• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP ADAT “RANDA SAHE KALEI BONGI” DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT POTA KABUPATEN MANGGARAI TIMUR NUSA TENGGARA TIMUR

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "View of TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP ADAT “RANDA SAHE KALEI BONGI” DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT POTA KABUPATEN MANGGARAI TIMUR NUSA TENGGARA TIMUR"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP ADAT DALAM

KABUPATEN MANGGARAI TIMUR NUSA TENGGARA TIMUR

The custom that is often encountered is about m

One of them is the custom of marriage in the Pota community of East Nusa Tenggara. The custom of the Pota people in the wedding procession requires paying an Islamic dowry which the man must prepare but also a customary dowry which is usually known as the Randa Sahe Kalei Bongi custom.

Customary traditions in marriage can be carried out provided that there is no conflict in the texts of the Qur'an or Islamic law. The traditional tradition of Randa Sahe Kalei Bongi can be associ

the implementation of the Randa Sahe Kalei Bongi custom is to maintain the relationship between the bride's and the groom's extended family and to keep the kinship ties well-established. It can be said that the tra

Randa Sahe Kalei Bongi also proves that how much the groom respects and gives love and affection to the bride and groom by agreeing to the traditional practice of Randa Sahe kalei bongi. The Randa Sahe Kalei Bongi custom can be made into law and does not conflict with Islamic Shari'a because this custom can be associated with walimah al

one of the objectives of the implementation is to hold a wedding party, so when viewed from the point of vi

equated in the process of walimah al walimah even if only with a goat".

Keywords: Mahar, Randa Sahe Kalei Bongi Custom

Adat yang sering dijumpai adalah p

Indonesia. Salah satunya adalah adat pernikahan terjadi di masyarakat Pota TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP ADAT “RANDA SAHE KALEI BONGI”

DALAM PERKAWINAN MASYARAKAT POTA

KABUPATEN MANGGARAI TIMUR NUSA TENGGARA TIMUR

Hikmah Hariyati [email protected] UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstract

The custom that is often encountered is about marriage customs in Indonesia.

One of them is the custom of marriage in the Pota community of East Nusa Tenggara. The custom of the Pota people in the wedding procession requires paying an Islamic dowry which the man must prepare but also a customary which is usually known as the Randa Sahe Kalei Bongi custom.

Customary traditions in marriage can be carried out provided that there is no conflict in the texts of the Qur'an or Islamic law. The traditional tradition of Randa Sahe Kalei Bongi can be associated with walimatul 'ursy. The purpose of the implementation of the Randa Sahe Kalei Bongi custom is to maintain the relationship between the bride's and the groom's extended family and to keep established. It can be said that the traditional practice of Randa Sahe Kalei Bongi also proves that how much the groom respects and gives love and affection to the bride and groom by agreeing to the traditional practice of Randa Sahe kalei bongi. The Randa Sahe Kalei Bongi custom can be to law and does not conflict with Islamic Shari'a because this custom can be associated with walimah al-ursy. In relation to Randa Sahe Kalei Bongi, one of the objectives of the implementation is to hold a wedding party, so when viewed from the point of view of the purpose of its implementation, it can be equated in the process of walimah al-ursy. The Prophet also recommended "do walimah even if only with a goat".

Mahar, Randa Sahe Kalei Bongi Custom.

Abstrak

Adat yang sering dijumpai adalah perihal adat pernikahan yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah adat pernikahan terjadi di masyarakat Pota

297

“RANDA SAHE KALEI BONGI”

KABUPATEN MANGGARAI TIMUR NUSA TENGGARA TIMUR

arriage customs in Indonesia.

One of them is the custom of marriage in the Pota community of East Nusa Tenggara. The custom of the Pota people in the wedding procession requires paying an Islamic dowry which the man must prepare but also a customary which is usually known as the Randa Sahe Kalei Bongi custom.

Customary traditions in marriage can be carried out provided that there is no conflict in the texts of the Qur'an or Islamic law. The traditional tradition of ated with walimatul 'ursy. The purpose of the implementation of the Randa Sahe Kalei Bongi custom is to maintain the relationship between the bride's and the groom's extended family and to keep ditional practice of Randa Sahe Kalei Bongi also proves that how much the groom respects and gives love and affection to the bride and groom by agreeing to the traditional practice of Randa Sahe kalei bongi. The Randa Sahe Kalei Bongi custom can be to law and does not conflict with Islamic Shari'a because this custom ursy. In relation to Randa Sahe Kalei Bongi, one of the objectives of the implementation is to hold a wedding party, so when ew of the purpose of its implementation, it can be ursy. The Prophet also recommended "do

erihal adat pernikahan yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah adat pernikahan terjadi di masyarakat Pota

(2)

Hikmah Hariyati

100 | Vol. 16, No. 1 Maret 2022

Nusa Tenggara Timur. Kebiasaan orang

mengharusakan membayar mahar secara Islamyang harus laki

akan tetapi tapi juga mahar adat yang mana biasanya dikenal sebagai adat Randa Sahe Kalei Bongi. Tradisi adat dalam penikahan dapat dilakukan dengan ketentuan tidak ada pertentangan dalam nash Al

Islam. Tradisi adat Randa Sahe Kalei B

‘ursy. Tujuan dilaksanakannya adat Randa Sahe Kalei Bongi bermaksud untuk menjaga tali silaturahmi antara keluarga besar mempelai wanita dan mempelai laki-laki dan menjaga tali persaudaraan agar tetap terjalin dengan b

dikatakan praktek adat Randa Sahe Kalei Bongi juga membuktikan bahwa betapa mempelai laki

sayangnya terhadap pasangan mempelai wanita dengan cara menyetujui praktek adat randa sahe kalei bongi ter

dapat di jadikan hukum dan tidak bertentangan dengan syari’at Islamkarena adat ini dapat dikaitkan dengan walimah al

Randa Sahe Kalei Bongiyang salah satu tujuan pelaksanaannya yaitu untuk mengadakan pesta nikah maka jika dilihat dari sisi tujuan pelaksanaanya maka bisa disamakan dalam proses walimah al

”adakanlah walimah sekalipun hanya dengan seekor kambing”.

Kata Kunci: Mahar, Adat Randa Sahe Kalei Bongi

A. PENDAHULUAN

Dalam suatu negara pastinya sudah sangat kental dengan adat dan kebiasaannya terutama di negara Indonesia. Istilah adat berasal dari Bahasa Arab, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bermakna kebiasaan. Adat atau kebiasaan adalah tingkah laku seseorang yang terus menerus dilakukan dengan cara tertentu dan diikuti oleh masyarakat luar dalam waktu yang lama.

yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah adat pernikahan terjadi di masyarakat Nusa Tenggara Timur. Kebiasaan orang

mengharusakan membayar mahar secara Islam yang harus laki tapi juga mahar adat yang mana biasanya dikenal sebagai adat

Pada dasarnya, penentuan mengenai jumlah, bentuk dan jenis mahar tidak diatur oleh hukum, sehingga tidak ada batasan jumlah mahar yang diberikan oleh calon suami dan bentuk serta jenis mahar tersebut didasarkan atas kesepakatan kedua belah pihak.176 Yang terpentin

mempersulit perkawinan. Sebab, atas kesederhanaan dan kemudahan terdapat anjuran tentang Kemudahan dan sebuah hadits yang diriwayatkan Imam al

175 Yulia,Buku Ajar Hukum Adat,(Lhoksumawe:Unimal press 2016) hlm.

176 Pasal 30 Kompilasi hukum Islam.

Vol. 16, No. 1 Maret 2022

Nusa Tenggara Timur. Kebiasaan orang-orang Pota dalam prosesi pernikahan mengharusakan membayar mahar secara Islamyang harus laki-laki persiapkan akan tetapi tapi juga mahar adat yang mana biasanya dikenal sebagai adat Randa Sahe Kalei Bongi. Tradisi adat dalam penikahan dapat dilakukan dengan ketentuan tidak ada pertentangan dalam nash Al-Qur’an atau syari’at Islam. Tradisi adat Randa Sahe Kalei Bongi dapat dikaitkan dengan walimatul

‘ursy. Tujuan dilaksanakannya adat Randa Sahe Kalei Bongi bermaksud untuk menjaga tali silaturahmi antara keluarga besar mempelai wanita dan mempelai laki dan menjaga tali persaudaraan agar tetap terjalin dengan baik. Dapat dikatakan praktek adat Randa Sahe Kalei Bongi juga membuktikan bahwa betapa mempelai laki-laki sangat menghormati dan memberikan kasih dan sayangnya terhadap pasangan mempelai wanita dengan cara menyetujui praktek adat randa sahe kalei bongi tersebut. Adat Randa Sahe Kalei Bongi dapat di jadikan hukum dan tidak bertentangan dengan syari’at Islamkarena adat ini dapat dikaitkan dengan walimah al-ursy. Dalam kaitannya dengan Randa Sahe Kalei Bongiyang salah satu tujuan pelaksanaannya yaitu untuk gadakan pesta nikah maka jika dilihat dari sisi tujuan pelaksanaanya maka bisa disamakan dalam proses walimah al-ursy. Nabi pun menganjurkan

”adakanlah walimah sekalipun hanya dengan seekor kambing”.

Mahar, Adat Randa Sahe Kalei Bongi

Dalam suatu negara pastinya sudah sangat kental dengan adat dan kebiasaannya terutama di negara Indonesia. Istilah adat berasal dari Bahasa Arab, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bermakna kebiasaan. Adat atau kebiasaan adalah tingkah laku eseorang yang terus menerus dilakukan dengan cara tertentu dan diikuti oleh masyarakat luar dalam waktu yang lama.175 Adat yang sering dijumpai adalah perihal adat pernikahan yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah adat pernikahan terjadi di masyarakat Nusa Tenggara Timur. Kebiasaan orang-orang Pota dalam prosesi pernikahan mengharusakan membayar mahar secara Islam yang harus laki-laki persiapkan akan tetapi tapi juga mahar adat yang mana biasanya dikenal sebagai adat Randa Sahe Kalei Bongi

asarnya, penentuan mengenai jumlah, bentuk dan jenis mahar tidak diatur tidak ada batasan jumlah mahar yang diberikan oleh calon dan bentuk serta jenis mahar tersebut didasarkan atas kesepakatan kedua belah Yang terpenting, jangan sampai mahar dijadikan sebagai hal yang jadi mempersulit perkawinan. Sebab, Pasal 31 KHI mengatur: Penentuan mahar berdasarkan

kesederhanaan dan kemudahan yang dianjurkan oleh ajaran Islam.

terdapat anjuran tentang Kemudahan dan kesederhanaan ini dapat kita temukan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dari Sahl bin Sa’ad as

,(Lhoksumawe:Unimal press 2016) hlm. 1 Pasal 30 Kompilasi hukum Islam.

orang Pota dalam prosesi pernikahan laki persiapkan akan tetapi tapi juga mahar adat yang mana biasanya dikenal sebagai adat Randa Sahe Kalei Bongi. Tradisi adat dalam penikahan dapat dilakukan Qur’an atau syari’at ongi dapat dikaitkan dengan walimatul

‘ursy. Tujuan dilaksanakannya adat Randa Sahe Kalei Bongi bermaksud untuk menjaga tali silaturahmi antara keluarga besar mempelai wanita dan mempelai aik. Dapat dikatakan praktek adat Randa Sahe Kalei Bongi juga membuktikan bahwa laki sangat menghormati dan memberikan kasih dan sayangnya terhadap pasangan mempelai wanita dengan cara menyetujui sebut. Adat Randa Sahe Kalei Bongi dapat di jadikan hukum dan tidak bertentangan dengan syari’at Islamkarena ursy. Dalam kaitannya dengan Randa Sahe Kalei Bongiyang salah satu tujuan pelaksanaannya yaitu untuk gadakan pesta nikah maka jika dilihat dari sisi tujuan pelaksanaanya maka ursy. Nabi pun menganjurkan

Dalam suatu negara pastinya sudah sangat kental dengan adat dan kebiasaannya terutama di negara Indonesia. Istilah adat berasal dari Bahasa Arab, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia bermakna kebiasaan. Adat atau kebiasaan adalah tingkah laku eseorang yang terus menerus dilakukan dengan cara tertentu dan diikuti oleh masyarakat Adat yang sering dijumpai adalah perihal adat pernikahan yang ada di Indonesia. Salah satunya adalah adat pernikahan terjadi di masyarakat Pota orang Pota dalam prosesi pernikahan laki persiapkan akan tetapi Randa Sahe Kalei Bongi.

asarnya, penentuan mengenai jumlah, bentuk dan jenis mahar tidak diatur tidak ada batasan jumlah mahar yang diberikan oleh calon dan bentuk serta jenis mahar tersebut didasarkan atas kesepakatan kedua belah g, jangan sampai mahar dijadikan sebagai hal yang jadi Penentuan mahar berdasarkan yang dianjurkan oleh ajaran Islam. Dalam Islam kesederhanaan ini dapat kita temukan dalam Bukhari dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi ra,

(3)

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Adat “Randa Sahe Kalei Bongi”

Rasullullah Shalallaahu alaihi wassalam bersabda (HR Bukhari No.1587):

(mahar) cincin sekalipun terbuat dari besi.

surat al-Qur’an yang engkau hafal

Dalam praktek yang terjadi pada adat

laki-laki dimintai oleh pihak keluarga wanita berupa mahar dengan ketentauan sesuai dengan derajat keluarga tersebut.

sambil menjinjing beras yang mana pihak laki

pihak perempuan sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Hal ini dapat saya bahas lebih dalam terkait adat Randa Sahe Kalei Bongi.

sudah ditentukan dan disepakati oleh kedua belah pihak, maka pernikahannya pun sudah dipastikan berjalan dengan lancar. akan tetapi jika pembahasan

tidak mendapatkan kesepakatan sudah dipastikan proses pernikahan tidak akan berjalan dengan lancer. Tradisi Randa Sahe Kalei Bongi

khas tersendiri dalam melakukan prosesi pernikahan. Dalam penelitian ini ingin mengkaji lebih lanjut tentang Tradisi

Disisi lain pada penelitian ini pula akan membahasa mulai dari sejarah dan perkembangannya, sampai terjadinya akibat

Pota.

B. PEMBAHASAN 1. Mahar dalam Islam

Mahar merupakan suatu pemberian dari seorang calon suami atau mempelai pria kepada calon mempelai wanita sebagai tanda kesungguhan dan kerelaan untuk hidup bersama. Begitu pula istri dengan penerimaan mahar maka menyatakan persetujuannya pula sedangkan istilah mahar atau maskawin telah dipahami maknanya sampai masyarakat awam. Mahar diartikan secara terminologis sebagai pemberian wajib dari seorang calon suami kepada calon istri sebagai wujud kesanggupan dan ketulusan untuk menimbulkan cinta dari s

menerangkan bahwa

kepada istrinya ketika dilakukan akad nikah sebagai bukti terikatnya seorang wanita terhadap seorang lelaki (suaminya).

sebagai pemberian wajib dari seroang pria sebagai calon suami kepada wanita yang ingin dinikahinya, baik berbentuk materi atau non meteri.

Pengertian mahar menurut

percampuran yang dilakukan secara paksa seperti menyusui dan ralat para saksi. Mahar termasuk pengaruh harta yang penting dalam akad nikah.

mahar atau maskawin adalah harta yang diberikan laki terjadinya akad. Mahar dib

177 M.A. Timami, Fiqih Munakahat “

178 M Thalib, 40 Petunjuk Menuju

179 Cahyadi Takriawan, Dijalan Dakwah

180 Abdul Aziz Muhammad Azzam,

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Adat “Randa Sahe Kalei Bongi”

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | Rasullullah Shalallaahu alaihi wassalam bersabda (HR Bukhari No.1587):

(mahar) cincin sekalipun terbuat dari besi. Jika tidak mendapati, mahar berupa surat Qur’an yang engkau hafal,

Dalam praktek yang terjadi pada adat Randa Sahe Kalei Bongi seorang mempelai laki dimintai oleh pihak keluarga wanita berupa mahar dengan ketentauan sesuai luarga tersebut. Randa Sahe Kalei Bongi atau yang artinya menarik sapi sambil menjinjing beras yang mana pihak laki-laki harusmenyanggupi permintaan dari pihak perempuan sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Hal ini dapat saya bahas lebih Randa Sahe Kalei Bongi. Bila mana adat Randa Sahe Kalei Bongi sudah ditentukan dan disepakati oleh kedua belah pihak, maka pernikahannya pun sudah dipastikan berjalan dengan lancar. akan tetapi jika pembahasan Randa Sahe Kalei Bongi sepakatan sudah dipastikan proses pernikahan tidak akan berjalan Randa Sahe Kalei Bongi pada masyarakat pota ini merupakan cirri khas tersendiri dalam melakukan prosesi pernikahan. Dalam penelitian ini ingin mengkaji tang Tradisi Randa Sahe Kalei Bongi dengan perspektif hukum Islam.

Disisi lain pada penelitian ini pula akan membahasa mulai dari sejarah dan perkembangannya, sampai terjadinya akibat Randa Sahe Kalei Bongi terhadap masyarakat

Mahar merupakan suatu pemberian dari seorang calon suami atau mempelai pria kepada calon mempelai wanita sebagai tanda kesungguhan dan kerelaan untuk hidup bersama. Begitu pula istri dengan penerimaan mahar maka menyatakan persetujuannya ngkan istilah mahar atau maskawin telah dipahami maknanya sampai masyarakat awam. Mahar diartikan secara terminologis sebagai pemberian wajib dari seorang calon suami kepada calon istri sebagai wujud kesanggupan dan ketulusan untuk menimbulkan cinta dari seorang istri kepada suami.177

menerangkan bahwa mahar adalah pembayaran wajib yang dilakukan oleh suami kepada istrinya ketika dilakukan akad nikah sebagai bukti terikatnya seorang wanita terhadap seorang lelaki (suaminya).178 Dalam pembahasan lain, mahar diartikan sebagai pemberian wajib dari seroang pria sebagai calon suami kepada wanita yang ingin dinikahinya, baik berbentuk materi atau non meteri.179

Pengertian mahar menurut syara’ adalah sesuatu yang wajib sebab nikah atau ilakukan secara paksa seperti menyusui dan ralat para saksi. Mahar termasuk pengaruh harta yang penting dalam akad nikah.180 Pendapat lain mengatakan mahar atau maskawin adalah harta yang diberikan laki-laki kepada perempuan karena terjadinya akad. Mahar diberikan sebagi bentuk kesungguhan hati untuk meminang dan

M.A. Timami, Fiqih Munakahat “Kajian Fiqih Lengkap”, cet II, (Jakarta: Raja Grafindo, 2010),hlm.36.

Menuju Perkawinan Islami, cetakan I (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 1995), hlm.

Dakwah Aku Menikah, Cetakan III (Talenta Media, 2003), hlm. 135.

l Aziz Muhammad Azzam, Fiqh Munakahat (Jakarta:Amzah,2009), hlm. 174-175.

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Adat “Randa Sahe Kalei Bongi” ...

. 16, No. 1 Maret 2022 | 101 Rasullullah Shalallaahu alaihi wassalam bersabda (HR Bukhari No.1587): Carilah sesuatu Jika tidak mendapati, mahar berupa surat-

seorang mempelai laki dimintai oleh pihak keluarga wanita berupa mahar dengan ketentauan sesuai atau yang artinya menarik sapi laki harusmenyanggupi permintaan dari pihak perempuan sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Hal ini dapat saya bahas lebih Randa Sahe Kalei Bongi sudah ditentukan dan disepakati oleh kedua belah pihak, maka pernikahannya pun sudah Randa Sahe Kalei Bongi sepakatan sudah dipastikan proses pernikahan tidak akan berjalan pada masyarakat pota ini merupakan cirri khas tersendiri dalam melakukan prosesi pernikahan. Dalam penelitian ini ingin mengkaji dengan perspektif hukum Islam.

Disisi lain pada penelitian ini pula akan membahasa mulai dari sejarah dan terhadap masyarakat

Mahar merupakan suatu pemberian dari seorang calon suami atau mempelai pria kepada calon mempelai wanita sebagai tanda kesungguhan dan kerelaan untuk hidup bersama. Begitu pula istri dengan penerimaan mahar maka menyatakan persetujuannya ngkan istilah mahar atau maskawin telah dipahami maknanya sampai masyarakat awam. Mahar diartikan secara terminologis sebagai pemberian wajib dari seorang calon suami kepada calon istri sebagai wujud kesanggupan dan ketulusan Penjelasan lain adalah pembayaran wajib yang dilakukan oleh suami kepada istrinya ketika dilakukan akad nikah sebagai bukti terikatnya seorang wanita lain, mahar diartikan sebagai pemberian wajib dari seroang pria sebagai calon suami kepada wanita yang adalah sesuatu yang wajib sebab nikah atau ilakukan secara paksa seperti menyusui dan ralat para saksi. Mahar Pendapat lain mengatakan laki kepada perempuan karena erikan sebagi bentuk kesungguhan hati untuk meminang dan

”, cet II, (Jakarta: Raja Grafindo, 2010),hlm.36.

Salam, 1995), hlm. 104.

hlm. 135.

(4)

Hikmah Hariyati

102 | Vol. 16, No. 1 Maret 2022

mencintai seorang wanita dan juga sebagai penghormatan kemanusiaan serta wujud ketulusan hati.181

2. Dasar Hukum Mahar

a. berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis

Dasar hukum adanya mahar dalam perkawinan terdiri a

dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad, selain itu di jelaskan oleh para ahli Fikih dan para ulama tentang kewajiban membayar mahar. Dalam Al

berfirman An-Nisã (4). Menurut Wahbah Az

menyebutkan bahwa seorang muslim diwajibkan untuk memberi maskawin kepada perempuan yang ini diperistri. Dalam ayat tersebut mengingatkan kaum muslimin agar menikahi perempuan yang diinginkan dengan izin walinya dan membayar zakat. Dengan begitu dapat diartikan

yang penting dalam pernikahan dalam Islam, apabila sebuah maskawin terpenuhi maka pernikahan tersebut kurang sempurna.

Al-Qur’an mewajibkan mahar tidak hanya kepada pernikahan muslim dengan muslim, akan tetapi

muslim dan ahlul kitab (perempuan Yahudi dan Nasrani). Firman Allah dalam Al Qur’an surat Al-Mãidah:5. Menurut

menjelaskan bahwa mahar tidak diwajibkan atas muslim berlaku pada perempuan yang ahlul kitab.

Adapun hadits yang menjadi dasar hukum adanya mahar dalam perkawinan, yaitu pada hadist yang diriwatkan oleh Bukhari nomor

nomor.1425 184 Dari Hadits tersebut menjelaskan ba walau hanya dengan menghafal al

ummatnya dalam perkawinan (mahar). Rasulullah mengizinkan ummatnya dengan memberikan mahar dengan menggunakan hafalan al

yang dia inginkan, akan tetapi itu disebabkan oleh ia yang tidak punya kemampuan untuk mendapatkan mahar selain hafalan Qur’an.

Menurut Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Ibnu Al

“Hadits diatas menjelaskan bahwa mahar tersebut adalah hak seorang istri wanita shaleh yang disebutkan dalam hadits cukup puas dengan laki paling tidak memiliki pengetahuan tentang Al

dasar hukum dan sebagai dalil bahwa kedudukan mahar perkawinan hukumnya wajib bagi laki-laki ya

dinikahinya. Pada hadits diatas tidak dikemukakan tentang bentuk dan jumlah mahar. Perihal jenis dan jumlah suatu mahar ditentukan berdasarkan kesepakatan

181 Husein Muhammad, Fiqh Perempuan, (Yogyakarta:Lkis, 2012),hlm. 148.

182 An-Nisã(4):4 Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az surat-an-nisa-ayat-4.html

183 Al-Mãidah(5):5,Tafsir Al-Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az al-maidah-ayat-5.html

184 Hadist Riwayat Bukhari, terjemah Bassam, Alih bahasa Umar Mujtahid, Qura, 2013) Hadits- 311, hlm.

Vol. 16, No. 1 Maret 2022

mencintai seorang wanita dan juga sebagai penghormatan kemanusiaan serta wujud

Dasar Hukum Mahar

Qur’an dan Hadis

Dasar hukum adanya mahar dalam perkawinan terdiri atas dasar firman Allah Qur’an dan hadits Nabi Muhammad, selain itu di jelaskan oleh para ahli Fikih dan para ulama tentang kewajiban membayar mahar. Dalam Al

Nisã (4). Menurut Wahbah Az-Zuhaili surat An

utkan bahwa seorang muslim diwajibkan untuk memberi maskawin kepada perempuan yang ini diperistri. Dalam ayat tersebut mengingatkan kaum muslimin agar menikahi perempuan yang diinginkan dengan izin walinya dan membayar zakat. Dengan begitu dapat diartikan bahwa maskawin merupakan salah satu unsur yang penting dalam pernikahan dalam Islam, apabila sebuah maskawin terpenuhi maka pernikahan tersebut kurang sempurna.182

Qur’an mewajibkan mahar tidak hanya kepada pernikahan muslim dengan muslim, akan tetapi juga pernikahan antara perkawinan seorang laki muslim dan ahlul kitab (perempuan Yahudi dan Nasrani). Firman Allah dalam Al

Mãidah:5. Menurut Wahbah Az-Zuhaili pada ayat Al

menjelaskan bahwa mahar tidak diwajibkan atas muslim saja, akan tetapi juga berlaku pada perempuan yang ahlul kitab. 183

Adapun hadits yang menjadi dasar hukum adanya mahar dalam perkawinan, yaitu pada hadist yang diriwatkan oleh Bukhari nomor. 4741 dan muslim Dari Hadits tersebut menjelaskan bahwa diwajibkannya mahar walau hanya dengan menghafal al-Qur’an. Rasulullah tidak memberatkan ummatnya dalam perkawinan (mahar). Rasulullah mengizinkan ummatnya dengan memberikan mahar dengan menggunakan hafalan al-Qur’an untuk menikahi wanita nkan, akan tetapi itu disebabkan oleh ia yang tidak punya kemampuan untuk mendapatkan mahar selain hafalan Qur’an.

Menurut Imam Abu Hanifah, Imam Malik dan Ibnu Al-Qayim berpendapat

“Hadits diatas menjelaskan bahwa mahar tersebut adalah hak seorang istri wanita shaleh yang disebutkan dalam hadits cukup puas dengan laki

paling tidak memiliki pengetahuan tentang Al-Qur’an. Hadits tersebut dijadikan dasar hukum dan sebagai dalil bahwa kedudukan mahar perkawinan hukumnya laki yang harus dibayarkan kepada perempuan yang hendak dinikahinya. Pada hadits diatas tidak dikemukakan tentang bentuk dan jumlah mahar. Perihal jenis dan jumlah suatu mahar ditentukan berdasarkan kesepakatan

Perempuan, Refleksi Kiai atas Wacana Agama dan Gender”, cet 148.

Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili Referensi: https://tafsirweb.com/1536 Wajiz / Syaikh Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili Referensi: https://tafsirweb.com/1889

terjemah bulughul maram, no. 4741 dan Muslim, no. 1425, Mujtahid, Kitab Fikih Hadits Bukhari-Muslim”, Cet I (Jakarta Timur:

912.

mencintai seorang wanita dan juga sebagai penghormatan kemanusiaan serta wujud

tas dasar firman Allah Qur’an dan hadits Nabi Muhammad, selain itu di jelaskan oleh para ahli Fikih dan para ulama tentang kewajiban membayar mahar. Dalam Al-Qur’an Allah Zuhaili surat An-Nisã ayat 4 utkan bahwa seorang muslim diwajibkan untuk memberi maskawin kepada perempuan yang ini diperistri. Dalam ayat tersebut mengingatkan kaum muslimin agar menikahi perempuan yang diinginkan dengan izin walinya dan membayar bahwa maskawin merupakan salah satu unsur yang penting dalam pernikahan dalam Islam, apabila sebuah maskawin terpenuhi Qur’an mewajibkan mahar tidak hanya kepada pernikahan muslim juga pernikahan antara perkawinan seorang laki-laki muslim dan ahlul kitab (perempuan Yahudi dan Nasrani). Firman Allah dalam Al-

pada ayat Al-Mãidah:5 saja, akan tetapi juga Adapun hadits yang menjadi dasar hukum adanya mahar dalam perkawinan, 4741 dan muslim hwa diwajibkannya mahar Qur’an. Rasulullah tidak memberatkan ummatnya dalam perkawinan (mahar). Rasulullah mengizinkan ummatnya dengan Qur’an untuk menikahi wanita nkan, akan tetapi itu disebabkan oleh ia yang tidak punya kemampuan Qayim berpendapat

“Hadits diatas menjelaskan bahwa mahar tersebut adalah hak seorang istri, dan wanita shaleh yang disebutkan dalam hadits cukup puas dengan laki-laki yang Qur’an. Hadits tersebut dijadikan dasar hukum dan sebagai dalil bahwa kedudukan mahar perkawinan hukumnya ng harus dibayarkan kepada perempuan yang hendak dinikahinya. Pada hadits diatas tidak dikemukakan tentang bentuk dan jumlah mahar. Perihal jenis dan jumlah suatu mahar ditentukan berdasarkan kesepakatan

”, cet VI Zuhaili Referensi: https://tafsirweb.com/1536-

https://tafsirweb.com/1889-surat- 1425, Abdullah Al (Jakarta Timur: Ummul

(5)

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Adat “Randa Sahe Kalei Bongi”

bersama antara mempelai pria dan mempelai wanita. Ap

meminta mahar yang sederhana dan murah dan tidak menyusahkan bagi mempelai pria maka wanita tersebut merupakan sebaik

hidup.185

b. Menurut para Ulama dan Ahlul fiqh

Hampir semua ulama sepakat tentang maha

mempelai pria yang diberikan kepada mempelai wanita baik secara langsung (kontan) maupun tidak langsung (tempo). Perihal pembayaran mahar harus sesuai dengan kesepakatan pada saat akad perkawinan. Dan tidak benar apabila seorang mempelai pria mengurangi, namun apabila seorang mempelai pria menambahinya maka hal tersebut lebih baik dan tergolong sebagai sedekah. Terdapat pendapat dari ulama yang menganggap mahar adalah syarat sah dari pernikahan.

Salah satu ulama yang mewajibkan a

mahar sebagai hukum yang wajib ditunaikan oleh seorang suami terhadap istrinya akan tetapi tidak menjadi rukun atau syarat dari pernikahan, sedangkan Imam Maliki mengatakannya sebagai rukun dari perkawinan, maka hukumn

Sedangkan menurut Ibnu Taymiyah mahar merupakan rukun nikah dan apabila meletakan syarat dalam sebuah mahar maka hendaklah untuk dipenuhi. Penjelasan lebih lanjut dari Ibnu Taymiyah menyebutkan bahwa “harta bisa menjadi halal apabila ada gantiny

mahar”. Dalam kitab

mahar merupakan rukun nikah dan menikah harus dengan mahar yang baik.

Dalam buku

bahwa “ mahar merupakan pemberian wajib dari seorang suami, maka seorang istri merupakan penerima hak berupa mahar tersebut” .Dari semua pendapat atas dasar hukum Mahar, keseluruhannya berpendapat bahwa hukum mahar adalah wajib bagi laki-laki yang ingin menikahi perempuan yang dia inginkan dengan suatu barang yang bernilai maupun jasa, selain itu sebagian ulama menempati mahar sebagai syarat sah nya pernikahan, dan sebagian menempatkannya menjadi rukun pernikahan.

Sepakat para ahli fiqih bah menentukan mahar (

sebagaimanayang dijelaskan dalam Al

meski perkawinannya sah, suami belum boleh mencampuri istrinya karena suaminya belum memberikan mahar kepadanya, maskawin wajib diberikan suami kepada istri apabila ingin terjadi campur (

menguranginya sedikitpun.

Islam, yaitu keharusan suami mah

Hak istri menerima mahar,dan seorang suami memiliki tanggung jawab untuk membayarnya. Berikut adalah ketentuan pembayaran mahar :1). Pembayaran mahar

185 Boedini Abdullah,Perkawinan

186 Kamal Mukhtar, Asas-Asas Perkawinan

187 Kamal Muchtar,Asas-Asas Hukum

188 Qs. Al-Baqarah (2):237, Departemen

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Adat “Randa Sahe Kalei Bongi”

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | bersama antara mempelai pria dan mempelai wanita. Apabila seorang wanita meminta mahar yang sederhana dan murah dan tidak menyusahkan bagi mempelai pria maka wanita tersebut merupakan sebaik-baiknya wanita sebagai pendamping

Menurut para Ulama dan Ahlul fiqh

Hampir semua ulama sepakat tentang mahar itu merupakan kewajiban mempelai pria yang diberikan kepada mempelai wanita baik secara langsung (kontan) maupun tidak langsung (tempo). Perihal pembayaran mahar harus sesuai dengan kesepakatan pada saat akad perkawinan. Dan tidak benar apabila seorang empelai pria mengurangi, namun apabila seorang mempelai pria menambahinya maka hal tersebut lebih baik dan tergolong sebagai sedekah. Terdapat pendapat dari ulama yang menganggap mahar adalah syarat sah dari pernikahan.186

Salah satu ulama yang mewajibkan adalah Imam Syafi’i, beliau menetapkan mahar sebagai hukum yang wajib ditunaikan oleh seorang suami terhadap istrinya akan tetapi tidak menjadi rukun atau syarat dari pernikahan, sedangkan Imam Maliki mengatakannya sebagai rukun dari perkawinan, maka hukumn

Sedangkan menurut Ibnu Taymiyah mahar merupakan rukun nikah dan apabila meletakan syarat dalam sebuah mahar maka hendaklah untuk dipenuhi. Penjelasan lebih lanjut dari Ibnu Taymiyah menyebutkan bahwa “harta bisa menjadi halal apabila ada gantinya”, “akan tetapi Faraj tidak bisa dihalalkan kecuali dengan mahar”. Dalam kitab majmu’ al fatawa, Ibnu Taymiyah juga menjelaskan bahwa mahar merupakan rukun nikah dan menikah harus dengan mahar yang baik.

Dalam buku Fatwa-Fatwa Kontemporer, Yusuf Qardha

bahwa “ mahar merupakan pemberian wajib dari seorang suami, maka seorang istri merupakan penerima hak berupa mahar tersebut” .Dari semua pendapat atas dasar hukum Mahar, keseluruhannya berpendapat bahwa hukum mahar adalah wajib bagi i yang ingin menikahi perempuan yang dia inginkan dengan suatu barang yang bernilai maupun jasa, selain itu sebagian ulama menempati mahar sebagai syarat sah nya pernikahan, dan sebagian menempatkannya menjadi rukun Sepakat para ahli fiqih bahwa apabila akad nikah dilaksanakan tanpa menentukan mahar (nikah tafwidh) hukumnya boleh dan nikahnya sah, sebagaimanayang dijelaskan dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah 2:237. Akan tetapi, meski perkawinannya sah, suami belum boleh mencampuri istrinya karena suaminya belum memberikan mahar kepadanya, maskawin wajib diberikan suami kepada istri apabila ingin terjadi campur (dukhul), dan suami tidak boleh menguranginya sedikitpun.188Mahar merupakan kebiasaan yang dilegalisasi oleh Islam, yaitu keharusan suami mahar tersebut baik secara kontan atau tidak kontan.

Hak istri menerima mahar,dan seorang suami memiliki tanggung jawab untuk membayarnya. Berikut adalah ketentuan pembayaran mahar :1). Pembayaran mahar

Perkawinan dan Perceraian Keluarga Muslim, (Bandung: Pustaka Setia), Perkawinan tentang Islam, (Jakarta:Bulan Bintang,1974), hlm. 82.

Hukum Islamtentang Perkawinan, (Jakarta:Bulan Bintang, 1974), hlm.

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya.

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Adat “Randa Sahe Kalei Bongi” ...

. 16, No. 1 Maret 2022 | 103 abila seorang wanita meminta mahar yang sederhana dan murah dan tidak menyusahkan bagi mempelai baiknya wanita sebagai pendamping

r itu merupakan kewajiban mempelai pria yang diberikan kepada mempelai wanita baik secara langsung (kontan) maupun tidak langsung (tempo). Perihal pembayaran mahar harus sesuai dengan kesepakatan pada saat akad perkawinan. Dan tidak benar apabila seorang empelai pria mengurangi, namun apabila seorang mempelai pria menambahinya maka hal tersebut lebih baik dan tergolong sebagai sedekah. Terdapat pendapat dari

186

dalah Imam Syafi’i, beliau menetapkan mahar sebagai hukum yang wajib ditunaikan oleh seorang suami terhadap istrinya akan tetapi tidak menjadi rukun atau syarat dari pernikahan, sedangkan Imam Maliki mengatakannya sebagai rukun dari perkawinan, maka hukumnya wajib.

Sedangkan menurut Ibnu Taymiyah mahar merupakan rukun nikah dan apabila meletakan syarat dalam sebuah mahar maka hendaklah untuk dipenuhi. Penjelasan lebih lanjut dari Ibnu Taymiyah menyebutkan bahwa “harta bisa menjadi halal tidak bisa dihalalkan kecuali dengan , Ibnu Taymiyah juga menjelaskan bahwa mahar merupakan rukun nikah dan menikah harus dengan mahar yang baik.187

Yusuf Qardhawi menjelaskan bahwa “ mahar merupakan pemberian wajib dari seorang suami, maka seorang istri merupakan penerima hak berupa mahar tersebut” .Dari semua pendapat atas dasar hukum Mahar, keseluruhannya berpendapat bahwa hukum mahar adalah wajib bagi i yang ingin menikahi perempuan yang dia inginkan dengan suatu barang yang bernilai maupun jasa, selain itu sebagian ulama menempati mahar sebagai syarat sah nya pernikahan, dan sebagian menempatkannya menjadi rukun wa apabila akad nikah dilaksanakan tanpa ) hukumnya boleh dan nikahnya sah, Baqarah 2:237. Akan tetapi, meski perkawinannya sah, suami belum boleh mencampuri istrinya karena suaminya belum memberikan mahar kepadanya, maskawin wajib diberikan suami ), dan suami tidak boleh Mahar merupakan kebiasaan yang dilegalisasi oleh ar tersebut baik secara kontan atau tidak kontan.

Hak istri menerima mahar,dan seorang suami memiliki tanggung jawab untuk membayarnya. Berikut adalah ketentuan pembayaran mahar :1). Pembayaran mahar

Setia), hlm. 79-80.

Bintang,1974), hlm. 82.

1974), hlm. 86.

(6)

Hikmah Hariyati

104 | Vol. 16, No. 1 Maret 2022

dengan kontan; 2). Pembayaran mahar dengan metode tanggu

batas waktu tertentu; 3). Pembayaran mahar apabila dicicil harus dilunasi; 4).

Pembayaran mahar dengan uang muka, harus disepakati dan diangsur hingga lunas.189

3. Mahar Adat

Mahar adat merupakan Mahar yang timbul dari suatu kebiasaan mas

setiap suku di Indonesia. Sebelum Islam masuk di Indonesia, mahar adat tersebut sudah ada di setiap suku-suku yang menjalankan mahar adat tersebut. Dari zaman ke zaman mahar adat ini sudah menjadi adat turun temurun bagi seseorang yang ingin m

bahkan sudah menjadi persyaratan mutlak bagi kaum laki

kaum perempuan. Begitupun yang terjadi di masyarakat Pota Nusa Tenggara Timur yang menganut adat Randa Sahe Kalei Bongi

laki-laki yang di minta oleh keluarga dari pihak perempuan.

disepakati oleh kedua belah pihak jika keluarga dari pihak laki

permintaan mahar adat tersebut dari keluarga mempelai perempuan. Bahkan sukses tidaknya pernikahan tersebut akan ditentukan dari mahar adat

jika belum adanya kesepakatan maka pernikahan tersebut akan tersendat meskipun sudah adanya tawar menawar dari pihak laki

Bongi dipengaruhi oleh status

faktor kekayaan, terlebih jika kedua belah pihak memiliki keturunan darah biru atau ningrat. Maka semakin tinggi pula adat

keluarga dari pihak perempuan.

Islam sebagai agama

tidak bertentangan dengan hukum Islamitu sendiri atau bertentangan dengan syariah.

Sebuah adat atau kebiasaan apabila sudah menjadi aturan atau norma yang harus dipatuhi maka adat tersebut

mengakui efektifitas adat dalam inteprertasi hukum. Walaupun pemberian Kalei Bongi tidak ada dalam Hukum Islam, akan tetapi adat

sudah menjadi tradisi yang harus dilakukan pad

tidak bertentangan dengan akidah dan syari’at maka hal ini diperbolehkan atau hukumnya Mubah.

Dalam memahami dan mengistimbathkan, hukum menetapkan beberapa persyaratan untuk diterimanya adat atau

a. Adat atau Urf bernilai maslahat atau manfaat yang dapat diterima oleh akal sehat.

b. Adat atau Urf berlaku umum dan merata dikalanganorang lingkungan adat.

c. Adat atau Urf yang dijadikan sandaran dalam penetapan hukum telah ada (b Hal ini berarti Urf

d. Adat atau Urf tidak bertentangan dengan dalil

189 Abdullah Al Bassam, Alih bahasa Timur: Ummul Qura, 2013) Hadits

190 Husein Muhammad, Fiqh Perempuan

191 Ilham Abas, hak penguasaan ilmu hikum Vol.20 No.2 Agustus

Vol. 16, No. 1 Maret 2022

dengan kontan; 2). Pembayaran mahar dengan metode tangguhan disepakati sampai batas waktu tertentu; 3). Pembayaran mahar apabila dicicil harus dilunasi; 4).

Pembayaran mahar dengan uang muka, harus disepakati dan diangsur hingga

Mahar adat merupakan Mahar yang timbul dari suatu kebiasaan mas

setiap suku di Indonesia. Sebelum Islam masuk di Indonesia, mahar adat tersebut sudah suku yang menjalankan mahar adat tersebut. Dari zaman ke zaman mahar adat ini sudah menjadi adat turun temurun bagi seseorang yang ingin m

bahkan sudah menjadi persyaratan mutlak bagi kaum laki-laki yang ingin meminang kaum perempuan. Begitupun yang terjadi di masyarakat Pota Nusa Tenggara Timur Randa Sahe Kalei Bongiyang mana adat ini dibebankan ke pihak yang di minta oleh keluarga dari pihak perempuan.190 Mahar adat ini akan disepakati oleh kedua belah pihak jika keluarga dari pihak laki-laki telah menyepakati permintaan mahar adat tersebut dari keluarga mempelai perempuan. Bahkan sukses tersebut akan ditentukan dari mahar adat Randa Sahe Kalei Bongi, jika belum adanya kesepakatan maka pernikahan tersebut akan tersendat meskipun sudah adanya tawar menawar dari pihak laki-laki. Tingginya adat Randa Sahe Kalei dipengaruhi oleh status sosial atau derajat, tingkat pendidikan, strata sosial, faktor kekayaan, terlebih jika kedua belah pihak memiliki keturunan darah biru atau ningrat. Maka semakin tinggi pula adat Randa Sahe Kalei Bongiyang diminta oleh keluarga dari pihak perempuan.191

sebagai agama rahmatal lil alamin menerima budaya dan adat selama tidak bertentangan dengan hukum Islamitu sendiri atau bertentangan dengan syariah.

Sebuah adat atau kebiasaan apabila sudah menjadi aturan atau norma yang harus dipatuhi maka adat tersebut dapat dijadikan pijakan dalam hukum Islam yang mengakui efektifitas adat dalam inteprertasi hukum. Walaupun pemberian

tidak ada dalam Hukum Islam, akan tetapi adat Randa Sahe Kalei Bongi sudah menjadi tradisi yang harus dilakukan pada masyarakat Pota, dan selama hal ini tidak bertentangan dengan akidah dan syari’at maka hal ini diperbolehkan atau Dalam memahami dan mengistimbathkan, hukum menetapkan beberapa persyaratan untuk diterimanya adat atau Urf dalam Hukum Islamyaitu:

bernilai maslahat atau manfaat yang dapat diterima oleh akal sehat.

berlaku umum dan merata dikalanganorang-orang yang berada dalam yang dijadikan sandaran dalam penetapan hukum telah ada (b

Urf harus telah ada sebelum penetapan hukum.

tidak bertentangan dengan dalil Syara’ atau prinsip syara’

bahasa Umar Mujtahid, Kitab Fikih Hadits Bukhari-Muslim”, Hadits- 311, hlm. 912.

Perempuan (Yogyakarta: Lkis, 2010), hlm 8

Isteri terhadap mahar sompa perkawinan adat bugis Makassar, Agustus 2018

han disepakati sampai batas waktu tertentu; 3). Pembayaran mahar apabila dicicil harus dilunasi; 4).

Pembayaran mahar dengan uang muka, harus disepakati dan diangsur hingga

Mahar adat merupakan Mahar yang timbul dari suatu kebiasaan masyarakat dari setiap suku di Indonesia. Sebelum Islam masuk di Indonesia, mahar adat tersebut sudah suku yang menjalankan mahar adat tersebut. Dari zaman ke zaman mahar adat ini sudah menjadi adat turun temurun bagi seseorang yang ingin menikah, laki yang ingin meminang kaum perempuan. Begitupun yang terjadi di masyarakat Pota Nusa Tenggara Timur yang mana adat ini dibebankan ke pihak Mahar adat ini akan laki telah menyepakati permintaan mahar adat tersebut dari keluarga mempelai perempuan. Bahkan sukses Randa Sahe Kalei Bongi, jika belum adanya kesepakatan maka pernikahan tersebut akan tersendat meskipun Randa Sahe Kalei sosial atau derajat, tingkat pendidikan, strata sosial, faktor kekayaan, terlebih jika kedua belah pihak memiliki keturunan darah biru atau yang diminta oleh menerima budaya dan adat selama tidak bertentangan dengan hukum Islamitu sendiri atau bertentangan dengan syariah.

Sebuah adat atau kebiasaan apabila sudah menjadi aturan atau norma yang harus dapat dijadikan pijakan dalam hukum Islam yang mengakui efektifitas adat dalam inteprertasi hukum. Walaupun pemberian Randa Sahe Randa Sahe Kalei Bongi a masyarakat Pota, dan selama hal ini tidak bertentangan dengan akidah dan syari’at maka hal ini diperbolehkan atau Dalam memahami dan mengistimbathkan, hukum menetapkan beberapa

yaitu:

bernilai maslahat atau manfaat yang dapat diterima oleh akal sehat.

orang yang berada dalam yang dijadikan sandaran dalam penetapan hukum telah ada (berlaku).

syara’ yang pasti.

”, Cet I (Jakarta

Makassar, kaun jurnal

(7)

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Adat “Randa Sahe Kalei Bongi”

e. Adat atau Urf harus termasuk ajaran Al-Qur’an da

Adat Randa Sahe

syarat-syarat diatas, sehingga tradisi adat

oleh masyarakat khususnya masyarakat Pota Nusa Tenggara Timur.

4. Syarat-Syarat Mahar

Ketentuan atau syarat mahar adalah sebagai berikut :

a. Mahar Merupakan harta berharga. Mahar dianggap tidak sah apabila bukan merupakan barang berharga meskipun tidak ada ketentuan perihal sedikit banyaknya mahar. Meski sedikit, mahar dianggap sah apab

b. Mahar merupakan barang yang suci dan bisa diambil manfaaatnya. Dan tidak sah apabila mahar yang diberikan berupa khamar,babi, atau darah dan semua barang apaun yang dianggap haram menurut Islam,

c. Mahar bukan merupakan barang Ghasab. Yang

barang yang diambil tanpa izin namun akan diniatkan untuk dikembalikan kelak.

Memberikan mahar berupa barang ghasab tidak sah namun akadnya tetap sah d. Mahar bukan barang yang tidak jelas. Yang dimakud dengan barang yang tidak

jelas adalah barang yang tidak jelas keadaanya atau tidak disebutkan jenisnya.

Ketentuan barang diatas merupakan syarat barang yang dapat dijadikan mahar namun terdapat suatu hal yang dapat merusak atau menggugurkan mahar, yaitu sebagai berikut : a).Mahar digabungkan dengan jual beli; b).Cacat mahar; c).Persyaratan dalam mahar; d).Menggabungkan mahar dengan pemberian; d).Barang tidak boleh dimiliki.

Terdapat pro kontra di kalangan beberapa ulama tentang gugurnya suatu mahar yang ada pada poin 4 yaitu me

dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah dan pengikutnya yang berpendapat bahwa syarat tersebut bisa dibenarkan dan mahar tersebut menjadi sah. Pendapat berbeda dikemukakan oleh Imam Syafii, bahwa mahar ter

didapatkan oleh mempelai wanita merupakan mahar

malik berpendapat “apabila persyaratan itu dilakukan ketuka akad maka pemberian mahar itu menjadi milik mempelai wanita, namun apabila persy

setelah akad maka pemberian mahar tersebut menjadi milik ayah 5. Hikmah Disyari’atkan Mahar

Hikmah diwajibkannya Mahar adalah Islam begitu memuliakan perempuan, menunjukan perempuan memiliki hak atas apa yang menjadi kedudukannya dima Allah. Mahar yang ditunaikan dijadikan simbol kesungguhan, kecintaan, kerelaan sang laki-laki untuk meminang perempuan yang akan dijadikan pasangan sehidup semati.

Pemberian mahar dalam hukum Islambukanlah proses jual beli antara pihak laki dan keluarga perempuan, melainkan mahar hanya sebagai tanda kemuliaan pengangkatan derajat perempuan. Pemberian mahar merupakan kewajiban atas suami

192 Subli, problematika penentuan raya, Jurnal studi agama dan masyarakat

193 M.A. Tamimi, Fikih Munakahat,KajianFikihLengkap,

194 Ibid, hlm. 48 -50

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Adat “Randa Sahe Kalei Bongi”

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | harus termasuk Urf yang shahih dalam arti tidak bertentangan dengan Qur’an dan Sunnah Rasulullah.

Randa Sahe Kalei Bongi dalam perkawinan masyarakat Pota memenuhi syarat diatas, sehingga tradisi adat Randa Sahe Kalei Bongi boleh dilaksanakan oleh masyarakat khususnya masyarakat Pota Nusa Tenggara Timur.192

Mahar

Ketentuan atau syarat mahar adalah sebagai berikut :

Mahar Merupakan harta berharga. Mahar dianggap tidak sah apabila bukan merupakan barang berharga meskipun tidak ada ketentuan perihal sedikit banyaknya mahar. Meski sedikit, mahar dianggap sah apabila memiliki nilai.

Mahar merupakan barang yang suci dan bisa diambil manfaaatnya. Dan tidak sah apabila mahar yang diberikan berupa khamar,babi, atau darah dan semua barang apaun yang dianggap haram menurut Islam,

Mahar bukan merupakan barang Ghasab. Yang dimaksud dengan ghasab adalah barang yang diambil tanpa izin namun akan diniatkan untuk dikembalikan kelak.

Memberikan mahar berupa barang ghasab tidak sah namun akadnya tetap sah Mahar bukan barang yang tidak jelas. Yang dimakud dengan barang yang tidak jelas adalah barang yang tidak jelas keadaanya atau tidak disebutkan jenisnya.

Ketentuan barang diatas merupakan syarat barang yang dapat dijadikan mahar namun terdapat suatu hal yang dapat merusak atau menggugurkan mahar, yaitu sebagai r digabungkan dengan jual beli; b).Cacat mahar; c).Persyaratan dalam mahar; d).Menggabungkan mahar dengan pemberian; d).Barang tidak boleh dimiliki.

Terdapat pro kontra di kalangan beberapa ulama tentang gugurnya suatu mahar yang ada pada poin 4 yaitu menggabungkan mahar dengan pemberian. Salah satu pendapat dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah dan pengikutnya yang berpendapat bahwa syarat tersebut bisa dibenarkan dan mahar tersebut menjadi sah. Pendapat berbeda dikemukakan oleh Imam Syafii, bahwa mahar tersebut telah rusak dan mahar yang didapatkan oleh mempelai wanita merupakan mahar mitsli. Perihal ketentuan ini Imam malik berpendapat “apabila persyaratan itu dilakukan ketuka akad maka pemberian mahar itu menjadi milik mempelai wanita, namun apabila persyaratan itu dikemukakan setelah akad maka pemberian mahar tersebut menjadi milik ayah.

Hikmah Disyari’atkan Mahar

Hikmah diwajibkannya Mahar adalah Islam begitu memuliakan perempuan, menunjukan perempuan memiliki hak atas apa yang menjadi kedudukannya dima Allah. Mahar yang ditunaikan dijadikan simbol kesungguhan, kecintaan, kerelaan sang

laki untuk meminang perempuan yang akan dijadikan pasangan sehidup semati.

Pemberian mahar dalam hukum Islambukanlah proses jual beli antara pihak laki uarga perempuan, melainkan mahar hanya sebagai tanda kemuliaan pengangkatan derajat perempuan. Pemberian mahar merupakan kewajiban atas suami

penentuan jujuran di desa muara sumpoi, kecamatan murung kabupaten murung masyarakat Vol . 11 No. 2 Desember 2015

Fikih Munakahat,KajianFikihLengkap, cet II (Jakarta:Raja Grafindo,2010),

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Adat “Randa Sahe Kalei Bongi” ...

. 16, No. 1 Maret 2022 | 105 yang shahih dalam arti tidak bertentangan dengan dalam perkawinan masyarakat Pota memenuhi boleh dilaksanakan

Mahar Merupakan harta berharga. Mahar dianggap tidak sah apabila bukan merupakan barang berharga meskipun tidak ada ketentuan perihal sedikit

ila memiliki nilai.

Mahar merupakan barang yang suci dan bisa diambil manfaaatnya. Dan tidak sah apabila mahar yang diberikan berupa khamar,babi, atau darah dan semua barang dimaksud dengan ghasab adalah barang yang diambil tanpa izin namun akan diniatkan untuk dikembalikan kelak.

Memberikan mahar berupa barang ghasab tidak sah namun akadnya tetap sah Mahar bukan barang yang tidak jelas. Yang dimakud dengan barang yang tidak jelas adalah barang yang tidak jelas keadaanya atau tidak disebutkan jenisnya.193

Ketentuan barang diatas merupakan syarat barang yang dapat dijadikan mahar namun terdapat suatu hal yang dapat merusak atau menggugurkan mahar, yaitu sebagai r digabungkan dengan jual beli; b).Cacat mahar; c).Persyaratan dalam mahar; d).Menggabungkan mahar dengan pemberian; d).Barang tidak boleh dimiliki.194 Terdapat pro kontra di kalangan beberapa ulama tentang gugurnya suatu mahar yang

nggabungkan mahar dengan pemberian. Salah satu pendapat dikemukakan oleh Imam Abu Hanifah dan pengikutnya yang berpendapat bahwa syarat tersebut bisa dibenarkan dan mahar tersebut menjadi sah. Pendapat berbeda

sebut telah rusak dan mahar yang . Perihal ketentuan ini Imam malik berpendapat “apabila persyaratan itu dilakukan ketuka akad maka pemberian aratan itu dikemukakan

Hikmah diwajibkannya Mahar adalah Islam begitu memuliakan perempuan, menunjukan perempuan memiliki hak atas apa yang menjadi kedudukannya dimata Allah. Mahar yang ditunaikan dijadikan simbol kesungguhan, kecintaan, kerelaan sang laki untuk meminang perempuan yang akan dijadikan pasangan sehidup semati.

Pemberian mahar dalam hukum Islambukanlah proses jual beli antara pihak laki-laki uarga perempuan, melainkan mahar hanya sebagai tanda kemuliaan pengangkatan derajat perempuan. Pemberian mahar merupakan kewajiban atas suami

kabupaten murung hlm. 39-40.

(8)

Hikmah Hariyati

106 | Vol. 16, No. 1 Maret 2022

kepada istrinya, bukan berarti bahwa dengan pemberian mahar suami berhak melakukan apa saja, melainkan mereka sama

mawahdah warahmah

sebagai suami istri. Mahar yang diberikan boleh berupa apa saja, akan tetapi harus bersifat memiliki nilai. Mahar yang diberikan dengan kerelaan

merupakan hak dari calon istrinya, calon suami berhak memilih melalui kesepakatan.

Besar atau kecilnya mahar akan tergantung dari kesepakatan antara kedua pihak.

Rasulullah menganjurkan untuk memberikan mahar dengan sederhana, dengan tidak memberatkan pihak laki

mahar merupakan hak dari wanita dan penggunaanya merupakan kuasa dari wanita.

Perihal wanita menerima mahar berupa ilmu dan agama atau bahkan pengajaran Al Qur’an maka hal tersebut merupakan hal yang berharga. Akan tetapi tidak ada akad jika tidak ada mahar. 195

6. Adat Randa Sahe Kalei Bongi Menurut Bahasa

artinya Randa yaitu tarik,

Menurut istilahRanda sahe kalei bongi mana keluarga mempelai laki

bumi dan segala macam rempah

pemberian dan penerimaan adat inidisambut dengan tarian

khas dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Jadi secara umum

Bongi adalah tahapan praktik adat masyarakat Pota dalam prosesi perkawinan dimana pihak keluarga laki

melaksanakan acara perkawinan.

Masyarakat Potamenganggap adat tersebut semata

persyaratan untuk melangsungkan pernikahan yang mana menunjukan suatu sifat gotong royong adat Pota dan pemberian tersebut nantinya akan di pergunakan dalam acara perkawinan tersebut.

ditinggalkan oleh nenek moyang masyarakat Pota, yang alasan utama selain sebagai pola gotong royong adalah menyeder

a. Praktik Adat Randa Sahe Kalei Bongi Masyarakat Pota Nusa Tenggara Timur Praktek Randa Sahe Kalei Bongi

dilaksnakan oleh masyarakat Pota. Akan tetapi dengan perkembangan zaman kebiasaan ini pun mula

orang-orang yang berekonomi menengah keatas.Hal ini dikarenakan banyaknya prosesi yang harus dilewati dan membutuhkan banyak biaya.

dalam bentuk Randa Sahe Kalei Bongi adapun prosesi kebiasaan

Tenggara Timur, adalah sebagai berikut:

1). Lampa Dou

195 Muhammad Thalib, 40 Petunjuk

196 Wawancara Dengan Kepala Adat Bapak H. Syafrudin, Desa Pota, Manggarai Timur, Tanggal 28 april 2019

197 Ibid

Vol. 16, No. 1 Maret 2022

kepada istrinya, bukan berarti bahwa dengan pemberian mahar suami berhak melakukan apa saja, melainkan mereka sama-sama membangun keluarga yang

mawahdah warahmah, dengan sama-sama menjalankan hak dan kewajiban mereka sebagai suami istri. Mahar yang diberikan boleh berupa apa saja, akan tetapi harus bersifat memiliki nilai. Mahar yang diberikan dengan kerelaan hati seorang laki merupakan hak dari calon istrinya, calon suami berhak memilih melalui kesepakatan.

Besar atau kecilnya mahar akan tergantung dari kesepakatan antara kedua pihak.

Rasulullah menganjurkan untuk memberikan mahar dengan sederhana, dengan

tidak memberatkan pihak laki-laki dan tidak menjadi halangan untuk menikah. Intinya mahar merupakan hak dari wanita dan penggunaanya merupakan kuasa dari wanita.

Perihal wanita menerima mahar berupa ilmu dan agama atau bahkan pengajaran Al aka hal tersebut merupakan hal yang berharga. Akan tetapi tidak ada akad

195

Randa Sahe Kalei Bongi

Menurut Bahasa Randa sahe kalei bongi di ambil dari bahasa Bima (adat) yang yaitu tarik, sahe yaitu kerbau,kalei yaitu dijinjing, bongi

Randa sahe kalei bongi adalah tahap pada prosesi perkawinanyang mana keluarga mempelai laki-laki menarik kerbau dan membawa atau menjinjing hasil bumi dan segala macam rempah-rempah ke rumah mempelai perempua

pemberian dan penerimaan adat inidisambut dengan tarian Caciyang merupakan tarian khas dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Jadi secara umumRanda Sahe Kalei adalah tahapan praktik adat masyarakat Pota dalam prosesi perkawinan dimana keluarga laki-laki menyiapkan hewan dan hasil bumi dalam rangka melaksanakan acara perkawinan.

Masyarakat Potamenganggap adat tersebut semata-mata hanya untuk memenuhi persyaratan untuk melangsungkan pernikahan yang mana menunjukan suatu sifat g adat Pota dan pemberian tersebut nantinya akan di pergunakan dalam acara perkawinan tersebut. Randa Sahe Kalei Bongi adalah kebiasaan yang ditinggalkan oleh nenek moyang masyarakat Pota, yang alasan utama selain sebagai pola gotong royong adalah menyederhanakan nilai uang.196

Praktik Adat Randa Sahe Kalei Bongi Masyarakat Pota Nusa Tenggara Timur Randa Sahe Kalei Bongi merupakan prosesi yang turun temurun dilaksnakan oleh masyarakat Pota. Akan tetapi dengan perkembangan zaman kebiasaan ini pun mulai bergeser. Kebiasaan ini hanya dapat dilaksnakan oleh orang yang berekonomi menengah keatas.Hal ini dikarenakan banyaknya prosesi yang harus dilewati dan membutuhkan banyak biaya.197Pemberian barang Randa Sahe Kalei Bongi ini merupakan rentetan sebelum akad nikah, adapun prosesi kebiasaan Randa Sahe Kalei Bongi di Masyarakat Pota Nusa Tenggara Timur, adalah sebagai berikut:

Petunjuk Menuju Perkawinan Islami, Cet I(Bandung: IBS, 1995), hlm.

Wawancara Dengan Kepala Adat Bapak H. Syafrudin, Desa Pota, Manggarai Timur, Nusa

kepada istrinya, bukan berarti bahwa dengan pemberian mahar suami berhak sama membangun keluarga yang sakinah sama menjalankan hak dan kewajiban mereka sebagai suami istri. Mahar yang diberikan boleh berupa apa saja, akan tetapi harus hati seorang laki-laki merupakan hak dari calon istrinya, calon suami berhak memilih melalui kesepakatan.

Besar atau kecilnya mahar akan tergantung dari kesepakatan antara kedua pihak.

Rasulullah menganjurkan untuk memberikan mahar dengan sederhana, dengan maksud laki dan tidak menjadi halangan untuk menikah. Intinya mahar merupakan hak dari wanita dan penggunaanya merupakan kuasa dari wanita.

Perihal wanita menerima mahar berupa ilmu dan agama atau bahkan pengajaran Al- aka hal tersebut merupakan hal yang berharga. Akan tetapi tidak ada akad

di ambil dari bahasa Bima (adat) yang bongi yaitu beras.

adalah tahap pada prosesi perkawinanyang laki menarik kerbau dan membawa atau menjinjing hasil rempah ke rumah mempelai perempuan. Prosesi yang merupakan tarian Randa Sahe Kalei adalah tahapan praktik adat masyarakat Pota dalam prosesi perkawinan dimana laki menyiapkan hewan dan hasil bumi dalam rangka mata hanya untuk memenuhi persyaratan untuk melangsungkan pernikahan yang mana menunjukan suatu sifat g adat Pota dan pemberian tersebut nantinya akan di pergunakan dalam adalah kebiasaan yang ditinggalkan oleh nenek moyang masyarakat Pota, yang alasan utama selain sebagai

Praktik Adat Randa Sahe Kalei Bongi Masyarakat Pota Nusa Tenggara Timur merupakan prosesi yang turun temurun dilaksnakan oleh masyarakat Pota. Akan tetapi dengan perkembangan zaman i bergeser. Kebiasaan ini hanya dapat dilaksnakan oleh orang yang berekonomi menengah keatas.Hal ini dikarenakan banyaknya Pemberian barang ntetan sebelum akad nikah, di Masyarakat Pota Nusa

1995), hlm. 109.

Nusa Tenggara Timur,

(9)

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Adat “Randa Sahe Kalei Bongi”

Lampa Dou

pihak laki-laki yang akan melangsungkan

berkunjung ke kediaman keluarga perempuan dan mengirim seseorang untuk melakukan peminangan terhadap perempuan yang ingin dipinang.

merupakan prosesi adat kebiasaan dari masyarakat Pota sebelum acara pernikahan berlangsung. Hal ini bertujuan untuk menemukan jawaban perihal setuju atau tidaknya sebuah pernikahan. Selain itu terdapat musyawarah tentang segala sesuatu yang berkaitan tentang pernikahan.

Setelah terjadi kesepakatan maka dilanjutkan dengan prosesi selan Orang yang dimaksud menjadi perwakilan

penati adalah menjadi mediator dan negosiator calon pengantin laki

menyampaikan maksudnya kepada calon pengantin perempuan. Setiap orang dapat menjadi penati

dapat menyampaikan tujuan dan maksud kedatangan pelamaran. Kesuksesan lampa dou sangat dipengaruhi oleh cara dan kecerdasan mediasi oleh

Dalam prosesi

akan tetapi juga melobi tentang pertunangan/tukar cincin, waktu perkawinan, Randa Sahe Kalei Bongi,

kesepakatan, maka selesai akad nikah.

2). Wi’i Pahu

Wi’i Pahu secara istilah Wi’i Pahu dimana seorang laki serius menuju perkawinan.

dou dan menuju kepada perkawinan.

cincin atau tunangan.

berdasarkan adat kebiasaan masyarakat Pota. Makna secara substansial dar Pahu atau pertunangan ini sama dengan peminangan atau pertunangan dalam Islam. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk upaya mengetahui kesiapaan kedua mempelai satu sama lain. Kesiapan dalam tahap

disebut dengan 3). Gempe

Gempe merupakan adat yang berlaku di kalangan masyarakat Pota, yang mana calon pengantin wanita harus berdiam diri di atas rumah panggung ( taja) sebelum akad nikah dilaksanakan. Calon pengantin perempuan taja sejak acara

siwi. Adapun tujuannya agar calon pengantin perempuan yang telah terjadi ikatan wi’i pahu

4). Ngge’e Nuru Ngge’e Nuru

dimana calon pengantin laki

Tinjauan Hukum Islam Terhadap Adat “Randa Sahe Kalei Bongi”

Vol. 16, No. 1 Maret 2022 | Lampa Dou menurut bahasa adalah Jalan orang. Menurut istilah adalah

laki yang akan melangsungkan lamaran kepada pihak perempuan berkunjung ke kediaman keluarga perempuan dan mengirim seseorang untuk melakukan peminangan terhadap perempuan yang ingin dipinang.

merupakan prosesi adat kebiasaan dari masyarakat Pota sebelum acara langsung. Hal ini bertujuan untuk menemukan jawaban perihal setuju atau tidaknya sebuah pernikahan. Selain itu terdapat musyawarah tentang segala sesuatu yang berkaitan tentang pernikahan.

Setelah terjadi kesepakatan maka dilanjutkan dengan prosesi selan Orang yang dimaksud menjadi perwakilan lampa dou disebut

adalah menjadi mediator dan negosiator calon pengantin laki

menyampaikan maksudnya kepada calon pengantin perempuan. Setiap orang penati, asalkan dia memiliki sifat sabar, tidak mudah emosi, dan dapat menyampaikan tujuan dan maksud kedatangan pelamaran. Kesuksesan

sangat dipengaruhi oleh cara dan kecerdasan mediasi oleh Dalam prosesi lampa dou, penati bukan saja bertugas untuk me akan tetapi juga melobi tentang pertunangan/tukar cincin, waktu perkawinan, Randa Sahe Kalei Bongi, mahar, dan konsep pernikahan. Apabila telah tercapai kesepakatan, maka penati akan mengawasi segala prosesi perkawinan hingga selesai akad nikah.

Wi’i Pahu secara bahasa artinya menyimpan muka. Sedangkan Wi’i Pahu adalah tukar cincin untuk menandakan bahwa tahap dimana seorang laki-laki dan perempuan menjalin ikatan dan perjanjian yang serius menuju perkawinan. Wi’i Pahu merupakan rentetan prosesi setelah

dan menuju kepada perkawinan.Wi’i Pahu sama istilahnya dengan tukar cincin atau tunangan. Wi’i Pahu ini merupakan ritualitas yang dilaksanakan berdasarkan adat kebiasaan masyarakat Pota. Makna secara substansial dar

atau pertunangan ini sama dengan peminangan atau pertunangan dalam Islam. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk upaya mengetahui kesiapaan kedua mempelai satu sama lain. Kesiapan dalam tahap Wi’i Pahu atau pertunangan ini disebut dengan Cafi lombok Kili rafa.

merupakan adat yang berlaku di kalangan masyarakat Pota, yang mana calon pengantin wanita harus berdiam diri di atas rumah panggung (

) sebelum akad nikah dilaksanakan. Calon pengantin perempuan sejak acara ke’boro wekisampai sanak kerabat dari pihak laki

. Adapun tujuannya agar calon pengantin perempuan yang telah terjadi wi’i pahu tidak diganggu dan tertarik dengan laki-laki lain.

Ngge’e Nuru adalah prosesi sebelum acara perkawinan dalam Adat Pota, dimana calon pengantin laki-laki tinggal bersama mertua menunggu sebelum Tinjauan Hukum Islam Terhadap Adat “Randa Sahe Kalei Bongi” ...

. 16, No. 1 Maret 2022 | 107 menurut bahasa adalah Jalan orang. Menurut istilah adalah lamaran kepada pihak perempuan berkunjung ke kediaman keluarga perempuan dan mengirim seseorang untuk melakukan peminangan terhadap perempuan yang ingin dipinang. Lampa dou merupakan prosesi adat kebiasaan dari masyarakat Pota sebelum acara langsung. Hal ini bertujuan untuk menemukan jawaban perihal setuju atau tidaknya sebuah pernikahan. Selain itu terdapat musyawarah tentang Setelah terjadi kesepakatan maka dilanjutkan dengan prosesi selanjutnya.

disebut Penati. Tugas adalah menjadi mediator dan negosiator calon pengantin laki-laki, untuk menyampaikan maksudnya kepada calon pengantin perempuan. Setiap orang n dia memiliki sifat sabar, tidak mudah emosi, dan dapat menyampaikan tujuan dan maksud kedatangan pelamaran. Kesuksesan

sangat dipengaruhi oleh cara dan kecerdasan mediasi oleh penati.

bukan saja bertugas untuk melamar, akan tetapi juga melobi tentang pertunangan/tukar cincin, waktu perkawinan, mahar, dan konsep pernikahan. Apabila telah tercapai akan mengawasi segala prosesi perkawinan hingga

secara bahasa artinya menyimpan muka. Sedangkan adalah tukar cincin untuk menandakan bahwa tahap laki dan perempuan menjalin ikatan dan perjanjian yang pakan rentetan prosesi setelah lampa sama istilahnya dengan tukar ini merupakan ritualitas yang dilaksanakan berdasarkan adat kebiasaan masyarakat Pota. Makna secara substansial dari Wi’i atau pertunangan ini sama dengan peminangan atau pertunangan dalam Islam. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk upaya mengetahui kesiapaan kedua atau pertunangan ini

merupakan adat yang berlaku di kalangan masyarakat Pota, yang mana calon pengantin wanita harus berdiam diri di atas rumah panggung (ese ) sebelum akad nikah dilaksanakan. Calon pengantin perempuan gempe ese sampai sanak kerabat dari pihak laki-laki datang . Adapun tujuannya agar calon pengantin perempuan yang telah terjadi

laki lain.

perkawinan dalam Adat Pota, laki tinggal bersama mertua menunggu sebelum

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis, tradisi perkawinan adat yang masih berlaku di Kampung Naga terdapat penyerapan antara hukum adat dan hukum Islam

dan negatifnya kepada mereka agar mereka tersadarkan dari kebiasaan yang bertentangan dengan prinsip hukum Islam. Tradisi adat menyengsarakan jiwa dan orang lain

Dengan demikian tradisi pitih japuik ini dapat dikatakan tidak bertentangan sama sekali dengan syariat Islam atau hukum Islam, tradisi ini merupakan kebiasaan yang dilakukan

Dengan menempatkan Hukum Islam ke dalam bagian dari Hukum Adat menurut politik hukum kolonial, yang sehubungan dengan pelaksanaan adat perkawinan di daerah

Sungguhpun adat (ur’f) merupakan sesuatu yang penting dalam pembentukan fikih Indonesia, akan tetapi adat (ur’f) yang dimaksud tidak boleh berlawanan dengan prinsip-prisip

Perkawinan Masyarakat Melayu Pengaruh tradisi adat oleh masuknya nilai-nilai keagamaan Islam dalam praktik merisik ini adalah bagian dari konsekuensi logis adanya interaksi

Pandangan hukum adat apabila tradisi bubuwarang tidak dilaksanakan maka berdampak pada penilaian keluarga calon mempelai wanita terhadap status sosial dari keluarga calon mempelai pria

Penelitian yang akan dilakukan berjudul “ Tradisi Paculan Dalam Pernikahan Masyarakat Adat Sunda Menurut Prespektif Hukum Islam Dan Hukum Adat Studi Kasus Tradisi Di Desa Linduk,