• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teachers’ Efforts in Developing Social Emotional in TK Aisyiyah Bustanul Atfhal Kecamatan Mapat Tunggul Kabupaten Pasaman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Teachers’ Efforts in Developing Social Emotional in TK Aisyiyah Bustanul Atfhal Kecamatan Mapat Tunggul Kabupaten Pasaman"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

1

Teachers’ Efforts in Developing Social Emotional in TK Aisyiyah Bustanul Atfhal Kecamatan Mapat Tunggul Kabupaten Pasaman

by:

Nurpalina*

Dr. Helma, M.Pd**

Fuaddillah Putra, M.Pd., Kons**

*Student

**Lecturers

Guidance and Counseling Study Program,STKIP PGRI West Sumatera Email: [email protected]

ABSTRACT

This research is motivated for learners who less concerned about their friend with more distress and the learners who bring less enjoyable emotional expressions such as anger excessive.

The aim of this study was to describe the efforts of teachers in developing emotional social learners through modeling and imitating, cooperative play, and learn to share. This type of research is descriptive qualitative, one key informant and three additional informants. Data were collected through interview. Based on the analysis conducted revealed that: the efforts of teachers in developing emotional social learners through modeling and imitating is the way the teacher modeled and taught students to stand in line waiting for their turn to use the game, through play cooperatively the teacher gave each task to learners for common purpose, and share through learning is the way teachers instill caring nature towards others to the learners. Based on the results of this study recommended the kindergarten teacher.

Keywords: Efforts of teachers, social emotional development of learners PENDAHULUAN

Taman Kanak-kanak (TK) merupakan salah satu pendidikan peserta didik usia dini pada jalur pendidikan formal yang menyelenggarakan program bagi peserta didik usia dini dan sebagai sumber belajar atau sebagai tempat sesuatu yang dapat menjadi pangkal permulaan untuk belajar. UU No. 20 Tahun 2003, yaitu tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 1 ayat 14 yang menyatakan bahwa pendidikan peserta didik usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada peserta didik sejak lahir sampai.

Pasal 28 ayat 3 juga menjelaskan bahwa TK menyelenggarakan pendidikan untuk mengembangkan kepribadian dan potensi diri sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. program pembelajaran yang sudah direncanakan seperti kegiatan bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain (Suyadi, 2013:184)

Menurut Latif (2013:77) secara bahasa, bermain diartikan sebagai suatu aktivitas yang

langsung atau spontan senada dengan itu Susanto (2011:134) dengan bermain peserta didik memiliki kesempatan untuk berekplorasi, menemukan, mengekspresikan perasaan, berkreasi dan lain-lain. kegiatan belajar sambil bermain dapat membentuk sosial emosional peserta didik usia dini dimana dalam kegiatan belajar sambil bermain ini guru TK dapat melakukan modeling dan imitating, bermain kooperatif, dan belajar berbagi (sharing).

Nugraha (2008:9.17) modeling dan imitating adalah peniruan sikap, tingkah laku, serta cara pandang orang lain yang dilakukan secara disengaja. Bermain kooperatif adalah permainan yang melibatkan sekelompok peserta didik, dimana setiap peserta didik mendapatkan peran dan tugas masing-masing yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan bersama. Belajar berbagi (sharing) merupakan keterampilan sosial yang sangat dibutuhkan peserta didik. Melalui sharing peserta didik akan terlatih untuk membaca situasi lingkungan, belajar berempati terhadap

(2)

kebutuhan peserta didik lain, belajar bermurah hati, melatih sikap lebih sosial, serta bertahap meninggalkan perilaku egosentrismenya.

Peserta didik dapat dilatih untuk berbagi makanan, berbagi mainan hingga akhirnya berbagi cerita.

Karakteristik atau ciri-ciri perkembangan sosial dan emosional peserta didik usia 4-6 tahun menurut Steinberg dkk, 1995 (Susanto, 2011:152) sebagai berikut:

a. Lebih menyukai bekerja dengan dua atau tiga teman yang dipilih sendiri, bermain dalam kelompok dan senang bekerja berpasang-pasangan.

b. Mulai mengikuti dan mematuhi aturan serta berada pada tahap heteronomous morality.

c. Dapat membereskan alat mainan d. Rasa ingin tahu yang besar, mampu

bicara dan bertanya apabila diberi kesempatan, dapat diajak diskusi.

e. Mulai dapat mengendalikan emosi diri.

f. Mempunyai kemampuan untuk berdiri sendiri.

Menurut Aisyah dkk, (2014:9.58) perkembangan sosial emosional yang perlu dikembangkan sejak dini yaitu rasa aman dan kasih sayang, konsep diri, kontrol diri, harga diri, bermain, empati dan kasih sayang senada dengan itu Balitbang, 2002 (Yusuf, 2011:53) mengemukakan karakteristik sosial emosi peserta didik usia dini sebagai berikut 1) tenggang rasa, 2) bekerja sama, 3) dapat bermain atau bergaul dengan teman, 4) dapat berimajinasi, 5) mulai belajar berpisah dari orangtua, 5) mengenal dan mengikuti aturan, 6) merasa puas dengan prestasi yang diperoleh, 7) menunjukkan reaksi emosi yang wajar.

Adapun secara khusus layanan bimbingan dan konseling pada peserta didik usia dini menurut Syaodih (2011:1.6) dilakukan untuk membantu mereka untuk dapat:

a. Lebih mengenal dirinya, kemampuannya, sifatnya, kebiasaanya, dan kesenangannya;

b. Mengembangkan potensi yang dimilikinya;

c. Mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya;

d. Menyiapkan mental dan sosial peserta didik untuk masuk ke lembaga pendidikan selanjutnya.

Selain itu, di tinjau dari sudut orangtua, kegiatan bimbingan dan konseling pada peserta didik usia dini ini dapat dilakukan untuk:

a. Membantu orangtua agar mengerti, memahami dan menerima peserta didik sebagai individu;

b. Membantu orangtua dalam mengatasi gangguan emosi pada peserta didik yang ada hubungan dengan situasi keluarga di rumah

c. Memberi informasi kepada orangtua untuk memecahkan masalah kesehatan peserta didik.

Berdasarkan observasi yang peneliti lakukan di TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Rumbai Kecamatan Mapat Tunggul Kabupaten Pasaman pada tanggal 05 Januari 2015 maka dapat diketahui adanya peserta didik yang suka bermain sendiri ketimbang bermain bersama dengan temannya, peserta didik kelihatan lebih mementingkan diri sendiri, dan tidak peduli dengan orang lain.

Peserta didik memunculkan ekspresi emosi yang kurang menyenangkan seperti amarah yang meledak-ledak dan adanya guru TK yang pilih kasih.

Selain observasi peneliti juga melakukan wawancara dengan salah satu guru yang berinisial DE pada tanggal 10 Januari 2015 bahwa kurangnya sokongan dari guru dan juga dari orangtua seperti orangtua yang kurang memperhatikan minat/hobby yang ada dalam diri peserta didik. Berdasarkan fenomena di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang “Upaya guru dalam mengembangkan sosial emosional peserta didik di TK ABA Rumbai Kecamatan Mapat Tunggul Kabupaten Pasaman.”

Berdasarkan identifikasi masalah di atas maka penelitian ini difokuskan kepada upaya guru dalam mengembangkan sosial emosional peserta didik melalui modeling dan imitating, bermain kooperatif, dan belajar berbagi (sharing) sedangkan, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan upaya guru TK dalam mengembangkan sosial emosional peserta

(3)

didik melalui modeling dan imitating, bermain kooperatif, dan belajar berbagi (sharing).

METODE PENELITIAN

Berdasarkan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah ditetapkan, maka dapat ditentukan bahwa penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang menghasilkan data deskriptif. Penulis menggambarkan upaya guru dalam mengembangkan sosial emosional peserta didik di TK aisyiyah bustanul atfhal Rumbai Kecamatan Mapat Tunggul Kabupaten Pasaman. Informan pada penelitian ini yaitu informan kunci sebanyak satu orang yang berinisial DE. Sedangkan informan tambahannya tiga orang yang berinisial EL, DF, dan EV.

Untuk memperjelas fokus penelitian ini, maka dapat dijelaskan variabel dalam penelitian ini adalah upaya guru dalam mengembangkan sosial emosional peserta didik, melalui modeling dan imitating, bermain kooperatif, dan belajar berbagi (sharing). upaya yang akan dilihat nantinya melalui modeling dan imitating yaitu sikap dan tingkah laku, melalui bermain kooperatif yaitu kerja sama, sedangkan melalui belajar berbagi (sharing) yaitu belajar berempati, dan bersikap lebih sosial.

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan metode wawancara kepada informan penelitian. Menurut Moleong (2010:186) wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara yang memberi jawaban atas pertanyaan itu. Pengolahan data dilakukan setelah data terkumpul dan dianalisis dengan menggunakan triangulasi data. teknik analisis data dilakukan setelah semua data sudah dikumpulkan yaitu dengan tiga tahap yaitu reduksi data penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

Menurut Sugiyono (2011:338) ada beberapa komponen dalam menganalisis data sebagai berikut:

1. Data reduction (reduksi data).

Merupakan merangkum, memilih hal- hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema dan

polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan mencarinya jika diperlukan.

2. Data display (penyajian data).

Merupakan kelanjutan dari reduksi data, di mana data disajikan dengan dalam bentuk tabel, grafik, phie chard, pictogram, dan sejenisnya. Melalui penyajian data tersebut, maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan sehingga akan semakin mudah difahami.

3. Conclusion drawing (verifikasi).

Merupakan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan penelitian dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan bisa berubah jika tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembahasan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Upaya Guru dalam Mengembangkan Sosial Emosional Peserta Didik Melalui Modeling dan Imitating.

a. Sikap

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci DE serta informan tambahan guru, kepala sekolah, dan orangtua peserta didik bahwa guru mencontohkan kepada peserta didik tentang menunggu giliran baik itu dalam bermain, bersalaman

dengan guru hendaknya

membudayakan antri. Guru tetap berbicara dengan lemah lembut kepada peserta didik yang tidak sabar menunggu giliran (antri). Guru membagi peserta didik untuk bermain berkelompok-kelompok.

b. Tingkah Laku

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci DE serta informan tambahan guru, kepala

(4)

sekolah, dan orangtua peserta didik bahwa guru membagi atau membentuk kelompok bermain sesuai dengan keinginan peserta didik untuk menghindar terjadinya perebutan mainan. Guru menata ruang mainan dengan baik dan menerangkan aturan main sebelum peserta didik melakukan permainan. Guru menanamkan sikap mau berbagi kepada peserta didik.

Guru mengarahkan peserta didik untuk berperilaku baik seperti suka kerja sama, tolong menolong, berbagi, simpati, empati, dan saling membutuhkan satu sama lain. Guru menyampaikan bahwa peserta didik tidak boleh membeda-bedakan teman, semua teman sama.

Pernyataan data di atas dapat diketahui upaya guru dalam mengembangkan sosial emosional peserta didik melalui modeling dan imitating sebagai mana dijelaskan menurut Gunarti (2010:1.14) dalam perkembangan sosial, setiap peserta didik akan melalui sebuah proses panjang yang pada akhirnya nilai-nilai sosial tersebut menjadi bagian dalam diri seorang peserta didik. Berikut akan digambarkan alur proses sosialisasi pada setiap individu. Mulai sejak lahir sampai ia menjadi dewasa.

1) Proses Imitasi 2) Proses Identifikasi 3) Proses Internalisasi

Senada dengan itu Nugraha (2008:9.17) Imitasi adalah peniruan sikap, tingkah laku, serta cara pandang orang lain yang dilakukan secara disengaja. Menurut Nugraha (2008:9.17) Proses peniruan ini sangat wajar pada peserta didik bahkan mungkin terjadi pada masa dewasa, namun sekalipun namanya meniru, objek yang ditiru pun harus memenuhi persyaratan, seperti berikut:

1) Tingkah laku yang ditiru merupakan tingkah laku yang mendapat penguatan, yaitu mendapat respons positif atau negatif dari lingkungannya, misalnya peserta didik meniru tingkah laku kakaknya yang

menagis berguling-guling untuk mendapatkan sesuatu. oleh karena itu, guru dan orangtua harus menjaga lingkungan peserta didik sehingga peniruan terhadap perilaku buruk dapat di hindarkan.

2) Umumnya peserta didik meniru tingkah laku orang dewasa ketimbang tingkah laku peserta didik sebayanya. Dengan demikian, orang dewasa di sekitar peserta didik diharapkan dapat menjadi contoh yang baik.

2. Upaya Guru dalam Mengembangkan Sosial Emosional Peserta Didik Melalui Bermain Kooperatif

a. Bekerja Sama

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci DE serta informan tambahan guru, kepala sekolah, dan orangtua peserta didik bahwa cara mengajarkan untuk bekerja sama kepada peserta didik dengan teman sebayanya adalah melalui bermain kooperatif dengan menanamkan sikap tolong menolong terhadap peserta didik misalnya membersih perkarangan sekolah, baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan, apabila salah satunya sudah selesai dan mengarahkan peserta didik untuk membantu teman yang belum selesai.

Usaha yang dapat dilakukan untuk membantu peserta didik dalam bekerja sama dengan teman sebayanya adalah melalui bermain kooperatif peserta didik mulai bermain bersama, serta kegiatan kelompok mulai berkembang misalnya berbagi tugas untuk tujuan bersama. agar peserta didik mau bekerja sama dengan teman sebayanya adalah bermain dalam kelompok di mana ada pimpinannya, masing-masing peserta didik melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan bersama, misalnya perang-perangan, sekolah- sekolahan, dan lain-lain.

Pernyataan data di atas dapat diketahui upaya guru dalam mengembangkan sosial emosional

(5)

peserta didik melalui bermain kooperatif sebagai mana dijelaskan Nugraha (2008:9.17) bermain kooperatif adalah permainan yang melibatkan sekelompok peserta didik, dimana setiap peserta didik mendapatkan peran dan tugas masing- masing yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan bersama. Permainan kooperatif ini mengajarkan peserta didik bersikap sportif dan bekerja sama untuk mencapai tujuan.

Senada dengan itu Paten, 1932 (Susanto,2011:148) mengamati tingkah laku sosial peserta didik usia dini ketika mereka sedang bermain kooperatif, dimana peserta didik bermain dalam kelompok di mana ada organisasi, ada pimpinannya. Masing- masing peserta didik melakukan kegiatan bermain dalam kegiatan bersama, misalnya perang-perangan, sekolah-sekolahan, dan lain-lain.

3. Upaya Guru dalam Mengembangkan Sosial Emosional Peserta Didik Melalui Belajar Berbagi (sharing).

a. Belajar Berempati

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci DE serta informan tambahan guru, kepala sekolah, dan orangtua peserta didik bahwa Guru menanamkan kepada peserta didik untuk memahami orang lain dan ikut mengerti perasaan orang lain, memberikan perhatian terhadap peserta didik. Guru menumbuhkan rasa pengertian peserta didik tentang perasaan dan emosi orang lain, guru menanamkan sikap tolong menolong antar sesama, dan guru mengatakan kepada peserta didik bahwa kita hidup di dunia membutuhkan bantuan orang lain.

b. Bersikap Lebih Sosial.

Berdasarkan hasil wawancara dengan informan kunci DE serta informan tambahan guru, kepala sekolah, dan orangtua peserta didik bahwa guru mengarahkan belajar berperilaku yang dapat di terima secara sosial. Guru menumbuhkan atau menanamkan sikap percaya diri, rasa

simpati, rasa empati, dan kerja sama kepada peserta didik.

Pernyataan data di atas dapat diketahui upaya guru dalam mengembangkan sosial emosional peserta didik melalui belajar berbagi (sharing) sebagai mana dijelaskan Nugraha (2008:9.17) belajar berbagi (sharing) merupakan keterampilan sosial yang sangat dibutuhkan peserta didik. melalui sharing peserta didik akan terlatih untuk membaca situasi lingkungan, belajar berempati terhadap kebutuhan peserta didik lain, belajar bermurah hati, melatih sikap lebih sosial, serta bertahap meninggalkan perilaku egosentrismenya. Peserta didik dapat dilatih untuk berbagi makanan, berbagi mainan hingga akhirnya berbagi cerita.

Hurlock, 1980 (Susanto,2011:139) mengklasifikasi pola perilaku sosial pada peserta didikusia dini ini ke dalam pola-pola perilaku sebagai berikut: 1) Meniru, 2) Persaingan, 3) Kerja sama, 4) Simpati, 5) Empati 6) Dukungan social 7) Membagi, 8) Perilaku akrab.

Menurut Hurlock, 1978 (Syaodih, 2011:2.23) untuk menjadi orang yang mampu bersosialisasi memerlukan tiga proses. masing-masing proses terpisah dan sangat berbeda satu sama lain, tetapi saling berkaitan. kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar sosialisasinya. ketiga proses sosialisasi tersebut adalah sebagai berikut.

a) Belajar berperilaku yang dapat diterima secara sosial

b) Memainkan peran sosial yang dapat diterima

c) Perkembangan sikap sosial

Menurut Daeng, 1996 (Syaodih, 2011:2.23) ada empat faktor yang berpengaruh pada kemampuan peserta didik untuk bersosialisasi, yaitu sebagai berikut.

1. Adanya kesempatan untuk bergaul dengan orang-orang di sekitarnya dari berbagai usia dan latar belakang.

(6)

2. Adanya minat dan motivasi untuk bergaul.

3. Adanya bimbingan dan pengajaran dari orang lain, yang biasanya menjadi “model” bagipeserta didik.

4. Kemampuan sosialisasi dapat pula berkembang melalui cara “coba- salah” (trial and error) yang dialami oleh peserta didik.

5. Adanya kemampuan berkomunikasi yang baik yang dimiliki peserta didik.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang upaya guru TK dalam mengembangkan sosial emosional peserta didik, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Upaya guru dalam mengembangkan sosial emosional peserta didik di TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Rumbai melalui modeling dan Imitating yaitu peniruan sikap, tingkah laku, serta cara pandang orang lain yang dilakukan secara sengaja.

Tingkah laku yang ditiru merupakan tingkah laku yang mendapat penguatan baik dengan respons positif atau negatif dari lingkungannya.

2. Upaya guru dalam mengembangkan sosial emosional peserta didik di TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Rumbai melalui bermain kooperatif yaitu permainan yang melibatkan sekelompok peserta didik, di mana setiap peserta didik mendapat peran dan tugas masing-masing yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan bersama.

3. Upaya guru dalam mengembangkan sosial emosional peserta didik di TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) Rumbai melalui belajar berbagi (Sharing) merupakan keterampilan sosial dimana peserta didik akan terlatih untuk membaca situasi lingkungan, belajar berempati terhadap kebutuhan peserta didik lain, belajar bermurah hati, melatih sikap lebih sosial, serta bertahap meninggalkan perilaku egosentrismenya.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan, maka diajukan saran kepada berbagai pihak, sebagai berikut:

1. Guru TK

Diharapkan kepada guru Taman Kanak-kanak (TK) agar dapat menerapkan

cara mengembangkan sosial emosional peserta didik usia ini melalui melalui modeling dan imitating, yaitu peniruan sikap, dan tingkah laku yang baik terhadap peserta didik. Bermain kooperatif yaitu agar melibatkan semua perserta didik dalam kelompok dengan tugas masing- masing untuk tujuan bersama. belajar berbagi (sharing) melalui belajar berempati dan melatih peserta didik untuk lebih bersikap lebih sosial.

2. Kepala Sekolah

Diharapkan kepada kepala sekolah disamping memenuhi fasilitas yang dibutuhkan peserta didik maupun guru di sekolah agar dengan adanya kelengkapan sarana dan prasarana yang bisa mengembangkan sosial emosional peserta didik.

3. Pengelola Program Studi Bimbingan Konseling

Diharapkan agar dapat

mempersiapkan mahasiswa bimbingan dan konseling serta mengembangkan ilmu pengetahuan tentang perkembangan peserta didik usia dini, khususnya dalam mata kuliah psikologi perkembangan anak dan pelayanan BK di prasekolah.

4. Orangtua

Untuk orang tua agar lebih memperhatikan kebutuhan peserta didik dalam belajar dan lebih mempedulikan hal- hal yang diperlukan oleh peserta didik baik secara fisik maupun psikis.

5. Peneliti Selanjutnya

Diharapkan agar hasil penelitian ini dapat menjadi landasan atau pedoman, dan diharapkan dapat melakukan penelitian tentang kerjasama orangtua dan guru TK dalam mengembangkan sosial peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, Siti dkk. 2014. Perkembangan dan Konsep Pengembangan Anak Usia Dini.

Tanggareng Selatan: Universitas Terbuka.

Depdiknas. 2003. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta.

Latif Mukhtar, dkk. 2013. Orientasi Baru Pendidikan Anak Usia Dini. Jakarta:

Prenadamedia Group.

(7)

Gunarti Winda, Lilis Suryani,& Azizah Muis.

2010. Metode Pengembangan Perilaku dan Kemampuan Dasar Anak Usia Dini.

Jakarta: Universitas Terbuka.

Moleong, Lexy. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja

Rosdakarya.

Nugraha, Ali, & Yeni Rachmawati. 2008.

Metode Pengembangan Sosial

Emosional. Jakarta: Universitas Terbuka.

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Susanto, Ahmad. 2011. Perkembangan Anak Usia Dini. Jakarta: Kharisma Putra Utama.

Suyadi. 2013. Teori Pembelajaran Anak Usia Dini. Jakarta: Rineka Cipta.

Suyadi & Maulidya Ulfah. 2013. Konsep Dasar PAUD. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Syaodih Ernawulan dan Agustin Mubiar.

2011. Bimbingan dan Konseling untuk Anak Usia Dini. Jakarta: Universitas

Terbuka

Yusuf, Syamsu & Nani M. Sugandhi. 2011.

Perkembangan Peserta Didik. Jakarta:

Raja Grafindo Perseda.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa dalam mengembangkan keterampilan sosial emosional anak usia dini di TK Negeri

Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian tindakan sekolah dengan judul: ”Upaya Meningkatkan Disiplin Guru dalam Kehadiran Mengajar Di kelas Melalui