PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dalam kehidupan bermasyarakat, Anda tidak asing lagi dengan rantai transaksi sewa tanah yang bisa ditemui di Desa Banyu Urip, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah. Sudah sejak lama masyarakat Desa Banyu Urip melakukan sewa tanah ini. Rentetan sewa tanah ini sudah lama dilakukan di Desa Banyu Urip, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah.
Jadi menyewa tanah berantai sudah menjadi kebiasaan di Desa Banyu Urip, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah. Mencermati rantai sewa tanah yang diuraikan di atas, bagaimana tinjauan hukum ekonomi syariah tentang sewa tanah berantai. Berdasarkan latar belakang dan hasil observasi di atas mengenai sewa tanah berantai, saya tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul: Kajian Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Praktek Sewa Lahan Berantai (Studi Kasus di Desa Banyu Urip Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah Daerah).
Rumusan Masalah
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dapat dijadikan acuan bagi masyarakat khususnya di Desa Banyu Urip Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah tentang bagaimana review Hukum Dagang Syariah terhadap sewa sawah dalam sistem tahunan dan bulanan yang sangat dikembangkan di Masyarakat Desa Banyu Urip, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah.
Ruang Lingkup Dan Setting Penelitian
Telaah Pustaka
Sejauh yang peneliti amati, berdasarkan observasi awal bahwa di Desa Banyu Urip banyak terjadi persewaan tanah secara berantai. Praktek persewaan tanah berantai di Desa Banyu Urip Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah Kabupaten Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah. Praktek persewaan tanah berantai di Desa Banyu Urip Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah.
Lahan Pelaksanaan sewa pada masyarakat Desa Banyu Urip Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah memiliki batas waktu beberapa kali panen. Pihak yang melakukan praktik persewaan tanah dengan rantai di Desa Banyu Urip, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah. Untuk lebih jelasnya mengenai realisasi sewa lahan untuk pertanian di Desa Banyu Urip ini.
Dalam praktiknya, transaksi sewa tanah berantai tersebut dilakukan oleh warga Desa Banyu Urip. Praktik persewaan tanah yang disewakan kembali oleh warga Desa Banyu Urip, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah ini dilakukan untuk kepentingan pribadi.
KajianTeori
Metode Penelitian
Data primer merupakan data yang peneliti peroleh langsung dari lapangan.20 Berdasarkan pengertian tersebut, dapat diartikan bahwa data diperoleh langsung dari pihak yang melaksanakan sewa yaitu penyewa, pemilik tanah dan penyewa kedua. Data diperoleh langsung dari lokasi penelitian yaitu di Desa Banyu Urip Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah. Maka dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti dari sumber-sumber yang ada, misalnya buku, majalah, artikel yang berkaitan dengan tanah sewa berantai di desa Banyu Urip kecamatan Praya Barat.
Untuk mengumpulkan data yang relevan dengan masalah yang diteliti, dalam hal ini peneliti menggunakan tiga metode yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi 23 Untuk lebih jelasnya akan diuraikan ketiga metode tersebut sebagai berikut. Observasi adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematis gejala-gejala yang diselidiki.24 Ahli lain mengatakan bahwa observasi adalah kegiatan memusatkan perhatian pada suatu objek dengan menggunakan seluruh panca indera. Metode observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk mengumpulkan data melalui observasi 26 Berdasarkan pendapat para ahli dapat dipahami bahwa observasi adalah alat pengumpulan data dengan menggunakan seluruh panca indera dari objek atau gejala yang diteliti secara sistematis.
Data yang dikumpulkan dengan metode observasi adalah: data revisi UU ekonomi syariah terhadap. Analisis data adalah proses pencarian dan pengumpulan data secara sistematis yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain agar mudah dipahami dan temuannya dikomunikasikan kepada orang lain. Analisis data kualitatif bersifat induktif, yaitu analisis berdasarkan data yang diperoleh, yang kemudian dikembangkan menjadi hipotesis.
Dengan ini data yang diperoleh adalah data yang tidak dapat ditemukan di antara data yang diperoleh penelitian dengan menggunakan data sebenarnya pada objek penelitian. Instrumen yang memiliki tingkat rehabilitasi tinggi cenderung menghasilkan data yang sama tentang suatu variabel atau jenisnya jika diulang pada waktu yang berbeda dalam kelompok yang sama. Untuk menguji kredibilitas data yang diperoleh dari responden atau sumber data, peneliti mencoba membandingkan satu sama lain, baik antara data maupun metode yang digunakan.
Referensi yang memadai merupakan suatu kebutuhan yang dianggap sangat diperlukan untuk menyempurnakan hasil penelitian ini, oleh karena itu referensi dianggap sangat penting dan peneliti selalu berusaha untuk memperbanyaknya agar nantinya data yang diperoleh dapat dihitung secara cerdas, ilmiah dan profesional. .
Sistematika Penulisan
PAPARAN DATA DAN TEMUAN
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
- Sejarah Desa Bayu Urip
- Dasar Hukum
- Gambaran Umum Desa Banyu Urip
Praktik Sewa Menyewa Tanah Berantai Di Desa Banyu Urip
- Praktik Sewa Menyewa Tanah Berantai di Desa Banyu
Penyewaan terjadi di warga Desa Banyu Urip Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah oleh petani yang mengalami kebutuhan mendesak dan membutuhkan uang yang cukup besar, bahkan jika menunggu panen pun tidak akan bisa memenuhi kebutuhan mendesak tersebut. kebutuhan dan kebutuhan sehari-hari mereka. Transaksi sewa-menyewa yang dilakukan oleh masyarakat Desa Banyu Urip Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah masih bersifat tradisional yaitu dilakukan antara kedua belah pihak dan pada dasarnya kedua belah pihak sudah saling mengenal. Dari hasil wawancara di atas, peneliti dapat menyimpulkan bahwa yang menyebabkan rente berantai ini adalah karena kekurangan uang untuk membayar hutang.
Penyerahan tanah yang dijadikan jaminan sewa dilakukan melalui penyewa yang mendatangi pemilik tanah atau pemilik tanah yang mendatangi penyewa, sebagaimana diungkapkan oleh Ahmad Ijarman bahwa Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa proses praktek persewaan berantai tanah untuk keperluan pertanian di Desa Banyu Urip melalui negoisasi dan tanpa sepengetahuan penyewa pertama dan pemilik tanah kembali tanah kepada orang lain dan cara negoisasi antara pemilik dan penggarap untuk mencari kesepakatan harga dalam transaksi, jika harga. Pelaksanaan sewa tanah berantai untuk keperluan pertanian ini terjadi di Desa Banyu Urip karena pemilik tanah dan penggarap sama-sama saling membutuhkan.
Dalam kasus lain mengenai alasan warga desa Banyu Urip melakukan sewa rantai tanah, peneliti melakukan wawancara dengan H. Dengan demikian, para pihak dalam transaksi sewa tanah saling membutuhkan. Jadi, praktik sewa rantai tanah dilakukan oleh pemilik tanah ketika pemilik tanah membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya.
55 Nasir (penyewa lain), Wawancara, Banyu Urip, 12 Januari 2022. menyewakan tanah kepada pihak ketiga tanpa izin dan sepengetahuan pemilik tanah. a) Masyarakat Desa Banyu Urip belum memahami konsep sewa tanah menurut hukum ekonomi syariah atau hukum Islam. Yahudi (pemuka agama), Wawancara, Banyu Urip, 13 Januari 2022. menganut agama Islam, namun dalam hal sewa tanah berantai di desa Banyu Urip kebanyakan masyarakat menggunakan sewa tanah, dimana transaksi ini sudah menjadi kebiasaan masyarakat desa Banyu Urip.” 57. Transaksi sewa tanah brantai merupakan bagian masyarakat di Desa Banyu Urip. Setiap daerah memiliki adat istiadat yang berbeda dengan daerah lainnya.
Disalin juga bahwa alasan masyarakat Desa Banyu Urip menyewa lahan sawah ini adalah karena ingin memperluas lahan pertaniannya sehingga jika lahan untuk bercocok tanam semakin banyak maka keuntungan dalam berbisnis akan semakin meningkat dan dapat memenuhi kebutuhan. dari keluarga mereka.
PEMBAHASAN
Analisis Praktik Sewa Menyewa Tanah Berantai Di Desa Banyu
Analisis Tinjauan Hukum Ekonomi Syariah Terhadap Praktik
Namun ada syarat yang tidak terpenuhi yaitu penyewa pertama yang menyewakan kembali tanahnya tanpa seizin pemilik tanah, mengingat syarat tanah yang akan disewakan tidak berkaitan dengan hak orang lain sedangkan dalam kesulitan. Sedangkan ulama Syafi'iyah mengemukakan pendapat yang lebih luas dari pendapat ulama sebelumnya karena keinginan pemilik tanah. Namun, pemilik tanah dapat memperoleh keuntungan dari hasilnya, tetapi dalam beberapa kasus, pemilik tanah tidak dapat bertindak untuk menjual, menyumbangkan, atau menyewakan jaminan sampai ia mendapatkan persetujuan dari penyewa (orang yang memberikan pinjaman).
Namun dalam praktiknya ternyata tanah tersebut disewakan oleh pemilik tanah tanpa seizin penyewa tanah. Menurut ulama Hanafi dan Syafi, pemilik tanah berhak menggunakan barang jaminan, kecuali atas izin penyewa. Meskipun penggunaan agunan diperbolehkan, namun pemilik tanah tidak dapat menjual atau menghibahkan agunan tersebut.
Sewa antara pemilik dan penyewa batal karena pemilik tanah tidak memiliki izin dari penyewa untuk menggunakan kembali properti. Dan sewa-menyewa antara pemilik tanah dengan pihak ketiga juga tidak sah karena sebagaimana telah dijelaskan di atas, pemilik tanah hanya diperbolehkan menggunakan barang jaminan jika penyewa memiliki izin. Pada prinsipnya yang berhak menggunakan barang jaminan adalah pemilik tanah dan penyewa tidak boleh mengurangi atau menjual barang jaminan kecuali untuk melunasi hutang.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa praktek sewa rantai tanah yang terjadi di Desa Banyu Urip Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah tidak dapat dibenarkan karena pemilik tanah tidak memiliki izin penyewa karena tidak dalam sesuai dengan syariat Islam. Terkait permasalahan yang timbul dalam transaksi sewa tanah berantai di Desa Banyu Urip Kecamatan Praya Barat Kabupaten Lombok Tengah karena pemilik tanah menyewakan kembali tanahnya kepada orang lain, sehingga penyewa pertama yang merasa rugi dan dibohongi pemilik tanah karena pemilik tanah belum melakukan konfirmasi dengan penyewa pertama jika tanah tersebut akan dihibahkan kembali kepada orang lain sebelum ada kesepakatan atau persetujuan atas tanah tersebut, waktu serah terima. Pemilik tanah menyewakan tanahnya kepada penyewa pertama, dan penyewa pertama menyewakan lagi tanahnya kepada penyewa kedua tanpa sepengetahuan dan izin pemilik tanah.
Pemilik tanah menyewakan tanahnya kepada penyewa pertama, dan pemilik tanah secara bersamaan menyewakan tanahnya kepada penyewa kedua tanpa sepengetahuan dan persetujuan penyewa pertama.
PENUTUP
Kesimpulan
Kajian Hukum Ekonomi Syariah terhadap persewaan tanah Brantai di desa Banyu Urip Kabupaten Lombok Tengah tidak dibenarkan dalam hukum Islam kecuali ada kesepakatan antara kedua belah pihak.
Saran
Ahmad Azhar Basyir, Principles of Muamalah Law (Islamic Civil Law), ed, Revision, Yogyakarta: UII Press, 2000. Suparman Usman, Islamic Law Principles and Introduction to the Study of Islamic Law in Indonesian Law, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001 Teungku Muhammad Hasbu Ash-Shiddieqy, Tafsir Al-Quran Zainudin Ali, Islamitiese Burgerreg, Jakarta: Sinar Graphic 2006 Rachmat Syafi'I, Fiqh Muamalah, Bandung: CV Pustaka Setia, 2001.