• Tidak ada hasil yang ditemukan

tazkiyat al-nafs dalam memperoleh ketenangan jiwa

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "tazkiyat al-nafs dalam memperoleh ketenangan jiwa"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh:

SITI BARIROTUL MASRUFAH NIM: T20151152

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

SEPTEMBER 2019

(2)

DI PONDOK PESANTREN AL-JAIZI SRUNI JENGGAWAH-JEMBER TAHUN 2018/2019

SKRIPSI

Diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi sajah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam (S. Pd.I)

Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Jurusan Pendidikan Islam Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

Siti Barirotul Masrufah T20151152

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

SEPTEMBER 2019

(3)
(4)
(5)





































Artinya: Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaanya), maka Allah megilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikaan dan ketakwaanya.

Sesunggunya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesunggunya merugilah orang yang mengotorinya.1 (Q.S. Al- Syams:

7-10)

1 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: CV Asyifa’, 1999), 926.

(6)

Teriring do’a dari lubuk hati yang paling terdalam, dengan mengucapkan bismillahirrohmannirrohim kupersembahkan karya kecilku ini. Khususnya

kepada:

Terimaksih kepada Kedua orang tua tercinta, Bapakku “M. Sholeh” dan Ibuku

“Siti Zaenab”, yang tiada henti memberikan limpahan do’a, jerih payah, kasih

sayang, motivasi, memberikanku semangat menuntutilmu, dan selalu memberikan yang terbaik hingga saat ini. Semoga segala do’a tetap tercurahkan kepada beliu, serta dipanjangkan umurnya sampai kalian bisa memetik buah yang kalian tanam dalam diri anakmu ini..

Adikku tersayang “Arini Maulidiyatuz Zahro” yang selalu mendukung dan memberikan motivasi.

Saudara dan sahabat yang tiada hentinya memberikan semangat selama proses pengerjaan tugas akhir.

(7)

Dengan mengucapkan Alhamdulillah, segala uji dan syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT. karena atas rahmat dan limpahan rezekinya serta karunia-Nya, perencanan, pelaksanaan dan penyususun skripsi yang berjudul

Tazkiyat Al-Nafs Dalam Memperoleh Ketenangan Jiwa Di Pondok Pesantren Al- Jaizi Sruni Jenggawah-Jember Tahun 2018/2019” sebagai yang menjadi salah satu syarat menyelesaikan program sarjana, dapat terselesaikan dengan baik.

Sholawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW yang menjadi teladan bagi seluruh umat Islam dan telah membawa umat manusia dari zaman jahiliyah menuju zaman yang terang benderang yakni Addinul Islam.

Kesuksesan ini dapat penulis peroleh karena dukungan banyak pihak. Oleh karena itu, penulis menyadari dan menyampaikan terima kasih yang sedalam- dalamnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Babun Suharto, SE., MM. Selaku Rektor IAIN Jember yang telah memberikan fasilitas yang memadai selama kami menuntut ilmu di IAIN Jember.

2. Bapak Dr. Hj. Mukni’ah, M.Pd.I. Selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan IAIN Jember yang telah membimbing kami dalam proses perkuliahan.

(8)

Jember yang telah memberikan segala fasilitas yang membantu kelancaran atas terselesainya skripsi ini.

4. Drs. D. Fajar Ahwa. M.Pd. I. Selaku Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam, yang telah banyak membantu dalam penyelesaian skripsi ini selama di FTIK.

5. Bapak Drs. H. Mahrus, M.Pd. I. Selaku dosen pembimbing yang telah bersediah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran serta bersedia memberikan arahan, bimbingan serta motivasi selama proses pembuatan skripsi.

6. Bapak Kyai Solhan Hadi. Selaku pengasuh Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah-Jember yang telah memberikan izin kepada saya untuk melakukan penelitian di Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah Jember.

7. Semua Dosen yang mengajar di strata S 1 Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember yang telah meyalurkan ilmuya dan do’anya sehingga penulis ampai seperti ini.

8. Ibu Nyai Titin. Selaku khalifah santri putri Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah-Jember Jember, yang selalu meluangkan waktunya untuk saya observasi.

9. Semua Santri Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah-Jember yang telah memberikan informasi serta motivasi dalam penyusunan skripsi.

Jember, 03 September 2019

Penulis

(9)

Tazkiyat Al-Nafs adalah proses penyucian jiwa atau mensucikan diri dari berbagai kecenderungan buruk, serta menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji atau baik. Dengan demikian dapat dipahami bahwa tazkiyat al-nafs adalah sebuah proses menghilangkan budi pekerti tercela (al-akhlaq al-madzmumah) dari diri dan prilaku manusia serta menanamkan budi pekerti terpuji (al-akhlaq al- mahmudah) ke dalam diri dan prilaku manusia yang baik.

Fokus penelitian dalam skripsi ini adalah: 1). Bagaimana Tazkiyat Al-Nafs Melalui Takhalli Dalam Memperoleh Ketenangan Jiwa Di Pondok Pesantren Al- Jaizi Sruni Jenggawah-Jember Tahun 2018/2019, 2) Bagaimana Tazkiyat Al-Nafs Melalui Tahalli Dalam Memperoleh Ketenangan Jiwa Di Pondok Pesantren Al- Jaizi Sruni Jenggawah-Jember Tahun 2018/2019, 3) Bagaimana Tazkiyat Al-Nafs Melalui Tajalli Dalam Memperoleh Ketenangan Jiwa Di Pondok Pesantren Al- Jaizi Sruni Jenggawah-Jember Tahun 2018/2019.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Tazkiyat Al-Nafs Melalui Takhalli, Tahalli, Tajalli Dalam Memperoleh Ketenangan Jiwa Di Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah-Jember Tahun 2018/2019.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan jenis penelitian lapangan (field resech). Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan pada saat penelitian dilapangan yaitu: 1) Wawancara, 2) Observasi, 3) Dokumentasi. Analisis data penelitian ini menggunakan analisis Milles &

Huberman, yaitu: data condensasion, data display, dan conclusion drawing/verivication. Dalam uji keabsahan data, peneliti menggunakan triangulasi teknik.

Penelitian ini memperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1) Tazkiyat Al- Nafs yang berarti penyucian Jiwa yang berhubungan dengan penggunaan metode yang pertama yaitu Takhalli yang berarti pengosongan. Pengosongan jiwa dari hal-hal buruk yang dapat menyebabkan ketergantungan terhadap kelezatan duniawi, 2) Tazkiyat Al-Nafs melalui Tahalli untuk memperoleh ketenangan jiwa ini, yaitu setelah dikosongkon atau ditinggal sifat-sifat tercela yang dipengaruhi oleh urusan duniawi sehingga jauh dari Allah SWT. maka tahalli ini pengisian kembali jiwa yang kosong dengan sifat-sifat terpuji yang dapat mendekatkan diri selalu kepada Allah SWT, 3) Tazkiyat Al-Nafs Melalui Tajalli dalam Memperoleh Ketenangan Jiwa ini lebih pada penyempurnaan dari apa yang sudah dijalankan, apa yang telah diberikan pada saat menjalankan metode Tahalli.

(10)

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1

B. Fokus Penelitian ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 11

E. Definisi Istilah ... 12

F. Sistematika Pembahasan ... 14

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu ... 16

B. Kajian Teori ... 20

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 40

B. Lokasi Penelitian ... 40

C. Subjek Penelitian ... 41

D. Teknik Pengumpulan Data ... 42

E. Analisis Data ... 45

F. Keabsahan Data ... 47

G. Tahap-tahap Penelitian Dilapangan ... 48

(11)

3. Profil Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni ... 52

4. Letak Geografis Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni ... 53

5. Kegiatan kegiatan di Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni 53 6. Data Jumlah Santri Pondok Pesantren Al- Jaizi ... 55

7. Sarana dan Prasarana Pondok Pesantren Al-Jaizi ... 56

B. Penyajian Data dan Analisis Data ... 57

C. Pembahasan Temuan ... 74

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 79

B. Saran ... 80 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(12)

No. Keterangan

2.1 Penelitian Terdahulu ... 18

4.1 Data Jumlah dan Tahapan Santri Al- Jaizi ... 55

4.2 Data Santri Putra-Putri Al-Jaizi ... 55

4.3 Sarana dan prasarana pondok pesantren Al- Jaizi ... 56

(13)

A. Latar Belakang Masalah

Ilmu tasawuf sangatlah erat hubungannya dengan masalah-masalah yang akan dibutuhkan manusia, seperti kesehatan kalbu, dan kesucian jiwa.

Manusia pada hakekatnya adalah jiwanya, karena jiwalah membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Dengan jiwa manusia bisa merasa, berpikir, berkemauan dan berbuat. Keselamatan dan kebahagiaan manusia didunia dan akhirat sangat ditentukan pada kondisi jiwanya, karena pada jiwa itulah terkandung kedurhakaan atau ketaatan kepada Allah.1 Dipondok pesantren lansia Al-Jaizi Sruni, telah ada untuk membantu masyarakat dalam proses penyucian, dimana yang sebelumnya mereka masih gelisah dalam hal mempersiapkan diri diakhir hayatnya untuk kemudian mereka menginginkan untuk lebih dekat, serta beribadah slalu fokus hanya pada Allah semata, yang sebelumnya mereka ada salah satu santri yang jarang sekali bahkan tidak pernah beribadah, maka dengan adanya pondok pseantren lansia mereka lebih tenang serta siap tidak ada kegelisahan terus- menurus yang dihantui kepada diri sendiri.2

1Dedi Suriansah, “Pemikiran Sa’id Hawwa Tentang Jiwa”, (Tesis, IAIN Sumatera Utara, Medan, 2012), 21.

2 Observasi, pondok pesantren Al-Jaizi Sruni, 17 Februari 2019.

(14)

Salah satu tujuan diutusnya para Rasul dan Nabi as untuk mensucikan jiwa umatnya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala pada surat al-jumu’ah ayat 2 : 3

           

         

Artinya: Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada kitab dan hikmah (Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.4

Sudah jelas bahwasanya manusia sebenarnya harus mensucikan dirinya dari nafsu (Nafs) utamanya, nafsu yang tidak terlepas dari diri setiap manusia, bagaimana manusia itu sendiri berkeinginan untuk menjalankan penyucian diri atau tazkiyat al-nafs, sebagai bentuk untuk mendekatkan diri serta mempersiapkan bekal dikehidupannya kelak.

Membersihkan dan menyucikan tubuh merupakan kewajiban bagi manusia. Jika penyucian tubuh merupakan kewajiban, maka penyucian jiwa pun menjadi kewajiban bagi manusia, bahkan lebih diwajibkan lagi. Semua ketidak sucian menimbulkan penyakit, seperti tidak teraturnya pekerjaan sistem fisik.5 Namun sebagian besar yang sudah menjalankan penyucian dari nafsu atau misteri yang terjadi lebih banyak dikalangan lanjut usia, yang sudah mulai dan niat untuk mempersiapkan kematiannya. Walaupun semua itu butuh dorongan dari keluarga utamanya dari diri sendiri, mengingat

3 Abdul Barro’ Saad Bin Muhammad Ath-Thakhisi, Tazkiyatun Nafs (Surakarta: Cv. Pustaka Mantiq, 1997), 21.

4 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: CV Asyifa’, 1999), 884.

5Hazrat Inayat Khan, Dimensi Spiritual Psikologi (Bandung: Pustaka Hidayah, 2000), 128.

(15)

sangat membutuhkan waktu, tenaga serta tarekat yang harus dan benar-benar dilaksanakan sesuai dengan arahan dari sang Kyai. Jadi takziyat al-nafs itu dilakukan ketika orang tersebut benar-benar siap untuk menjalankan atau menanamkan budi pekerti ataupun dari akhlak terpuji, maka akan diarahkan sesuai dengan yang dituntun oleh sang kyai dan Ibu Nyai.6

Sedangkan di kalangan para sufi menyepakati bahwa jiwa adalah sumber dari keburukan dan dosa. Jiwa (nafs), adalah kelembutan (Lathifat) bersifat ketuhan-an (Rabbaniyah). Sebelum bersatu dengan badan jasmani manusia lathifah ini disebut dengan al-ruh, dan jiwa al-nafs adalah roh yang telah masuk dan bersatu dengan jasad yang menimbulkan potensi kesadaran (ego). Jiwa diciptakan oleh Allah sebelum bersatunya dengan jasad bersifat suci, bersih dan cenderung mendekat kepada Allah, mengetahui akan tuhannya. Akan tetapi setelah roh tersebut bersatu dengan jasad akhirnya ia melihat (mengetahui) yang selain Allah, oleh karena itu teranglah ia dari Allah karena sibuknya dengan selain Allah. Itulah sebabnya, ia perlu dididik, dilatih, dan dibersihkan agar melihat, mengetahui dan berdekatan dengan Allah.7

Maka sesungguhnya jiwa manusia perlu untuk dibersihkan atau disucikan kembali sebagai persiapan untuk ketenangan jiwa serta mendekatkan diri kepada Allah, dimana manusia tempat salah dan dosa.

Kadang kala manusia tidak menyadari bahwa dia sudah kebanyakan amal, pandangan, hawa nafsu yang banyak macamnya serta hubungan

6 Observasi, pondok pesantren Al-Jaizi Sruni, 23 Februari 2019.

7Istigfarotur Rohmaniyah, Konsep Jiwa Dan Etika Perspektif Ibnu Maskawaih Dalam Kontribusinya di Bidang Pendidikan (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), 12.

(16)

kekeluargaan yang bermacam-macam kadang kala tidak mendapatkan pahala maupun faedah, namun manusia itu sendiri tidak menyadari akan hal itu, dengan demikian perlunya kesadaran dan dorongan untuk mengeluarkan hawa nafsu ini dari ikatan-ikatan nafsu dan terjauh darinya. Tersebabnya banyak hal seperti hal-hal yang diada-adakan, berghibah, namimah, pura- pura lupa akan sesuatu hal, dan lain sebagainya perkara-perkara yang akan menjadikan perkara memutus dari kehidupan manusia tanpa bermaksud kembali. Musibah nafsu (nafs) kadang kala tertimpa banyak hal dengan menyenangi akan pujian-pujian dan ucapan-ucapan terimakasih orang lain sebagai balasan dari amal shalih. Sudah saatnya mengeluarkan nafsu dari hal-hal tersebut, ini menjadi suatu kewajiban kita untuk meningglkan keadaan dihadapan pencipta-Nya, yaitu dengan cara membersihkan atau menyucikan kembali.

Penananman budi pekerti terpuji (al-akhlaq al-mahmudah) adalah tugas utama bagi kenabian, yakni Nabi Muhammad SAW. Penegasan ini membawa kepada ingatan kolektif kaum muslimin bahwa misi sesungguhnya diutusnya diri Nabi ketengah komunitas umat manusia untuk memperbaiki budi pekerti atau akhlak manusia. Para psikolog sepakat bahwa akhlak atau perilaku manusia adalah gambaran keadaan sisi manusia, yaitu jiwanya. Oleh karenanya jiwa adalah sumber perbuatan atau perilaku manusia. Artinya wujud perilaku seseorang sebenarnya terpancar sesuai dengan keadaan jiwanya. Prilaku yang baik adalah gambaran kejiwaan yang

(17)

baik. Prilaku yang buruk adalah gambaran kejiwaan manusia yang juga buruk pula.8

Jiwa yang baik secara tidak langsung menggambarkan atau mencerminkan kualitas kehidupan manusia, dengan demikian perlu setiap manusia mendidik dirinya untuk selalu mengarahkan jiwa yang sesuai dengan ketentuannya. Maka perlu adanya kesadaran serta keinginan untuk kembali menyucikan jiwa dengan sifat-sifat yang baik, serta sebagai persiapan untuk bekal selanjutnya dan sebagai syarat untuk menjalankan serta memperdalam ibadah sesuai dengan perintahnya.

Dalam tradisi pesantren, konsep tasawuf dan tarekat sering digunakan dengan saling dipertukarkan. Hal ini dapat dipahami dengan memperhatikan fakta bahwa kedua konsep tersebut pada dasarnya memiliki makna yang sama serta hubungannya dengan Pennyucian. “Tarekat atau jalan menuju spritual yang biasanya dikenal dengan tasawuf atau sufisme adalah dimensi batin atau esoterik islam”.9 Maka penyucian jiwa perlu adanya, sebagai cermin telah siap untuk menjalankan tarekat dalam ibadah, dengan demikian sebelum menjalankan tarekat perlu adanya pembersihan diri atau penyucian itu, dimana kemudin akan diteruskan dengan ibadah-ibadah seperti sholat, dzikir-dzikir maupun ibadah-ibadah lain yang menunjukkan pendekatan diri kepada Allah sebhanahu wa ta’ala.

8Mursalim, Psikoterapi Sufistik Solusi Quranik Atas Kahamparaan Spritual Manusia Modern (Jember: STAIN Jember Press, 2013), 26.

9Zulkifli, Sufi Jawa Relasi Tasawuf-Pesantren (Jogjakarta: Pustaka Sufi, 2003), 68.

(18)

Tarekat adalah sebuah kata bentukan dari kata Arab thariq atau thariqah dan bentuk jamaknya adalah thara’iq atau thuruq, yang berarti jalan, tempat lalu lintas, aliran, mazhab, metode, mode, atau system. Sedangkan, menurut istilah tasawuf, tarekat berarti perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan dengan cara menyucikan diri; atau perjalanan yang harus ditempuh oleh seorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Tuhan.

Dengan demikian, tarekat selamanya harus mengacu pada tuntunan Nabi, para sahabat dan tabi’in. dengan kata lain, tarekat harus dilaksanakan di atas bangunan syari’at; dan di antara unsur utama yang biasa berlaku dalam dunia tarekat adalah adanya seorang Syaikh yang mempunyai tugas membimbing muridnya.10 Dengan demikian maka penyucian sangat erat hubungannya dengan tarekat, diamana setelah melakukan penyucian seorang salik akan menuju metode sesudahnya, dan kemudian akan dikaitkan dengan dzikir yang sesuai dengan tarekat yang sudah dijalankan oleh pondok pesantren yang diikutinya.

Seperti syariat, tarekat (thariqah) berarti jalan, hanya saja kalau yang pertama jalan raya (road), maka yang terakhir adalahh jalan kecil (path).

Tarekat kemudian dipahami sebagai jalan spiritual yang ditempuh seorang sufi. Maka tarekat didalamnya terdapat sebuah jalan, dan jalan tersebut ditempuh dengan berdzikir atau menyebut dengan nama Allah.11

10Syamsun Ni’am, Wasiat Tarekat Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari (Jogjakarta: Ar-Ruzz, 2011), 84.

11 Mulyadi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf (Jakarta: Erlangga, 2006), 15.

(19)

Tarekat sebagai pelembagaan ajaran spiritual dan property simbolik agama selalu memiliki berbagai kecendrungan dalam berdialektika dengan realitas sosial politik harus berkembang. Apabila pesantren dengan dunianya yang khas telah disebut sebagai subkultur, maka tarekat sebagai ajaran sekaligus sebagai jaringan transmisi keagamaan telah membentuk karakter religio political power yang khas.12 Maka tarekat juga sebagai bentuk ciri khas dalam menjalankan Tazkiyat Al-Nafs atau bentuk simbolik dalam melakukan penyucian yang akan dilalui oleh seorang salik. Dalam menjalankan tarekat, dimana seorang salik juga menentukan atau akan mengikuti tarekat yang ada dalam pondok pesantren, mengingat banyak sekali macam tarekat yang ada, namun disamping itu seorang salik akan mengikuti tarekat yang ada pada pestren, dan di Pondok pesantren Al-Jaizi ini, mengikuti Tarekat Naqsyabandiyah. 13

Tarekat Naqsyabandiyah adalah sebuah tarekat yang mempunyai dampak dan pengaruh yang sangat besar kepada masyarakat muslim di berbagai wilayah yang berbeda-beda. Tarekat ini pertama berdiri di Asia Tengah kemudian meluas ke Turki, Suriah, Afganistan, dan India.14 Maka tarekat yang dijalankan ini mengikuti tarekat yang sangat berpengaruh terhadap masyarakat muslim, mengingat juga tarekat ini sudah dijalankan oleh pondok pesantren secara turun-temurun oleh sang Kyai. Maka ketika menjalan penyucian mengikuti metode yang pertama, yaitu pembersihan atau

12Muhsin Jamil, Tarekat Dan Dinamika Sosial Poitik (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 11.

13Observasi, pondok pesantren Al-Jaizi Sruni, 23 Februari 2019.

14Sri Mulyati, Mengenal Dan Memahami Trekat-Tarekat Mukatabarah Di Indonesia ( Jakarta:

Kencana Prenada Media Group, 2006), 89.

(20)

pengosongan serta niat meninggalkan hawa nafsu dan kebiasaan buruk yang telah dilakukan.

Hawa nafsu yang menimpa kepada manusia khususnya orang tua yang menyebabkan ia memamerkan anak-anaknya, memaksa anak agar mengikuti kemauannya, gila hormat, dan sebagainya. Pendek kata nafsu itu bisa datang kepada setiap orang, dan setiap hawa nafsu itu akan datang pada orang tersebut, maka akan melencenglah apa yang dilakukannya dari tujuan dan arah yang benar menjadi perbuatan yang merugikan.15 Maka nafsu yang menguasainya tersebut kadang kala manusia tidak menyadari bahwa hal tersebut sangat merugikannya, maka kemudian butuh pendekatan, pencerahan serta memperdalam ibadah dan mengembalikan kembali kejiwa yang suci dan meneruskan ibadah-ibadah sebagai bentuk ia telah kembali, dengan mencari tempat ibadah serta guru untuk menuntunnya sesuai dengan usianya.

Di pondok pesantren sruni jenggawah ini, telah ada dan bisa disebut sebagai proses disucikan sebagai persiapan untuk menuju tarekat atau memulai menjalankan berbagai ibadah yang akan diarahkan oleh sang Kyai atau Ibu nyai, bahwa Santri Lanjut Usia disini yaitu seorang yang umurnya sudah melebihi 50 atau 60 tahun lebih yang bermukim untuk mendapatkan pendidikan serta penyempurnaan dan persiapan hidup diakhir hayatnya, kemudian telah siap untuk menjalankan proses tarekat tersebut. Dimana seorang santri harus benar-benar siap untuk menjalankan proses tersebut,

15Abuddin Nata, Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2014), 145.

(21)

serta dari segi materi juga izin dari anak-anak serta cucunya untuk mondok serta mengikuti proses-proses tersebut. Tazkiyat al-nafs sebagai bentuk penyucian jiwa untuk menjalankan ibadah atau tarekat selanjutnya khususnya pada lansia, dimana mengingat butuh kemauan diri sendiri, dukungan dari beberapa pihak maupun materi sebagai bekal untuk menjalankan atau pendekatan diri kepada Allah. Sehingga dapat memanfaatkan akhir kehidupannya dengan tarekat. Untuk itu perlu adanya Tazkiyat al-nafs itu untuk penyucian diri khususnya pada lansia yang ada dipondok pesantren kerajan tersebut.16

Tazkiyat Al-Nafs dalam memperoleh ketenangan jiwa di Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah-Jember tersebut telah ada, mencoba untuk membantu masyarakat khususnya lansia dalam mempersiapkan diakhir kehidupannya tersebut diisi dengan ibadah atau tarekat, sehingga dapat selalu mendekat diri kepada Allah dan menjalankan hal-hal positif sesuai dengan usianya walaupun sudah banyak yang membatasi aktifitas-aktifitas yang tidak banyak untuk dilakukan.17

Berdasarkan paparan diatas maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Tazkiyat Al-Nafs Dalam Memperoleh Ketenangan Jiwa Di Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah- Jember Tahun 2018/2019”.

16 Observasi, pondok pesantren Al-Jaizi Sruni, 17 Februari 2019.

17 Observasi, Pondok pesantren Al-Jaizi Sruni, 23 Februari 2019.

(22)

B. Fokus Penelitian

Pada bagian ini mencantumkan semua fokus permasalahan yang akan dicari jawabannya melalui proses penelitian.18 Dalam penelitian ini peneliti memiliki batasan masalah yang akan dikaji, yang tertera dalam fokus peneletian sebagai berikut:

1. Bagaimana Tazkiyat Al-Nafs Melalui Takhalli Dalam Memperoleh Ketenangan Jiwa Di Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah-Jember Tahun 2018/2019?

2. Bagaimana Tazkiyat Al-Nafs Melalui Tahalli Dalam Memperoleh Ketenangan Jiwa Di Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah-Jember Tahun 2018/2019?

3. Bagaimana Tazkiyat Al-Nafs Melalui Tajalli Dalam Memperoleh Ketenangan Jiwa Di Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah-Jember Tahun 2018/2019?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya.19 Dari fokus penelitian diatas, maka tujuan yang diharapkan oleh peneliti adalah untuk

1. Untuk mendeskripsikan Tazkiyat Al-Nafs Melalui Takhalli Dalam Memperoleh Ketenangan Jiwa Di Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah-Jember Tahun 2018/2019.

18Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: IAIN Jember Press, 2015), 72.

19Ibid., 72.

(23)

2. Untuk mendeskripsikanTazkiyat Al-Nafs Melalui Tahalli Dalam Memperoleh Ketenangan Jiwa Di Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah-Jember Tahun 2018/2019.

3. Untuk mendeskripsikanTazkiyat Al-Nafs Melalui Tajalli Dalam Memperoleh Ketenangan Jiwa Di Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah-Jember Tahun 2018/2019.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat (kegunaan) merupakan jawaban tentang pertanyaan sumbangan riset terhadap pengembangan ilmu dan teknologi yang diberikan dari sebuah penelitian.20 Pada dasarnya suatu penelitian akan lebih berguna apabila dapat dipergunkan oleh semua pihak. Oleh karena itu, diharapkan peneliti ini dapat memberikan kontribusi dan sumbangsih pemikiran untuk memperkaya khazanah pengetahuan atau keilmuan. Adapun manfaat dari penelitian ini sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi semua pihak, khususnya bagi pihak-pihak yang berkompeten dengan permasalahan yang diangkat, serta dapat memperkaya khazanah dan wawasan keilmuan mengenai bahasan tazkiyat al-nafs pada khususnya serta dapat dijadikan rujukan dalam penelitian selanjutnya.

20Sonny Sumarsono, Metoderiset Sumber Daya Manusia (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2004), 43.

(24)

2. Manfaat praktis

a. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengalaman dalam melakukan penelitian secara langsung dan dapat menambah wawasan pengetahuan tentang Tazkiyat Al-Nafs dalam memperoleh ketenangan jiwa.

b. Bagi relawan, sebagai bahan masukan atau informasi untuk refleksi tentang Tazkiyat Al-Nafs dalam memperoleh ketenangan jiwa yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah- Jember.

c. Bagi pondok pesantren Al-Jaizi sruni jenggawah-Jember dapat memberikan kontribusi positif tentang Takziyat Al-Nafs.

d. Bagi lembaga IAIN Jember, memeperkaya literatur atau refrensi bagi peneliti selanjutnya yang relevan di perpustkaan IAIN Jember tentang Tazkiyat Al-Nafs dalam memperoleh ketenangan jiwa di Pondok Pesantren Al-Jaizi Sruni Jenggawah-Jember.

E. Definisi Istilah

Definisi operational (istilah) berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang terjadi titik perhatian penelitian didalam sebuah judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalah mengenai pahamanan makna istilah sebagaimana dimaksud peneliti.

1. Tazkiyat Al-Nafs

Tazkiyat Al-Nafs berarti pensucian jiwa, jadi tazkiyat al-nafs adalah mensucikan diri dari berbagai kecenderungan buruk atau perilaku

(25)

menyimpang, tercela, dan hewani serta menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji. Maka ini berhubungan dengan ruang lingkup pembahasan akhlak.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa tazkiyat al-nafs adalah sebuah proses menghilangkan budi pekerti tercela (al-akhlaq al-madzmumah) dari diri dan prilaku manusia dan menanamkan budi pekerti terpuji (al-akhlaq al-mahmudah) ke dalam diri dan prilaku manusia yang baik.

Kata “an nafs” yang berarti “jiwa” nampaknya lebih banyak ditemukan dalam Al-Qur’an dari pada yang bermakna “nafsu”, sehingga disimpulkan, bahwa makna “an-nafs” dalam A-Qur’an adalah “jiwa” yang mengacu pada orang atau manusia.

Jadi arti tazkiyat al-nafs adalah penyucian jiwa. Berarti mensucikan diri dari berbagai kecenderungan buruk atau dari hal yang menyimpang, tercela, dan hewani serta menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji dan malakuti. Penyucian jiwa akan mustahil dapat dilakukan tanpa mengamalkan pengekangan diri, kerja keras, dan kesungguh-sungguhan.

2. Ketenangan Jiwa

Jiwa yang tenang adalah jiwa yang menjadikan Allah sebagai tujuan utama dari segala aktivitasnya. Ia lebih menginginkan hal-hal yang bersifat ruhaniyah, yang bisa mengisi jiwanya dan tidak cenderung mengejar kelezatan dunia yang bersifat jasmaniyah.

Jiwa yang tenang atau Mutmainnah ialah jiwa yang diwarnai dengan sifat-sifat yang membawa pada keselamatan dan kebahagiaan, seperti; sabar, takut siksa, cinta kepada Allah SWT, ridha akan ketentuan

(26)

Allah, mengharap pahala dan memperhitungkan amal perbuatan dirinya selama hidup di dunia.

Jadi yang dimaksud dengan Tazkiyat An-Nafs dalam memperoleh ketenangan jiwa adalah proses penghilangan dari kecendrungan buruk maupun budi pekerti tercela yang diisi dengan sifat kebaikan yang membawa keselamatan dan kebahagiaan sebagai tujuan menjadikan Allah dalam segala aktivitasnya.

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup.21

1. Bab 1 Pendahuluan

Bab ini berisi tentang latar belakang penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan sistematika pembahasan.

2. Bab II Kajian Teori

Bab ini terdiri dari penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang akan dilakukan saat ini dan dilanjutkan dengan kejian teori. Fungsi bab ini sebagai landasan teori untuk menganalisis data pada bab selanjutnya yang diperoleh dari hasil penelitian.

3. Bab III Metode Penelitian

Bab ini memuat pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisi data, keabsahan data

21 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: IAIN Jember Press, 2015), 73.

(27)

dan tahap-tahap penelitian. Bab ini berfungsi sebagai acuan yang harus diikuti guna menjawab pertanyaan dalam fokus penelitian.

4. Bab IV Penyajian Data Dan Analisis

Bab ini memuat gambaran obyek penelitian, penyajian dan Analisis Data dan pembahasan temuan.

5. Bab V Penutup atau Kesimpulan Dan Saran

Bab ini menjelaskan tentang kesimpulan dari beberapa pembahasan, dan berisi tentang saran-saran bagi pihak yang bersangkutan. Selanjutnya skripsi ini diakhiri daftar pustaka dan lampiran-lampiran sebagai pendukung didalam pemenuhan kelengkapan data skripsi

(28)

KAJIAN KEPUSTAKAAN

A. Penelitian Terdahulu 1. Penelitian Terdahulu

Pada bagian ini peneliti mencantumkan beberapa hasil dari penelitian terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang hendak dilakukan, kemudian membuat ringkasannya, baik penelitian yang sudah dipublikasikan maupun yang belum terpublikasikan. Dengan melakukan langkah ini maka dapat dilihat sejauh mana orisinalitas dan posisi penelitian yang hendak di lakukan.1

a. Hayu A’la Islami. 2016. Konsep Tazkiyatun Nafs dalam kitab Ihya ulumuddin karya imam Al-Ghazali.2

Persamaan penelitian ini dengan yang peneliti lakukan adalah sama-sama menggunakan metode kualitatif, sama-sama membahas tentang Tazkiyat Al-Nafs.

Perbedaan penelitian ini dengan yang peneliti lakukan adalah penelitian ini lebih menekankan pada kitab Ihya ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Sedangkan yang diambil peneliti adalah memperoleh ketenangan jiwa.

1Tim Penyusun IAIN Jember, Pedoman Karya Tulis Ilmiyah (Jember: IAIN Press, 2015), 73.

2Hayu A’la Islami, Konsep Tazkiyatun Nafs dalam kitab Ihya ulumuddin karya imam Al-Ghazali.

(Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Institut Agama Islam Negeri, Jember), 2016.

(29)

Hasil penelitiannya yaitu berdasarkan hasil analisi data dapat disimpulkan bahwa secara umum Tazkiyatun Nafs adalah proses penyucian jiwa dari perbuatan dosa, proses pembinaan akhlakul karimah (peilaku mulia) dalam diri dan kehidupan manusia. Adapun relevansi konsep tazkiyatun nafs terhadap pendidikan akhlak adalah mengarahkan pada pembentukan pribadi muslim yang mulia. Dengan tujuan pendidikan yang sama yakni kesempurnaan insani dalam hal taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah serta kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka dari itu pendidikan kahlak pada saat ini hendaknya melakukan penyucian jiwa terlebih dahulu sehingga ibadah-ibadah yang dilakukan dapat membekas pada hati dan prilaku manusia.Dengan metode takhalli, tahalli, dan tajalli diharapkan dapat membantu memperbaiki dan menjadi solusi bagi pembinaan akhlak saat ini.

b. Khoirul mustangin. 2014. Metode Tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa) melalui ibadah sholat dan implikasinya terhadap pendidikan akhlak (telaah pemikiran imam al-ghozali).3

Persamaan penelitian ini dengan yang peneliti lakukan adalah sama-sama membahas tentang Tazkiyat Al-Nafs.

3Khoirul mustangin, Metode Tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa) melalui ibadah sholat dan

implikasinya terhadap pendidikan akhlak (telaah pemikiran imam al-ghozali).(Skripsi, Fakultas ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Institut Agama Islam Negeri, sunan kalijaga), 2014.

(30)

Perbedaan penelitian ini dengan yang peneliti lakukan adalah penelitian ini lebih menekankan pada Metode Implementasi sholat terhadap akhlak.Sedangkan yang diambil peneliti adalah memperoleh ketenangan jiwa.

Hasil penelitiannya yaitu pertama konsep penyucian jiwa melalui ibadah shalat pemikiran imam al-ghozali didasarkan pada khusuk menjalankan shalat dalam penyucian jiwa, dan hal-hal yang hadir dalam hati pada setiap syarat dan rukunnya. Kedua, implikasi ibadah shalat dalam pendidikan akhlak yaitu nilai-nilai pendidikan akhlak dalam gerakan shalat, adalah: 1) rasa syukur 2) sikap saling menghormati antar sesama. 3) sifat tentang (tidak mudah stress). 4) selalu istiqomah, sabar dan tidak mudah putus asa. 5) tidak berlebihan 6) sikap tidak egois dan tidak sombong dan kesabaran 7) taat dan tunduk terhadap peraturan. 8) tata cara beretika. 9) peduli terhadap sesama. Kemudian implikasi kekhusu’an dalam ibadah shalat terhadap pendidikan akhlak ialah dapat: a) mendekatkan diri kepada Allah SWT.

b) melatih konsentrasi. c) shalat menimbulkan jiwa yang tenang.

c. Siti Farhanah. 2017. Puasa Dan Takiyatun Nafs Pada Jamaah Suluk Di Ma’had Babul Ulum Abu Lueng IE Al-Aziziyah Barona Jaya Aceh Besar.4

4Siti Farhanah, Puasa Dan Takiyatun Nafs Pada Jamaah Suluk Di Ma’had Babul Ulum Abu Lueng IE Al-Aziziyah Barona Jaya Aceh Besar.(Skripsi, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Institut Agama Islam Negeri Ar-Raniry), 2017.

(31)

Persamaan penelitian ini dengan yang peneliti lakukan adalah sama-sama menggunakan metode kualitatif, sama-sama membahas tentang Tazkiyat Al-Nafs.

Perbedaan penelitian ini dengan yang peneliti lakukan adalah penelitian ini lebih menekankan pada puasa dan pada jamaah suluk.

Sedangkan yang diambil peneliti adalah memperoleh ketenangan jiwa.

Hasil penelitiannya yaitu menunjukkan bahwa puasa memberikan pengaruh bagi 10 dari 13 jamaah suluk terhadap pembentukan karakternya. Puasa juga memberikan pengaruh bagi 11 dari 13 jamaah suluk terhadap keshalehan sosialnya serta puasa dan tazkiyatun nafs memberikan pengaruh bagi 12 dari 13 jamaah suluk terhadap pembentukan tingkah lakunya.

Tabel 2.1

Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu No Nama, Tahun Dan

Judul Penelitian

Persamaan Perbedaan

1. Hayu A’la Islami. 2016.

Konsep Tazkiyatun Nafs dalam kitab Ihya ulumuddin karya imam Al- Ghazali

sama-sama menggunakan metode kualitatif, sama-sama

membahas tentang Tazkiyat Al-Nafs.

penelitian ini lebih menekankan pada

kitab Ihya

ulumuddin karya Imam Al-Ghazali.

Sedangkan yang diambil peneliti adalah memperoleh ketenangan jiwa.

(32)

2. Khoirul mustangin. 2014.

Metode Tazkiyat al-nafs (penyucian jiwa) melalui ibadah sholat dan implikasinya terhadap pendidikan akhlak (telaah pemikiran imam al-ghozali)

Persamaan

penelitian ini dengan yang peneliti lakukan adalah sama-sama membahas tentang Tazkiyat Al-Nafs.

Perbedaan

penelitian ini dengan yang peneliti lakukan adalah penelitian ini lebih menekankan pada Metode Implementasi sholat terhadap akhlak.

Sedangkan yang diambil peneliti adalah memperoleh ketenangan jiwa.

3. Siti Farhanah. 2017. Puasa Dan Takiyatun Nafs Pada Jamaah Suluk Di Ma’had Babul Ulum Abu Lueng IE Al-Aziziyah Barona Jaya Aceh Besar

Persamaan

penelitian ini dengan yang peneliti lakukan adalah sama-sama menggunakan metode kualitatif, sama-sama

membahas tentang Tazkiyat Al-Nafs.

Perbedaan

penelitian ini dengan yang peneliti lakukan adalah penelitian ini lebih menekankan pada puasa dan pada jamaah suluk.

Sedangkan yang diambil peneliti adalah memperoleh ketenangan jiwa.

Orisinalitas dalam penelitian yang dilakukan lebih memfokuskan kepada Tazkiyat Al- Nafs dalam memperoleh ketenangan jiwa di Pondok Pesantren Al- Jaizi Sruni Jenggawah-Jember. Dimana pada penelitian yang terdahulu hanya menekankan pada kitab Ihya ulumuddin karya Imam Al- Ghazali, Metode Implementasi sholat terhadap akhlak serta pada puasa.

B. Kajian Teori

Kajian Teori ini berisikan tentang pembahasan teori yang dijadikan sebagai persepktif dalam penelitian. Pembahasan teori yang terkait dengan penelitian secara luas dan mendalam akan semakin memperluas wawasan

(33)

penelitian penelitian dalam mengkaji permasalahan yang hendak dipecahkan sesuai dengan rumusan dan tujuan penelitian.5

1. Kajian Teori Tazkiyat Al-Nafs a. Pengertian Tazkiyat Al-Nafs

Tazkiyat berarti penyucian, penyucian secara umum atau dalam pengertian moral melalui pemberian sejumlah sedekah melalui sikap kedermawanan. Tazkiyat menurut sufi adalah penyucian batin untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya dengan Tuhan. Melalui berbagai proses yang harus dijalani sesesorang untuk menjadi sufi. Dalam Al- Qur’an Allah berfirman:















“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.” (Al-Dzariyat: 56) .6

Darinya dapat dipahami bahwa ibadah yang dilakukan dengan benar dan sempurna, serta dilaksanakan setelah memenuhi berbagai syaratnya, merupakan sarana untuk mengenal Allah SWT. Semakin berhasil seseorang membentuk dan membina dirinya, ketakwaan seseorang akan semakin bertambah. Sebesar kegagalan dalam membina dirinya sebesar itu pula ia ditekan kegagalan dalam membina dirinya sebesar itu pula ia ditekan dan dikuasi nafsu amarah. Perlu ditegaskan bahwa pelaksanaan berbagai ibadah amat berpengaruh

5Tim Penyusun IAIN Jember, Pedoman Karya Tulis Ilmiyah (Jember: IAIN Press, 2015), 74.

6 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang: CV Asyifa’, 1999), 854.

(34)

terhadap kesucian jiwa manusia.Asalkan ibadah itu dilakukan dengan penuh keikhlasan.7

Jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak, yang menjadi penggerak dan pengatur bagi sekalian perbuatan-perbuatan pribadi (personal behavior) dari hewan tingkat tinggi dan manusia.8

Ruh itu kekal tidak akan mati, ia hidup selama-lamanya.

Sebelum diadakan Nabi Adam dan Hawa, ruh itu telah ada. Bahkan ruh terdahulu diadakan Allah dari pada langit dan bumi.9 Maka Allah sudah menciptakan ruh sebelum menciptakan langit dan bumi beserta isinya, dengan demikian ruh telah ada sebelum terciptnya manusia jauh sebelum lainnya.

Dalam kajian fisasafat, pengertian jiwa diklasifikasikan dengan bermacam-macam teori, antara lain:

1) Teori yang menyatakan bahwa jiwa merupakan sebtansi yang berjenis khusus, yang dilawankan dengan subtansi materi, sehingga manusia dipandang memiliki jiwa dan raga.

2) Teori yang memandang bahwa jiwa merupakan suatu jenis kemampuan, yakni semacam pelaku atau pengaruh dalam kegiatan-kegiatan.

3) Teori yang memandang bahwa jiwa semata-mata sebagai sejenis proses yang tampak pada organisme-organisme tubuh.

7Moh.Toriqqudin, Sekularitas Tasawuf, Membumikan Tasawuf Dalam Dunia Modern (Malang:

UIN Malang Press, 2008), 114.

8Abu Ahmadi, psikologi Umum (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003)., 1.

9 Aboebakar Atjeh, Tarekat Dalam Tasawuf (Bandung: Sega Arsy, 2017), 80.

(35)

4) Teori yang menyamakan pengertian jiwa dan pengertian tingkah laku.10

Dalam psikologi, jiwa lebih menghubungkan dengan tingkah laku sehingga yang diselediki oleh psikologi adalah perbuatan- perbuatan yang dipandang sebagai gejala-gejala dari jiwa. Teori-teori psikologi, baik psikonalisis, behaviorisme, maupun humanisme memandang jiwa sebagai sesuatu yang berada dibelakang tigkah laku.

Agus Mustofa, dalam bukunya menyelam ke samudera jiwa dan Ruh, berpendapat bahwa jiwa sebagai salah satu komponen penysun makhluk hidup, termasuk manusia. Jiwa adalah sosok nonfisik yang berfugsi dan bersemayam didalam tubuh manusia, ia bertanggung jawab terhadap seluruh perbuatan kemanusiaannya. Eksistensi jiwa terbentuk ketika ia bergabung dengan fisiknya. Dan menjadi tidak berfungsi ketika terpisah dari badannya. Jiwa dan fisik adalah dua sisi yang berbeda dalam satu keping mata uang, yang tidak dapat berfungsi sendiri-sendiri. Keduanya dapat berfungsi ketika ada bersama-sama.11

“Bagaimana hakikat perhubungan ruh dengan badan, Allah yang tahu. Siapa mengenal ruhnya atau jiwanya, atau dirinya, berarti ia telah mengenal Allah.”12

10 Istigfarotur Rohmaniyah, Konsep Jiwa Dan Etika Perspektif Ibnu Maskawaih Dalam Kontribusinyadi Bidang Pendidikan (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), 9.

11Istigfarotur Rohmaniyah, Konsep Jiwa Dan Etika Perspektif Ibnu Maskawaih Dalam Kontribusinyadi Bidang Pendidikan (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), 9.

12 Aboebakar Atjeh, Tarekat Dalam Tasawuf (Bandung: Sega Arsy, 2017), 83.

(36)

Imam Al-Ghazali mengatakan an-Nafs (jiwa) adalah dasar tumbuhnya sifat-sifat tercela dan juga kelembutan Rabbaniyah Ruhaniyah. Menurut sebahagian ahli tasawuf, an-Nafs dalam ruh setelah bersatu dengan jasad. Penyatuan ruh dengan jasad menimbulkan pengaruh pada ruh itu sendiri. Sehingga muncullah keinginan-keinginan jasad yang dibangun oleh ruh. Pada saat itu timbullah keinginan-keinginan manusia, diantaranya apa yang terjadi oleh Adam.

Terjadinya berbagai penyakit-penyakit jiwa yang beranak pianak berawal dari nafsu manusia yang tidak terkendali. Maka ia harus di didik dengan baik agar dapat bermakrifat kepada Allah SWT.

Dan membiasakan serta melatih agar benar-benar melaksanakan ibadah kepada Allah. Sebab jiwa manusia memiliki kecendrungan kearah fujur (keburukan) dan taqwa (kebaikan).

Sa’id Hawwa menawarkan terapi penyakit jiwa dengan menentang dorongan hawa nafsu, ketika ia mengajak kepada perbuatan maksiat atau bersantai-santai dalam hal yang diperbolehkan.

Kemungkinan juga ada rintangan dari manusia dalam melakukan ketaatan kepada Allah, serta menentukan pakaian sesuai dengan peraturan-peraturan yang wajib dan yang di As-Sunnahkan.

(37)

Untuk itulah titik tolak dari kesehatan jiwa adalah membenci hawa nafsu. Berkata Ibnu Atha’, “sumber dari maksiat adalah nafsu birahi, dan kelalaian adalah kesenangan hawa nafsu. Sedangkan sumber dari ketaatan, keterjagaan, dan pengekangan diri dari hal yang hina adalah membenci hawa nafsu. Bagimu berteman dengan orang bodoh yang membenci hawa nafsunya lebih baik dari pada berteman dengan orang pandai yang menyukai hawa nafsunya”.13

Penyucian jiwa dapat dilakukan dengan proses tazkiyat al-nafs yang dalam konsepsi tasawuf didasarkan pada asumsi bahwa jiwa manusia ibarat cermin, dengan demikian kesucian jiwa merupakan syarat bagi masuknya hakikat dan ilmu makrifat kedalam jiwa.14

b. Metode Tazkiyat Al-Nafs

Seperti diuraikan terdahulu, bahwa esensi ibadah dalam Islam bertujuan peningkatan kualitas rohaniyah secara gradual dan kumulatif. Dalam hal ini masyarakat sufi memiliki pandangan yang khas, dimana mereka memiliki kesadaran yang lebih dalam tentang betapa pentingnya kesucian rohaniyah bagi kehidupan menusia. Oleh karena kesadaran yang demikian, maka dalam upaya “Tazkiyat Al- Nafs” ini, dalam sufisme dikenal berbagai teori dan sistem sesuai

13Dedi Suriansah, “Pemikiran Sa’id Hawwa Tentang Jiwa”, (Tesis, IAIN SumateraUtara, Medan, 2012),61.

14Masyharuddin, Pemberontakan Tasawuf (Surabaya: JP Books, 2007), 238.

(38)

dengan aliran dan tujuan masing-masing adalah apa yang disebut dengan takhalli-tahalli dan meningkatkann pada tahap tajalli.15

1) Takhalli

Langkah pertama yang harus ditempuh adalah usaha mengosongkan diri dari sikap ketergantungan terhadap kelezatan hidup duniawi. Hal ini akan dapat dicapai dengan jalan menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam segala bentuknya dan berusaha melenyapkan dorongan hawa nafsu, karena hawa nafsu itulah yang menjadi penyebab utama dari segala sifat yang tidak baik.16

2) Tahalli

Dengan selesainya proses pembersihan diri dari cengkraman

“Hawa Nafsu”, maka tahap berikutnya adalah pengisian kembali jiwa yang bersih itu dengan sifat-sifat terpuji. Kebiasaan lama yang ditinggalkan, diganti dengan kebiasaan baru yang baik.17 Ini juga tahap seorang untuk memasuki tarekat, yang harus dilakukan yang pertama yaitu Baiat, yang tidak lain adalah sumpah atau pernyataan kesetiaan yang diucapkan oleh seorang murid kepada guru musryid sebagai simbol penyucian serta keabsahan seseorang mengamalkan ilmu tarekat. Jadi baiat semacam upacara sakral yang yang harus

15Rivay Siregar, Tasawuf Dari Sufisme Klasik Ke Neo Sufisme (Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada, 2002), 242.

16 Ibid., 102.

17Ibid., 245.

(39)

dilakukan setiap orang yang ingin mengamalkan tarekat.18 Berdizkir adalah melakukan atau membaca bacaan yang suci yang menyebabkan seorang ingat kepada Allah dengan segala kebesaran-Nya.19

Dzikir dalan thariqah, dilakukan dalam waktu-waktu tertentu dan dengan teknik tertentu pula. Dzikir khafi misalnya, didasarkan pada ritme nafas, penghembusan, dan penghirupan.20

Dzikir yang paling digemari dalam tarekat Naqsyabandiyah adalah apa yang mereka sebut Dzikir Lathifah Tujuh. Disebut Lathifah Tujuh karena dzikir ini terdiri dari tujuh macam dan tujuh lapisan, dengan kalimat dzikirnya “Allah”.

Adapun nama ruh itu bukanlah ruh saja, bahkan amat banyak pula, yakni menurut sifat-sifat dari ruh dinamai seperti yang tersebut:

1. Ruh itu dikatakan hati Ruhani.

2. Ruh itu dikatakan hati Nurani 3. Ruh itu dikatakan hati Rabbani 4. Ruh itu dikatakan hati Sanubari 5. Ruh itu dikatakan Akal (fikiran) 6. Ruh itu dikatakan hati yang Batin 7. Ruh itu dikatakan Nyawa (jiwa)

8. Ruh itu dikatakan Nafsu, (nama nafsu 7 macam) 9. Ruh itu dikatakan Sukma

10. Ruh itu dikatakan Rahasia Allah 11. Ruh itu dikatakan Jufi (rongga) 12. Ruh itu dikatakan Sudur (dada) 13. Ruh itu dikatakan Qalbi (hati) 14. Ruh itu dikatakan Fuad 15. Ruh itu dikatakan Syagafa 16. Ruh itu dikatakan Insa

17. Ruh itu dikatakan Sir (rahasia Allah)

18Muhsin Jamil, Tarekat Dan Dinamika Sosial Poitik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 65.

19Rizki Joko Sukmono, Psikologi Zikir (Jakarta: Sri Gunting, 2008), 1.

20Muhsin Jamil, Tarekat Dan Dinamika Sosial Poitik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), 65.

(40)

18. Ruh itu dikatakan Latifah Qalbi, 5000+membaca Allah, Allah, Allah.

19. Ruh itu dikatakan Latifah Ruh, 1000+membaca Allah, Allah, Allah.

20. Ruh itu dikatakan Latifah Sir, 1000+membaca Allah, Allah, Allah.

21. Ruh itu dikatakan Latifah Khafi, 1000+membaca Allah, Allah, Allah.

22. Ruh itu dikatakan Latifah Akhfa, 1000+membaca Allah, Allah, Allah.

23. Ruh itu dikatakan Latifah Nafsu Natiqah, 1000+membaca Allah, Allah, Allah.

24. Ruh itu dikatakan Latifah Kullu Jasad, 1000+membaca Allah, Allah, Allah.

25. Ruh itu dikatakan Latifah Nurullah, Nur Zatullah, Sifatullah, Nur Asma Allah

26. Ruh itu dikatakan Nur Muhammad/Nur Baginda Rasulullah 27. Ruh itu dikatakan Latifah Rabbaniyah Ruh aniyyah.

28. Ruh itu dikatakan tempat tertulis kalimah Allah, Allah, Allah.

29. Ruh itu dikatakan tempat tertulis kalimah La illaha illallah 30. Ruh itu dikatakan seolah-olah cermin Tajalli Nama Allah 31. Ruh itu dikatakan seolah-olah cermin Tajalli ‘af’alullah 32. Ruh itu dikatakan seolah-olah cermin Tajalli sifatullah 33. Ruh itu dikatakan seolah-olah cermin Tajalli Zatullah

34. Ruh itu dikatakan juga Nafsu Muthmainnah atau jiwa-jiwa yang tentram, jiwa yang tenang, jiwa yang bersih, jiwa yang suci.

35. Ruh itu dikatakan Nafsu Ammarah 36. Ruh itu dikatakan Lawwamah.21

Jadi jumlah zikir pada 7 latif (7 tempat) banyaknya 5000+1000+1000+1000+1000+1000+1000 = 11000.

Zikir latif mengerjakan zikir pada 7 tempat, lihat kembali nama ruh dari bilangan 18 hingga 24 yaitu:

a. Lathifah Qalb, dzikir hati nurani yang dilakukan sebnayak 5000 X dalam sehari semalam. Lathifah qalb ini adalah fungsi spiritual jantung, karena itu dzikir disini merupakan iringan denyut jantung. Apabila Lathifah ini telah bersih dari pengaruh

21 Aboebakar Atjeh, Tarekat Dalam Tasawuf (Bandung: Sega Arsy, 2017), 83.

(41)

“Nafs al-ammarah”, maka seorang akan dapat menerima ilham dari Allah, bahkan akan dapat melihat Allah melalui “ain al- bashirah” atau mata hati, dan di saat itulah seseorang

“berjumpa” dengan Allah. Oleh karena itu, lathifah ini juga disebut “Lathifah Rabbaniyah”, induk dari semua lathifah.

Apabila seseorang telah berhasil dalam lathifah ini, maka ia akan bisa berhubungan langsung dengan Allah, seperti halnya yang pernah dialami para Nabi, terutama Nabi Musa As.22

b. Lathifah Ruh, tempatnya berada diparu-paru yang dilambangkan sebagai wadah “Nafs al-hayawaniyah” dengan symbol cahaya merah. Tujuan dzikri pada lathifah ini adalah untuk melenyapkan pengaruh nafsu hayawani sehingga manusia ia terbebas dari sifat-sifat kebinatangan. Dzikir lathifah ini sebanyak 1000 X dan disebut sunnah Ibrahim-Nuh.

c. Lathifah Sirr, yang bertempat dihati biologisnya dan merupakan wadah “sifat sabi ‘iyah” atau sifat binatang buas. Oleh karena itu, fungsi dzikir pada lathifah ini adalah untuk melumpuhkan segala sifat yang mirip dengan kekerasan binatang buas, yang diucapkan sebanyak 1000 X dan disimbolkan dengan warna cahaya putih. Manfaat dzikir lathifah ini adalah membukakan jalan untuk dapat merasakan kebersamaan dengan Allah, tidak

22 Rivay Siregar, Tasawuf Dari Sufisme Klasik Ke Neo Sufisme (Jakarta: Pt Raja Grafindo Persada,

2002), 248.

(42)

ada lagi yang dilihat dan dirasakan selain Allah. Dzikir ini disebut sebagai sunnah Nabi Musa.

d. Lathifah khafi, yang bertempat pada limpa jasmani dengan lambing warna hitam sebagai symbol sifat-sifat syaithoiyah.

Dengan demikian dzikir ini bertujuan utamanya untuk mengikis habis pengaruh-pengaruh syetan dari diri manusia, dengan mewiridkan dzikir sebanyak 1000 X. apabila dzikir ini berhasil maka menumbuhkan sifat sabar, ridha dan tawakkal. Lathifah ini disebut sebagai sunnah Nabi Isa As.

e. Lathifah Akhfa, yang bertempat yang bertempat di empedu dengan lambing cahaya hijau. Lathifah ini bersarang sifat

“Rabbaniyah”, yakni sifat-sifat yang menyebabkan seseorang berlagak seperti Tuhan, seperti sombong, mau menang sendri, dan lain-lain. Dzikir lathifah ini diarahkan sejumlah 1000 X.

Lathifah ini disebut sebagai sunnah Nabi Muhammad SAW.23 f. Lathifah Nafs An-Natiqah, bertempat di otak dengan lambing

cahaya gilang-gemilang sebagai symbol “nafs al-ammarah” atau

“instink”, yang merupakan penghalang yang amat kuat bagi orang yang ingin mencari keridhaan Ilahi. Nafs ini selalu merangsang orang untuk berbuat jahat, karena itu kearah benak inilah dzikir diarahkan sebanyak 1000 X sampai sifat jahat itu

23 Ibid., 249.

(43)

terbakar dan berganti dengan tumbunya ketentraman dan ketenangan pikirian.

g. Lathifah Kullu Jasad, yakni lathifah yang meliputi seluruh tubuh ragawi, dengan lambing cahaya yang indah gemilang. Dalam lathifah ini bersarang sifat “jahil” dan sifat “ghaflat”, sifat kebodohan dan kelalaian. Apabila seseorang mengamalkan dzikir lathifah ini secara terus-menerus, mengalirkan jiwa dzikir pada seluruh tubuhnya, menyelusup keseluruh badannya, menyirami sekujur ragawinya sehingga berbaurlah dzikir itu dengan darah dagingnya, mencair bersama nafasnya. Inilah kebahagiaan yang tiada taranya, karena ia telah berada di

“Hadirat Illahi Rabbi”. Oleh karena itu, dalam bahasa sufisme lathifah ini disebut Sulthan al-azkar, maharajanya dzikir.

Dalam pelaksanaannya bukan berarti harus berturut sesuai dengan nomor urut diatas, kecuali nomor urut di atas, kecuali nomor tujuh memang harus merupakan tahapan terakhir atau dzikir muntahi. Sebab, apabila telah dapat diselesaikan lathifah yang enam, maka lathifah kullu jasad adalah semacam pengintegrasian seluruh lathifah yang dilaksanakan secara simultan.24

24Rivay Siregar, Tasawuf Dari Sufisme Klasik Ke Neo Sufisme (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), 248.

(44)

3) Tajalli

Dalam rangka pemantapan dan pendalaman materi yang telah dilalui pada fase tahalli, maka rangkaian pendidikan itu disempurnakan pada fase tajalli. Kata ini berarti terungkapnya nur gaib bagi hati.

Apabila jiwa telah terisi dengan butir-butit mutiara akhlak dan organ-organ tubuh sudah terbiasa melakukan perbuatan- perbuatan yang luhur, maka agar hasil yang telah di peroleh itu tidak berkurang, perlu penghayatan rasa keTuhanan. Satu kebiasaan yang dilakukan dengan kesadaran yang optimum dan rasa kecintaan yang mendalam, akan menumbuhkan rasa rindu kepadanya. Para sufi sependapat bahwa untuk mencapai tingkatan ksempurnaan kesucian jiwa itu hanya dengan satu jalan, yaitu cinta kepada Allah dan memperdalam rasa kecintaan itu. Dengan kesucian jiwa ini, barulah akan terbuka jalan untuk mencapai Tuhan. Tanpa jalan ini tidak ada kemungkinan terlaksananya tujuan itu dan perbuatan yang dilakukan tidak dianggap perbuatan yang baik.Untuk memperluas dan memperdalam rasa ke-Tuhan-an dalam jiwa seseorang.25

2. Kajian Teori Ketenangan Jiwa

Jiwa muthmainah (jiwa yang tenang) adalah jiwa yang diterangi oleh cahaya hati nurani, sehingga bersih dari sifat-sifat yang tercela, dan stabil dalam kesempurnaan. Jiwa ini merupakan awal mula (starting ponit) untuk tingkat kesempurnaan, maka apabila

25Ibid., 105.

(45)

seorang salik telah memiliki jiwa ini, maka berarti ia telah menginjakkan tingkatan tarekat menuju kepada tingkatan hakikat.26 Jiwa yang tenang ini meruapakan tahap sempurna yang dicapai melalui penyucian dan pembinaan diri. Manusia yang mencapai tahap ini dapat mengendalikan kecenderungan dirinya. Akal dan imannya menjadi sangat kuat sehingga kecenderungan dalam diri tak mampu melawan dirinya.

Inilah tahap ketengan yang menguasai alam dunia. Alam dunia sendiri dengan samudera luasnya tak mampu menundukkan badai gelombang besar dalam dirinya. Inilah kedudukan para nabi, kekasih Allah, dan orang orang yang mengikuti mereka. Mereka mendapat pelajaran iman dan takwa dimadrasah ilahiah, melakukan penyucian diri dan jihad akbar hingga mencapai tahap akhir ini.

Kata “Muthma’innah” mengisyaratkan pada ketenangan yang dicapai melalui keimanan. Firman Allah: Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.

Jiwa seperti itu memiliki keyakinan akan janji Allah dan jalan yang ditempuhnya. Ia tenang hidup didunia dan ketika meninggalkan dunia.

Tenang dalam menghadapi berbagai cobaan, musibah dan ujian dunia.

Pada hari kiamat pun meski kejadiannya lebih mencekamkan dan menakutkan dari pada itu ia merasa tenang.

26Istigfarotur Rohmaniyah, Konsep Jiwa Dan Etika Perspektif Ibnu Maskawaih Dalam Kontribusinyadi Bidang Pendidikan (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), 21.

(46)

Dalam akidah, maksud kembali kepada Allah ialah kembali pada (menerima) pahala dan rahmat-Nya. Tetapi makna yang lebih baik untuk

“kembali kepada-Nya” ialah mencapai kedudukan qurb (dekat dengan) Allah, kembali secara ruhani dan spiritual, bukan secara jasmani dan bersifat tempat yang dicapai.

Maksud “radhiyah” (hati yang puas) ialah karena baginya semua janji pahala Allah lebih dari sekedar janji yang pasti ditepati. Jiwa itu melihat janji Allah dekat dan nyata. Ia diliputi karunia dan rahmat yang membuat dirinya rida dan bahagia. Kata “mardhiyah” (diridai Allah) ialah karena ia telah menerima dan mendapatkan keridaan sang kekasih.

Dengan kiteria-kriteria itu, hamba yang rida dan pasrah total kepada Allah mencapai hakikat penghambaan bahwa segala sesuatu yang dilaluinya adalah di jalan Allah sang ma’bud. Ia melangkah sebagaimana jalan para kekasih Alllah. Jelas tempat yang layak baginya hanyalah surga.27

Dalam rangka upaya menjadikan dzikir sebagai kebutuhan hidup dan kehidupan dan pembinaan suasana yang kondusif untuk mengabdikan

“ Nafs Muthmainnah” dalam diri, maka diperlukan sikap disiplin dan istiqamah dalam lima hal, yakni

a. Mu’ahadat, yakni selalui ingat dan sadar akan janji yang telah diikrarkan kepada Allah. Setiap muslim berulang kali mengucapkan janji dirinya pribadi kepada Allah atas berbagai hal. Sejak dialam

27Said Husain Husaini, Bertuhan Dalam Pusaran Zaman: 100 Pelajaran Penting Akhlak Dan Moralitas (Jakarta: Penerbit Citra, 2013),292.

(47)

arwah, manusia telah mengikat janji bahwa ia akan taat dan setia kepada Allah sebagai satu-satunya pencipta dan pemelihara, sebagai satu-satunya Tuhan yang layak dan wajib disembuh.

b. Muhasabah, memikirkan, menganalisis dan memperhitungkan secara teliti dan jujur segala apa yang sudah dan akan dilakukan. Muhasabah diperlukan dalam kehidupan, karena apa saja yang dilakukan semasa hidup akan dipertanggung jawabkan di hari akhir kelak. Keberanian melakukan muhasabah akan menuntun seseorang untuk lebih berhati- hati dalam segala aspek kehidupan, teliti dalam mengambil sikap dan tindakan yang akan datang. Apabila ditemui kesalahan, segera dilakukan perbaikan dan penggantian, apabila terdapat kekurangan segeralah ditambah. Membiasakan diri dengan sikap teliti, menilai diri, menimbang dan mengukur apa yang dilakukan, adalah sikap yang akan menghindarkan orang dari kelalaian akan hak dan tanggung jawabnya.

Sesungguhnya muhasabah nafs merupakan perkara yang besar dan kedudukannya penting. Oleh karena itu, muhasabah nafs dapat dibagi menjadi dua bagian yang penting;

Pertama: Muhasabah Nafs sebelum beramal.Kedudukannya berada ketika pertama kali berkehendak dan berkeinginan, dan berkeinginan, dan tidak bersegera beramal, sehingga jelas baginya kejelasannya atas meninggalkannya.

(48)

Kedua: muhasabah nafs setelah beramal. Hasan Basri ra berkata:

manusia yang peling mudah dihisab pada hari kiamat adalah orang- orang yang dahulunya di dunia telah mengadakan muhasabah terhadap dirinya, maka mereka berdiri pada keinginan dan amal-amalnya. Maka jika ia berkehendak karena Allah dia laksanakan, dan jika kehendaknya atasnya mereka mencegahnya. Hanya orang yang berat hisabnya adalah orang yang meremehkan perkara-perkara, maka mereka mendapatkan Allah SWT. Menghitung atasnya walaupun sebiji sawi.28

c. Mu’aqabah, pemberian sanksi kepada diri sendiri apabila kenyataan hasil muhasabah menunjukkan nilai kurang walau sekecil apa pun.

Tujuan pemberian sanksi kepada diri sendiri agar lebih sadar diri akan adanya sanksi yang lebih berat di akhirat nanti. Keberanian menghukum diri sendiri, tidak cukup dengan taubat atau penyesalan diri, tetapi harus dalam bentuk nyata misalnya saja, seorang yang sudah berpuasa senin dan kamis satu hari terlupa karena keasyikan duniawi, maka ia harus mengganti kelalaiannya itu dengan berpuasa seminggu penuh.

d. Muraqabah, adalah kesadaran rohaniah tentang “kebersamaan” dengan Allah dalam segala suasana. Artinya di mana saja berbeda, dalam suasana dan kondisi yang bagaimanapun, “kebersamaan” dengan Allah harus dihidupkan dalam hati. Kesadaran spiritual yang demikian akan menutup hasrat-hasrat yang menyimpang, tetapi akan memperkuat

28Abdul Barro’ Saad Bin Muhammad Ath-Thakhisi, Tazkiyatun Nafs (Surakarta: Cv. Pustaka Mantiq, 1997), 218.

(49)

tekad untuk melakukan yang baik dan terbaik, agar dapat selalu bersama Allah.29 Muraqabah yang dimaksud muraqabah dalam tradisi sufi adalah kondisi kejiwaan yang dengan sepenuhnya ada dalam keadaan konstrentasi dan waspada. Sehingga segala daya pikir dan imajinasinya tertujuh pada satu fokus kesadaran tentang dirinya. Lebih jauh, muraqabah akan penyatuan antara tuhan, alam dan dirinya sendiri sebagai manusia. Atau dengan istilah lain, kesadaran akan kesatuan antara micromos, makromos, dan metakosmos.

Muraqabah merupakan bentuk hal yang sangat penting. Karena pada dasarnya segala perilaku peribadatan adalah rangka muraqabah atau mendekatkan diri kepada Allah. Dengan kata lain muraqabah juga dapat diartikan kondisi kejiwaan, dimana seseorang individu senantiasa merasakan kehadiran Allah, serta menyadari sepenuhnya bahwa Allah selalu mengawasi segenap perilaku hambanya. Dengan kesadaran semacam ini, seorang hamba akan selalu mawas diri, menjaga diri untuk tetap pada kulitas kesempurnaan penciptaannya.

Al-Qurasyiri menyebutkan bahwa seorang bisa sampai pada keadaan muraqabah, jika ia telah sepenuhnya melakukan perhitungan atau analisis terhadap perilakunya di masa lalu dan melakukan perubahan-perubahan menuju perilaku yang lebih baik.

29Rivay Siregar, TasawufDari Sufisme Klasik Ke Neo Sufisme (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), 255.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini menyimpulkan beberapa hal, bahwa pelaksanaan tazkiyat al-Nafs dalam pembinaan tahanan dan narapidana Lembaga Pemasyarakatan Kelas II A

Selain itu, al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dengan penyebutan kata nafs yang begitu banyak sebenarnya telah memberikan konsep jiwa kepada manusia.. Meskipun hal tersebut

Penelitian  ini  bertujuan  menjawab  permasalahan  tentang  Bagaimana  pandangan  Islam 

MAKNA KETENANGAN JIWA PADA LANSIA SETELAH MENGAMALKAN AJARAN TAREKAT QADIRIYYAH

Dapatan analisis kandungan model al-Muhasibi dalam merawat al-Nafs adalah menghasilkan enam konstruk utama iaitu mengenal hakikat diri insan, mengenal jiwa insan, penyahan

Salah satu tujuan dari pendidikan Islam bagi lansia untuk memperoleh ketangan jiwa (batin).. Sedangkan pola umum dalam penyelenggaraan pendidikan Islam bagi Lansia

Quraisy Shihab tentang ayat 3 jenis jiwa nafs di dalam kitab Tafsir al Mishbah serta bagaimana mengatasi problematika jiwa manusia dalam membentuk karakter yang sesuai dengan nafs

Kesehatan mental dan ketenangan jiwa sangat berhubungan erat dengan agama. Agama dapat digunakan sebagai terapi dalam penyembuhan penyakit gangguan