LEMBAR KERJA SWAMEDIKASI
Nama Anggota Kelompok : Fathul Jannah (2211015220021) Nahdiati Ulfah (2211015120008) Ria Afi Yuniar (2211015320009) Riski Audi (2211015320019) Tony Nyo (2211015210009) Zalfa Fairuz Nabilla (2211015120001) Zulfa Nabila (2211015220020) KASUS
Seorang wanita usia 30 tahun datang ke apotek ingin menebus obat. Pasien mengeluhkan nyeri kepala sejak satu hari lalu. Nyeri kepala kadang muncul kadang hilang, nyeri bertahan kurang lebih 25 menit. Selama nyeri kepala muncul pasien mengoleskan minyak angin di kepala. Pasien mengaku memiliki riwayat maag.
Pasien meminta rekomendasi terapi untuk keluhan yang dirasakan kepada apoteker. LANGKAH 1. PENGUMPULAN DATA DAN INFORMASI
1. Apa jenis kelamin pasien?
Jawaban : Wanita 2. Berapa usia pasien?
Jawaban : 30 tahun
3. Obat yang dibeli, digunakan untuk diri sendiri atau orang lain?
Jawaban : diri sendiri
4. Apakah terdapat obat-obatan yang sedang digunakan saat ini?
Jawaban : minyak angin yang dioleskan di kepala
5. Keluhan apa yang sesungguhnya yang dimaksud pasien?
Jawaban : nyeri di bagian kepala
6. Sudah berapa lama nyeri kepala berlangsung?
Jawaban : Sejak satu hari yang lalu
7. Apakah nyeri kepala muncul pada saat-saat tertentu, misal sebelum atau sesudah haid?
Jawaban : tidak terdapat informasi
8. Apabila nyeri kepala muncul, berapa lama nyeri akan bertahan?
Jawaban : kurang lebih 25 menit 9. Apakah pasien dalam keadaan hamil?
Jawaban :tidak terdapat informasi
10. Apakah sebelumnya sudah pernah dirujuk ke dokter terkait keluhan yang dialami?
Jawaban : tidak terdapat informasi
11. Apakah pasien memiliki riwayat penyakit atau gangguan tertentu?
Jawaban : riwayat penyakit maag
12. Sudah berapa lama riwayat penyakit maag dialami?
Jawaban : tidak terdapat informasi
13. Apakah sudah mendapat pengobatan terkait riwayat penyakit maag yang dialami?
Jawaban : tidak terdapat informasi
14. Apakah terdapat gejala lain yang dialami saat ini selain nyeri kepala?
Jawaban : tidak terdapat informasi
15. Apakah ada perlakuan tertentu yang dapat memperburuk atau meringankan nyeri kepala?
Jawaban : tidak terdapat informasi
16. Apakah pasien pernah mengalami cedera bagian kepala?
Jawaban : tidak terdapat informasi
Kesimpulan : Pasien mengalami nyeri kepala ringan sejak satu hari yang lalu. Tindakan pasien yang sudah dilakukan adalah mengoleskan minyak angin di kepala. Pasien memiliki riwayat penyakit maag.
Patofisiologi :
Patofisiologi nyeri kepala terbagi menjadi tiga jenis, yaitu patofisiologi nyeri kepala migrain, nyeri kepala tipe tegang atau (TTH), dan nyeri kepala karena penggunaan obat yang berlebihan (Ashina & Geppetti, 2015).
a. Patofisiologi Nyeri Kepala Migrain
Migrain dikategorikan ke dalam sakit kepala neurovaskular. Migrain muncul karena disfungsi otak primer yang kemudian akan dilanjutkan dengan aktivasi dan sensitisasi neuron aferen primer yang akan mempersarafi meningen kranial, yaitu trigemenovaskular perifer, serta menyebabkan pelepasan neuropeptida fase aktif selanjutnya. Pelepasan neuropeptida fase aktif selama serangan nyeri kepala bisa jadi disebabkan oleh aktivasi refleks batang otak (medula oblongata), di mana aktivasi saraf trigeminal dan sinyal nosiseptif selanjutnya ke SSP akan memediasi refleks sistem saraf parasimpatis untuk melepaskan neuropeptida (Ashina & Geppetti, 2015).
b. Patofisiologi Nyeri Kepala Tipe Tegang (TTH)
(TTH) episodik, mekanisme patofisiologinya adalah sensitisasi jalur nosiseptif atau sensitisasi sentral pada SSP akibat rangsangan nosiseftif yang berkepanjangan dari jaringan myofascial perikranial (Ashina & Geppetti, 2015).
c. Patofisiologi Nyeri Kepala karena Penggunaan Obat yang Berlebihan (MOH)
Patofisiologi MOH kurang lebih sama dengan patofisiologi pada migrain yang membedakan hanya penyebabnya saja namun keduanya tetap sama-sama melibatkan mekanisme patofisiologi secara neural patofisiologinya adalah stimulasi perivaskular pada durameter menyebabkan nyeri menjalar ke kepala. Aktivasi serabut oferen trigeminal yang berakhir di durameter dapat melepaskan mediator rangsang yang disertai dengan vasadilatasi neurogenik pembuluh darah dural, pelepasan lebih lanjut mediator pronosiseptif, regranulasi sel mash dan ekstravasasi protein plasma, sehingga akan menyebabkan sensitisasi terminal perifer nosiseptor trigeminal rangkaian mekanisme ini juga dapat meningkatkan transmisi masih septik ke dalam nukleus trigeminal caudalis dan meningkatkan sensitisasi Sentral neuron tingkat kedua pada nukleus yang terletak di medula oblongata akibatnya input nosiseptif ditransmisikan ke pusat otak yang lebih tinggi termasuk talamus hipotalamus dan daerah kortikal (Ashina & Geppetti, 2015).
LANGKAH 2. PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Keputusan profesional : Keluhan pasien dapat diberikan obat melalui swamedikasi / pasien perlu dirujuk ke dokter*
*pilih salah satu
jika keputusan profesional anda adalah. Keluhan pasien dapat diberikan obat melalui swamedikasi, maka lengkapi data berikut :
DAFTAR OBAT YANG DAPAT DIBERIKAN
(sebutkan semua obat-obat yang dapat diberikan kepada pasien)
No Golongan Obat
Nama spesialite
Nama generik
Kekuatan Bentuk sediaan
Harga
1 Bebas Paraco
Paraceta mol
120 mg/5 mL
Sirup Rp 17.000 Keputusan profesional : Keluhan pasien dapat diberikan obat
melalui swamedikasi / pasien perlu dirujuk ke dokter*
*pilih salah satu
2 Bebas terbatas
Bufect Forte
Ibuprofen 200 mg/5 mL
Oral suspensi
Rp 20.500
3 Obat wajib apotek
Ponstan Asam mefenam at
500 mg Asam mefenamat
Tablet salut selaput
Rp312.524
4 Obat wajib apotek
Flamar Natrium diklofenak
25 mg Natrium diklofenak
Tablet salut enterik
Rp83.000
5 Obat wajib apotek
Galtaren 50
Natrium diklofenak
50 mg natrium diklofenak
Tablet salut enterik
Rp47.000
6 Obat bebas
Panadol
Paraseta mol
500 mg Parasetam ol
Kaplet Rp12.700 - Rp14.000
7 Obat bebas terbatas
Paramex
Paraseta mol, Propyphe nazone, Caffeine, Dexclhorp heniramin e maleate
250 mg Parasetam ol, 150 mg Propyphen azone, 50 mg
Caffeine, 1 mg
Dexclhorph eniramine maleate
Tablet Rp2.800
8 Obat bebas
Oskadon
Paraseta mol, Caffeine
500 mg Parasetam ol, 35 mg Caffeine
Tablet Rp2.200
9 Obat bebas
Poldan
mig Paraseta
mol, Acetylsali cylic acid, Caffeine
400 mg Parasetam ol, 250 mg Acetylsalicy lic acid, 65 mg
Caffeine
Kaplet Rp4.100
10 Obat bebas
Biogesic
Paraseta mol
500 mg Parasetam ol
Kaplet Rp2.300
(MIMS, 2016; Ismael et al., 2021).
PILIHAN OBAT
(tentukan pilihan obat yang akan diberikan kepada pasien) dan lengkapi identitas obat tersebut :
a. Nama Obat (generik) : Parasetamol
b. Nama spesialite obat : Panadol
c. Kekuatan : 500 mg
d. Bentuk sediaan : Kaplet
e. Aturan pakai obat : 1-2 kaplet 3-4 kali sehari, Maksimal: 8 kaplet per 24 jam
(Dewasa)
f. Lama pemberian obat : Nyeri kepala tegang umumnya dapat diatasi dalam 3-5 hari.
Jika nyeri kepala tidak membaik setelah 5 hari, segera hubungi Unit Pelayanan Kesehatan.
g. Mekanisme kerja : Parasetamol bekerja dengan cara menghambat sintesis
prostaglandin di sistem saraf pusat (SSP). Prostaglandin adalah zat yang berperan dalam menimbulkan rasa sakit dan peradangan.
h. Efek samping obat (ESO) : Kerusakan hati (penggunaan dalam jangka waktu lama dan
dosis besar), reaksi hipersensitivitas.
i. Pengatasan ESO : Hentikan penggunaan obat dan segera hubungi dokter jika
mengalami efek samping.
j. Potensi Interaksi Obat : Sebaiknya tidak digunakan bersama dengan alkohol, obat
antikoagulan, obat antikonvulsan, dan obat penginduksi enzim hati
k. Harga : Rp 14.000 per strip
Alasan Pemilihan Obat :
Pemilihan obat parasetamol dikarenakan memiliki efek analgesik dan antipiretik. Parasetamol berindikasikan sebagai terapi untuk nyeri kepala ringan hingga sedang, tidak mengiritasi lambung dibandingkan dengan analgesik lainnya, mudah didapat dan selalu tersedia di setiap apotek dengan harga yang terjangkau, serta tidak menimbulkan efek samping yang serius jika digunakan pada dosis yang sesuai.
Perhitungan Harga yang harus dibayarkan :
Lama pemberian obat x dosis per hari 3 hari x 3 kaplet = 9 kaplet Harga 1 strip Panadol sebesar Rp 14.000 (1 Strip 10 Kaplet)
Informasi obat yang diberikan pada saat penyerahan obat
Paracetamol diminum 3 kali sehari setiap 8 jam sebelum/sesudah makan. Efek samping yang mungkin terjadi yaitu mual ,muntah, insomnia. Obat ini disimpan pada suhu ruang dan tidak boleh terpapar oleh cahaya matahari secara langsung.
Terapi non farmakologi yang dapat dilakukan adalah perbanyak istirahat, minum air putih yang cukup,perbanyak makan buah dan sayur, menghindari pekerjaan yang berat, melakukan peregangan dan memijat kepala yang sakit.
Terapi nonfarmakologi untuk nyeri kepala tipe tegang meliputi konseling, pengelolaan stress, pelatihan relaksasi, dan terapi fisik (contoh kompres panas atau dingin, pijat, akupuntur).
Adapun terapi nonfarmakologi migraine adalah bertujuan untuk pencegahan.
Penatalaksanaan pencegahan dimulai dengan mengidentifikasi dan menghindari faktor yang dapat memicu migraine. Perubahan perilaku seperti terapi relaksasi merupakan tindakan pencegahan yang dapat dilakukan oleh pasien (Sari et al., 2023).
DAFTAR PUSTAKA
Ashina, M & P. Geppetti. 2015. Pathophysiology of Headaches. Springer, Switzerland.
Ismael, S., M. Almatsier, R. Setiabudy, R. Firmansyah, A. Sani & Handaya. 2021. MIMS Petunjuk Konsultasi Indonesia Edisi 21. Medidata Indonesia, Jakarta Selatan.
MIMS. 2016. Referensi Obat. Bhuana Ilmu Popular, Jakarta.
Sari, O. M., H. N. Lingga, D. A. D. Sandi, S. W. Rahmatullah, D. Intannia, D. Setiawan & A.
M. P. Putra. 2023. Buku Ajar Swamedikasi untuk Penyakit Ringan Pernapasan dan Nyeri. CV Bintang Semesta Media, Sleman.