• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGKAT PEMANFAATAN IKAN DELAH (Caesio teres) PADA PERAIRAN MAPUR YANG DIDARATKAN DI DESA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "TINGKAT PEMANFAATAN IKAN DELAH (Caesio teres) PADA PERAIRAN MAPUR YANG DIDARATKAN DI DESA "

Copied!
66
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

  • Rumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
  • Manfaat Penelitian
    • Kerangka Pikiran

Perikanan Delah di Desa Kelong yang masih terbuka (terbuka untuk semua nelayan) konon mengakibatkan terjadinya overfishing. Selain itu, perlu adanya kajian terhadap kondisi sumber daya ikan Pendaratan di Desa Kelong Kecamatan Bintan Pesisir Kabupaten Bintan.

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian  Sumberdaya  Ikan Delah  (Caesio teres) di
Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian Sumberdaya Ikan Delah (Caesio teres) di

TINJAUAN PUSTAKA

  • Klasifikasi Ikan Delah
  • Habitat
  • Alat Tangkap
  • Armada Penangkapan (Kapal Perikanan)
  • Musim Tangkapan
  • Tingkat Pemanfaatan

Perangkap kawat yang berfungsi di Kabupaten Bangka Selatan berbentuk sederhana, terdiri dari badan perangkap, mulut dan rangka. Konstruksi rangka perangkap kawat berbeda-beda ukuran mulut dan badan perangkapnya, tergantung komoditas yang ditangkap. Hal ini untuk memastikan ikan memiliki kualitas yang baik dan tidak mengalami cedera akibat pembuatan wire trap.

Persiapan dimulai dari persiapan kawat bubu yang akan digunakan, perlengkapan penangkapan ikan, mesin kompresor dan mesin kelautan yang akan digunakan. Satu kali perjalanan pengelolaan unit penangkapan ikan dengan bubu kawat biasanya dilakukan dalam waktu 1-2 hari, pada pagi hari WIB. Setelah menemukan area yang cocok, nelayan menurunkan tabung kompresor untuk membantu pernafasan dan 4 buah wire trap yang akan dipasang untuk sekali penyelaman.

Pengoperasian bubu kawat diawali dengan pemasangan bubu pada dasar perairan dengan mulut bubu menghadap ke tempat penampungan ikan. Kemudian kawat perangkap ditutup dengan tumpukan batu karang mati, kecuali bagian mulut perangkap. Selanjutnya setelah pemasangan trap I selesai, akan dipasang wire trap yang lain, dengan jarak antar trap 15-100 m.

Gambar 3. Alat Tangkap Bubu Dasar (Bubu Kawat)
Gambar 3. Alat Tangkap Bubu Dasar (Bubu Kawat)

METODE PENELITIAN

  • Waktu dan Tempat
  • Alat dan Bahan
  • Metode Penelitian
    • Jenis dan Sumber Data
    • Teknik Pengumpulan Data
  • Analisis Data
    • Catch Unit Per Effort ( CPUE)
    • Nilai Potensi Lestari (MSY)
    • Tingkat Pemanfaatan Sumberdaya Ikan
    • Jumlah Tangkapan yang Diperbolehkan (JTB)

Data sekunder merupakan data periodik (time series) hasil tangkapan dan upaya penangkapan ikan pada bulan Agustus 2018 sampai dengan April 2019 di Desa Kelong. Hasil tangkapan ikan delah di perairan Mapur per upaya atau dikenal dengan Catch Per Unit Effort (CPUE) diperoleh dari hasil perhitungan upaya tangkapan dan hasil tangkapan per tangkapannya, sedangkan upaya yang diperlukan merupakan masukan dari kegiatan penangkapan ikan (Noordiningroom, 2012). Produksi hasil tangkapan nelayan di perairan Mapur kabupaten Bintan Pesisir mengalami perubahan setiap bulannya selama sembilan bulan.

Data hasil tangkapan ikan flounder di perairan Mapur selama sembilan bulan dapat dilihat pada Gambar 10. Upaya penangkapan ikan (alat tangkap yang banyak) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi hasil tangkapan ikan flounder oleh nelayan. Tujuan penghitungan CPUE sumber daya perikanan adalah untuk mengetahui tingkat eksploitasi ikan dan evolusi hasil tangkapan ikan yang didaratkan (Telussa 2016).

Tingkat pemanfaatan ikan delah di Desa Kelong secara keseluruhan sebesar 42% yang berarti hasil tangkapan berada pada tingkat sedang. Hasil tangkapan yang diperbolehkan (JTB) ikan delah di Perairan Mapur yang didaratkan di Desa Kelong adalah 629,65 Kg/Unit. Efektivitas Modifikasi Basic Captive Construction Terhadap Hasil Penangkapan Ikan di Perairan Pulau Lemukutan Kalimantan Barat.

Tabel 1. Alat yang digunakan
Tabel 1. Alat yang digunakan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Wilayah Penelitian

  • Deskripsi Kondisi Ekologis
  • Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Desa Kelong mempunyai sumber daya pesisir dan laut yang sangat melimpah karena luas lautan dibandingkan daratan dan sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai nelayan. Desa Kelong terletak di Kecamatan Bintan Pesisir, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau, seluas ± 627 km². Wilayah Desa Kelong terdiri dari pulau-pulau kecil yang umumnya merupakan wilayah pesisir. Mata pencaharian masyarakat Desa Kelong masih didominasi oleh nelayan sebanyak 732 orang, kemudian bertani atau bertani sebanyak 35 orang, wiraswasta sebanyak 7 orang, guru atau tenaga pengajar sebanyak 37 orang, pelajar/i tidak bekerja sebanyak 976 orang, pekerja rumah tangga sebanyak 448 orang.

Agar lebih jelas, secara lengkap mata pencaharian nelayan di Desa Kelong disajikan pada Tabel 6. Kabupaten Bintan Pesisir merupakan sebuah pulau yang dikelilingi terumbu karang dan memiliki panorama pasir putih yang indah. Dan di Perairan Mapur, tempat pemancingannya delah para nelayan Desa Kelong dari hasil wawancara.

Nelayan Desa Kelong yang menangkap ikan menggunakan alat tangkap berupa bubu dasar, armada yang digunakan adalah perahu bermesin 6 GT.

Gambar 6. Jumlah penduduk berdasarkan mata pencarian di Desa Kelong         Kecamatan Bintan Pesisir
Gambar 6. Jumlah penduduk berdasarkan mata pencarian di Desa Kelong Kecamatan Bintan Pesisir

Karakteristik Nelayan Tangkap Ikan Delah

Ikan yang diambil nelayan dari Fiber diambil dari ikannya oleh pegawai toko ikan kemudian disortir berdasarkan jenis ikan. Rentang usia nelayan Delah yang menangkap ikan di perairan Mapur yang didaratkan di Desa Kelong berkisar antara 38 hingga 55 tahun. Usia produktif sangat mendukung nelayan untuk menggunakan segala kemampuan yang dimilikinya dan tenaga yang dimiliki masih cukup baik untuk melaut.

Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan diketahui bahwa pendidikan yang mereka terima berbeda-beda, untuk lebih jelasnya lihat Gambar 8. Nelayan menangkap ikan, namun harga ikan cukup tinggi sehingga dapat menunjang perekonomian untuk memenuhi kebutuhan. kebutuhan mereka sehari-hari.

Gambar 8. Jumlah Angkatan Kerja Berdasarkan Pendidikan
Gambar 8. Jumlah Angkatan Kerja Berdasarkan Pendidikan

Upaya Tangkapan Ikan Delah

Fluktuasi tersebut dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan iklim yang erat kaitannya dengan kondisi musiman dan angin, dimana musim angin barat berkisar antara bulan September sampai dengan bulan November, biasanya anginnya agak kencang sehingga membuat air menjadi keruh sehingga ikan tidak boleh terbawa arus. terlihat. Musim angin utara berkisar bulan Desember sampai Februari biasanya angin kencang dan gelombang laut besar, musim Timur berkisar bulan April sampai Mei dan musim Selatan berkisar bulan Juni sampai Agustus, Musim Timur dan Selatan merupakan musim panen ikan karena ombak dan angin tidak kencang. Berdasarkan data dan informasi http://bappeda.kepriprov.go.id disebutkan bahwa musim hujan Utara bertiup pada bulan Februari dan musim hujan Selatan pada bulan Juni hingga Agustus. Musim penangkapan ikan terjadi sepanjang tahun dengan puncaknya pada musim timur pada bulan April, musim peralihan pertama pada bulan Desember, musim selatan pada bulan Juni, dan musim peralihan kedua pada bulan September.

Secara umum wilayah penangkapan ikan tidak bersifat tetap, selalu berubah seiring dengan pergerakan ikan yang beradaptasi dengan perubahan kondisi lingkungan (Manggabarani, 2011). Di perairan pesisir Bintan Timur yang merupakan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD), terumbu karang berkembang dengan baik dan mencakup wilayah yang sangat luas hingga 35 km. Luas total terumbu karang di pesisir Bintan Timur termasuk Pulau Mapur dan pulau-pulau kecil di sekitarnya adalah 6.066,76 ha.

Kondisi geografis Pulau Mapur banyak terdapat terumbu karang di sepanjang wilayah perairan ini. Terumbu karang merupakan habitat berbagai jenis ikan yang bernilai ekonomi penting, seperti ikan flounder, kaci-kaci, kerapu dan lain-lain, termasuk ikan delah. Berdasarkan hasil kuisioner nelayan, daerah penangkapan ikan Delah merupakan wilayah perairan Mapur sampai Merapas yang mempunyai jarak sekitar 6 mil, dimulai 1 mil dari pantai Mapur.

Hasil Tangkapan dan Upaya Penangkapan Ikan Delah

Jelas bahwa bulan April adalah waktu penangkapan ikan yang optimal karena cuaca dan musim penangkapan ikan yang baik. Berdasarkan Gambar 11, usaha penangkapan ikan selama 9 bulan (Agustus, September, Oktober, November, Desember, Januari, Februari, Maret, April) yang dilakukan menunjukkan fluktuasi hasil tangkapan. Tangkapan per unit usaha penangkapan ikan atau catch per unit of Effort (CPUE) sangat penting dalam pengawasan dan pengendalian perikanan.

Sedangkan penurunan produksi tangkapan (y) sebesar 54% disebabkan oleh beberapa faktor seperti faktor alam dan faktor biologis reproduksi ikan delah. Besarnya eksploitasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, penurunan hasil tangkapan dapat disebabkan oleh berkurangnya jumlah populasi akibat upaya penangkapan yang sebelumnya tinggi. Tingkat eksploitasi sumber daya perikanan dapat ditentukan dengan menghitung proporsi hasil tangkapan pada tahun tertentu berdasarkan nilai produksi maksimum lestari (MSY), (Aminah 2011).

Berdasarkan Gambar 13, penangkapan ikan tetap dilakukan pada Nilai Potensi Lestari (MSY) sebesar 787.067 kg/unit, dengan rata-rata hasil tangkapan nelayan sebesar 332.9111 kg, dengan hasil tangkapan tertinggi sebesar 528 kg dan hasil terendah sebesar 227.9 kg, masih dapat diperoleh hasil tangkapan nelayan sebesar 332.9111 kg. dicapai. Untuk memperoleh hasil tangkapan yang optimal tanpa melampaui batas maksimum JTB maka Nilai Tangkapan yang Diizinkan (JTB) adalah 629,65 kg/unit, dan untuk memperoleh hasil tangkapan yang optimal, disarankan untuk menambah upaya penangkapan sebanyak 50 unit dengan menambah alat tangkap secara bertahap. Saat ini terdapat 500 nelayan di Desa Kelong yang masih menggunakan alat tangkap. Arahan pemasangan bubu pada hasil tangkapan ikan di perairan Dusun Mamua, Kecamatan Leihitu, Maluku Tengah. Perbandingan hasil tangkapan Bagan Tancap berdasarkan waktu angkut pada jarak yang berbeda dari pantai di desa Punagaya Kabupaten Jeneponto.

Gambar 11. Upaya Tangkapan
Gambar 11. Upaya Tangkapan

Hubungan CPUE dan EFFORT Sumberdaya Ikan

Maximum Sustaibele Yield (MSY)

Nilai Potensi lestari atau dikenal dengan MSY (Maximum Sustainable Yield) merupakan suatu pendekatan penghitungan data untuk melihat nilai pemanfaatan sumber daya perikanan secara optimal. Nilai MSY diperlukan untuk memperkirakan tingkat penangkapan ikan yang dilakukan pada suatu sumber daya penangkapan ikan. Berdasarkan hasil perhitungan analisis regresi linear antara upaya (effort) sebagai variabel f ​​dan catch per fishing upaya (CPUE) sebagai variabel C, maka nilai estimasi intersep Parameter (a) dan kemiringan (b) pada model Schaefer diperoleh. Nilai intersep (a) dan variabel X (b) diperlukan untuk memperkirakan nilai MSY dan Fopt dengan menggunakan model terpilih yaitu model Schaefer.

Hasil perhitungan nilai MSY hasil tangkapan ikan Delah di Desa Kelong terlihat seperti terlihat pada Gambar 13. Namun produksi ikan Delah di perairan Mapur belum menunjukkan adanya gejala overfishing, namun perlu dilakukan pemantauan lebih lanjut. komprehensif sehingga dalam mengambil keputusan peningkatan upaya penangkapan tidak menimbulkan gejala overfishing dan berkurangnya hasil. Berdasarkan Gambar 13 terlihat bahwa data produksi ikan delah dalam 9 bulan terakhir (Agustus 2018-April 2019) dapat dihitung produksi berkelanjutan atau hasil lestari maksimum (MSY) dengan menggunakan metode surplus produksi dari model Schaefer. Potensi nilai lestari dan upaya optimal ikan delah dapat ditentukan nilainya di perairan Mapur sehingga dapat diketahui kapan terjadinya overfishing dengan membandingkan upaya dan hasil tangkapan setiap bulannya.

Berdasarkan model Schaefer, nilai upaya penangkapan optimal sebesar 1280 alat tangkap/bulan, dan nilai tangkapan maksimum sebesar 787,067 kg/unit. Menurut Rosana dan Prasita (2015), upaya optimal adalah upaya penangkapan ikan yang dapat dilakukan oleh suatu unit penangkapan ikan untuk mencapai hasil tangkapan yang optimal tanpa mengganggu kelestarian sumber daya penangkapan ikan. Keuntungannya diharapkan kerugian waktu, tenaga dan biaya dari kegiatan penangkapan ikan yang dilakukan akan selalu mencapai hasil yang optimal.

Tingkat Pemanfaatan (TP)

Jumlah Tangkapan yang di Perbolehkan

Arahan Pengelolaan Sumberdaya Ikan Delah

Rata-rata tingkat pemanfaatan ikan delah di Perairan Mapur yang didaratkan di Desa Kelong pada bulan Agustus sampai dengan April sebesar 42% dari nilai MSY yang dikategorikan sedang. Dalam penelitian ini, tetap perlu dilakukan pemantauan populasi dan penangkapan ikan delah di alam dengan memperhatikan potensi nilai lestarinya agar tidak terjadi eksploitasi berlebihan. Selain data penelitian tersebut, diharapkan juga dilakukan pendataan secara berkesinambungan setiap bulannya mengenai produksi dan usaha penangkapan, sehingga dapat dijadikan perbandingan MSY, nilai Foptimum, tingkat pemanfaatan dan jumlah tangkapan yang diperbolehkan.

Analisis Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Tenggiri (Rastrelliger spp.) Di Perairan Kabupaten Tanah Laut Provinsi Kalimantan Selatan. Tingkat Pemanfaatan dan Potensi Maksimum Kelestarian Sumber Daya Cumi-cumi (Loligo Sp.) Di Kabupaten Tanah Bumbu Provinsi Kalimantan Selatan. Noija, Donald, Sulaeman Martasuganda, Bambang Mardiyanto dan Am Azbas Taurrusman 2014. Potensi dan tingkat pemanfaatan sumber daya ikan demersal di perairan Pulau Ambon-Provinsi Maluku.

Analisis Bioekonomi Model Gordon Schaefer, Studi Kasus Pemanfaatan Ikan Nila (Oreochromis nilotikus) di Perairan Umum Waduk Cirata Kabupaten Cianjur Jawa Barat. Survei stok ikan pelagis kecil menggunakan alat tangkap mini purse di perairan Lempasing, Lampung. 9 hal di atas adalah milik bos, jadi jika ada kerusakan pada perahu atau alat tangkap, siapa yang menanggung biaya perbaikannya?

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

Gambar

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian  Sumberdaya  Ikan Delah  (Caesio teres) di
Gambar 2. Ikan Delah (Caesio teres)
Gambar 3. Alat Tangkap Bubu Dasar (Bubu Kawat)
Gambar 4. Armada Penangkapan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Koefisien regresi pada variabel Search (X 3 ) menunjukkan adanya pengaruh positif pada minat beli konsumen (Y), yang berarti bahwa konten di media sosial

Many Western agencies required pastoral candidates to display “intellectual, social, and spiritual qualifications as judged by Western standards,” resulting in an even lower number of