LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI DAN PRODUKSI BENIH (PNA1321)
Teknologi Produksi Benih Jeruk Bebas Penyakit
Oleh:
Lutfi Nurcahyani A1D021104
KEMENTERIAN PENDIDIKAN, KEBUDAYAAN, RISET, DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO
2022 ISI
Di Indonesia, jeruk menjadi salah satu komoditas utama setelah pisang dan mangga. Tanaman jeruk sudah lama dibudidayakan di Indonesia dan di negara- negara tropis Asia lainnya. Buah jeruk dari kawasan Asia memiliki warna dan bentuk yang khas dan menarik. Tanaman jeruk dikenal dengan nama Latin Citrus sinensis Linn. Tumbuhan Ini merupakan tanaman yang dapat tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis (Nenih et al,. 2020).
Jeruk merupakan komoditas hortikultura yang mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan sampai saat ini masih menjadi prioritas untuk dikembangkan oleh Kementerian Pertanian. Oleh karena itu, untuk mewujudkan pengembangan agribisnis jeruk yang berdaya saing dan berkelanjutan maka harus didukung dengan industri perbenihan yang tangguh (Supriyanto et al., 2014 dalam Zamzami et al., 2021).
Menurut Sutopo (2014) dalam Purba & Purwoko (2019), selain pemilihan bibit jeruk unggul keberhasilan budidaya jeruk juga dipengaruhi oleh pemilihan lokasi, penyiapan lahan dan pemeliharaan tanaman. Penyebab utama hasil panen jeruk yang rendah disebabkan oleh penggunaan bibit yang kurang baik dan gangguan hama penyakit tanaman. Bibit yang baik harus bebas dari penyakit, tinggi tanaman ±75 cm dan perakaran yang tidak bengkok.
Industri perbenihan jeruk merupakan salah satu sektor hulu pendukung agribisnis jeruk di Indonesia. Dukungan industri benih yang tangguh sangat dibutuhkan bagi pengembangan agribisnis jeruk yang berdaya saing dan berkelanjutan (Supriyanto et al., 2014 dalam Zamzami et al., 2020). Benih jeruk berkualitas yang berlabel bebas penyakit itu sendiri mempunyai karakteristik : 1) bebas dari 5 penyakit sistemik yaitu CVPD (Citrus Vein Phloem Degeneration), CTV (Citrus Tristeza Virus), CVEV (Citrus Vein Enation Virus), CEV (Citrus Exocortis Viroid) dan CPsV (Citrus Psorosis Virus); 2) kemurnian varietas batang atas dan batang bawahnya terjamin, dan 3) tahapan proses produksinya sesuai dengan regulasi pengawasan dan sertifikasi benih (Mulyanto & Taflikhah, 2017 dalam Zamzami et al., 2020).
Benih jeruk yang bermutu (berlabel) dihasilkan oleh penangkar benih resmi terdaftar di Dinas Pertanian setempat, menggunakan entres dari induk benih
pokok (Blok pengadaan mata tempel), serta melaporkan proses produksi benih pada institusi perbenihan dan diawas secara periodik oleh petugas pengawas benih (BPSB).
Tahapan penting dalam produksi benih jeruk bebas penyakit yaitu : 1. Penyiapan Media Tanam
Kegiatan ini meliputi persiapan alat dan bahan semai, pengisian media tanam campuran pasir halus, tanah dan sekam pada bak/polybag semai serta desinfeksi media tanam dengan fungisida.
2. Penyemaian Benih Tanaman Jeruk
Sebelum penyemaian biji dilakukan, biji jeruk diperiksa terlebih dahulu oleh Pengawas Benih Tanaman. Penyemaian yang dilakukan yaitu penyemaian batang bawah. Batang bawah yang banyak digunakan di Indonesia adalah Japanche Citroen (JC) dan Rough Lemon (RL) karena telah beradaptasi baik dan memiliki tingkat kompatabilitas/kesesuaian yang tinggi dengan hampir semua varietas jeruk komersial. Benih (biji) yang baik untuk disemai diambil dari buah JC atau RL yang sehat dan masak fisiologis.
Untuk semai benih batang bawah bisa dilakukan di bedengan, kotak/ tray plastik, polibag berdiameter 35 - 40 cm, menggunakan media semai pasir halus (pinggiran sungai) yang disterilkan dengan uap panas 80 - 90 ᴼC selama 60 menit. Apabila tidak memungkinkan bisa dilakukan dengan cara menyiramkan larutan fungisida pada media semai yang akan digunakan. Semai benih bisa dilakukan dengan cara menanam benih dalam alur tanam (antar alur 5 cm) atau dengan menebar benih diatas media semai secara merata (250 gr benih/m2) kemudian ditutup dengan tanah halus setebal 1 cm dan disiram air sampai lembab.
Agar benih tumbuh serentak, sebaiknya permukaan persemaian ditutup dengan plastik hitam dan dibuka saat benih mulai tumbuh (± 14 hari).
3. Pemeliharaan Semaian Jeruk
Pemeliharaan semaian jeruk dapat dilakukan dengan :
Penyiraman tanaman di polybag dilakukan 2 kali dalam sehari yakni pagi dan sore hari untuk mencegah kekeringan pada media tanam jika tidak ada hujan.
Penyiraman cukup dilakukan 1 kali sehari jika ada hujan.
Pemberian fungisida dilakukan untuk pengendalian rebah kecambah dan pemberian molluskisida untuk hama keong pada media tanam dengan dosis 1/3 botol dilarutkan dalam 1 tangki air (15 liter) dan kemudian disemprotkan pada media tanam. Pemberian insektisida untuk pengendalian hama - hama perusak daun dilakukan setiap 3 hari sekali hingga 1 minggu agar pertumbuhan semaian benih jeruk tidak terganggu dan daunnya tidak keriting atau salah bentuk dengan dosis 2 cc/lt atau 2 gr/lt.
Pengendalian hama secara mekanis dilakukan dengan penggunaan perangkap maupun penggunaan arang sekam. Penggunaan perangkap tikus ataupun rodentisida untuk pengendalian hama tikus yang menyerang semaian benih jeruk. Pemasangan perangkap kuning dilakukan untuk mencegah hama-hama perusak tanaman jeruk.
Penyiangan dan pengendalian OPT dilakukan sesuai kebutuhan.
Pemupukan 5 gr ZA/ liter pada umur 1 dan 2 bulan.
Mencabut dan membuang semai abnormal (generatif) dan sisakan semai yang tumbuh normal (nuselar) karena pertumbuhannya lebih cepat (vigor)
Pemupukan semaian jeruk dilakukan setiap 2 minggu sekali tergantung kondisi tanaman. Pupuk yang diberikan berupa pupuk NPK dan ZA masing - masing 5 - 10 gram per liter air lalu diaduk hingga larut. Pemberian larutan pupuk sebanyak 100 - 200 ml untuk setiap polybag.
4. Pindah Semai (Transplanting)
Kegiatan pindah tanam (transplanting) benih jeruk (batang bawah) dilaksanakan secara bertahap sesuai dengan kesiapan pertumbuhan semaian biji.
Sebelum melaksanakan pindah tanam, persemaian terlebih dahulu diperiksa oleh Pengawas Benih Tanaman sebagai bagian dari proses sertifikasi.
Tahapan pindah tanam yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1) Penyiraman persemaian benih jeruk agar mudah mencabut benih dari media tanam,
2) Penyiraman media tanam untuk transplanting, 3) Seleksi benih tanaman yang abnormal,
4) Pemilihan benih tanaman yang sudah berdaun lebih dari 8 helai dan pencabutan benih tanaman tersebut,
5) Seleksi benih tanaman yang sudah dicabut (membuang tanaman yang abnormal, benih yg tumbuhnya menjadi 2 atau lebih padahal berasal dari 1 biji, akar yang bengkok atau putus),
6) Pencabutan benih dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak akar dan dipilih semai yang berakar lurus. Sebagian akar dipotong dan disisakan 5 - 7 cm, kemudian dicelupkan dalam lumpur yang telah diberi hormon tumbuh (auxin),
7) Semaian yang sudah dicelupkan dalam lumpur, selanjutnya ditanam dalam polibag (diameter 10 cm, tinggi 30 cm) menggunakan media tanam anatara lain : tanah gunung, pasir halus endapan sungai atau campuran antara tanah pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan (1:2:1). Bila dipindahkan dibedengan dengan lebar 60 cm dengan jarak tanam 25 x 40 cm. Untuk mengurangi kematian setelah semai ditanam, sebaiknya perakarannya dicelupkan dalam lumpur terlebih dahulu, kemudian baru ditanam pada pagi atau sore hari dengan posisi akar tetap klurus.
Kemudian batang bawah dapat diokulasi pada umur 3 - 4 bulan setelah tanam, dengan ketinggian tanaman mencapai 50 - 60 cm dan berdiameter 0,5 - 1 cm.
5. Okulasi
Okulasi atau penempelan merupakan proses penggabungan/ pertautan antara sel-sel mata tempel (entres) dengan sel-sel batang bawah (seeding) membentuk jaringan yang menyatu. Sebelum memulai kegiatan okulasi jeruk, akan dilakukan pemeriksaan persemaian batang bawah oleh pengawas benih tanaman (PBT) BPSB yaitu pemeriksaan kesiapan batang bawah dan juga entresnya.
Keberhasilan okulasi dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain : kondisi kesehatan batang bawah dan kualitas mata tempel (entres) yang digunakan. Batang bawah yang sehat memiliki perakaran yang sempurna sehingga mampu mendukung terbentuknya sel - sel baru (callus) sehingga batang bawah dan entres menyatu lebih cepat. Waktu yang terbaik untuk pelaksanaan okulasi adalah pada musim kemarau (bulan April – September). Mata okulasi yang sudah dipastikan hidup atau berhasil bisa dibuka pada 20 - 21 hari stelah okulasi.
6. Pemeliharaan pasca okulasi
Pemeliharaan pasca okulasi jeruk dapat dilakukan dengan :
Penyiraman dilakukan 3 kali seminggu disesuaikan dengan kondisi lingkungan,
Membuka tali okulasi pada hari ke 21,
Memangkas batang bawah 1 - 2 cm diatas bidang okulasi,
Memangkas tunas - tunas liar yang tumbuh selain tunas mata okulasi,
Pemupukan menggunakan pupuk kimia ZA dan NPK yang dilarutkan dalam air dengan takaran 15 gr ZA dan 10 gr NPK (15 - 15 - 15)/ liter air setiap 2 minggu.
Pengendalian OPT dilakukan setiap minggu disesuaikan dengan keadaan OPT sasaran dan diutamakan mencegah serangan hama penular (Vektor) penyakit CVPD dan penyakit CTV yaitu kutu daun (Apid Sp).
Pengendalian hama lain (Trhips, tungau dan ulat penggerek daun, serta gangguan bercak daun (Alternaria solani) dan busuk pangkal batang (Diplodia) juga harus dilakukan untuk menghasilkan benih jeruk yang sehat.
7. Benih Siap Salur
Benih jeruk umur 5 - 6 bulan setelah okulasi dengan ketinggian minimal 50 cm dari bidang okulasi dan telah memiliki dua tahap pertunasan adalah benih yang siap untuk disalurkan setelah mendapatkan label dari Dinas Pengawasan san Sertifikasi Benih (BPSB).
8. Pengiriman Benih dan Pengemasan Benih
Pengiriman benih dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dalam polibag dan pengiriman benih tanpa tanah. Pengiriman benih dengan menggnakan polibag menggunakan transportasi darat waktu yang ditempuh tidak boleh lebih dari 4 hari, sedangkan pengiriman benih melalui kargo udara, pengiriman benih tanpa tanah diberi perlakuan dengan menggunakan hormon NAA (Napthalen Acetic Acid) dalam kemasan kerdus maksimum berisi 400 benih, setelah sampai tujuan kemasan langsung dibuka dan ditanam. Persyaratan penyaluran benih antara lain yaitu :
Benih berlebel.
Surat pengantar pengiriman benih dari produsen.
Surat pengantar dari Dinas Pertanian (PSBTH) bila dikirim antar pulau.
DAFTAR PUSTAKA
Devy, N. F. 2015. Potensi Pemanfaatan Teknologi Embriogenesis Somatik in Vitro Dalam Perbanyakan Massal Benih Jeruk Bebas Penyakit. J. Litbang Pert. Vol. 34 No. 4 : 169 - 176
Nenih, N., Rahimah, E. N., & Rasmilah, I. 2020. Budidaya Tanaman Jeruk Keprok oleh Kelompok Tani untuk Meningkatkan Kondisi Ekonomi di Desa Sindangsari Kecamatan Paseh Kabupaten Bandung. GEOAREA| Jurnal Geografi, 3(2), 1-9.
Purba, E. C., & Purwoko, B. S. 2019. Teknik Pembibitan, Pemupukan, dan Pengendalian Hama Penyakit Tanaman Komoditi Jeruk Siam (Citrus Nobilis Var. Microcarpa) di Kecamatan Simpang Empat dan Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumatra Utara, Indonesia. Jurnal Pro-Life, 6(1), 66-75.
Rambe, S. S. M. 2020. Teknologi Produksi Benih Batang Bawah Jeruk, http://cybex.pertanian.go.id/mobile/artikel/96239/Teknologi-Produksi- Benih-Batang-Bawah-Jeruk/. Diakses tanggal 29 November 2022.
Zamzami, L., & Widyaningsih, S. 2020. Peningkatan Kapasitas Penangkar Benih Jeruk terhadap Teknologi Produksi Benih Jeruk Bebas Penyakit Melalui Metode Pelatihan di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Jurnal Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, 4(1), 191-199.
Zamzami, L., Widyaningsih, S., & Dwiastuti, M. E. 2021. Model Penyediaan Benih Jeruk Bebas Penyakit Di Kabupaten Purworejo Jawa Tengah.