KALIMAT
EFEKTIF
KALIMAT EFEKTIF
Kalimat yang mampu menimbulkan kembali
(menyampaikan) gagasan-gagasan pada pikiran pembaca atau pendengar seperti yang ada pada pikiran penulis atau pembicara.
Tulisan dikatakan efektif apabila berhasil menyampaikan
pesan, gagasan, perasaan, maupun pemberitahuan sesuai
dengan maksud si pembicara atau penulis.
CIRI-CIRI kesatuan gagasan , setiap
kalimat, baik itu kalimat tunggal atau kalimat majemuk, harus mengandung satu ide pokok atau satu ide utama saja.
koherensi kalimat , hubungan
timbal balik yang benar di antara unsur pembentuk kalimat, yaitu antara subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.
3
kesejajaran, penyamaan jenis atau bentuk kata yang digunakan dalam kalimat
ketepatan pemilihan kata (diksi), pilihan kata yang tepat dan selaras dengan
penggunaannya dalam
menyampaikan sebuah gagasan
CIRI-CIRI
kehematan , kalimat yang hemat, tidak berlebihan, namun
strukturnya tetap benar sehingga kalimat tersebut padat dan berisi.
logis , kalimat yang dapat
diterima /dipahami sesuai dengan penalaran.
kecermatan, menggunakan bahasa baku dan kesesuaian dengan EYD
ketepatan pemilihan kata (diksi), pilihan kata yang tepat dan selaras dengan
penggunaannya dalam
menyampaikan sebuah gagasan
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
⬗ A. Penulisan Kata/Ejaan
⬗ B. Pemilihan Diksi
⬗ C. Penulisan Tanda Baca
⬗ D. Penulisan Kalimat-paragraf
5
Kesalahan Penggunaan Bahasa Indonesia
⬗ 1. Hiperkorek
Kesalahan berbahasa karena "membetulkan" bentuk yang sudah benar sehingga menjadi salah.
Contoh:
• utang hutang
• pihak fihak
• Adang hadang
• Silakan silahkan
⬗ 2. Pleonasme
Kesalahan berbahasa karena kelebihan dalam pemakaian kata yang sebenarnya tidak diperlukan. Pleonasme ada tiga macam:
a. Penggunaan dua kata yang bersinonim dalam satu kelompok kata.
a. zaman dahulu (benar) b. dahulu kala (benar)
c. zaman dahulu kala (pleonasme) b. Bentuk jamak dinyatakan dua kali.
a. ibu-ibu (benar) b. para ibu (benar)
c. para ibu-ibu (pleonasme)
c. Penggunaan kata tugas (keterangan) yang tidak diperlukan karena pernyataannya sudah cukup jelas.
Contoh: maju ke depan, kambuh kembali.7
⬗ 3. Kontaminasi
Istilah "kontaminasi" diambil dari bahasa Inggris "contamination"
(pencemaran). Dalam ilmu bahasa, kata itu diterjemahkan dengan
"kerancuan". Rancu artinya "kacau", dan kerancuan artinya
"kekacauan". Yang dimaksud kacau ialah susunan unsur bahasa yang tidak tepat, seperti morfem dan kata. Morfem-morfem yang salah
disusun menimbulkan kata yang salah bentuk. Kata yang salah disusun menimbulkan frase/kalimat yang kacau. Kontaminasi terjadi karena salah nalar, penggabungan dua hal yang berbeda sehingga menjadi tumpang tindih. Contoh kontaminasi imbuhan:
(meng+kesamping+kan) --> mengesampingkan (benar) (men+samping+kan) --> menyampingkan (benar)
mengenyampingkan (kontaminasi)
⬗ Contoh kontaminasi frase:
• Berulang-ulang (benar)
• Berkali-kali (benar)
• Berulang kali (kontaminasi)
⬗ Contoh kontaminasi kalimat:
• Anak-anak dilarang merokok. (benar)
• Anak-anak tidak boleh merokok. (benar)
• Anak-anak dilarang tidak boleh merokok. (kontaminasi)
9
⬗ 4. Perombakan Bentuk Pasif Perombakan bentuk pasif ada tiga:
a. Pemakaian awalan di- untuk bentuk pasif yang seharusnya tidak berawalan di-.
Contoh:
Buku itu dibaca oleh saya. (tidak baku) Buku itu saya baca. (baku)
b. Penghilangan awalan di- untuk bentuk pasif yang seharusnya menggunakan awalan di-.
Contoh:
Buku itu dibaca oleh mereka. (baku) Buku itu mereka baca. (tidak baku)
c. Penyisipan kata di antara dua kata dari sebuah frase terikat.
Contoh:
⬗ 5. Kesalahan berbahasa yang berhubungan dengan pemakaian/penghilangan kata tugas dalam berbahasa Indonesia ada tiga macam:
a. Ketidaktepatan kata tugas yang digunakan. Contoh:
a. Hasil daripada penelitian itu sangat memuaskan. (tidak tepat) b. Hasil penelitian itu sangat memuaskan. (baku)
b. Pemakaian kata tugas yang tidak diperlukan. Contoh:
a. Kepada mahasiswa yang terlambat tidak diizinkan mengikuti kuliah.
(tidak baku)
b. Mahasiswa yang terlambat tidak diizinkan mengikuti kuliah. (baku) c. Penghilangan kata tugas yang diperlukan. Contoh:
a. Dia bekerja sesuai peraturan yang berlaku. (tidak baku) b. Dia bekerja sesuai dengan peraturan yang berlaku. (baku)
11
⬗ 6. Pengaruh Bahasa Daerah
Pengaruh bahasa daerah menimbulkan kesalahan dalam berbahasa Indonesia.
a. Pengaruh dalam pembentukan kata, yaitu pemakaian awalan ke- (yang seharusnya awalan ter-) dan penghilangan imbuhan.
Contoh pemakaian awalan ke-:
ketabrak, kepukul. (tidak baku) a. tertabrak, terpukul. (baku)
b. Contoh penghilangan imbuhan:
a. Hasil penelitiannya beda dengan hasil penelitian saya. (tidak baku) b. Hasil penelitiannya berbeda dengan hasil penelitian saya. (baku) c. Pengaruh dalam susunan kalimat, penggunaan akhiran –nya. Contoh:
a. Rumahnya Pak Ahmad sangat besar. (tidak baku) b. Rumah Pak Ahmad sangat besar. (baku)
⬗ 7. Pengaruh Bahasa Asing
Pengaruh bahasa asing menimbulkan kesalahan dalam pemakaian kata tugas (kata ganti penghubung) seperti: yang mana, di mana, kepada siapa.
Contoh:
• Baju yang mana baru saya beli telah sobek. (tidak baku)
• Baju yang baru saya beli telah sobek. (baku)
• Bandung di mana saya dilahirkan sekarang sangat panas. (tidak baku)
• Bandung tempat saya dilahirkan sekarang sangat panas. (baku)
13
⬗ 6. Pengaruh Bahasa Daerah
Pengaruh bahasa daerah menimbulkan kesalahan dalam berbahasa Indonesia.
a. Pengaruh dalam pembentukan kata, yaitu pemakaian awalan ke- (yang seharusnya awalan ter-) dan penghilangan imbuhan.
Contoh pemakaian awalan ke-:
ketabrak, kepukul. (tidak baku) a. tertabrak, terpukul. (baku)
b. Contoh penghilangan imbuhan:
a. Hasil penelitiannya beda dengan hasil penelitian saya. (tidak baku) b. Hasil penelitiannya berbeda dengan hasil penelitian saya. (baku) c. Pengaruh dalam susunan kalimat, penggunaan akhiran –nya. Contoh:
a. Rumahnya Pak Ahmad sangat besar. (tidak baku) b. Rumah Pak Ahmad sangat besar. (baku)