TEORI PENGEMBANGAN AGRIBISNIS
BAB I PENDAHULUAN
Pada awalnya manusia memenuhi kebutuhannya dengan mengambil langsung dari alam, tanpa adanya kegiatan budidaya ataupun produksi (Munanto, 2014). Seiring berkembangnya waktu, alam tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan manusia, sehingga manusia mulai belajar bagaimana cara membudidayakan.
Tuntutan kehidupan dan adanya rasa ketidakpuasan, membuat timbulnya pemikiran-pemikiran yang berusaha untuk dapat memecahkan persoalan yang ada. Dimulai dengan adanya kegiatan berpindah-pindah menjadi bersifat tetap. Disaat kebutuhan masih tercukupi, kehidupan dilakukan ditempat tersebut dan ketika keadaan sudah menurun maka dilakukanlah perpindahan kedaerah lain. Sulitnya melakukan perpindahan secara terus menerus, membuat manusia belajar cara bertanam dan memelihara ternak dengan mengolah sumber daya yang ada dilokasi yang sama.
Kemampuan yang semakin meningkat kemudian menghasilkan barang yang berlebih dari pada kebutuhan yang diperlukan diri sendiri. Keadaan ini yang mendorong terjadinya sistem barter atau tukar menukar. Dan selanjutnya sistem pasar pun semakin berkembang dengan ditemukannya alat pembayaran dan metode-metode lainnya. Disini dapat kita sadari bahwa kegiatan agribisnis atau pertanian merupakan sumber kehidupan manusia yang menimbulkan adanya lapangan kerja (Kusmiadi, 2014). Yang dihasilkan oleh tumbuhan dan hewan, tidak selalu dapat langsung kita gunakan. Diperlukan pengolahan terlebih dahulu yang mana selanjtnya diperlukan pengiriman agar dapat sampai ketangan konsumen yang membutuhkan.
Contohnya adalah kegiatan produksi beras, diperlukan lahan untuk bercocok tanam, bibit, pupuk, anti hama, proses panen, proses penumbukan padi, pengemasan, baru selanjutnya pengiriman ketangan konsumen.
semua kegiatan dari awal hingga akhir ini merupakan kegiatan agribisnis.
Perkembangan dalam dunia pertanian membawa perkembangan dalam keahlian dan teknologi.
Tanaman-tanaman yang ada saat ini, bisa jadi sangat jauh berbeda dengan tanaman yang ada ketika zaman dahulu. Budidaya dan seleksi mengakibatkan terciptanya jenis baru dan lebih disukai. Bahkan asal usul tanaman pun bisa jadi berada jauh dari tempatnya. Sehingga tidak diketahui secara pasti dari mana suatu tanaman berasal.
Perkembangan yang terjadi setiap negara, berbanding lurus dengan perkembangan ilmu pertaniannya. Hal ini disebabkan adanya perbedaan sumber daya manusia dari segi kualitas dan juga penggunaan teknologi. Teknologi dalam dunia pertanian berkembang secara perlahan. Pada tahun 1920-an, terjadi pertukaran tenaga hewan dengan tenaga mesin yang merupakan awal dari revolusi teknologi pada abad ke 20. Disamping itu juga ditemukannya tanaman-tanaman dengan varietas unggul dengan produktivitas tinggi. Perkembangan masyarakat, teknologi, ekonomi dan pasar berjalan sesuai dengan perkembangan pertanian. Perkembangan ini berkaitan dengan upaya untuk meningkatkan produktivitas dari rendah keproduktivitas yang lebih tinggi, dimana dalam prosesnya ada efek samping yang ditimbulkan baik itu terhadap lingkungan atau pun masyarakat.
BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Agribisnis
Kata agribisnis, berasal dari kata Agribusiness, dimana Agri = Agriculture yang berarti pertanian dan Business yang berarti usaha atau kegiatan yang berorientasi pada keuntungan. Agribisnis mengutamakan aspek bisnis dan pelaku bisnisnya yang terdiri dari satu atau banyak usaha untuk menambah nilai barang dan atau jasa. Hal ini menegaskan bahwa agribisnis mencakup berbagai macam skala usaha, mulai dari skala kecil, besar hingga penguasa, dimana kesemuanya tersebar diseluruh daerah dengan menggunakan teknologi yang beragam.
Pengertian Agribisnis menurut Para Ahli :
1. Davis & Golberg (1957) memberikan suatu konsep dan wawasan yang sangat dalam tentang pertanian modern menghadapi milenium ke 3. Agribisnis merupakan suatu sistem, bila akan dikembangkan harus terpadu dan selaras dengan semua subsitem yang ada didalamnya.
2. Drillon Agribisnis adalah sejumlah total dari seluruh kegiatan yang menyangkut manufaktur dan distribusi dari sarana produksi pertanian, kegiatan yang dilakukan usahatani, serta penyimpanan, pengolahan dan distribusi dari produk pertanian dan produk-produk lain yang dihasilkan dari produk pertanian.
3. Downey and Erickson (1987) Agribisnis adalah kegiatan yang berhubungan dengan penanganan komoditi pertanian dalam arti luas, yang meliputi salah satu atau keseluruhan dari mata rantai produksi, pengolahan masukan dan keluaran produksi (agroindustri), pemasaran masukan-keluaran pertanian dan kelembagaan penunjang kegiatan. Oleh karena itu, Downey dan Erickson (1987) mendefinisikan agribisnis sebagai tiga sektor secara ekonomi saling berkaitan. Ketiga sektor agribisnis tersebut adalah (a) the input supply sector, (b) the farm production sector, dan (c) the product marketing sector.
4. Austin Agribisnis adalah kesatuan kegiatan usaha yang meliputi kegiatan usahatani, pengolahan bahan makanan, usaha sarana dan prasarana produksi pertanian, transportasi, perdagangan, kestabilan pangan dan kegiatan-kegiatan lainnya termasuk distribusi bahan pangan dan serat-seratan kepada konsumen.
5. Cramer and Jensen Agribisnis adalah suatu kegiatan yang sangat kompleks, meliputi : industri pertanian, industri pemasaran hasil pertanian dan hasil olahan produk pertanian, industri manufaktur dan distribusi bagi bahan pangan dan serat-seratan kepada pengguna/konsumen.
6. Arsyad Agribisnis memandang agribisnis sebagai suatu sistim pertanian yang memiliki beberapa komponen sub sistim yaitu, sub sistim usaha tani/yang memproduksi bahan baku sub sistim pengolahan hasil pertanian dan sub sistim pemasaran hasil pertanian.
7. Soehardjo (1997) memandang Agribisnis sebagai sebuah sistem yang terdiri atas beberapa subsistem.
Sistem tersebut akan berfungsi baik apabila tidak ada gangguan pada salah satu subsistem.
8. Sjarkowi dan Sufri (2004) Agribisnis adalah setiap usaha yang berkaitan dengan kegiatan produksi pertanian, yang meliputi pengusahaan input pertanian dan atau pengusahaan produksi itu sendiri atau pun juga pengusahaan pengelolaan hasil pertanian. Agribisnis, dengan perkataan lain, adalah cara pandang ekonomi bagi usaha penyediaan pangan. Sebagai subjek akademik, agribisnis mempelajari strategi
memperoleh keuntungan dengan mengelola aspek budidaya, penyediaan bahan baku, pascapanen, proses pengolahan, hingga tahap pemasaran.
9. Wibowo dkk, (1994) Pengertian agribisnis mengacu kepada semua aktivitas mulai dari pengadaan, prosesing, penyaluran sampai pada pemasaran produk yang dihasilkan oleh suatu usaha tani atau agroindustri yang saling terkait satu sama lain. Dengan demikian agribisnis dapat dipandang sebagai suatu sistim pertanian yang memiliki beberapa komponen sub sistim yaitu, sub sistim usaha tani/yang memproduksi bahan baku sub sistem pengolahan hasil pertanian, dan sub sistim pemasaran hasil pertanian.
2.2. Tahap Perkembangan Agribisnis
Tahap perkembangan agribisnis mempunyai karakteristik serta tuntutan sendiri-sendiri. oleh karena itu, pengelolaan yang diperlukan pada setiap tahap juga berbeda-beda. Ada 3 tahapan perkembangan dalam agribisnis, bila ketiga ini dapat dicapai sistem agribisnis Indonesia, maka perekonomian Indonesia akan beralih dari perekonomian yang berbasis agribisnis kepada perekonomian yang berbasis teknologi (technology based economy).
Tahap pertama, pengembangan agribisnis ada pada keunggulan berupa tersedianya lahan yang cukup luas, jumlah tenaga kerja yang masih besar dan didukung oleh iklim yang sesuai. Output yang dihasilkan pada tahap pertama tidak dapat berkesinambungan ditinjau dari sudut pasar mengingat lemahnya kemampuan untuk bersaing dengan produk-produk lain. Secara ekonomi produk-produk yang dihasilkan pada tahap pertama tidak memberikan tambahan manfaat dari potensi pengembangan produk itu sendiri.
Tahap kedua, pembangunan sistem agribisnis di Indonesia akan digerakkan oleh kekuatan investasi melalui percepatan pembangunan dan pendalaman industri pengolahan (agroindustri) serta industri hulu, (agrokimia, agrootomotif, pembenihan dan pembibitan). Selain itu pembangunan sistem agribisnis khususnya peningkatan sumber daya manusia.
Tahap ketiga, Pada tahap ini dicirikan oleh produktivitas yang tinggi dari lembaga-lembaga penelitian dan pengembangan pada setiap subsistem agribisnis sehingga teknologi baru tetap dihasilkan sesuai dengan perubahan pasar. Pada tahap inovasi ini kemajuan bioteknologi, khususnya pada industri pembibitan atau pembenihan, teknologi dibidang agrokimia, teknologi dibidang agrootomotif, dan teknologi pengolahan menjadi tulang punggung pembangunan sistem agribisnis secara keseluruhan. Pada tahap inovasi, produk yang dihasilkan akan didominasi oleh produk-produk yang bersifat ilmu pengetahuan dan tenaga kerja yang terdidik (knowladge intensive and skilled labour based) sedemikian rupa sehingga makin memperbesar dan memperluas pangsa pasar internasional yang dapat di kuasai Indonesia. Selain itu, nilai tambah yang dinikmati Indonesia akan semakin besar.
Dalam era agribisnis, faktor utama pembangunan agribisnis dan faktor pendukungnya perlu mendapatkan pembinaan kemampuan aspek bisnis, manajerial, dan organisasi bisnis petani serta peningkatan wawasan agribisnis. Dalam hal ini diperlukan juga perubahan fungsi atau penambahan unit dalam Balai Penyuluhan Pertanian yang selama ini sebagai lembaga penyuluh agro-teknis menjadi Klinik Konsultasi Agribisnis. Unit ini diharapkan memberikan penyuluhan, pelatihan, dan pendidikan tentang usaha agribisnis,
baik teknis produksi maupun manajemen usaha taninya. Pendidikan dan pelatihan perlu kerjasama dari berbagai lembaga sehingga lembaga-lembaga terkait bersinergi untuk meningkatakan kesejahteraan petani.
Diharapkan dengan strategi peningkatan sumber daya manusia tersebut petani dapat menjadi agripreneur (Akhmadi, et.all. 2016).
Dalam jangka panjang, pengembangan lahan usaha pertanian harus lebih difokuskan pada produk- produk olahan hasil pertanian yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional, seperti pengembangan agoindustri yang berorientasi ekspor. Ego-sektoral yang selama beberapa dekade terakhir ini sulit dihilangkan, kini saatnya berkomitmen dan bersinergi untuk membantu petani, kelompok tani, dan masyarakat miskin perdesaan agar dapat keluar dari kemiskinan. Pembangunan disegala bidang yang dilaksanakan pemerintah bertujuan untuk menyejahterakan penduduk agar tercapai cita-cita masyarakat yang adil dan makmur sehingga dapat mengurangi tingkat kemiskinan dan ketimpangan. Upaya pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan bukannya tanpa masalah. Sebagai konsekuensi perekonomian yang bersifat terbuka, Indonesia tidak terlepas dari pengaruh ekonomi global. Krisis moneter yang berlanjut dengan krisis ekonomi yang melanda Asia pada 1997/1998 berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Usaha untuk memenuhi kebutuhan pangan antara lain adalah dengan peningkatan produksi dan diversifikasi. Dengan demikian, agribisnis perlu dikembangkan untuk mendukung proses pembangunan dan terwujudnya ketahanan pangan. Pada kenyataannya, pengembangan agribisnis dalam mewujudkan ketahanan pangan menghadapi banyak kendala, baik internal maupun eksternal. Tetapi kita tetap harus mencari upaya dan alternatif pemecahannya. Indonesia, yang merupakan negara agraris, pendekatan agribisnis dapat dijadikan terobosan dalam menciptakan ketahanan pangan dan memberikan percepatan pembangunan (Sumastuti, 2011). Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan di masa yang akan datang, tentu tidak semudah yang kita bayangkan. Berbagai masalah dan tantangan yang perlu diantisipasi antara lain adalah:
a. Pertambahan jumlah penduduk
b. Konsumsi pangan utama masih didominasi oleh beras c. Diversifikasi pangan belum dapat terlaksana secara optimal d. Tingginya kompetisi/ alih fungsi pemanfaatan lahan
e. Penurunan kapasitas dan kualitas sumber daya alam karena eksploitasi besar-besaran f. Dampak perubahan iklim yang mengakibatkan penurunan produksi pangan
BAB III PEMBAHASAN
3.1. Strategi Pembangunan Ekonomi
Di indonesia sendiri, peluang investasi sektor agribisnis masih cukup besar. Beberapa indikatornya adalah tersedianya sumber daya alam dan sumber daya manusia yang besar. Permintaan dalam negeri terhadap produk pertanian semakin meningkat dikarenakan jumlah penduduk yang semakin meningkat ditambah dengan naiknya pendapatan masyarakat. Naiknya harga pangan dapat menambah peluang bagi pelaku usaha untuk memperoleh keuntungan yang lebih tinggi. Kita memiliki ruang gerak dalam pengembangan agribisnis terutama bahan pangan dan serat (tekstil, barang-barang karet, kertas, bahan bangunan dan kayu) yang menguntungkan Indonesia ke depan (Nainggolan & Arotinang, 2012). Tentunya diperlukan dukungan pemerintah untuk menciptakan ilim investasi yang kondusif melalui kebijakan- kebijakan dan peraturan yang sesuai.
Akibat kekeliruan strategi pembangunan ekonomi di masa lalu dan krisis ekonomi berkepanjangan, telah menimbulkan berbagai persoalan yang sangat parah dalam perekonomian Indonesia. Masalah kemiskinan, pengangguran, pendapatan yang rendah, ketimpangan ekonomi, ketahanan pangan yang keropos, utang luar negeri yang terlalu besar, kemerosotan mutu lingkungan hidup dan ketertinggalan perekonomian daerah merupakan sederetan masalah ekonomi yang sedang melilit perekonomian Indonesia (Saragih, 2001).
Untuk memecahkan masalah ekonomi yang begitu kompleks, Indonesia memerlukan penajaman strategi pembangunan ekonomi yang diharapkan mampu memberi solusi atas persoalan yang ada, tanpa menimbulkan persoalan baru. Oleh karena itu, strategi yang dipilih hendaknya memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Memiliki jangkauan kemampuan memecahkan yang luas. Ketika strategi diimplementasikan, sebagian besar persoalan ekonomi, seperti kemiskinan, pengangguran, ketimpangan ekonomi, ketahan pangan dan lain-lain, dapat terselesaikan dengan baik.
2. Tidak menggunakan pembiayaan yang terlalu besar. Strategi yang dijalannya sebaiknya menggunakan pembiayan yang hemat dan diusahakan berasal dari dalam negeri, jangan sampai menambah utang luar negeri yang telah besar saat ini.
3. Tidak dimulai dari nol. Dengan memanfaatkan hasil-hasil pembangunan sebelumnya, sehingga selain tidak menimbulkan kegamangan di dalam masyarakat, juga hasil-hasil pembangunan sebelumnya tidak menjadi sia-sia.
4. Mampu membawa perekonomian Indonesia ke masa depan yang lebih cerah. Kedepannya Indonesia diharapkan mampu menjadi saling sinergis dengan perekonoian dunia dan bukan perekonomian yang tergantung pada negara lain.
Di antara pilihan-pilihan strategi pembangunan ekonomi yang ada, strategi pembangunan yang memenuhi karakteristik di atas adalah pembangunan agribisnis (Agribusiness Led Development) strategi ini mengedepankan pembangunan ekonomi yang mengintegrasikan pembangunan pertanian (termasuk
perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan) dengan pembangunan industri hulu dan hilir pertanian serta sektor-sektor jasa yang terkait di dalamnya. Strategi pembangunan sistem agribisnis yang bercirikan yakni berbasis pada pemberdayagunaan keragaman sumber daya yang ada di setiap daerah, akomodatif terhadap keragaman kualitas sumberdaya manusia yang kita miliki, tidak mengandalkan impor dan pinjaman luar negeri yang besar, berorientasi ekspor (selain memanfaatkan pasar domestik), diperkirakan mampu memecahkan sebagian besar permasalahan perekonomian yang ada. Selain itu, strategi pembangunan sistem agribisnis yang secara bertahap akan bergerak dari pembangunan yang mengandalkan sumberdaya alam dan SDM belum terampil,kemudian beralih kepada pembangunan agribisnis yang digerakkan oleh barang-barang modal dan SDM lebih terampil dan kemudian beralih kepada pembangunan agribisnis yang digerakkan ilmu pengetahuan, teknologi dan SDM terampil, diyakini mampu mengantarkan perekonomian Indonesia memiliki daya saing dan bersinergis dalam perekonomian dunia.
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) mempunyai peran penting dan strategis dalam pembangunan ekonomi nasional (B.I, 2015). Selain berperan dalam pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja, UMKM juga berperan dalam mendistribusikan hasil-hasil pembangunan. UMKM juga telah terbukti tidak terpengaruh terhadap krisis. Ketika krisis menerpa pada periode tahun 1997 – 1998, hanya UMKM yang mampu tetap berdiri kokoh. Membangun sektor pertanian dan basis sumber daya alam tidak dapat dilakukan secara sambilan, tapi perlu serentak dan komprehensif serta melibatkan pendukung penting seperti sektor infrastruktur, pembiayaan, perdagangan, pemasaran, penyuluhan, pengembangan sumber daya manusia, riset dan pengembangan, dan sebagainya. Tidak kalah pentingnya, penguatan birokrasi dan modal sosial juga akan menjadi faktor vital karena pembangunan pertanian memerlukan jembatan penghubung yang kuat, yang mampu menerjemahkan ide-ide progresif strategis menjadi langkah kebijakan di tingkat lapangan, yang bersentuhan langsung dengan masyarakat banyak (Arifin, 2005).
3.2. Subsistem Agribisnis
Sistem agribisnis merupakan suatu konsep yang menempatkan kegiatan pertanian sebagai suatu kegiatan yang utuh dan komprehensif sekaligus sebagai suatu konsep yang dapat menelaah dan menjawab berbagai masalah dan tantangan. Untuk menyatakan sistem sebagai satu kesatuan atau satu kumpulan perlu ditetapkan lebih dahulu batasan sistem agribisnis (Arifin & Biba, 2016). Sistem agribisnis merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai subsistem yaitu:
1. Subsistem Hulu
Yang meliputi pengadaan sarana produksi pertanian seperti bibit, makanan ternak, pupuk, pestisida, lembaga kredit, bahan bakar, alat-alat, mesin, dan peralatan produksi pertanian. Pelaku kegiatan pengadaan dan penyaluran sarana produksi adalah perorangan, perusahaan swasta, pemerintah, koperasi.
2. Subsistem budidaya
Subsitem budidaya atau usaha tani menghasilkan produk pertanian berupa bahan pangan, hasil perkebunan, buah-buahan, bunga dan tanaman hias, hasil ternak.. Pelaku kegiatan dalam subsistem ini adalah produsen yang terdiri dari petani, peternak, pengusaha tambak, pengusaha tanaman hias dan lain- lain.
3. Subsistem Hilir
Dalam subsistem ini terdapat rangkaian kegiatan mulai dari pengumpulan produk usaha tani, pengolahan, penyimpanan dan distribusi. Sebagian dari produk yang dihasilkan dari usaha tani didistribusikan langsung ke konsumen didalam atau di luar negeri. Sebagian lainnya mengalami proses pengolahan lebih dahulu kemudian didistribusikan ke konsumen. Pelaku kegiatan dalam subsistem ini ialah pengumpul produk, pengolah, pedagang, penyalur ke konsumen, pengalengan dan lain-lain.
Industri yang mengolah produk usahatani disebut agroindustri hilir (downstream).
4. Subsistem jasa layanan pendukung
Subsistem jasa layanan pendukung agribisnis (kelembagaan) atau supporting institution adalah semua jenis kegiatan yang berfungsi untuk mendukung dan melayani serta mengembangkan kegiatan sub- sistem hulu, sub-sistem usaha tani, dan sub-sistem hilir. Lembaga-lembaga yang terkait dalam kegiatan ini adalah penyuluh, konsultan, keuangan, dan penelitian. Lembaga penyuluhan dan konsultan memberikan layanan informasi yang dibutuhkan oleh petani dan pembinaan teknik produksi, budidaya pertanian, dan manajemen pertanian. Untuk lembaga keuangan seperti perbankan, model ventura, dan asuransi yang memberikan layanan keuangan berupa pinjaman dan penanggungan risiko usaha (khusus asuransi). Sedangkan lembaga penelitian baik yang dilakukan oleh balai-balai penelitian atau perguruan tinggi memberikan layanan informasi teknologi produksi, budidaya, atau teknik manajemen mutakhir hasil penelitian dan pengembangan.
3.3. Upaya Pengembangan Agribisnis
Pengembangan agribisnis tidak dapat dilakukan tanpa dukungan dari perusahaan agribisnis, karena perusahaan agribisnislah yang memiliki rencana, desain dan implementasi aktivitas agribisnis dalam sistem ekonomi kerakyatan. Untuk keperluan tersebut maka pemerintah perlu mendorong pengembangan sistem dan usaha agribisnis di bidang usaha industri rumah tangga, koperasi, kelompok usaha berskala kecil, menengah dan besar. Dengan demikian pengembangan agribisnis komoditas unggulan akan berdampak pada ketahanan pangan yang handal dan pembangunan daerah yang terarah dan berkelanjutan.
Pengembangan sistem agribisnis dapat dilakukan dengan pendalaman struktur agro-industri sebagai suatu subsistem dalam agribisnis. Pendalaman agro-industri lebih ditekankan pada industri hilir pengolahan hasil pertanian dengan mempertimbangkan pengembangan industri hulu. Setelah itu dilakukan daya dorong inovasi (creative innovation driven). Inovasi kreatif menekankan pada peningkatan kemajuan teknologi pada setiap subsistem agribisnis. Tuntutan sumber daya manusia yang semakin berkualitas sangat diperlukan guna mengimbangi kemajuan teknologi yang ada. Tahapan pengembangan sistem agribisnis di setiap wilayah tidak sama, karena sangat ditentukan oleh karakteristik dan keragaman antar daerah, baik secara fisik maupun sosial ekonomi dan budaya masyarakat.
Upaya pengembangan potensi agribisnis secara efisien dan efektif dalam mewujudkan ketahanan pangan memerlukan suatu strategi. Strategi tersebut adalah:
1. Peningkatan produksi pangan secara berkelanjutan. Peningkatan produksi dapat dilakukan melalui berbagai macam cara antara lain dengan intensifikasi, ekstensifikasi dan diversifikasi.
2. Revitalisasi industri hulu. Industri hulu yang dimaksud di sini berkaitan dengan sarana dan prasarana produksi, seperti benih, pupuk, pestisida serta alat dan mesin pertanian.
3. Revitalisasi industri pasca panen dan pengolahan pangan. Optimalisasi manfaat sektor pertanian dan meningkatkan pendapatan pengelola agribisnis, perlu dilakukan proses pasca panen dan pengolahan.
Seperti diketahui bahwa bahan hasil pertanian akan mudah rusak setelah dipanen apabila tidak ditangani secara serius. Proses pasca panen dan pengolahan ini tentunya didasarkan pada modernisasi dengan tidak meninggalkan potensi daerah masing-masing.
4. Revitalisasi dan restrukturisasi kelembagaan. Pengembangan kelembagaan hendaknya mencerminkan jati diri bangsa serta didasarkan pada pertimbangan modernisasi sektor pertanian. Untuk keperluan tersebut masih diperlukan peran pemerintah sebagai fasilitator, tanpa meninggalkan kearifan lokal dan perundang-undangan yang berlaku. Kelembagaan dalam hal ini adalah kelembagaan yang berkaitan dengan proses produksi pangan, seperti: koperasi, UKM dan lumbung desa.
5. Pengembangan kebijakan yang kondusif. Kebijakan yang diberlakukan hendaknya yang dapat melindungi pelaku bisnis pangan dari hulu hingga hilir. Kebijakan tersebut berkaitan dengan penerapan technical barrier for Trade (TBT) pada produk pangan, insentif, alokasi kredit, dan harmonisasi tarif bea masuk, pajak resmi dan tidak resmi.
BAB IV KESIMPULAN
Seiring berkembangnya waktu, alam tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan manusia, sehingga manusia mulai belajar bagaimana cara membudidayakan. Agribisnis adalah manifestasi kebudayaan yang tidak lepas dari sejarah perkembangan manusia sejak zaman dulu kala. Penemuan-penemuan didalam dunia agribisnis menimbulkan harapan-harapan besar. Kenaikan populasi diperkotaan dan perluasan perdagangan serta sistem keuangan juga menarik berkembangnya ekonomi dipedesaan. Perkembangan agribisnis dari suatu negara berjalan sesuai dengan tahapan perkembangan masyarakatnya. Membangun sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan dan berkelanjutan dan terdesentraslitik merupakan tanggung jawab seluruh stake-holder agribisnis.
Pengalaman dalam dunia agribisnis menunjukkan bahwa diversifikasi usaha tani merupakan suatu langkah transisi yang efektif. Dengan membagi usaha dalam agribisnis menjadi beberapa subsistem, membuat pekerjaan lebih terfokuskan dan lebih dapat menjangkau tenaga kerja. Subsistem agribisnis merupakan suatu konsep yang menempatkan kegiatan pertanian sebagai suatu kegiatan yang utuh dan komprehensif sekaligus sebagai suatu konsep yang dapat menelaah dan menjawab berbagai masalah dan tantangan. Dan diperlukan suatu strategi dalam upaya pengembangan potensi agribisnis secara efisien dan efektif dalam mewujudkan ketahanan pangan.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, DR. Bustanul. 2005. Pembangunan Pertanian Paradigman Kebijakan dan Strategi Revitalisasi.
Grasindo, Jakarta. ISBN 9797592928.
Arifin, Dr.,& Biba, Asryad. 2016. Pengantar Agribisnis. Mujahid Press, Bandung. ISBN 9789797625009.
Kusmiadi, Edi. 2014. Pengantar Ilmu Pertanian. In: Pengertian dan Sejarah Perkembangan Pertanian.
Universitas Terbuka, Jakarta, pp.1-28. ISBN 9796898284.
B.I. Bank Sentral Republik Indonesia. 2015. Profil Bisnis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).
Jakarta. Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia.
Akhmadi, et.all. (2016). Pengembangan Agribisnis Sebagai Strategi Penanggulangan kemiskinan di Perdesaan. Jurnal Manajemen & Agribisnis, 13(3), 240-253.
Sumastuti, Efriyani. (2011). Prospek Pengembangan Agribisnis Dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan.
Jejak, 4(2), 154-161.
Saragih, Bungaran. 2001. Pembangunan Sistem Agribisnis Di Indonesia Dan Peranan Public Relation.
Seminar Peranan Public Relation dalam Pembangunan Pertanian. Bogor.
Nainggolan, H. L., & Arotinang, J. 2012. Pengembangan Sistem Agribisnis Dalam Rangka Pembangunan Pertanian Berkelanjutan. Seminar Nasional “Pertanian Presisi Menuju Pertanian Berkelanjutan”.
Medan.
Munanto, Bejo. 2014. Agribisinis. (https://kulonprogokab.go.id/v31/detil/3554/agribisnis, Diakses tanggal 19 Oktober 2022).