A. Tinjauan Teori
1. Remaja
a) Pengertian Remaja
Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2018 remaja adalah masa di mana individu berkembang dari saat pertama kali menunjukkan tdana-tdana seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual, dengan rentang usia 10-19 tahun.
Remaja merupakan masa di mana peralihan dari masa anak- anak ke masa dewasa yang telah meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa. Perubahan perkembangan tersebut meliputi aspek fisik, psikis dan psikososial. Masa remaja merupakan salah satu periode dari perkembangan manusia. Remaja ialah masa perubahan atau peralihan dari anak- anak ke masa dewasa yang meliputi perubahan biologis, perubahan psikologis, dan perubahan sosial (Sofia, A. Adiyanti,2013).
b) Tahapan Remaja
Perkembangan remaja laki-laki biasanya berlangsung pada usia 11 sampai 16 tahun, sedangkan pada remaja perempuan berlangsung pada usia
10 sampai 15 tahun. Perkembangan pada anak perempuan lebih cepat dibandingkan anak laki-laki karena dipengaruhi oleh hormon seksual.
Ada 3 tahap perkembangan remaja berdasarkan proses penyesuaian menuju kedewasaan yaitu :
a) Remaja awal (Early adolescent) umur 12-15 tahun
Seorang remaja pada tahap ini akan mengalami perubahan- perubahan yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan yang akan mengiringi perubahan tersebut, mereka mengembangkan pemikiran-pemikiran baru sehingga cepat tertarik pada lawan jenis, mudah terangsang secara lawan jenis.
b) Remaja madya (middle adolescent) berumur 15-18 tahun
Pada tahap ini remaja membutuhkan teman, remaja senang jika banyak teman yang mengakuinya. Ada kecenderungan untuk mencintai diri sendiri, dengan menyukai teman yang sama seperti dirinya, selain itu ia dalam keadaan bingung karena tidak tahu harus memilih yang mana, peka atau acuh, ramai atau sendiri, optimis atau pesimis, idealis atau materialis, dan segera .
c) Remaja akhir (late adolescent) berumur 18-21 tahun
Tahap ini merupakan di mana masa konsolidasi menuju periode dewasa dan ditandai dengan pencapaian 5 hal yaitu:
i Minat makin yang akan mantap terhadap fungsi intelek.
ii Egonya akan mencari kesempatan untuk bersatu dengan orang lain dan dalam pengalaman-pengalaman baru.
iii Terbentuk identitas seksual yang tidak berubah lagi.
iv Egosentrisme (terlalu mencari perhatian pada diri sendiri) diganti dengan keseimbangan dan kepentingan diri sendiri dengan orang lain.
v Tumbuh “dinding” yang memisahkan diri pribadinya (privateself).
(Soejatiningsih,2010).
2. Pengetahuan
a. Definisi Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil “mengetahui” hal ini terjadi setelah orang merasakan suatu objek tertentu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu indra penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Kholid Ahmad,2012). Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan, di mana diharapkan dengan pendidikan tinggi seseorang akan memiliki pengetahuan yang lebih luas. Namun perlu ditegaskan, bukan berarti seseorang yang berpendidikan rendah memiliki pengetahuan yang sama sekali rendah.
Pengetahuan seseorang tentang suatu objek mengandung dua aspek, yaitu aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini akan menentukan sikap seseorang, semakin banyak aspek positif dan objek yang diketahui maka akan semakin positif sikap terhadap objek tertentu. Menurut teori WHO (word health organization), salah satu bentuk objek kesehatan dapat digambarkan dengan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman sendiri
terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.
Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan raba (Notoatmodjo,2012).
b. Tingkat Pengetahuan
Menurut Kholid Ahmad (2012), dalam domain kognitif berkaitan dengan pengetahuan yang bersifat intelektual (cara berpikir, berinteraksi, analisis, memecahkan masalah dan lain-lain) yang berjenjang sebagai berikut :
1) Tahu (know) adalah mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Untuk mengukur orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain dengan menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan.
2) Memahami (comprehension) adalah kemampuan untuk memahami secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
3) Aplikasi (application) adalah kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang sebenarnya.
4) Analisis (analysis) adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lainnya.
5) Sintesis (synthesis) adalah kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.
6) Evaluasi (evaluation) adalah kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi objek (Notoatmodjo,2012).
c. Faktor Berpengaruh pada Pengetahuan
Menurut Fitriani (2017) adapun beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu :
1) Faktor Internal i Umur
Usia adalah rentang waktu seseorang mulai dari saat ia lahir sampai dengan hari ulang tahunnya. Jika seseorang cukup umur, ia akan memiliki pola pikir dan pengalaman yang matang juga. Umur mempengaruhi daya tangkap sehingga ilmu yang didapat akan lebih baik.
ii Pendidikan
Pendidikan adalah usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung sepanjang hayat.
iii Profesi
Pekerjaan adalah suatu kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh penghasilan guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Pekerjaan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan. Seseorang yang bekerja akan sering berinteraksi dengan orang lain sehingga memiliki pengetahuan yang baik dan bagus juga.
Pengalaman kerja akan memberikan pengetahuan dan keterampilan
serta pengalaman belajar dalam bekerja akan mampu mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang merupakan integrasi penalaran ilmiah.
2) Faktor Eksternal i Sumber Informasi
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media massa seperti televisi, radio, surat kabar, majalah, internet dan lain-lain mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan keyakinan masyarakat.
ii Sosial budaya dan ekonomi
Kebiasaan dan tradisi yang dilakukan seseorang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukannya itu baik atau tidak.
iii Lingkungan
Berpengaruh besar terhadap masuknya proses pengetahuan karena adanya interaksi timbal balik yang akan di respons sebagai pengetahuan.
d. Cara Memperoleh Pengetahuan
Menurut Kholid Ahmad (2012), ada beberapa cara untuk memperoleh pengetahuan, yaitu :
1) Cara tradisional
i Cara Coba Salah (Trial dan Error)
Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila
kemungkinan dua ini gagal pula, maka dicoba dengan kemungkinan yang ketiga, dan apabila kemungkinan ketiga gagal dicoba kemungkinan keempat dan seterusnya, sampai masalah tersebut dapat dipecahkan. Itulah sebabnya maka cara ini disebut metode trial (coba) dan error (gagal atau salah) atau metode salah coba-coba.
ii Cara Kekuasaan Atau Otoritas
Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan- kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan itu baik atau tidak. Kebiasaan- kebiasaan ini biasanya diwariskan turun temurun dari generasi- generasi berikutnya, dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas pemimpin agama, maupun ahli-ahli ilmu pengetahuan. Prinsip ini adalah orang lain menerima pendapat yang dikemukakan oleh orang yang mempunyai otoritas, tanpa terlebih dahulu menguji atau membuktikan kebenarannya, baik berdasarkan fakta empiris atau pun berdasarkan penalaran sendiri. Hal ini disebabkan karena orang yang menerima pendapat tersebut menganggap bahwa yang dikemukakannya adalah benar.
iii Berdasarkan Pengalaman Pribadi
Pengalaman itu adalah guru yang baik, demikianlah bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu
merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan.
iv Melalui Jalan Pikiran
Sejalan dengan perkembangan budaya manusia, cara berpikir manusia juga berkembang. Manusia telah mampu menggunakan akalnya dalam memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, dalam memperoleh kebenaran pengetahuan, manusia telah menggunakan pikirannya, baik melalui induksi maupun deduksi.
2) Cara Modern Dalam Memperoleh Pengetahuan
Cara modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis, dan ilmiah. Cara ini disebut “metode penelitian ilmiah” atau lebih populer disebut metodologi penelitian (research methodology).
e. Pengukuran tingkat pengetahuan
Menurut Yeni (2015), pengukuran tingkat pengetahuan dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu :
1) pengetahuan baik bila responden dapat menjawab 76-100% dengan benar dari total jawaban pertanyaan.
2) pengetahuan cukup bila responden dapat menjawab 56-75% dengan benar dari total jawaban pertanyaan.
3) pengetahuan kurang bila responden dapat menjawab <56% dari total jawaban pertanyaan.
3. Tablet tambah darah
a. Pengertian Tablet tambah darah
Tablet penambah darah atau TTD adalah suplemen zat besi yang mengandung 60 mg zat besi dan 0,25 asam folat. TTD jika diminum secara teratur dan sesuai aturan dapat mencegah dan mengatasi anemia gizi.
Suplemen penambah darah diberikan untuk mencegah remaja putri dari anemia zat besi (Raptauli ,2012). Tablet tambah darah merupakan suplemen yang mengandung zat besi. Zat besi adalah mineral yang dibutuhkan oleh tubuh untuk membentuk sel darah merah (Hemoglobin) (soebroto L ,2014).
Program pemberian suplementasi zat besi atau Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri diharapkan dapat berkontribusi memutus lingkaran malnutrisi antar generasi. Pemerintah Indonesia sejak tahun 1997 telah Wanita Usia Subur (WUS) dengan mengintervensi WUS lebih dini, yaitu sejak usia remaja. Suplemen Zat besi adalah mineral yang dibutuhkan untuk membentuk sel darah merah (hemoglobin). Selain itu, mineral ini juga memiliki peran sebagai komponen untuk membentuk mioglobin (protein yang membawa oksigen ke otot),kolagen (protein yang terdapat di tulang, tulang rawan, dan jaringan penyambung), serta enzim. Zat besi juga berfungsi dalam sistim pertahanan tubuh .
Program ini bertujuan untuk mendukung upaya penurunan angka kematian ibu dengan menurunkan risiko terjadinya perdarahan akibat
anemia pada ibu hamil. Pemberian TTD pada remaja putri yaitu 1 tablet/minggu dan 1 tablet/hari ketika menstruasi (Nuradhiani. et al,2017).
b. Fungsi zat besi
Asupan Zat Besi Menurut Almatsier (2014), zat besi merupakan mikro mineral yang penting dalam pembentukan hemoglobin. Zat besi mempunyai fungsi yang berhubungan dengan pengangkutan, penyimpanan dan pemanfaatan oksigen.
Menurut (Almatsier dan Sunita ,2014) fungsi zat besi antara lain : i Sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan ii Sebagai alat angkut eletron pada metabolisme energi
iii Sebagai enzim pembentuk kekebalan tubuh dan sebagai pelarut obat- obatan.
c. Sumber makanan yang mengandung zat besi
Zat besi dalam makanan berbentuk Fe-heme (sumber protein hewani) dan Fe-non heme ( sumber protein nabati ). Zat besi dari sumber nabati hanya terserap sebesar 1 – 2 %, sedangkan sumber zat besi hewani lebih mudah terserap yaitu sebanyak 10 – 20 % (Susetyowati,2017).
Sumber makanan yang mengandung zat besi yakni :
i Zat besi yang berasal dari hewani yaitu; daging, ayam, ikan, telur.
ii Zat besi yang berasal dari nabati yaitu; kacang-kacangan, sayuran hijau, dan pisang ambon. Keanekaragaman konsumsi makanan berperan penting dalam membantu meningkatkan penyerapan Fe di dalam tubuh. Kehadiran protein hewani, vitamin C, Vitamin A, asam
folat, zat gizi mikro lain dapat meningkatkan zat besi dalam tubuh.
Manfaat lain dari konsumsi makanan sumber zat besi adalah terpenuhinya kecukupan vitamin A, karena makanan sumber zat besi biasanya juga merupakan sumber vitamin A (Almatsier S,2014).
d. Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi besi
Absorpsi terjadi di bagian atas usus halus (duodenum) dengan bantuan alat angkut protein khusus. Ada dua jenis alat angkut protein di dalam sel mukosa usus halus yang membantu penyerapan besi, yaitu transferin dan feritin. Transferin yaitu protein yang disintetis di dalam hati (Almatsier dan Sunita, 2014). Banyak faktor berpengaruh terhadap absorpsi besi antara lain:
1) Bentuk besi
Bentuk besi di dalam makanan berpengaruh terhadap penyerapannya. Besi hem yang merupakan bagian dari hemoglobin dan mioglobin yang terdapat di dalam daging hewan yang dapat diserap dua kali lipat daripada besi non hem. Besi non hem terdapat di dalam telur, sereal, kacang-kacangan, sayuran hijau dan buah-buahan.
2) Asam organik
Vitamin C sangat membantu mengubah bentuk feri menjadi fero.
3) Tanin
Tanin terdapat di dalam teh, kopi dan beberapa jenis sayuran dan buah yang menghambat absorbsi besi dengan cara mengikatnya.
4) Tingkat keasaman lambung meningkat daya larut besi.
Penggunaan obat-obatan yang bersifat basa seperti antasid menghalangi absorbsi besi.
5) Kebutuhan tubuh
Kebutuhan tubuh akan besi sangat berpengaruh besar terhadap absorbsi besi. Bila tubuh kekurangan besi atau kebutuhan meningkat pada masa pertumbuhan, absorpsi besi non hem dapat meningkat sampai sepuluh kali sedangkan besi hem dua kali. (Almatsier S,2014).
e. Akibat kekurangan Zat Besi
Akibat kekurangan defisiensi besi dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia yang dapat terganggu akibat kekurangan zat besi, yaitu :
1) Kemampuan dan produktivitas kerja 2) Pucat
3) Rasa lemah dan Pusing 4) Kurang nafsu makan
5) menurunnya kebugaran dan menurunnya kekebalan tubuh 6) Gangguan penyembuhan luka
7) Penurunan kemampuan mengatur suhu tubuh 8) Pada anak-anak menimbulkan apatis
9) Mudah tersinggung,
10) Menurunnya kemampuan untuk berkonsentrasi dan belajar (Almatsier Sunita,2014).
f. Kandungan dan Manfaat Tablet Tambah Darah
Menurut pedoman pencegahan anemia gizi pada remaja putri dan wanita usia subur, suplementasi zat besi setiap tablet mengandung 200 mg ferrosulfate atau 60 mg unsur besi dan 0,25 ml asam folat (Almatsier Sunita ,2014).
Secara khusus penting bagi wanita, hal ini disebabkan karena:
i Perempuan mengalami haid sehingga memerlukan zat besi untuk menggantikan darah yang hilang
ii Perempuan mengalami hamil, menyusui, sehingga kebutuhan zat besinya sangat tinggi yang perlu disiapkan sedini mungkin semenjak remaja
iii Mengobati perempuan yang menderita anemia
iv Meningkatkan kemampuan belajar, kemampuan kerja dan kualitas sumber daya manusia, serta generasi penerus.
v Meningkatkan status gizi dan kesehatan perempuan (Almatsier Sunita,2014).
g. Waktu dan cara minum tablet tambah darah
Waktu yang tepat untuk meminum tablet tambah darah adalah pada malam hari sebelum tidur, hal ini untuk mengurangi rasa mual yang terjadi setelah meminumnya. Cara konsumsi tablet tambah darah sebaiknya diminum dengan air jeruk atau air putih biasa, karena membantu penyerapan zat besi dan hindari minum tablet penambah darah yang menggunakan teh, susu atau kopi, karena akan menghambat penyerapan zat besi (Almatsier Sunita,2014).
Menurut Nuradhiani. et al (2017), pemberian tablet tambah darah pada remaja putri adalah 1 tablet/minggu dan 1 tablet/hari selama 10 hari pada saat remaja putri mengalami menstruasi.
h. efek samping tablet tambah darah
Pada sebagian orang, setelah konsumsi tablet besi menimbulkan gejala-gejala seperti mual,muntah, nyeri di daerah lambung, kadang-kadang diare bahkan sulit buang air besar (Kementrian Kesehatan RI,2015).
Setelah mengonsumsi tablet besi tinja biasanya berwarna hitam.
Perubahan warna tinja menjadi hitam bukan tdana yang membahayakan kesehatan.
Berikut beberapa informasi hasil penelitian tablet tambah darah pada remaja putri tergantung dari hasil penelitian, yaitu :
1) Dengan Judul Suplementasi Besi Mingguan Meningkatkan Hemoglobin Sama Efektif Dengan Kombinasi Mingguan Dan Harian Pada Remaja Putri ,pada Maret Tahun 2016 ,Subjek dikelompokkan dalam tiga perlakuan yaitu 1) mingguan (M), 2) mingguan dan setiap hari selama menstruasi (M+Mens), serta 3) mingguan disertai pendidikan gizi (M+PG). sampel Jumlah subjek minimum adalah 58 orang per perlakuan. Setelah skrining diperoleh masing-masing 63 subjek yang dilibatkan pada penelitian ini, dan pada saat endline terdapat masing- masing sebanyak 58 subjek pada kelompok M, 59 subjek pada kelompok M+Mens dan 58 subjek pada kelompok M+PG yang bersedia mengikuti kegiatan sampai akhir , Metode penelitian kuasi eksperimental ini
bertujuan untuk mengkaji perbedaan efektivitas tiga cara pemberian suplementasi besi terhadap perubahan kadar hemoglobin pada remaja putri. Tiga kelompok intervensi menerima suplemen besi (60 mg besi elemental dan 0,25 mg asam folat) selama 14 minggu di Kabupaten Tasikmalaya pada bulan Maret-Juni 2015, Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan kadar hemoglobin tidak berbeda nyata (p>0,05) pada semua kelompok perlakuan (M+PG 0,63±1,16 g/dl, M+Mens 0,48±1,04 g/dl, dan M 0,44±1,13 g/dl). Suplementasi besi dapat menurunkan prevalensi anemia masing-masing sebesar 15,8% (M), 18,0% (M+Mens) dan 4,9% (M+PG). Suplementasi besi secara mingguan memiliki efektivitas yang sama dengan mingguan dan selama menstruasi dalam meningkatkan kadar hemoglobin pada remaja putri. Suplementasi besi pada remaja sebaiknya diberikan secara intermittent (mingguan) dengan manfaat tambahan yaitu tingginya kepatuhan konsumsi suplemen.
2) Penelitian oleh Priya, et.al .Dengan judul Pengalaman Remaja Putri Konsumsi Tablet Tambah Darah Di Sekolah Kota Semarang ,Tahun 2016, Penelitian: Metode yang digunakan untuk menggali pengalaman remaja putri adalah kualitatif fenomenologi dengan jumlah partisipan sebanyak 7 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara indepth interview dan analisa menggunakan metode colaizi. Hasil penelitian:
terkait pengalaman remaja putri didapatkan 4 tema di antaranya (1) Sumber TTD; (2) TTD mengurangi nyeri menstruasi; (3) Minat minum TTD dan (4) Mengisi buku monitoring menstruasi. Pemberian TTD oleh
mahasiswa penelitian ini membuat siswi dapat merasakan pengalaman meminum TTD selama di sekolah. Siswi juga berpendapat tentang rasa, aroma dan efek setelah minum TTD.
3) Dengan Judul Efektifitas Pemberian Prefarat Fe Dan Vitamin C Terhadap Perubahan Kadar Hemoglobin Pada Mahasiswa Post Menstruasi ,oleh Dheny Rohmatika ,Kartika Dian L , Tahun 2019 , sampel dengan purposive sampling diperoleh 50 respoden , Metode Penelitian ini adalah metode quasy experiment dengan rancangan one group pretest-postest design, Pengambilan sampel dengan purposive sampling diperoleh 50 respoden , Hasil penelitian dengan analisa data menggunakan Uji paired sample t-test didapatkan nilai Sig 0,000 (p0.05) yang bearti tidak ada pengaruh pemberian suplemen prefarat Fe terhadap perubahan kadar hemoglobin mahasiswa post menstruasi. Nilai sig p: 0.005 (p < 0.05) maka artinya ada perbedaan rata-rata kadar hemoglobin pada kelompok I dengan 2.
4) Dengan Judul Hubungan Antara Kepatuhan Minum Tablet tambah darah Dengan Kejadian Anemia Pada Remaja Putri Di Ma Darul Imad Kecamatan Tatah Makmur Kabupaten Banjar , oleh Yuniarti, Rusmilawaty,Tri Tunggal , Tahun 2013 , Sampel adalah seluruh remaja putri kelas IX dan telah diberikan Tablet tambah darah selama 6 minggu berjumlah 49 orang, Penelitian ini mencoba mengetahui Apakah ada hubungan antara kepatuhan minum tablet tambah darah dengan kejadian anemia pada remaja Putri di MA Darul Imad Kecamatan Tatah Makmur
Kabupaten Banjar Tahun 2013 , Hasil penelitian didapatkan bahwa responden yang mengalami anemia sebanyak 20 orang (40,8%) dan sebanyak 20 orang (40,8%) tidak patuh konsumsi tablet besi 1 kali sehari selama 6 minggu. Hasil uji chi square didapatkan ada hubungan antara kepatuhan minum tablet besi dengan kejadian anemia di MA Darul Imad Kecamatan Tatah Makmur Kabupaten Banjar Tahun 2013.Perlunya meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang anemia dan manfaat tablet tambah darah yang dibagikan agar anemia pada remaja putri dapat diatasi dengan baik.
B. Kerangka Teori
Kerangka teori merupakan gambaran dari tinjauan teoritis dan disusun untuk memecahkan masalah penelitian (Notoatmodjo,2010). Kerangka teori diperlukan dalam setiap penelitian untuk memberikan landasan teoritis bagi peneliti dalam menyelesaikan proses penelitian sebagai berikut:
Bagan 1Kerangka Teori
Sumber : (Fitriani ,2017)
Gambaran pengetahuan responden terhadap :
1) pengertian tablet tambah darah
2) fungsi zat besi
3) sumber makanan yang mengandung zat besi 4) faktor-faktor yang
mempengaruhi absorbsi zat besi 5) akibat kekurangan zat
besi
6) kandungan dan manfaat tablet tambah darah
7) waktu dan cara minum tablet tambah darah 8) efek samping dari
konsumsi tablet tambah darah
Faktor yang mempengaruhi pengetahuan:
Internal : a) Usia b) Pekerjaan c) Pendidikan Eksternal:
1. Sumber informasi 2. Sosial budaya 3. Ekonomi 4. Lingkungan
C. Kerangka Konsep
Kerangka konsep adalah gambaran tentang hubungan atau keterkaitan antara satu konsep dengan konsep lainnya, antara variabel yang satu dengan variabel yang lain dari masalah yang akan diteliti (Notoatmodjo,2010).
Kerangka konseptual dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
D. Pertanyaan penelitian
Bagaimana gambaran pengetahuan tentang tablet tambah darah pada remaja putri di Desa Bendan Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali ?
Tingkat pengetahuan responden berdasarkan karakteristik :
1 . umur . pendidikan
2
3 . pekerjaan
4 . sumber informasi
Cukup
bila responden menjawab 56 – 75 % dengan benar
Baik
bila responden menjawab 76 –
% dengan benar
100
Kurang
bila responden menjawab < 56
% dengan benar Bagan 2 Kerangka
Konsep