UAS PEMERINTAHAN NASIONAL
Dosen Pengampu : Moh Rizky Gojali S.IP, M.I.P
Nama : M Wafikurrikzy N Nim : 6670230015
Kelas : 2B
1) a. agile governance adalah sebuah konsep yang mendorong organisasi untuk merespons dengan cepat perubahan tak terduga untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang selalu berubah. Konsep tersebut berfokus pada penyederhanaan birokrasi, kecepatan dan kemudahan, serta pemikiran out-of-the box dan pencapaian tata kelola yang dinamis. Agile governance juga diartikan sebagai kemampuan suatu organisasi untuk merespon dengan cepat terhadap perubahan yang tidak terduga guna memenuhi perubahan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Agile
governance digunakan di berbagai sektor, termasuk pemerintah daerah. Misalnya, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi yang menerapkan agile governance dengan mengintegrasikan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Mereka juga telah mengembangkan aplikasi online untuk memfasilitasi pengaduan
masyarakat. Untuk menerapkan manajemen Agile, organisasi harus
memiliki sumber daya manusia yang kompeten serta program kerja yang
efektif agar dapat dengan cepat mencapai hasil yang optimal. Konsep ini juga memerlukan budaya birokrasi yang sigap, tangkas dan cerdas.
b. Konsep "Reinventing Government" mengacu pada upaya untuk mengubah dan memodernisasi cara pemerintah berfungsi dan memberikan layanan kepada masyarakat. Ini dapat dilihat dalam praktik pemerintahan saat meningkatkan efisiensi, efektifitas, dan kualitas layanan publik. PDAM Giri Tirta Kabupaten Gresik, misalnya, telah menerapkan Agile Governance untuk meningkatkan kualitas pelayanan air bersih dan memudahkan pengaduan masyarakat. Dengan menerapkan konsep "Reinventing Government", pemerintah berusaha untuk menjadi lebih efisien, efisien, transparan, dan inovatif dalam menyediakan layanan kepada masyarakat serta mengelola sumber daya publik. Implementasi Agile Governance ini telah meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan mendorong pembangunan masyarakat.
2) a. Di Indonesia, terdapat beberapa lembaga atau komisi negara non-struktural yang memiliki fungsi khusus dan biasanya dibentuk berdasarkan undang-undang atau keputusan presiden untuk menangani isu-isu tertentu.
1. Lembaga/Komisi Independen Pengawas
Lembaga ini bertugas mengawasi dan memastikan penyelenggaraan pemerintahan dan kebijakan publik berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi dan keadilan.
Contoh: Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK): Bertugas melakukan pencegahan dan penindakan terhadap tindak pidana korupsi di Indonesia.
2. Lembaga/Komisi Penyelenggara Pemilu
Lembaga ini bertanggung jawab atas penyelenggaraan pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah.
Contoh: Komisi Pemilihan Umum (KPU): Bertugas menyelenggarakan pemilihan umum di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota.
3. Lembaga/Komisi Penyiaran
Lembaga ini bertugas mengatur dan mengawasi penyiaran di Indonesia.
Contoh: Komisi Penyiaran Indonesia (KPI): Bertugas mengawasi dan mengatur program siaran televisi dan r radio agar sesuai dengan nilai-nilai sosial, agama, dan kesusilaan.
4. Lembaga/Komisi Perlindungan dan Pengawasan Ketenagakerjaan
Lembaga ini bertugas mengawasi dan melindungi hak-hak tenaga kerja di Indonesia.
Contoh: Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU): Bertugas mengawasi dan menegakkan hukum terhadap praktik monopoli, persaingan usaha tidak sehat, dan kartel di Indonesia.
5. Lembaga/Komisi Advokasi dan Perlindungan Khusus
Lembaga ini dibentuk untuk advokasi dan perlindungan kelompok-kelompok khusus dalam masyarakat.
Contoh: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI): Bertugas melindungi hak-hak anak dan memberikan rekomendasi terkait kebijakan publik yang berdampak pada anak.
b. Rasionalitas:
Pembentukan lembaga/komisi negara non pemerintahan di Indonesia didasari oleh beberapa alasan, yaitu:
-Memperkuat demokrasi: Lembaga/komisi ini membantu menjalankan tugas dan fungsi demokrasi, seperti pengawasan, regulasi, dan penyelesaian sengketa.
-Meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemerintahan: Lembaga/komisi ini dapat membantu pemerintah dalam melaksanakan tugasnya dengan lebih efisien dan efektif.
-Mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat: Lembaga/komisi ini dapat membantu melindungi hak-hak rakyat dan memastikan keadilan dan kesejahteraan rakyat.
Landasan Regulasi:
Pembentukan lembaga/komisi negara non pemerintahan di Indonesia diatur dalam berbagai peraturan perundang- undangan, antara lain:
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945: Pasal 24 ayat (2) menyebutkan bahwa
"Kedudukan, tugas, dan wewenang lembaga negara lainnya yang ditetapkan dengan undang-undang diatur dalam undang-undang."
- Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 tentang Badan Ketahanan Pangan: Menetapkan pembentukan Badan Ketahanan Pangan Nasional sebagai lembaga non struktural yang bertugas melaksanakan koordinasi dan sinkronisasi penyelenggaraan ketahanan pangan.
- Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah: Menetapkan pembentukan Komisi Pemilihan Umum Daerah dan Badan Pengawas Pemilu Daerah sebagai lembaga non struktural yang bertugas menyelenggarakan pemilihan umum daerah dan pengawasan penyelenggaraan pemilihan umum daerah.
c. Untuk menjelaskan posisi lembaga atau komisi negara non-pemerintahan dalam struktur ketatanegaraan Indonesia serta langkah-langkah strategis untuk membangun harmonisasi dan menghindari tumpang-tindih peran antara keduanya.
Posisi dalam Struktur Ketatanegaraan
1. *Kekuasaan dan Kemandirian*: Lembaga atau komisi negara non-pemerintahan biasanya memiliki kemandirian dari cabang eksekutif pemerintah dan terkadang juga dari cabang legislatif. Mereka dapat memiliki wewenang investigatif, pengawasan, atau kebijakan tertentu yang diberikan oleh undang-undang atau konstitusi.
2. *Pengawasan dan Pemerintahan*: Lembaga seperti KPK, Komisi Yudisial, atau Komnas HAM memegang peran penting dalam mengawasi pemerintah dan lembaga-lembaga publik lainnya. Mereka berfungsi untuk memastikan bahwa pemerintah menjalankan tugasnya dengan integritas, transparansi, dan keadilan.
3. *Perlindungan dan Pengawasan Hak*: Komisi seperti Komnas HAM bertugas melindungi dan mengawasi pelaksanaan hak asasi manusia di Indonesia, sementara lembaga seperti KPU dan Bawaslu bertanggung jawab atas penyelenggaraan pemilihan umum dan pemilihan kepala daerah yang adil dan transparan.
Langkah Strategis untuk Membangun Harmonisasi dan Menghindari Tumpang Tindih Peran
1. Memperjelas mandat dan tugas masing-masing lembaga/komisi: Hal ini dapat dilakukan melalui revisi undang- undang yang mengatur pembentukan dan tugas masing-masing lembaga/komisi.
2. Meningkatkan koordinasi dan komunikasi antar lembaga/komisi: Hal ini dapat dilakukan melalui pembentukan forum atau mekanisme komunikasi antar lembaga/komisi.
3. Membangun budaya kerja yang saling menghormati dan menghargai: Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan dan pengembangan kapasitas bagi anggota dan staf lembaga/komisi.
3) a. Menurut Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 dan peraturan perundang-undangan lainnya, penyelenggaraan pemerintahan daerah, juga dikenal sebagai otonomi daerah, adalah konsep yang memberikan kewenangan kepada daerah atau wilayah untuk mengatur dan mengelola urusan pemerintahan serta kepentingan masyarakat setempat. Ini adalah klasifikasi konsep dasar tentang penyelenggaraan pemerintahan daerah dan faktor-faktor yang mendorong otonomi daerah:
Klasifikasi Konsep Dasar Pemerintahan Daerah/Otonomi Daerah:
1. Desentralisasi: Desentralisasi adalah delegasi wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengelola urusan pemerintahan tertentu. Ini mencakup transfer keputusan politik, administrasi, dan keuangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah.
2. Dekonsentrasi: Dekonsentrasi adalah pengalihan wewenang dari pemerintah pusat kepada instansi vertikal di bawahnya, seperti instansi vertikal di bawah pemerintah provinsi atau kabupaten/kota. Tujuan dekonsentrasi adalah untuk mempercepat pengambilan keputusan dan pelayanan publik di tingkat yang lebih dekat dengan masyarakat.
3. Partisipasi Masyarakat: Partisipasi masyarakat adalah keterlibatan aktif masyarakat dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan program pembangunan di daerah. Ini mencakup berbagai bentuk partisipasi, mulai dari pengambilan keputusan bersama hingga pengawasan terhadap pengelolaan sumber daya dan layanan publik.
Faktor-Faktor Pendorong Terciptanya Otonomi Daerah
Beberapa faktor yang mendorong terciptanya otonomi daerah di Indonesia, antara lain:
1. Perkembangan demokrasi: Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang hak dan kewajibannya dalam pemerintahan mendorong tuntutan akan desentralisasi dan otonomi daerah.
2. Keberagaman daerah: Indonesia memiliki banyak daerah dengan kondisi dan kebutuhan yang berbeda-beda.
Otonomi daerah diharapkan dapat memberikan solusi yang lebih tepat dan sesuai dengan kondisi masing-masing daerah.
3. Keinginan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemerintahan: Diharapkan otonomi daerah dapat membuat pemerintah daerah lebih efisien dan efektif dalam melaksanakan tugasnya.
4. Keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat: Diharapkan otonomi daerah dapat memberikan ruang yang lebih luas bagi daerah untuk mengembangkan potensi dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya.
b. 1. Pemerintahan Absolut: Pemerintahan absolut adalah sistem di mana kekuasaan tertinggi berada pada satu entitas tunggal atau pihak, yang biasanya adalah seorang penguasa atau monarki. Di bawah pemerintahan absolut, keputusan pemerintah tidak dapat ditantang atau dikritik secara terbuka oleh lembaga atau individu lain. Penguasa memiliki otoritas mutlak dalam membuat kebijakan dan mengambil keputusan tanpa harus mempertimbangkan pandangan atau persetujuan dari lembaga lain atau rakyat.
Contoh penerapannya di Indonesia: Meskipun Indonesia saat ini adalah negara demokratis, namun ada periode sejarah dimana kekuasaan absolut terjadi, seperti pada masa pemerintahan kolonial Belanda sebelum kemerdekaan. Pada masa itu, gubernur-jenderal Belanda memiliki kekuasaan mutlak untuk mengeluarkan kebijakan tanpa membutuhkan persetujuan atau konsultasi dengan pihak lain, termasuk penduduk pribumi.
2. Pemerintahan Konkuren: Pemerintahan konkuren adalah sistem di mana kekuasaan pemerintah dibatasi oleh prinsip pemisahan kekuasaan (checks and balances) dan sistem pengawasan internal. Dalam pemerintahan konkuren, keputusan pemerintah dapat diperiksa, dibatasi, atau dibantah oleh lembaga lain seperti legislatif atau yudikatif. Hal ini bertujuan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan serta memastikan transparansi dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan.
Contoh penerapannya di Indonesia: Di Indonesia, sistem pemerintahan konkuren tercermin dalam hubungan antara presiden, DPR (Dewan Perwakilan Rakyat), dan lembaga-lembaga penegak hukum seperti Mahkamah Konstitusi. Misalnya, dalam pembuatan undang-undang, DPR memiliki peran penting dalam menetapkan dan mengawasi implementasi kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Mahkamah Konstitusi juga memiliki wewenang untuk menguji keabsahan undang-undang yang telah disahkan oleh DPR, sehingga menegakkan prinsip pemerintahan hukum.
c. Daerah Istimewa dan Daerah Otonomi Khusus di Indonesia adalah wilayah administratif yang memiliki kewenangan khusus dan istimewa dalam mengatur urusan pemerintahannya sendiri. Berikut adalah penjelasan dan contoh penerapannya:
- Daerah Istimewa
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY): DIY memiliki keistimewaan dalam pemilihan jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur yang diusulkan oleh Kasultanan dan Kadipaten.
Daerah Istimewa Aceh: Aceh memiliki keistimewaan dalam penyelenggaraan pemerintahan dan kabupaten/kota berpedoman pada asas agama Islam.
- Daerah Otonomi Khusus
Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta: DKI Jakarta memiliki kekhususan tugas, hak, kewajiban, dan tanggung jawab tertentu dalam penyelenggaraan pemerintah.
Daerah Otonomi Khusus Papua dan Papua Barat: Papua dan Papua Barat memiliki otonomi khusus untuk percepatan pembangunan dan demi kesejahteraan masyarakat Papua.