Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 2 No 3 Tahun 2019 ISSN: E-ISSN 2620-7982, P-ISSN: 2620-7990
TEORI EVOLUSI DARWIN: DULU, KINI DAN NANTI Leo Muhammad Taufik
Prodi Pendidikan IPA, Muhammadiyah Cirebon, Indonesia E-mail: [email protected]
Abstrak
Perkembangan ilmu tidak terlepas dari kemajuan teknologi begitu pula perkembangan teori Evolusi sebagai cabang dari ilmu Biologi yang sampai saat ini terus mengalami perkembangan. Walaupun banyak menimbulkan kontroversi, sampai saat ini teori evolusi Darwin dipandang memiliki keunggulan dibanding teori evolusi lainnya karena Darwin berhasil memperlihatkan datadata empiris terjadinya proses evolusi yang mengarah pada diversitas organisme. Artikel ini membahas teori evolusi Darwin sebagai bagian dari filsafat sains sesuai bukti- bukti pendukungnya. Berdasar hasil kajian dan analisis, teori evolusi Darwin hingga saat ini masih layak digunakan dan berkesesuaian dengan teori lainnya.
Kata Kunci: Teori Darwin, Epistemologi; Teori Evolusi; Ontologi Teori Evolusi Abstract
The development of science is inseparable from technological advances as well as the development of the theory of Evolution as a branch of the science of Biology which until now continues to develop. Although there are many controversies, up to now Darwin's theory of evolution is considered to have advantages over other evolutionary theories because Darwin succeeded in showing empirical data on the evolutionary process that leads to the diversity of organisms. This article discusses Darwin's theory of evolution as part of the philosophy of science in accordance with supporting evidence. Based on the results of studies and analysis, Darwin's theory of evolution is still suitable to be used and in accordance with other theories.
Keyword: Darwin's theory’; Epistemologi; Evolutionary Theory; Ontology evolutionary Theory 1. Pendahuluan
Apakah evolusi benar-benar terjadi? Pertanyaan ini mengundang banyak persepsi yang sulit untuk diterima oleh semua golongan. Teori tentang evolusi seringkali menjadi bahan perdebatan sekaligus mengundang penolakan dari berbagai golongan terutama dari golongan agamawan. Alasan penolakan tersebut tidak lain karena evolusi dianggap bertentangan dengan dalil yang tercantum dalam kitab suci yang mereka yakini. Kemunculan dan perkembangan teori evolusi tidak bertujuan untuk membuat manusia meragukan kebenaran kitab suci yang diyakininya akan tetapi justru dapat memperkuat keyakinan seseorang terhadap kebenaran agamanya. Sebagaimana Iskandar (2008) menyatakan bahwa teori evolusi tidak bertentangan dengan agama mana pun di dunia. Perdebatan yang selama ini terjadi disebabkan karena keterbatasan ilmu pengetahuan itu sendiri. Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, teori evolusi pun mengalami perkembangan menurut masanya.
Pada masa evolusi modern seperti saat ini telah banyak sarana serta konsep-konsep yang menunjang kemajuan teori evolusi. Kemajuan di bidang genetika, biokimia dan molekuler turut menyumbangkan konsep-konsep yang mendorong pada perkembangan teori evolusi khususnya
dalam, memetakan materi genetik dari fosil-fosil yang ditemukan di lapisan bumi tertentu, pewarisan sifat serta kekerabatan antar organisme ditinjau dari persentase persamaan materi genetiknya.
Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 2 No 3 Tahun 2019 ISSN: E-ISSN 2620-7982, P-ISSN: 2620-7990
Sebagai cabang ilmu Biologi kajian evolusi terfokus pada perubahan struktur organisme yang terjadi secara berangsur menuju kesesuaian fungsi dengan waktu dan tempat hidupnya. Bertolak dari batasan tersebut, banyak muncul anggapan bahwa evolusi hanya terjadi dalam jangka waktu yang sangat lama. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya perubahan organisme seringkali menjadi pembeda istilah evolusi dengan revolusi dalam ilmu sosial. Istilah revolusi merujuk pada perubahan yang terjadi dalam tempo yang relatif cepat. Lalu apakah mikroorganisme yang dapat mengalami perubahan dalam waktu relatif cepat dapat disebut sebagai evolusi?
Fenomena yang terjadi dewasa ini menunjukkan bahwa evolusi mikroorganisme dapat terjadi hanya dalam jangka waktu satu tahun (Mader & Windelspecht, 2018) dan manusia turut andil dalam mempercepat proses evolusi. Salah satu jenis mikroba yang diketahui mengalami evolusi dalam kisaran tahun adalah strain virus H5N1 yaitu virus penyebab penyakit flu burung. Data menunjukkan bahwa virus H5N1 yang pertama kali menyebabkan kematian di Indonesia yaitu pada tahun 2005 setelah sebelumnya ditemukan di Hongkong tahun 1997. Pada tahun 2018 harian Republika edisi 17 Februari 2018 mewartakan bahwa strain virus penyebab flu burung telah berubah menjadi H7N4.
Apakah perubahan yang terjadi pada virus tersebut dapat dikategorikan sebagai evolusi? Jika dalam hitungan beberapa tahun saja virus dapat dikategorikan mengalami evolusi jadi berapakah batasan waktu yang dibutuhkan untuk terjadinya evolusi makhluk hidup?
Pemahaman mengenai teori evolusi memberikan pandangan baru tentang cara menyikapi evolusi mikroba dalam jangka waktu yang singkat. Sebagai contoh, dokter tidak akan memberikan antibiotik kepada pasiennya hingga benar-benar diketahui bahwa pasiennya terinfeksi jenis bakteri spesifik. Berdasarkan hal tersebut perlu kita pelajari bukti-bukti empiris yang terjadi serta mekanisme proses evolusi terjadi.
2. Metode
Metode yang digunakan adalah studi literatur terkait teori evolusi Darwin beserta buktibukti empiris yang mendukungnya. Artikel ini memberikan pemahaman pragmatis mengenai bagaimana teori evolusi berlaku di era modern saat ini.
3. Hasil dan Pembahasan Isu-Isu pokok Evolusi: Konsep Inti Biologi
Teori evolusi identik dengan Darwin, walapun sebenarnya gagasan evolusi pertama kali bukan diperkenalkan oleh Darwin, tetapi kita dapat menelusurinya hingga zaman Yunani kuno. Thales (636 - 546 SM) dan Anaximander (611 - 547 SM) biasa memperbincangkan asal usul biota laut dan evolusi kehidupan. Phytagoras (570 - 496 SM), Xantus (kira-kira 500 SM) dan Empedocles (490 - 430 SM) juga membicarakan isu yang sama dalam tulisan-tulisan mereka (Comas, 1957 dalam Risatasa, 2013).
Plato (427-347 SM) percaya bahwa benda-benda yang diamati hanyalah tiruan (copy) dari dunia ide di keabadian yang tidak dapat dilihat. Agar mengerti dunia seseorang harus berkontemplasi prinsip- prinsip umum di sebalik hal yang diamati (Firman, 2019). Plato berpendapat bahwa dengan adanya evolusi, akan mengubah dunia yang organismenya sudah ideal dan beradaptasi sempurna terhadap lingkungannya. Berbeda dengan Aristoteles (384-322 SM) murid dari Plato, yang berargumen bahwa pengetahuan tentang dunia datang melalui pengalaman yang diinterpretasi nalar (reason) (Firman, 2019). Aristoteles menganut teori skala alami (scalae naturae) dimana skala alami membahas bahwa adanya klasifikasi bentuk kehidupan berdasarkan tingkat kompleksitas. Aristoteles meyakini bahwa spesies sudah berada dalam bentuk permanen, sempurna, dan tidak berkembang lagi.
Evolusi merupakan proses perubahan spesies dalam jangka waktu tertentu yang bertujuan agar mampu beradaptasi terhadap lingkungannya dan meneruskan perubahan tersebut kepada generasi
TEORI EVOLUSI MANUSIA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN
Oleh: Aas Siti Sholichah
Abstract: This paper will analyze the theory of human evolution that developed in the West and the theory of human evolution that is explained in the Qur'an with the interpretation approach. The method used in this paper is to use qualitative methods derived from sharing books relating to the above problems. The approach to the interpretation method of the Qur'an uses the thematic method, because this method can study contemporary problems. The theory of evolution began to be studied and debated in the 6th century BC, beginning with the Greek philosopher Anaximander, Empedocles, Lucretius, the same opinion was expressed by Arab biologist Al Jahiz, Persian philosopher Ibn Miskawaih, Ikhwan As-Shafa, and Chinese philosopher Zhuangzi. Furthermore, the theory of evolution was published by a British scientist named Charles Darwin, the results of his research on evolution, especially human evolution, explained that the theory of evolution was not created by God but stood alone. This opinion caused debate among scientists and religious leaders especially Islam was rejected because it contradicted the Qur'an.
Keywords: Human, Theory of Evolution, Al-Qur'an
Abstrak: Tulisan ini akan menganalisa mengenai teori evolusi manusia yang berkembang di Barat dan teori evolusi manusia yang dijelaskan dalam Al-Qur‟an dengan pendekatan tafsir. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah menggunakan metode kualitatif yang bersumber dari berbagi buku yang berkaitan dengan permasalahan di atas. Adapun pendekatan metode penafsiran Al- Qur‟an menggunakan metode tematik, karena metode ini dapat mengkaji problem kontemporer.
Teori evolusi mulai menjadi kajian dan perdebatan pada abad 6 SM, Diwali oleh seorang filsuf Yunani Anaximander, Empedocles, Lucretius, pendapat sama juga disampaikan oleh biologiawan Arab Al Jahiz, filsuf Persia Ibnu Miskawaih, Ikhwan As-Shafa, dan filsuf Cina Zhuangzi. Selanjutnya teori evolusi dipublikasikan oleh ilmuan Inggris bernama Charles Darwin, hasil penelitiannya mengenai evolusi terutama evolusi manusia menjelaskan bahwa teori evolusi tidak diciptakan Tuhan akan tetapi berdiri sendiri. Pendapat tersebut menimbulkan perdebatan dikalangan para ilmuan dan agamawan terutama Islam ditolak karena bertentangan dengan Al-Qur‟an.
Kata kunci: Manusia, Teori Evolusi, Al-Qur‟an.
A. Pendahuluan
Evolusi merupakan cabang sains biologi yang menjelaskan mengenai proses perkembangan dan perubahan makhluk hidup baik secara genetik maupun organik. Kemunculan teori evolusi pada awalnya tepatnya pada fase fixisme tidak dipersoalkan dan tidak menimbulkan berbagai perdebatan, baik dikalangan ilmuan maupun kalangan agamawan. Perdebatan mulai hadir ketika seorang ilmuan berkebangsaan Inggris Charles Darwin, mempublikasikan hasil penelitiannya mengenai spesies makhluk hidup yang menjelaskan bahwa spesies makhluk hidup tidak diciptakan secara terpisah oleh Tuhan tetapi diciptakan berdasarkan dari nenek moyang yang sama dan menjadi berbeda satu sama lain akibat seleksi alam. Penemuan dan penelitian tersebut menimbulkan kontradiktif baik dikalangan ilmuan maupun dikalangan agamawan. Teori evolusi Charles Darwin menganggap manusia berasal dari Sinpanse (kera), pernyataan tersebut yang memicu pro kontra, sehingga karena
teori evolusi seleksi alam Charles Darwin mayoritas manusia menyamakannya dengan teori evolusi yang lain. Hal ini mengakibatkan ketidakpercayaan dan keraguan terhadap teori evolusi yang sudah berkembang.
B. Konsep Teori Evolusi Manusia 1. Diskursus Teori Evolusi
Teori merupakan pengetahuan ilmiah mencakup penjelasan mengenai suatu sektor tertentu dari disiplin ilmu dan dianggap benar berdasarkan hasil pengamatan, penelitaian yang mendalam mengenai disiplin ilmu tertentu.Menurut Kerlinger teori adalah suatu himpunan dari konstrukkonstruk (konsep-konsep), definisi-definisi dan proposisi-proposisi yang saling berkaitan dan menyatakan suatu pandangan yang sistematis tentang suatu fenomena dengan cara menentukan hubungan antarvariabel, dengan tujuan menjelaskan fenomena tersebut. Oxford Advanced Learner‟s Dictionary menjelaskan teori adalah suatu himpunan gagasan yang masuk akal dan bertujuan untuk menjelaskan fakta-fakta atau kejadian-kejadian.
Sedangkan kata evolusi berasal dar bahasa Latin “evolvere” artinya berkembang, mekar. Jadi evolusi adalah perkembangan yang maju dan meningkat setapak demi setapak dan tidak mendadak.
Menurut biologi atau organik evolusi adalah proses perkembangan segala bentuk kehidupan atau perkembangan tahap demi tahap yang dilawan dengan tidak adanya perubahan sama sekali, atau perubahan yang menjebatani kesenjangan.
Secara sederhana, teori evolusi dapat didefinisikan sebagai himpunan gagasan atau pendapat yang menjelaskan tentang proses kejadian tentang fenomena yang lambat laun mengalami perkembangan dan perubahan dalam bentuk dan fungsi.
2. Hakikat Manusia
Manusia menurut kamus bahasa Indonesia adalah “makhluk yang berakal, berbudi (mampu menguasai makhluk lain)”. Dari pengertian ini, manusia merupakan makhluk Allah SWT yang diberikan potensi akal fikiran dan budi, moral dan nalar untuk dapat menguasai makhluk lain demi tercapainya kehidupan yang makmur dan maslahat.
Sedangkan dalan bahasa arab, kata manusia disepadankan dengan kata nas, basyar, insan, mar‟u dan ins.8Meskipun bersinonim, namun katakata tersebut mengandung makna yang spesifik.
Sedangkan dalam pandangan ilmu pengetahuan, manusia memiliki beberapa pendapat dan argumen yang disesuaikan dengan metodologi yang dikembangkan. Penganut teori behaviorisme berpendapat bahwa manusia sebagai homo mehanibcus (manusia mesin). Dasar pemikiran ini bahwa segala tingkah laku manusia terbentuk sebagai proses belajar manusia terhadap lingkungan. Sedangkan penganut teori psikoanalisis berpendapat bahwa manusia merupakan makhluk yang memiliki perilaku interaksi antara komponen biologis (id), psikologis (ego), dan social (superego).
Id merupakan pembawaan sifat fisik biologis sejak lahir dan menjadi sumber energi yang memberikan kekuatan terhadap ego dan superego. Ego adalah lingkup rasional yang berupaya menjinakkan keinginan dari id, dimana ego berupaya mengatur hubungan antara keinginan subjektif individual dan tuntunan objektif realitas sosial. Sedangkan superego berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian dan selalu mengingatkan ego agar senantiasa menjalankan fungsinya sebagai pengontrol id.
Sedangkan manusia dalam pandangan teori kognitif berpendapat bahwa manusia adalah homo sapiens yaitu manusia sebagai makhluk yang bereaksi secara aktif dengan lingkungannya karena manusia merupakan makhluk yang berfikir.
Jika melihat hakikat manusia berdasarkan dari berbagai pandangan dan disiplin ilmu, maka manusia dapat dikategorikan dalam bentuk tipe manusia sebagai berikut:
1. Tipe manusia politik memandang dunia sebagai arena perebutan kekuasaan, persepsinya menang-kalah, menang artinya yang memegang kekuasaan dan kalah adalah yang dikuasai.
Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 5 No 2 Tahun 2022 ISSN: E-ISSN 2620-7982, P-ISSN: 2620-7990
Kemajuan Teknologi Rekayasa Genetika Ditinjau dari Filsafat Evolusi Darwin
Geterudis Kerans
Program Studi Pendidikan IPA, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia Program Studi Pendidikan IPA, STKIP Weetebula, Tambolaka, Indonesia
E-mail: [email protected] Abstrak
Evolusi terjadi karena adanya proses perubahan spesies yang berlangsung dalam jangka waktu tertentu dimana proses tersebut bertujuan agar spesies dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan perubahan tersebut akan diwariskan lagi kepada keturunannya. Teori evolusi dalam Ilmu Biologi menemui titik terang Ketika diterbitkannya buku yang ditulis Charles Darwin (On the Origin of Species by Means of natural Selection) pada tahun 1859 yang menyajikan kasus-kasus evolusi dan mampu menghubungkan berbagai kumpulan fakta yang sebelumnya membingungkan. Tahun 1930, ilmuwan mengkombinasikan seleksi alam Darwin dengan teori hereditas mendelian dan membentuk sintesis evolusi modern “Neo-Darwinism”. Teori Neo Darwinism menyatakan evolusi didasarkan pada mutase gen yang bekerjasama pada tingkat jaringan protein dan merubah fenotip dari makhluk hidup. Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan para saintifik untuk melakukan rekayasa genetic dan proses rekayasa genetic berlandaskan pada teori Evolusi Darwin. Tujuan dari penulisan ini adalah melakukan kajian filsafat (Epistemologi, Ontologi dan aksiologi) dari Evolusi Darwin dalam kemajuan teknologi. Artikel ini disusun menggunakan pendekatan studi kepustakaan (library research) dan kajian ulas balik (review). kajian epistemology rekayasa genetic menjelaskan bagaimana teknik rekayasa genetika diperoleh dan bagaimana perkembangan teknik rekayasa genetika. Kajian Ontologi berbicara tentang apa hakikat rekayasa genetika juga membahas tentang struktur keilmuan dari rekayasa genetika. Sedangkan kajian Aksiologi membicarakan tentang manfaat dan kerugian yang ditimbulkan oleh rekayasa genetika.
Kata Kunci: kajian filsafat; evolusi Darwin; kemajuan teknologi; rekayasa genetika.
Abstract
Evolution occurs because of the process of changing species within a certain period of time with the aim of being able to adapt to their environment and these changes will be passed on to the next generation or to their descendants. The theory of evolution in the Biological Sciences came to light with the publication of Charles Darwin's book (On the Origin of Species by Means of Natural Selection) in 1859, which presented cases of evolution and was able to relate previously confusing collections of facts. In the 1930s scientists combined Darwin's natural selection with Mendelian's theory of heredity and formed the modern evolutionary synthesis "Neo-Darwinism". Neo Darwinism theory states that evolution is based on gene mutations that work together at the protein network level and change the phenotype of living things. Current technological developments allow scientists
to carry out genetic engineering and genetic engineering processes based on Darwin's theory of evolution. The purpose of this paper is to conduct a philosophi study (Epistemology, Ontology and axiology) of Darwin's Evolution in technological progress. This article was prepared using a library research and review approach. The study of genetic engineering epistemology explains how genetic engineering techniques were obtained and how genetic engineering techniques developed. Ontology studies talk about the nature
c. Evolusi dan Kemajuan Teknologi Rekayasa Genetik
Dalam kemajuan yang berlangsung saat ini, banyak teori evolusi modern termasuk rekayasa genetika yang telah berkembang dengan berlandaskan pada teori evolusi yang dikembangkan oleh Darwin. Perkembangan teknologi yang berlangsung saat ini memungkinkan para saintis melakukan rekaya genetika yang dapat berkontribusi besar untuk mempercepat proses evolusi yang dahulunya memakan waktu yang lama (Campbell, 2003). Berikut akan dibicarakan kajian filsafat dari rekayasa genetika.
1) Epistemologi Rekayasa Genetik
Epistemologi merupakan cabang dari filsafat ilmu yang membicarakan dan membahas terkait asal, sifat, karakter serta jenis dari pengetahuan. Epistemology berbicara terkait hakikat ilmu pengetahuan, dasar-dasar, ruang lingkup sumber-sumber dan bagaimana kebenaran dapat dipertanggungjawabkan. Objek telaah epistemologi mempertanyakan tentang bagaimana sesuatu ilmu itu datang, bagaimana cara untuk dapat mengetahuinya, bagaimana kemudian membedakan ilmu tersebut dengan lainnya. Jadi yang menjadi landasan epistemologi adalah proses mana yang memungkinkan dalam mendapatkan pengetahuan logika, etika, dan estetika, bagaimana cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran secara ilmiah, kebaikan moral dan keindahan seni, apa yang disebut dengan kebenaran ilmiah, keindahan seni dan kebaikan moral. Epistemology rekayasa genetic menjelaskan bagaimana teknik rekayasa genetika diperoleh dan bagaimana perkembangan teknik rekayasa genetika.
(a) Bagaimana Rekayasa Genetika Diperoleh
Sejak penemuan Mendel di publikasikan, istilah Gen (Faktor) mulai dikenal banyak orang sebagai pembawa sifat yang kemudian pada tahap selanjutnya, genetika mampu menjawab keraguan Darwin dimana dengan penelitian menggunakan Pisum sativum selama bertahuntahun, Mendel menjelaskan bahwa sifat makhluk hidup diturunkan dari induk kepada keturunannya. Pernyataan Mendel di atas menunjukan bahwa ada ada substansi genetic yang berfungsi sebagai factor pembawa sifat.
Perkembangan genetika pada zaman sekarang mengalami kemajuan yang pesat dimana gen sebagai factor pembawa sifat dapat diubah dengan berbagai teknologi yang saat ini ada seperti penggunaan nano sebagai perangkat perubah penurunan sifat. Mengubah gen berarti mengubah sifat individu dengan cara mengubah suatu substansi yang tepat yang kemudian akan menghasilkan keturunan yang memiliki sifat yang beda dari individu sebelumnya. Hal inilah yang kemudian dikembangkan sebagai teknik rekayasa genetika.
Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan para saintifik untuk melakukan rekayasa genetic dan proses rekayasa genetic berlandaskan pada teori Evolusi Darwin. Rekayasa genetic seperti yang telah banyak dikembangkan oleh pra saintifik memiliki kontribusi besar dalam mempercepat proses evolusi yang oleh Darwin dikatakan bahwa proses evolusi membutuhkan waktu yang lama. Sebelum adanya istilah rekayasa genetic, manusia telah terlebih dahulu mengenal istilah ini dengan kawin silang yang juga dilakukan oleh manusia untuk memdapatkan variasi genetic yang lebih baik.
Genetika pada awalnya berasal dari bahasa Yunani genno yang berarti "melahirkan".
"Genetika" awalnya diperkenalkan oleh William Bateson dalam suatu surat pribadi yang dikirimkan kepada Adam Chadwick yang kemudian ia gunakan pada Konferensi Internasional tentang genetika tahun 1906. Bidang kajian dari genetika dimulai dari wilayah molekular hingga populasi dimana genetika menjelaskan material bahan genetic, ekspresi genetic dan pewarisan genetic serta mengapa terjadi variasi genetic dalam suatu populasi (Laimeheriwa, 2017).