• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknologi Kosmetik untuk Lipastik Permanen

N/A
N/A
yan

Academic year: 2024

Membagikan "Teknologi Kosmetik untuk Lipastik Permanen"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNOLOGI KOSMETIK

FORMULASI SEDIAAN LIPSTIK PERMANEN (PADAT)

Dosen :

Prof. Dr. Teti Indrawati, MS. Apt

Disusun Oleh :

Lidia Oktavia 21334005

Lidiana Sulfi 21334006

Fatimah Azzahra 21334007

Kelas : M

PROGRAM STUDI FARMASI

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL JAKARTA

2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat, dan ridho – Nya penulis dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Kosmetologi ini. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata sempurna, serta masih banyak kekurangan. Untuk itu kritik dan saran sangat di nantikan guna penyusunan makalah ini di masa mendatang.

Penulis juga memohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekeliruan sehingga membingungkan pembaca dalam memahami maksud penulis.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan yang bermanfaat bagi penulis maupun pembaca. Semoga Allah senantiasa memberikan bimbingan dan petunjuk kepada kita semua.

Jakarta, April 2024

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

Contents

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I...1

PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...1

1.3 Tujuan...2

BAB II...3

TINJAUAN PUSTAKA...3

2.1 Karakteristik Sediaan Sediaan Lipstick...3

2.2 Komponen Sediaan Lipstik...8

2.3 Metode Pembuatan Sediaan Lipstik...10

2.4 Evaluasi Sediaan Plastik...11

2.5 Rancangan formulasi (formula, Metode, Evaluasi dan Karakteristik)...13

BAB III...24

PEMBAHASAN...24

3.1 Bagaimana Karakteristik Sediaan Lipstick Yang Baik ?...24

3.2 Apa Komponen Sediaan Lipstik ?...24

3.3 Metode Apa Saja Yang Digunakan Untuk Membuat Formula Lipstik ?...26

3.4 Apa Saja Evaluasi Yang Harus Dilakukan ?...28

3.5 Bagaimana Rancangan Formulasi Sediaan Lipstik ?...30

BAB IV...33

(4)

KESIMPULAN...33

4.1 Kesimpulan...34

4.2 Saran...35

DAFTAR PUSTAKA...35

(5)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pewarna bibir merupakan sediaan kosmetika yang digunakan untuk mewarnai bibir dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias wajah.

Sediaan pewarna bibir terdapat dalam berbagai bentuk, seperti cairan, krayon, dan krim.

Pewarna bibir modern yang disukai adalah jenis sediaan pewarna bibir yang jika dilekatkan pada bibir akan memberikan selaput yang kering. Dewasa ini pewarna bibir yang banyak digunakan adalah pewarna bibir dalam bentuk krayon. Pewarna bibir krayon lebih dikenal dengan sebutan lipstick.

Lipstik merupakan pewarna bibir yang dikemas dalam bentuk batang padat (stick) yang dibentuk dari minyak, lilin dan lemak. Fungsinya adalah untuk memberikan warna bibir menjadi merah semerah delima, yang dianggap akan memberikan ekspresi wajah sehat dan menarik. Pemakaian lipstik pada bibir diharapkan dapat meningkatkan kecantikan terutama bagi wanita dan lipstik dirancang untuk meningkatkan penampilan alami bibir.

Lipstik merupakan produk kosmetik yang paling luas digunakan dan sebagai make up bibir yang anatomis dan fisiologisnya agak berbeda dari kulit bagian badan lainnya maka permasalahan yang dihadapi sekarang adalah bagaimana mendapatkan formulasi lipstik yang baik dengan karakteristik lipstik yang dapat meningkatkan kecantikan dan aman dipakai bagi pemakainya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa karakteristik sediaan lipstik yang baik ? 2. Apa komponen sediaan lipstik ?

3. Metode apa saja yang dapat digunakan untuk membuat formula sediaan lipstick ?

(6)

4. Evaluasi apa saja yang harus dilakukan ?

5. Bagaimana rencangan formulasi yang saudara buat ( formula, metode, evaluasi, dan karakteristik ) ?

1.3 Tujuan

1. Memahami karakteristik sediaan lipstick secara umum 2. Mengetahui komponen bahan pembuat sediaan lipstick 3. Membuat formulasi sediaan lipstick

4. Memahami metode pembuatan lipstick

5. Memahami rancangan formulasi lipstick permanen (padat)

(7)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Karakteristik Sediaan Sediaan Lipstick 2.1.1. Kosmetik

Menurut Wall dan Jellinek (1970), kosmetik dikenal manusia sejak berabad-abad yang lalu. Pada abad ke-19, pemakaian kosmetik mulai mendapat perhatian, yaitu selain untuk kecantikan juga untuk kesehatan. Perkembangan ilmu kosmetik serta industrinya baru dimulai secara besar-besaran pada abad ke-20 (Tranggono dan Latifah, 2007).

Kosmetik berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti ”berhias”. Bahan yang dipakai dalam usaha untuk mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahan-bahan alami yang terdapat disekitar. Sekarang kosmetik dibuat tidak hanya dari bahan alami tetapi juga bahan sintetis untuk maksud meningkatkan kecantikan (Wasitaatmadja, 1997).

Sejak semula kosmetologi merupakan salah satu ilmu pengobatan atau ilmu kesehatan, sehingga para pakar kosmetik dahulu adalah juga pakar kesehatan; seperti para tabib, dukun, bahkan penasehat keluarga istana. Dalam perkembangannya kemudian, terjadi pemisahan antara kosmetik dan obat, baik dalam hal jenis, efek, efek samping, dan lainnya (Wasitaatmadja, 1997).

Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian luar badan seperti epidermis, rambut, kuku, bibir, gigi, dan rongga mulut antara lain untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono dan Latifah, 2007).

2.1.2. Persyaratan Kosmetik

(8)

Kosmetik yang diproduksi dan atau diedarkan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. Menggunakan bahan yang memenuhi standar dan persyaratan mutu serta persyaratan lain yang ditetapkan.

2. Diproduksi dengan menggunakan cara pembuatan kosmetik yang baik.

3. Terdaftar dan mendapat izin edar dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan.

Pewarna yang digunakan dalam kosmetika terdiri atas 2 jenis yaitu :

1. Pewarna yang dapat larut dalam cairan (solube), air, alkohol, minyak. Contoh warna kosmetika adalah pewarna asam (acid dyes) yang merupakan golongan terbesar pewarna pakaian, makanan, dan Kosmetik. Unsur terpenting dalam pewarna ini adalah gugus azo. Solvent dyes yang larut dalam air atau alkohol, misalnya : merah DC, merah hijau NO.17, violat, kuning. Xanthene dyes yang dipakai dalam lipstik, misalnya DC orange, merah, kuning.

2. Pewarna yang tidak dapat larut dalam cairan (insoluble), yang terdiri atas bahan organik dan inorganik, misalnya lakes, besi oksida.

2.1.3. Lipstik

Lipstik adalah produk kosmetik yang paling luas digunakan. Di Amerika, semua wanita sudah memakai lipstik, sehingga hanya pertambahan penduduklah yang dapat meningkatkan pasaran lipstick.

Lipstik adalah make-up bibir yang anatomis dan fifiologisnya agak berbeda dari kulit bagian badan lainnya. Misalnya ,stratum corneum-nya sangat tipis dan dermisnya tidak mengadung kelenjar keringat maupun kelenjar minyak, sehingga bibir mudah kering dan pecah-pecah terutama jika dalam udara yang dingin dan kering. Hanya air liur yang merupakan pembasah alami untuk bibir

2.1.4. Jenis-Jenis Lipstik

Ada beberapa jenis kosmetik rias bibir, yaitu :

(9)

1. Lipstick dan lip rayon

2. Krim bibir (lip cream) dan pengkilap bibir (lip gloss) 3. Penggaris bibir (lip liner) dan lip sealers

2.1.5. Persyaratan lipstik

Adapun persyaratan untuk lipstik adalah sebagai berikut:

1. Melapisi bibir secara mencukupi

2. Dapat bertahan di bibir selama mungkin

3. Cukup melekat pada bibir, tetapi tidak sampai lengket 4. Tidak mengiritasi atau menimbulkan alergi pada bibir 5. Melembabkan bibir dan tidak mengeringkannya 6. Memberikan warna yang merata pada bibir

7. Penampilannya harus menarik, baik warna maupun bentuknya

8. Tidak meneteskan minyak, permukaannya mulus, tidak bopeng atau berbintik- bintik, atau memperlihatkan hal-hal lain yang tidak menarik

2.1.6. Sediaan Lipstik Yang Baik

Lipstik terdiri dari zat warna yang terdispersi dalam pembawa yang terbuat dari campuran lilin dan minyak dalam komposisi yang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikendaki. Suhu lebur lipstick yang ideal sesungguhnya diatur hingga suhu yang mendekati suhu bibir, bervariasi antara 36- 38oC.

Tetapi karena harus memperhatikan faktor ketahanan terhadap suhu cuaca sekelilingnya, terutama suhu daerah tropik, suhu lebur lipstick dibuat lebih tinggi,

(10)

yang dianggap lebih sesuai diatur pada suhu lebih kurang 62oC, biasanya berkisar antara 55-75oC (Ditjen POM, 1985).

Dari segi kualitas, lipstik harus memenuhi beberapa persyaratan berikut (Mitsui,1977):

1. Tidak menyebabkan iritasi atau kerusakan pada bibir 2. Tidak memiliki rasa dan bau yang tidak menyenangkan

3. Polesan lembut dan tetap terlihat baik selama jangka waktu tertentu

4. Selama masa penyimpanan bentuk harus tetap utuh, tanpa kepatahan dan perubahan wujud.

5. Tidak lengket.

6. Penampilan tetap menarik dan tidak ada perubahan warna.

Zat Warna dalam Lipstik

Zat warna pada lipstik mempunyai peran penting yaitu untuk memberikan warna sehingga lipstik yang digunakan dapat menghasilkan warna yang menarik dan dapat mengubah penampilan penggunanya. Tidak semua zat pewarna yang dapat digunakan dalam kosmetik. Ada beberapa pada bagian tubuh yang sensitif terhadap zat warna tertentu, seperti pada kulit sekitar mata, mulut, bibir, dan kuku (Wasitaatmadja, 1997 : 37).

Pewarna yang digunakan dalam kosmetik dekoratif terdiri dari berbagai kelompok yaitu zat warna alam yang larut, zat warna sintetis yang larut, pigmen-pigmen alam, pigmen-pigmen sintetis, dan lakes alam dan sintetis.

1. Zat warna alam yang larut

Zat warna ini sudah jarang dipakai karena pada kulit kurang baik dari pada zat warna sintetis, tetapi kekuatan pewarnaannya relatif lemah, tak tahan cahaya, dan relatif mahal. Misalnya alkalain zat merah dari ekstrak kulit akar alkana, carmin zat berwarna merah yang dihasilkan dari tubuh serangga coccus cacti yang dikeringkan, klorofil berasal dari daun-daun hijau seperti daun pandan, henna berasal dari ekstrak daun Lawsonia inermis yang

memberikan warna kuning kejinggaan, dan karoten yang memberikan pigmen warna kuning yang berasal dari wortel (Tranggono dan Latifah, 2007 : 91).

2. Zat warna sintetis yang larut

(11)

Zat warna sintetis yang pertama kali disintesis dari anilin, sekarang benzene, toluene, anthracene, dan hasil isolasi coal-tar.

Sifat-sifat zat warna sintetis yang perlu diperhatikan antara lain :

a. Tone dan intensitas harus kuat sehingga dalam jumlah sedikit mampu memberi warna.

b. Harus bisa larut dalam air, alkohol, minyak, atau salah satunya. Yang larut dalam air hampir selalu juga larut dalam alkohol encer, gliserol dan glikol.

Yang larut dalam minyak larut juga dalam benzene, carbon tetrachloride.

c. Sifat yang berhubungan dengan pH. Beberapa zat hanya larut dalam pH asam dan lainnya larut dalam pH alkalis.

d. Kelekatan pada kulit atau rambut. Daya lekat berbagai zat warna pada kulit dan rambut berbeda-beda. Daya lekat besar diperlukan untuk cat rambut, namun dihindari untuk sabun.

e. Toksisitas yang harus dihindari sesuai derajat keamanannya (Tranggono dan Latifah, 2007 : 91-92).

3. Pigmen-Pigmen Alam

Pigmen alam adalah pigmen warna yang terdapat secara alamiah bisa diperoleh dari tumbuhan, hewan atau sumber-sumber mineral. Misalnya aluminium silikat, yang warnanya tergantung pada kandungan besi oksida atau mangan oksida (misalnya kuning oker, coklat, merah bata, dan coklat

tua). Zat warna ini sama sekali tidak berbahaya bagi tubuh (Tranggono dan Latifah, 2007 : 92).

4. Pigmen-Pigmen Sintetis

Pigmen sintetis memiliki warna yang lebih intens dan lebih terang

dibandingkan zat warna alami. Beberapa contohnya pigmen sintetis untuk warna putih adalah zinc oxide dan titanium oxide sedangkan pigmen sintetis untuk warna biru yaitu cobalt dan ultranarime. Banyak pigmen sintetis yang tidak boleh dipakai di dalam kosmetik dekoratif karena toksik, misalnya cadmium sulfide dan Prussian blue (Tranggono dan Latifah, 2007 : 92).

5. Lakes Alam dan Sintetis

Lakes dibuat dengan mempresipitasikan satu atau lebih zat warna larut air dalam satu atau lebih substrat yang tidak larut dan mengikatnya sedemikian

(12)

rupa, sehingga menjadi bahan pewarna yang hampir tidak larut dalam air, minyak, atau pelarut lain. Lakes yang terbuat dari zat-zat warna berasal dari coal-tar merupakan zat pewarna terpenting di dalam bedak, lipstik, dan make- up lainnya, karena lebih cerah dan lebih kompatibel dengan kulit. Substrat yang paling umum adalah zinc oxide, aluminium hidroksida, aluminium phosphate, barium phosphate, barium sulfate, magnesium carbonate, alumina hydrate, dan kaolin (Tranggono dan Latifah, 2007 : 93).

Zat warna yang digunakan dalam lipstik adalah zat warna eosin yang memenuhi dua persyaratan sebagai zat warna untuk lipstik yaitu kelekatan pada kulit dan kelarutannya dalam minyak. Pelarut yang baik untuk eosin adalah castrol oil. Tetapi furfuryl alkohol beserta ester-esternya, terutama stearat dan ricinoleat, memiliki daya melarutkan eosin yang lebih besar. Fatty acid alkylolamides, jika dipakai sebagai pelarut eosin, akan memberikan warna yang sangat intensif pada bibir (Tranggono dan Latifah, 2007 : 101).

Dilihat dari komposisi salah satu lipstik yang beredar di pasaran pewarna lipstik yang digunakan adalah Pigment Yellow 42 & 43, Pigment Brown 6 &

7, D&C Red No. 6, Pigment Black 11, Pigment Violet 16, dan D&C Red No.28 (Stellar, 2016).

Menurut peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 23 Tahun 2019 tentang persyaratan teknis bahan kosmetika, berikut beberapa zat pewarna yang diperbolehkan dalam kosmetika :

Tabel 2.1 Zat Tambahan yang Diperbolehkan

No Nama Nomor Indeks Warna (C.1.No)

(13)

Sumber : Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019

Sedangkan zat warna yang dinyatakan sebagai bahan berbahaya dalam Obat, makanan dan kosmetika menurut keputusan jenderal pengawas obat dan Makanan nomor 00386/C/SK/II/90 : Tabel 2.2 Zat Tambahan yang Tidak Diperbolehkan

No Nama NOMOR INDEKS WARNA

(C.I. No).

Sumber : Keputusan Direktur Jenderal POM Nomor 00386/C/SK/II/90.

2.1.7. Anatomi Bibir

Bibir merupakan kulit yang memiliki ciri tersendiri, karena lapisan jangatnya sangat tipis. Stratum germinativum tumbuh dengan kuat dan korium

(14)

mendorong papila dengan aliran darah yang banyak tepat di bawah permukaan kulit. Pada kulit bibir tidak terdapat kelenjar keringat, tetapi pada permukaan kulit bibir sebelah dalam terdapat kelenjar liur, sehingga bibir akan nampak selalu basah.

Sangat jarang terdapat kelenjer lemak pada bibir, menyebabkan bibir hampir bebas dari lemak, sehingga dalam cuaca yang dingin dan kering lapisan jangat akan cenderung mengering, pecah-pecah, yang memungkinkan zat yang melekat padanya mudah berpenetrasi ke statum germinativum. Karena ketipisan lapisan jangat, lebih menonjolnya stratum germinativum, dan aliran darah lebih banyak mengaliri di daerah permukaan kulit bibir, maka bibir menunjukkan sifat lebih peka dibandingkan dengan kulit lainnya. Karena itu hendaknya berhati-hati dalam memilih bahan yang digunakan untuk sediaan pewarna bibir, terutama dalam hal memilih lemak, pigmen dan zat pengawet yang digunakan untuk maksud pembuatan sediaan itu.

Warna merah pada bibir disebabkan warna darah yang mengalir di dalam pembuluh di lapisan bawah kulit bibir, pada bagian ini warna itu terlihat lebih jelas karena pada bibir tidak ditemukan satu lapisan kulit paling luar, yaitu lapisan stratum corneum. Jadi kulit bibir lebih tipis dari kulit wajah, karena itu bibir jadi lebih muda luka dan mengalami pendarahan. Disamping itu, karena kulitnya yang tipis, saraf yang mengurus sensasi pada bibir menjdi lebih sensitive.

Anatomi bibir normal akan terbentuk keseimbangan antara hidung, dasar hidung dan bibir. Lubang kanan dan kiri simetris ditopang oleh kartilago ala nasi, ditengah membentuk kolumela. Bibir atas orbicularis oris mempunyai cekukan di bagian tengah yang disebut philtrum yang dibatasi oleh pinggir philtrum.

Pada bagian bawah tengah bibir atas membentuk busur cupid (cupid bow) yang dibatasi oleh garis mukokutaneous dengan merah bibir. Dalam posisi tertutup normal bibir atas sedikit eversi serta sedikit didepan bibir bawah.

(15)

Kosmetika rias bibir selain untuk merias bibir ternyata diserta juga dengan bahan untuk meminyaki dan melindungi bibir dari lingkungan yang merusak, misalnya sinar ultraviolet. Ada beberapa macam kosmetika rias bibir, yaitu lipstik, krim bibir (lip cream), pengkilap bibir (lip gloss), penggaris bibir (lip liner ), dan lip sealer.

Ciri-ciri bibir yang sehat yaitu berwarna merah alami, tampak halus dan sehat, kulit bibir tampak lembab alami dengan elastisitas yang baik, bibir tidak mengering dan mengelupas dan tidak ada penyakit pada bibir. Ciri-ciri bibir tidak sehat dan penyebabnya antara lain:

1. Bibir berwarna kurang cerah dan sedikit menghitam. Penyebabnya :

a. Kebiasan merokok. Saat di hisap, panas rokok mengenai bibir sehingga sel-sel darah merah jadi “terpanggang” dan mengalami kematian. Sel-sel darah merah yang mati tadi akan memproduksi pigmen yang kemudian tertimbun di bibir dan memicu warna hitam pada lapisan luar bibir. Selain itu, setiap hasil pembakaran pada ujung rokok akan menimbulkan karbon, yang juga akan menambah pekat warna bibir.

b. Keseimbangan hormon estrogen yang terganggu (terlalu banyak atau terlalu sedikit).

2. Bibir tampak pecah-pecah dan kering. Penyebabnya :

(16)

a. Penggunaan pasta gigi yang salah.

b. Berada lama di ruangan AC karena kelembaban udara yang rendah.

c. Merokok

d. Kebiasaan minum kopi ataupun minuman beralkohol.

e. Menderita penyakit tertentu seperti dehidrasi karena diare, defisiensi vitamin ataupun kelainan akibat sistemik lainnya.

f. Kurang mengonsumsi buah atau sayuran serta minum air.

2.2 Komponen Sediaan Lipstik

Adapun komponen utama dalam sediaan lipstik terdiri dari minyak, lilin, lemak dan zat warna.

a. Minyak

Minyak adalah salah satu komponen dalam basis lipstik yang berfungsi untuk melarutkan atau mendispersikan zat warna. Minyak yang sering digunakan antara lain minyak jarak, minyak mineral dan minyak nabati lain. Minyak jarak merupakan minyak nabati yang unik karena memiliki viskositas yang tinggi dan memiliki kemampuan melarutkan staining-dye dengan baik. Minyak jarak merupakan salah satu komponen penting dalam banyak lipstik modern. Viskositasnya yang tinggi adalah salah satu keuntungan dalam menunda pengendapan dari pigmen yang tidak larut pada saat pencetakan, sehingga dispersi pigmen benar benar merata (Balsam, 1972).

b. Lilin

Lilin digunakan untuk memberi struktur batang yang kuat pada lipstik dan menjaganya tetap padat walau dalam keadaan hangat. Campuran lilin yang ideal akan menjaga lipstik tetap padat setidaknya pada suhu 50°C dan mampu mengikat fase minyak agar tidak ke luar atau berkeringat, tetapi juga harus tetap lembut dan mudah dioleskan pada bibir dengan tekanan serendah mungkin. Lilinyang digunakan antara lain carnauba wax, candelilla wax, beeswax, ozokerites, spermaceti dan setil alkohol.

Carnauba wax merupakan salah satu lilin alami yang sangat keras karena memiliki titik lebur yang tinggi yaitu 85°C. Biasa digunakan dalam jumlah kecil untuk meningkatkan titik lebur dan kekerasan lipstik (Balsam, 1972).

(17)

c. Lemak

Lemak yang biasa digunakan adalah campuran lemak padat yang berfungsi untuk membentuk lapisan film pada bibir, memberi tekstur yang lembut, meningkatkan kekuatan lipstik dan dapat mengurangi efek berkeringat dan pecah pada lipstik.

Fungsinya yang lain dalam proses pembuatan lipstik adalah sebagai pengikat dalam basis antara fase minyak dan fase lilin dan sebagai bahan pendispersi untuk pigmen.

Lemak padat yang biasa digunakan dalam basis lipstik adalah lemak coklat, lanolin, lesitin, minyak nabati terhidrogenasi dan lain-lain.

d. Acetoglycerides

Direkomendasikan untuk memperbaiki sifat thoxotropik batang lipstick meskipun tempratur berflukturasi, kepadatan lipstick tetap konstan.

e. Zat warna

Zat warna dalam lipstik dibedakan atas dua jenis yaitu staining dye dan pigmen.

Staining dye merupakan zat warna yang larut atau terdispersi dalam basisnya, sedangkan pigmen merupakan zat warna yang tidak larut tetapi tersuspensi dalam basisnya. Kedua macam zat warna ini masing- masing memiliki arti tersendiri, tetapi dalam lipstik keduanya dicampur dengan komposisi sedemikian rupa untuk memperoleh warna yang diinginkan. Pigmen-pigmen yang diigunakan dalam lipstik dapat berupa lake dari barium atau kalsium, akan tetapi lake dari stronsium juga sering digunakan karena menghasilkan warna yang tahan lama dan jernih. Untuk menghasilkan warna yang agak pudar (muda), pigmen putih seperti titanium dioksida dan zink oksida harus ditambahkan (Balsam, 1972).

Zat tambahan dalam lipstik adalah zat yang ditambahkan dalam formula lipstik untuk menghasilkan lipstik yang baik, yaitu dengan cara menutupi kekurangan yang ada tetapi dengan syarat zat tersebut harus inert, tidak toksik, tidak menimbulkan alergi, stabil dan dapat bercampur dengan bahan-bahan lain dalam formula lipstik. Zat tambahan yang digunakan yaitu antioksidan, pengawet dan parfum.

a. Antioksidan

(18)

Antioksidan digunakan untuk melindungi minyak dan bahan tak jenuh lain yang rawan terhadap reaksi oksidasi. BHT, BHA dan vitamin E adalah antioksidan yang paling sering digunakan (Butler, 2000).

b. Pengawet

Kemungkinan bakteri atau jamur untuk tumbuh di dalam sediaan lipstik sebenarnya sangat kecil karena lipstik tidak mengandung air. Akan tetapi ketika lipstik diaplikasikan pada bibir kemungkinan terjadi kontaminasi pada permukaan lipstik sehingga terjadi pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu perlu ditambahkan pengawet di dalam formula lipstik. Pengawet yang sering digunakan yaitu metil paraben dan propil paraben (Butler, 2000).

c. Parfum

Parfum perlu ditambahkan dalam formula lipstik untuk menutupi bau dari minyak dan lilin yang terdapat dalam basis dan bau lain yang tidak enak yang timbul setelah lipstik digunakan atau disimpan. Parfum yang berasal dari minyak tumbuhan (bunga) adalah yang paling banyak digunakan (Balsam, 1972).

2.3 Metode Pembuatan Sediaan Lipstik a. Color grinding (Penggilingan)

a. Langkah pertama dalam pembuatan lipstik adalah mendispersikan pewarna ke dalam minyak atau dalam campuran basis sebagai kandungan yang homogen hingga terbentuk massa yang lembut secara menyeluruh.

b. Pigmen yang digunakan dalam lipstik diberikan dalam bentuk serbuk yang ukuran partikel pada umumnya sangat kecil.

c. Operasi penggilingan tidak ditujukan untuk maksud mengurangi ukuran partikel itu sendiri tetapi untuk memecah agglomerasi.

d. Umumnya ini diberikan dengan roller mill (penggilingan rol) atau colloid mill (penggilingan koloid).

e. Penggiling ini digunakan untuk membentuk lapisan tipis bahan-bahan baku tertentu sampai ke alat hight suction/shear equipment yang digunakan untuk mendispersikan gums dan gelling agent lainnya ke dalam suatu batch.

(19)

f. Peralatan-peralatan ini menjamin terbentuknya lapisan bahan baku yang seragam, sehingga dapat dihasilkan produk yang homogen, bebas dari gumpalan-gumpalan b. Roller Mill

Dalam roller mill , suspensi pigmen dalam minyak dilewatkan diantara silinder yang berputar pada kecepatan yang berbeda, satu dari yang lainnya, jarak ruang menjadi sangat kecil untuk bergabung menjadi agglomerat.

c. Colloid Mill

Dalam colloid mill , campuran ditekan diantara dua piringan yang berjarak dan tertutup, dimana salah satu dari putarannya pada kecepatan tinggi.

d. Melting dan Mixing

1. Basis lemak mula-mula dilebur dalam bejana stainless-steel. Beberapa penambahan minyak jarak dan pigmen ditambahkan kemudian diaduk.

2. Kemudian terakhir ditambahkan parfum, antioksidan, pengawet yang dimasukkan kedalam wadah untuk disiapkan sebelum dibentuk.

e. Molding

1. Peleburan massa lipstik dimasukkan melalui dasar cetakan yang hangat yang kemudian dilewatkan pada wadah yang dingin sebagai tempat produk.

2. Wadah kemudian dapat dihilangkan dan lipstik dapat dipindahkan untuk proses akhir sebelum dibakar dan dilabel.

f. Flaming / Pembakaran

a. Ini umumnya dikerjakan dengan melewatkan pada gas flame, meskipun itu juga memungkinkan menggunakan elemen pemanas elektrik.

b. Jika biasa pemanas digunakan, api berasal dari hanya satu arah, lipstik harus diputar sekali-kali melewati api sehingga seluruh permuka an terbentuk.

2.4 Evaluasi Sediaan Plastik a. Uji Organoleptik

Evaluasi sediaan lipstik dilakukan terhadap masing-masing formula Evaluasi stabilitas sediaan lipstik dilakukan selama 5 minggu dengan pemeriksaan setiap minggu dan

(20)

lipstick disimpan pada suhu kamar dan suhu 45ºC. Evaluasi stabilitas fisik lipstik meliputi :

1. Penampilan Fisik

Pemeriksaan dilakukan dengan mengamati permukaan lipstik, mengenai pembentukan Kristal dan keringat.

2. Aroma

Pengamatan dilakukan dengan mengamati aroma lipstik selama penyimpanan pada suhu kamar dan dipercepat 45ºC.

b. Uji Kehomogenan 1. Homogenitas Sediaan

Masing – masing sediaan lipstik diperiksa homogenitasnya dengan cara mengambil sejumlah tertentu sediaan lipstik dan diletakkan pada kaca yang transparan (objek glass). Sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butir - butir kasar.

2. Homogenitas Polesan

Pengujian dilakukan dengan mengoleskan lipstik pada permukaan licin seperti punggung tangan atau bibir, kemudiaan dilihat dispersi warnanya homogen atau tidak (Barel, 2001).

c. Dispersi warna dalam Lipstik

Pengujian dilakukan dengan membelah lipstik menjadi dua bagian baik secara horizontal ataupun vertikal, kemudiaan dilihat dispersi warnanya homogen atau tidak(Barel, 2001).

d. Bobot Lipstik

Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan atau pengurangan bobot yang mungkin terjadi pada saat lipstik disimpan pada suhu kamar dan suhu dipercepat.

Lipstik yang tidak baik akan memberikan peningkatan atau pengurangan bobot yang berarti selama penyimpanan.

e. Suhu Lebur

Pengujian dilakukan menggunakan melting point apparatus.Lipstik dimampatkan

(21)

dalam alat melting point apparatus dengan posisi yang sesuai. Suhu pada lipstik mulai meleleh adalah suhu lebur lipstik (Orkin Et., al. 1991). Syarat lipstik melebur pada metode melting point adalah 60ºC atau lebih (Barel, 2001).

f. Penentuan pH Sediaan

Sediaan lipstik ditimbang 1gr kemudiaan dilelehkan dengan penangas air, kemudiaan setelah lipstik meleleh pH indikator dicelupkan pada sediaan tersebut setelah itu dilihat pH nya pada tabel indikator pH. Dicatat pHnya dan dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan (triplo).

g. Uji Iritasi Sediaan Lipstik

Teknik yang digunakan pada uji iritasi ini adalah uji temple terbuka (Patch Test) pada lengan bawah bagian dalam terhadap 20 orang panelis. Uji tempel terbuka dilakukan dengan mengoleskan sediaan yang dibuat pada lokasi lekatan dengan luas tertentu 2,5 x 2,5 cm, dibiarkan terbuka selama 24 jam dan diamati apa yang terjadi.

Diamati reaksi yang terjadi, reaksi iritasi positif ditandai oleh adanya kemerahan, gatal- gatal.

h. Pemeriksaan Stabilitas Sediaan

Pada perubahan bentuk diperhatikan apakah lipstik terja di perubahan bentuk dari bentuk awal pencetakan atau tidak, pada perubahan warna diperhatikan apakah lipstik terjadi perubahan warna dari warna awal pembuatan lipstik atau tidak, pada perubahan bau diperhatikan apakah lipstik masih berbau khas dari parfum atau dari bau khas dari ekstrak buah naga super merah.

2.5 Rancangan formulasi (formula, Metode, Evaluasi dan Karakteristik) a. Formulasi

a. Minyak jarak (emoliens) b. Lanolin (stiffening agent) c. Cetyl alcohol (agent pengeras) d. Oleum Cacao (base)

(22)

e. Camauba wax (agent pengeras dan coating agent) f. Beeswax, white

g. Propilenglikol (humektan) h. Cera alba (base)

i. Metil paraben (pengawet) j. BHT (antioksidan)

k. Oleum green tea/oleum roase (parfume) l. Vaseline (base)

m. Paraffin liq (base) n. Tween 80 (surfaktan) o. Pewarna merah b. Karakteristik

a. Oleum ricini (Minyak Jarak)

Minyak jarak adalah minyak lemak yang diperoleh dengan perasan dingin biji Ricinus communis L yang telah dikupas. Oleum ricini digunakan pada lipstik untuk mendispersikan zat warna secara merata. Oleum ricini mempunyai viskositas yang tinggi yang sangat menguntungkan didalam pengaturan warna lipstik dan

(23)

kelenturan. Namun karena viskositas yang tinggi minyak ini menjadi sukar membasahi gumpalan pigmen yang didispersikan sehingga menyebabkan terjadinya penggumpalan yang dapat menyebabkan luka atau iritasi pada epidermis bibir.

Minyak-minyak yang digunakan dalam formulasi harus memenuhi syarat tertentu yakni tidak boleh mengiritasi, menimbulkan bau dan rasa yang tidak enak (Balsamet al. 1974). Minyak jarak yang paling umum digunakan untuk sediaan topikal pada konsentrasi 5-12,5% (Rowe et al, 2009). Pemerian cairan kental, jernih, kuning pucat, atau hampir tidak berwarna, bau lemah, rasa manis kemudian agak pedas. Kelarutan larut dalam 2,5 bagian etanol (90%) P. mudah larut dalam etanol mutlak P, dan dalam asam asetat glasial P (Depkes RI, 1979).

b. Lanolin

Nama resmi : Lanolin

Nama lain : Adeps lanae; cera lanae; E913; lanolina; lanolin anhydrous;Protalan anhydrous; purified lanolin; refined wool fat.

RM/BM : -

Pemerian : Lanolin adalah zat berwarna kuning pucat, manis, dengan baukhas dan samar. Lanolin yang meleleh adalah cairan kuning yang jelas atau hampir jernih.

Kelarutan : Bebas larut dalam benzena, kloroform, eter, dan minyak bumi;hemat larut dalam etanol dingin (95%), lebih larut dalam etanolmendidih (95%); praktis tidak larut dalam air.

Stabilitas : Lanolin secara bertahap dapat mengalami autoksidasi selama penyimpanan. Paparan pemanasan berlebihan atau berkepanjangan

(24)

dapat menyebabkan lanolin anhidrat menjadigelap dalam warna dan menimbulkan bau tengik yang kuat.

Titik lebur : 45 – 558C

Inkompatibilitas : Lanolin mungkin mengandung prooksidasi, yang dapat mempengaruhi stabilitas obat-obatan aktif tertentu.

Kegunaan : Agen pengemulsi; dasar salep.

Penyimpanan : Lanolin harus disimpan dalam wadah yang diisi dengan baik dan tertutup sehingga terlindungi dari cahaya, di tempat yang sejukdan kering.

(Rowe, et al.,2009) c. Cetyl Alcohol

Nama resmi : Cetyl Alkohol

Nama lain : Alkohol cetylicus. Ethal, ethol RM/BM : C16H34O / 242,44

Pemerian : Serpihan putih atau granul seperti lilin, berminyak memiliki bau dan rasa yang khas

Kelarutan : Mudah larut dalam etanol (95%) dan eter, kelarutannya meningkat dengan penigkatan temperature, serta tidak larutdalam air

Stabilitas : Setil alkohol stabil dengan adanya asam, alkali, cahaya, dan udara sehingga tidak menjadi tengik

Inkompatibilitas : Tidak kompatibel dengan oksidator kuat, setil alkohol bekerja untuk menurunkan titik leleh ibuprofen, yang hasil

(25)

dalamkecenderungannya selama proses lapisan flim ibuprofen kristal

Kegunaan : Sebagai emolien dan pengemulsi

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, itempat yang sejuk dan kering.

d. Oleum Cacao (FI Edisi III : 453)

Nama resmi : Oleum Cacao

Nama lain : Beurre de Cacao, Burro di Cacao, Butyrum Cacao, Cacao Butter,Cacao Oleum, Cocoa Butter, Oleum Cacao, Oleum Theobromatis

Pemerian : Lemak padat, putih kekuningan, bau khas aromatik, rasa khas lemak,agak rapuh.

Kelarutan : Sukar larut dalam etanol (95%)P, mudah larut dalam kloroform P,dalam eter P dan dalam eter minyak tanah P.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat Kegunaan : Basis suppositoria

Khasiat : Analgetikum, Antipiretikum Stabilitas : Melebur pada suhu 310 dan 400 C.

e. Carnauba Wax

Carnauba Wax (Rowe et al, 2009)

(26)

Pemerian : Serbuk agak kasar atau serpihan warna coklat muda hingga kuning pucat; bau khas lemah, tidak tengik

Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air; sukar larut dalam etanol (95%)P mendidih; larut dalam kloroform P hangat dan dalam toluen P;

mudah larut dalam benzen P hangat.

Titik Lebur : 80 – 86

Stabilitas : Lilin Carnauba stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup rapat, di tempat sejuk dan kering.

Penggunaan : untuk meningkatkan kekakuan formulasi, misalnya lipstik dan maskara.

f. Propilenglikol

Propilen glikol adalah suatu caian kental, jernih,tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak berbau, menyerap air pada udara lembab. Kelarutannya yaitu dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan dengan kloroform, larut dalam eter dan dalam beberapa minyak esensial, tetapi tidak dapat bercampur dengan minyak lemak.

Khasiat sebagai pelembab dan pelarut g. Beeswax white

Malam putih berasal dari pengelantangan dan pemurnian malam kuning yang di peroleh dari sarang lebah madu apis mellifera. Malam putih merupkan lilin putih tidak berasa, berwarna putih atau kekuningan terang dengan bau khas. Malam putih

(27)

Memiliki titik lebur antara 62-65 drajat dan mengalami ketidakcampuran dengan bahan pengoksidasi. Berfungsi sebagai pengeras dalam kosmetik. Konsentrasi yang di gunakan sebesar 3-10%. Pada saat digunakan dengan konsentrasi lebih tinggi dapat menyebabkan warna agak memudar dan menyebabkan lipstick hancur ketika digunakan.

h. Cera Alba

Cera alba dibuat dengan memutihkan malam yang diperoleh dari sarang lebah Apis mellifera L. Pemeriannya yaitu berupa zat padat, berwarna putih kekuningan, dan bau khas lemah. Kelarutannya yaitu praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol (95%), larut dalam 16 kloroform, eter, minyak lemak, dan minyak atsiri. Suhu leburnya yaitu antara 62oC hingga 64oC. Khasiat umumnya digunakan sebagai zat tambahan dan digunakan untuk membuat lipstik menjadi keras dan menstabilkan sediaan.

i. Metil Paraben

Pemeriannya yaitu berupa hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih, tidak berbau atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar. Kelarutannya yaitu sukar larut dalam air dan benzen, mudah larut dalam etanol dan dalam eter, larut dalam minyak, propilen glikol, dan dalam gliserol. Suhu leburnya antara 125oC hingga 128oC. Khasiatnya adalah sebagai zat tambahan (zat pengawet)

j. BHT

Pemberianya yaitu hablur padat,putih, bau khas, dan lemah. Kelarutannya yaitu tidak larut dalam air dan propilen glikol, mudah larut dalam etano, dalam kloroform dan dalam eter. Khasiat sebagai antioksidan yang ditambahkan pada minyak atau lemak agar tidak tengik.

k. Oleum ricini (minyak jarak)

Minyak jarak adalah minyak lemak yang diperoleh dengan perasan dingin biji Ricinus communis L. Tidak mengandung bahan tambahan. Pemeriannya berupa

(28)

cairan kental transparan,kuning pucat atau hampir tidak berwarna, bau lemah, bebas dari bau asing dan tengik, rasa khas. Kelarutannya yaitu larut dalam etanol, dapat bercampur dengan etanol mutlak, dan dengan asam asetat glasial, dengan kloroform dan dengan eter. Khasiat digunakan untuk pencegah proses pengendapan yang mungkin terjadi pada pigmen saat proses peparasi

l. Vaselin

Vaselin alba adalah campuran hidrokarbon setengah padat yang telah diputihkan, diperoleh dari minyak mineral. Pemeriannya yaitu berupa massa lunak, lengket, bening, putih, sifat ini tetap walaupun zat telah dileburkan. Kelarutannya yaitu praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%), tetapi larut dalam kloroform dan eter. Suhu leburnya antara 38º hingga 56ºC. Khasiat umumnya digunakan sebagai zat tambahan dan agar homogenitas sediaan lebih bagus

m. Paraffin Liquid

Parafin terutama digunakan dalam formulasi farmasi topikal sebagai komponen krim dan salep. Pada salep, mungkin digunakan untuk meningkatkan titik leleh formulasi atau untuk menambah kekakuan.Selain itu, parafin juga ditambahkan sebagai coating agent pada kapsul dan tablet, dan digunakan dalam aplikasi beberapa makanan(Rowe et al, 2009).

Parafin cair adalah campuran hidrokarbon yang diperoleh dari minyak mineral, sebagai zat pemantap dapat ditambahkan tokoferol atau butilhidroksitoluen tidak lebih dari 10 bpj. Parafin cair mempunyai pemerian cairan kental, transparan, tidak berfluoresensi, tidak berwarna, hampir tidak berbau, dan hampir tidak mempunyai rasa. Mempunyai kelarutan praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%) p, larut dalam kloroform P, dan dalam eter P (Depkes RI, 1995)

n. Parfume

Parfum digunakan untuk memberikan bau yang menyenangkan, menutupi bau dari lemak yang digunakan sebagai basis dan dapat menutupi bau yang mungkin timbul selama penyimpanan dan penggunaan lipstik

(29)

o. Tween 80

Pemeriannya yaitu cairan seperti minyak, jernih berwarna kuning muda hingga coklat muda, bau khas lemah, rasa pahit dan hangat. Kelarutannya yaitu sangat mudah larut dalam air, larutan tidak berbau dan praktis tidak berwarna, larut dalam etanol, dalam etil asetat, tidak larut dalam minyak mineral. Khasiat sebagai pelarut dan pengemulsi

c. Metode

Color grinding (Penggilingan)

a. Langkah pertama dalam pembuatan lipstik adalah mendispersikan pewarna ke dalam minyak atau dalam campuran basis sebagai kandungan yang homogen hingga terbentuk massa yang lembut secara menyeluruh.

b. Pigmen yang digunakan dalam lipstik diberikan dalam bentuk serbuk yang ukuran partikel pada umumnya sangat kecil.

c. Operasi penggilingan tidak ditujukan untuk maksud mengurangi ukuran partikel itu sendiri tetapi untuk memecah agglomerasi.

d. Umumnya ini diberikan dengan roller mill (penggilingan rol) atau colloid mill (penggilingan koloid).

e. Penggiling ini digunakan untuk membentuk lapisan tipis bahan-bahan baku tertentu sampai ke alat hight suction/shear equipment yang digunakan untuk mendispersikan gums dan gelling agent lainnya ke dalam suatu batch.

f. Peralatan-peralatan ini menjamin terbentuknya lapisan bahan baku yang seragam, sehingga dapat dihasilkan produk yang homogen, bebas dari gumpalan-gumpalan d. Evaluasi

Pemeriksaan mutu fisik meliputi pemeriksaan homogenitas, pemeriksaan pH , uji oles, uji iritasi dan uji kesukaan.

a. Pemeriksaan Organoleptis

(30)

Pengamatan yang meliputi identitas pemeriksaan organoleptis bertujuan untuk memberikan objektifitas dengan mendeskripsikan bentuk, warna , dan bau menggunakan pengamatan menggunakan panca indra

b. Pemeriksaan Homogenitas

Masing-masing sediaan lipstik yang dibuat diperiksa homogenitasnya dengan cara mengoleskan sejumlah tertentu sediaan pada kaca yang transparan. Sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butir-butir kasar.

c. Penentuan pH Sediaan

Penentuan pH menggunakan alat pH meter. Alat terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan larutan dapar standar netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01) hingga alat menunjukkan harga pH tersebut. Kemudian elektroda dicuci dengan aquadest, lalu dikeringkan dengan tisu. Sampel dibuat dalam konsentrasi 1% yaitu ditimbang 1 g sediaan dan dilarutkan dalam 10 ml aquadest.

Kemudian elektroda dicelupkan dalam larutan tersebut. Dibiarkan alat menunjukkan harga pH sampai konstan. Angka yang ditunjukkan pH meter merupakan pH sediaan lipstick.

d. Uji Oles

Uji oles dilakukan secara visual dengan cara mengoleskan lipstik pada kulit punggung tangan kemudian mengamati banyaknya warna yang menempel dengan perlakuan 5 kali pengolesan. Sediaan lipstik dikatakan mempunyai daya oles yang baik jika warna yang menempel pada kulit punggung tangan banyak dan merata dengan beberapa kali pengolesan pada tekanan tertentu. Pemeriksaan dilakukan terhadap masing-masing sediaan yang dibuat dan dioleskan pada kulit punggung tangan dengan 5 kali pengolesan.

e. Uji Iritasi

Uji iritasi dilakukan terhadap sediaan lipstik yang dibuat dengan maksud untuk mengetahui bahwa lipstik yang dibuat dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak.

(31)

Iritasi dapat dibagi menjadi 2 kategori, yaitu iritasi primer yang akan segera timbul sesaat setelah terjadi pelekatan atau penyentuhan pada kulit, dan iritasi sekunder yang reaksinya baru timbul beberapa jam setelah penyentuhan atau pelekatan pada kulit.

Teknik yang digunakan pada uji iritasi ini adalah uji tempel terbuka (Patch Test) pada lengan bawah bagian dalam terhadap 5 orang panelis. Uji tempel terbuka dilakukan dengan mengoleskan sediaan yang dibuat pada lokasi lekatan dengan luas tertentu (2.5 x 2.5 cm), dibiarkan terbuka dan diamati apa yang terjadi. Uji ini dilakukan sebanyak 3 kali sehari selama tiga hari berturut-turut untuk sediaan yang paling tinggi konsentrasi ekstrak buah naga merah dan pandan wangi 40%, reaksi yang terjadi diamati. Reaksi iritasi positif ditandai oleh adanya kemerahan, gatal-gatal, atau bengkak pada kulit lengan bawah bagian 39 dalam yang diberi perlakuan. Adanya kulit merah diberi nilai (+), gatal-gatal (++), bengkak (+++), dan yang tidak menunjukkan reaksi apa-apa diberi nilai (-).

Kriteria panelis uji iritasi sesuai dengan.

1. Wanita

2. Usia antara 20-30 tahun

3. Berbadan sehat jasmani dan rohani

4. Menyatakan kesediannya dijadikan panelis uji iritasi (34).

f. Uji Kesukaan (Hedonic Test)

Uji kesukaan juga disebut uji hedonik. Dalam uji hedonik atau kesukaan, seseorang diminta tanggapan pribadinya mengenai kesukaan atau ketidak sukaan yang disebut skala hedonik, berikut skala hedonik.

1= sangat tidak suka (dislike very much) 2= tidak suka (dislike moderately) 3= agak suka (like slightly)

(32)

4= suka (like oderately)

5= sangat suka (like very much)

BAB III PEMBAHASAN

3.1 Bagaimana Karakteristik Sediaan Lipstick Yang Baik ?

Karakteristik sediaan lipstik yang baik menurut Tranggono dan Latifah (2007) adalah dapat bertahan di bibir dalam waktu lama, cukup melekat tetapi tidak sampai lengket, tidak

(33)

mengiritasi dan menyebabkan alergi pada bibir, dapat melembabkan bibir, memberikan warna yang merata, memiliki penampilan dan bentuk yang menarik, serta tidak meneteskan minyak.

Sedangkan dari sudut pandang Dari sudut pandang Mitsui, T., 1997, lipstik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a. Tidak mengiritasi atau menimbulkan alergi pada bibir.

b. Penampilan menarik, baik wama, bau, rasa maupun bentuknya.

c. Memberikan wama yang merata pada bibir.

d. Stabil dalam penyimpanan.

e. Tidak meneteskan minyak, permukaannya mulus, tidak berbintik-bintik, atau memperlihatkan hal-hal yang tidak menarik.

f. Melapisi bibir secara mencukupi.

g. Dapat bertahan di bibir.

h. Cukup melekat pada bibir, tetapi tidak sampai lengket.

i. Melembabkan bibir dan tidak mengeringkannya

3.2 Apa Komponen Sediaan Lipstik ?

Adapun komponen utama dalam sediaan lipstik terdiri dari minyak, lilin, lemak dan zat warna.

a. Minyak

Minyak adalah salah satu komponen dalam basis lipstik yang berfungsi untuk melarutkan atau mendispersikan zat warna. Minyak yang sering digunakan antara lain minyak jarak, minyak mineral dan minyak nabati lain. Minyak jarak merupakan minyak nabati yang unik karena memiliki viskositas yang tinggi dan memiliki kemampuan melarutkan staining-dye dengan baik. Minyak jarak merupakan salah satu komponen penting dalam banyak lipstik modern. Viskositasnya yang tinggi adalah salah satu keuntungan dalam menunda pengendapan dari pigmen yang tidak larut pada saat pencetakan, sehingga dispersi pigmen benar benar merata (Balsam, 1972).

b. Lilin

(34)

Lilin digunakan untuk memberi struktur batang yang kuat pada lipstik dan menjaganya tetap padat walau dalam keadaan hangat. Campuran lilin yang ideal akan menjaga lipstik tetap padat setidaknya pada suhu 50°C dan mampu mengikat fase minyak agar tidak ke luar atau berkeringat, tetapi juga harus tetap lembut dan mudah dioleskan pada bibir dengan tekanan serendah mungkin. Lilinyang digunakan antara lain carnauba wax, candelilla wax, beeswax, ozokerites, spermaceti dan setil alkohol.

Carnauba wax merupakan salah satu lilin alami yang sangat keras karena memiliki titik lebur yang tinggi yaitu 85°C. Biasa digunakan dalam jumlah kecil untuk meningkatkan titik lebur dan kekerasan lipstik (Balsam, 1972).

c. Lemak

Lemak yang biasa digunakan adalah campuran lemak padat yang berfungsi untuk membentuk lapisan film pada bibir, memberi tekstur yang lembut, meningkatkan kekuatan lipstik dan dapat mengurangi efek berkeringat dan pecah pada lipstik.

Fungsinya yang lain dalam proses pembuatan lipstik adalah sebagai pengikat dalam basis antara fase minyak dan fase lilin dan sebagai bahan pendispersi untuk pigmen.

Lemak padat yang biasa digunakan dalam basis lipstik adalah lemak coklat, lanolin, lesitin, minyak nabati terhidrogenasi dan lain-lain.

d. Zat warna

Zat warna dalam lipstik dibedakan atas dua jenis yaitu staining dye dan pigmen.

Staining dye merupakan zat warna yang larut atau terdispersi dalam basisnya, sedangkan pigmen merupakan zat warna yang tidak larut tetapi tersuspensi dalam basisnya. Kedua macam zat warna ini masing- masing memiliki arti tersendiri, tetapi dalam lipstik keduanya dicampur dengan komposisi sedemikian rupa untuk memperoleh warna yang diinginkan. Pigmen-pigmen yang diigunakan dalam lipstik dapat berupa lake dari barium atau kalsium, akan tetapi lake dari stronsium juga sering digunakan karena menghasilkan warna yang tahan lama dan jernih. Untuk menghasilkan warna yang agak pudar (muda), pigmen putih seperti titanium dioksida dan zink oksida harus ditambahkan (Balsam, 1972).

Zat tambahan dalam lipstik adalah zat yang ditambahkan dalam formula lipstik untuk menghasilkan lipstik yang baik, yaitu dengan cara menutupi kekurangan yang ada tetapi

(35)

dengan syarat zat tersebut harus inert, tidak toksik, tidak menimbulkan alergi, stabil dan dapat bercampur dengan bahan-bahan lain dalam formula lipstik. Zat tambahan yang digunakan yaitu antioksidan, pengawet dan parfum.

a. Antioksidan

Antioksidan digunakan untuk melindungi minyak dan bahan tak jenuh lain yang rawan terhadap reaksi oksidasi. BHT, BHA dan vitamin E adalah antioksidan yang paling sering digunakan (Butler, 2000).

b. Pengawet

Kemungkinan bakteri atau jamur untuk tumbuh di dalam sediaan lipstik sebenarnya sangat kecil karena lipstik tidak mengandung air. Akan tetapi ketika lipstik diaplikasikan pada bibir kemungkinan terjadi kontaminasi pada permukaan lipstik sehingga terjadi pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu perlu ditambahkan pengawet di dalam formula lipstik. Pengawet yang sering digunakan yaitu metil paraben dan propil paraben (Butler, 2000).

c. Parfum

Parfum perlu ditambahkan dalam formula lipstik untuk menutupi bau dari minyak dan lilin yang terdapat dalam basis dan bau lain yang tidak enak yang timbul setelah lipstik digunakan atau disimpan. Parfum yang berasal dari minyak tumbuhan (bunga) adalah yang paling banyak digunakan (Balsam, 1972).

3.3 Metode Apa Saja Yang Digunakan Untuk Membuat Formula Lipstik ? a. Color grinding (Penggilingan)

1. Langkah pertama dalam pembuatan lipstik adalah mendispersikan pewarna ke dalam minyak atau dalam campuran basis sebagai kandungan yang homogen hingga terbentuk massa yang lembut secara menyeluruh.

2. Pigmen yang digunakan dalam lipstik diberikan dalam bentuk serbuk yang ukuran partikel pada umumnya sangat kecil.

3. Operasi penggilingan tidak ditujukan untuk maksud mengurangi ukuran partikel itu sendiri tetapi untuk memecah agglomerasi.

4. Umumnya ini diberikan dengan roller mill (penggilingan rol) atau colloid

(36)

mill (penggilingan koloid).

5. Penggiling ini digunakan untuk membentuk lapisan tipis bahan-bahan baku tertentu sampai ke alat hight suction/shear equipment yang digunakan untuk mendispersikan gums dan gelling agent lainnya ke dalam suatu batch.

6. Peralatan-peralatan ini menjamin terbentuknya lapisan bahan baku yang seragam, sehingga dapat dihasilkan produk yang homogen, bebas dari gumpalan-gumpalan b. Roller Mill

Dalam roller mill , suspensi pigmen dalam minyak dilewatkan diantara silinder yang berputar pada kecepatan yang berbeda, satu dari yang lainnya, jarak ruang menjadi sangat kecil untuk bergabung menjadi agglomerat.

c. Colloid Mill

Dalam colloid mill , campuran ditekan diantara dua piringan yang berjarak dan tertutup, dimana salah satu dari putarannya pada kecepatan tinggi.

d. Melting dan Mixing

1. Basis lemak mula-mula dilebur dalam bejana stainless-steel. Beberapa penambahan minyak jarak dan pigmen ditambahkan kemudian diaduk.

2. Kemudian terakhir ditambahkan parfum, antioksidan, pengawet yang dimasukkan kedalam wadah untuk disiapkan sebelum dibentuk.

e. Molding

1. Peleburan massa lipstik dimasukkan melalui dasar cetakan yang hangat yang kemudian dilewatkan pada wadah yang dingin sebagai tempat produk.

2. Wadah kemudian dapat dihilangkan dan lipstik dapat dipindahkan untuk proses akhir sebelum dibakar dan dilabel.

f. Flaming / Pembakaran

1. Ini umumnya dikerjakan dengan melewatkan pada gas flame, meskipun itu juga memungkinkan menggunakan elemen pemanas elektrik.

(37)

2. Jika biasa pemanas digunakan, api berasal dari hanya satu arah, lipstik harus diputar sekali-kali melewati api sehingga seluruh permuka an terbentuk.

3.4 Apa Saja Evaluasi Yang Harus Dilakukan ? a. Uji Organoleptik

Evaluasi sediaan lipstik dilakukan terhadap masing-masing formula Evaluasi stabilitas sediaan lipstik dilakukan selama 5 minggu dengan pemeriksaan setiap minggu dan lipstick disimpan pada suhu kamar dan suhu 45ºC. Evaluasi stabilitas fisik lipstik meliputi :

1. Penampilan Fisik

Pemeriksaan dilakukan dengan mengamati permukaan lipstik, mengenai pembentukan Kristal dan keringat.

2. Aroma

Pengamatan dilakukan dengan mengamati aroma lipstik selama penyimpanan pada suhu kamar dan dipercepat 45ºC.

b. Uji Kehomogenan 1. Homogenitas Sediaan

Masing – masing sediaan lipstik diperiksa homogenitasnya dengan cara mengambil sejumlah tertentu sediaan lipstik dan diletakkan pada kaca yang transparan (objek glass). Sediaan harus menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butir - butir kasar.

2. Homogenitas Polesan

Pengujian dilakukan dengan mengoleskan lipstik pada permukaan licin seperti punggung tangan atau bibir, kemudiaan dilihat dispersi warnanya homogen atau tidak (Barel, 2001).

c. Dispersi warna dalam Lipstik

Pengujian dilakukan dengan membelah lipstik menjadi dua bagian baik secara horizontal ataupun vertikal, kemudiaan dilihat dispersi warnanya homogen atau tidak(Barel, 2001).

(38)

d. Bobot Lipstik

Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui peningkatan atau pengurangan bobot yang mungkin terjadi pada saat lipstik disimpan pada suhu kamar dan suhu dipercepat.

Lipstik yang tidak baik akan memberikan peningkatan atau pengurangan bobot yang berarti selama penyimpanan.

e. Suhu Lebur

Pengujian dilakukan menggunakan melting point apparatus.Lipstik dimampatkan kedalam pipa kapiler hingga kediaman 10 mm, kemudian pipa kapiler tersebut diletakkan dalam alat melting point apparatus dengan posisi yang sesuai. Suhu pada lipstik mulai meleleh adalah suhu lebur lipstik (Orkin Et., al. 1991). Syarat lipstik melebur pada metode melting point adalah 60ºC atau lebih (Barel, 2001).

f. Penentuan pH Sediaan

Sediaan lipstik ditimbang 1gr kemudiaan dilelehkan dengan penangas air, kemudiaan setelah lipstik meleleh pH indikator dicelupkan pada sediaan tersebut setelah itu dilihat pH nya pada tabel indikator pH. Dicatat pHnya dan dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan (triplo).

g. Uji Iritasi Sediaan Lipstik

Teknik yang digunakan pada uji iritasi ini adalah uji temple terbuka (Patch Test) pada lengan bawah bagian dalam terhadap 20 orang panelis. Uji tempel terbuka dilakukan dengan mengoleskan sediaan yang dibuat pada lokasi lekatan dengan luas tertentu 2,5 x 2,5 cm, dibiarkan terbuka selama 24 jam dan diamati apa yang terjadi.

Diamati reaksi yang terjadi, reaksi iritasi positif ditandai oleh adanya kemerahan, gatal- gatal.

h. Pemeriksaan Stabilitas Sediaan

Pada perubahan bentuk diperhatikan apakah lipstik terja di perubahan bentuk dari bentuk awal pencetakan atau tidak, pada perubahan warna diperhatikan apakah lipstik terjadi perubahan warna dari warna awal pembuatan lipstik atau tidak, pada perubahan bau diperhatikan apakah lipstik masih berbau khas dari parfum atau dari bau khas dari ekstrak buah naga super merah.

(39)

3.5 Bagaimana Rancangan Formulasi Sediaan Lipstik ? TABELPEMBAHASAN

Komponen Bahan F/1 F/2 F/3 F/4

(SDR)

Karakteristik Bahan Bahan Aktif

Emoliens Minyak

jarak

20 1,655 3,304 15 cairan jernih tidak berwarna sampai kuning tidak berbau dan tidak berasa. Kelarutan dapat bercampur dengan kloroform dietil eter asam asetat glasial dan methanol, mudah larut dalam etanol dan petroleum eter, praktis tidak larut dalam air dan mineral oil.

Stiffening agent Lanolin 5 1,655 3,04 6 lemak berwarna kuning muda atau kuning pucat, agak aromatic lemah.

Kelarutan praktis tidak larut dalam etanol 95% mudah larut dalam klorofom dan eter. Lanolin mengandung senyawa pro oksidan dan tidak stabil bila bercampur dengan obat aktif

Agen Pengeras ( 2- 10%) Cetyl Alcohol

2 1,241 2,28 3 Lilin berwarna putiih, bentuknya granul atau kubus, tidak berbau dan tidak berasa. Titik leleh 45 – 52oC. Tidak Stabil bila disatukan dengan agen oksidator kuat. Mudah larut

(40)

dalam etanol 95% dan eter, kelarutan meningkat bila suhu tinggi, dapat

bercampur dengan lemak, paraffin padat dan paraffin cair, serta isopropyl miristat.

Base Oleum

Cacao

15 - - 13 Lemak padat berwarna putih

kekuningan, bau khas aromatic. Sukar larut dalam etanol, mudah larut dalam kloroform dalam eter dan eter minyak tanah/ titik leleh 31 – 34oC.

Agen pengeras (4-10%) dan coating agent

Carnaub a wax

5 1,034 1,90 4 Berwarna cokelat terang, bentuk tidak beraturan, tidak berbau dan tidak berasa. Melting point 80- 880C, memberikan

kekakuan dan kekerasan Agen Pengeras 3-10% Beeswa

x, white

5 - - 3 Setengah padat berwarna

putih Melting point 62- 640C, konsentrasi 5-20%

mengikat minyak dan waxes dengan melting point yang tinggi.

Humektan Propilen

glikol

10 1,5 - 10 Cairan kental, jernih, tidak berwarna, tidak berbau, rasa manis, higroskopis. Larut dalam air, etanol 95% , klorofrom, larut dalam 6 bagian eter, tidak larut dalam minyak tanah dan

(41)

minyak lemak.

Base Cera

Alba

20 7,864 14,45 - Setengah padat berwarna putih. Melting point 62 – 64oC, konsentrasi 5 – 20 %, mengikat minyak dan waxes dengan melting point yang tinggi.

Pengawet Metil

Paraben

0,5 0,03 0,05 0,02 Hablur padat kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih tidak berbau atau berbau khas lemah.

Sukar larut dalam air dalam benzene dan dalam

tetraklorida, mudah larut dalam etanol dan dalam eter.

Antioksidan BHT 0.1 0,03 0,05 0,1 Hablur padat berwarna putih

dan bau khas lemah, praktis tidak larut dalam air dan PG mudah larut dalam etanol, klorofrom dan eter, titik leleh 70oC BHT menjadi rusak ketika terpapar cahaya, lembab dan panas menyebabkan perubahan warna dan penurunan aktivita agen pengoksidadi kuat seperti peroksida dan permanganate, interkasi dengan garam besi menyebabkan perubahan warna dan hilangnya

(42)

aktivitas.

Parfum Oleum

green tea

0,4 - - - Cairan, bau khas

Base Vaselin - 7,036 12,93 - Setengah Padat

Base Paraffin

Liq

Ad 100

- 2,50 Ad

100

Cairan, Jernih tidak berbau

Parfum Oleum

Rosae

- 0,5 0,25 0,5 Cairan, bau khas

Surfaktan Tween

80

- - 0,50 - Cairan, berwarna kuning,

tidak berbau

Pewarna Merah Color

3106 D.&C.

Red No.6 (*Pigm ent Concen trate)

- - - 35,5 Padat

(43)

BAB IV KESIMPULAN

4.1 Kesimpulan

a. Apa Karakteristik Sediaan Lipstik Yang Baik

Karakteristik sediaan berupa lipstik berwarna merah cabai, aroma rose yang soft, titik lebur yang dihasilkan 580C-600C, softening point 50-550C, microbial testing tidak lebih dari 100 cfu/gram, tidak menunjukan adanya ketengikan dan pH sediaan memenuhi syarat yaitu 5,5. Adapun yang menyebabkan lipstik tersebut permanen adalah wax.

b. Apa Komponen Sediaan Lipstik

Komponen bahan pembuatan lipstik terdiri dari wax, minyak, lemak, zat pewarna, antioksidan, pengawet dan parfum.

c. Metode Apa Saja Yang Digunakan Untuk Membuat Formula Sediaan Lipstik Metode pembuatan lipstik yang digunakan adalah Color grinding

d. Evaluasi apa saja yang harus dilakukan

Evaluasi sediaan akhir meliputi pemeriksaan warna dengan colorimeter, penentuan titik lebur, softening point yaitu ketahanan terhadap berbagai variasi suhu, microbial testing, tes ketengikan dan uji Ph.

e. Bagaimana Rancangan Formulasi Sediaan Lipstik a. Minyak jarak (emoliens)

b. Lanolin (stiffening agent) c. Cetyl alcohol (agent pengeras) d. Oleum Cacao (base)

(44)

e. Camauba wax (agent pengeras dan coating agent) f. Beeswax, white

g. Propilenglikol (humektan) h. Cera alba (base)

i. Metil paraben (pengawet) j. BHT (antioksidan)

k. Oleum green tea/oleum roase (parfume) l. Vaseline (base)

m. Paraffin liq (base) n. Tween 80 (surfaktan) Pewarna merah

4.2 Saran

Dalam formularium ini diharapkan para pembaca dapat memahami Formulasi Sediaan Lipstik Permanen (Padat) dengan baik.

(45)

DAFTAR PUSTAKA

Ditjen POM. Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 1985. Hal.

83-86, 195-197.

Formulasi Sediaan Lipstik Menggunakan Ekstrak Beras Ketan Hitam (Oryza sativa L var Furma Glutinosa) sebagai Pewarna http:// repository.usu.ac.id/handle/123456789/29637.

Diakses : 21 April 2018.

Syarif M. Wasitaatmaja. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: Universitas Indonesia.

1997.Andre O B, Marc Paye, Howard I M. Handbook Cosmetic Science and Technology.

2009. USA: Informa Business.

Ditjen POM. Formularium Kosmetik Indonesia. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. 1985. Hal.

189.

Tranggono RI, Latifah F. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2007. Hal. 90-93, 100-101.

Fennema OR. Food Chemistry. New York; Marcel Dekker Inc. 1996.

Lipstik (Kosmetika) 2. http:// es.scibd.com/doc/87832644/Lipstik-Kosmetika2. Diakses : 20 April 2018.

Handayani P A, Rahmawati A. Pemanfaatan Kulit Buah Naga (Dragon Fruit) Sebagai Pewarna Alami Makanan Pengganti Pewarna Sintetis. JBAT. 2012; 1 (2): 19-24.

Adliani N, Nazliniwaty, Purba D. Formulasi Lipstik Menggunakan Zat Warna Dari Ekstrak Bunga Kecombang (Etlingera elatior (Jack) R.M.Sm). Journal Of Pharmaceutics and Pharmacology. 2012; 1 (2): 87 – 94.

Risnawati, Nazliniwaty, Purba D. Formulasi Lipstik Menggunakan Ekstrak Biji Coklat (Theobroma cacao L.) Sebagai Pewarna. Journal of Pharmaceutics and Pharmacology.

2012 Vol. 1 (1): 78 – 86

Gambar

Tabel 2.1 Zat Tambahan yang Diperbolehkan

Referensi

Dokumen terkait

Usaha pembuatan kosmetik lips balm dari bahan alami ini dipilih karena banyak kaum hawa yang menggunakan lips balm untuk mempercantik bibir indahnya.. Kosmetik

Di Amerika Syarikat, Pentadbiran Makanan dan Dadah (FDA), yang mengawal selia kosmetik, mentakrifkan kosmetik sebagai "bertujuan untuk digunakan kepada tubuh badan manusia

Berdasarkan hal tersebut, maka didapatkan sebuah kesimpulan bahwa magnet permanen tidak bisa digunakan untuk menggerakkan motor jika tidak mendapatkan suplai sumber tenaga

Makalah ini membahas proses desain, pembuatan dan pengujian alat kontrol temperatur yang telah digunakan dalam operasi pengerasan bahan dengan nitridasi plasma di

Yang sangat perlu diperhatikan saat pembuatan cetakan permanen adalah saat pengeringan, wadah cetakan dengan tutup cetakan harus pas dan tidak ada rongga agar

Ibu-ibu terbiasa hanya menggunakan jenis kosmetik (shampoo) untuk menjaga kesehatan rambut, padahal kalau jenis kosmetik tersebut yang digunakan tidak cocok

Pada umumnya produk kosmetik untuk krim pemutih dengan bahan herbal asam kojic yang merupakan produk yang paling sering digunakan untuk penggunaan topical

Makalah yang membahas pemanfaatan cangkang telur ayam sebagai bahan pembuatan masker