• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas 1 Penyuluhan Kehutanan Fariz Ikhsan

N/A
N/A
Fariz Ikhsan

Academic year: 2024

Membagikan " Tugas 1 Penyuluhan Kehutanan Fariz Ikhsan"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS PENYULUHAN KEHUTANAN ARTI PENTING PENYULUHAN KEHUTANAN

Oleh : Nama : Fariz Ikhsan

NIM : 22/497581/SV/21142 Kelas : A

Mata kuliah : Praktikum Penyuluhan Kehutanan Dosen : Wiyono, S.Hut., M.Si.

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN PENGELOLAAN HUTAN DEPARTEMEN TEKNOLOGI HAYATI DAN VETERINER

SEKOLAH VOKASI

UNIVERSITAS GADJAH MADA 2024

(2)

ARTI PENTING PENYULUHAN KEHUTANAN Pembahasan

Penyuluhan merupakan suatu tindakan dalam mendidik individu dan kelompok. Dengan pemberian informasi dan pengetahuan serta berbagai kemampuan diharapakan dapat mengubah dan membentuk sikap maupun perilaku hidup yang sejalan dengan kegiatan penyuluhan. Hakekatnya penyuluhan merupakan suatu kegiatan nonformal dalam rangka mengubah masyarakat menuju keadaan yang lebih baik seperti yang dicita-citakan. Kegiatan penyuluhan merupakan salah satu dari wujud pendidikan non formal yang mampu mengubah taraf hidup masyarakat. Penyuluhan juga merupakan suatu proses dalam membantu penyelesaian masalah masyarakat. Sebagai disiplin ilmu, penyuluhan adalah struktur yang terdiri dari pengetahuan dan pengembangan ilmu. Ilmu penyuluhan memiliki kemampuan untuk secara ilmiah menjelaskan perubahan perilaku manusia dengan menggunakan pendekatan pendidikan orang dewasa, komunikasi, serta sesuai dengan struktur sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan fisik masyarakat. Istilah penyuluhan seringkali dikaitkan dengan penerangan atau propaganda oleh masyarakat, namun sebenarnya makna penyuluhan lebih kompleks. Penyuluhan dapat dilihat sebagai suatu ilmu dan tindakan praktis.

Sebagai ilmu, dasar ilmiah penyuluhan adalah ilmu perilaku. Ilmu ini mempelajari pola pikir, tindakan, dan sikap manusia dalam menghadapi kehidupan. Dengan demikian, objek kajian ilmu penyuluhan adalah manusia sebagai bagian dari sistem sosial, sementara objek materialnya adalah perilaku yang muncul dari proses pendidikan, pembelajaran, komunikasi, dan interaksi sosial (Amanah, 2007).

Pada dasarnya, pembahasan mengenai penyuluhan minimal mencakup lima elemen yaitu yang pertama adalah proses pembelajaran, yang kedua keberadaan subjek yang belajar, yang ketiga pengembangan kesadaran dan kapasitas individu dan kelompok, yang keempat pengelolaan sumber daya untuk peningkatan kualitas hidup, dan yang terakhir adalah penerapan prinsip berkelanjutan dari segi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dengan demikian, pelaksanaan penyuluhan harus memperhatikan kelima aspek tersebut. Penyuluhan harus mencakup lima prinsip kegiatan, yaitu menyediakan input, memberikan layanan teknis, memberikan pendidikan, membentuk organisasi, dan meningkatkan kesadaran, agar penyuluhan dapat berperan dalam mengurangi kemiskinan. Namun, fokus utama penyuluhan cenderung terpusat pada penyediaan input dan layanan teknis, sementara pendidikan, pembentukan organisasi, dan peningkatan kesadaran sering diabaikan.

Penyuluhan kehutanan adalah sebuah inovasi dalam pembelajaran di sektor kehutanan yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan pengembangan teknologi. Penting bagi penyuluh kehutanan untuk memiliki kemampuan inovatif dalam penyuluhan agar dapat memberikan pengetahuan yang lebih baik kepada para petani dalam menjaga kelestarian hutan untuk masa depan (Harinta, 2011).

Metode penyuluhan yang efektif sangat berpengaruh terhadap kualitas penyuluhan yang diterima oleh Masyarakat desa hutan. Metode penyuluhan ini diakui sebagai elemen kunci dalam meningkatkan pemanfaatan hasil hutan di Indonesia. Penyuluh yang mampu mengimplementasikan metode penyuluhan dengan baik akan dapat

(3)

meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani dalam mengadopsi proses pembelajaran, sehingga petani dapat mengaplikasikannya dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya hutan dengan lebih baik.

Penyuluh kehutanan memegang peran penting dalam memberdayakan masyarakat untuk mengelola hutan (Sidu, 2006). Aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang tercermin dalam perilaku penyuluh kehutanan harus memenuhi standar yang memadai agar upaya pemberdayaan masyarakat dapat berjalan efektif.

Paradigma baru mengenai pemberdayaan masyarakat menekankan pentingnya penyuluh kehutanan yang memiliki kapasitas yang baik (Hidayat, 2002). Penyuluh kehutanan harus memiliki lebih dari sekadar pengetahuan yang luas, mereka juga harus memiliki keterampilan dalam menerapkan materi penyuluhan dan sikap yang positif yang mengutamakan kepentingan masyarakat. Penyuluh kehutanan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya membentuk perubahaan sosial masyarakat, karena penyuluh bukan saja berperan dalam prakondisi masyarakat agar tahu, mau dan mampu berperan serta dalam pembangunan kehutanan, akan tetapi penyuluh kehutanan harus terus aktif dalam melakukan proses pendampingan masyarakat sehingga tumbuh kemandiriannya dalam usaha/kegiatan berbasis kehutanan. Penyuluh kehutanan pada hakekatnya adalah upaya pemberdayaan masyarakat, dunia usaha, aparat pemerintah pusat dan daerah, serta pihak-pihak lain yang terkait dengan pembangunan kehutanan. Kegiatan penyuluhan kehutanan menjadi investasi dalam mengamankan dan melestarikan sumberdaya hutan sebagai aset negara dan upaya mensejahterakan masyarakat.

Sebagai agen pemberdayaan, penyuluh kehutanan perlu memiliki kapasitas untuk menggali dan mengembangkan semua potensi sumber daya yang ada di komunitas. Meningkatkan pemanfaatan potensi lokal adalah kunci untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada komoditas dan sumber daya manusia dari luar wilayah mereka. Ini merupakan aspek penting dalam upaya pemberdayaan, karena membantu masyarakat untuk menjadi lebih mandiri dan memiliki kemampuan untuk berkembang secara independen. Dengan demikian, pengembangan potensi lokal menjadi dorongan utama dalam mewujudkan masyarakat yang mampu berkembang dan mandiri. Pemberdayaan merupakan suatu proses, dimana sebagai proses, pemberdayaan melibatkan rangkaian tindakan untuk memperkuat kekuasaan atau kapabilitas kelompok yang kurang berdaya dan masyarakat secara keseluruhan, termasuk individu yang menghadapi tantangan kemiskinan. Tujuannya adalah agar mereka bisa mencapai tingkat kemandirian yang lebih tinggi dengan mengembangkan potensi yang dimiliki, serta menggali rasa percaya diri mereka sehingga mampu beradaptasi dan terlibat aktif dalam perubahan dan perkembangan lingkungan sekitarnya (Lutfiansyah dan Hufad, 2017)

Penyuluhan Kehutanan merupakan proses pengembangan pengetahuan, sikap, dan perilaku dalam kelompok masyarakat sasaran dengan tujuan agar mereka memiliki pemahaman, kesediaan, dan kemampuan untuk memahami, melaksanakan, serta mengelola kegiatan kehutanan guna meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan, sambil tetap memiliki kepedulian dan berpartisipasi aktif dalam pelestarian hutan dan lingkungan. Penyuluh kehutanan memiliki tanggung jawab untuk memberikan arahan kepada masyarakat, khususnya kelompok tani hutan

(4)

yang mengelola hutan rakyat, dengan memastikan arahan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan mereka. (Mardikanto, 2009), penyuluh harus dapat mengidentifikasi kebutuhan kelompok tersebut, memberikan panduan tentang kebutuhan yang harus dipenuhi, dan membimbing mereka untuk memenuhi kebutuhan tersebut sehingga mereka dapat memberikan respon yang positif terhadap penyuluhan. Persepsi masyarakat terhadap kinerja penyuluh terbentuk berdasarkan respons terhadap kebutuhan yang dipenuhi oleh penyuluh. Kinerja penyuluh mencerminkan tanggung jawab mereka terhadap tugas dan kegiatan yang mereka laksanakan. Penilaian terhadap kinerja penyuluh didasarkan pada kemampuan mereka dalam melaksanakan tugas yang telah ditetapkan. Kinerja penyuluh bisa bervariasi tergantung pada kemampuan masing-masing. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kinerja penyuluh belum optimal dalam berbagai aspek.

Metode penyuluhan kehutanan merupakan sebuah sistem layanan yang membantu masyarakat, terutama petani, dalam proses pendidikan, pelaksanaan pemanfaatan, dan pelestarian sumber daya hutan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomi dan ekologis dari sumber daya hutan serta meningkatkan pendapatan petani yang tinggal di sekitar hutan. Ketika metode penyuluhan kehutanan diterapkan dengan baik, hal tersebut akan memberikan dampak positif terhadap pemahaman dan keterampilan yang dimiliki oleh petani dalam meningkatkan kualitas sumber daya hutan. Pada proses penyuluhan terdapat beberapa metode yang umumnya digunakan oleh seorang penyuluh yaitu dengan metode komunikasi secara langsung, lalu terdapat metode dengan menggunakan alat peraga, metode dengan pendekantan melalui perseorangan, metode dengan pendekatan kelompok, metode partisipatif, dan metode dengan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (Imran dkk., 2022). Pada Pertauran Menteri Kehutanan No 46 tahun 2012 tentang metode materi penyuluhan kehutanan pada bab 2 pasal 3 disebutkan “Metode penyuluhan kehutanan harus memenuhi prinsip: a. mampu mendorong tumbuhnya swakarsa, swadaya, dan kemandirian pelaku utama dan pelaku usaha; b. sesuai dengan kondisi sasaran penyuluhan; c. efisien dan efektif dalam penggunaan biaya, waktu dan tenaga; d. menjamin keberlanjutan kegiatan dan usaha; dan e. mendorong partisipasi aktif sasaran penyuluhan.”

Penyuluhan partisipatif merupakan suatu model penyuluhan yang melibatkan para petani dalam seluruh proses pengambilan keputusan, mulai dari pengumpulan dan analisis data, identifikasi masalah, analisis kendala, penerapan, hingga pemantauan dan evaluasi. Peran penyuluh dalam model ini adalah untuk memperkuat kemampuan dan potensi para petani dalam meningkatkan usaha pertanian dan pemanfaatan hutan. Pendekatan penyuluhan partisipatif dapat dilakukan baik secara individu maupun kelompok, terutama ditujukan kepada masyarakat yang memiliki pengetahuan yang lebih maju. Namun, untuk masyarakat dengan tingkat pengetahuan yang rendah, penyuluhan masih dilakukan dengan pendekatan konvensional seperti melalui sistem pelatihan dan kunjungan.

Penyuluhan partisipatif utamanya diterapkan pada penyuluhan dengan materi yang berkaitan dengan pengembangan teknologi terapan atau transformasi teknologi kepada petani.

(5)

Daftar Pustaka

Amanah, S. (2007). Makna Penyuluhan dan Transformasi Perilaku Manusia. Jurnal Penyuluhan, 3(1).

Harinta, Y. W. (2011). Adopsi Inovasi Pertanian di Kalangan Petani di Kecamatan Gatak Kabupaten Sukoharjo. Agrin, 15(2), 164–174.

Hidayat, N. (2002). Paradigma Penyuluhan Kehutanan. Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan, Sekretariat Jenderal Departemen Kehutanan. Jakarta

Imran, A. N., Nirawati., & Samsu, A. K. A. (2022). Implementasi metode penyuluhan kehutanan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani hutan di Kabupaten Maros (Studi kasus metode penyuluhan kehutanan di Kecamatan Tompobulu Kab. Maros). Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea, 11(2), 89-99

Mardikanto, T. (2009). Sistem Penyuluhan Pertanian. Universitas Sebelas Maret Press. Surakarta.

Pertauran Menteri Kehutanan No 46 tahun 2012 tentang metode materi penyuluhan kehutanan

Sidu, D. (2006). Pemberdayaan Masyarakat Sekitar Kawasan Hutan Lindung Jompi Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara (Disertasi). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor

Referensi

Dokumen terkait