentukan keluarga yang asimetris mempersempit ruang lingkup keluarga. ruang komunikasi dan transparansi bagi kedua belah pihak (suami, istri).
Mayoritas responden tidak setuju bahkan sangat tidak setuju bahwa pengambilan keputusan dalam keluarga merupakan hak penuh suami. Sedikitnya responden yang menyatakan sangat setuju bahwa pengambilan keputusan dalam keluarga merupakan hak sepenuhnya laki-laki, berpendapat bahwa perempuan lemah dalam pengambilan keputusan sehingga tidak perlu dilibatkan. Sementara itu, tidak ada satupun responden yang menyatakan keraguannya terhadap permasalahan terkait pengambilan keputusan dalam keluarga ini.
Dengan pemikiran tersebut, maka wajar jika sebagian pihak yang hanya membebani istri saja, berarti melanggengkan ketidakadilan gender, yakni beban ganda dalam pekerjaan. Profil keluarga ini dilandasi oleh keadilan dan cinta, dimana tidak ada aku dan kamu, yang ada adalah kita. Dalam profil keluarga ini, masing-masing suami istri hidup bersama secara terpisah, namun tidak ada yang saling mengganggu, juga tidak ada persinggungan atau konflik kepentingan di antara keduanya.
Responden yang setuju dan sangat setuju berpendapat bahwa perempuan lebih banyak tinggal di rumah dan diartikan sebagai makhluk domestik yang tugas utamanya mengurus keluarga. Sedangkan responden yang tidak setuju dan sangat tidak setuju mengatakan bahwa keharmonisan keluarga tergantung pada kemampuan perempuan dalam mengatur keluarga. Argumentasi yang dikemukakan adalah keharmonisan keluarga hanya dapat tercipta jika semua pihak yang ada di dalamnya (suami, istri, anak) menjalankan peran, fungsi dan kontribusinya secara saling berbagi, bekerjasama dan saling pengertian.
Pengambilan keputusan mengenai urusan keluarga yang dilakukan hanya oleh satu pihak merupakan bentuk pengingkaran dan pengingkaran terhadap keberadaan keluarga. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa keputusan yang diambil oleh ayah/suami harus lebih baik dari keputusan istri. Karena tidak ada seorang pun yang bisa menjamin kebahagiaan dan masa depan anak, maka sebaiknya ada musyawarah antara suami dan istri untuk menghindari kemungkinan saling menyalahkan karena ini keputusan bersama, tentu baik dan buruknya ditanggung bersama.
PEREMPUAN TIDAK PERLU MENGEJAR KARIR, KARENA TUGAS UTAMANYA MENGURUS RUMAH TANGGA
Menentukan pendidikan anak berarti membuka masa depan yang menjadi tanggung jawab ::; jawab orang tua (suami istri). Kajian Sensitivitas Gender UIIS Malang 137 dosen berkarir di luar rumah karena ibu merupakan tiang negara yang tugas utamanya mengurus suami dan anak. Beberapa responden yang setuju juga menyampaikan kekhawatirannya, jika perempuan berkarir di luar rumah, maka keluarga, terutama anak-anaknya, tidak akan bisa dikendalikan akhlaknya karena kehadiran ibu di sisinya yang tidak bisa diwakili oleh pihak lain. tidak akan terpenuhi.
Mencari nafkah dan ma'ishah adalah kewajiban laki-laki adalah alasan lain yang juga dikemukakan oleh kelompok ini. Responden yang tidak setuju dan sangat tidak setuju perempuan dilarang berkarir di luar rumah berpendapat bahwa karir merupakan bentuk aktualisasi diri perempuan yang tidak dilihat dari aspek ekonomi semata tidak harus. Namwi, kelompok ini memberi sedikit catatan bahwa karier dan rumah tangga merupakan dua hal yang saling bergantung.
Oleh karena itu, diperlukan keterampilan manajemen yang baik; perempuan harus pandai memilih dan mengkategorikan skala prioritasnya, tentunya berdasarkan situasi dan keadaan masing-masing. Dalam pandangan umum di masyarakat, istilah karir hanya dikaitkan dengan perempuan yang memperoleh akses dan mengaktualisasikan dirinya di dunia orang lain (publik). Istilah ini menyampaikan pemahaman bahwa sektor publik hanya dimiliki oleh laki-laki dan simpanan dalam negeri hanya dimiliki oleh perempuan.
Jadi tidak ada orang yang berkarir karena dia bekerja di dunianya sendiri. Jika responden yang sepakat lebih baik perempuan tidak bekerja mendasarkan pendapatnya pada teks hadis yang menyebut perempuan sebagai tiang negara, maka hal ini merupakan pembenaran yang tidak proporsional. Makna al-nisa ''imad al-bi/ad yang dimaknai hanya dari segi empat dinding, menguatkan pendapat dan kekhawatiran bahwa jika perempuan dibiarkan bekerja/berkarir maka akhlak anak akan menjadi tidak terkendali. , karena itu menjadi amanah dan tanggung jawabnya.
Bahkan Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa kewajiban menjaga keluarga adalah kewajiban laki-laki. Padahal, dalam persepsi dan psikologi perempuan sendiri, bekerja di luar rumah merupakan salah satu bentuk aktualisasi diri yang tidak hanya dinilai secara ekonomi, namun juga patut dihargai sebagai prestasi perempuan.
CARA BERPAKAIAN YANG SOPAN TIDAK MENJAMIN
Beberapa orang juga berpendapat bahwa pakaian merupakan faktor penting terjadinya pelecehan dan kekerasan seksual. Pakaian yang tidak sopan seringkali menampakkan aspek sensualitas seorang wanita sehingga dapat membuat pria bersikap jahat terhadapnya. Namun dalam banyak kasus, perempuan yang tidak menunjukkan sensualitas secara fisik juga menjadi korban kekerasan.
Kasus yang baru ditemukan19 juga menunjukkan bahwa perempuan yang berpakaian dan berperilaku sopan (berhijab) sekalipun justru menjadi korban kekerasan dengan modus operandi halus, baik melalui minuman keras, narkoba, maupun jampi-jampi.
PADA MASA KINI PEREMPUAN BISA MENERIMA BAGIAN WARISAN DALAM JUMLAH YANG SAMA DENGAN LAKI-
Jumlah
- LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN MEMILIKI HAK SAMA DALAM MENENTUKAN PENDIDIKAN ANAK
- SUAMI BERHAK MENDAPATKAN LAYANAN SEKSUAL TANPA ADANYA KERELAAN ISTRI
- PEREMPUAN SEHARUSNYA PANDAI MEMASAK DAN BERHIAS DIRI AGAR MAMPU MENYENANGKAN SUAMI
- LAKI-LAKI TIDAK PANTAS MENGERJAKAN PEKERJAAN RUMAH TANGGA
- PEREMPUAN TIDAK PANTAS MENJADI PEMIMPIN DALAM KELUARGA
- PEREMPUAN BERSOLEK UNTUK MENARIK PERHATIAN LAWAN JENIS
- MEMILIKI JSTRI LEBIH DARI SATU WAJAR BAGI SUAMI UNTUK MEMENUI-Il DORONGAN SEKSUALITASNYA
- Kesimpulan
Ayat tentang warisan laki-laki dan perempuan (2:1) yang terdapat dalam QS.4:11 sebenarnya merupakan prestasi yang luar biasa dalam menghormati perempuan pada masa itu. Dalam lingkungan sosial budaya Arab, perempuan tidak dipandang sebagai makhluk yang setara dengan laki-laki. PRIA DAN WANITA MEMILIKI HAK YANG SAMA DALAM KEPUTUSAN TENTANG PENDIDIKAN ANAK.
Mayoritas responden setuju bahkan sangat setuju bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai hak yang sama dalam memutuskan pendidikan anak. Sedangkan responden yang sangat tidak setuju berpendapat bahwa laki-laki/suamilah yang menentukan pendidikan anak sebagai pihak yang mewarisi garis keturunan anaknya. Al-Qur’an telah secara pasti dan jelas memberikan penghargaan kepada laki-laki dan perempuan atas prestasi dan nilai yang disandangnya ketakwaan.
Mengapa harus laki-laki yang merasa mempunyai hak lebih atas anak-anaknya dibandingkan perempuan/laki-laki yang secara biologis mengandung, melahirkan dan mengasuhnya. Singkatnya, pesan moral dari ayat tersebut bukanlah tentang bagaimana cara mempermainkan seks, namun lebih baik dipahami sebagai isyarat agar laki-laki harus menghargai perut istrinya mengenai apa itu istri. Hampir seluruh responden tidak setuju bahkan sangat tidak setuju bahwa laki-laki dianggap tidak layak melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci piring, menjaga anak dan lain sebagainya.
Ada yang berpendapat bahwa hal ini bersifat kondisional dan laki-laki dapat melakukan pekerjaan rumah tangga sesuai kebutuhan, atau dengan tujuan meringankan beban perempuan. Dalam teologi yang berkembang di masyarakat, pekerjaan rumah tangga merupakan tugas dan kewajiban perempuan, sehingga ketika laki-laki membantu pekerjaan tersebut, ia dicap terlalu tunduk pada perempuan, karena ia ikut campur di dapur (bahasa Jawa: cupar), dan melanggar haknya. alam sebagai manusia. 4:34, paragraf yang membahas tentang kedudukan dan kepemimpinan laki-laki atas perempuan yang terkesan diskriminatif menjadi sorotan tajam para feminis muslim.
Ada suatu nilai yang berkembang di masyarakat bahwa perempuan seringkali dinilai dari penampilan luar/fisiknya dan laki-laki dari aspek psikologisnya. Namun terjadi pergeseran nilai dan pandangan sebagian laki-laki dalam masyarakat dari nilai-nilai fisik ke nilai-nilai psikologis, baik berupa intelektualitas, moralitas atau yang lainnya. Sebagian besar responden setuju atau bahkan sangat setuju laki-laki melakukan poligami karena gairah seksnya sangat tinggi.
Ada label di masyarakat bahwa laki-laki yang beristri lebih dari satu (poligami) melambangkan supremasi seksual. Responden yang setuju dan sangat setuju jika menyatakan bahwa perempuan diciptakan dari laki-laki dan hidupnya hanya untuk laki-laki, memberikan alasan bahwa teks Al-Qur’an tepatnya QS.4:1 dan hadis Nabi meriwayatkan Al- Bukhari menyatakan hal itu.