Generasi Z merujuk kepada individu yang lahir pada rentang tahun 1995- 2010 (Rachmawati dalam Rizki, 2022). Alasan pemilihan Gen Z yang masih tercatat sebagai pelajar dan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Jawa adalah sebagai berikut: Pertama, mereka merupakan rekan dari mahasiswa KKN MIT-16 Posko 111, yang berasal dari beragam latar belakang agama dan organisasi Islam di kampus. Kedua, Generasi Z ini akan menjadi penerus perjuangan para pahlawan Indonesia dalam mencapai visi Indonesia emas 2045, yang mencakup kemajuan negara, keadilan, kemakmuran,
perdamaian, toleransi, serta upaya untuk menghindari pencemaran agama, rasisme, radikalisme, bahkan terorisme.Karena itu, penting bagi Generasi Z ini untuk diberikan pemahaman sejak dini tentang moderasi dalam
beragama, perdamaian, serta pentingnya nilai-nilai keberagaman. Selain itu, Generasi Z juga merupakan generasi yang tumbuh dalam era kemajuan teknologi yang pesat, termasuk internet dan media sosial, yang membuat mereka rentan terhadap paparan radikalisme. Bahkan, mereka sangat
terkoneksi dengan internet dan media sosial, yang saat ini sering digunakan oleh kelompok radikal untuk menyebarkan pemikiran radikal.
GEN Z
Generasi Z merujuk kepada individu yang lahir pada rentang tahun 1995- 2010 (Rachmawati dalam Rizki, 2022).
Namun, saat mengunggah hal pribadinya, generasi Z tidak tahan terhadap kritikan dari orang lain. Sehingga karakter rapuh tersebut yang
menjadikannya diberi sebutan generasi stroberi. Dalam buku Strawberry Generation yang ditulis oleh Rhenald Kasali (2017:235), generasi ini adalah generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan mudah sakit hati. Bisa kita lihat bahwa saat ini beberapa anak-anak zaman sekarang tidak mampu menghadapi berbagai tekanan sosial dibandingkan dengan didikan yang diberikan kepada orang tua kita dahulu.
Pada jenjang SMA, peserta didik bisa dikatakan berada dalam fase remaja.
Masa remaja yaitu sebuah masa transisi dari fase anak menuju fase dewasa (Santrock, 2003). Pada fase ini, remaja menghadapi banyak perubahan antara lain, perubahan fisik, sosial dan juga emosional. Ketika menghadapi fase transisi ini pasti banyak terjadi problematika, konflik internal (konflik dalam diri) ataupun konflik eksternal (konflik yang asalnya dari luar). Konflik
internal contohnya rasa malu, berputus asa. Sementara konflik eksternal contohnya perselisihan dengan orang yang disayangi, lingkungan sosial tidak menerima, ataupun memperoleh treatment yang kurang menyenangkan.
Problematika ini mengakibatkan individu tertekan emosionalnya serta memunculkan rasa kurang nyaman di dirinya (Walsh, 2006). Ketika berada dalam fase ini, individu dituntut guna beradaptasi dengan berbagai
perubahan yang berpotensi guna meningkatkan stress ataupun tekanan (Yuanita, 2021). Remaja yang tidak mampu menghadapi dan menuntaskan suatu perproblematikaan dengan baik akan berefek pada emosi negatif serta efek negatif. Saat remaja menghadapi emosi negatif bisa memunculkan tindakan buruk yang bisa membuat rugi pribadinya (Takwati, 2019)
Masing-masing periode tersebut memiliki peran perkembangan yang berbeda, namun ada kalanya individu mengalami gangguan emosi yang berbeda dan konflik. Saat ini, individu menghadapi banyak masalah yang berkaitan dengan tugas perkembangan mereka. Masa ini adalah masa remaja. Sesuai pendapat dari Hall (dalam Estefan & Wijaya, 2014) masa remaja berkisar antara 12 hingga 23 tahun dimana usia yang banyak pergolakan dan disebut juga dengan masa peralihan. Anak yang duduk dibangku sekolah menengah termasuk dalam usia remaja. Perspektif badai dan stres (storm and stress view) adalah konsep Hall bahwa masa remaja adalah masa yang penuh gejolak yang penuh dengan konflik dan perubahan suasana hati. Remaja juga merupakan masa dimana menghadapi berbagai macam masalah, baik dengan dirinya sendiri maupun dengan masalah yang berhubungan dengan orang lain (orangtua, teman, maupun pasangan).
Dalam JIPSI (Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sosial) Vol 1 No 4 Januari 2022 | 397 keadaan seperti ini, tentunya mereka mengalami berbagai badai perasaan secara bersama-sama (Santrock dalam Estefan & Wijaya, 2014). Pada usia ini, pikiran dan emosi remaja tidak stabil yang dapat mengakibatkan stres, kecemasan, dan depresi yang dari hal tersebut jika remaja tidak dapat menyalurkannya secara positif maka akan merugikan dirinya sendiri
(Melamita & Yarmis, 2022). Salah satu bentuk perilaku yang dapat merugikan diri remaja itu sendiri adalah self injury (Melamita & Yarmis, 2022). Maka dari itu, pada usia ini perlu banyak perhatian dari orangtua, guru, dan orang dewasa lainnya.
Ketidakmampuan menyelesaikan masalah menyebabkan timbulnya distres.
Distres tersebut dapat menimbulkan emosi negatif atau afek negatif.
Misalnya sedih, kecewa, putus asa, depresi, tidak berdaya, frustasi, marah, dendam dan emosi-emosi negatif lainnya (Safaria dan Saputra, 2009: 13).
Banyak cara untuk seseorang menyalurkan emosinya. Penyaluran emosi bisa dilakukan dengan cara positif bisa juga dengaan cara negatif. Contoh
penyaluran emosi dengan cara positif misalnya melakukan aktivitas yang disukai sepeti olah raga, nonton film, pergi jalan-jalan dengan teman, membaca buku atau kegiatan positif lainnya. Berbeda dengan sebagian individu memilih untuk menyalurkan dengan cara negatif misalnya mengkonsumsi narkoba, minum-minuman beralkohol atau dengan cara menyakiti dirinya (self injury). Menurut Gratz dkk (dalam Hasking dkk, 2002:
5) self injury berfungsi untuk mengurangi emosi negatif dan stress.
Usia remaja merupakan usia peralihan dari usia anak-anak menuju usia dewasa dan banyak terjadi perubahan pada masa ini. Perubahan yang terjadi tidak hanya perubahan fisik namun juga perubahan mental. Banyaknya tekanan yang di alami remaja membuat remaja mencari cara dalam
menyelesaikan masalah tersebut. Remaja yang dapat mengatasi masalah dengan baik, akan melawati masa remaja dengan baik. Namun ada sebagian remaja yang tidak mampu mengatasi masalahnya akan menimbulkan efek negatif seperti ketidakstabilan emosi. Dampak dari emosi yang tidak stabil ini, remaja menggunakan cara yang tidak tepat dalam menangani
masalahnya seperti perilaku self injury.
Perilaku ini menjadi salah satu bentuk emosi yang disalurkan remaja akibat rasa sakit secara psikis yang dirasakan pelaku yang tidak mampu di
ungkapkan secara verbal (Rina et al., 2021). Data menunjukkan bahwa lebih dari 36% penduduk Indonesia dikabarkan pernah melakukan tindakan
perlukaan terhadap diri sendiri dan dari seluruh responden pada penelitian terdahulu didapatkan laporan bahwa responden tersebut pernah menyakiti diri, dan sekitar 45% responden berada pada usia remaja (Paramita et al., 2021). Whitlock (2009) dalam Simatupang (2019) menyebutkan
menyebutkan perilaku self injury pada remaja dimulai antara usia 11-15 tahun dan angka kejadian tertinggi pada usia 10 tahun hingga 20 tahun (Alifiando et al., 2022). Perilaku menyakiti diri sendiri atau self injury merupakan masalah yang serius karena perilaku ini dapat merusak tubuh secara lansung dengan sengaja meskipun tanpa niat untuk mengakhiri hidup dan bukan merupakan prosedur yang dianggap legal menurut sosial maupun medis.
SELF INJURY
Masalah yang bersumber dari diri peserta didik sendiri inilah yang mana peserta didik tersebut tidak mampu mengatasi permasalahan ataupun tidak menemukan jalan keluar dari permasalahan tersebut maka peserta didik memilih mengatasinya dengan cara yang negatif seperti mabuk-mabukan, mengkonsumsi obat-obatan dan melukai diri sendiri untuk melampiaskan emosinya. Self injury terjadi karena kurangnya pengetahuan tentang
mengelola emosi mereka, beberapa individu tidak menyadari bahwa melukai diri mereka sendiri akan berdampak buruk bagi dirinya ataupun bagi orang yang melihatnya. Self injury menurut Klonsky & Jenifer (dalam dalam Ria Kurniawati, 2012 : 14) adalah perilaku dimana seseorang sengaja melukai tubuhnya sendiri bukan bertujuan untuk bunuh diri melainkan hanya untuk melampiaskan emosi-emosi yang menyakitkan
Sebagai guru bimbingan dan konseling ataupun sebagai konselor disekolah merupakan guru yang diberikan wewenang untuk memberikan bimbingan dan konseling pada peserta didik. Dalam hal ini diharapkan guru bimbingan dan konseling dapat mengurangi perilaku self injury yang terjadi di SMP Negeri 21 Banjarmasin melalui layanan konseling kelompok. Layanan konseling kelompok merupakan proses komunikasi dengan dinamika kelompok sebagai bantuan yang sangat penting dalam menanggulangi masalah perilaku self injury di sekolah. Menurut Annis (2018:15) konseling kelompok merupakan suatu pemberian bantuan kepada peserta didik melalui kelompok untuk mendapatkan informasi dengan tujuan agar dapat
menyelesaikan masalah yang dihadapi, mampu membuat keputusan yang tepat serta dapat memperbaiki dan mengembangkan pemahaman terhadap dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan. Dalam hal ini maka dapat kita simpulkan dari hasil wawancara bahwa peserta didik melakukan self injury karena kurangnya pengetahuan tentang mengatur emosi mereka. dari hal ini juga dapat kita ketahui peserta didik belajar dan mencontoh kebiasaan teman sebayanya atau lingkungan sosial lainya. ini tentu tidak bisa kita biarkan berlarut-larut, perlu adanya upaya yang dilakukan dalam
menanggulangi fenomena self injury. Maka dari itulah peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Layanan Konseling Kelompok Dengan teknik Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) Untuk Mengurangi Perilaku Self Injury Pada Peserta didik Kelas VIIF Di SMP Negeri 21 Banjarmasin”.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui perilaku Self Injury pada peserta didik sebelum, dan sesudah diberikan layanan dan keefektifan layanan
konseling kelompok dengan teknik Rational Emotive Behavior Therapy.
Sutton (2007) menjelaskan bahwa penyebab self injury adalah faktor psikologis, seperti merasa tidak mampu menahan emosi, stres, rendah diri, tidak mampu mengekspresikan diri dengan baik, sering merasa hampa, depresi, ingin perhatian dari orang lain, putus asa, tidak dapat menerima kenyataan, merasa tidak berguna, frustasi dan
depresi. Bentuk dari perilaku self injury dapat berupa menyayat tangan (dapat hanya berupa goresan atau berbentuk huruf), memukul diri sendiri, membenturkan kepala, menjambak rambut, memakan obat-obatan dengan dosis yang tinggi, menggigit, meninju dinding, mengganggu
penyembuhan luka, hingga meracuni diri (Higgins dalam Guntur, Dewi, & Ridfah, 2021)
Self-injury yaitu bentuk tindakan melukai diri sendiri yang disebabkan oleh distorsi kognitif. Self-injury diterapkan menjadi usaha membebaskan tekanan emosional yang dialami individu. Pelaku self injury percaya bahwasanya rasa sakit fisik lebih baik daripada rasa sakit secara emosional. Oleh sebab itu, pelaku self-injury berkeyakinan bahwasanya self-injury yaitu cara paling efektif dalam menuntaskan problematika. Berbasis fenomena yang terjadi dilapangan, didapati seorang siswi yang menghadapi self-injury sebab distorsi kognitif dengan ciri – ciri overgeneralisasi terhadap suatu peristiwa.
Penelitian ini mempunyai maksud yakni guna mengetahui apakah penerapan konseling Rational emotive behavior (REB) bisa dimanfaatkan guna
meminimalkan tindakan self-injury pada peserta didik
Cara – cara yang dimanfaatkan individu dalam mengatasi dan menuntaskan problematika biasa disebut mekanisme coping. Mekanisme coping optimal diterapkan memanfaatkan beragam cara positif contohnya menuntaskan problematika individu yang berkaitan, mengelola perasaannya maka dari itu terbangun regulasi emosi yang baik serta terarah. Maka dari itu bisa
menunjang individu guna bisa menuntaskan problematikanya dengan optimal. Tetapi, berbeda bagi individu yang kurang bisa menerapkan penuntasan problematikanya dengan optimal ataupun individu dengan mekanisme coping yang buruk. Banyak hal yang diterapkannya jadi kurang baik bagi dirinya ataupun bagi sejumlah orang yang ada di luar lingkungan.
Individu bermekanisme coping yang buruk condong menerapkan aksi penuntasan problematika contoh menutupi perasaan emosinya, serta tak mengungkapkannya (Hurlock, 1980). Pemilihan mekanisme coping yang buruk bisa berakibat pada perusakan diri contoh halnya self-injury.
Self-injury diyakini guna meregulasi emosi menggunakan rasa sakit.
Menghadapi rasa sakit fisik lebih mudah daripada rasa sakit emosional. Guna sejumlah orang, cara utama guna mengungkapkan tekanan yaitu
menggunakan self-injury (Kurniawaty, 2012) Para pelaku self-injury percaya bahwasanya merasakan sakit secara fisik dimana bisa melihat luka, darah, goresan dan memar akan memberi perasaan lega dan nyaman. Perasaan ini muncul menjadi akibat dari pemendaman emosi yang bisa tersalurkan. Para pelaku self-injury juga percaya bahwasanya merasakan sakit secara fisik lebih baik dibanding merasakan sakit secara emosional. Hal ini diperkuat oleh pendapat (Walsh, 2012) menerangkan bahwasanya para pelaku self- injury condong mencoba self-injury guna meringankan beban emosi yang terlalu banyak.
Penelitian sebelumnya yang diterapkan (Asyafina & Salam, n.d.) menemukan kasus Self-injury yang terjadi pada mahasiswi di Pekanbaru. SN - inisial
pelaku Selfinjury – kerap kali menerapkan barcode (menyayat permukaan kulit) menjadi bentuk pelampiasan amarah sebab ketidak mampuannya dalam mengungkapkan kemarahan kepada orang lain. Tindakan SN ini juga disebabkan oleh ketidak harmonisan hubungan dengan kedua orang tuanya.
Fenomena serupa juga ditemui peneliti saat menjalani aktivitas PLP di SMKN 1 Dlanggu, Mojokerto pada bulan Agustus – November 2023. Seorang siswi datang dengan suka rela dan menceritakan mengenai kebiasaanya
menerapkan self-injury. Melalui komunikasi yang diterapkan bersama siswi tersebut, ia bercerita bahwasanya ia kerap kali menerapkan Self-injury
(memukul dada, membenturkan kepala dan menyayat permukaan kulit). Hal tersebut ia lakukan menjadi bentuk pelampiasan amarah sebab ketidak mampuannya dalam mengungkapkan emosi yang dirasakan kepada orang lain. Berbasis penuturan siswi tersebut, hal ini dilatar belakangi oleh
perproblematikaan keluarga antara ia dengan orang tuanya, maka dari itu membuatnya berfikir bahwasanya jika kedua orang tuanya tidak
menyanyanginya, maka semua orang tidak ada yang menyanyanginya. Hal ini diperkuat oleh keyakinan siswi tersebut yang menganggap bahwasanya self-injury yaitu cara yang paling efektif dan menyenangkan. Oleh sebab itu, saat ia menghadapi suatu perproblematikaan maka ia akan menyalurkannya dalam bentuk self-injury. Perasaan rendah diri dan pemikiran irasional inilah yang menyebabkan individu berfikir bahwasanya self-injury yaitu cara
terbaik dalam mengatasi problematika. Mengingat efek buruk dan bahaya dari tindakan Selfinjury, maka segera dibutuhkan penanganan ataupun
intervensi. Didapati sejumlah cara dalam mengatasi tindakan Self-injury ini, satu diantaranya ialah dengan membagikan layanan konseling individu memanfaatkan pendekatan Rational emotive behavior (REB) dengan Teknik Rational emotive imagery (REI). Hal ini ditunjang penelitian yang telah diterapkan Amalia yang meneliti tentang penggunaan Teknik REBT guna meminimalkan tindakan Self-injury pada siswa kelas 7 di SMPN 13 Surabaya.
Perolehan dari penelitian tersebut menyebutkan bahwasanya konseli bisa guna mengganti tindakan selfinjury menjadi ke-arah yang lebih positif contoh mengembangkan hobi. Hal ini dipengaruhi oleh kemampuan konseli dalam mengontrol emosi dan merubah keyakinan irasional menjadi keyakinan yang lebih rasional, satu diantaranya dengan menerapkan pikiran positif (Amalia, 2019). Merujuk pada perolehan diatas, maka hal ini menampilkan
bahwasanya tindakan self-injury bisa diatasi dengan mengubah kepercayaan irasional (irB) menjadi kepercayaan yang rasional (rB) yang mana ini
berfokus utama pada pendekatan REBT. Aspek dalam Self-injury yang menjadi landasan dari dipilihnya pendekatan Rational emotive behavior Therapy (REBT) ini ialah pikiran irasional seseorang. Apabila merujuk pada temuan peneliti dilapangan, para pelaku self-injury mempunyai persepsi ataupun peskoran yang keliru terhadap situasi ataupun keyakinannya contoh; (1) perasaan tidak berharga Ketika tidak memperolehkan sesuatu, (2) “mengharuskan” orang lain (orang tua) bersikap adil kepada anak yang menyebabkan timbul kecemburuan antar saudara. Mempunyai persepsi ataupun keyakinan yang keliru terhadap suatu peristiwa yang diperkuat dengan ketidak mampuan individu dalam mengolah dan mengontrol emosi yang menjadi sebab individu menerapkan tindakan self-injury. Para
pelakunya menilai bahwasanya menerapkan tindakan ini yaitu cara yang efektif dan menyenangkan guna mengatasi problematika. Selain itu, individu yang menerapkan Selfinjury mempunyai pemikiran bahwasanya rasa
sakitnya secara psikologis wajib dialihkan ke bentuk melukai fisiknya yang lebih menyakitkan. Dengan begitu subyek gagal berfikir secara rasional guna mencari solusi dari problematika yang dihadapi (Takwati, 2019) Corey dalam (Hardani, 2017) mendefinisiakan Teknik Rational emotive behavior Therapy (REBT) yaitu pendekatan direktif yang bermaksud guna merubah cara berfikir individu yang kurang logis, kurang rasional serta mengubahnya ke cara yang logis serta rasional. Hal ini bisa diterapkan dengan cara
menerapkan konfrontasi terhadap keyakinan irasional individu dan
menyerangnya, menentangnya, mempertanyakannya serta mendiskusikan kepercayaan irasionalnya. Sehingga, diharapkan individu bisa merubah tindakan irasionalnya—dalam hal ini Selfinjury— menjadi tindakan yang yang lebih rasional
KONSELING KELOMPOK, REBT
Menurut Rasmini Konseling kelompok ialah sebuah bentuk layanan bantuan yang efektif dalam atasi sikap atau perilaku anak, misal pemahaman
terhadap penyebab serta perasaan siswa yang menunjukkan agresi, pencegahan terhadap perkembangan masalah, pembantu dalam
pengembangan kemampuan pribadi siswa, atau membantu menangani kesulitan individu dalam diri konseli (siswa), serta menangani konflik antarpribadi dan memberikan solusi dalam pemecahan masalah. Dengan adanya layanan konseling kelompok ini diharapkan para siswa membuat keputusan yang tepat sehingga dapat berdampak baik untuk para siswa dalam meningkatkan kepercayaan diri mereka akibat adanya bullying.
Menurut Stuart bullying ialah perilaku agresif yang tidak diharapkan yang dialami di antara anak-anak usia sekolah. Perilaku ini mengikutsertakan kekuatan yang tidak seimbang, dan terjadi secara terus-menurus atau berpotensi untuk alami berulang.
Tercapainya suatu layanan konseling kelompok yang dilakukan oleh peneliti yaitu konseling kelompok dengan pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) membuat para siswa lebih meningkatkan kepercayaan diri mereka. Anthony (Handayani, 2018), berpendapat kepercayaan diri ialah sebuah sikap yang seseorang miliki yang memungkinkannya untuk
menerima fakta, mengembangkan kesabaran, berpikir secara positif, bersikap mandiri, serta memiliki kemampuan dalam memperoleh dan mencapai apa yang diinginkannya
Ellis (2006) menjelaskan bahwa pendekatan rational emotive behaviour therapy membangunkan individu dari pemikiran irasional menuju pemikiran rasional dengan mengikuti langkah-langkah ABCDE yaitu activiting event, keyakinan, konsekuensi, konflik, mengaktifkan filosofi baru yang efektif melalui berbagai teknik yaitu kognitif, emosional dan perilaku. Nixon & Heath (2009) menyatakan bahwa salah satu cara untuk mengurangi perilaku self injury adalah dengan menggunakan pendekatan rational emotive behaviour therapy dari Ellis. Artikel ini menjelaskan konseling kelompok menurut
pendekatan rational emotive behavior therapy dalam bentuk deskripsi naratif. Tujuannya untuk mengkaji berbagai literatur tentang konseling kelompok dengan pendekatan rational emotive behaviour therapy untuk
mengatasi perilaku self injury remaja. Teknik yang digunakan dalam konseling kelompok rational emotive behaviour therapy berfokus pada rasionalisasi pikiran dan emotif remaja. Hal ini terkait dengan persepsi diri remaja yang negatif. Tujuannya adalah mengubah persepsi negatif tersebut menjadi keyakinan rasional sehingga remaja dapat memiliki persepsi diri yang positif. Hal ini dapat mengatasi perilaku self injury pada remaja