PENDAHULUAN
Rumusan Masalah
Bagaimana tinjauan hukum ekonomi syariah terhadap praktik pelayanan penjualan ikan laut oleh tuan tanah dan nelayan di Desa Malabero.
Batasan Masalah
Penulis akan mengkaji praktek pelayanan penjualan ikan laut kepada pemilik dan nelayan dalam Tinjauan Hukum Dagang Syariah.
Tujuan Penelitian
Kegunaan Penelitian
Penelitian Terdahulu
Tinjauan Hukum Islam tentang Penerapan Pengupahan pada Irigasi Lapang Sabuk dengan Sistem Piyak (Studi Kasus di Desa Pilang Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora)”9. Hasil penelitian di atas menemukan bahwa praktik pengupahan dengan sistem piyak telah memenuhi rukun dan syarat-syarat dalam akad ijarah.Sedangkan perbedaan kedua penelitian tersebut adalah skripsi pertama membahas tentang penerapan upah jasa pengairan sawah dengan sistem pijak dalam tinjauan hukum Islam, sedangkan penulis mengkaji tentang praktek akad ijarah. jasa jual ikan pelaut di desa malebero dengan sistem amanah hanya dalam pendistribusian ikan untuk dijual oleh nakhoda ikan ditinjau dari hukum Ekonomi Syariah.
9 Umi Kholifatul Mahmudah, Tinjauan Hukum Islam tentang Penerapan Upah Irigasi Sawah Piyak (Studi Kasus di Desa Pilang Kecamatan Randublatung Kabupaten Blora), (Jurusan Muamalah Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Semarang, Semarang 2018).
Metode Penelitian
- Jenis dan Pendekatan Penelitian
- Waktu dan Lokasi penelitian
- Subjek (Informan Penelitian)
- Sumber Data
- Tehnik Pengumpulan Data
- Tehnik Analisis Data
Dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian dengan mengunjungi masyarakat nelayan di desa Malabero kecamatan Teluk Segara kota Bengkulu sebagai tempat penelitian. Data sekunder dalam penelitian ini adalah data dokumenter yang diperoleh dari sumber lain yaitu data yang diperoleh dari. Teknik pengumpulan data yang penulis gunakan dalam penelitian ini antara lain wawancara dan dokumentasi, guna memperoleh informasi yang benar antara teori yang diperoleh dengan praktek di lapangan.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini penulis akan melakukan wawancara kepada pihak-pihak yang terkait dengan penelitian ini, antara lain: pemilik ikan dan nelayan.
Sistematika Penulisan
Berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan permasalahan yang bersifat umum terlebih dahulu untuk berhubungan dengan bagian-bagian yang khusus, kemudian menjelaskan konsep Ijarah dalam hukum ekonomi Islam, kemudian digunakan untuk mengkaji hukum Ijarah/Upah pada Jasa Pemilik Ikan Dijual Ikan Laut dari keyakinan sistem saja, kemudian ditarik kesimpulan. Bab ini menguraikan gambaran umum objek penelitian yang terdiri atas gambaran wilayah meliputi letak geografis, kondisi penduduk, kondisi masyarakat dan pendidikan, serta kondisi perekonomian masyarakat di Desa Malabero. Bab ini berisi tentang praktik penjualan jasa ikan laut kepada nakhoda dan nelayan di Kecamatan Malabero serta ulasan hukum ekonomi syariah terhadap praktik penjualan jasa ikan laut di Kecamatan Malabero.
KAJIAN TEORI
Pengertian Jual Beli
Jual beli (bai') disebut shaafaqoh, yaitu transaksi yang ditandai dengan jabat tangan antara penjual dan pembeli. Jual beli adalah suatu perjanjian pertukaran barang yang bernilai dan dilakukan secara sukarela antara penjual dan pembeli dengan syarat-syarat yang dijamin dan disepakati oleh Syara. Jual beli tersebut harus sesuai dengan ketentuan syara’ yang artinya harus memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun dan hal-hal lain yang berkaitan dengan jual beli, sehingga apabila syarat-syarat dan rukun-rukun tersebut tidak dipenuhi maka berarti sah. tidak sesuai dengan wasiat Syara' .20.
Rukun dan Syarat Jual Beli
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan perkara yang terjadi di antara kamu. Dan janganlah kamu menyerahkan harta kepada orang yang tidak sempurna akalnya (yang dalam). Barang najis tidak sah untuk dijual dan tidak boleh digunakan sebagai wang untuk membeli, seperti kulit binatang atau bangkai yang belum disamak. .
Tidak sah menjual barang yang tidak boleh diserahkan kepada pembeli, contohnya ikan di laut, rampasan masih di tangan orang yang merampasnya, barang yang dirampas, kerana di situ semua penipuan (kekecohan).
Konsep Ijarah (Upah)
- Pengertian
- Dasar Hukum Ijarah (Upah)
- Rukun Ijarah (Upah)
- Syarat Ijarah (Upah)
- Macam-macam Ijarah (Upah)
- Pengupahan
- Batalnya Ijarah (Upah)
- Berakhirnya Ijarah (Upah)
Jadikanlah dia pekerja (untuk kita), sesungguhnya orang yang paling baik diambil sebagai pekerja (bagi kita) ialah orang yang kuat lagi amanah.” (Q.S Al-Qashash Asas Hukum Ijarah dan Hadis. Tiga orang (tiga golongan), akan jadilah musuhku kelak pada hari kiamat, iaitu (1) orang yang memberi kepadaku kemudian mengambil kembali, (2) orang yang menjual orang merdeka Rukun ijarah (upah) adalah seperti berikut: 1) Mu'jir. dan musta'jir , iaitu orang yang melaksanakan pajakan-.
Mustajir ialah orang yang menerima upah untuk melakukan sesuatu dan yang menyewa sesuatu, ia bersyarat dengan mujir. Bagi orang yang mempunyai akad ijarah juga diwajibkan mengetahui kelebihan barang yang dikontrakkan dengan sempuran bagi mengelakkan berlakunya percanggahan. 35. Ma'qud alaihi (benda-benda) ialah perkara-perkara yang dilakukan hanya untuk upah atas pekerjaan yang telah dilakukan. 4) Faedah, baik manfaat benda yang disewa atau jasa dan tenaga orang yang bekerja.
Maka, Ijarah tidak sah bagi sesuatu ketaatan kerana ia memberi manfaat kepada orang yang melakukannya sendiri. Sekiranya terdapat kecacatan („aib) yang sedemikian, maka penyewa (musta‟jir) boleh memilih antara meneruskan ijarah dengan pengurangan sewa dan membatalkannya. Undang-undang orang yang bekerja tidak boleh bekerja kecuali dengan orang yang telah memberinya upah.
Para fuqaha kala itu menyatakan diperbolehkannya menerima upah dari pengajaran Al-Qur'an dan ilmu-ilmu syariat lainnya karena guru harus menafkahi kehidupannya dan orang-orang yang berada di bawah asuhannya. Boleh menyewakan tanah, dan diwajibkan menjelaskan kegunaan tanah yang disewa itu, dan jenis-jenis apa saja yang boleh ditanam pada tanah itu, kecuali yang menyewa memberi izin untuk menanam apa saja yang dikehendakinya. Telah disebutkan dalam Al-Qur'an bahwa dibolehkan memberi upah kepada orang yang menyusui anaknya sebagaimana tercantum dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah: 233.
Kematian penyewa atau pekerja tidak membatalkan pajakan, jika penyewa meninggal dunia dan permintaannya telah dibuat oleh penyewa, keluarganya terikat untuk membayar gaji kepada mu'ajir, tetapi jika mu'ajir meninggal sebelum dia telah menerima gajinya, maka waris akan menerima gaji.
GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
Keadaan Geografis Kelurahan Malabero
Jarak pusat desa Pasar Baru ke desa Malabero ±5 km dengan waktu tempuh lima menit, jarak desa Jitra ke pusat desa Malabero ±4 km dengan waktu tempuh ±5 menit, dan jarak desa Malabero dari Samudera Indonesia ± 20 m.
Keadaan Demografis Kelurahan Malabero
Hasil ikan yang diperoleh para nelayan dijual langsung oleh para pedagang ikan di desa Malabero yang berfungsi sebagai jasa penjualan ikan hasil tangkapan nelayan. Hasil wawancara penulis dengan para pedagang ikan mengenai sistem kerja mereka sebagai penyedia jasa penjualan ikan laut di desa Malabero. Berdasarkan hasil wawancara dengan nakhoda ikan dan nelayan mengenai pembayaran upah pada praktek penjualan jasa ikan laut di Desa Malabero.
Dan nelayan menerima hasil jualan ikan yang dijual oleh pemilik ikan dengan persetujuan kedua-dua pihak. Selain itu, jika dinilai ma'qud alaih dalam amalan jual beli ikan laut, dilakukan oleh pemilik ikan. Di mana pemilik ikan memberikan khidmatnya kepada nelayan untuk membantu menjual ikan yang dihasilkan.
Seperti halnya dalam praktek penjualan jasa ikan laut oleh penjual ikan, terjadi kesepakatan antara penjual ikan dan nelayan. Artinya, upah akan diberikan sesuai dengan pendapatan ikan dan hasil penjualan ikan yang dijual oleh nakhoda ikan. Namun jika ikannya hanya sedikit maka nakhoda tidak dibayar, melainkan nakhoda mendapat keuntungan dari hasil penjualan ikan tersebut.
Dimana ia mempekerjakan atau menggunakan jasa nakhoda ikan untuk melakukan usaha penjualan ikan kepada nelayan. Berdasarkan penjelasan di atas maka praktek penjualan jasa ikan laut kepada nakhoda dan nelayan di desa Malabero diperbolehkan menurut hukum syara, nakhoda ikan rela dengan upah yang diterimanya. Pelayanan penjualan ikan laut dilakukan oleh para pedagang ikan atas dasar kesepakatan bersama antara nakhoda dan nelayan di awal untuk penyerahan ikan yang diperoleh dari hasil penjualan ikan tersebut.
Dilihat dari adat istiadatnya, praktik penjualan jasa ikan laut dengan menggunakan jasa nakhoda ikan sudah menjadi kebiasaan masyarakat nelayan di Desa Malabero.
Struktur Organisasi Kelurahan Malabero
PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah terhadap Praktek
Jadi dalam prakteknya, dalam penjualan jasa penangkapan ikan di laut yang dilakukan oleh nakhoda penangkapan ikan, pada awalnya dibuat suatu kontrak yang disepakati bersama antara nakhoda dan nelayan untuk penyediaan ikan yang diperoleh dengan melakukan jual beli ikan tersebut. Dilihat dari adat istiadatnya, praktek penjualan jasa penangkapan ikan di laut, menggunakan jasa juragan penangkapan ikan dengan mengarsipkan semua jenis. Dari segi akad, jual beli ikan yang dilakukan oleh nakhoda penangkapan ikan telah memenuhi rukun akad dalam jual beli.
Pernyataan ini dikemukakan oleh nakhoda nelayan sebagai musta’jir “jika kapal anda datang dan menghasilkan ikan sesuai dengan perjanjian, maka. Dari keterangan yang tertera di atas, jika dikaitkan dengan akad dalam praktek penjualan jasa penangkapan ikan di laut dengan penyerahan seluruh ikan yang telah dijual oleh juragan, bahwa kontrak pembayaran gaji belum selesai, karena gaji akan diberikan sesuai hasil ikan dan penjualan ikan dengan perhitungan persentase, tetapi jika hanya sedikit Nelayan mendapat ikan, pemilik ikan tidak mendapat gaji, tetapi nelayan mengeksploitasi hasil penjualan ikan nelayan. Dari penjelasan di atas terlihat akad yang dilaksanakan dalam praktek penjualan jasa penangkapan ikan oleh nakhoda sebagai musta’jir dan nelayan. sebagai mu'jir dalam akad jual beli ikan laut sah menurut hukum syara.
Pekerjaan nelayan ini bukanlah pekerjaan ibadah dan bukan merupakan pekerjaan yang menjadi kewajiban para musta’jir. Upah atas jasa juragan ikan dengan persentase upah yang tidak menentu tergantung dari pendapatan ikan dan hasil penjualan ikan yang dijual oleh juragan ikan.Upah yang diberikan berdasarkan adat istiadat yang berlaku. masyarakat di Desa Malabero. Dari keterangan di atas, jika berkaitan dengan praktek penjualan jasa penangkapan ikan di laut dengan penyerahan seluruh ikan yang dijual oleh nakhoda, belum dilaksanakan kaitannya dengan pembayaran upah, karena upah yang akan diberikan harus dibayar. disesuaikan dengan hasil ikan dan penjualan ikan dengan perhitungan persentase, namun jika ikan hanya diperoleh saja, ada pula juragan ikan yang tidak diberikan upah, namun juragan mendapat keuntungan dari hasil penjualan ikan nelayan.
Gaji diberikan kepada kapten ikan sesuai dengan besarnya tenaga yang dikeluarkan dan prestasi yang diperoleh dari penjualan ikan setelah penjualan ikan. Dimana kapten ikan sebagai orang yang jasanya dipekerjakan, menerima gaji sesuai dengan apa yang dilakukannya.
PENUTUP
Saran
Pedagang ikan diharapkan memberitahukan kepada nelayan mengenai harga ikan yang dipasarkan pada saat transaksi agar tidak terjadi kerugian, konflik dan kesulitan dalam menjual ikan tersebut. Sistem pembayarannya harus diberikan dan dijelaskan dengan kontrak penyediaan ikan, meskipun upah diberikan dalam bentuk persentase, agar tidak ada yang dirugikan oleh kedua belah pihak. Adi, Rianto, Metodologi Penelitian Sosial dan Hukum, Jakarta: Granit, 2004 Djuwaini, Dimayauddin, Pengantar Fiqih Muamalah, Yogyakarta: Pustaka.
Kasiram, Raziskovalne metode, Malang: UIN Malang Press, tisk I, 2008 Mardani, Fiqh šeriatskega gospodarstva (Fiqh Muamalah), Jakarta: Kencana, 2019 Nasir, Raziskovalne metode, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003. Rasjid, Sulaiman, Islamski fikh, Bandung: Sinar Baru Algensindo, 2016 Suhendi, Hendi, Fiqh Muamalah, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2016 Sahroni, Oni in M.