• Tidak ada hasil yang ditemukan

Terjemah, Tafsir, dan Ta’wil Al-Qur’an

N/A
N/A
suriana

Academic year: 2025

Membagikan "Terjemah, Tafsir, dan Ta’wil Al-Qur’an"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

TERJEMAH, TAFSIR, DAN TA’WIL AL-QUR’AN

Disusun guna untuk memenuhi mata kuliah Ulumul Qur’an Dosen Pengampu: Suherman, M.Hum

Disusun oleh kelompok 13

Khairunnisa Kamaruddin 2242115012 Muna Khairunnisa Rudy 2242115047

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN, ADAB, DAN DAKWAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN AJI MUHAMMAD IDRIS SAMARINDA

2022

(2)

i

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT. Karena dengan kehendak-Nya kami dapat menyusun makalah ini dengan lancar dan tanpa hambatan. Sholawat dan Salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Karena berkat beliaulah kami dapat menyusun makalah mata kuliah Ilmu Dakwah yang berjudul “Definisi Terjemah, Tafsir, dan Ta’wil Al-Qur’an”.

Dalam penyelesaian makalah ini, penulis mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak. Terutama, Bapak Suherman, M.Hum, selaku dosen pengampuh mata kuliah Ulumul Qur’an. Dan terima kasih juga kami ucapkan kepada teman-teman yang telah memberikan kami ide-ide dalam penyusunan makalah ini.

Kami menyadari bahwa penulisan dalam makalah ini masih banyak kekurangan dan mungkin jauh dari kata sempurna. karena tidak ada manusia yang sempurna, dan kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Oleh karena itu kami mengha rapkan kritik dan masukan dari teman-teman yang membaca makalah ini.

Terima kasih atas perhatiannya, semoga makalah ini dapat berguna bagi kita semua khusunya kami tim penyusun makalah.

Wassalamu’alaikum wr.wb

Samarinda, 30 November 2022

Kelompok 13

(3)

ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 2

C. Tujuan Penelitian ... 2

BAB II ... 3

PEMBAHASAN ... 3

A. Definisi Terjemah, Tafsir dan Ta’wil Al-Qur’an... 3

B. Macam- Macam Tafsir... 4

C. Macam-Macam Metode dan Corak Tafsir ... 6

D. Syarat-Syarat Mufassir ... 12

E. Perkembangan Tafsir sejak Masa Klasik dan Kontemporer ... 15

BAB III ... 22

PENUTUP ... 22

A. Kesimpulan ... 22

B. Saran ... 23

DAFTAR PUSTAKA ... 24

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur’an merupakan petuujuk bagi seluruh umat manusia. Disamping itu, didalam ayat dan surah yang sama, diinformasikan juga bahwa Al-Qur’an sekaligus menjadi penjelasan dari petunjuk tersebut sehingga kemudian mampu menjadi pembeda antara yang haq dan yang bathil. Di sinilah manusia mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an. Manusia akaan mengerjakan yang baik dan akan meinggalkan yang buruk atas dasar pertimbangannya terhadap petunjuk Al-Qur’an tersebut.

Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT. Yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Melalui perantara Malaikat Jibril as. Dalam fungsinya sebagai petunjuk, Al-Qur’an dijaga keasliaannya oleh Allah SWT. Salah satu hikmah dari penjagaan keaslian dan kesucian Al-Qua’an tersebut adalah agar manusia mampu menjalani kehidupan di dunia ini dengan benar menurut sang pencipta sehingga kemudia selamat, baiK di dunia maupun akhirat. Bagaimana mungkin manusia bisa menjelajahi sebuah hutan belantara dengan selamat tanpa tersesat apabila peta yang diberikan tidak digunakan, didustakan, ataupun menggunakan peta yang jelas-jelas salah atau berasal dari pihak yang tidak dapat dipercaya. Oleh karena itu, keaslian dan kebenaran Al-Qur’an terdeterminasi dengan pertimbangan diatas agar manusia tidak tersesat dalam mengarugi kehidupannya ini dan selamat dunia-akhirat.

Ilmu tafsir merupakan ilmu yang sangat penting dalam hal pengkajian ilmu-ilmu al-Qur’an, karena bidang keilmuan ini berisi tentang bagamana seseorang memaknai apa yang menjadi kandungan isi dalam al-Qur’an. Ilmu tafsir itu sendiri dikenal sejak zaman nabi Muhammad saw ketika masa turunnya al-Qur’an, seiring dengan berkembangnya zaman ilmu tafsir ini memiliki beragam pendekatan, corak, metodologi, serta pemikiran-pemikirannya yang selalu berkembang pada setiap masanya dan juga karena perkembangan itulah telah banyak lahir ulama-ulama pada tiap-tiap masanya, hal ini menunjukan

(5)

2

bahwa al-Qur’an tidak hanya berlaku pada generasi tertentu, sehingga untuk mewujudkan sifat al-Qur’an yang “shahih fi kulli maka wa shahih fi kulli zaman” butuh upaya pengkajian sejarah secara berulang-ulang dan teliti untuk memahami pemahaman mufassir terhadap al-Qur’an. Dan juga membuat ilmu tafsir ini memiliki daya tarik tersendiri untuk selalu dikaji lewat perkembangan ilmu tafsir dari masa ke masa mulai dari masa Nabi Muhammad Saw, sahabat, tabi’in dan sampai pada masa sekarang. 1

B. Rumusan masalah

1. Bagaimana definisi Terjemah, Tafsir, dan Ta’wil Al-Qur’an?

2. Apasaja macam-macam Tafsir?

3. Bagaimana metode dan corak Tafsir?

4. Apasaja syarat yang harus dimiliki oleh seorang Mufassir?

5. Bagaimana sejarah singkat perkembangan tafsir sejak masa klasik dan kontemporer?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui definisi Terjemah, Tafsir, dan Ta’wil Al-Qur’an.

2. Mengetahui macam-macam Ilmu Tafsir.

3. Untuk mengetahui bagaimana metode dan Corak Tafsir.

4. Mengetahui syarat-syarat yang harus dimiliki seorang mufassir.

5. Untuk mengetahui sejarah singkat perekambanga tafsir sejak masa klasik dan kontemporer.

1 Muhammad Sakti Gunawan,“Sejarah Perkembangan Tafsir pada masa Klasik dan Kontemporer”, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

(6)

3

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Terjemah, Tafsir, dan Ta’wil Al-Qur’an 1. Terjemah

Terjemah berasal dari bahasa Arab, Tarjamah atau Turjumah, yang berarti menyampaikan perkataan kepada orang yang belum mengetahuinya, menjelaskan perkataan dengan bahasa aslinya, menjelaskan perkataan dengan bahasa lain, mengalihkan bahasa satu kepada bahasa lain. Tetapi kebiasaan terjemah biasa dipahami dengan makna yang keempat yakni mengalihkan bahasa satu ke bahasa yang lain. Dengan demikian, terjemah secara terminologi dapat didefiniskan dengan, mengungkapkan makna sebuah perkataan dari bahasa asak ke bahasa lain dengan tetap memperhatikan semua makna dan maksud yang terkandung dalam bahasa asalnya.

Pada dasarnya terjemah memiliki dua bentuk yang berbeda, terjemah harfiyah dan terjemah tafsiriyah (ma’nawiyah). Terjemah harfiyah adalah mengubah pembicaraan atau perkataan atau kalimat dari satu bahasa ke bahasa lain secara leterlek, dengan tetap memperhatikan struktur bahasa asalnya. Sedangkan terjemah tafsiriyah adalah menerjemahkan pembicaraan atau perkataan atau kalimat dari satu bahasa ke bahasa lain tidak secara leterlek, tanpa terikat dengan struktur bahasa asal.

2. Tafsir

Tafsir menurut bahasa berarti menjelaskan dan menyingkap makna. Jadi tafsir adalah menyingkap makna yang tersembunyi, menyingkap maksud dari lafadh yang sulit. Definisi tafsir banyak dikemukan oleh para ulama dengan ungkapan yang beragam, namun pada intinya saling melengkapi.

Az-Zarkasyi mendefinisikan tafsir sebagai berikut: Tafsir adalah ilmu tentang turunnya Al-Qur’an, surat-suratnya, kisah-kisahnya, isyarat-isyarat yang turun bersamanya, makkiyah dan madaniyahnya, muhkam dan

(7)

4

mutasyabihatnya, naiskh dan mansukhnya, am dan khasnya, mutlaq dan muqayyadnya serta mujmal dan mufashalnya, dan lain-lainnya.

3. Ta’wil

Ta’wil menurut bahasa adalah kembali kepada asal atau menjelaskan suatu perkataan. Secara istilah, mutaakhirin mendefinisikan ta’wil dengan memalingkan lafadh dari makna yang tersurat kepada makna yang tersirat karena ada dalil yang mengkehendakinya.

Sementara ulama salaf mendefinisikan ta’wil dengan menjelaskan makna asal suatu ayat atau kalimat yang ada dalam Al-Qur’an, sesuai dengan kaidah dasar dan berdasarkan penelitian yang mendalam. Sebagian yang lain mendefinisikan ta’wil sama dengan tafsir. Lainnya membedakan antara tafsir dengan ta’wil, tafsir berarti menjelaskan lafadh dengan riwayah adalah menjelaskan lafadh dengan dirayah, tafsir adalah menjelaskan makna-makna dengan ibarah sementara ta’wil menjelaskannya dengan isyarah.2

B. Macam-Macam Tafsir

Para ulama membagi tafsir menjadi 3 macam yaitu:

1. Tafsir bi al-Ma’tsur

Al-ma’tsur berarti sesuatu yang diriwayatkan. Secara istilah tafsir bi al- Ma’tsur adalah penafsiraan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an, penafsiran Al- Qur’an dengan nabi saw, penafsiran Al-Qur’an dengan perkataan sahabat, penafsiran Al-Qur’an dengan tabi’in.

Tafsir Thabarin misalnya sekalipun didalamnya dia berjihad dengan menggunakan bahasa syair arab, qira’at, ilmu nahwu, fiqh, namun dia selalu memihak pada pendapat ulama salaf dan kembali pada nash Al- Qur’an, maka tafsirnya masih dikategorikan sebagai tafsir bi al-ma’tsur.

2. Tafsir bi ar-Ra’yi

2 DR, H. Anshori, LAL. M.A. “Kaidah-kaidah memahami Firman Tuhan”, cet. 3, PT. RAJAGRAFINDO PERSADA, Jakarta, 2016, hal 167-173.

(8)

5

Secara bahasa ar-ra’yu berarti al-i’tiqadu (keyakinan),al-aqlu (akal) dan al-tadbiru (perenungan). Ahli fikih yang sering berijtihad, biasa disebut sebagai ashab ar-ra’yi. Karena itu tafsir bi ar-ra’yi disebut juga sebagai tafsir bi al-‘aqly dan bi al-ijtihady, tafsir atas dasar nalar dan ijtihad.

Menurut istilah, tafsir bi ar-ra’yi adalah upaya untuk memahami nash Al- Qur’an atas dasar ijtihad seorang ahli tafsir (mufassir) yang memahami betul bahasa arab dari segala sisinya, mengerti betulu lafazh-lafazhnya dan dalalahnya, mengerti sya’ir-sya’ir Arab sebagai dasar pemaknaan, mengetahui betul assbab nuzul, mengerti nasikh dan mansukh didalam Al-Qur’an, dan menguasai juga ilmu-ilmu lain yang dibutuhkan seorang mufassir.

Yang dimaksud dengan ijtihad dalam menafsirkan Al-Qur’an tidaklah sama dengan dalam menafsirkan Al-Qur’an, tidaklah sama dengan pengertian ijtihad dalam disiplin ushul fiqh. Dalam ushul fiqh ijtihad berarti kesungguhan seorang ahli fikih (faqih) atau seorang mujtahid untuk mengetahui hukum syara’ berdasarkan dalil-dalilnya yang terinci dalam rangka penetapan hukum (istimbath al hukm). Sedangkan dalam konteks ilmu tafsir, khususnya tafsir bi ar-ra’yi, ijtihad yang dimaksud adalah kesungguhan seorang mufassir untuk memahami makna nash Al- Qur’an, baik berupa hukum-hukum syariat, hikmah-hikmah, nasihat- nasihat, contoh contoh teladan, dan lain sebagainya.

3. Tafsir bi al-Isyarah

Tafsir bi al-isyarah adalah menjelaskan ayat-ayat Al-Qu’an dengan isyarat-isyarat yang batin yang terpancar dari para sufi, pengikut tarekat atau orang yang bersih hatinya.

Para ulama berbeda pendapat mengenai boleh tidaknya menggunakan tafsir ini. Sebagian membolehkan dan sebagian lainnya, mengharamkan.

Kelompok yang membolehkan memberikan isyarat:

a. Makna batinnya tidak bertentangan dengan makna zhahir Al-Qur’an.

(9)

6

b. Penafsirannya tidak mengklaim bahwa hanya penafsiran batinnya yang paling benar, seraya mengabaikan makna zharirnya.

c. Penafsirannya ticdak jauh melenceng dari makna dasarnya.

d. Hasil penafsirannya tidak bertentengan dengan hukum syar’I maupun akal.

Sementara kelompok yang mengharamkn tafsir isyari menganggap bahwa tafsir ini hanya berdasarkan asumsi-asumsi yang sangat subjektif sehingga hasil penafsirannya jauh dari kebenaran dan pada tituk tertentu berakibat pada subjektivitas atau bahkan relativitas makna Al-Qur’an.

Karena itu, Az-Zarkasyi misalnya mengatakan bahwa pendapat para sufi terkait dengan ayat-ayat Al-Qur’an bukanlah tafsir atasnya, tapi ia adalah makna, rasa dan kesan yang mereka peroleh ketika membaca dan berinteraksi secara intens dengan Al-Qur’an. 3

C. Macam-Macam Metode dan Corak Tafsir 1) Macam-Macam Metode Tafsir

Para mufassir dalam menafsirkan Al-Qur’an, biasanya menggunakan salah satu atau lebih metode penafsiran sebagai berikut:

1. Metode Ijmali

Metode Ijmali yaitu metode yang menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an secara global atau general (garis besar), berdasarkan urutan bacaan dan susunan Al-Qu’ran. Dengan metode ini, mufassir membahas ayat demi ayat sesuai dengan susunan yang ada di dalam Al-Qur’an, kemudian mengemukakan makna global yang dikandung oleh ayat tersebut, sehingga dapat dipahami. Dengan cara ini makna setiap ayat saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Kelebihan metode ini ialah dapat dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat dan penjelasannya ringkas. Sedangkan kekuranganya ialah uraian yang bersifat global saja, sehingga maksud ayat

3 DR, H. Anshori, LAL. M.A. “Kaidah-kaidah memahami Firman Tuhan”, cet. 3, PT. RAJAGRAFINDO PERSADA, Jakarta, 2016, hal 173-176.

(10)

7

secara luas tidak bisa terungkap dengan tuntas, sesuai dengan perkembangan zaman.

2. Metode Tahlili

Metode tahlil yaitu metode tafsir yang menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Qur’an dari seluruh aspeknya berdasarkan urutan ayat dalam Al-Qur’an, mulai dari mengemukakan arti kosa kata, munasabah (persesuaian) antar ayat, antar surah, asbab al-nuzul, dan lainnya.

Adapun kelebihan metode ini adalah:

a. Banyak digunakan oleh para mufassir, terutama pada zaman klasik dan pertengahan, sekalipun ragam dan coraknya bermacam-macam.

b. Penafsiran pada suatu ayat dapat dilakukan seluas mungkin, dengan tinjauan dari berbagai aspek, sehingga memiliki makna cakupan yang luas.

c. Penafsiran terhadap suatu ayat dapat dilakukan secara tuntas, baik dari sudut bahasa, sabab nuzulnya, munasabahnya, maupun kandungan isinya.

d. Pada saat melakukan penafsiran mufassir dapat memfokuskan perhatian pada ayat itu saja, tanpa harus mencari atau menghubungkannya dengan ayat-ayat lain yang membicarakan masalah yang sama, dengan demikian fokus perhatian menjadi terarah.

e. Metode ini dapat memberikan kontribusi terhadap metode-metode tafsir lain sebagai pijakan dalam menghimpun ayat-ayat yang mengacu pada suatu topik khususnya metode maudhu’i.

Sementara kekurangan metode tahlili adalah:

a. Metode ini tidak dapat menyelesaikan secara tuntas suatu pokok bahasan.

(11)

8

b. Terkesan agak mengulang-ulang sehingga menghambat perkembangan pemikiran Islam serta menghabiskan waktu yang sangat lama.

c. Para mufassir yang menggunakan metode ini umumnya pasif, karena Al-Qur’an hanya ditonjolkan arti harfiahnya.

d. Metode ini sering digunakan oleh mufassir sebagai alat untuk melegitimasi pendapat-pendapatnya sendiri dengan ayat-ayat Al- Qur’an.

e. Metode ini tidak mempu memberi memberikan jawaban yang tuntas dan menyeluruh terhadap berbagai masalah yang dihadapi umat dan tidak benyak memberi rambu-rambu yang dapat mengurangi subjektivitas mufassirnya.

f. Pembahasan yang dilakukan melalui metode ini terasa seakan-akan mengikat generasi berikutnya Karena penafsirannya bersifat sangat umum.

g. Metode ini biasanya menghasilkan pandangan-pandangan parsialserta kontradiktif dalam kehidupan umat Islam. Ini sebagaimana diungkapkan oleh Muhammad Quraish Shihab dan Muhammad Bagir al-Shadr. Menurut Quraish Shihab, metode tahlili ini seperti halnya orang prasmanan, bisa lebih santai dan memuaskan penafsirnya, tetapi memang memakan waktu yang lama.

3. Metode Maudhu’i

Tafsir maudhu’i memiliki definisi yang beragam. Metode maudhu’i memiliki dua model. Ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Muhammad Quraish Shihab, berikut ini:

a. Metode maudhu’i adalah penafsiran menyangkut satu surah dalam A- Qur’an dengan menjelaskan tujuan-tujuannya secara umum dan khusus serta hubungan persoalan-persoalan yang beraneka ragam dalam surah tersebut antara satu dengan yang lainnya. Dengan

(12)

9

demikian, semua persoalan tersebut kait-mengkait bagaikan satu persoalan, sebagaimana metode yang ditempuh oleh Muhammad Syaltut dalam kitab tafsirnya.

b. Metode maudhu’i adalah menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas masalah tertentu dari berbagai surah Al-Qur’an kemudian menjelaskan pengertian secara menyeluruh ayat-ayat tersebut sebagai jawaban terhadap masalah yang terjadi pokok pembahasannya (atau dapat disebut pembahasan satu topik).

Adapun kelebihan metode maudhu’i adalah:

a. Dapat memecahkan problem sosial dengan bimbingan Al-Qur’an.

b. Menafsirkan ayat dengan ayat atau dengan hadis Nabi ﷺ., merupakan salah satu cara terbaik dalam menafsirkan Al-Qur’an.

c. Kesimpulan yang dihasilkan mudah dipahami.

d. Memungkinkan seseorang untuk menolak anggapan adanya ayat-ayat yang bertentangan dalam Al-Qur’an, ia sekaligus dapat dijadikan bukti, bahwa ayat-ayat Al-Qur’an sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan masyarakat. Dari pengumpulan ayat yang berkaitan dengan topik tertentu dapat diperoleh manfaat antara lain; pandangan yang utuh sebagaimana yang dikehendaki Al-Qur’an tentang topik yang dimaksud, ayat-ayat yang kelihatan bertentangan dapat dipertemukan dan dikompromikan dalam satu pemahaman.

Sementara kelamahan metode ini antara lain, tidak begitu mudah bagi mufassir untuk menerapkannya. Karena metode ini menuntut mufassir untuk memahami ayat demi ayat yang berkaitan dengan topik yang dituju. Dengan demikian, ia harus menguasai korelasi, pemahaman dan penguasaan kosa kata yangcukup.

4. Metode Muqaran (komparasi)

Metode muqaran yaitu membandingkan ayat ayat Al-Qur’an yang memiliki persamaan atau kemiripan redaksi yang berbicara tentang masalah

(13)

10

atau kasus yang berbeda, dan yang memiliki redaksi yang berbeda bagi masalah atau kasus yang sama atau diduga sama. Yang termasuk dalam objek bahasan ini adalah membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan hadis-hadis Nabi ﷺ.yang tampaknya bertentangan, serta membandingkan pendapat-pendapat ulama tafsir menyangkut penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an. Kelebihan metode ini adalah, menafsirkan dengan metode muqaran dapat mengetahui perkembangan corak penafsiran para ulama salaf, sampai masa kini, sehingga menambah wawasan pengetahuan dan pengalaman bahwa Al-Qur’an dapat ditinjau dari berbagai aspek sesuai dengan latar belakang dan pendidikan mufassir.

Kekurangan dari metode ini adalah karena sifatnya yang hanya membandingkan maka pembahasan ayat kurang mendalam.

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan, oleh karena itu seorang mufassir harus menguasai macam-macam metode tafsir, kemudian dapat menerapkannya sesuai kebutuhan.

Said Agil al-Munawar mengutip pendapat M.Quraish Shihab, bahwa tidak ada metode tafsir yang terbaik sebab masing-masing mempunyai karakteristik sendiri-sendiri, kelebihan dan kekurangan sangat tergantung kebutuhan dan kemampuan mufassir menerapkannya, jika kita ingin membangun topik utuh, maka jawabannya ada pada metode tafsir madhu’i. jika kita ingin menerapkan kandungan suatu ayat, maka jaawabannya ada pada metode tahlili. Jika kita ingin mengetahui pendapat mufassir tentang suatu ayat atau surah sejak periode awal sampai periode sekarang, maka metode yang dapat dipakai adalah metode muqaran, namun ketika ingin kita mengetahui arti suatu ayat secara global, maka jawabnnya ada pada metode ijmali.

2) Macam-Macam Corak Tafsir

Corak dapat diartikan sebagai kecenderungan atau spesifikasi keilmun seorang mufassir. Hal ini tentu dilatar belakangi oleh pendidikan, lingkungan, dan akidahnya (keyakinannya).

(14)

11

1. Corak lughawi, yaitu jika seorang mufassir menafsirkan Al-Qur’an dengan kecenderungan pendekatan dan analisis kebahasaan, cenderung untuk menganalisis asal kata, bentuk lafadz, asal usul lafadz, lalu menggabungkan mulai dari bahasa, nahwu, sharaf, qira’at, kemudian dalam menjelaskan ayat menggunakan bait-bait syair arab, dan dilandasi prinsip-prinsip perkembangan bahasa arab.

Mufassir yang bercorak lughawi sebelum melangkah lebih lanjut, dia menjelaskan makna bahasa, kemudian mengalisis dari berbagai segi bahasa seperti mufradatnya (kosa kata), metafornya, kata-kata sulitnya lalu dia memperhatikan perkembangan bahasa arab berdasarkan fase-fase sejarahnya.

2. Corak balaghi, yaitu jika seorang mufassir menafsirkan Al-Qur’an didasarkan pada segi balaghah, dimana mufassir menggambarkan keindahan perkataan dan keindahan uslub (susunan) Al-Qur’an, serta menjelaskan pengetahuan tentang keindahan Al-Qur’an.

3. corak falsafi, yaitu kecenderungan pebdekatan penafsiran Al-Qur’an dengan filsafat. Ini biasanya utuk menjangkau maksud-maksud yang esensial yang dikandung ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang fenomena alam dan penciptaanya.

4. Corak sufi, yaitu tafsir yang kecenderungan sufistiki. Ini adalah corak penafsiran diamana seorang sufi berpengang teguh pada rasa lubuk hati yang dalam yang dapat menjangkau kondisi hati yang sangat dalam, dengan latihan jiwa dan menyingkap batim dan hati tanoa berhubungan dengan dzaharir ayat. Metode atau pendekatandan kecenderungannya adalah menjelaskan atas dasar bahasa batin dan mengabaikan hal-hal yang dzaharir yang biasa diungkapkan oleh keyakinan yang umum.

5. Corak fiqhi, yaitu corak tafsir yang mufassirnya memperhatikan istimbath hukum syar’i terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum syar’i yang lima. Seorang mufassir yang ahli-ahli fiqh berusaha untuk menetapkan hukum-hukum yang berupa praktik pada umumnya masih bersifat global belum terinci dan tambahan penjelasan dari hadis untuk mencapai hukum-

(15)

12

hukum amaliah. Disamping ayat-ayat Al-Qur’an Mufassir juga harus menguasai kaidah-kaidah fiqh.

6. Corak Bayani, yaitu tafsir pembahasannya berkisar pada balaghatu Al- Qur’an dalam bentuk ilmu bayan seperti tasyibih, isti’arah, kinayah, tamtsil, waslah, dan fashal dan cabang-cabangnya seperti penggunaan makna denotasi (haqiqi) dan majazi (metaphor) dan semacamnya.

7. Corak Adabi, yaitu tafsir dengan kecenderungan dan pendekatan sastra seperti sharaf, nahwu dan juga balaghah. Yang kesemuanya itu merupakan alat untuk menjelaskan makna dan ketentuan makna.

8. Corak Tafsir Adab Ijtima’i, yaitu penafsiran yang bernuansa sosial kemasyarakatan.

9. Tafsir penggerakan (haraki) yaitu tafsir Al-Qur’an yang ditulis dan disusun oleh seorang tokoh pergerakan umat islam. Dalam hal ini seorang mufassir berusaha menjelaskan maksud Allah dalam AL-Qur’an, khususnya yang terkait dengan pergerakan perubahan sosial kearah yang lebih baik. Tafsir haraki ini tidak hanya bertujuan menafsirkan Al-Qur’an tetapi juga me gajak umat untuk memperbaiki keadaan sosial yang lebih baik.

10. Corak Al-Hida’i, yaitu tafsir yang menekan petunjuk (hidayah) Allah sebagai tujuan puncaknya. Tafsir corak ini menjelaskan ayat-ayat Al- Qur’an yang menampakkan hidayah Al-Qur’an didalamnya. 4

D. Syarat-Syarat Mufassir

Untuk mengindari penafsiran yang menyimpang, dan dalam rangka menjaga mufassir agar tidak melakukan kesalahan dalam menafsirkan Al-Qur’an, maka perlu rambu-rambu atau syarat-syarat bagi seseorang untuk bisa menafsirkan Al- Qur’an. Berikut ini, syarat-syarat bagi mufassir dakam menafsirkan Al-Qur’an:

1. Seorang mufassir harus mengetahui hadis Nabi baik dari sisi riwayah maupun dirayah. Hadis-hadis Nabi Saw. Merupakan dasar untuk menafisrkan ayat-ayat Al-Qur’an yang mujmal dan mubham didalam Al-

4 DR, H. Anshori, LAL. M.A. “Kaidah-kaidah memahami Firman Tuhan”, cet. 3, PT. RAJAGRAFINDO PERSADA, Jakarta, 2016, hal 207-222.

(16)

13

Qur’an. Dengan pengetahuan mengenai hadis-hadis Nabi tersebut, maka dapat membatu seorang mufassir dalam menjelaskan ayat-ayat Al-Qur’an khusunya yang mujmal dan mubham.

2. Seorang mufassir harus mengetahui bahasa Arab. Sebab melalui bahasa Arab seorang mufassir dapat menejlakan perbendaharaan lafazh dan dalil-dalilnya.

Seorang mufassir harus mendalami bahasa Arab, karena bila tidak, maka tidak dapat memahami Al-Qur’an dengan benar. Sebab, kadang-kadang lafadz Al-Qur’an mengandung musytarak (satu maka mengandung dua makna). Dalam hal ini, sesorang mufassir juga harus mengetahui dua makna yang terkanduan dalam satu lafazh Al-Qur’an, karena terkadang makna yang tersembunyi justru makna yang dikehendaki.

3. Seorang mufassir harus menguasai ilmu nahwu, karena makna akan berubah dan berebada disebabkan perbedaan I’rab.

4. Seorang mufassir harus mengusai ilmu sharaf, karena dengan sharaf akan dketahui bangunan dan timbal kata. Jika seorang lupa terhadap ilmu sharaf, maka sebagian besar dari ilmu dia lupa. Misalnya ditemukan kalimat yang mubham (tidak jelas maknannya), ketika dia mentashrifnya maka untuk mengetahui maknanya, kalimat tersebut dikembalikan keasal katanya.

5. Seorang mufassir harus mengetahui sumber pengetahuan pengambilan kata.

Karena satu kata apabila pengambilannya dari dua kata yang berbeda, maka akan berbeda maknanya seperti kata al-masih, apakah diambil dari kata as- siyahah atau dari makna al-mashu? Karena dua kata tersebut makananya berbeda.

6. Seorang mufassir harus mengetahui ilmu balaqhah, berikut tiga cabangnya (ilmu ma’ani, ilmu bayan, ilmu badi’). Dengan ilmu ma’ani dapat diketahui spesifikasi susunan suatu kata dari segi pemanfaatan makna, dengan ilmu bayan dapat diketahui spesifikasi susunan kata dari segi perbedaannya berdasarkan kejelasan dalalah dan ketersembunyiaannya, dengan ilmu badi’

dapat diketahui sisi-sisi keindahan katanya. Ketiga ilmu ini merupakan hal dasar yang harus dikuasai oleh seorang mufassir, sebagai syarat untuk menafsirkan Al-Qur’an. Dalam menafsirkan seorang mufassir harus

(17)

14

memperhatikan maksud yang dikehendaki dalam I’jaz Al-Qur’an, karena hal itu hanya dapat diketahui dengan ketiga ilmu tersebut.

7. Seorang mufassir harus mengetahui ilmu Qira’at, karena hanya dengan ilmu inilah seseorang dapat mengetahui cara mengucapkan ayat-ayat Al-Qur’an.

Dengan ilmu qira’at seorang mufassir dapat mengunggulkan satu qira’at atas qira’at yang lainnya, juga dapat mengetahui perbedaan pemaknaan dan penafsiran berdasarkan perbedaan qira’at yang ada.

8. Sseorang mufassir harus mengetahui ilmu ushuluddin seperti ilmu tauhid.

Dengan ilmu tauhid, seorang mufassir dapat mengetahui sifat-sifat yang wajib, ja’iz (boleh) dan yang mustahil bagi Allah, dan dapat melihat pada ayat-ayat yang berkaitan dengan kenabian, hari pembalasan dan lainnya.

Seandainya tidak demikian, maka seorang mufassir dikhawatirkan dapat dengan mudah terjatuh pada hal yang tidak terpuji.

9. Seorang mufassir harus mengetahui ilmu ushul fiqh, karena dengan menguasai ilmu tersebut dia mengetahui cara mengeluarkan hukum islam dari ayat-ayat Al-Qur’an dan dia dapat mengembil dalil dari ilmu tersebut, dia mengetahui al-ijmal dan tabyin, umum dan khusus, mutlaq dan muqayyad, dalalah al-nash, isyarah al-nash, dalalah al-amr dan nahi dan semacamnya yang semuanya mengacu kepada ilmu ushul fiqh.

10. Seorang mufassir harus mengetahui sebab-sebab turun ayat (Asbabun Nuzul), karena dengan mengetahui sebab-sebab turunnya ayat dapat membantu memahami maksud ayat menurut latar belakang turunnya.

11. Seorang mufassir harus mengetahui kisah-kisah didalam Al-Qur’an. Dengan pengetahuan atas kisah-kisah ini secara rinci, akan memperjelas baginya apa yang masih global dari cerita tersebut didalam Al-Qur’an.

12. Seorang mufassir harus mengethui nasikh dan mansukh, karena dengan ilmu tersebut dia dapat mengetahui ayat yang sudah di mansukh (dihapus) dalam Al-Qur’an dan yang belum. Siapa yang tidak mengetahui sisi ini, maka akan berfatwa dengan hukum yang telah dihapus, maka jatuhlah pada kesesatan dan menyesatkan.

(18)

15

13. Seorang mufassir harus mengamalkan apa yang dia ketahui. Ini akan melahirkan darinya ilmu mauhibah dan ilmu diwariskan oleh Allah Swt.

Kepada orang yang mengamlkan apa yang dia ketahuinya. 5

E. Sejarah Perkembangan Tafsir sejak masa Klasik dan Kontemporer 1. Perkembangan Tafsir Masa Klasik

a) Tafsir Pada Masa Nabi

Tafsir pertama kali ada mulai sejak ayat-ayat Al-Qur’an itu mulai diturunkan. Dalam praktiknya, ketika Rasulullah menerima wahyu berupa ayat Al-Qur’an, kemudia Rasulullah menyampaikan wahyu tersebut kepada sahabat dan menjelaskannya berdasarkan apa yang beliau terima dari Allah Swt.

Sebagaimana riwayat dari Siti Aisyah ra yang mengatakan bahwa Rasulullah tidak menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an kecuali beberapa ayat yang telah diajarkan oleh malaikat jibril as.

Menurut As-Suyuthi pada masanya, Nabi merupakan penafsir tunggal dari Al-Qur’an yang memiliki otoritas spiritual, intelektual, dan sosial. Akan tetapi keutuhan terhadap penafsirannya pada masa itu tidak sebesar pada masa- masa berikutnya.

Dalam penyampainnya, tidak semua ayat yang ada didalam Al-Qur’an dijelaskan oleh Nabi Saw. Beliau hanya menjelaskan ayat-ayat yang makna dan maksudnya tidak diketahui oleh para sahabat, karena memang hanya beliau yang dianugerahi Allah Swt tentang tafsir Al-Qur’an. Begitupun dengan ayat- ayat yang menerangkan tentang hal-hal gaib, yang idak ada seorangpun tahu kecuali Allah. Seperti terjadinya hari kiamat, dan hakikat ruh, semua itu tidak dijelaskan dan ditafsirkan oleh Rasulullah Saw.

Selain itu, dalam penafsiran Al-Qur’an Nabi juga sering menggunakan bahasa-bahasa yang tidak terlalu panjang lebar, beliau hanya, menjelaskan hal- hal yang masih samar dan global, merinci sesuatu yang masih umum, dan menjelaskan lafadz dan hal-hal yang berkaitan degannya.

5 DR, H. Anshori, LAL. M.A. “Kaidah-kaidah memahami Firman Tuhan”, cet. 3, PT. RAJAGRAFINDO PERSADA, Jakarta, 2016, hal 184-187.

(19)

16

Perkembangan Tafsir pada periode ini sering disebut dengan perkembangan klasik, yaitu pada zaman Nabi dan Sahabatnya. Pada periode ini termasuk dalam periode mutaqaddimin atau pada era awal pertumbuhan Islam.

Adapaun ciri-ciri utama penafsiran pada masa ini adalah:

1. Para penafsir adalah orang-orang yang menjadi saksi hidupnpada masa pewahyuan Rasulullah Saw.

2. Penafsiran umumnya disampaikan melalui lisan (oral tradition) kecuali pada masa akhir periode ini yang telah menggunakan catatan sederhana.

3. Selain riwayat, penafsiran disandarkan pada bahasa dan budaya Arab yang masih digunakan dan disajikan pada masanya.

Dalam menafsirkan al-Qur’an, Rasulullah Saw juga memiliki bentuk- bentuk tersendiri. Bentuk-bentuk penafsiran yang dilakukan oleh Rasulullah saw diantaranya adalah menafsirkan ayat al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an yang lain, hal ini sesuai dengan riwayat yang disampaikan oleh al-Bukhari, Muslim dan lainnya dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa tatkala turun satu ayat.

Penafsiran dilakukan dengan bentuk menafsirkan ayat al-Qur’an dengan ayat al-Qur’an merupakan cara yang tepat dan paling baik. Ibnu Taimiyah berkat bahwa, apabila seseorang bertanya tentang cara penafsiran yang baik, maka jawabannya adalah menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an itu sendiri.

Selain menggunakan ayat al-Qur’an yang lain untuk menafsirkan suatu ayat al-Qur’an, Rasulullah saw juga menggunakan hadis dalam menafsirkan suatu ayat. Bentuk dan karakteristik penafsiran yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. tersebut sekarang kita kenal dengan nama tafsir bi al-Ma’thur yang kehujjahannya tidak perlu dipertanyakan lagi.

b) Perkembangan Tafsir Pada Masa Sahabat

Tafsir pada masa ini mulai muncul setelah Rasulullah saw wafat.

Sebelumnya pada waktu Nabi saw masih hidup, tak ada seorangpun dari sahabat yang berani menafsirkan al-Qur’an, hal ini karena Nabi masih berada di tengah-

(20)

17

tengah mereka, sehingga ketika ditemukan suatu permasalahan, para sahabat cukup menayakannya kepada Nabi dan permasalahan tersebut akan selesai.

Abdullah ibn Abbas yang wafat pada tahun 68 H, adalah tokoh yang biasa dikenal senagai orang pertama dari sahabat nabi yang menafsirkan al-Qur’an setelah nabi Muhammad saw. Ia dikenal dengan julukan “Bahrul Ulum”

(Lautan Ilmu), Habrul Ummah (Ulama’ Umat), dan Turjamanul Qur’an (Penerjemah Al-Qur’an) sebagaimana telah diriwayatkan di atas, bahwa nabi pernah berdo’a kepada Allah agar Ibnu Abbas diberi ilmu pengetahuan tentang ta’wil al-Qur’an (lafadz-lafadz yang bersifat ta’wil dalam al-Qur’an).

Bentuk dan karakteristik tafsir Sahabat dalam menafsirkan al-Qur’an cenderung pada penekanan arti lafadz yang sesuai serta menambahkan qawl (perkataan atau pendapat) supaya ayat al-Qur’an mudah dipahami.

Sifat tafsir pada masa-masa pertama ialah sekedar menerangkan makna dari segi bahasa dengan keterangan-keteranagan ringkas dan belum lagi dilakukan istimbat hukum-hukum fiqih.

Seperti halnya Ibnu Abbas, dalam menafsirkan al-Qur’an ia mempergunakan Syawahidu as- Syair Arabi (Syair-syair kuno) guna untuk membuktikan kebenaran al-Qur’an. Selain itu pula ia juga bertanya kepada golongan ahli kitab yang telah masuk Islam, seperti Ka’ab al-Akhbar dan Abdullah ibn Salam. Menurut ibnu Abbas, “Apabila terdapat dalam al-Qur’an sesuatu yang sulit dimengerti maknanya, maka hendaklah kamu melakukan penelitian (melihat) pada syair-syair, karena syair-syair itu adalah sastra Arab kuno. Dan di dalam al-Qur’an telah ditetapkan adanya sebagian kalimat-kalimat mu’arabah (kata-kata asing yang diarabkan).

Dalam berpendapat tentang tafsir dari suatu ayat, para sahabat juga tidak menggunakan kehendak nafsunya sendiri atau dengan pemikiran tercela, melainkan menggunakan pemikiran yang terpuji.

(21)

18

Tafsir dengan pikiran yang tercela ialah apabila mufassir dalam memahami pengertian kalimat yang khas dan mengistimbaṭkan hukum hanya dengan menggunakan pikirannya saja dan tidak sesuai dengan ruh syari’at.

Sedangkan tafsir yang menggunakan pikiran yang terpuji ialah apabila mufassir dalam menafsirkan ayat tidak bertentangan dengan tafsir ma’thūr.

Selain itu penafsirannya harus berbentuk ijtihad muqayyad atau yang dikaitkan dengan satu kaitan berpikir mengenai kitab Allah menurut hidayah sunnah Rasul yang mulia.

Maka dari itu, ulama’ mensyaratkan agar mufassir mempunyai ilmu yang memadai tentang ilmu fiqih, ilmu al-Qur’an; ilmu Islam dan ilmu sosial.

Ditambah dengan sifat wara’ atau mawas diri dan takut kepada Allah serta mempunyai daya nalar akal yang tinggi.

Dalam menafsirkan ayat al-Qur’an, para shahabat juga memiliki metode dan materi tafsir tersendiri. Adapun metode dan materi tafsir menurut mereka adalah :

1. Menafsirkan al-Qur’an dengan al-Qur’an. Inilah yang paling baik.

2. Mengambil dari tafsir Nabi yang dihafal sahabat beliau.

3. Menafsirkan dari apa yang mereka sanggupi dari ayat-ayat yang bergantung pada kekuatan pemahaman mereka, keluasan daya mendapatkannya, kedalaman mereka mengenai bahasa al-Qur’an dan rahasianya, keadaan manusia pada waktu itu, dan adat istiadat mereka di tanah arab.

4. Mengambil masukan dari apa yang mereka dengar dari tokoh-tokoh Ahli Kitab yang telah masuk Islam dan baik Islam mereka.

c) Perkembangan Tafsir Pada Masa Tabi’in Dan Tabi’ Tabi’in

Periode pertama berakhir ditandai dengan berakhirnya generasi sahabat.

Lalu dimulailah periode kedua tafsir, yaitu periode tabi’in yang belajar langsung dari sahabat. Para tabi’in selalu mengikuti jejak gurunya yang masyhur dalam

(22)

19

penafsiran al-Qur’an, terutama mengenai ayat-ayat yang musykil pengertiannya bagi orang-orang awam.

Tabi’in mengajarkan pula kepada orang-orang yang sesudahnya yang disebut (tabi’it-tabi’in), tabi’it-tabi’in inilah yang mula-mula menyusun kitab- kitab tafsir secara sederhana yang mereka kumpulkan dari perkataan-perkataan sahabat dan tabi’in tadi. Dari kalangan tabiin ini dikenal nama-nama mufassirin sebagai berikut: Sofyan bin ‘Uyainah, Waki’ bin Jarrah, Syu’bah bin Hajjaj, Yazid bin Harun, dan Abduh bin Humaid. Mereka inilah yang merupakan sumber dari bahan-bahan tafsir yang kelak dibukukan oleh seorang mufassir besar bernama Ibnu Jarir at-Tabari. Ibnu Jarir inilah yang menjadi bapak bagi para mufassir sesudahnya (lebih dikenal dengan at-Tabari).

Sebagaimana sebagian sahabat terkenal dengan ahli tafsir, maka sebagian tabi’in terkenal dengan ahli tafsir dimana para tabi’in mengambil tafsir dari mereka yang sumber-sumbernya berpegang kepada sumber-sumber yang ada pada masa sebelumnya, disamping adanya ijtihad dan penalaran.

2. Perkembangan Tafsir pada Masa Kontemporer

Abad ke 14 adalah abad di mana dunia islam mengalami kemajuan di berbagai bidang, termasuk bidang kajian tafsir. Kajian tentang pemikiran tafsir Al-Qur’an dalam khazanan intelektual islam memang tidak pernah berhenti. Setiap generasi memiki tanggung jawab masing-masing untuk menyegarkan kembali kajian sebelumnya yang di anggap out date. Kemunculan metode kontemporer di antaranya di picu oleh kekhawatiran yang akan di timbulkan ketika penafsiran al- Qur’an di lakukan secara tekstual, dengan mengabaikan situasi dan latar belakang turunnya suatu ayat sebagai data sejarah yang penting.

Pada periode modern ini, tafsir Al-Qur’an di samping memperlihatkan coraknya yang berbeda dengan periode sebelumnya, tapi juga selalu terkait dengan isu-isu kontemporer, seperti ketika mufassir merespon persoalan gender, demokrasi, HAM, ekonomi, politik, budaya dan lain sebagainya. Sehingga dengan demikian

(23)

20

metodologi tafsir kontemporer adalah kajian di sekitar metode-metode yang berkembang pada era kontemporer.

Adapun Bentuk metode pemikiran Tafsir Kontemporer Pada perkembangan ini, yang merujuk pada temuan ulama kontemporer, yang di anut sebagian pakar pemikir al-Qur’an misalnya al-farmawi (Indonesia) yang di populerkan oleh M.

Quraish Shihab dalam berbagai tulisannya, adalah pemilahan metode tafsir Al Qur’an kepada empat metode, yaitu: (1). Metode ijmali, (2). Tahlili, (3). Muqarran, (4). Maudlu’i. Metode tafsir berdasarkan riwayah, dirayah dan isyari, di kategorikan dalam metode klasik. Sedangkan empat metode yang berupa tahlili, ijmali, muqarran dan maudlu’i, di tambah satu lagi yaitu metode kontekstual termasuk dalam kategori tafsir kontemporer.

Corak pemikiran tafsir Kontemporer terbagi menjadi tiga pemikiran, yaitu tafsir ilmi, tafsir filologi, dan tafsir adabi ijtima’i.

1. Corak tafsir ilmi

Setiap muslim mempercayai bahwa al-Qur’an mampu mengantisipasi pengetahuan modern. Imam al-Ghazali mempunyai peran penting dalam memperkenalkan tafsir ini, dalam tatanan diskursus modern kemunculan tafsir ini menimbulkan polemik. Para pendukungnya berpandangan bahwa kemunculan tafsir ilmi adalah fenomena yang wajar dan mesti terjadi.

Mengingat al-Qur’an sendiri mengisyaratkan bahwa segala sesuatu tidak terlupakan di dalamnya.

2. Corak tafsir filologi

Amin al-khulli telah berjasa dalam memperkenalkan teori-teori penafsiran secara sistematis. Ada tiga kerangka yang ia lakukan, yaitu; pertama, seorang mufassir harus mampu mengaitkan satu ayat dengan ayat lainnya yang memiliki tema serupa. Kedua, mempelajari setiap makna kata dalam al-Qur’an yang tidak hanya menggunakan kamus saja, tetap juga dengan kata-kata al-Qur’an sendiri yang memiliki akar kata serupa. Ketiga, analisis terhadap bagaimana al-Qur’an mengombinasikan kata-kata dalam sebuah kalimat.

(24)

21 3. Corak tafsir adabul ijtima’i

Tafsir adabul jtima’i muncul untuk menggugat pencapaian pemikiran tafsir klasik yang di anggap kurang mengakar pada persoalan-persoalan masyarakat.

Oleh karena itu, diskursus-diskursus yang mencuat dari corak pemikiran tafsir ini adalah kritikan tajam terhadap model dan corak pemikiran tafsir klasik. Bagi para mufassir corak ini, al-Qur’an baru dapat di katakan sebagai hudan lin-nas bila telah di rasakan menjadi problem solver persoalan-persoalan kemasyarakatan. Bentuk-bentuk penafsiran yang sifatnya tidak membumi tentu saja tidak mendapat tempat pada corak ini. 6

6 Muhammad Sakti Gunawan,“Sejarah Perkembangan Tafsir pada masa Klasik dan Kontemporer”, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Hal 3-13.

(25)

22

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Berdasarkan paparan materi diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertianTerjemah berasal dari bahasa Arab, Tarjamah atau Turjumah, yang berarti menyampaikan perkataan kepada orang yang belum mengetahuinya, menjelaskan perkataan dengan bahasa aslinya, menjelaskan perkataan dengan bahasa lain, mengalihkan bahasa satu kepada bahasa lain.

Adapun Tafsir menurut bahasa berarti menjelaskan dan menyingkap makna. Jadi tafsir adalah menyingkap makna yang tersembunyi, menyingkap maksud dari lafadh yang sulit.

Sedangkan Ta’wil menurut bahasa adalah kembali kepada asal atau menjelaskan suatu perkataan. Secara istilah, mutaakhirin mendefinisikan ta’wil dengan memalingkan lafadh dari makna yang tersurat kepada makna yang tersirat karena ada dalil yang mengkehendakinya.

Para ulama membagi tafsir menjadi 3 macam yaitu: Tafsir bi al-Ma’tsur, tafsir bi ar-Ra’yi, dan Tafsir bi al- Isyarah. Adapun metode-metode Tafsir terbagi menjadi 4 macam, yaitu: metode Ijmali, Metode Tahlili, Metode Maudhu’i, dan Metode Muqaran. Sedangkan macam-macam corak tafsir digolongkan menjadi 10 diantaranya sebagai berikut: corak lughawi, corak balaghi, corak falsafi, corak sufi, corak fiqhi, corak bayani, corak adabi, corak tafsir adab ijtima’i, corak haraki, dan corak al-hida’i.

Seiring dengan berkembangnya zaman ilmu tafsir ini memiliki beragam pendekatan, corak, metodologi, serta pemikiran-pemikirannya yang selalu berkembang pada setiap masanya dan juga karena perkembangan itulah telah banyak lahir ulama-ulama pada tiap-tiap masanya, hal ini menunjukan bahwa al- Qur’an tidak hanya berlaku pada generasi tertentu, sehingga untuk mewujudkan sifat al-Qur’an yang “shahih fi kulli maka wa shahih fi kulli zaman” butuh upaya pengkajian sejarah secara berulang-ulang dan teliti untuk memahami

(26)

23

pemahaman mufassir terhadap al-Qur’an. Dan juga membuat ilmu tafsir ini memiliki daya tarik tersendiri untuk selalu dikaji lewat perkembangan ilmu tafsir dari masa ke masa mulai dari masa Nabi Muhammad Saw, sahabat, tabi’in dan sampai pada masa sekarang.

B. Saran

Makalah yang kami buat ini belumlah sempurna, untuk itu, saran dan kritikan dari pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah yang kami buat ini. Semoga makalah ini bisa menambah wawasan dan pengetahuan kita. Khusunya kami tim penyusun Makalah.

(27)

24

DAFTAR PUSTAKA

Anshori. “Kaidah-kaidah memahami Firman Tuhan”. cet. 3. PT.

RAJAGRAFINDO PERSADA. Jakarta. 2016.

Gunawan, Muhammad Sakti,“Sejarah Perkembangan Tafsir pada masa Klasik dan Kontemporer”. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Metode maudhu‟i adalah metode tafsir yang berusaha mencari jawaban al- Qur‟an dengan cara mengumpulkan ayat-ayat al-Qur‟an yang mempunyai tujuan satu, yang bersama-

Keenam, skripsi yang ditulis oleh Aghis Nikmatul Qomariyah dengan judul Penafsiran Bakri Syahid Terhadap Ayat-ayat al-Qur‟an dan Kewajiban Istri dalam Tafsir al-Huda

dengan menggunakan metode pengumpulan data yang sesuai.. Sumber primer tersebut berupa Al- Qur‟an dan terjemah, kitab -kitab tafsir, dan buku-buku terjemah lainnya

Dan seolah-olah mereka berdua itu menjaga manusia itu dari kekafiran dan menyampaikan dari sesuatu apa-apa yang mereka ketahui dari kilahan mereka dan

Tafsir al-Jabiri didasarkan pada sumber konteks situasi dan budaya saat mana suatu ayat diturunkan. Hal itu didasarkan pada prinsip bahwa pemaknaan ayat-ayat al-Qur`an harus

Tetapi di sini hendak dipakai dalam cakupan yang lebih luas, yakni tafsir al-Qur‟an yang menjadikan filsafat ilmu dan teori ilmiah sebagai perangkat memahami konteks untuk

Menurut hasil analisis yang diperoleh bahwa konsep pendidikan Islam dalam al-Qur‟an surat al-Jumu‟ah ayat 1-5 menurut tafsir al-Maraghi adalah konsep pendidikan Islam

xi ABSTRAK Nama : Rosa Lestari NIM : 217410732 Konsentrasi : Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir Judul Tesis : Fungsi Sosial Istifhâm Taubîkh dalam Al- Qur`an Studi Analisis Surat