PAGESANGAN TIMUR MATARAM
Oleh :
YULYA SYAFITRI NIM 170303024
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI MATARAM MATARAM
2021
ii
TERAPI MUHASABAH UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SANTRI PONDOK PESANTREN ITTIHADIL UMMAH KARANG ANYAR
PAGESANGAN TIMUR MATARAM Skripsi
diajukan kepada Universitas Islam Negri Mataram Untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar
Sarjana Sosial
Oleh :
YULYA SYAFITRI NIM 170303024
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI MATARAM MATARAM
2021
iii
iv
vi
vii MOTTO
18. Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
viii
PERSEMBAHAN
“Ku persembahkan skripsi ini untuk keluarga tercinta, terkasih, dan terhebat Ayahanda Almarhun H.Sukri sang teladan terbaik dalam hidupku, sosok ayah tersabar, untuk ibu ku Husnul Khotimah, wanita tegar dan kuat, yang selalu mengiringi langkahku dengan do’a, untuk kakak perempuanku Yuliati Sukri, S.Kep dan adik laki-lakiku M.
Ibrahim Hamzah Syukri, tak lupa untuk saudara iparku Abdul Fatah, tentu saja untuk pembimbing terbaik abah Dr. Rendra Khaldun, M.Ag, dan bapak Syamsul Hadi, M.Pd yang dengan sabar membimbingku saat penyusunan Skripsi ini, juga teruntuk keluarga besarku keluarga Almarhum H. Kamarudin, dan Guru-guru di Pondok Pesantren Ittihadil Ummah terutama Abah Taufik Rahman, MA yang sudah seperti sosok ayah untukku dan abah Zainul Islam, SH, MKn yang setiap langkahku selalu memegang nasihat beliau, Ibu dan bapak dosen di UIN Mataram khususnya di Prodi Bimbingan Konseling Islam, tak lupa untuk sahabat berjuangku di Pesantren dulu yang menguatkan saat ditempa ujian, untuk teman-teman BKI A 2017, dan tentunya untuk almamterku tercinta, dan semua yang saya tidak bisa sebutkan satu persatu. Semoga kebaikan, kebahagiaan, serta keberkahan senantiasa mengiringi langkah kita semua”
ix
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT, tuhan semesta alam dan sholawat serta salam kerinduan semoga selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada keluarga, sahabat, dan semua pengikutnya, Amiin.
Skripsi ini disusun sebagai salah satu persyaratan dalam mencapai gelar sarjana (S1) Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram, peneliti menyadari bahwa penyelesaian skripsi ini adalah berkat bantuan dan kerjasama yang baik dari berbagai pihak, dan menyadari sepenuhnya tanpa ada bantuan dan dukungan tersebut skripsi ini mungkin tidak dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Untuk itu pada kesempatan yang sangat berbahagia ini penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :
1. Bapak Dr. Rendra Khaldun, M.Ag sebagai pembimbing I dan Bapak Syamsul Hadi, M.Pd sebagai pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi tanpa bosan dan lelah ditengah kesibukan beliau sehingga skripsi ini bisa lebih matang dan selesai.
2. Kedua orangtuaku, Ibu Husnul Khotimah dan Almarhum Bapak H Sukri yang tidak pernah putus mendo‟akan kebaikan dan kelancaran dalam menyelesaikan skripsi, menjadi penyemangat dalam langkahku agar tidak mudah menyerah.
3. Ibu Mira Mareta, MA sebagai Ketua Prodi dan Bapak Syamsul Hadi, M.Pd sebagai sekertaris Prodi Bimbingan Konseling Islam, terimakasih atas ilmu yang diajarkan dan motivasi yang diberikan.
4. Bapak Dr. Muhammad Saleh Ending, MA sebagai Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi
5. Bapak Prof. Dr. H. Masnun, M. Ag, selaku Rektor UIN Mataram yang telah memberi tempat untuk penulis menuntut ilmu dan memberi bimbingan dan peringatan untuk tidak berlama-lama di kampus tanpa pernah selesai.
6. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis.
7. Teman-teman seperjuanganku dikelas BKI A 2017 yang selalu mendukung, menyemangati, dan menjadi penghibur dalam menyelesaikan skripsi.
8. Saudara-saudaraku sahabatku di OSPI dulu (Tamrin, Emy, Qodri, Romi, Sari, Lutfi, Zunnur, Itta, Enjel, Musty) dan yang lain, yang selalu memberi dukungan, semangat, dan do‟a yang tidak pernah putus.
9. Adik-adikku di Pondok Pesantren Ittihadil Ummah Karang Anyar, yang menjadi penyemangatku untuk terus belajar.
x
Akhirnya dengan segala kekurangan dan kelebihan, semogaskripsi ini dapat memberikan manfaat dan mendapatkan ridho dari Allah SWT, aamiin.
Mataram 20 Desember 2021
Penulis
Yulya Syafitri
NIM.170303024
xi DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN NOTA DINAS ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN ... v
HALAMAN PENGESAHAN ... vi
HALAMAN MOTTO ... vii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... viii
KATA PENGANTAR ... ix
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiv
ABSTRAK ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
1. Tujuan Penelitian ... 5
2. Manfaat Penelitian ... 5
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 6
E. Telaah Pustaka ... 7
F. Kerangka Teori ... 10
1. Terapi Muhasabah ... 10
a. Pengertian Muhasabah ... 10
b. Manajemen Muhasabah ... 14
c. Manfaat Muhasabaah ... 16
2. Motivasi Belajar ... 16
a. Pengertian Motivasi Belajar ... 16
b. Fungsi Motivasi Belajar ... 18
G. Metode Penelitian ... 20
1. Pendekatan Penelitian ... 21
2. Lokasi Penelitian ... 21
3. Jenis dan Sumber Data ... 22
4. Tehnik Pengumpulan Data ... 23
xii
5. Teknik Analisis Data ... 25
6. Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data ... 26
H. Sistematika Pembahasan ... 27
BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 29
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 29
1. Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Ittihadil Ummah ... 29
2. Visi Misi Pondok Pesantren Ittihadil Ummah ... 33
3. Profil Pondok Pesantren Ittihadil Ummah ... 34
4. Keadaan Dewan Asatidz Pondok Pesantren Ittihadil Ummah ... 35
5. Keadaan Santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah ... 36
6. Sarana Prasarana Pondok Pesantren Ittihadil Ummah ... 37
B. Motivasi Belajar Santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah ... 38
C. Proses pelaksanaan dan hasil Terapi Muhasabah untuk meningkatkan Motivasi Belajar santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah ... 46
BAB III PEMBAHASAN ... 57
A. Analisis Motivasi Belajar Santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah ... 57
B. Analisis Proses pelaksanaan dan hasil Terapi Muhasabah untuk meningkatkan Motivasi Belajar santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah ... 61
BAB IV ... 67
A. KESIMPULAN ... 67
B. SARAN ... 68 DAFTAR PUSTAKA ...
LAMPIRAN ...
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 : Nama Pengurus dan Dewasn Asatidz/Asatidzah Pondok Pesantren Ittihadil Ummah
Tabel 2.2 : Daftar nama santri kelas MQ Pondok Pesantren Ittihadil Ummah Tabel 2.3 : Daftar nama santri kelas Sifir Pondok Pesanten Ittihadil Ummah Tabel 2.4 :Daftar nama subjek penelitian
xiii
TERAPI MUHASABAH UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SANTRI PONDOK PESANTREN ITTIHADIL UMMAH KARANG ANYAR
PAGESANGAN TIMUR MATARAM Oleh:
YULYA SYAFITRI NIM 170303024
ABSTRAK
Manusia terlahir dengan potensi yang berbeda-beda, salah satu cara untuk menggali potensi tersebut yaitu dengan belajar, agar mampu bermanfaat baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Akan tetapi pada kenyataannya ada saja hambatan-hambatan yang ditemukan dalam proses belajar, salah satunya yaitu kurangnya motivasi belajar pada diri seseorang. Seperti yang ditemukan pada lokasi penelitian, kurangnya motivasi belajar ini mempengaruhi proses belajar santri seperti tidak tekun saat mengerjakan tugas, mudah putus asa ketika menemukan kesulitan dalam belajar, tidak menunjukkan minat saat belajar, tidak mandiri dalam belajar, dan lain-lain. Sehingga diperlukan upaya untuk mengatasi hal tersebut, salah satunya dengan terapi muhasabah.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Jenis data berupa data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan yakni observasi, wawancara, dan dokumentasi, yang bertujuan untuk mengetahui : 1) Motivasi belajar santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah dan 2) Proses pelaksanaan dan hasil terapi muhasabah untuk meningkatkan motivasi belajar santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah. Adapun subjek penelitian ini adalah santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah yang dipilih menurut ciri-ciri spesifik sesuai dengan tujuan penelitian.
Sesuai hasil pembahasan maka peneliti menunjukkan bahwa 1) Motivasi belajar santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah yang perlu ditingkatkan ada 8 santri dan 2) Proses pelaksanaan dan hasil terapi muhasabah berjalan dengan baik dan hasilnya terapi muhasabah bisa digunakan untuk membantu meningkatkan motivasi belajar santri, hanya 1 santri yang tidak mengalami perubahan setelah pelaksanaan terapi muhasabah sehingga diperlukan tindak lanjut untuk penanganan santri tersebut.
Kata Kunci : Terapi Muhasabah, Motivasi Belajar
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Setiap manusia yang lahir ke dunia diciptakan dengan potensi yang sangat luar biasa. Dengan potensi yang dimiliki itulah seseorang dapat menjadi manusia yang bisa bermanfaat untuk dirinya maupun untuk orang lain. Namun untuk mempunyai potensi yang luar biasa seseorang harus menggali lebih dalam lagi potensi yang terdapat dalam dirinya. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, salah satunya yaitu dengan belajar.
Belajar adalah proses seseorang untuk memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap yang ada dalam diri. Belajar dimulai pada masa ketika bayi dengan memperoleh sejumlah kecil keterampilan yang sederhana, seperti memegang botol susu dan mengenal ibunya sendiri. Selama masa kanak-kanak dan masa remaja, diperoleh sejumlah sikap, nilai, dan keterampilan hubungan sosial, demikian pula diperoleh kecakapan dalam berbagai mata pelajaran di sekolah.
Dalam usia dewasa, seorang individu diharapkan telah mahir mengerjakan tugas- tugas pekerjaan tertentu dan keterampilan-keterampilan fungsional yang lain.
Seperti mengendarai mobil sendiri, mengerjakan tugas harian secara mandiri, dan bergaul dengan orang yang lain ataupun bersama teman dengan cara yang positif.
Dengan belajarlah seseorang dapat memberikan manfaat bagi individu dan juga bagi masyarakat. Sehingga dengan adanya kemampuan yang terbentuk dari belajar seseorang dapat membedakan jenisnya dari jenis-jenis makhluk yang lain.
Dan dapat mencapai atau memperoleh pengetahuan yang sangat luar biasa dan sesuai dengan tingkat kecerdasan intelektual yang dimilikinya.
Belajar mengajar merupakan salah satu proses yang sangat kompleks, karena dalam proses tersebut siswa tidak hanya sekedar menerima dan menyerap informasi yang disampaikan oleh guru, tetapi siswa juga melibatkan diri dalam kegiatan pembelajaran dan tindakan pedagogis yang harus dilakukan, agar hasil belajarnya lebih baik dan sempurna. Dari proses pembelajaran tersebut siswa dapat menghasilkan perubahan dalam dirinya, baik dalam bidang pengetahuan, keterampilan dan sikap. Adanya perubahan tersebut terlihat dalam prestasi belajar yang dihasilkan oleh siswa berdasarkan evaluasi yang diberikan oleh guru.1
Akan tetapi pada kenyataannya banyak hambatan yang bisa mempengaruhi proses belajar santri di Madrasah. Hambatan tersebut datang dari berbagai faktor, baik hambatan yang berasal dari eksternal maupun internal santri tersebut.
Hambatan eksternal dalam proses belajar bisa saja berhubungan dengan kondisi ekonomi, kurangnya fasilitas belajar, kegiatan pembelajaran yang monoton, proses pengajaran yang kurang efektif, dan lain-lain. Adapun hambatan internal seorang
1 Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2015), hlm.13
santri dalam belajar salah satunya yaitu kurangnya motivasi dalam diri santri dalam proses belajar.2
Motivasi belajar merupakan gabungan dari kata motivasi dan belajar, motivasi sendiri berasal dari kata “motive” yang berarti dorongan yang dapat menyebabkan terjadinya tindakan atau perbuatan. Pada dasarnya, motif merupakan pengertian yang meliputi penggerak. Dalam setiap tingkah laku manusia terdapat dorongan yang mendasari perubahan perilaku individu. Pengaruh atau dorongan yang menimbulkan suatu perubahan, baik itu perubahan yang baik atau buruk merupakan pengertian dari motivasi.3
Dalam kegiatan belajar, motivasi juga dapat menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam pembelajaran. Apabila terdapat santri yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar maka otomatis santri tersebut tidak akan melakukan proses belajar dengan baik.
Sifat malas, kurangnya gairah atau motivasi mengikuti pelajaran, dapat disebabkan oleh tidak adanya kesadaran dalam diri untuk belajar. Dengan adanya kesadaran belajar dalam diri maka akan terbentuk rasa keingin tahuan yang tinggi dan dapat berkompetisi dalam bidang akademisi. Persoalannya yaitubagaimana santri dapat mengembangkan kesadaran belajar dalam diri mereka sehingga mempunyai motivsi untuk belajar terebut, santri yang sadar akan potensi dan kewajiban dalam dirinya pasti mempunyai kemauan untuk mengembangkannya.4 Untuk mengatasi hal tersebut, maka diperlukan upaya agar motivasi belajar dalam diri santri bisa tumbuh. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengembangkan motivasi intrinsik sebagai faktor yang paling besar dalam mempengaruhi motivasi belajar santri.
Hal tersebut terjadi karena kurangnya dorongan untuk melaksanakan kewajiban santri tersebut yaitu belajar. Dapat juga terjadi karena mereka tidak mengetahui tujuan apa yang ingin mereka capai. Agar motivasi belajar santri dapat tumbuh kembali salah satunya dapat diatasi dengan muhasabah diri. Para santri yang mempunyai motivasi rendah diajak untuk merenungi perbuatan-perbuatan buruk atau menyimpang dalam kegiatan belajar agar dapat tumbuh kesadaran dalam diri mereka untuk berubah.
Terdapat beberapa cara untuk dapat menumbuhkan motivasi belajar dari dalam diri santri yang rendah, salah satunya dengan menggunakan pendekatan terapi muhasabah, dimana ini merupakan salah satu teknik untuk membenahi diri, mawas akan diri sendiri, untuk mulai melihat hal-hal yang harus diperbaiki, sehingga santri mulai berfikir untuk meningkatkan motivasi mereka dalam belajar.
Sederhanya Muhasabah itu adalah intropeksi diri, dimana kita didorong untuk meneliti diri sendiri, mengingat kembali perbuatan-perbuatan yang kita pernah
2 Neng Syifa Zahra, “Terapi Muhasabah dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMK 6 Bandung, (Skripsi, FUSA UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2019) hlm. 2
3 Nashar, Peranan motivasi dan Kemampuan Awal dalam kegiatan Pembelajaran, (Jakarta: Delia press, 2004), hlm.13
4 Ika Atmala Sari, Terapi Muhasabah Untuk Meningkatkan kesadaran Belajar Remaja, (SKRIPSI, FDIK UIN Sunn Ampel Surabaya, 2018), hlm.5
lakukan setiap saatnya, mengevaluasi diri sendiri sejauh mana kita memperbaiki diri kita dari hal-hal yang kita belum perbaiki.
Menurut Bachrun muhasabah merupakan bentuk perenungan diri untuk menghitung perbuatan yang telah dilakukan. Melakukan introspeksi diri, mawas diri dan melakukan perbaikan serta peningkatan prestasi semaksimal mungkin, sehingga tidak hanya sekedar diam merenung kemudian berhenti dan menganggap semua urusan selesai, namun melakukan koreksi, perbaikan dan peningkatan prestasi.5
Muhasabah sangat dianjurkan dalam Islam, agar senantiasa kita mampu memperbaiki diri dari sebelumnya agar tergolong ke dalam golongan orang-orang yang beruntung, maka perlu adanya kita menilik ke dalam diri sendiri apa kekurangan yang perlu kita perbaiki lagi. Apabila terapi Muhasabah ini mampu dipraktikkan oleh santri ke dalam perilakunya sehari-hari terkhusus dalam meningkatkan motivasi atau kesadaran akan pentingnya belajar, santri akan lebih semangat mengikuti setiap kegiatan belajar mengajar di Madrasah, santri akan menjadi semakin disiplin, bertanggung jawab, jujur, hingga akhirnya permasalahan motivasi belajar yang rendah akan mampu teratasi. Muhasabah menjadi salah satu cara yang dapat digunakan untuk menumbuhkan motivasi intrinsik atau dorongan dalam diri mereka. Dengan muhasabah para santri akan dapat melakukan autokritik terhadap perbuatan-perbuatan yang sudah dilakukannya sehingga selalu ada perbaikan dalam waktu ke waktu.
Pondok Pesantren Ittihadil Ummah merupakan salah satu Pesantren yang ditengah Kota Mataram yang baru berdiri, dan masih memiliki jumlah santri yang relatif sedikit. Dimana santri-santri tersebut didominasi oleh anak-anak yang berasal dari desa yang sama, yaitu Karang Anyar Pagesangan Timur, Mataram.
Proses masuk ke Pondok Pesantren Ittihadil Ummah pun tidak menggunakan tes baca Al-Qur‟an, atau tes-tes yang lain seperti Pondok Pesantren pada umumnya, melainkan menerima siapapun yang ingin masuk ke Pondok Pesantren tersebut sesuai dengan jenjang Pendidikan formalnya, sehingga kita jumpai berbagai macam latar belakang santri di sana.
Berdasarkan observasi dan wawancara peneliti menemukan beberapa santri yang masih kurang motivasi belajarnya, terlihat dari tidak tekun dalam mengerjakan tugas, mudah putus asa ketika menemukan kesulitan dalam belajar, tidak menunjukkan minat ketika belajar, masih bergantung dengan orang lain dalam arti tidak mandiri ketika belajar, senang mendapat tugas yang sama berulang kali yang bersifat kurang kreatif, mudah goyah dengan pendapat sendiri ketika proses belajar, sehingga hal ini berpengaruh terhadap kelangsungan belajar santri tersebut.
5 Alif Puji Ningrum, Bimbingan Konseling Islam dengan Teknik Muhasabah untuk menanamkan
kedisiplinan pada seorang siswa yang sering terlambat di SMPN 13 Surabaya, (SKRIPSI, FDIK UIN Sunan Ampel Surabaya 2019), hlm. 2
Berdasarkan permasalahan yang diuraikan di atas, maka dalam hal ini penulis melakukan penelitian dengan judul “Terapi Muhasabah untuk meningkatkan motivasi belajar Santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Bagaimana motivasi belajar santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah ?
2. Bagaimana proses pelaksanaan dan hasil terapi muhasabah dalam meningkatkan motivasi belajar santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah ? C. Tujuan dan Manfaat
1. Tujuan Penelitian
Berangkat dari fokus penelitian sebagaimana yang telah diungkapkan di atas, agar sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian ini lebih terarah, maka perlu dijabarkan tujuan dari penelitian ini, antara lain :
a. Untuk mengetahui motivasi belajar santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah
b. Untuk mengetahui proses pelaksanaan dan hasil terapi muhasabah dalam membantu meningkatkan motivasi belajar santri di Pondok Pesantren Ittihadil Ummah
2. Manfaat Penelitian
Tujuan dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan manfaat antara lain :
a. Manfaat Teoritis
Aspek teoritis yang diharapkan dalam penelitian ini adalah dapat menjadi referensi atau rujukan dalam memberikan Bimbingan atau Konseling Islam dengan terapi Muhasabah kepada peserta didik atau konseli dalam membantu meningkatkan motivasi belajarnya khususnya di Pondok Pesantren Ittihadil Ummah.
b. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat membantu mengevaluasi baik dari proses dan hasil dari teknik muhasabah yang dilakukan tenaga pengajar di Pondok Pesantren Ittihadil Ummah.Sehingga kedepannya dapat dijadikan referensi dalam menangani masalah yang sama maupun pada penggunaan terapi yang sama. Tak lupa bagi siapapun yang membaca semoga bisa menerapkan terapi ini ketika ada permasalahan yang sama, dan bermanfaat untuk kedepannya.
c. Bagi penulis
Bagi penulis hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dan referensi untuk terus meningkatkan kapasitas diri dalam melakukan terapi muhasabah, juga agar dapat berbagi pengalaman dan ilmu kepada orang
lain terkait terapi muhasabah dalam upaya membantu meningkatkan motivasi belajar.
D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang lingkup penelitian
Dalam rangka mempermudah dalam proses penelitian, dan menghindari pembahasan yang keluar dari fokus penelitian, maka perlu penulis melakukan pembatasan-pembatasan yang harus disesuaikan dengan fokus permasalahan, sehingga pembahasan yang disampaikan menjadi terukur dan jelas.
Sesuai dengan fokus penelitian dan rumusan masalah yang ingin diteliti,dimana peneliti akan mengkaji tentang “Terapi Muhasabah untuk meningkatkan motivasi belajar santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah”
2. Setting penelitian
Dalam penelitian ini penulis memilih tempat untuk meneliti yaitu di Pondok Pesantren Ittihadil Ummah Jln. Guru Bangkol, Gg. Banjarmasin No. 55 Karang Anyar Pagesangan Timur Mataram.
E. Telaah Pustaka
Telaah pustaka adalah salah satu penelaahan terhadap study-study dan karya yang terdahuluterkait dengan penelitian yang dilakukan penulis. Adapun tujuan dari talaah pustaka ini ialah untuk menegaskan kebaruan, orisinalitas, dan urgensi penelitian bagi pengembangan keilmuan terkait.6Berdasarkan judul yang diangkat yaitu “Terapi muhasabah untuk meningkatkan motivasi belajar santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah” ada beberapa hal yang harus peneliti lakukan dalam penelitian dan mengambil rujukan dari :
1. Skripsi dengan judul : “Terapi Muhasabah untuk meningkatkan kesadaran belajar remaja (Study kasus pada salah satu remaja di Kelurahan Watulea Buton Tengah Sulawesi Tenggara). Yang disusun oleh Ika Atmala Sari, jurusan Bimbingan Konseling Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya tahun 2018.
Skripsi tersebut penulis jadikan acuan terhadap telaah pustaka karena menggunakan terapi yang sama dengan yang penulis gunakan yaitu Terapi Muhasabah, dan dalam topik yang sama yaitu tentang motivasi dan kesadaran belajar. Namun perbedaannya di sini yaitu pada lokasi penelitian tentunya dan fokus penelitiannya yaitu bagaimana proses pelaksanaan terapi Muhasabah untuk meningkatkan kesadaran belajar remaja di Kelurahan Watulea Kabupaten Buton Tengah Sulawesi Tenggara, dan fokus penelitian ini yaitu penulis mendeskripsikan hasil penelitian di Pondok Pesantren Ittihadil Ummah Karang Anyar Pagesangan Timur Mataram, dan fokusnya yaitu tentang proses dan hasil penggunaan terapi muhasabah yang diberikan oleh Mudirul
6 Tim Penyusun IAIN Mataram, Pedoman Penulisan Skripsi (Mataram : IAIN Mataram, 2009), hlm.13.
Ma‟had Pondok Pesantren Ittihadil Ummah kepada santri, untuk meningkatkan motivasi belajar santri, sedangkan yang dijabarkan dalam Skripsi tersebut dimana penulisnya berperan langsung sebagai Konselor untuk konselinya.
Hasil dari proses bimbingan dan konseling Islam dengan menggunakan terapi muhasabah dalam menangani kurangnya kesadaran belajar remaja di Kelurahan Watulea-Buton Tengah Sulawesi Tenggara ini adalah konseli dapat merubah kebiasaan buruknya yaitu konseli keluar malam hingga larut malam menjadi konseli mengurangi jam keluarnya, mempunyai kemauan belajar, membiasakan diri agar selalu disiplin serta berusaha menjauhi sifat teman-temannya yang membuatnya menjadi pribadi yang negative.
2. Skripsi dengan judul : “Terapi Muhasabah dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMKN 6 Bandung. Yang disusun oleh Neng Syifa Zahra, jurusan Tasawuf Psikoterapi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung 2019.
Skripsi tersebut penulis jadikan acuan terhadap telaah pustaka karena menggunakan teknik yang sama yaitu muhasabah, dan dalam topik permasalahan yang sama juga yaitu tentang motivasi belajar.
Namun perbedaannya di sini pada lokasi penelitiannya, dimana di Skripsi tersebut lokasi penelitiannya di SMPN 6 Bandung, dan penelitian penulis di Pondok Pesantren Ittihadil Ummah Karang Anyar.
3. Skripsi dengan judul : “Bimbingan dan Konsling Islam Dengan Teknik Muhasabah Untuk Menanamkan Disiplin Waktu Pada Siswa Yang Sering Terlambat Di Smpn 13 Surabaya”
Fokus penelitian ini adalah, 1. Bagaimana proses Bimbingan dan Konseling Islam dengan Teknik Muhasabah untuk menanamkan kedisiplinan pada siswa yang sering terlambat di SMPN 13 Surabaya, dan 2. Bagaimana hasil dari Bimbingan Konseling Islam dengan Teknik Muhasabah dalam menanamkan kedisiplinan pada siswa yang sering terlambat di SMPN 13 Surabaya . Sedangkan fokus penelitian penulis yaitu 1. Bagaimana motivasi belajar santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah, dan 2. Bagaimana proses pelaksanaan dan hasil terapi muhasabah untuk meningkatkan motivasi belajar santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah, dimana kedua penelitian ini menggunakan terapi yang sama yaitu Terapi Muhasabah, pada kasus yang berberda yaitu kedisiplinan dan motivasi belajar.
Metode penelitian yang digunakan sama yaitu metode kualitatif.
Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil akhir dari penelitain ini dapat dikatakan berhasil, hal ini ditunjukkan dengan perubahan perilaku konseli dalam kehidupan sehari harinya yang awalnya kurang bisa
mengatur waktu dengan baik, menjadi lebih bisa untuk mengatur waktunya dan bertranggung jawab. Sehingga dapat hidup lebih disiplin.
4. Jurnal motivasi belajar tahun 2017 yang berjudul Kedudukan Motivasi Belajar siswa dalam pembelajaran. Disana membahas tentang Motivasi memiliki kedudukan yang penting dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Munculnya motivasi tidak semata-matadari diri siswa sendiri tetapi guru harus melibatkan diri untuk memotivasi belajar siswa. Adanya motivasi akan memberikan semangat sehingga siswa akan mengetahui arah belajarnya. Motivasi belajar dapat muncul apabila siswa memiliki keinginan untuk belajar. Oleh karena itu motivasi baik intrinsik maupun ekstrinsik harus ada pada diri siswa sehingga tujuan pembelajaran yang sudah dirumuskan dapat tercapai secara optimal.
F. Kerangka Teori 1. Muhasabah
a. Pengertian Muhasabah
Secara etimologis muhasabah adalah bentuk mashdar (bentuk dasar) dari kata hasaba-yuhasibu yang kata dasarnya hasaba-yahsibu atau yahsubu yang berarti menghitung. Sedangkan dalam kamus Arab- Indonesia muhasabah ialah perhitungan, atau introspeksi.7
Muhasabahdapat diartikan sebagai perenungan diri untuk menghitung apa yang telah kita lakukan sebelum Allah SWT menghisab amal kita pada hari pembalasan. Merenung, melakukan introspeksi, mawas diri kemudian melakukan perbaikan, dan peningkatan prestasi semaksimal mungkin.Perenungan disini bukan hanya sekedar merenung kemudian berhenti dan menganggap selesai sudah semua urusan, tetapi merupakan bagian dari proses untuk menjadi pribadi unggul. Merenung untuk melakukan koreksi, perbaikan dan peningkatan prestasi.8
Menurut Muhammad Al-Ghazali, mengemukakan bahwa Muhasabah adalah sikap mengevaluasi diri sendiri untuk menata ulang hidup, memilah sifat-sifat yang seharusnya dimiliki dan dijaga serta yang seharusnya dihilangkan. Seperti desain interior sebuah ruangan, demikian pula kehidupan manusia, adakalanya direnovasi.9 Imam al- Ghazali menjelaskan tentang hakekat muhasabah diri setelah beramal dengan mencontohkan seseorang hamba yang bermuhasabah terhadap dirinya haruslah seperti pedagang yang sering menghitung modal, untung dan rugi atas perdagangannya. Maka makna muhasabah terhadap
7 Asad M. Al kali, Kamus Indonesia-Arab, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989), hlm. 183.
8 Alif Puji Ningrum, Bimbingan Konseling Islam dengan Teknik Muhasabah untuk menanamkan kedisiplinan pada seorang siswa yang sering terlambat di SMPN 13 Surabaya, (SKRIPSI, FDIK UIN Sunan Ampel Surabaya 2019), hlm. 35
9 Siti Shahilatul Arasy, Urgensi Muhasabah (Introeksi Diri) di Era Kontemporer (Studi Ma’anil Hadits), (SKRPSI: Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2014), hlm.97
para pedagang adalah meninjau modal, keuntungan, dan kerugian, untuk mencari kejelasan apakah bertambah atau berkurang.
Kemudian ia mengadakan muhasabah kepada dirinya sendiri atas amalan-amalan fardhu terlebih dahulu, jika dilakukannya secara benar maka ia bersyukur kepada Allah dan mendorongnya untuk melakukan hal yang sama, jika luput sama sekali maka ia menuntutnya dengan meng-qadha‟, dan jika ditunaikan secara kurang sempurna maka ia akan menutupinya dengan berbagai amalan sunnah, jika melakukan maksiat maka ia akan sibuk memberikan sanksi, hukuman dan celaan terhadap dirinya untuk melakukan koreksi atas apa yang terluput dari dirinya, sebagaimana dilakukan pedagang terhadap mitranya.10
Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa konsep muhasabah diri menurut Imam al-Ghazali adalah melakukan perhitungan kepada diri sendiri sebelum maupun setelah mengerjakan sesuatu hal baik ianya terlihat pada zahir maupun terlintas pada batin. Muhasabah dilakukan untuk memerhatikan pada niat, tujuan dan tingkah laku, agar memperoleh kejelasan apakah hal tersebut memberi penambahan atau pengurangan terhadap amalnya. Konsep muhasabah diri menurut Imam al-Ghazali di dalam kitab Ihya‟ Ulumiddin adalah selalu memikirkan, memperhatikan serta memperhitungkan apa yang telah diperbuat dan apa yang akan diperbuat. Muhasabah diri merupakan satu proses penyucian jiwa agar terhindar dari kelalaian, dan mengingatkan kembali akan dosa serta aib diri yang telah dilakukan supaya tidak diulangi lagi kesilapan yang sama sekaligus mendekatkan diri kepada Allah.11
Menurut Ibnu Qudamah muhasabah adalah melihat keadaan modal, keadaan keuntungan dan kerugian, agar dapat mengenal pasti sebarang penambahan dan pengurangan. Modalnya dalam konteks agama ialah perkara yang difardhukan, keuntunganialah perkara sunat dan kerugiannya pula ialah maksiat.Kemudian menurut Ibnu Qaiyim muhasabah adalah membedakan antara apa yang diperolehinyadan apa yang perlu ditanggungnya. Setelah mengetahui yang demikian, maka dia hendaklah membawa apa yang diperolehnya dan melunaskan apa yang ditanggungnya. Dia seolah-olah seorang musafir yang tidak akan kembali. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa muhasabah adalah suatu bentuk perbuatan yang dilakukan oleh seorang hamba dalam rangka melihat sejauh mana perbuatan.12
Terapi Muhasabah tersebut, dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tentang :
1. Ketenangan dan kedamaian yang hadir dalam jiwa.
2. Sugesti yang mendorong ke arah hidup yang bermakna
10 Ainul Mardziah, “Tesis Konsep Muhasabah diri menurut Imam Al-Ghazali” hlm.81
11Ibid. hlm 84
12 Kasmuri Dasril “Psikoterapy pendekatan sufistik”. hlm 145
3. Rasa cinta dan dekat kepada Allah.Muhasabah (mawas diri), juga dapat mendorong orang untuk menyadari kekhilafannya, serta dapat pula memotivasi orang mendekatkan diri kepada Allah, mendorong kearah hidup bermakna, dan hidup bermanfaat sebagaimana perilakumanusia sejati.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka menghisab diri merupakan sesuatu yang amat penting bagi setiap orang, sehingga dapat terhindar dari bahaya yang sangat besar. Ada empat akibat negatif bila seseorang tidak melakukan muhasabah antara lain yaitu :
1. Menutup Mata dari Berbagai Akibat
Kesalahan dan dosa yang dilakukan manusia tentu ada akibatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Manakala seseorang melakukan muhasabah, dia menjadi tahu akan akibat-akibat tersebut dan tidak mau melakukan dosa atau kesalahan, dengan sebab mengetahui dan menyadari akibat itu.Namun, orang yang tidak melakukan muhasabah akan menutup mata dari berbagaiakibat perbuatan yang buruk, baik akibat yang menimpa diri dan keluarganya maupun akibat yang menimpa orang lain.
2. Larut dalam keadaan
Efek berikutnya dari tidak melakukan muhasabah adalah seseorang akan larut dalam keadaan, sehingga dia dikendalikan oleh keadaan, bukan pengendalian keadaan. Orang yang larut dalam keadaan juga akan menjadi orang yang lupa diri di kala senang dan putus asa di kala susah.
3. Mengandalkan Ampunan Allah
Setiap orang yang berdosa memang mengharapkan ampunan dari Allah swt, tapi bagi orang yang tidak melakukan muhasabah, dia mengandalkan ampunan dari Allah swt, tanpa bertobat terlebih dahulu.
Sebab, tidak mungkin Allah akan mengampuni seseorang tanpa tobat dan tidak mungkin seseorang bertobat yang sesungguhnya tanpa muhasabah, karena tobat itu harus disertaidengan menyadari kesalahan, menyesalinya, dan tidak akan
mengulanginya lagi.
4. Mudah melakukan dosa
Melakukan muhasabah juga akan membuat seseorang takut untuk melakukan dosa dan tidak mudah untuk menyepelekannya, namun jika seseorang yang tidak dapat bermuhasabah maka akan sangat mudah melakukan dosa dan kemudian menyepelekannya, karena dianggap tidak berbahaya, tidak ada resiko dan tidak ada akibat dari dosa yang dilakukan. Sebab itu, orang yang tidak melakukan muhasabah akan dengan mudah melakukan dosa. Bahkan, meskipun dia tahu perbuatan tersebut dosa, dia akan menganggap enteng. Sementara bagi orang yang
bermuhasabah, sekecil apapun dosa yang dilakukan, dia akan menyelesaikannya dengan penyesalan yang sangat mendalam.13
b. Manajemen Muhasabah
Manajemen dapat didefinisikan sebagai upaya untuk mendapatkan sesuatu melalui orang lain. Untuk mengelola, ada fungsi yang harus dijalankan, yaitu :
1. Perencanaan (Plan)
Perencanaan merupakan bagian awal dari sutu aktifitas.
Bertindak tanpa rencana dapat mengakibatkan hal hal yang tidak di inginkan. Misal ketika bangun tidur seorang ibu rumah tangga berpikir tentang apa yang akan disajikan untuk seluruh anggota keluarga. Ia ingin seluruh anggota keluarga puas dengan sajiannya.
Itu adalah target. Setelah menentukan target sang ibu mulai menyusun rencana untuk mencapai target tersebut, dari mulai belanja bahan yang akan dipakai, besarnya anggaran yang dibutuhkan, tempat untuk berbelanja, dan lain sebaginya.
2. Pelaksanaan (Do)
Betapapun bagus suatu rencana, kalau tidak dilaksanakan tidak akan terpenuhi targetnya. Ibu harus belanja dan memasak, baru makanan tersaji di meja makan.Sebaliknya jika tanpa perencanaan seorang ibu langsung memasak, hasilnya belum tentu dapat memuaskan keluarga.
Ada banyak cara yang dapat dilakukan muslim untuk melakukan muhasabah. Menurut Budiman Mustafa cara melakukan muhasabah itu sebagaiberikut :
a. Membayangkan seakan berada dihadapan pengadilan Allah kelak sehingga menimbulkan rasa takut.
b. Membayangkan azab kubur setelah kita meninggal masuk alam barzah.
c. Mengingat kembali jasa orang tua kita, yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan, membesarkan, mendidik kita semua itu takkan pernah terbalas, terkadang harus banting tulang, peras keringatdan berkorban jiwa dan raga untuk hidup kita.
d. Menapaktilasi hubungan kita aku dengan Allah dan manusia, menghitung kelemahan dan kekuatan diri selama melaksanakan tata pergaulan dengan manusia.
e. Dengan rasa cemas memutar kembali seluruh tindakan dan serpak terjang di dunia.
f. Menghitung betapa banyak jumlah dosa, khilaf dan alfa yang telah dilakukan.
13 Ahmad Yani, Be Excellent (Menjadi Pribadi Terpuji), (Depok: AL QALAM: Kelompok Gema Insani, 2007), hlm. 237-239
g. Dan mengevaluasi seluruh kata, perilaku tindakan yang pernah dilakukan yang tiodak bermamfaat, dll.14
3. Pemeriksaan (Check)
Setelah merencanakan suatu kegiatan dan melakukannya, hasilnya perlu diperiksa, apakah hasilnya sesuai rencana.Diperiksa jumlah, harga, waktu, mutu, atau singkatnya apakah sesuai dengan target yang ditetapkan.
4. Perbaikan (Action)
Hasil pemeriksaan dibutuhkan sebagai masukan untuk melakukan perbaikan. Kalau masakan ibu kurang garam lain kali sang ibu dapat mencicipi dahulu sebelum disajikan sehingga dapat memuaskan seluruh keluarga.15
c. Manfaat Muhasabah
Setelah kita melakukan muhasabah, kita akan menemukan beberapa manfaat, antara lain yaitu :
1) Kritik diri (Muhasabah) bisa menarik kasih dan pertolongan Allah SWT.
2) Memampukan seseorang untuk memperdalam iman dan penghambaannya, berhasil dalam menjalankan ajaran islam, dan meraih kedekatan dengan Allah dan kebahagiaan abadi.
3) Muhasabah dapat mencegah seorang hamba jatuh ke jurang keputusasaan dan kesombongan atau ujub dalam beribadah, sertamenjadikannya selamat di hari kemudian.
4) Muhasabah dapat membuka pintu menuju ketenangan dan kedamaian spiritual, dan juga menyebabkan seseorang takut kepada Allah dan siksaan-Nya. Muhasabah juga dapat membangkitkan kedamaian dan ketakutan di dalam hati manusia.16
2. Motivasi Belajar
a. Pengertian Motivasi Belajar
Menurut Winkel (dalam Aina Mulyana,2018) mengartikan motivasi belajar adalah segala usaha di dalam diri sendiri yang menimbulkan kegiatan belajr, dan menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar serta memberi arah pada kegiatankegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki tercapai. Motivasi belajar merupakan faktor psikis yang bersifat non intelektual dan berperan dalam hal menumbuhkan semangat belajar untuk individu. Motivasi dalam belajar sangat diperlukan.
Keberhasilan tujuan pembelajaran bergantung seberapa besar antusias peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran.
14 Kasmuri Dasril “Psikoterapy pendekatan sufistik”. hlm 149
15 Saifuddin Bachrun, Manajemen Muhasabah Diri, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2011), hlm. 27-30
16 Fathullah Gulen, Kunci-Kunci Rahasia Sufi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 30
Dalam kegiatan belajar mengajar, apabila ada seorang siswa, misalnya tidak berbuat sesuatu yang seharusnya dikerjakan, maka perlu diselidiki sebab-sebabnya. Sebab-sebab itu biasanya bermacam-macam, mungkin ia tidak senang, mungkin sakit, lapar, ada problem pribadi dan lain-lain. Hal ini berarti pada diri anak tidak terjadi perubahan energi, tidak terangsang afeksi untuk melakukan sesuatu, karena tidak memiliki tujuan atau kebutuhan belajar. Keadaan semacam ini perlu dilakukan daya upaya yang dapat menemukan sebab musababnya kemudian mendorong seorang siswa itu mau melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan, yakni belajar. Dengan kata lain, siswa perlu diberikan rangsangan agar tumbuh motivasi pada dirinya, atau singkatnya perlu diberikan motivasi.
Motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka, maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakan perasaan tidak suka itu. Jadi mtivasi itu dapat dirangsang oleh faktor dari luar tetapi motivasi itu adalah tumbuh dalam diri seseorang. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subyek belajar itu dapat tercapai.
Dikatakan “keseluruhan”, karena pada umumnya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakan siswa untuk beajar. Motivasi belajar adalah merupakan faktor psikis yang bersifat non-intelektual.
Peranannya yang khas adalah dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan semangat untuk belajar.
Siswa yang memiliki motivasi kuat, akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar. Ibaratnya seseorang itu menghadiri suatu ceramah, tetapi karena ia tidak tertarik kepada materi yang diceramahkan, maka tidak akan mencamkan, apalagi mencatat isi ceramah tersebut. Hasil belajar akan maksimal kalau ada motivasi yang tepat.
Persoalan motivasi ini dapat juga dikaitkan dengan minat. Minat diartikan sebagai suatu kondisi yang akan terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu, apa yang dilihat seseorang sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingan dirinya sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa minat merupakan kecendrungan jiwa seseorang kepada seseorang (biasanya disertai dengan perasaan senang), karena itu merasa ada kepentingan dengan sesuatu itu. Menurut Bernard, minat timbul tidak secara tiba-
tiba/spontan. Melainkan timbul akibat dari partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar atau bekerja. Jadi jelas bahwa soal minat akan selalu berkaitan soal kebutuhan atau keinginan. Oleh karena itu yang penting bagaimana menciptakan kondisi tertentu agar siswa itu selalu butuh dan ingin terus belajar.17
b. Fungsi Motivasi dalam Belajar
Keberhasilan proses belajar mengajar dipengaruhi oleh motivasi belajar siswa. Guru selaku pendidik perlu mendorong siswa untuk belajar dalam mencapai tujuan. Dua fungsi motivasi dalam proses pembelajaran yang dikemukakan oleh Wina Sanjaya yaitu:
1. Mendorong siswa untuk beraktivitasPerilaku setiap orangdisebabkan karena dorongan yang muncul dari dalam yang disebut dengan motivasi. Besar kecilnya semangat seseorang untuk bekerja sangat ditentukan oleh besar kecilnya motivasi orang tersebut. Semangat siswa dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru tepat waktu dan ingin mendapatkan nilai yang baikkarena siswa memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar.
2. Sebagai pengarah Tingkah laku yang ditunjukkan setiap individu pada dasarnya diarahkan untuk memenuhi kebutuhannya atau untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Dengan demikian Motivasi berfungsi sebagai pendorong usaha dan pencapaian prestasi. Adanya motivasi yang baik dalam belajar akan menunjukkan hasil yang baik.18
Motivasi belajar yang ada pada diri siswa itu memiliki ciri- ciri sebagai berikut :
a. Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu yang lama, tidak berhenti sebelum selesai)
b. Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa). Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin (tidak cepat puas dengan prestasi yang telah dicapai) c. Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah d. Lebih senang bekerja mandiri
e. Cepat bosan pda tugas-tugas yang rutin (hal-ha yang bersifat mekanis, berulang-ulang begitu saja, sehingga kurang kreatif) f. Dapat mempertahankan pendapatnya (kalau sudah yakin akan
sesuatu)
g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini
h. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal
17Ibid. hlm 75-76
18 Amna Emda, “Kedudukan Motivasi Belajar Siswa dalam Pembelajaran”, Jurnal, Vol. 5, No. 2 2017
Apabila seseorang memiliki ciri-ciri seperti di atas, berarti orang itu selalu memiliki motivasi yang cukup kuat. Ciri-ciri motivasi seperti itu akan sangat penting dalam kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar akan berhasil baik, kalau siswa tekun mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan secara mandiri. Siswa yang belajar dengan baik tidak akan terjebak pada sesuatu yang rutinitis dan mekanis. Siswa harus mampu mempertahankan pendapatnya, kalau ia sudah yakin dan dipandangnya cukup rasioanal. Bahkan lebih lanjut siswa juga harus lebih peka dan responsif terhadap bebagai masalah umum, dan bagaimana memikirkan pemecahannya.19
G. Metode Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan pendekatan kualitatif karena lebih menekankan pada makna dan proses daripada hasil suatu aktivitas. Untuk melakukan penelitian seseorang dapat menggunakan metode penelitian tersebut, sesuai dengan masalah, tujuan, kegunaan dan kemampuan yang dimilikinya.
Menurut Bogdan dan Taylor yang di kutip oleh Tohirin dalam bukunya “Metode Penelitian Kualitatif (dalam pendidikan dan bimbingan konseling)”, penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang atau perilaku yang dapat di amati, dalam penelitian kualitatif data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka, tetapi penelitian yang ingin mencari makna kontekstual secara menyeluruh (holistic) berdasarkan fakta-fakta (tindakan, ucapan, sikap, dan sebagainya) yang dilakukan subjek penelitian untuk membangun teori.20
1. Pendekatan Penelitian
Berdasarkan masalah yang diteliti, peneliti menggunakan Metode Penelitian Kualitatif deskriptif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan apa-apa yang saat ini berlaku. Didalamnya terdapat upaya mendeskripsikan, mencatat, analisis, dan menginterpretasikan kondisi yang sekarang ini terjadi atau ada, dengan kata lain penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk memperoleh informasi- informasi mengenai keadaan yang ada.21 Selain itu, penelitian ini menggunakan metode Penelitian Kualitatif karena bentuk penelitian ini disajikan dalam bentuk naratif atau kata-kata dan bukannya dalam bentuk angka, dimana seperti yang terurai di atas bahwa prosedur penelitian ini menghasilkan data dan perilaku yang dapat diamati dari orang-orang (objek itu sendiri).
19 Sadirman, (interaksi dan motivasi belajar mengajar).hlm. 83-84
20 Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif Dalam Perspektif Rancangan Penelitian (Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2012), hlm. 22
21 Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian, (Jakarta:Kencana, 2007), hlm 34
2. Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian di Pondok Pesantren Ittihadil Ummah, Jln. Guru Bangkol, Gg. Banjarmasin No. 55 Karang Anyar Pagesangan Timur, Mataram, Nusa Tenggara Barat.Adapun alasan peneliti memilih lokasi tersebut adalah sebagai berikut :
a. Memudahkan peneliti dalam mendapatkan data di lapangan, karena sebelumnya peneliti pernah melakukan observasi ditempat tersebut, dan mengetahui keadaan lapangan dan perkembangannya. Selain itu letaknya yang sangat unik membuat peneliti tertarik, yaitu menggambarkan toleransi yang tinggi diantara umat berbeda agama, karena bersebelahan dengan pemukiman orang Non Muslim.
b. Lokasi penelitian ini merupakan Lembaga yang baru dibangun dan masih dalam proses merintis. Aspek spiritual sangat ditekankan oleh Mudirul Ma‟had Pondok Pesantren Ittihadil Ummah, sehingga peneliti memilih lokasi ini agar sejalan dengan terapi dan prinsip yang diterapkan baik dari segi peneliti maupun tempat meneliti.
c. Pondok Pesantren Ittihadil Ummah merupakan Pesantren yang menerima santri tanpa mematokkan nilai akademik, atau tanpa tes ujian masuk seperti pada Sekolah/Pondok Pesantren umumnya, sehingga ditemukan berbagai macam latar belakang santri di sana., sehingga ketika melakukan observasi permasalahan yang paling menonjol yaitu tentang masih rendahnya motivasi belajar beberapa santri.
3. Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Data kualitatif yaitu data yang tidak menggunakan angka-angka22, melainkan diuraikan dalam bentuk kalimat. Adapun sumber data dalam penelitian ini dapat digolongkan menjadi dua, yaitu :
a. Sumber Data Primer
Dimana sumber data primer ini diperoleh dari pihak-pihak yang terkait dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, sumber data primer dalam penelitian ini merupakan data yang diperoleh dari informan yaitu orang yang berpengaruh dalam proses perolehan data atau bisa disebut key member yang memegang kunci sumber data penelitian ini, yaitu pihak yang langsung memberikan terapi muhasabah Mudirul Ma‟had Pondok Pesantren Ittihadil Ummah TGH. Taufik Rahman, MA, dan santri yang mengikuti terapi tersebut, karena sumber data primer ini merupakan data pokok yang harus didapatkan peneliti dari informan yang terlibat langsung dalam penelitian ini, tentunya data dan hasil wawancara serta observasi yang dilakukan oleh tim observasi dipenelitian ini, yang terdiri dari dewan
22 Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, (Jakarta PT. Raja Grafindo Persada, 2015), hlm. 75
asatidz yang terlibat langsung dan mengetahui perkembangan baik proses belajar mengajar atau keseharian subjek yang akan diberikan terapi muhasbaah.
b. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder merupakan data pendukung dalam penelitian ini, seperti dokumentasi hasil penilaian akademisi santri disetiap mata pelajaran, absensi kehadiran santri mengikuti proses belajar, wawancara dengan teman sebaya subjek penelitian ini.
4. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah suatu cara atau teknik bagaimana data ini bisa ditemukan, digali, dikumpulkan, dikategorikan, dan dianalisis.23 Untuk memperoleh data dalam penelitian ini maka peneliti menggunakan beberapa metode dalam proses pengumpulan data tersebutm antara lain :
a. Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang seringdigunakan dalam penelitian kualitatif. Melaksanakan teknik wawancara berarti melakukan interaksi atau percakapan antara pewawancara dan terwawancara dengan maksud menghimpun informasi dari terwawancara. Wawancara dapat digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan peneliti berkeinginan untuk mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan informan lebih mendalam. Dengan mengadakan wawancara pada prinsipnya merupakan usaha untuk menggaliketerangan yang lebih dalam dari sebuah kajian dari sumber yang relewan berupa pendapat, kesan, pengalaman, pikiran dan sebagainya.24
Penyusunan wawancara yang akan di lakukan tidak testruktur.
peneliti melakukan kegiatan tanya jawab kepada beberapa pihak yang terkait dengan penelitian dan membantu agar peneliti mendapatkan informasi yang dibutuhkan, pihak tersebut antara lain : Mudiul Ma‟had Pondok Pesantren Ittihadil Ummah, 2 orang dewan Asatidz yang aktif dalam proses belajar mengajar, dan 3 orang santri. Adapaun alasan mengambil 3 santri tersebut karena hasil wawancara dengan Mudir Pondok dan dewan asatidz memberikan penilaian yang sama tentang 3 santri tersebut, yaitu rendahnya motivasi belajar mereka jika dibandingkan dengan santri lainnya.
23 Elvinaro Ardianto, Metodologi Penelitian Untuk Public Relations Kuantitatif dan Kualitatif, (Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2011), hlm. 161
24 Djam‟an satori dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2014), hlm. 129
b. Observasi
Observasi langsung adalah cara pengumpulan data dengan melakukan pencatatan secara cermat dan sistematik. Observasi harus dilakukan secara teliti dan sistematis untuk mendapatkan hasil yang baik, dan peneliti harus mempunyau latar belakang atau pengetahuan yang lebih luas tentang objek penelitian, mempunyai dasar teori dan sikap objektif.25
Observasi langsung yang dilakukan oleh peneliti bisa direalisasikan dengan cara mencatat berupa informasi yang berhubungan dengan proses dan hasil pemberian bimbingan dengan teknik muhasabah kepada santri.
Dengan observasi langsung, peneliti dapat memahami konteks data dalam berbagai situasi, maksudnya dapat memperoleh pndangan secara menyeluruh. Untuk itu peneliti dapat melakukan pengamatan secara langsung dalam mendapatkan bukti yang terkait dengan objek penelitian.
c. Dokumentasi
Dokumentasi yang berupa arsip Pondok Pesantren dan data-data yang diperlukan terkait objek penelitian, antara lain : Absensi kehadiran santri dalam proses belajar mengajar dan draf nilai santri.Selain itu, peneliti dan tim observasi memiliki catatan-catatan kejadian yang kita amati baik dalam proses belajar maupun tidak.
5. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan langkah yang sangat urgen dan menentukan.
Karena melalui analisis yang optimal dengan interprestasi yang tepat akan diperoleh hasil penelitian yang bermakna. Analisis data dilakukan oleh para peneliti agar mendapatkan makna yang terkandung dalam sebuah data, sehingga interprestasinya tidak sekedar deskripsi belaka.
a. Reduksi data (data reduction)
Mereduksi data merupakan kegiatan merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting dan mencari tema serta polanya. Data yang telah direduksi memberikan gambaran lebih jelas dan memudahkan untuk melakukan pengumpulan data. Temuan yang dipandang asing, tidak dikenal, dan belum memiliki pola, maka hal itulh yang dijadikan perhatian karena penelitian kualitatif bertujuan mencari pola dan makna yang tersembunyi dibalik pola dan data yang tampak.
b. Paparan data (data display)
Pemaparan data sebagai sekumpulan informasi tersusun, dan memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data digunakan untuk lebih meningkatkan pemahaman kasus dan sebagai acuan mengambil tindakan berdasarkan pemahaman dan
25 Soeratno, Metode Penelitian, (Yogyakarta: UUP AMP YPKN 1995), hlm. 99
analisis sajian data. Data penelitian ini disajikan dalam bentuk uraian yang didukung dengan matriks jaringan kerja.
c. Penarikan kesimpulan data dan verifikasi (concussion drawing/verifying) Penarikan kesimpulan merupakan hasil penelitian yang menjawab fokus penelitian berdasarkan analisis data. Kesimpulan disajikan dalam bentuk deskriptif objek penelitian dengan berpedoman pada kajian penelitian. Analisis data kualitatif dilakukan secara bersamaan dengan proses pengumpulan data berlangsung, artinya kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan juga selama dan sesudah pengumpulan data. Reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan menjadi gambaran keberhasilan secara berurutan sebagai rangkaian kegiatan analisis yang saling menyusul.
6. Pengecekan Keabsahan Data
Dalam pengujian keabsahan data atau uji kredibilitas terhadap data hasilpenelitian, peneliti menggunakan beberapa cara, antara lain:
a. Memperpanjang waktu
Memperpanjang waktu penelitian adalah salah satu cara untuk meminimalisir kesalahan dalam keabsahan data. Dengan adanya perpanjangan waktu, memungkinkan klien bisa masuk dan melebur dalam proses penelitan. Perlunya perpanjangan waktu juga untuk menciptakan trust(kepercayaan) antara peneliti dengan klien.
b. Melakukan cek ulang (re-checking)
Cara ini juga dapat meminimalisir kesalahan serta untuk memastikan apakah data yang didapat sudah valid atau belum. Cek ulang biasanya dilakukan pada pertengahan perjalananpenelitian.Apabila setelah berkali- berkali melakukan cek ulang kemudian mendapat data yang valid, maka point a (memperpanjangwaktu) bisa diakhiri.26
c. Triangulasi
Yaitu teknik pengecekan keabsahan data yang didasarkan pada sesuatu di luar data untuk keperluan mengecek atau sebagai pembanding terhadap data yang telah ada.27 Triangulasi yang digunakan adalah yang bersumber dari data, seperti dokumen, hasil wawancara, hasil observasi dan lain sebagainya. Dimana dalam hal ini juga dibantu oleh tim observasi untuk mengumpulkan data-data yang ditemukan dilapangan.
7. Sistematika Pembahasan
Untuk mempermudah dalam memahami proposal ini, diperlukan suatu gambaran singkat terkait dengan isi dari penelitian tersebut bahwa dalam penelitian ini dirumuskan sistematika pembahasan, yang mana sistematika pembahasan ini
26 Alif Puji Ningrum, Bimbingan Konseling Islam dengan Teknik Muhasabah untuk menanamkan kedisiplinan pada seorang siswa yang sering terlambat di SMPN 13 Surabaya, (SKRIPSI, FDIK UIN Sunan Ampel Surabaya 2019), hlm. 18
27 Afifudin dan Beni Saebani, Metodologi Penelitian Kualitatif, ( Bandung: CV.Pustaka Setia, 2012), hlm. 155.
merupakan rangkaian pembahasan pada proposal ini yaitu dengan pola sebagai berikut :
1. BAB I Pendahuluan
Pada bab ini dipaparkan secara umum keseluruhan isi dan maksud dari penelitian ini, meliputi Judul Penelitian, Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian, RuangLingkup dan Setting Penelitian, Telaah Pustaka, Kerangka Teori, Metode Penelitian dan Sistematika Pembahasan. Dimana dalam bagian ini materi dan isinya merupakan pijakan awal atau kerangka dasar dari keseluruhan isi dan proses penelitian ini, sehingga dari bab ini bisa dilihat kemana arah penelitian ini akan dituju.
2. BAB IIPaparan Data dan Temuan
Pada bab II ini peneliti akan memaparkan seluruh data dan informasi yang diperoleh dari kegiatan penelitian yang dilakukan. Dimana data yang akan dipaparkan dibagian ini yaitu data atau informasi yang didapatkan di Lokasi Penelitian ini dilkukan, yaituPondok Pesantren Ittihadil Ummah.
3. BAB III : Pembahasan
Pada bab ini terdapat bagian yang berisi pembahasan terkait fokus penelitian atau analisis tentang rumusan masalah mengenai permasalahan yang terjadi di lapangan yakni analisis yang sesuai dengan judul yang di angkat peneliti yaitu Terapi Muhasabah untuk meningkatkan motivasi belajar santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah.
4. BAB IV : Penutup
Setelah melakukan analisis data, maka penulis akan mendapatkan hasil akhir berupa kesimpulan. Bab terakhir ini merupakan bagian penutup meliputi kesimpulan dan saran.
BAB II
PAPARAN DATA DAN TEMUAN
A. GAMBARAN UMUM PONDOK PESANTREN ITTIHADIL UMMAH
1. Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Ittihadil Ummah
Pendidikan merupakan usaha dasar dalam memanusiakan manusia.
Sebagaimana yang telah tercantum dalam undang-undang, yang dimana tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan itu berada pada keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Oleh karena itu, untuk mengambil peranan sebagai penyelenggara pendidikan tersebut, pada tahun 1995 masyarakat Lingkungan Karang Anyar Kelurahan Pagesangan Timur Kecamatan Mataram bersama-sama dengan pemuka agama dan tokoh masyarakat bersepakat untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang berlabel agama, yaitu MTs Ittihadil Ummah.
Berdirinya MTs Ittihadil Ummah diawali dengan berdirinya TKA-TPA Ittihadil Ummah sejak tahun 1992. Berkat kerjasama semua pihak, izin operasional MTs Ittihadil Ummah didapatkan ditahun yang sama yaitu 1995.
Pada awal operasionalnya MTs Ittihadil Ummah mendapatkan waqaf tanah pekarangan seluas 400m dari tokoh masyarakat yang disegani yaitu Almagfurullah H. Kamarudin, yang merupakan badan waqaf juga di SD IT Imam Syafi‟i.
“Proses pembangunan ini dibantu oleh remaja masjid seperti
M.Tanwir, Hauliawati, Azhar, Sri mahyuni, Saudatul Adawiyah, IdaFitriati,Husnul Jalilah, Wardatul Ain, Eni Wahyuni dan lain-lain.Selanjutnya atas inisiatif dari beberapa tokoh seperti : Drs. H. Wildan, Dra. Hj. Nurul Yakin, M.Pd, Drs. H. Ahmad Hari Witono, M.Pd., H. Burhanudin, SP., H. Zainull Islam, SH., Muslihin, S.Ag., Tohirin, Isnaini. Dan beberapa yang lainnya serta
mendapat dukungan dari tokoh-tokoh agama diantaranya : TGH.
Idhar Mahyudin, H. Syafiuddin, H. Syafi’I, TGH. Tanwir Idhar serta mendapat dukungan yang begitu besar dari kepala lingkungan Karang Anyar , H. Anwar,
Sehingga pada tanggal 10 juli 1995 dimulailah berdiri Madrasah Tsanawiyah “Ittihadil Ummah”, dan sebagai kepala madrasah pertama yang ditunjuk pada saat itu adalah H. Zainul Islam, SH.”28
Singkatnya pada tahun 2010 Yayasan Ittihadil Ummah membangun kembali lembaga pendidikan untuk tingkat Madrasah Aliyah, dimana MA Ittihadil Ummah di kepalai oleh Bapak Tohirin, M.Pd, yang kemudian pada tahun 2011 dilakukan pembangunan (peletakan batu pertama) pada malam Idul Adha, yang dilakukan oleh pengurus Yayasan Ittihadil Ummah antara lain
28 H. Wildan, Penasihat Yayasan Ponpes Ittihadil Ummah, Wawancara, 12 november 2021
TGH. Tanwir Idzhar, TGH. Zainul Islam, Drs. H. Wildan, TGH. Taufik Rahman, yang diamanahkan oleh Ayahanda pengurus Yayasan yaitu Almagfurullah TGH. Idzhar Muhyiddin, untuk pembangunan gedung sekolah Madrasah Aliyah yang sekaligus diniatkan untuk pembangunan Yayasan Pondok Pesanten Ittihadil Ummah, yang menanungi TKA-TPA, Madrasah Tsanawiyah, dan Madrasah Aliyah Ittihadil Ummah, dimana tanah tersebut merupakan waqaf dari beliau.
Setelah pembangunan awal 3 ruang kelas, pengurus Yayasan mulai menerapkan jadwal pengajian sore untuk siswa-siswi MTs dan MA Ittihadil Ummah. Kemudian ditahun 2014 setelah dibangun Musholla sederhana yang dari pagar kayu, ada 7 orang santriwan yang mengawali menjadi santri mukim (santri yang menetap di pondok), dimana 7 santriwan itu dibuatkan kamar sementara dibawah tangga bangunan ruang kelas untuk sekolah formalnya. Kemudian penasihat Yayasan yaitu TGH. Tanwir Idzhar dan istri beliau Dr. Hj. Nurul Yaqin M.Pd memberikan fasilitas sebuah kamar untuksantriwati, yang kemudian ditempati oleh 2 orang santriwati pertama, kemudian beberapa hari setelah itu disusul dengan 7 orang santriwati lainnya, dan untuk siswa MTs dan MA yang belum mukim dinamakan santri „kalong”
karena masih pulang pergi. Setelah beberapa bulan, bangunan asrama untuk santri sudah selesai, dan aturan wajib mondok diterapkan untuk santri MTs maupun MA Ittihadil Ummah.
“Jadi Pondok Pesantren Ittihadil Ummah mulai beroperasi sejak tahun 2014, setelah diterapkan aturan wajib mondok bagi semua santri baik MTs maupun MA. Tapi karena mengikuti data operasional Madrasah Aliyah itu pada tahun 2010, di Kemenag didaftarkan pada tahun 2010. Disaat
saya menerapkan aturan wajib mondok, tidak sedikit yang menentang keputusan tersebut, tapi saya bertekad harus memulainya dari hari ini, tentang sebuah keputusan memang kita tidak bisa menyenangkan semua orang, tetapi karena amanah dan karna saya ingin menerapkan kehidupan Pondok Pesantren di Lingkungan ini, saya harus berani memulainya”29
Kemudian Pondok Pesantren Ittihadil Ummah sudah beroperasi sebagaimana Pondok lainnya, namun ketika awal pembangunan dan penerapan sistem yang baru, tenaga pengajarnya masih sangat terbatas, sehingga Mudirul Ma‟had Pondok Pesantren Ittihadil Ummah yaitu TGH.
Taufik Rahman, MA beliau lebih banyak turun langsung baik untuk mengajar atau mengawasi santri. Kemudian ditahun yang sama, beliau memutuskan untuk membentuk Organisasi Santri Pesantren Ittihadil Ummah atau yang lebih dikenal dengan singkatan OSPI. Dimana organisasi yang anggotanya merupakan santri yang duduk dibangku Madrasah Aliyah itu diberikan amanah dan tanggung jawab untuk mengawasi, menjaga, dan memperhatikan
29 Taufik Rahman, MA wawancara Mudirul Ma‟had Pondok Pesantren Ittihadil Ummah 13 november 2021