Dari jumlah data yang diperoleh, sebanyak 73% siswa masih memiliki kemampuan pemecahan masalah yang relatif kurang. 4 Nuha, dkk, “Analisis Kemampuan Pemecahan Masalah Geometri dan Karakter Siswa”, Jurnal Matematika FMIPA UNES, Vol 5, No, 2 Desember 2014.
Rumusan Masalah
Terlihat jelas kemampuan metakognitif siswa dalam memecahkan masalah tiga dimensi masih rendah.12 Oleh karena itu siswa sangat membutuhkan kemampuan metakognitif untuk pemecahan masalah. prestasi belajar umumnya berkaitan dengan aspek pengetahuan, sedangkan hasil belajar meliputi aspek pembentukan karakter siswa. Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai analisis kemampuan metakognisi siswa dalam memecahkan masalah tiga dimensi.
Tujuan dan Manfaat 1) Tujuan Penelitian 1)Tujuan Penelitian
Ruang Lingkup dan Setting Penelitian
Telaah Pustaka
Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif, dimaksudkan untuk mendeskripsikan dan mengungkap kemungkinan aspek metakognitif kesadaran ketika data dikumpulkan melalui dokumen dan wawancara. Kesamaan dari penelitian ini adalah dengan penelitian secara metakognitif, namun subjek dalam penelitian yang digunakan adalah perbedaannya.
Kerangka Teori
Langkah-langkah penyelesaian yang dilakukan peserta didik secara runtut mengontrol atau memantau langkah-langkah penyelesaian informasi yang diketahui. Tugas utama evaluasi dalam hal ini adalah memberikan informasi yang berguna bagi klien untuk menentukan kebijakan yang akan diambil berdasarkan evaluasi yang dilakukan.
Metode Penelitian
Pendekatan dan jenis Penelitian
Prestasi belajar adalah hasil kegiatan belajar yang dicapai siswa berupa pengetahuan, sikap, keterampilan, dan kemampuan yang biasanya dinyatakan dalam bentuk angka atau huruf dan tanda penghargaan bagi siswa yang dianggap berhasil. Tercapainya prestasi belajar siswa yang optimal merupakan harapan setiap sekolah. Prestasi adalah perubahan tingkah laku yang diharapkan dari siswa setelah proses belajar mengajar selesai, sedangkan belajar pada hakekatnya adalah proses perkembangan manusia untuk mencapai kedewasaan. 28 Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai dalam usaha belajar, dan belajar itu sendiri adalah usaha menciptakan situasi dalam proses perkembangan dalam mencapai tujuan. Penelitian deskriptif adalah metode penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan fenomena yang ada, baik yang ada sekarang maupun yang lampau.
Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena yang ada yang sedang berlangsung saat ini maupun di masa lalu.32 Penelitian deskriptif memiliki langkah-langkah dalam pelaksanaannya. Paradigma ini didefinisikan sebagai sekumpulan asumsi lepas yang secara logis diikuti bersama dengan konsep atau proporsi yang mengarah pada cara berpikir atau cara penelitian33 dalam hal ini peneliti menggunakan paradigma pengetahuan metakognitif untuk menjawab masalah penelitian dengan jelas Bagaimana kemampuan memecahkannya. Soal geometri Euclidean berbasis metakognitif berbasis metakognitif kinerja belajar siswa dalam menyelesaikan materi tiga dimensi.
Kehadiran Penelitian
Dalam pengumpulan data lapangan, peneliti mengikuti kegiatan penelitian dibantu oleh guru dan siswa khususnya siswa Rahmatullah Al-Hasan NW Kekait untuk mengumpulkan data sebanyak-banyaknya.
Lokasi penelitian
Pemilihan mata pelajaran tersebut berdasarkan informasi yang diberikan oleh guru mata pelajaran matematika MA Rahmatullah Al-Hasan NW Kekait.
Sumber Data
Teknik Pengumpulan Data
Dokumen dan arsip tertulis merupakan sumber data yang seringkali memegang peranan penting dalam penelitian kualitatif, apalagi tujuan penelitiannya adalah latar belakang atau berbagai peristiwa yang terjadi di masa lampau dan berkaitan erat dengan situasi atau peristiwa yang sedang diteliti saat ini. . Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode Think Aloud yaitu siswa diminta untuk mengungkapkan ide-ide yang mereka pikirkan sambil menyelesaikan soal tiga dimensi, data yang diperoleh berupa kata-kata tertulis dan lisan. Untuk mengumpulkan informasi dari sumber data tersebut, penelitian kualitatif memerlukan teknik wawancara, khususnya dalam bentuk yang disebut wawancara mendalam.
Teknik wawancara ini paling banyak digunakan dalam penelitian kualitatif, khususnya penelitian lapangan, tujuan wawancara adalah untuk dapat menyajikan konstruksi kekinian dalam konteks mengenai orang, peristiwa, aktivitas, organisasi, perasaan, motivasi, reaksi atau persepsi, tingkatan. dan bentuk keterlibatan untuk berkontribusi dalam banyak hal. Proses wawancara dalam penelitian kualitatif umumnya berlangsung secara terstruktur, karena peneliti tidak mengetahui secara pasti apa yang sebenarnya ingin dituju.
Instrument Pengumpulan Data
Wawancara adalah proses memperoleh informasi untuk kepentingan penelitian melalui tanya jawab sedangkan penanya atau pewawancara dan penjawab atau responden dilakukan secara tatap muka dengan menggunakan alat yang disebut pedoman wawancara. Adapun teknik pengumpulan data melalui wawancara, peneliti menggunakan wawancara semi terstruktur, dimana wawancara semi terstruktur artinya pertanyaan terbuka, namun ada batasan tema dan alur percakapan, kecepatan wawancara dapat diprediksi, fleksibel namun terkendali.
Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data dilakukan dan setelah pengumpulan data selesai dalam jangka waktu tertentu. Sugiyono (dalam Miles dan Huberman, 2018) menyatakan bahwa kegiatan dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berkesinambungan hingga selesai, sehingga data menjadi jenuh.39 Kegiatan dalam analisis data berturut-turut. Reduksi data berarti meringkas, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema dan pola, dan membuang yang tidak perlu.
Data yang telah direduksi dengan demikian akan memberikan gambaran yang jelas dan memudahkan peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya dan menganalisis data. Hasil wawancara disederhanakan menjadi susunan diskusi yang baik kemudian dijadikan catatan dan diintegrasikan dengan hasil tes.
Pengecekan Keabsahan Data
Pembahasan dalam penelitian ini adalah mereduksi hasil analisis terhadap temuan data yang terkumpul dalam proses penelitian. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 6 sampai dengan 14 Maret 2020 pada hari Jumat, Sabtu dan Selasa di MA Rahmatullah Al-Hasan NW Kekait tahun pelajaran 2019/2020, yang diikuti oleh 15 siswa yang terdiri dari 9 anak perempuan dan 6 anak laki-laki. Dari hasil tes kemampuan metakognitif diketahui bahwa rata-rata siswa kelas X hanya mampu mengerjakan soal nomor 1 dan 2, bahkan 80% siswa tersebut mampu menggunakan keterampilan metakognitifnya ketika diberikan soal tentang keterampilan metakognitif.
Berikut pemaparan keterampilan metakognitif siswa kelas X setelah dilakukan analisis terhadap hasil respon saat diberikan tes keterampilan metakognitif sebagaimana dapat dilihat pada tabel 1.2 berikut ini. Dari hasil analisis respon tes keterampilan metakognitif siswa yang telah disajikan, terdapat 3 keterampilan metakognitif yang dapat dipenuhi oleh siswa kelas X yaitu perencanaan, pemantauan dan evaluasi.
Paparan Data dan Hasil Penelitian 1. Subjek atas nama IR
Dari hasil kesimpulan wawancara yang dilakukan dengan IR, pada pertanyaan 1-3 IR sudah dapat menyebutkan apa yang diketahui dan ditanyakan dari pertanyaan tersebut, sehingga IR dapat menjawab pertanyaan nomor 1 dan 2. Untuk nomor 3, The IR belum bisa menjawabnya, oleh karena itu IR sudah mampu menggunakan keterampilan metakognisi pada tahap monitoring/pemantauan. MA juga sudah dapat menggunakan strategi untuk menjawab soal nomor 1 dan 2, sehingga MA sudah dapat menggunakan keterampilan metakognitifnya pada tahap pemantauan atau monitoring.
Sehingga MA mampu menggunakan keterampilan metakognitifnya untuk menyelesaikan soal-soal dan terbantu dengan hasil wawancara sehingga MA mampu menjawab soal berdasarkan tingkat metakognisinya. Dikatakan bahwa SY mampu menggunakan keterampilan metakognitif dalam menyelesaikan soal nomor 1, 2 dan 3 level.
PEMBAHASAN PEMBAHASAN
Analisis kemampuan metakognisi siswa yang berinisial IR
Karena mahasiswa HI dalam hal ini mampu memenuhi indikator pada tahap monitoring menurut penelitian Maulana, “bahwa proses melakukan monitoring atau pemantauan dan refleksi pemikiran dalam melakukan kegiatan, seperti bagaimana dan kapan menggunakan prosedur untuk menyelesaikan masalah 44. Siswa dapat mencari panjang AO dan BO, sehingga mengetahui cara mencari informasi yang diperoleh. Selain itu, siswa memiliki pengalaman dalam menyelesaikan masalah, meskipun siswa HI mampu melanjutkan proses penyelesaian siswa IR, masih melakukan kesalahan , mungkin siswa melakukan kesalahan dalam perhitungan, sehingga jawaban IR agak salah, siswa tidak dapat melakukan perhitungan dengan benar.
Analisis kemampuan metakognisi siswa yang berinisia MA
Salah satu indikator pada tahap ini adalah ketepatan siswa dalam menuliskan hasil akhir pada kesimpulan dan dalam mengecek kembali jawaban yang dibuat oleh siswa. Pada soal nomor tiga MA tidak lulus tahap penilaian, hal ini dikarenakan siswa tidak mengecek kembali langkah-langkah penyelesaian karena siswa hanya menjawab soal nomor tiga saja yang diketahui dan ditanyakan dari soal, siswa tidak menyelesaikan soal nomor tiga. utuh. Namun, dilihat dari jawaban nomor satu dan dua, siswa mampu menuliskan kesimpulan dari jawaban tersebut.
Dari beberapa pembahasan di atas terlihat bahwa subjek bernama MA sudah dapat menggunakan kemampuan metakognitifnya pada tahap perencanaan dan monitoring, artinya subjek sudah dapat menggunakan pengetahuan metakognitifnya sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Anyta Kusmaningtias. penelitian bahwa kemampuan metakognitif siswa dapat diperkuat melalui strategi pembelajaran di sekolah. Kemampuan memantau atau memantau hasil belajar dengan menggunakan strategi tertentu untuk kemampuan metakognitifnya juga menuntut siswa untuk aktif mengolah data atau informasi yang diberikan oleh guru selama proses kegiatan belajar mengajar yang bermakna.
Analisisa kemampuan metakognisis siswa yang bernama SY
Siswa juga menjelaskan kesimpulan tugas dengan benar, hanya saja jawaban nomor satu dan tiga masih salah karena siswa kurang teliti dalam perhitungannya. Oleh karena itu, siswa berinisial SY telah mampu menyelesaikan soal-soal untuk menemukan pengetahuan metakognitifnya dalam penelitian Putu Sabda Jayendra tentang berpikir tingkat tinggi, yang melibatkan kontrol aktif selama proses kognitif atau selama pembelajaran, sehingga SY dapat menyelesaikan masalah tersebut47.
Kesimpulan
Saran
IR1: Saya membaca soal kemudian saya mengetahui informasi yang diketahui dari soal sehingga saya dapat memahami apa yang diketahui dari soal. IR1: Saya membaca soal-soalnya dan kemudian saya mengetahui apa yang ditanyakan dalam soal-soal tersebut sehingga saya dapat memahami apa yang ditanyakan dalam soal-soal tersebut. MA1 : untuk soal nomor 1 yang diketahui dari soal adalah sudut pandang A 50° dan sudut pandang B 45°, untuk soal nomor 2 P1 : diketahui dari mana informasi soal yang diketahui.
MA1: Yang dibutuhkan soal no. 1 adalah jarak antara dua mobil ketika mereka berhenti di setiap ujung lintasan? MA1: Saya membaca soal-soal dengan baik kemudian saya tahu apa yang diketahui dan apa yang dikerjakan soal-soal itu. SY1: Dari soal-soal itu saya tahu apa yang diketahui dari soal-soal itu P1: Apa yang dikerjakan dari soal-soal itu.
SY1 : Yang ditanyakan dari soal no 1 adalah jarak antara kedua mobil tersebut pada saat berhenti di masing-masing sisi arah?