KEBUDAYAAN SUKU BANGSA JAWA
Kelompok 1 A Antropologi
Disusun Oleh:
Erly Putri Syafa’ah
21010034001
01
Redita Suryadini
21010034009
02
Annisya Fauzia Aini
21010034026
03
Nava Dwi Kusuma W
21010034042
04
RIFQI YURI N
05
21010034060
A. Sejarah dan Asal-Usul Suku Jawa.
Suku Jawa berasal dari manusia pribumi yang mendiami pulau Jawa itu sendiri. Hal ini dibuktikan dengan hasil DNA fosil manusia purba Homo Erectus dan Pithecanthropus erectus yang nyaris sama dengan DNA suku Jawa modern. (Eugene Dubois)
Namun ada sejarawan lainnya yang menyanggah pendapat Dubois, yaitu Von Hein Geldern. Geldern berpendapat suku jawa adalah
penduduk Yunan yang bermigrasi pada zaman Neolitikum-zaman
perunggu ke kepulauan Nusantara. Selain Geldern, ada Dr. Kern yang menyebutkan suku jawa berasal dari rumpun Austronesia.
Ada beberapa tulisan kuno yang juga ikut menjelaskan asal usul suku
Jawa, misalnya Babad Jawa Kuno yang menyebutkan suku Jawa berasal
dari Kerajaan Kling. Lalu, surat kuno keraton Malang yang menjelaskan
suku Jawa berasal dari kerajaan Turki tahun 450 SM.
B. Domisili dan Daerah Penyebarannya
Suku Jawa menjadi salah satu suku terbesar di Indonesia, dengan jumlah sekitar 40,22% (mencapai 95.217.022 jiwa) dari populasi manusia di nusantara.
Sebagian besar domisili mereka berada pada pulau Jawa, namun banyak juga diantara mereka yang sudah merantau ke berbagai daerah dan pelosok di
Indonesia.
Jumlah penduduk suku Jawa di berbagai provisi di Indonesia digambarkan sebagai berikut:
Jawa tengah = 31,56 juta Jawa timur = 30,03 juta Jawa barat = 5,71 juta Lampung = 4,86 juta Sumut = 4,32 juta DKI Jakarta = 3,45 juta DIY = 3,33 juta
Sumsel = 2,04 juta Banten = 1,66 juta Riau = 1,61 juta Kaltim = 1,07 juta
Jambi & Kalsel = 500 ribu – 1 juta
Kalbar, Aceh, Bengkulu, Bali & Kep Riau= 250 – 500 ribu Papua, Sulsel, Sulteng, Sumbar, & Sultra = 100-250 ribu Papua barat, Bangka Belitung, = 100-250 ribu
Maluku, NTB, NTT, Malut, Sulut, Sulbar dan Gorontalo = <100 ribu
C . Adat Istiadat dan Sistem Kekerabatan
Adat istiadat
Adat istiadat adalah aturan atau norma yang dihormati dan dipatuhi oleh masyarakat secara turun temurun.
Berikut beberapa adat istiadat yang masih dijalankan oleh masyarakat Jaawa hingga sekarang.
01
Upacara Labuh Sesaji
Upacara labuh sesaji merupakan ritual rutin yang diselenggarakan pada Jumat Pon, bulan Ruwah setiap tahunnya. Upacara ini dilakukan sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa.Upacara labuh sesaji dilakukan di Telaga Sarangan. Masyarakat setempat
meyakini Telaga Sawarna sebagai pemberian Tuhan yang mendatangkan berkah bagi
manusia.
Upacara adat Temu Manten Pegon Jawa Timur adalah proses pertemuan antara pihak mempelai pengantin laki – laki dengan pihak mempelai pengantin perempuan. Tradisi ini terkenal di Kota Surabaya.Saat prosesi pertemuan pengantin dilaksanakan dengan cara diarak. Tradisi ini cukup menarik karena
perayaannya yang meriah.
02
03 Upacara Kasodo
Upacara Temu Manten Pegon
Upacara kasodo biasa dilakukan oleh
masyarakat Tengger setiap bulan purnama tiba.
Upacara ini dilakukan dengan tujuan meminta limpahan panen, tolak bala, dan permohonan kesembuhan penyakit.
05
Larung ari-ari adalah upacara tradisi menghanyutkan ari-ari bayi yang baru lahir.
Prosesi penghanyutan ari-ari dilakukan bersama kembang 7 rupa, kendil, kain
putih, dan jarum ke laut.Upacara ini biasanya diiringi tembang Macapat yaitu Dhandhang Gula. Sebagian masyarakat masih membudayakan tradisi ini hingga
sekarang.
Upacara tedhak sinten dilakukan saat anak berumur tujuh bulan. Masyarakat Jawa Timur
percaya bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib.Mereka percaya bahwa tanah sejatinya dijaga oleh Bethara Kala. Sehingga si anak
perlu dikenalkan kepada Bathara Kala si penjaga, supaya Bathara Kala tidak marah.
04. Upacara Larung Ari-ari 05. Tedhak Sinten
Koentjaraningrat mendefinisikan masyarakat adalah kesatuan hidup dari makhluk-makhluk manusia yang terikat oleh suatu sistem adat istiadat.
Menurut Herusatoto mendefinisikan masyarakat jawa adalah sebagai salah satu masyarakat yang berkembang dari zaman dahulu-sekarang dan secara turun temurun menggunakan bahasa Jawa yang beragam dialeknya serta mendiami sebagian pulau jawa. masyarakat jawa juga dikenal kental akan tradisi dan budaya nya yang masih mendominasi tradisi dan budaya
nasional indonesia, salah satu faktornya karena banyaknya tokoh negara yang berperan dalam percaturan kenegaraan sejak zaman sebelum
merdeka hingga sekarang. Masyarakat jawa memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan masyarakat di daerah lain seperti masyarakat Sunda, Madura, Batak, Minang dll.
Suyanto dalam bukunya yang berjudul Pandangan Hidup Jawa
menerangkan, bahwa karakteristik budaya Jawa adalah religious, non- doktriner, toleran, akomodatif, dan optimistic.
2. Menjaga sopan santun 1. Terkenal Pemalu, Sungkan, Tapi Suka
Menyapa
Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat Jawa tetap eksis dengan berbagai keunikannya, baik
dari karakter, segi budaya, dan kesehariannya.
3. Dikenal memiliki sifat kalem
4. Ramah
5. Lebih menghindari konflik di lingkungannya
6. Sederhana dan tidak neko-neko
7. Pekerja keras
10. Gaya dan Nada
Bicaranya Lembut
12. Memegang Erat Tradisi dan Budaya
11. Luwes
9. Gaya dan Nada Bicaranya
Lembut
8. Menerima
apa adanya
13
Suka menolong &
berkumpul
14
Mudah bergaul dan
membaur
15
Tata Bahasa Berdasarkan
pada Nilai Kesopanan
16
Kebiasaan muluk “ makan
langsung dengan tangan
Memiliki Filosofi Hidup Mengalir Seperti Air
Suka mengalah
17 18
19 20
Penurut
Mensyukuri Apapun yang Terjadi dan Mengambil Sisi Positif Meski Tertimpa Musibah
Buruk
Dari kebiasaan sifat orang Jawa diatas tidak selalu melekat pada setiap orang Jawa. namun rata2 memang memiliki karekter
tersebut. memasuki ero global kebiasaan-kebiasaan Jawa memudar dan mulai menjalankan kebiasaan modern yang lebih praktis.
Masyarakat Jawa lebih menekankan kepada ketentraman batin, keselarasan, sikap “narima” terhadap segala sesuatu yang terjadi.
Pandangan orang Jawa mengajarkan kebiasaan dan keselarasan hubungan antar individu dengan dirinya sendiri, individu dengan sesamanya, individu dengan alam, juga individu dan Tuhannya dengan benar. Masing-masing individu diharapkan juga dapat
menerapkan kaidah yang menekankan pada sikap “narima”, sabar,
“eling”, “andhap asor (rendah hati)”, dan bersahaja di manapun
tempatnya.
Sistem kekerabatan
Menurut e-book Antropologi, dalam masyarakat suku Jawa dikenal dengan sistem kekerabatan bilateral atau garis keturunan ayah dan ibu. Misalnya
menyebut orang tua laki-laki Bapak/Rama, sedangkan orang tua perempuan Simbok/Biyung.Selanjutnya, Kang Mas/Kakang adalah sebutan untuk kakak laki- laki, sedangkan kakak perempuan adalah Mbakyu. Adhi/Dhimas/Dik/Le
merupakan sebutan bagi adik laki-laki, sementara Ndhuk/Denok/Di merupakan sebutan bagi adik perempuan, dan berbagai sebutan seperti palik/bulek untuk yang lebih tua pakdhe/budhe.
Jawa merupakan sistem kekerabatan yang mengembang di selang
masyarakat Jawa. Istilah kerabat merujuk pada pertalian kekeluargaan yang mempunyai dalam sebuah masyarakat. Sistem kekerabatan orang Jawa lebih didasarkan pada sisi fungsi dalam pergaulan, pengenalan dan daya ingat
seseorang. Sistem kekerabatan Jawa tidak tergantung pada suatu sistem normatif atau sebuah konsep tertentu. Kekerabatan orang Jawa juga akan bertambah luas ketika terjadi perkawinan selang dua orang yang melangsungkan perkawinan sah menurut agama dan norma budaya. Sistem kekerabatan ini dekat kaitannya
dengan pembagian warisan. Sistem kekerabatan orang Jawa lebih bersifat
Patrilinial.Orang Jawa memiliki sistem kekerabatan yang kuat
Sistem kekerabatan berfungsi dalam hal-hal yang selaras dengan perkara rumah tangga. Sistem kekerabatan memberi kehangatan dalam sebagai
sebuah keluarga agung. Kehangatan dan kedekatan keluarga memberi jaminan saudara di hari tua.
Selain itu, sistem kekerabatan memberi patokan untuk memberikan warisan sesuai dengan alur nenek moyang.
•
Alur waris
Suatu gugusan kekerabatan yang berdasar pada satu nenek moyang.
Anggota alur
waris memiliki kewajiban untuk menjaga dan merawat makam leluhur. Noda satu kewajiban utama adalah mengadakan selametan dan upacara
norma budaya bagi leluhur yang sudah meninggal
•
Sanak sedherek
istilah untuk menyebut sistem kekeluargaan di luar hubungan darah.
Biasanya sistem ini berdasarkan pada kedekatan sosial dan pengaruh- pengaruh pergaulan sosial sehari-hari. Contohnya kedekatan geografis.
Selain itu mempunyai keluarga yang memiliki pengaruh yang mengangkat
keluarga-keluarga di sekitar mereka menjadi sanak sedherek.
kejawen bukanlah agama melainkan berupa:
seni, budaya, tradisi dll yang tidak terlepas dari spritualitas Suku Jawa. kejawen berkembang seiring dengan agama yang dianut seperti: Islam, Hindhu, Budha, dan Kristen kejawen. Saat ini kejawen dianggap kuno menurut sebagian orang tetapi masih
banyak masyarakat yang menjalankan tradisi, upacara dan ritual kejawen. Kejawen
sendiri mempunyai ajaran utama yaitu membangun tata krama dalam
berkehidupan yang baik . Mayoritas masyarakat Suku Jawa bergama
Islam, selain itu juga terdapat masyarakat penganut agama Kristen, Katolik, Hindu, dan Budha terhadap keberadaan arwah/roh
leluhur dan makhluk halus seperti lelembut, tuyul, demit, dan jin.Masyarakat Jawa juga percaya bahwa hidup ini diatur oleh alam, maka mereka bersikap nrimo (pasrah) masyarakat Jawa masih memegang teguh kepercayaan kejawen. Kewajen sendiri merupakan ajaran yang dianut oleh para filsuf Jawa dan merupakan kebudayaan dengan ajaran utama membangun tata krama atau aturan dalam berkehidupan yang lebih baik.
D. Sistem Religi Yang Dianut Suku Jawa
E. Sistem Ekonomi dan Stratifikasi Sosial Suku Jawa
A. System ekonomi
Perekonomian masyarakat Jawa utamanya berasal dari bidang pertanian.Masyarakat pedesaan banyak bekerja sebagai petani dan menggarap sawah, selain itu banyak dari masyarakat yang mengerjakan usaha sebagai perajin, seperti mencetak batu bata, membatik, mengayam, hingga menjadi tukang kayu.
Sementara itu, masyarakat suku Jawa yang tinggal di daerah pesisir umumnya bekerja sebagai nelayan, dan menjual ikan di pasar atau tempat pelelangan ikan.
Awalnya, perekonomian Jawa sangat tergantung pada sektor pertanian dan perkebunan, khususnya dari bercocok tanam di areal persawahan.
Selain itu Jawa juga terlibat aktif dalam perdagangan domestik misalnya perdagangan rempah-rempah Maluku yang sudah dirintis semenjak era Majapahit hingga era Perusahaan Hindia Timur Belanda . Perusahaan dagang tersebut mendirikan pusat administrasinya di Batavia pada abad ke-17, yang kemudian terus dikembangkan oleh pemerintah Hindia
Belanda sejak abad ke-18.
Selama masa penjajahan, Belanda
memperkenalkan budidaya berbagai tanaman komersial seperti tebu, kopi, karet, teh, kina, dan lain-lain. Jaringan transportasi jalan yang telah ada sejak zaman kuno dipertautkan dan
disempurnakan dengan dibangunnya Jalan Raya Pos Jawa oleh Daendels di awal abad ke-19.
Kebutuhan transportasi produk-produk komersial dari perkebunan di pedalaman menuju
pelabuhan di pantai, telah memacu
pembangunan jaringan kereta api di Jawa.
Saat ini, industri, bisnis dan perdagangan, juga
jasa berkembang di kota-kota besar di Jawa,
seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan
Bandung, sedangkan kota-kota kesultanan
tradisional seperti Yogyakarta, Surakarta, dan
Cirebon menjaga warisan budaya keraton dan
menjadi pusat seni, budaya dan pariwisata.
B. Stratifikasi Sosial
Dalam masyarakat jawa pada umumnya berupa pedesaan stratifikasi sosial disebabkan karena hak milik pribadi yang berhubungan dengan
penguasaan tanah. khususnya masyarakat pedesaan mengalami perubahan-perubahan struktural dalam pola penguasaan tanah.
Perubahan-perubahan tersebut melemahkan sistem kelas “horizontal” tradisional didesa, meningkatkan sistem kelas “vertikal” yang mengarah pada
pembagian golongan di desa Jawa, yaitu:
1. Kelompok penduduk desa inti (disebut baku, googol, atau pribumi), yang memiliki tanah warisan dari nenek moyangnya
2. Indung, masyarakat yang mempunyai sebidang tanah pertanian atau rumah atau halaman tetapi hak dan
kewajiban komunalnya terbatas.
3 Nusup, tlosor, atau bujang, masyarakat yang tidak memiliki tanah, bertempat tinggal dihalaman orang lain, bekerja bagi pemilik rumah yang tempat dia menumpang.
Konflik kepentingan-kepentingan dan peranan masyarakat desa untuk mencapai integrasi sosial terdesak oleh ambisi dan gengsi perorangan berdasarkan kekayaan mengakibatkan perubahan-perubahan struktur kelas baru masyarakat Jawa:
Golongan tuan tanah. terdiri dari para pemilik tanah lima sampai ratusan ha (sicl) yang disewakan
Petani kaya, para pemilik tanah (misalnya 5-10 ha) tetapi dikerjakannya sendiri, dia juga mampu menyewa buruh.
Petani sedang, memiliki tanah sampai 5 ha yang digunakan untuk kepentingan sendiri dan tidak mempekerjakan buruh tani
petani miskin, kepemilikan tanah yang sempit yang benar-benar tidak mencukupi untuk menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya.
Perbedaan stratifikasi sosial antara komunitas orang asli dan pendatang didasarkan pada status aktor, peran, dan posisinya.
Masyarakat di Jawa sangat heterogen, terbagi dalam stratifikasi sosial yang sangat kompleks. Perbedaan kelas dalam masyarakat pedesaan di Jawa didasarkan atas penguasaannya terhadap tanah.
F. Bahasa, Sistem Teknologi dan Kesenian Suku Jawa
Sistem teknologi suku Jawa Sebagai suatu kebudayaan, suku Jawa tentu memiliki peralatan dan perlengkapan hidup yang khas diantaranya yang paling menonjol adalah dalam segi bangunan. Masyarakat yang
bertempat tinggal di daerah Jawa memiliki ciri sendiri dalam bangunan mereka,khususnya rumah tinggal.
Ada beberapa jenis rumah yang dikenal oleh masyarakat sukuJawa, diantaranya adalah rumah limasan, rumah joglo, dan rumah serotong.
Rumah limasan,adalah rumah yang paling umum ditemui karena rumah ini merupakan rumahyang dihuni oleh golongan rakyat jelata. Sedangkan rumah Joglo, umumnya dimiliki sebagaitempat tinggal para kaum bangsawan, misalnya saja para kerabat keraton.
Umumnya rumah di daerah Jawa menggunakan bahan batang
bambu, glugu (batangpohon nyiur), dan kayu jati sebagai kerangka atau pondasi rumah. Sedangkan untukdindingnya, umum digunakan gedek atau anyaman dari bilik
bambu, walaupun sekarang,seiring dengan perkembangan zaman, banyak juga yang telah
menggunakan dinding daritembok.
Atap pada umumnya terbuat dari anyaman kelapa kering (blarak) dan banyak jugayang
menggunakan genting. Dalam sektor pertanian, alat-alat pertanian diantantaranya:
bajak(luku), grosok, bakul besar tenggok, garu.
Kesenian
Seni Tradisional Jawa adalah karya seni yang diciptakan dan berasal dari Pulau Jawa,
Indonesia. Beberapa contoh dari seni
tradisional jawa antara lain tari Gambyong.
Kesenian tradisional dari Jawa ada berbagai macam, tetapi secara umum dalam satu akar budaya kesenian Jawa ada 3 kelompok besar yaitu Banyumasan (Ebeg), Jawa Tengah-DIY (Ketoprak dan Srimpi), dan Jawa Timur (Ludruk dan Reog
Tari Angguk – Yogyakarta
Tari Gandrung dari Banyuwangi
Tari Remo dari Jawa Timur
Tari Sintren dari Jawa Tengah Tari Bambangan
Cakil Jawa Tengah
Tari Ebeg – Banyumas
Tari Kridhajati dari Jepara
Tari Emprak dari Jawa Tengah
Musik
Langgam Jawa merupakan bentuk adaptasi musik
keroncong ke dalam musik tradisional Jawa,
khususnya gamelan.
Tokoh-tokoh musik ini di antaranya Andjar Any,
Gesang, Ki Narto Sabdo, dan Waljinah.
Silat Jawa lainnya adalah Perisai Diri yang didirikan oleh almarhum R.M. Teknik
silat Perisai Diri mengandung unsur 156 aliran silat dari berbagai daerah di
Indonesia ditambah dengan aliran Shaolin dari negeri Tiongkok. Merpati
Putih dan silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah juga diciptakan oleh
orang Jawa.
Silat
Bahasa
Bahasa-bahasa yang dipertuturkan di Jawa ada Tiga bahasa utama yaitu: Jawa, bahasa Sunda, dan bahasa Madura. Sebagian besar besar penduduk mampu berbicara dalam bahasa Indonesia, yang umumnya merupakan bahasa kedua mereka.
Bahasa Jawa adalah salah satu bahasa komunikasi yang digunakan secara khusus di lingkungan etnis Jawa. Dengan demikian, bahasa Jawa merupakan bahasa asli masyarakat Jawa di Indonesia, khususnya di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, dan daerah di sekitarnya. Bahasa Jawa adalah bahasa ibu yang menjadi bahasa pergaulan sehari-hari
masyarakat Jawa. Bahasa Jawa juga merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang harus dilestarikan dan dijaga karena jika tidak bahasa Jawa dapat terkikis dan semakin hilang dari Pulau Jawa.
Dalam kedudukannya sebagai bahasa daerah, bahasa Jawa memiliki fungsi sebagai lambang kebanggaan daerah, lambang identitas daerah, dan alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah. Apalagi, bahasa Jawa merupakan bahasa budi yang
menyiratkan budi pekerti luhur, atau merupakan cerminan dari tata krama dan tata krama berbahasa menunjukkan budi pekerti pemakainya.
Dalam penggunaannya, bahasa Jawa memiliki aksara sendiri, yaitu aksara jawa, dialek yang berbeda dari tiap daerah, serta Unggah-ungguh basa yang berbeda. Bahasa Jawa dibagi menjadi tiga tingkatan bahasa yaitu ngoko , madya, dan krama .
Kesimpulan
Dalam kebudayaan jawa banyak sekali keaneka ragaman dalam tidak maupun maupun perilikaku
keberagamannya,dalam kebudayaan jawa memiliki keunikkan tersendiri. Setiap tradisi merupakan suatu
kebiasaan yang turun temurun dalam suatu masyarakat, tradisi menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat yang ada di berbagai belahan dunia. Hal yang paling penting mendasar dari tradisi adalah adanya informasi yang diteruskan dari generasi. Di Indonesia, banyaknya suku bangsa mempengaruhi budaya dan tradisi dalam melaksanakan upacara pernikahan. Pernikahan tradisional sampai saat ini masih sering kita jumpai di masyarakat dikarenakan orang Indonesia masih memegang adat istiadat yang bersifat turun temurun. Produk budaya yang secara umum diwariskan adalah bahasa, kesenian, dan adat istiadat. Dalam sisi adat istiadat, pernikahan adat menjadi sebuah produk budaya yang tetap dilestarikan meskipun banyak perubahan dan perbedaan dengan bentuk asalnya di tanah Jawa.
Terima kasih