Penelitian ini mengkaji: makna kata Buhta>n dan hubungannya dengan wanita dalam Al-Qur'an menurut M. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui makna kata Buhta>n dan hubungannya dengan wanita.
Latar Belakang Masalah
3. - Qur'an 'a>n, jld.
Fokus Kajian
Dari penjelasan singkat di atas, penulis bermaksud mengkaji lebih jauh kata buhta>n dengan judul penelitian “Makna Buhta>n dan Kaitannya dengan Wanita dalam Al-Qur'a>n (Studi Perbandingan Antara Tafsir Al-Mis ) }ba >h dan Tafsir S}afwah Al-Tafa>si>r). Penelitian komparatif ini menggunakan perbandingan antar tokoh dengan tujuan untuk mencari aspek persamaan dan perbedaan, mencari kelebihan dan kelemahan, serta mencari sintesa kreatif dari hasil analisa pemikiran kedua tokoh tersebut 12.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Definisi Istilah
Hubungan adalah suatu hubungan atau hubungan.17 Perempuan adalah orang yang dapat hamil, melahirkan dan menyusui.18 Dari definisi tersebut maka yang dimaksud dengan hubungan dengan perempuan dalam penelitian ini adalah sesuatu yang berhubungan dengan perempuan. Dari pengertian istilah-istilah di atas, maka judul tesis peneliti adalah: “Makna Buhta>n dan hubungannya dengan wanita dalam Al-Qur’an dengan membandingkan tafsir M. Quraish Shihab dengan tafsir Al-Mis} ba >h dan Muhammada Ali al-Shabuni dalam Tafsir S{afwah Al-Tafa>si>r)”.
Metode Penelitian
Jenis dan Pendekatan Penelitian a. Jenis Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Analisis Data
Sistematika Pembahasan
Bab ketiga berfokus pada biografi kedua tokoh serta pembahasan karya-karyanya, uraian tafsir Al-Mis}ba>h dan Tafsir S}afwah Al-Tafa>si>r serta latar belakang penulisan tafsir. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mis}ba>h dan Ali al-Shabuni dalam Tafsir S}afwah Al-Tafa>si>r.
Kajian Kepustakaan
22 Dina Nasicha, Makna Tabayyun Dalam Al-Qur'an (Studi Banding Tafsir al-Musayyar dan Tafsir al-Misbah), (Skripsi: UIN Walisongo: Semarang, 2016. 23 Walid Mohd Said, Kabiru Goje, dkk, Buhtan (Pencemaran Nama Baik) di Kerajaan Maya: Penyebab, Akibat dan Cara Mengatasinya Menurut Sudut Pandang Al-Qur'an dan Asas Sunnah Wahyu Seminar Tamadan IV Tingkat Internasional: Pemasyarakatan Al-Qur'an, Kemajuan Dunia Ummah, 2015).
Kajian Teori
Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa arkeologi pengetahuan merupakan penelitian metodologis terhadap pengetahuan, sejarah dan wacana. Oleh karena itu, dalam arkeologi ilmu pengetahuan, analisis wacana harus dilakukan, karena wacana merupakan objek arkeologi. Analisis wacana merupakan suatu metode yang dapat digunakan untuk mempelajari bagaimana pernyataan-pernyataan yang ditransmisikan dapat dipelajari dan dipahami kaitannya dengan kekuasaan dan pengetahuan, atau yang disebut dengan alat Knowledge Archaeology.29.
Instrumen pertama dalam arkeologi pengetahuan adalah kekuasaan. Posisi dalam analisis wacana ini sangat diperlukan karena menentukan dan mengkonstruksi keberadaan realitas yang diciptakan secara subyektif, demi kepentingan dan tujuan kekuasaan yang mendominasi. Alat kedua dalam arkeologi pengetahuan adalah pengetahuan; ini juga merupakan hal penting dalam analisis wacana.
M. Quraish Shihab
- Biografi dan Sejarah Intelektual
- Karya-karya M. Quraish Shihab
- Deskripsi Tafsi>r al-Mis}ba>h
- Latar Belakang Penulisan
37Quraish Shihab, Landasan Al-Qur'an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1994), 6. Sebagai Guru Besar Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Ahli Tafsir Al-Qur'an 'an, Quraish Shihab banyak menghasilkan karya ilmiah. Tafsir al-Qur'an al-Karim : Tafsir Surat Pendek berdasarkan Urutan Wahyu.
40Nifkhatuzzahroh, Makna al-afw dan as}-Ṣafh dalam al-Qur'an (kajian tafsir M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah), (Skripsi, UIN Walisongo: Semarang, 2015), 75 Persiapan Misbah Tafsir al-Quraish Shihab disebabkan oleh beberapa faktor.46 Faktor pertama adalah memudahkan umat Islam memahami isi Al-Qur'an dengan menjelaskan maksud surat atau tema pokok surat sesuai dengan yang dikehendaki. dengan .
Muhammad Ali Al-Shabuni
Karya-karyanya
Ali al-Shabuni mempunyai ilmu yang sangat luas, mengabdikan dirinya pada ilmu tafsir dan menghabiskan waktunya mempelajari dan berdiskusi Al-Qur'an, sehingga tidak mengherankan jika ia menulis dan menghasilkan banyak karya. Al-Mawarits fi al-Syari'ah al-Islamiyah 'ala Dhui al-Kitab wa al-Sunnah.
Deskripsi Tafsir S}afwah al-Tafa>si>r
Pandangan-pandangan yang dikumpulkannya terutama bersumber dari tafsir al-Tabari, al-Kasyaf, al-Qurtubi, al-Alusi, Ibnu Kasir, al-Baidawi dan al-Bahr al-Muhit di samping banyak kitab tafsir lainnya. Kitab tafsir ini disusun dengan struktur kebahasaan yang sederhana namun tetap ilmiah, alur pembahasan yang runtut, dan kaya akan aspek gramatika dan sastra, dengan tetap mengacu pada pola tafsir al-Shabuni yang memperhatikan sepuluh hal sebagaimana digunakan dalam Tafsir. contoh ayat al-Ahakm. Dalam menciptakan suatu karya tulis atau sejenisnya, termasuk kitab tafsir, tidak dapat dipungkiri bahwa aspek sosial budaya yang melingkupinya juga menjadi latar belakang keberadaan karya tersebut.
Di antara alasan yang mendorongnya untuk menyusun kitab tafsirnya adalah banyaknya kitab tafsir dan ulumul Qur'an serta kitab-kitab hebat yang ditulis oleh para ulama, yang tentunya sangat bermanfaat dalam membantu manusia untuk memahami Al-Qur'an dengan benar dan benar. menekankan Al-Qur'an sebagai mukjizat yang abadi dengan ilmu dan pengetahuan yang berbeda-beda. Namun karena kondisinya yang tidak memungkinkan untuk membaca dan mempelajari kitab-kitab tafsir yang besar, maka diperlukan karya tafsir yang komprehensif dengan tafsir yang mudah, jelas, sederhana dan tidak berbelit-belit agar mampu ‘mendorong manusia untuk selalu beramal shaleh. diridhai Allah.65. Penilaian senada juga diungkapkan Abdullah Umar Nasif yang mengacungkan jempol dan mengatakan bahwa al-Shabuni berhasil dalam jati diri, ilmu dan keahliannya di bidang tafsir. Islam secara ringkas mudah dipahami sehingga dapat dipahami oleh orang yang mencari pemahaman. Al-Qur'an, serta mampu memberikan kontribusi kepada para ulama dan pencari ilmu dalam menemukan titik temu dalam pembacaan Al-Qur'an.67.
Tafsir al-Mis}ba>h
Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan wanita lain, padahal kamu telah memberikan salah satu di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali apa pun darinya. Quraish Shihab menjelaskan, jika seorang laki-laki berencana menceraikan istrinya karena tidak lagi mencintainya dan berencana menikah lagi dengan wanita yang dicintainya, maka kata qint}a>r dalam ayat ini berarti harta dalam bentuk mahar dalam jumlah besar tidak bisa. diambil kembali, meskipun dalam jumlah kecil. Kata (اراطنق) qint}a>ran diterjemahkan sebagai timbunan harta, karena sebelumnya kata qint}a>r digunakan untuk menunjukkan harta yang dikumpulkan dalam kulit sapi yang disamak.
Selanjutnya, kata tersebut diyakini memiliki arti kekayaan yang banyak.69 Ayat tersebut tidak menjelaskan batasan maksimal sebuah topeng. Dalam ayat ini kata (ناتهب) buhta>n/ diartikan sebagai tuduhan berbohong, berasal dari kata (تهب) bahata yang artinya mengejutkan.
Tafsir S{afwah al-Tafa>si>r
Relasi Buhta>n dengan Kaum Perempuan
Seperti pada ayat sebelumnya, Quraish Shihab terlebih dahulu menjelaskan munasabah ayat sebelumnya yaitu orang-orang kafir yang menyekutukan Allah dan mengingkari perjanjian dengan Nabi Musa. Ayat ini berkaitan dengan ayat berikutnya yang menjelaskan tentang kesombongan umat Nasrani yang mengatakan telah membunuh Nabi Isa bin Maryam. Sedangkan ayat ini menjelaskan tentang apa yang harus dilakukan setelah diketahui bahwa mereka beriman.
Tidak akan mentaati Nabi Muhammad dalam perkara kebaikan87 Kalimat ( ّنهلجراو ّنهیدیأ نیب هنیرتفی) yaftari>nahu> baina aidi>hinna waarjulihinna dengan membuat antara tangan dan kaki mereka. Menurut Ali al-Shabuni, yang dimaksudkan dengan "tidak akan melakukan kebohongan yang mereka ada di antara tangan dan kaki mereka," adalah jika mereka mengambil anak angkat dan kemudian menisbahkan kepada lelaki itu bahawa anak itu adalah anak kandungnya.
Relasi Buhta>n dan Kaum Perempuan
Ali al-Shabuni dalam diskusi ini mengambil pendapat beberapa ulama, antara lain Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa “janganlah kamu mempersatukan anak yang bukan miliknya dengan suamimu” dan Imam Farra’ yang mengatakan “wanita yang mengangkat anak itu, lalu menceritakan laki-laki itu, ini anakku milikmu, maka keterasingan anak angkat itu tetap pada hakekatnya pada ibu kandungnya, sekalipun ia dilahirkan di antara tangan dan kaki ibu kandungnya”91. Penggunaan kata buhta>n disini karena wanita muslim diperintahkan untuk menerima pertunangan sebagai komitmen untuk tidak melakukan apa pun yang mereka lakukan sebelumnya, misalnya: 92. Jangan berbohong kepada orang dengan berita bohong yang berbeda dari apa yang Anda lakukan' Anda tidak begitu tahu tentang mereka, sehingga mereka menjadi korban tindakan Anda.
Dalam situasi lain, semasa Jahiliah, wanita mengumpulkan anak-anak daripada berbilang lelaki dan kemudian memberitahu pasangan mereka. Atas dasar ini, Rasulullah mengambil janji daripada wanita yang beriman untuk tidak berdusta di antara tangan dan kaki mereka.
Ayat-ayat Makiyah dan Madaniyyah
Perbedaan penafsiran keduanya dalam penafsiran buhta>n disebabkan oleh beberapa faktor yaitu perbedaan latar belakang, perbedaan daerah tempat tinggal, seperti Kuriash Shihab ketika menafsirkan ayat tersebut dalam kaitannya dengan konteks Indonesia. Selain itu, perbedaan penafsiran terjadi dari sumber pemikiran yang berbeda, seperti ketika menafsirkan buhtan dalam konteks adopsi pemikiran Ibnu Quraisy Shihab.
Analisis Arkeologi
Demikian penjelasan Quraish Shihab yang mengartikan tuduhan kebohongan sebagai perilaku keji dan tidak masuk akal karena kebohongan tersebut membuat orang yang dituduh dan yang mendengarkannya menjadi bingung. Demikian pendapat al-Shabuni tentang buhta>n yang diartikan mengada-ada, yaitu menyampaikan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Dari pandangan ini, al-Shabuni memaknai buhta>n dalam konteks pengangkatan anak sebagai kebohongan atau menyatakan sesuatu yang tidak benar.
Kata buhta>n merupakan bentuk masdar dari bahata, yahbutu, bahtan dan buhta>n yang artinya bohong atau tidak benar.99 Pembahasan kata buhta>n disini bukan berarti fitnah, yang dimaksud dengan buhta>n adalah kata palsu. tuduhan terhadap seseorang. Untuk menemukan kebenaran yang disampaikan dalam diskusi ini terlihat dari pihak-pihak yang menyampaikan pernyataan-pernyataan yang menentang Maryam dan Yesus yang beragama Nasrani.
PENUTUP
Kesimpulan
Dalam konteks pengambilan mahar, buhtan>n diartikan berbohong, karena seringkali suami mengambil mahar dengan cara yang salah dan tidak adil atau dengan berbohong. Dalam konteks perzinahan, kata buhtan>n diartikan sebagai tuduhan palsu atau dibuat-buat yang bertujuan untuk menjatuhkan Nabi. Dalam konteks pengangkatan anak, kata buhta>n berarti berbohong tentang kehamilan perempuan agar anak tersebut dapat diatribusikan kepada suaminya.
Quraish Shihab menafsirkan kata buhta>n dengan pendapat Ibnu ‘Asyur yang dalam penjelasannya lebih banyak memberikan kelonggaran dan memberikan solusi terhadap setiap permasalahan. Ali al-Shabuni dalam menafsirkannya mengambil pendapat Ibnu Abbas yang cenderung fokus pada apa yang diperintahkan dalam ayat tersebut.
Saran
Pengertian Tabayyun dalam Al-Quran (Kajian Perbandingan antara Tafsir al-Musayyar dan Tafsir al-Misbah). 2015, Pengertian al-‘afw dan as}-S{afh dalam al-Quran (Kajian tafsir M. Quriash Shihab dalam tafsir al-Misbah).