• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

PEDOMAN

TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK

PT. BRI Multifinance Indonesia

Dibuat: Desember 2012 Revisi ke 1: Oktober 2015

Revisi ke 2: Januari 2016 Revisi ke 3: Januari 2017 Revisi ke 4: Agustus 2017

Revisi ke 5: Juni 2020

(2)

DAFTAR ISI

BAB 1. KETENTUAN UMUM ... 4

BAB 2. TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK ... 7

2.1. Pendahuluan ... 7

2.2. Landasan Hukum ... 7

2.3. Prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik ... 7

2.4. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik ... 9

BAB 3. VISI, MISI, DAN NILAI ... 10

3.1. Visi… ... 10

3.2. Misi… ... 10

3.3. Nilai…... 10

3.4. Tagline ... 11

BAB 4. KODE ETIK ... 12

4.1. Tujuan ... 12

4.2. Komitmen ... 12

4.3. Landasan ... 12

4.4. Elemen ... 12

BAB 5. ORGAN PERUSAHAAN ... 19

5.1. Hubungan Antar Organ ... 19

5.2. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) ... 19

5.3. Pemegang Saham ... 20

5.4. Dewan Komisaris ... 21

5.5. Direksi ... 24

5.6. Keterbukaan / Transparansi ... 28

5.7. Remunerasi ... 28

BAB 6. KOMITE AUDIT ... 29

6.1. Struktur dan Keanggotaan... 29

6.2. Tugas dan Tanggungjawab ... 29

6.3. Rapat ... 29

BAB 7. KOMITE PEMANTAU RISIKO ... 30

7.1. Struktur dan Keangotaan... 30

7.2. Tugas dan Tanggung Jawab ... 30

7.3. Rapat ... 30

BAB 8. KOMITE REMUNERASI DAN NOMINASI ... 31

8.1. Struktur dan Keanggotaan... 31

8.2. Tugas dan Tanggung jawab ... 31

8.3. Rapat ... 31

BAB 9. FUNGSI KEPATUHAN, AUDIT INTERN, DAN AUDIT EKSTERNAL ... 32

9.1. Fungsi Kepatuhan ... 32

9.2. Fungsi Audit Internal ... 32

9.3. Fungsi Audit Eksternal ... 33

BAB 10. MANAJEMEN RISIKO DAN PENGENDALIAN INTERNAL ... 34

10.1. Manajemen Risiko ... 34

10.2. Pengendalian Internal ... 36

BAB 11. TATA KELOLA PEMBIAYAAN ... 37

11.1. Kegiatan Usaha ... 37

11.2. Sistem Informasi dan Teknologi ... 37

11.3. Uang Muka Pembiayaan Kendaraan Bermotor ... 42

11.4. Batas Maksimum Pemberian Pembiayaan ... 44

11.5. Mitigasi Risiko Pembiayaan ... 46

11.6. Transparansi Kegiatan Usaha... 47

(3)

11.7. Pemeliharaan dan Pengembalian Bukti Kepemilikan Atas Agunan ... 49

11.8. Penagihan ... 49

11.9. Pengendalian Fraud dan Strategi Anti Fraud ... 50

11.10. Sertifikasi dan Syarat Berkelanjutan ... 54

11.11. Penyertaan ... 54

11.12. Pendanaan ... 55

11.13. Larangan ... 58

11.14. Rasio Piutang Pembiayaan ... 58

11.15. Ekuitas ... 59

11.16. Tingkat Kesehatan Keuangan ... 59

11.17. Rencana Bisnis ... 61

11.18. Sumber Daya Manusia ... 63

11.19. Keterbukaan Informasi ... 63

11.20. Laporan ... 64

BAB 12. TATA KELOLA TERINTEGRASI KONGLOMERASI KEUANGAN ... 64

12.1. Struktur ... 65

12.2. Tujuan ... 65

12.3. Struktur Komite ... 65

12.4. Direksi, Dewan Komisaris, dan Dewan Pengawas Syariah LJK Konglomerasi Keuangan BRI ... 66

12.5. Satuan Kerja Kepatuhan Terintegrasi dan Satuan Kerja Audit Internal Terintegrasi ... 67

12.6. Pelaksanaan Fungsi Kepatuhan, Fungsi Audit Internal dan Pelaksanaan Audit Eksternal LJK Konglomerasi Keuangan BRI ... 68

12.7. Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi Dalam Konglomerasi Keuangan BRI ... 69

12.8. Pelaksanaan Fungsi Manajemen Risiko LJK Konglomerasi Keuangan BRI ... 69

12.9. Pelaporan ... 71

LAMPIRAN ... 74

(4)

BAB 1. KETENTUAN UMUM

Yang dimaksud dengan:

1. Perusahaan adalah PT. BRI Multifinance Indonesia yang selanjutnya disebut BRI Finance (“BRIF”) yang merupakan perusahaan pembiayaan.

2. Perusahaan Pembiayaan adalah badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan barang dan/atau jasa.

3. Tata Kelola Perusahaan Yang Baik atau Good Corporate Governance (GCG) adalah struktur dan proses yang digunakan dan diterapkan organ Perusahaan untuk meningkatkan pencapaian sasaran hasil usaha dan mengoptimalkan nilai Perusahaan bagi seluruh pemangku kepentingan secara akuntabel dan berlandaskan peraturan perundang-undangan serta nilai-nilai etika.

4. Organ Perusahaan adalah rapat umum pemegang saham, direksi, dan dewan komisaris bagi Perusahaan yang berbentuk badan hukum perseroan terbatas atau rapat anggota, pengurus, dan pengawas bagi Perusahaan yang berbentuk badan hukum koperasi.

5. Pemangku Kepentingan (Stakeholders) adalah pihak yang memiliki kepentingannya terhadap Perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung, antara lain debitur, anggota/pemegang saham, karyawan, kreditur, penyedia barang dan jasa, dan/atau pemerintah.

6. Debitur bagi Perusahaan Pembiayaan adalah debitur baik badan usaha atau orang perseorangan yang menerima pembiayaan barang dan/atau jasa dari Perusahaan Pembiayaan.

7. Rapat Umum Pemegang Saham yang selanjutnya disingkat RUPS adalah rapat umum pemegang saham sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai perseroan terbatas bagi Perusahaan yang berbentuk badan hukum perseroan terbatas atau yang setara dengan RUPS bagi Perusahaan yang berbentuk badan hukum koperasi.

8. Direksi bagi Perusahaan berbentuk badan hukum perseroan terbatas adalah direksi sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai perseroan terbatas.

9. Dewan Komisaris bagi Perusahaan berbentuk badan hukum perseroan terbatas adalah dewan komisaris sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai perseroan terbatas.

10. Komisaris Independen adalah anggota Dewan Komisaris yang tidak terafiliasi dengan pemegang saham, anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris lainnya, yaitu tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan pemegang saham, anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris lainnya atau hubungan lain yang dapat memengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.

11. Afiliasi adalah

a. hubungan keluarga karena perkawinan atau keturunan sampai derajat kedua, baik secara horizontal maupun vertikal dengan pegawai, anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris, dan/atau pemegang saham Perusahaan;

b. hubungan dengan Perusahaan karena adanya kesamaan satu atau lebih anggota Direksi atau Dewan Komisaris;

c. hubungan pengendalian dengan Perusahaan baik langsung maupun tidak langsung;

d. hubungan kepemilikan saham dalam Perusahaan sebesar 20% (dua puluh persen) atau lebih;

dan/atau

(5)

e. hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang dikendalikan, baik langsung maupun tidak langsung, oleh pihak yang sama.

12. Benturan Kepentingan adalah keadaan dimana terdapat konflik antara kepentingan ekonomis Perusahaan dan kepentingan ekonomis pribadi pemegang saham, anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris dan pegawai Perusahaan.

13. Entitas Utama adalah Lembaga Jasa Keuangan (LJK) induk dari konglomerasi keuangan atau LJK yang ditunjuk oleh pemegang saham pengendali konglomerasi keuangan, dalam hal ini adalah PT. Bank Rakyat Indonesia (Pesero), Tbk yang selanjutnya disebut BRI.

14. Lembaga Jasa Keuangan (LJK) adalah lembaga yang melaksanakan kegiatan di sektor perbankan, pasar modal, perasuransian, dana pensiun, lembaga pembiayaan, dan lembaga jasa keuangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

15. Konglomerasi Keuangan adalah LJK yang berada dalam satu grup atau kelompok karena keterkaitan kepemilikan dan/atau pengendalian.

16. Konglomerasi Keuangan BRI adalah LJK yang berada dalam satu grup atau kelompok usaha BRI karena keterkaitan kepemilikan dan/atau pengendalian oleh BRI.

17. LJK Konglomerasi Keuangan BRI adalah LJK yang termasuk dalam konglomerasi keuangan BRI.

18. Manajemen Risiko adalah serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha Perusahaan.

19. Pengendalian adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk mempengaruhi pengelolaan dan/atau kebijakan perusahaan dengan cara apapun, baik secara langsung maupun tidak langsung.

20. Manajemen Risiko Terintegrasi adalah serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha LJK yang tergabung dalam suatu konglomerasi keuangan secara terintegrasi.

21. Perusahaan Terelasi adalah beberapa LJK yang terpisah secara kelembagaan dan/atau secara hukum namun dimiliki dan/atau dikendalikan oleh pemegang saham pengendali yang sama.

22. Tata Kelola adalah suatu tata kelola dalam LJK yang menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responbility), independensi (independency), profesional (professional), dan kewajaran (fairness).

23. Tata Kelola Terintegrasi adalah suatu tata kelola yang menerapkan prinsip-prinsip keterbukaan (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility), independensi (independency), atau profesional (professional), dan kewajaran (fairness) secara terintegrasi dalam konglomerasi keuangan.

24. Insan Perusahaan terdiri dari anggota dewan komisaris, anggota komite di bawah dewan komisaris, anggota direksi, anggota komite di bawah direksi, pegawai tetap, pegawai kontrak serta tenaga outsourcing, berdasarkan ketentuan yang berlaku di Perusahaan.

25. Keluarga mencakup hubungan kekerabatan baik kandung maupun tiri sampai dengan derajat kedua baik hubungan secara vertikal maupun horizontal meliputi:

Orangtua kandung/tiri/angkat;

Saudara kandung/tiri/angkat berserta suami atau istrinya;

(6)

Anak kandung/tiri/angkat;

Kakek/nenek kandung/tiri/angkat;

Cucu kandung/tiri/angkat;

Saudara kandung/tiri/angkat dari orangtua beserta suami atau istrinya;

Suami/istri;

Mertua;

Besan;

Suami/istri dari anak kandung/tiri/angkat;

Kakek/nenek dari suami atau istri;

Suami/istri dari cucu kandung/tiri/angkat;

Saudara kandung/tiri/angkat dari suami atau istri beserta suami atau istrinya.

26. Kode Etik Perusahaan adalah pedoman yang menjelaskan etika usaha dan tata perilaku insan Perusahaan untuk melaksanakan praktek-praktek pengelolaan perusahaan yang baik.

27. Pegawai adalah tenaga kerja yang mempunyai hubungan kerja dengan Perusahaan dan terikat oleh suatu perjanjian kerja serta menerima upah di dalam hubungan kerja dengan Perusahaan selain anggota dewan komisaris dan direksi Perusahaan.

28. Pelanggaran adalah sikap, tindakan atau perbuatan yang menyimpang dari kode etik Perusahaan.

29. Rekanan, Relasi, atau Mitra Kerja adalah setiap pihak ketiga yang menjadi rekan kerja Perusahaan.

30. Unit Kerja adalah kumpulan fungsi dalam organisasi BRI Finance yang saling bersinergi berdasarkan kriteria tertentu untuk mencapai tujuan yang ditetapkan, yang dapat berupa divisi, audit intern, grup, bagian, kantor cabang, kantor pemasaran atau bentuk lainnya yang sesuai dengan budaya Perusahaan dalam mencapai visi dan misinya.

31. Whistleblowing System adalah sistem yang mengelola pengaduan/penyingkapan mengenai perilaku melawan hukum, perbuatan tidak etis/tidak semestinya secara rahasia, anonim dan mandiri (independent) yang digunakan untuk mengoptimalkan peran serta insan Perusahaan dan pihak lainnya dalam mengungkapkan pelanggaran yang terjadi di lingkungan BRI Finance.

32. Rencana Bisnis adalah dokumen tertulis yang menggambarkan rencana pengembangan dan kegiatan usaha Lembaga Jasa Keuangan Nonbank dalam jangka waktu tertentu, serta strategi untuk merealisasikan rencana tersebut sesuai target dan waktu yang ditetapkan.

33. Laporan Realisasi Rencana Bisnis adalah laporan yang disusun oleh Direksi mengenai realisasi Rencana Bisnis sampai dengan periode tertentu.

34. Laporan Pengawasan Rencana Bisnis adalah laporan dari Dewan Komisaris mengenai hasil pengawasan yang bersangkutan terhadap pelaksanaan Rencana Bisnis sampai dengan periode tertentu.

(7)

BAB 2. TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK

2.1. Pendahuluan

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, BRI Finance berkomitmen untuk selalu tunduk kepada peraturan perundang-undangan serta mengedepankan prinsip moral dan etika serta menjalankan praktek-praktek usaha, khususnya usaha di bidang pembiayaan, yang jujur dan sehat. Oleh karena itu Pedoman Tata Kelola Perusahaan Yang Baik ini disusun dengan harapan dapat menjadi suatu acuan dan landasan kerja bagi semua lini dan fungsi di BRI Finance dan memastikan bahwa Perusahaan telah melaksanakan tata kelola perusahaan yang baik dalam setiap kegiatan usahanya serta menjadikan tata kelola perusahaan yang baik sebagai budaya yang berperan penting dalam meletakkan landasan yang lebih kuat bagi pertumbuhan kegiatan usaha di masa depan seiring dengan meningkatnya risiko serta tantangan yang dihadapi oleh industri pembiayaan.

BRI Finance yakin bahwa penerapan tata kelola perusahaan yang baik dapat mempercepat tercapainya tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan oleh Perusahaan, memberikan keyakinan kepada pemegang saham bahwa Perusahaan dikelola secara baik dan benar, profesional, transparan dan efisien serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian serta mendorong pengelolaan risiko dan sumber daya Perusahaan ke arah yang lebih efektif. Selain itu diharapkan bahwa Pedoman Tata Kelola Perusahaan Yang Baik ini dapat mendorong setiap unsur pimpinan dalam Perusahaan untuk membuat keputusan dan menjalankan tindakan yang dilandasi dengan nilai moral yang tinggi dan kepatuhan atas peraturan perundang-undangan yang berlaku serta kesadaran akan adanya tanggung jawab sosial Perusahaan terhadap pemangku kepentingan, yaitu pihak yang memiliki kepentingan terhadap Perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung, antara lain debitur, pemegang saham, pegawai, kreditur, penyedia barang dan jasa, dan/atau pemerintah.

2.2. Landasan Hukum

1. Peraturan OJK Nomor 30/POJK.05/2014 tentang Tata Kelola Perusahaan Yang Baik bagi Perusahaan Pembiayaan

2. Peraturan OJK Nomor 29/POJK.05/2020 tentang Perubahan atas Peraturan OJK Nomor 30/POJK.05/2014 tentang Tata Kelola Perusahaan Yang Baik bagi Perusahaan Pembiayaan

3. Peraturan OJK Nomor 28/POJK.05/2020 tentang Penilaian Tingkat Kesehatan Lembaga Jasa Keuangan Nonbank

4. Peraturan OJK Nomor 35/POJK.05/2018 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Pembiayaan 5. Peraturan OJK Nomor 24/POJK.05/2019 tentang Rencana Bisnis Lembaga Jasa Keuangan Nonbank.

2.3. Prinsip-prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik

Dalam setiap aktivitasnya, BRI Finance mengacu pada prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik di bawah ini:

2.3.1. Keterbukaan atau transparansi

Yaitu keterbukaan atau transparansi dalam proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam pengungkapan dan penyediaan informasi yang relevan mengenai BRI Finance, yang mudah diakses oleh pemangku kepentingan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang pembiayaan serta standar, prinsip, dan praktik penyelenggaraan usaha pembiayaan yang sehat.

(8)

Keterbukaan atau transparansi ini diwujudkan oleh Perusahaan dengan berusaha untuk mengungkapkan informasi keuangan dan non keuangan kepada berbagai pihak yang berkepentingan, sepanjang diperlukan atau disyaratkan oleh peraturan yang terkait, dengan tetap mematuhi hukum dan perundang-undangan yang berlaku dan mengacu kepada praktik Tata Kelola Perusahaan Yang Baik.

2.3.2. Akuntabilitas

Yaitu kejelasan fungsi dan pelaksanaan pertanggungjawaban organ perusahaan sehingga kinerja BRI Finance dapat berjalan secara transparan, wajar, efektif, dan efisien.

Perusahaan meyakini bahwa akuntabilitas berhubungan dengan keberadaan sistem yang mengendalikan hubungan antara individu dan/atau organ perusahaan maupun hubungan antara Perusahaan dengan pihak yang berkepentingan. Perusahaan menerapkan prinsip akuntabilitas sebagai salah satu solusi mengatasi masalah yang timbul sebagai konsekuensi logis perbedaan kepentingan individu dengan kepentingan Perusahaan maupun kepentingan Perusahaan dengan pihak yang berkepentingan.

Akuntabilitas dapat dicapai melalui pengawasan efektif yang mendasarkan pada keseimbangan kekuasaan antar organ perusahaan (rapat umum pemegang saham/RUPS, dewan komisaris dan direksi). RUPS memegang semua kekuasaan yang tidak diberikan kepada organ yang lain. Dewan Komisaris melakukan tugas pengawasan dan pemberian nasihat. Direksi bertanggung jawab dalam pengurusan Perusahaan. Sedangkan akuntabilitas seluruh jajaran Perusahaan berarti setiap orang bertanggungjawab atas setiap tugas yang diamanatkan kepadanya.

Perusahaan menerapkan akuntabilitas dengan mendorong seluruh individu dan/atau organ perusahaan untuk menyadari hak dan kewajiban, tugas dan tanggungjawab serta kewenangannya.

2.3.3. Pertanggungjawaban

Yaitu kesesuaian pengelolaan BRI Finance dengan peraturan perundang-undangan di bidang pembiayaan dan nilai-nilai etika serta standar, prinsip, dan praktik penyelenggaraan usaha pembiayaan yang sehat.

Dalam menjalankan kegiatan usahanya, Perusahaan harus mematuhi ketentuan anggaran dasar, peraturan perundang-undangan yang berlaku, termasuk namun tidak terbatas pada ketentuan yang berhubungan dengan pembiayaan, ketenaga-kerjaan, perpajakan, persaingan usaha, dan lain sebagainya.

2.3.4. Kemandirian

Yaitu keadaan BRI Finance yang dikelola secara mandiri dan profesional serta bebas dari benturan kepentingan dan pengaruh atau tekanan dari pihak manapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundang- undangan di bidang pembiayaan dan nilai-nilai etika serta standar, prinsip, dan praktik penyelenggaraan usaha pembiayaan yang sehat.

Kemandirian ini oleh Perusahaan diimplementasikan dengan selalu menghormati hak dan kewajiban, tugas dan tanggung jawab serta kewenangan masing-masing organ perusahaan.

Perusahaan meyakini bahwa dengan implementasi prinsip kemandirian secara optimal, seluruh organ perusahaan dapat bertugas dengan baik dan optimal dalam membuat keputusan dan mengelola Perusahaan.

2.3.5. Kesetaraan dan Kewajaran

Yaitu kesetaraan, keseimbangan, dan keadilan di dalam memenuhi hak-hak pemangku kepentingan yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan, dan nilai-nilai etika serta standar, prinsip, dan praktik penyelenggaraan usaha pembiayaan yang sehat.

BRI Finance menjamin bahwa setiap pihak yang berkepentingan mendapatkan perlakuan yang adil sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Perusahaan harus memperlakukan setiap pegawai secara adil dan bebas dari diskriminasi atau bias karena perbedaan suku, agama, asal-usul, jenis kelamin, atau hal-hal lain yang tidak ada kaitannya dengan kinerja.

(9)

Pelaksanaan prinsip Tata Kelola Perusahaan Yang Baik wajib dituangkan dalam suatu pedoman yang paling sedikit menguraikan hal-hal sebagai berikut:

a. Pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Direksi, dan Dewan Komisaris;

b. Kelengkapan dan pelaksanaan tugas komite dan unit kerja yang menjalankan fungsi pengendalian internal;

c. Penanganan benturan kepentingan;

d. Penerapan fungsi kepatuhan, audit internal, dan audit eksternal;

e. Penerapan manajemen risiko dan sistem pengendalian internal;

f. Penerapan kebijakan remunerasi;

g. Transparansi kondisi keuangan dan non-keuangan; dan h. Rencana bisnis.

2.4. Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik

Penerapan Tata Kelola Perusahaan Yang Baik yang bertujuan:

1. Mengoptimalkan nilai BRI Finance bagi pemangku kepentingan, khususnya debitur, kreditur, dan/atau pemangku kepentingan lainnya dengan cara meningkatkan prinsip keterbukaan, akuntabilitas, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan adil agar Perusahaan memiliki daya saing yang kuat, baik secara nasional maupun internasional.

2. Meningkatkan pengelolaan Perusahaan secara profesional, efektif, dan efisien serta memberdayakan fungsi dan meningkatkan kemandirian dewan komisaris, direksi dan, rapat umum pemegang saham.

3. Meningkatkan kepatuhan organ perusahaan serta jajaran di bawahnya agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tindakan dilandasi pada etika yang tinggi, kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan, dan kesadaran atas tanggung jawab sosial Perusahaan terhadap pemangku kepentingan maupun kelestarian lingkungan.

4. Mewujudkan Perusahaan yang lebih sehat, dapat diandalkan, amanah, kompetitif dan memenuhi prinsip perlindungan konsumen.

5. Meningkatkan kontribusi Perusahaan dalam perekonomian nasional.

Dalam melakukan kegiatan usaha, Perusahaan wajib menyelenggarakan kegiatan usahanya secara sehat dan mematuhi semua peraturan perundang-undangan industri jasa keuangan yang berada dalam pengawasan OJK.

Perusahaan wajib memiliki standar operasi dan prosedur yang memadai untuk seluruh aktivitas bisnis Perusahaan yang ditetapkan oleh Direksi.

(10)

BAB 3. VISI, MISI, DAN NILAI

3.1. Visi

Visi BRI Finance adalah:

“Menjadi Perusahaan Pembiayaan terdepan dengan layanan terintegrasi”

Terdepan

Menunjukkan keunggulan dalam kinerja, kualitas dan kompetensi sumber daya manusia untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada nasabah.

Layanan Terintegrasi

Terkait layanan produk pembiayaan dan kedudukan BRIF yang senantiasa terintegrasi dan bersinergi dengan BRI sebagai induk perusahaan yang memiliki jaringan kerja (unit dan sistem informasi) yang tersebar di seluruh Indonesia

3.2. Misi

Membangun hubungan kemitraan jangka panjang melalui ketersediaan produk dan layanan yang terintegrasi sesuai dengan kebutuhan nasabah.

Memberikan solusi pembiayaan yang terbaik dengan focus pada pembiayaan konsumer yang cepat, tepat, dan terpercaya.

Menciptakan budaya dan etos kerja yang mengutamakan kepuasan nasabah dengan melaksanakan manajemen risiko yang efektif serta praktik tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance).

Memberikan nilai ekonomi bagi seluruh pemangku kepentingan (pemegang saham, komunitas, nasabah, dan pekerja).

Meningkatkan kompetensi sumber daya manusia yang profesional. Berintegritas dan berdaya saing tinggi.

3.3. Nilai

Trust

Membangun kepercayaan yang timbal balik antara atasan dan bawahan, mitra kerja, pelanggan dan seluruh stakeholder terhadap keberadaan dan kualitas pelayanan perusahaan.

Integrity

Keselarasan antara pikiran dan perbuatan dalam mengimplementasikan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, konsistensi dan profesionalisme

Customer Centric

Mampu memahami dan melayani kebutuhan pelanggan.

(11)

Innovation

Mendayagunakan seluruh kemampuan untuk menghasilkan produk serta layanan terbaik bagi Perusahaan dan pelanggan.

Teamwork

Bekerja secara berkolaboratif, efektif dan efisien untuk mencapai tujuan Perusahaan

3.4. Tagline

“LAYANAN FINANSIAL TERDEPAN”

(12)

BAB 4. KODE ETIK

Dalam mewujudkan insan Perusahaan yang disiplin dan bertanggung jawab serta memiliki integritas dan profesionalisme yang tinggi dalam menjalankan bisnis Perusahaan, diperlukan adanya penerapan etika.

Kode Etik yang dimaksud disini adalah pedoman yang menjelaskan etika usaha dan tata perilaku insan Perusahaan untuk melaksanakan praktek-praktek pengelolaan perusahaan yang baik di BRI Finance.

4.1. Tujuan

Penerapan Kode Etik Perusahaan bertujuan untuk:

1. Menciptakan lingkungan kerja yang baik dan kondusif sehingga dapat mendorong peningkatan kinerja Perusahaan.

2. Membina hubungan baik dengan komunitas setempat dimana BRI Finance menjadi bagian di dalamnya sehingga dapat menunjang kesuksesan Perusahaan dalam jangka panjang.

3. Menjaga reputasi BRI Finance.

4. Memberikan pedoman etika bagi insan Perusahaan dalam melaksanakan tugas, kewenangan, kewajiban dan tanggung jawabnya.

5. Meningkatkan budaya sadar risiko dan budaya kepatuhan bagi semua insan Perusahaan.

4.2. Komitmen

1. Kode Etik Perusahaan berlaku bagi seluruh insan Perusahaan di seluruh jenjang organisasi BRI Finance.

Penerapan Kode Etik Perusahaan secara terus menerus dan berkesinambungan dalam bentuk sikap, perbuatan, komitmen, dan ketentuan mendukung terciptanya budaya Perusahaan.

2. Seluruh insan Perusahaan diwajibkan secara tertulis untuk menyatakan kepatuhannya atas Kode Etik ini.

Pernyataan Kepatuhan yang ditandatangani merupakan salah satu syarat kelanjutan hubungan kerja dengan Perusahaan. Format pernyataan kepatuhan terhadap Kode Etik adalah sebagaimana yang tercantum pada lampiran atau perubahannya yang akan ditetapkan kemudian.

4.3. Landasan

1. Penyusunan Kode Etik ini mempertimbangkan visi, misi dan nilai Perusahaan karena visi, misi, dan nilai tersebut merupakan intisari dari Kode Etik ini.

2. Kode Etik merupakan bagian penting dari kerangka kerja, tata kelola perusahaan dan memberikan dasar bagi BRI Finance untuk merumuskan kebijakan, sistem, dan prosedur.

4.4. Elemen

Kode Etik menjabarkan prinsip dasar perilaku pribadi dan profesional yang diharapkan dilakukan oleh insan Perusahaan dalam melaksanakan tugasnya dan praktek-praktek pengelolaan perusahaan yang baik. Ini merupakan standar perilaku yang wajar, patut dan dapat dipercaya untuk semua insan Perusahaan dalam melaksanakan kegiatan usaha termasuk berinteraksi dengan pemangku kepentingan.

(13)

Kode Etik BRI Finance berlaku bagi seluruh insan Perusahaan di seluruh jenjang organisasi Perusahaan.

Penerapan Kode Etik Perusahaan secara terus menerus dan berkesinambungan dalam bentuk sikap, perbuatan, komitmen dan ketentuan mendukung terciptanya budaya Perusahaan.

Kode Etik Perusahaan dijabarkan dalam 9 (sembilan) elemen yaitu sebagai berikut:

4.4.1. Kepatuhan terhadap Hukum dan Kebijakan Perusahaan

BRI Finance berkomitmen patuh terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam segala aktivitas bisnis Perusahaan.

Insan Perusahaan menjunjung tinggi kepatuhan Perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam rangka penguatan budaya kepatuhan Perusahaan.

Sikap Profesional terhadap Kode Etik:

1. Semua insan Perusahaan harus tunduk pada peraturan perundang-undangan dan peraturan yang ditetapkan dalam kebijakan Perusahaan. Ketentuan yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan bisnis Perusahaan adalah peraturan perundangan yang berlaku bagi Perusahaan baik peraturan di bidang perbankan, pembiayaan, pasar modal, perseroan terbatas, BUMN, Keuangan Negara maupun peraturan perundang-undangan lainnya.

2. Semua insan Perusahaan tidak diperkenankan untuk melakukan praktik pelanggaran atas hukum dan peraturan yang berlaku, meskipun para kompetitor/pihak lainnya tidak lagi mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku. Kriteria praktik suatu aktivitas yang dapat diterima, tidak hanya semata-mata dilihat dari praktik yang dijalankan kompetitor atau pihak lainnya dipasar.

4.4.2. Hubungan dengan Pemangku Kepentingan

Kesuksesan BRI Finance tergantung kepada terbentuknya hubungan yang baik dengan pemangku kepentingan berdasarkan integritas, perilaku etis, dan hubungan saling percaya. Perusahaan menyadari bahwa masing-masing pemangku kepentingan mempunyai kebutuhan dan harapan dengan kesempatan yang berbeda-beda untuk mencapai hal yang sama, yaitu kesuksesan. Oleh karena itu Perusahaan mempunyai komitmen untuk secara terus menerus mengembangkan kualitas layanan yang prima dengan selalu berusaha mengutamakan kepuasan pemangku kepentingan, serta membangun hubungan jangka panjang yang saling menguntungkan.

Etika Perusahaan terhadap pemangku kepentingan adalah sebagai berikut:

1. Etika Terhadap Debitur

Perusahaan berkomitmen untuk menjaga kepuasan dan loyalitas debitur terhadap Perusahaan dengan menyediakan produk dan/atau jasa yang dibutuhkan oleh debitur sepanjang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Insan Perusahaan menjunjung tinggi kejujuran dan transparansi dalam melakukan aktivitas pelayanan terhadap debitur. Hal ini merupakan prinsip utama terhadap dedikasi insan Perusahaan kepada debitur dan untuk menjamin kesetiaan debitur atas produk dan/atau jasa serta pelayanan Perusahaan.

Sikap Profesional terkait Kode Etik:

a. Insan Perusahaan berdedikasi tinggi untuk memberikan pelayanan prima kepada debitur dengan memperhatikan prinsip kehati-hatian.

b. Insan Perusahaan senantiasa tanggap dan berusaha memahami kebutuhan serta dapat mencari alternatif solusi atas debitur dengan sebaik-baiknya dengan tetap memperhatikan kepentingan Perusahaan.

c. Insan Perusahaan senantiasa mengedepankan kejujuran dan prinsip transaparansi dalam menyampaikan informasi produk dan/atau jasa Perusahaan.

d. Insan Perusahaan senantiasa tidak melakukan diskriminasi dalam menindaklanjuti pengaduan debitur.

(14)

2. Etika Terhadap Mitra Kerja

Perusahaan berkomitmen dalam berhubungan dengan mitra kerja berdasarkan pada praktik-praktik usaha yang sah dan wajar, serta memberikan manfaat yang optimal bagi Perusahaan dengan menjunjung tinggi kepatuhan terhadap peraturan perundangan yang berlaku.

Insan Perusahaan menjunjung tinggi sikap profesionalisme dengan selalu mengutamakan kepentingan Perusahaan diatas kepentingan pribadi atau pihak lain.

Insan Perusahaan memastikan mitra kerja tunduk pada kebijakan perusahaan dan peraturan perundangan yang berlaku serta setuju untuk menjaga setiap hubungan kerahasiaan dengan Perusahaan, kecuali pengungkapan kerahasiaan tersebut telah diakui dan disetujui oleh Perusahaan.

Sikap Profesional terkait Kode Etik:

a. Insan Perusahaan senantiasa mematuhi prosedur dan mekanisme serta ketentuan pengadaan barang dan atau jasa Perusahaan dalam penunjukkan mitra kerja.

b. Insan Perusahaan senantiasa menghindari kondisi, situasi, ataupun kesan adanya benturan kepentingan dalam berhubungan dengan mitra kerja dan secara individual selalu mengutamakan kepentingan perusahaan di atas kepentingan pribadi atau pihak lain.

c. Insan Perusahaan secara intensif berkomunikasi dengan mitra kerja untuk mencari solusi yang terbaik.

d. Insan Perusahaan senantiasa menghargai Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).

3. Etika Terhadap Pesaing

Perusahaan berkomitmen berusaha mempertahankan pertumbuhan yang berkelanjutan dalam menjalankan bisnis Perusahaan dengan berdasarkan pada prinsip kehati-hatian dan tetap menjaga profesionalisme serta persaingan yang sehat dan kompetitif.

Insan Perusahaan menjunjung tinggi untuk mengedepankan prinsip persaingan yang sehat dalam menjalankan kegiatan usahanya, dengan menempatkan pesaing sebagai pemacu peningkatan kinerja.

Sikap Profesional terkait Kode Etik:

a. Insan Perusahaan senantiasa melakukan persaingan yang sehat dengan mengedepankan keunggulan produk dan/atau jasa layanan yang berkualitas.

b. Insan Perusahaan senantiasa menjaga hubungan yang baik dan menghormati keberadaan pesaing.

c. Insan Perusahaan senantiasa bersaing secara positif dengan perusahaan pesaing serta menjadikan perbedaan yang dimiliki pesaing sebagai sarana untuk menciptakan diversifikasi bisnis Perusahaan.

4. Etika Terhadap Regulator

Perusahaan berkomitmen untuk memenuhi kewajiban dan ketentuan yang ditetapkan oleh regulator lembaga jasa keuangan non bank (LJKNB) maupun otoritas berwenang lainnya.

Insan Perusahaan berkomitmen untuk membangun komunikasi yang baik dengan regulator LJKNB maupun otoritas berwenang lainnya berdasarkan standar etika dan peraturan perundangan yang berlaku.

Sikap Profesional terkait Kode Etik:

a. Insan Perusahaan senantiasa patuh dan taat pada ketentuan perundang-undangan dan peraturan yang berlaku serta kebijakan yang dibuat oleh regulator LJKNB maupun otoritas berwenang lainnya.

b. Insan Perusahaan senantiasa menyajikan laporan yang jelas, akurat, komprehensif dan tepat waktu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

5. Etika Terhadap Pemegang Saham

Perusahaan berkomitmen untuk berupaya menghasilkan kontribusi positif dan optimal bagi para pemegang saham.

Insan Perusahaan menjunjung tinggi prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam menyampaikan laporan- laporan sehingga laporan tsb dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan.

(15)

Sikap Profesional terkait Kode Etik:

a. Perusahaan senantiasa memberikan perlakuan yang setara (adil) kepada pemegang saham untuk menggunakan hak-haknya sesuai anggaran dasar Perusahaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

b. Perusahaan senantiasa menghargai keputusan tertinggi yang ada pada RUPS.

c. Perusahaan senantiasa menjalankan keputusan RUPS dengan baik.

d. Insan Perusahaan senantiasa menyusun laporan dengan jelas, akurat, dan komprehensif.

4.4.3. Hubungan dengan Masyarakat dan Lingkungan Hidup

BRI Finance berkomitmen menjunjung tinggi nilai-nilai masyarakat setempat (local wisdom) dan memberikan manfaat serta mendukung pelestarian lingkungan hidup dimana Perusahaan menjalankan operasionalnya.

Menjaga hubungan baik dengan masyarakat setempat merupakan kunci keberhasilan bagi Perusahaan untuk dapat menjaga loyalitas debitur dan juga meningkatkan kepercayaan debitur.

Insan Perusahaan memiliki komitmen menjadi warga yang baik di semua lingkungan di manapun mereka ditempatkan. Hal tsb bertujuan agar bisnis Perusahaan senantiasa dapat dijaga untuk terus berkembang dalam membantu usaha masyarakat.

Sikap Profesional terkait Kode Etik:

a. Perusahaan wajib memperhitungkan dampak yang merugikan dari setiap kebijakan yang akan ditetapkan terhadap keadaan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

b. Perusahaan senantiasa menjalankan dan meningkatkan program tanggung jawab sosial Perusahaan di lingkungan Perusahaan dengan mendukung langkah-langkah positif yang diambil oleh masyarakat setempat serta mendorong keterlibatan insan Perusahaan kedalamnya.

c. Perusahaan senantiasa mendukung program-program Pemerintah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.

d. Insan Perusahaan memiliki tanggung jawab kepada masyarakat setempat untuk menggunakan sumber daya yang ada dengan bijaksana.

4.4.4. Hubungan Perusahaan dengan Insan Perusahaan

BRI Finance percaya bahwa sumberdaya manusia adalah aset utama, baik sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari Perusahaan, sehingga semua insan Perusahaan wajib memberikan solusi atas setiap hambatan yang mengganggu pencapaian pelaksanaan kebijakan pokok Perusahaan untuk mewujudkan hubungan Perusahaan dengan insan Perusahaan yang baik dan selaras. Perusahaan memperlakukan setiap insan Perusahaan dengan baik, obyektif, transparan, adil dan setara.

1. Etika Perusahaan terhadap Pegawai

Perusahaan berkomitmen memberikan kesempatan yang sama terhadap semua pegawai untuk berpartisipasi aktif dalam mencapai visi dan misi Perusahaan tanpa diskriminasi atas dasar kesetaraan dan saling percaya.

Insan Perusahaan berpartisipasi aktif dalam pencapaian visi dan misi Perusahaan dengan menjalankan tugas dan tanggung jawabnya untuk meningkatkan produktifitas dan kinerja.

Bentuk etika Perusahaan terhadap pegawai tercermin dalam perilaku sebagai berikut:

a. Perusahaan senantiasa memperlakukan setiap pegawai secara obyektif, transparan, adil dan setara.

b. Perusahaan senantiasa menyediakan lingkungan kerja yang kondusif untuk meningkatkan produktivitas kerja.

c. Perusahaan senantiasa menghormati hak-hak asasi manusia.

d. Perusahaan senantiasa memberlakukan mekanisme reward dan punishment sesuai ketentuan yang berlaku.

(16)

Bentuk etika insan Perusahaan terhadap Perusahaan tercermin dalam perilaku sebagai berikut:

a. Insan Perusahaan wajib menjaga nama baik Perusahaan (corporate identity) dimanapun berada.

b. Insan Perusahaan wajib menjaga dan menggunakan aset dan/atau fasilitas Perusahaan secara tepat guna sesuai ketentuan yang berlaku.

c. Insan Perusahaan wajib melaporkan seluruh aktifitas yang diketahui terindikasi kecurangan (fraud) di lingkungan kerja.

d. Insan Perusahaan dilarang menyalahgunakan aset, fasilitas, jabatan, kewenangan dan identitas Perusahaan untuk kepentingan pribadi dan/atau pihak ketiga lainnya yang dapat merugikan Perusahaan.

e. Insan Perusahaan wajib bebas dari penyalahgunaan narkotika, obat-obatan terlarang, dan minuman keras yang dilarang oleh peraturan perundang-undangan di lingkungan/fasilitas Perusahaan.

2. Etika Terhadap Sesama Pegawai

Perusahaan berkomitmen untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif untuk meningkatkan produktivitas kerja dengan mengatur etika berperilaku sesama pegawai.

Insan Perusahaan menjunjung tinggi etika saling menjaga, menghargai dan menghormati satu sama lain.

Bentuk etika diwujudkan dalam perilaku sebagai berikut:

a. Insan Perusahaan dilarang melakukan tindakan intimidasi, merendahkan, melecehkan serta diskriminasi.

b. Insan Perusahaan wajib saling menghargai dan menghormati sesama pegawai serta menghindari persaingan yang tidak sehat dalam lingkungan kerja.

c. Insan Perusahaan wajib saling membantu, memotivasi dan bekerjasama antar sesama pegawai dalam hal-hal yang positif.

4.4.5. Kerahasiaan Informasi Perusahaan 1. Perlindungan Informasi Debitur

BRI Finance berkomitmen untuk menjaga kepercayaan masyarakat dalam rangka kelangsungan usaha Perusahaan.

Insan Perusahaan menjunjung tinggi etika untuk wajib menjaga seluruh informasi terkait debitur Perusahaan terhadap pihak luar (eksternal) yang diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut:

a. Perusahaan wajib menjaga kepercayaan debitur di seluruh unit kerja Perusahaan.

b. Insan Perusahaan wajib menjaga rahasia Perusahaan.

2. Penggunaan Informasi Internal Perusahaan

Insan Perusahaan menjunjung tinggai etika terkait penyampaian informasi internal yang ada di Perusahaan yang hanya dapat disampaikan pada pihak-pihak berkepentingan sesuai ketentuan yang berlaku. Insan Perusahaan diwajibkan untuk menjaga penyampaian informasi internal Perusahaan dengan cara sebagai berikut:

a. Insan Perusahaan dilarang untuk menyampaikan informasi internal Perusahaan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan yang meliputi rahasia Perusahaan dan rahasia jabatan. Informasi internal Perusahaan tersebut termasuk namun tidak terbatas pada informasi terkait rencana strategis bisnis Perusahaan, hasil riset internal Perusahaan, pengembangan produk Perusahaan, data ketenagakerjaan, hasil audit, dokumen-dokumen internal serta informasi penting lainnya.

b. Insan Perusahaan wajib melindungi kerahasiaan informasi internal Perusahaan baik pada saat bekerja dengan Perusahaan maupun setelah berhenti dari Perusahaan atau setelah tidak berhubungan lagi dengan Perusahaan.

(17)

4.4.6. Integritas dan Akurasi Pelaporan Perusahaan

BRI Finance berkomitmen untuk menghasilkan laporan Perusahaan yang tepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada manajemen, pemegang saham, debitur, dan pihak-pihak yang berkepentingan lainnya.

Insan Perusahaan bertanggungjawab untuk melakukan pencatatan resmi mengenai kegiatan Perusahaan secara akurat, jujur, lengkap, dan tepat waktu. Etika dalam penyusunan laporan Perusahaan adalah sebagai berikut:

a. Insan Perusahaan melakukan pencatatan yang benar mengenai segala transaksi yang berkaitan dengan kegiatan Perusahaan.

b. Insan Perusahaan memberikan laporan Perusahaan yang jelas, akurat, komprehensif dan tepat waktu sesuai ketentuan yang berlaku kepada pihak yang berkepentingan.

4.4.7. Benturan Kepentingan

BRI Finance berkomitmen untuk memiliki dan menerapkan kebijakan penanganan benturan kepentingan yang mengikat insan Perusahaan dalam rangka mencegah adanya tindak pidana korupsi dan praktik kolusi serta nepotisme di lingkungan Perusahaan.

Insan Perusahaan dilarang menempatkan diri pada posisi atau situasi yang dapat menimbulkan benturan kepentingan antara dirinya dengan Perusahaan, debitur Perusahaan maupun pihak ketiga yang dapat merugikan atau mengurangi keuntungan Perusahaan.

Insan Perusahaan dalam mengambil keputusan tidak boleh dipengaruhi oleh kepentingan pribadi ataupun golongan tertentu yang dapat secara sadar atau tidak sadar akan mempengaruhi pertimbangan terbaiknya bagi kepentingan Perusahaan. Etika dalam penanganan benturan kepentingan yakni sebagai berikut:

a. Insan Perusahaan senantiasa menghindari konflik akibat adanya pengaruh kepentingan pribadi atau golongan dalam hal menggunakan kewenangannya dalam membuat keputusan.

b. Insan Perusahaan wajib melaporkan adanya situasi benturan kepentingan melalui sarana antara lain whistleblowing system, laporan transaksi/putusan yang mengandung benturan kepentingan, laporan pelanggaran benturan kepentingan.

c. Insan Perusahaan mengungkapkan transaksi dan/atau putusan yang mengandung benturan kepentingan yang terjadi dalam notulen rapat/risalah rapat, diadministrasikan dan didokumentasikan dengan baik.

4.4.8. Kontribusi dan Aktivitas Politik

Perusahaan berkomitmen untuk tidak memperkenankan dana, fasilitas dan sumber daya Perusahaan untuk disumbangkan kepada dan/atau digunakan oleh pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan politik atau usaha sejenis lainnya.

Insan Perusahaan menjunjung tinggi etika untuk tidak mengkontribusikan waktu, uang atau sumberdaya pribadinya bagi aktivitas politik sebagai berikut:

a. Menjadi anggota, terdaftar sebagai anggota, fungsionaris atau pengurus partai politik atau calon/anggota legislatif.

b. Ikut serta dalam kampanye politik, penggalangan dana politik atau untuk tujuan partisipasi politik.

c. Melakukan kegiatan partai politik atau kegiatan sejenis lainnya.

4.4.9. Hadiah

BRI Finance berkomitmen untuk tidak memperkenankan insan Perusahaan meminta atau menerima hadiah atau imbalan apapun yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Insan Perusahaan menjunjung tinggi etika untuk tidak meminta atau menerima hadiah atau imbalan apapun untuk memperkaya diri pribadi maupun keluarganya.

(18)

Hadiah yang dimaksud dalam hal ini adalah pemberian dalam arti luas dari pihak ketiga maupun debitur kepada pihak insan Perusahaan.

Hal-hal yang dilarang untuk dilakukan oleh insan Perusahaan antara lain:

a. Menerima pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma dan fasilitas lainnya.

b. Menerima atau memberikan hadiah yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c. Meminta atau menerima hadiah atau imbalan untuk memperkaya diri pribadi maupun keluarganya.

(19)

BAB 5. ORGAN PERUSAHAAN

5.1. Hubungan Antar Organ

Organ Perusahaan adalah RUPS, direksi, dan dewan komisaris bagi perusahaan yang berbentuk badan hukum perseroan terbatas.

BRI Finance meyakini bahwa hubungan yang wajar dan tepat guna antar organ perusahaan sangat berpengaruh positif terhadap keberhasilan pengelolaan perusahaan dan implementasi tata kelola perusahaan yang baik.

Dengan demikian, BRI Finance secara tegas memisahkan fungsi dan tugas RUPS, direksi, dan dewan komisaris sebagai organ perusahaan.

BRI Finance mendorong organ perusahaan agar dalam membuat keputusan dan menjalankan tugas dilandasi oleh itikad baik dan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta kesadaran akan adanya tanggung jawab Perusahaan terhadap pemangku kepentingan maupun masyarakat sekitar Perusahaan.

BRI Finance juga mengharapkan agar masing-masing organ perusahaan selalu menghormati dan bertindak sesuai fungsi dan peranan masing-masing, berhubungan atas dasar prinsip kesetaraan dan saling menghargai.

5.2. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

RUPS adalah rapat umum pemegang saham sebagaimana dimaksud dalam undang-undang mengenai perseroan terbatas bagi perusahaan yang berbentuk badan hukum perseroan terbatas atau yang setara dengan RUPS bagi perusahaan yang berbentuk badan hukum koperasi.

RUPS merupakan organ perusahaan yang memiliki semua kewenangan yang tidak didelegasikan kepada dewan komisaris dan direksi dan merupakan wadah bagi pemegang saham dalam menentukan arah kebijakan dan jalannya BRI Finance. Selain itu RUPS juga merupakan suatu forum dimana dewan komisaris dan direksi melaporkan dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan tugas serta kinerjanya kepada pemegang saham.

RUPS Perusahaan diselenggarakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan anggaran dasar BRI Finance yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam mengambil keputusan, RUPS menjaga kepentingan semua pihak, khususnya kepentingan debitur dan kreditur dan kepentingan pemegang saham minoritas.

Setiap pemegang saham berhak memperoleh penjelasan lengkap dan informasi yang akurat mengenai prosedur yang harus dipenuhi berkenaan dengan penyelenggaraaan RUPS agar pemegang saham dapat berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan mengenai hal-hal yang mempengaruhi jalannya Perusahaan, yaitu meliputi:

a. Panggilan untuk RUPS harus mencakup informasi mengenai setiap mata acara dalam agenda RUPS, termasuk usul yang direncanakan oleh direksi untuk diajukan dalam RUPS, agar memungkinkan pemegang saham berpartisipasi dalam pembahasan di RUPS dan memberikan suara secara bertanggung jawab. Jika informasi tersebut belum tersedia saat dilakukannya panggilan untuk RUPS maka informasi dan/atau usul- usul itu harus disediakan baik di kantor BRI Finance maupun tempat lain yang ditunjuk sebelum RUPS diselenggarakan.

b. Penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan agenda RUPS dapat diberikan sebelum dan/atau pada saat RUPS berlangsung.

c. Keputusan RUPS harus diambil melalui prosedur yang transparan dan adil.

(20)

d. Salinan risalah RUPS harus diberikan kepada setiap pemegang saham jika diminta dan risalah tersebut harus memuat pendapat baik yang mendukung maupun yang tidak mendukung usul yang diajukan sedangkan asli risalah harus disimpan oleh direksi sebagaimana mestinya.

e. Sistem untuk menentukan gaji dan tunjangan bagi setiap anggota dewan komisaris dan direksi serta rinciannya wajib diungkapkan kepada pemegang saham.

f. Untuk memantau ketaatan pada Pedoman Tata Kelola Perusahaan Yang Baik, direksi harus mengungkapkan hal-hal mengenai kondisi keuangan maupun hal-hal lainnya yang menyangkut Perusahaan, termasuk hal-hal yang bertentangan dan/atau tidak sesuai dengan suatu kebijakan perusahaan berikut alasannya.

RUPS BRI Finance terdiri dari RUPS tahunan dan RUPS luar biasa.

RUPS tahunan Perusahaan diselenggarakan setiap tahun, paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun buku Perusahaan ditutup. Dalam RUPS tahunan:

a. Direksi mengajukan perhitungan tahunan yang terdiri dari neraca dan perhitungan laba rugi dari tahun buku yang bersangkutan serta penjelasan atas dokumen tersebut untuk mendapat pengesahan rapat.

b. Direksi mengajukan laporan tahunan mengenai keadaan dan jalannya Perusahaan, hasil yang dicapai, perkiraan mengenai perkembangan Perusahaan di masa yang akan datang, kegiatan utama Perusahaan dan perubahan selama tahun buku serta rincian masalah yang timbul selama tahun buku yang mempengaruhi kegiatan Perusahaan untuk mendapatkan pengesahan rapat.

c. Diputuskan penggunaan laba Perusahaan.

d. Diputuskan pengangkatan akuntan publik.

e. Dapat diputuskan hal-hal lain yang telah diajukan dengan tidak mengurangi ketentuan dalam anggaran dasar.

Pengesahan perhitungan tahunan oleh RUPS tahunan berarti memberikan pelunasan dan pembebasan tanggung jawab sepenuhnya kepada para anggota direksi dan dewan komisaris atas pengurusan dan pengawasan yang telah dijalankan selama tahun buku yang lalu, sepanjang tindakan tersebut tercermin dalam buku Perusahaan.

5.3. Pemegang Saham

Hak pemegang saham harus dilindungi, agar pemegang saham dapat melaksanakan tugasnya berdasarkan prosedur yang benar yang ditetapkan oleh BRI Finance, sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

5.3.1. Hak-hak Pemegang Saham

a. Hak untuk menghadiri dan memberikan suara dalam RUPS, berdasarkan ketentuan yang berlaku.

b. Hak untuk memperoleh informasi material mengenai Perusahaan, secara tepat waktu, akurat dan teratur, agar memungkinkan bagi seorang pemegang saham untuk mengambil keputusan, termasuk menentukan penanaman modal berdasarkan informasi yang dimilikinya mengenai sahamnya dalam Perusahaan.

c. Hak untuk menerima sebagian dari keuntungan Perusahaan yang diperuntukan bagi pemegang saham, sebanding dengan jumlah saham yang dimilikinya di Perusahaan, dalam bentuk dividen dan pembagian keuntungan lainnya.

Untuk melindungi hak-hak pemegang saham, hal-hal yang dapat menyebabkan perubahan fundamental atas Perusahaan dan hak pemegang saham seperti:

perubahan anggaran dasar;

pembagian tanggungjawab antara anggota dewan;

pembubaran atau penutupan Perusahaan;

penggabungan dan akuisisi;

(21)

pengurangan modal;

pembayaran dividen;

perubahan komposisi dewan komisaris dan direksi;

dan lain-lain harus diputuskan dalam RUPS.

5.3.2. Kewajiban Pemegang Saham

a. Pemegang saham pengendali BRI Finance, yaitu PT. Bank Rakyat Indonesia (Pesero) Tbk wajib memenuhi ketentuan penilaian kemampuan dan kepatutan yang ditetapkan oleh OJK.

b. Memastikan Perusahaan dijalankan berdasarkan praktik usaha pembiayaan yang sehat.

c. Memiliki komitmen terhadap pengembangan operasional Perusahaan.

d. Tidak mencampuri kegiatan operasional Perusahaan yang menjadi tanggung jawab direksi sesuai dengan ketentuan anggaran dasar Perusahaan dan peraturan perundang-undangan, kecuali dalam rangka melaksanakan hak dan kewajiban selaku RUPS.

e. Mendahulukan kepentingan Perusahaan bila pemegang saham Perusahaan menjabat sebagai anggota direksi atau anggota dewan komisaris.

5.4. Dewan Komisaris

Dewan komisaris adalah organ perusahaan yang bertugas melakukan pengawasan secara umum dan/atau khusus sesuai dengan anggaran dasar serta memberi nasihat kepada direksi. Dewan komisaris bertindak sebagai wakil pemegang saham yang mengawasi dan memberikan nasihat kepada direksi dalam pengoperasian BRI Finance atas dasar prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik.

5.4.1. Jumlah dan Ketentuan Pengangkatan Dewan Komisaris

Peraturan OJK mewajibkan perusahaan yang memiliki aset lebih dari Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah) memiliki paling sedikit 2 (dua) orang anggota Dewan Komisaris. Dengan aset perusahaan yang lebih dari Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah), BRI Finance memilik 3 (tiga) orang anggota dewan komisaris yang berdomisili di wilayah negara Republik Indonesia.

Perusahaan memutuskan bahwa dewan komisaris terdiri dari:

a. 1 (satu) orang komisaris utama;

b. 1 (satu) orang anggota komisaris; dan c. 1 (satu) orang komisaris independen.

Para anggota Dewan Komisaris diangkat oleh RUPS untuk jangka waktu tertentu terhitung sejak ditutupnya RUPS dimana mereka diangkat dan berakhir pada jangka waktu yang telah ditetapkan.

Setelah masa jabatannya berakhir mereka dapat diangkat kembali, dengan tidak mengurangi hak RUPS untuk memberhentikan mereka sewaktu-waktu.

Jabatan anggota Dewan Komisaris berakhir jika yang bersangkutan:

a. mengundurkan diri sesuai dengan ketentuan di dalam anggaran dasar perusahaan;

b. tidak lagi memenuhi persyaratan perundangan yang berlaku untuk diangkat sebagai anggota dewan komisaris suatu perseroan terbatas;

c. meninggal dunia;

d. diberhentikan berdasarkan keputusan RUPS.

(22)

5.4.2. Komisaris Independen

Komisaris Independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak terafiliasi dengan pemegang saham, anggota direksi, anggota dewan komisaris lainnya, yaitu tidak memiliki hubungan keuangan, kepengurusan, kepemilikan saham dan/atau hubungan keluarga dengan pemegang saham, anggota direksi, dewan komisaris lainnya atau hubungan lain yang dapat mempengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.

BRI Finance wajib memiliki paling sedikit 1 (satu) orang Komisaris Independen yang mana:

a. tidak mempunyai hubungan afiliasi dengan anggota direksi, anggota dewan komisaris, atau pemegang saham BRI Finance. Afiliasi adalah hubungan antara seseorang atau badan hukum dengan satu orang atau lebih, atau badan hukum lain, sedemikian rupa sehingga salah satu dari mereka dapat mempengaruhi pengelolaan atau kebijakan dari orang lain atau badan hukum lain, atau sebaliknya, dengan memanfaatkan adanya kebersamaan kepemilikan saham atau kebersamaan pengelolaan perusahaan;

b. tidak pernah menjadi anggota Direksi, anggota Dewan Komisaris atau menduduki jabatan 1 (satu) tingkat di bawah Direksi pada BRI Finance atau perusahaan lain yang memiliki hubungan afiliasi dengan BRI Finance dalam kurun waktu 6 (enam) bulan terakhir;

c. memahami peraturan perundang-undangan di bidang pembiayaan dan peraturan perundang-undangan lain yang relevan;

d. memiliki pengetahuan yang baik mengenai kondisi keuangan Perusahaan;

e. memiliki kewarganegaraan Indonesia; dan f. berdomisili di Indonesia.

Komisaris Independen bertugas melakukan fungsi pengawasan untuk menyuarakan kepentingan debitur, kreditur, dan pemangku kepentingan lainnya.

Apabila terjadi pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang pembiayaan dan/atau keadaan atau perkiraan keadaan yang dapat membahayakan kelangsungan usaha Perusahaan, Komisaris Independen wajib melaporkannya kepada OJK paling lambat 10 (sepuluh) hari kalender sejak ditemukannya pelanggaran tersebut.

Tindakan pelaporan ke OJK tersebut tidak dapat menyebabkan Komisaris Independen diberhentikan oleh Perusahaan.

5.4.3. Persyaratan menjadi Anggota Dewan Komisaris Persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Lulus penilaian kemampuan dan kepatutan yang ditetapkan oleh OJK.

b. Memiliki sertifikat tingkat dasar di bidang pembiayaan dari lembaga yang ditunjuk oleh asosiasi perusahaan Indonesia.

c. Anggota Dewan Komisaris harus memenuhi persyaratan tidak pernah menjadi anggota Direksi pada BRI Finance dalam kurun waktu 6 (enam) bulan terakhir.

d. Tidak melakukan rangkap jabatan sebagai Anggota Dewan Komisaris pada lebih dari 3 (tiga) perusahaan lain. Tidak termasuk dalam rangkap jabatan apabila:

Anggota Dewan Komisaris non Independen menjalankan tugas fungsional dari pemegang saham BRI Finance; dan/atau

Anggota Dewan Komisaris menduduki jabatan pada organisasi atau lembaga nirlaba, sepanjang yang bersangkutan tidak mengabaikan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab sebagai Anggota Dewan Komisaris BRI Finance

(23)

5.4.4. Tugas dan Tanggungjawab Dewan Komisaris

Dewan Komisaris harus melaksanakan tugasnya berdasarkan anggaran dasar BRI Finance dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu:

a. Melaksanakan tugas pengawasan dan pemberian nasihat kepada direksi.

b. Mengawasi direksi dalam menjaga keseimbangan kepentingan semua pihak.

c. Menyusun laporan kegiatan Dewan Komisaris yang merupakan bagian dari laporan penerapan tata kelola perusahaan yang baik.

d. Memantau efektifitas penerapan tata kelola perusahaan yang baik.

e. Memastikan bahwa direksi telah menindaklanjuti temuan audit dan rekomendasi dari unit kerja audit intern BRI Finance, auditor eksternal, hasil pengawasan OJK dan/atau hasil pengawasan otoritas lain.

Dalam menunjang efektifitas pelaksanaan tugas dan kewajibannya, Dewan Komisaris wajib membentuk:

a. Komite Audit;

b. Komite Pemantau Risiko; dan c. Komite Remunerasi dan Nominasi

Selain komite sebagaimana dimaksud diatas, Dewan Komisaris juga dapat membentuk komite lain guna menunjang pelaksanaan tugas Dewan Komisaris.

5.4.5. Kewenangan Dewan Komisaris Kewenangan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Dewan Komisaris setiap waktu berhak, dengan keputusan Dewan Komisaris, memberhentikan untuk sementara seorang atau lebih anggota direksi, apabila anggota direksi tersebut melakukan tindakan yang bertentangan dengan anggaran dasar dan/atau peraturan perundang-undangan yang berlaku dan pemberhentian sementara itu harus diberitahukan kepada yang bersangkutan dengan disertai alasannya.

b. Pengambilan keputusan oleh Dewan Komisaris merupakan bagian dari tugas pengawasan oleh komisaris sehingga tidak menghapuskan tanggungjawab direksi dari pelaksanaan manajemen BRI Finance.

c. Anggota Dewan Komisaris setiap waktu dalam jam kerja kantor BRI Finance berhak memasuki bangunan, lokasi kantor dan atau tempat lain yang digunakan atau dikuasai oleh Perusahaan dan berhak memeriksa semua pembukuan, surat dan alat bukti lainnya, memeriksa dan mencocokan keadaan uang kas dan hal- hal lain serta berhak memperoleh segala informasi atas semua tindakan yang telah dilakukan direksi dan direksi berkewajiban untuk memberikan penjelasan segala hal yang berhubungan dengan Perusahaan yang ditanyakan oleh Dewan Komisaris.

5.4.6. Larangan bagi Anggota Dewan Komisaris Larangan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Melakukan transaksi yang mempunyai benturan kepentingan dengan kegiatan BRI Finance.

b. Memanfaatkan jabatannya pada Perusahaan untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan/atau pihak lain yang dapat merugikan atau mengurangi keuntungan Perusahaan.

c. Mengambil dan/atau menerima keuntungan pribadi dari Perusahaan, selain remunerasi dan fasilitas yang ditetapkan berdasarkan keputusan RUPS.

d. Mencampuri kegiatan operasional Perusahaan yang menjadi tanggung jawab direksi.

e. Melakukan rangkap jabatan sebagai Anggota Dewan Komisaris pada lebih dari 3 (tiga) perusahaan lain.

Tidak termasuk rangkap jabatan apabila:

Anggota Dewan Komisaris non Independen menjalankan tugas fungsional dari pemegang saham BRI Finance;

Anggota Dewan Komisaris menduduki jabatan pada organisasi atau lembaga nirlaba

(24)

sepanjang yang bersangkutan tidak mengabaikan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab sebagai anggota Dewan Komisaris BRI Finance.

f. Dalam hal seluruh anggota direksi diberhentikan untuk sementara atau BRI Finance tidak mempunyai anggota direksi, maka untuk sementara Dewan Komisaris akan mengurus Perusahaan. Dalam hal demikian, Dewan Komisaris berhak untuk memberikan kekuasaan sementara kepada seorang atau lebih diantara mereka untuk mewakili dan bertindak untuk dan atas atas nama Perusahaan.

5.4.7. Rapat Dewan Komisaris

Persyaratan rapat adalah sebagai berikut:

a. Dewan komisaris BRI Finance wajib menyelenggarakan Rapat Dewan Komisaris paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) bulan.

b. Anggota dewan komisaris Perusahaan wajib menghadiri Rapat Dewan Komisaris paling sedikit 75% (tujuh puluh lima persen) dari jumlah Rapat Dewan Komisaris dalam periode 1 (satu) tahun.

c. Hasil Rapat Dewan Komisaris dituangkan dalam risalah Rapat Dewan Komisaris dan didokumentasikan dengan baik.

d. Perbedaan pendapat (dissenting opinions) yang terjadi dalam keputusan Rapat Dewan Komisaris wajib dicantumkan secara jelas dalam risalah Rapat Dewan Komisaris disertai alasan perbedaan pendapat tersebut.

e. Anggota dewan komisaris Perusahaan yang hadir maupun yang tidak hadir dalam Rapat Dewan Komisaris berhak menerima salinan risalah Rapat Dewan Komisaris.

Dewan komisaris Perusahaan wajib menjamin pengambilan keputusan yang efektif, tepat, dan cepat serta dapat bertindak secara independen dalam melaksanakan tugas.

Sehubungan dengan tugas dan tanggung jawab dewan komisaris, maka dewan komisaris harus menyediakan waktu yang cukup untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya secara optimal.

5.5. Direksi

Direksi adalah organ perusahaan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas pengurusan BRI Finance untuk kepentingan Perusahaan, sesuai dengan maksud dan tujuan Perusahaan serta mewakili Perusahaan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar Perusahaan. Direksi harus membuat keputusan kunci mengenai kebijakan manajemennya untuk kepentingan terbaik dari Perusahaan dan para pemegang sahamnya, dan harus secara efektif mengawasi direktur dan manajemen melalui implementasi tata kelola perusahaan yang baik.

5.5.1. Jumlah dan Ketentuan Pengangkatan Direksi

Peraturan OJK mewajibkan perusahaan yang memiliki aset lebih dari Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah) memiliki paling sedikit 3 (tiga) orang anggota Direksi. Dengan aset perusahaan yang lebih dari Rp200.000.000.000,00 (dua ratus miliar rupiah), BRI Finance memiliki 4 (empat) orang anggota Direksi yang berdomisili di wilayah negara Republik Indonesia.

BRI Finance memiliki 4 (empat) orang anggota Direksi dengan susunan sebagai berikut:

a. 1 (satu) orang direktur utama;

b. 1 (satu) orang direktur bisnis;

c. 1 (satu) orang direktur manajemen risiko; dan d. 1 (satu) orang direktur operasional dan keuangan Anggota Direksi BRI Finance berdomisili di wilayah Indonesia.

Anggota Direksi diangkat dan diberhentikan oleh RUPS.

(25)

Masa jabatan anggota Direksi dimulai sejak tanggal yang ditentukan dalam RUPS yang mengangkat mereka sampai dengan jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan pada RUPS, dengan tidak mengurangi hak RUPS untuk memberhentikan mereka sewaktu-waktu.

Anggota Direksi yang telah berakhir masa jabatannya dapat diangkat kembali.

Jabatan anggota Direksi berakhir jika yang bersangkutan:

a. mengundurkan diri;

b. tidak lagi memenuhi persyaratan perundangan yang berlaku untuk diangkat sebagai anggota Direksi suatu perseroan terbatas;

c. meninggal dunia;

d. diberhentikan berdasarkan keputusan RUPS.

5.5.2. Persyaratan menjadi Anggota Direksi Persyaratan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Mampu untuk bertindak dengan itikad baik, jujur dan profesional.

b. Mendahulukan kepentingan Perusahaan dan/atau pemangku kepentingan lainnya dari pada kepentingan pribadi.

c. Mampu mengambil keputusan berdasarkan penilaian independen dan objektif untuk kepentingan Perusahaan dan debitur, kreditur, dan/atau pemangku kepentingan lainnya.

d. Mampu menghindarkan penyalahgunaan kewenangannya untuk mendapatkan keuntungan pribadi yang tidak semestinya atau menyebabkan kerugian bagi Perusahaan.

e. Lulus penilaian kemampuan dan kepatutan yang ditetapkan oleh OJK.

f. Memiliki sertifikat keahlian di bidang pembiayaan dari lembaga yang ditunjuk oleh asosiasi perusahaan pembiayaan Indonesia.

g. Direksi yang membawahi fungsi manajemen risiko harus memiliki sertifikat keahlian di bidang manajemen risiko dari lembaga yang ditunjuk oleh asosiasi perusahaan pembiayaan Indonesia.

h. Tidak melakukan rangkap jabatan sebagai Direksi pada perusahaan lain kecuali sebagai anggota dewan komisaris paling banyak pada 3 (tiga) perusahaan lain. Tidak termasuk rangkap jabatan apabila anggota Direksi yang bertanggungjawab terhadap pengawasan atas penyertaan pada anak perusahaan yang memiliki usaha di bidang pembiayaan, menjalankan tugas fungsional menjadi anggota dewan komisaris pada anak perusahaan yang dikendalikan oleh Perusahaan, sepanjang perangkapan jabatan tersebut tidak mengakibatkan yang bersangkutan mengabaikan pelaksanaan tugas dan wewenang sebagai anggota direksi Perusahaan.

5.5.3. Tugas dan Tanggungjawab Direksi

Direktur utama berhak dan berwenang bertindak untuk dan atas nama Direksi serta mewakili BRI Finance.

Jika direktur utama tidak ada atau tidak hadir atau berhalangan karena sebab apapun (hal mana tidak perlu dibuktikan kepada pihak ketiga), maka salah seorang anggota Direksi lainnya berhak dan berwenang bertindak untuk dan atas nama Direksi serta mewakili Perusahaan.

Direksi akan menghindari kondisi di mana tugas dan kepentingan Perusahaan berbenturan atau memiliki potensi benturan dengan kepentingan pribadi. Apabila hal tersebut terjadi, maka anggota Direksi yang bersangkutan akan mengungkapkan benturan kepentingan tersebut kepada dewan komisaris dan anggota direksi lain, dan selanjutnya anggota Direksi yang bersangkutan tidak berwenang mewakili Perusahaan dalam hal tersebut. Apabila benturan kepentingan tersebut menyangkut semua anggota Direksi, maka Perusahaan akan diwakili oleh dewan komisaris atau oleh seorang yang ditunjuk oleh dewan komisaris.

Dalam melaksanakan tugasnya, Direksi antara lain harus selalu:

a. mematuhi anggaran dasar Perusahaan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

(26)

b. mengusahakan dan menjamin terlaksananya usaha dan kegiatan Perusahaan sesuai dengan maksud dan tujuan Perusahaan;

c. menyiapkan secara tepat waktu rencana jangka panjang Perusahaan, rencana kerja dan anggaran tahunan Perusahaan, termasuk rencana-rencana lainnya yang berhubungan dengan pelaksanaan usaha dan kegiatan Perusahaan dan menyampaikannya kepada komisaris untuk selanjutnya disampaikan kepada RUPS guna mendapatkan pengesahan;

d. mengadakan dan memelihara pembukuan dan administrasi Perusahaan sesuai dengan kelaziman yang berlaku bagi suatu perusahaan;

e. menyusun sistem akuntansi sesuai dengan standar akuntansi keuangan dan berdasarkan prinsip-prinsip pengendalian internal, terutama fungsi pengurusan, pencatatan, penyimpanan dan pengawasan;

f. memberikan pertanggungjawaban dan segala keterangan tentang keadaan dan jalannya Perusahaan berupa laporan tahunan termasuk perhitungan tahunan kepada RUPS;

g. memberikan laporan berkala menurut cara dan waktu sesuai dengan ketentuan yang berlaku serta laporan lainnya setiap kali diminta oleh pemegang saham;

h. menyiapkan struktur organisasi Perusahaan lengkap dengan perincian tugasnya;

i. menjaga dan meningkatkan citra Perusahaan.

j. mengimplementasikan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik dalam setiap kegiatan usaha Perusahaan di semua tingkatan atau hierarki organisasi.

k. dalam mengimplementasikan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik, Direksi wajib membentuk unit kerja berikut ini:

Unit kerja Audit Intern

Unit kerja Manajemen Risiko

Unit kerja Kepatuhan

l. menindaklanjuti semua temuan dan rekomendasi dari audit intern, audit eksternal, hasil supervisi OJK dan/atau hasil supervisi otoritas lain.

m. menyediakan data dan informasi yang akurat dan relevan serta pada waktunya kepada dewan komisaris.

5.5.4. Kewajiban Direksi

Kewajiban-kewajiban tersebut adalah sebagai berikut:

a. Wajib berdomisili di wilayah negara Republik Indonesia.

b. Harus memiliki pengetahuan yang relevan dengan jabatannya.

c. Mematuhi peraturan perundang-undangan, anggaran dasar, dan peraturan internal lain dari Perusahaan dalam melaksanakan tugasnya.

d. Mengelola Perusahaan sesuai dengan kewenangan dan tanggungjawabnya.

e. Mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugasnya kepada RUPS.

f. Memastikan agar Perusahaan memperhatikan kepentingan semua pihak, khususnya kepentingan debitur, kreditur, dan/atau pemangku kepentingan lainnya.

g. Memastikan agar informasi mengenai Perusahaan diberikan kepada dewan komisaris secara tepat waktu dan lengkap.

h. Membantu dan menyediakan fasilitas dan/atau sumber daya untuk kelancaran pelaksanaan tugas dan wewenang organ perusahaan.

i. Menjamin pengambilan keputusan yang efektif, tepat, dan cepat serta dapat bertindak secara independen, tidak mempunyai kepentingan yang dapat mengganggu kemampuannya untuk melaksanakan tugas secara mandiri dan objektif.

(27)

j. Mengambil keputusan pembiayaan secara profesional dan mengoptimalkan nilai tambah kekayaan Perusahaan dengan tetap memperhatikan perlindungan terhadap debitur dan kepentingan bagi pemangku kepentingan lainnya.

k. Menetapkan pengendalian internal yang efektif dan efisien untuk memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan usaha dijalankan sesuai dengan sasaran dan strategi bisnis serta anggaran dasar dan aturan internal lain Perusahaan, dan peraturan perundang-undangan.

l. Menyusun rencana bisnis tahunan.

5.5.5. Larangan bagi Anggota Direksi

Larangan-larangan tersebut adalah sebagai berikut:

a. Melakukan transaksi yang mempunyai benturan kepentingan dengan kegiatan BRI Finance;

b. Memanfaatkan jabatannya pada Perusahaan untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan/atau pihak lain yang dapat merugikan atau mengurangi keuntungan Perusahaan;

c. Mengambil dan/atau menerima keuntungan pribadi dari Perusahaan selain remunerasi dan fasilitas yang ditetapkan berdasarkan keputusan RUPS;

d. Memenuhi permintaan pemegang saham yang terkait dengan kegiatan operasional Perusahaan selain yang telah ditetapkan dalam RUPS;

e. Melakukan rangkap jabatan sebagai Direksi pada Perusahaan lain kecuali sebagai anggota dewan komisaris paling banyak pada 3 (tiga) perusahaan lain;

f. Anggota Direksi dilarang bertindak mewakili Perusahaan dalam hal:

terjadi perkara di pengadilan antara Perusahaan dengan Anggota Direksi yang bersangkutan;

Anggota Direksi yang bersangkutan mempunyai benturan kepentingan dengan Perusahaan.

Dalam hal terjadi demikian, maka yang dapat mewakili Perusahaan adalah:

Anggota Direksi lain yang tidak mempunyai benturan kepentingan dengan Perusahaan;

Dewan Komisaris dalam hal semua Anggota Direksi mempunyai benturan kepentingan;

Pihak lain yang ditunjuk oleh RUPS, dalam hal semua Anggota Direksi dan Dewan Komisaris mempunyai benturan kepentingan dengan Perusahaan.

5.5.6. Rapat Direksi

Persyaratan rapat adalah sebagai berikut:

a. Direksi BRI Finance wajib menyelenggarakan Rapat Direksi secara berkala paling sedikit 1 kali dalam 1 bulan.

b. Direksi Perusahaan wajib menghadiri Rapat Direksi paling sedikit 50% (lima puluh persen) dari jumlah Rapat Direksi dalam periode 1 tahun.

c. Hasil Rapat Direksi wajib dituangkan dalam risalah Rapat Direksi dan didokumentasikan dengan baik.

d. Perbedaan pendapat yang terjadi dalam keputusan Rapat Direksi wajib dicantumkan secara jelas dalam risalah Rapat Direksi disertai alasan perbedaan pendapat tersebut.

e. Anggota direksi Perusahaan yang hadir maupun yang tidak hadir dalam Rapat Direksi berhak menerima salinan risalah Rapat Direksi.

f. Jumlah Rapat Direksi yang telah diselenggarakan dan jumlah kehadiran masing-masing anggota direksi Perusahaan harus dimuat dalam laporan penerapan tata kelola perusahaan yang baik.

Referensi

Dokumen terkait

Pedoman Tata Kelola Keuangan STAIT Yogyakarta adalah petunjuk umum tentang tata cara pengelolaan keuangan, berupa perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan

Struktur Tata Kelola Perusahaan terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham, Dewan Komisaris dan Direksi, yang didukung oleh Komite Audit sebagai komite yang bertanggung jawab kepada

Sementara Asia memiliki beberapa khusus isu tata kelola perusahaan, ada banyak masalah tata kelola  perusahaan di Asia, konsentrasi yang paling penting adalah peran

Penerapan Tata Kelola Perusahaan berdasarkan pada peraturan perundangan berikut ini: a. Peraturan Pemerintah No. 73 Tahun 1992 Tentang Penyelenggaran Usaha Perasuransian

Kebijakan ini disusun bertujuan untuk memastikan penerapan tata kelola perusahaan yang baik dan manajemen risiko serta sebagai pedoman dalam proses pemilihan, penggantian dan/atau

07 414 Penerapan Good Corporate Governance GCG 415 Dasar, Pedoman, dan Tujuan Penerapan GCG 416 Tahapan Penerapan GCG 416 Keterkaitan Penerapan Tata Kelola Perusahaan dengan Kinerja

Analisis Tata Kelola Perusahaan Batavia

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh tata kelola perusahaan yang baik dan karakteristik perusahaan terhadap nilai