TUGAS KELOMPOK TEORI EKONOMI MAKRO
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Teori Ekonomi Makro Dosen Pengampu : RINI DWI ASTUTI, SE, M.Si.
Disusun Oleh :
Dewi Puspitasari (143220051) Alfira Putri Daneswari (143220055) Juwita Soraya Anjani (143220143)
JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN, FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA 2023
1. Data negara Jepang dan Indonesia tentang inflasi dan pengangguran Negara Jepang Inflasi dan pengangguran selama 5 tahun
Variabel 2018 2019 2020 2021 2022
Unemployment, total (% of total labor force) (modeled ILO estimate)
2,47 2,35 2,8 2,8 2,64
Inflation, consumer prices (annual %) 0,99 0,47 -0,02 -0,23 2,50
Negara indonesia Inflasi dan pengangguran selama 5 tahun
Variabel 2018 2019 2020 2021 202
2 Unemployment, total (% of total labor force) (modeled
ILO estimate) 4,39 3,59 4,25 3,83 3,55
Inflation, consumer prices (annual %) 3,2 2,72 1,68 1,87 4,94
2. Apakah kurva philips berlaku dikedua negara tersebut, menurut data
Pengangguran adalah permasalahan yang pasti ada di dalam perekonomian suatu negara.
Negara kaya yang memiliki perekonomian lebih stabil pun tidak dapat terhindar dari permasalahan pengangguran. Pengangguran merupakan salah satu indikator keberhasilan pertumbuhan ekonomi suatu negara selain PDB dan indeks harga konsumen. Menurut Hukum Okun, pengangguran dan pertumbuhan ekonomi mempunyai hubungan yang
berbanding terbalik, semakin tinggi tingkat pertumbuhan ekonomi maka tingkat pengangguran akan menurun (Mayra Astari, 2019). Pertumbuhan ekonomi itu sendiri didefinisikan oleh Kuznet sebagai kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk menyediakan barang dan jasa di suatu negara. Pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan tingkat inflasi, semakin tinggi tingkat inflasi maka pertumbuhan ekonomi akan manjadi lambat. Selain itu, inflasi dan penggangguran juga memiliki keterkaitan satu sama lain yang dijelaskan oleh kurva Philips. Jika inflasi tinggi, maka pengangguran akan rendah (Sukanto, 2015). Jadi, pengangguran dan inflasi akan memberikan dampak bagi pertumbuhan perekonomian suatu negara.
Penelitian A.W. Phillips pada tahun 1958 memaparkan adanya hubungan atau trade off antara tingkat inflasi dan tingkat pengangguran. Hubungan tersebut digambarkan dalam kurva yang dikenal dengan kurva Phillips. Berdasarkan kurva ini, ketika tingkat inflasi rendah maka tingkat pengangguran akan tinggi dan sebaliknya. Keberadaan kurva Phillips hingga kini masih menjadi perdebatan, karena tidak semua negara perekonomiannya dapat digambarkan sesuai dengan teori tersebut [CITATION ise \l 1033 ]. Negara berkembang seperti Indonesia sangat memperhatikan pengendalian harga karena ketika harga itu terkendali yang mana itu menandakan perekonomian baik dan tidak membuat masyarakat khawatir dan menguatkan keyakinan masyarakat terhadap pemerintahan suatu negara [ CITATION Yog18 \l 1033 ]
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Profesor Phillips tersebut tentu perlu ditelaah lagi lebih lanjut terutama jika dikaitkan dengan kondisi perekonomian di Indonesia. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, secara sekilas, teori yang dikemukakan dalam Kurva Phillips tidak sepenuhnya terjadi di Indonesia [ CITATION Qik23 \l 1033 ]. Kondisi ekonomi di Indonesia berbeda dengan dengan kondisi ekonomi di Negara Jepang dimana teori Philips
berlaku. Di Indonesia, inflasi lebih dominan dipengaruhi oleh suku bunga, dimana ketika suku bunga meningkat, inflasi juga akan mengalami kenaikan (Beureukat, 2022).
Jepang sebagai negara maju pada tahun 2018 mengalami tingkat pengangguran sebesar 2,47% yang diiringi dengan tingkat inflasi sebesar 0,99%. Ini menunjukkan situasi yang relatif stabil dengan tingkat inflasi yang moderat. Sedangkan pada tahun 2019 mengalami penurunan tingkat pengangguran menjadi 2,35%, dan inflasi juga mengalami penurunan 0,47%. Meskipun ada penurunan, kondisi ekonomi Jepang masih menunjukan stabilitas karena penurunan yang relatif kecil. Jepang pada tahun 2020 mengalami kenaikan tingkat pengangguran menjadi 2,8%, yang beriringan dengan deflasi, yaitu penurunan harga konsumen sebesar -0,02%. Situasi ini terjadi dipengaruhi oleh dampak pandemi COVID-19 yang menganggu aktivitas perekonomian di dunia. Pada tahun 2021 tidak ada perubahan yang signifikan dalam tingkat pengangguran yang tetap sebesar 2,8%, sementara deflasi masih berlanjut dengan harga konsumen turun sebesar -0,23%. Pandemi masih mempengaruhi kondisi ekonomi Jepang pada tahun 2020 dan 2021. Pada tahun 2022, terjadi perubahan Jepang mengalami penurunan sedikit dalam tingkat pengangguran menjadi 2,64%, namun terjadi lonjakan signifikan dalam tingkat inflasi mencapai 2,50%. Menandai perubahan dari deflasi dalam beberapa tahun sebelumnya dan bisa menunjukan pemulihan ekonomi yang kuat setelah periode deflasi dan dampak pandemi COVID-19. Maka didapat kesimpulan bahwa kurva philips bisa berlaku di negara Jepang berdasarkan pada 5 tahun terakhir.
Kondisi perekonomian di Indonesia sesuai tabel menunjukkan bahwa Teori Philips tidak berlaku. Pada tahun 2018, tingkat pengangguran sebesar 4,39% dengan inflasi sebesar 3,2%, menurut kepala BPS Suhariyanto, tingkat inflasi ini tidak terlalu buruk karena sesuai dengan prediksi awal tahun dalam APBN 2018 (Samuel pablo, 2019) inflasi pada tahun 2018 ini juga tidak disertai dengan kenaikan harga BBM dan tarif listrik, di sisi pengangguran terjadi kenaikan Tingkat partisipasi Angkatan Kerja sebesar 0.59%. Pada tahun 2019, terjadi penurunan pengangguran menjadi 3,59% dan penurunan inflasi ke angka 3,03%. Pada tahun 2019 ini Teori Philips tidak berlaku karena hubungan antara pengangguran dan inflasi memiliki hubungan yang positif. Pada tahun 2020, Indonesia mengalami penurunan inflasi sebesar 1,68% dan kenaikan pengangguran hingga ke angka 4,25%. Inflasi pada tahun 2020 yang rendah tersebut dipengaruhi oleh permintaan domestik yang belum kuat sebagai dampak pandemi covid-19, pasokan yang memadai, dan sinergi kebiijakan antara Bank Indonesia dan
pemerintah dalam menjaga kestabilan harga, tingkat pengangguran 2020 yang meningkat juga dipengaruhi oleh pandemi covid-19 yang membatasi pergerakan aktivitas masyarakat sehingga terjadi banyak PHK. Pada tahun 2021 tercatat bahwa inflasi Indonesia mengalami kenaikan ke angka 1.87% dan terjadi penurunan pengangguran ke tingkat 3.83%, data ini menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia sudah mulai menguat kembali meskipun masih terdampak pandemi covid-19. Pada tahun 2022 terjadi lonjakan inflasi hingga ke angka 4,49% yang mana menjadi inflasi tertinggi dari 4 tahun sebelumnya serta terjadi penurunan pengagguran dari 3,83% (2021) ke 3,55%, dengan adanya lonjakan inflasi seharusnya tingkat pengangguran dapat berkurang secara signifikan juga. Menurut Menteri Sri Mulyani, inflasi dari gejolak harga bahan makanan terjadi akibat harga pangan global dan terganggunya pasokan akibat cuaca, sementara inflasi yang berasal dari komponen harga yang diatur oemerintah dipengarhi harga tiket angkutan udara.
3. Kebijakan negara Jepang dan Indonesia untuk mengatasi pengangguran Kebijakan Negara Indonesia
Pemerintah Indonesia telah menyelenggarakan beberapa kebijakan untuk mengatasi permasalahan di Indonesia. Dengan melaksanakan kebijakan Pembangunan ekonomi yang dominan pada orientasi kapitalisme. Pemerintah Indonesia mengadopsi pandangan rostow terkait lima tahap Pembangunan ekonomi yang kemudian di wujudkan kedalam program Pembangunan lima tahun dan program Pembangunan jangka Panjang. Pada masa kepemimpinan presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla, dikutip melalui liputan6.com, Langkah pemerintah mengatasi pengangguran terlihat pada kebijakan peningkatan daya saing investasi dan ekspor. Melalui hal tersebut, pemerintah memberikan kemudahan berusaha di Indonesia yang ertujuan meningkatkan produktifitas dan daya saing perekonomian Indonesia. Langkah tersebut diambil agar mampu mencapai lapangan kerja baru dan menurunkan angka pengangguran.
Kebijakan pemerintah tersebut menunjukan hasil signifikan yaitu pada agustus 2019 tercatat pada data BPS bahwa jumlah pengangguran terbuka sejumlah 5,28 % ( 7,05 juta orang ). secara angka, maka jumlah tersebut naik apabila dibandingkan dengan jumlah pengangguran pada Agustus 2019 ( 7 juta orang) namun secara presentase mengalami tren penurunan ( dari 5,34 % menjadi 5,28% ). namun jumlah angkatan kerja pada bulan agustus 2019 ( 197,92 juta ) lebih banyak dibandingkan tahun 2018 ( 194,78 juta ). secara data Bps pada agustus 2019 lebih lanjut diketahui bahwa lulusan sekolah menengah kejuruan ( SMK ) tercatat sebagai tingkat pengangguran tinggi (10,42%), kemudian lulusan sekolah menengah atas (7,95%) dan lulusan Universitas ( 5,67%) Presentasi pengangguran di kota (6,31%) sedangkan di desa (3,93%)
Hasil kerja 5 tahun kepemimpinan Joko Widodo dan Jusuf Kalla menunjukan hasil tren penurunan angka pengangguran namun bukan berarti masalah pengangguran namun bukan berarti masalah pengangguran di Indonesia selesai. dengan jumlah angakatan kerja dan penduduk yang terus bertambah setiap tahunnya maka diperlukannya upaya dan langkah konkrit pemerintah yang mampu mengatasi permasalahan pengangguran tidak terjadi lagi dan pendudukan merasakan masa depan yang lebih baik untuk hidup di Indonesia. Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam mengatasi pengangguran di Indonesia sebagaimana diuraikan sebelumnya. beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah agar pengangguran di Indonesia dapat teratasi secara lebih baik.
Pertama, pemerintah perlu menyediakan informasi akurat mengenai lapangan pekerjaan dalam berbagai media yang di sertai dengan dengan transparansi. lapangan pekerjaan disediaakan oleh pemerintah untuk menyerap angkatan kerja atau lulusan sekolah
atau universitas agar tidak menganggur. lapangan kerja yang disediakan bisa dilakukan dengan menjalin kolaborasi dengan kerjasama dengan perusahaan yang membutuhkan angkatan kerja yang banyak.
Kedua, pemerintah perlu menyelenggarakan pelatihan kerja secara gratis kepada penduduk yang membutuhkan perkejaan. pelatihaan kerja cenderung lebih dibutuhkan bagi penduduk yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang baik sehingga tidak memiliki keterampilan atau keahlian dalam berkeja namun seiring perkembangan teknologi, banyak hal yang perlu dikembangkan juga oleh penduduk luluasn sekolah/universitas.
Ketiga, pemerintah perlu melakukan pengawasan dalam program peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu upaya oeningkatan kualitas sumber daya manusia di indonesia. pendidikan berperan untuk mewujudkan sumber daya manusia yang kompeten karena pada pendidikan yang terselenggara tersebut, pencarian kerja akan diberikan berbagai pengetahuan dan keterampilan sebagai pendukung dalam mecari perkejaan atau membuat perkejaan/wiraswasta ( franita, Riska, 2016).
Keempat, pemerintah perlu menyediakan dan meningkatkan sosialisasi terkait dengan literasi informasi berbasis inklusi sosial kepada penduduk Indonesia. apabila penduduk giat dalam cerdas informasi dan mau meningkatkan kemampuan / keterampilan dirinya penduduk dapat secara mandiri memperoleh informasi tersebut. [ CITATION yul13 \l 1033 ]
Kebijakan Negara Jepang
Di dalam Kebijakan Abenomics, ada beberapa program yang dijalankan untuk mengatasi masalah pengangguran dan inflasi di Jepang. Program-program tersebut terbagi dalam 3 bentuk kebijakan, yaitu Kebijakan stimulus moneter, stimulus fiskal, reformasi struktural.
1. Kebijakan Stimulus Moneter, Kebijakan pertama dalam kebijakan Abenomics yaitu kebijakan moneter yang ekspansif merupakan salah satu mesin utama pendorong Abenomics untuk mencapai tujuannya dalam meningkatkan inflasi hingga 2%.
Kebijakan ini memiliki 3 program/kebijakan yaitu, kebijakan reflektifis prototipikal melalui penggandaan basis moneter, quantitative easing melalui pembelian aset negara dan zero bound melalui penurunan suku bunga bank. Organisasi yang
bertanggung jawab untuk melaksanakan kebijakan tersebut adalah Bank Sentral Jepang (BOJ) (http://www.yomiuri.co.jp). Pada bulan April 2013, Bank Sentral Jepang mengumumkan kebijakan moneter yang dikenal sebagai pelonggaran moneter yang berbeda di bawah sistem baru yang dipimpin oleh Gubernur Haruhiko Kuroda, Deputi Gubernur Kikuo Iwata, dan Wakil Gubernur Hiroshi Nakaso, yang semuanya ditunjuk oleh Kabinet Abe pada bulan Maret 2013. Kebijakan moneter Bank Sentral Jepang di bawah sistem baru ini adalah kebijakan reflektifis prototipikal yang mengusulkan sebuah kebijakan reflasi yang berusaha keluar dari deflasi dengan sengaja menciptakan inflasi ringan dengan membuat bank sentral menetapkan target inflasi sekitar 2% per tahun. Secara khusus, kebijakan tersebut adalah menggandakan basis moneter bank dan beralih untuk mengendalikan yield curve control. Selanjutnya Bank Sentral Jepang (BOJ) melalui kebijakan quantitative easing berhasil menurunkan nilai yen dari $0,013 menjadi $0,0083. Pengeluaran bank sentral sama dengan 18% GDP negara dan menyumbang hampir semua pinjaman pemerintah.
Bank Jepang telah memasuki fase QE yang terbuka, yang mencakup pembelian aset tahunan sebesar $660 miliar dan akan berlanjut sampai target inflasi 2% tercapai. Skala pembelian yang dilakukan BOJ merupakan yang tertinggi di manapun di dunia. Nilai aset yang dimiliki oleh BOJ telah melampaui 70% dari GDP, sementara aset Bank Sentral AS dan Bank Sentral Eropa, keduanya berada di bawah 25% dari masing-masing GDP (http://www.btinvest.com). Bank Sentral Jepang juga melalui kebijakan zero bound atau sistem suku bunga bank 0% dilakukan untuk memacu pinjaman dan investasi. Kemudian pada tahun 2016 Kuroda membuat keputusan tak terduga dengan memperkenalkan suku bunga negatif atau suku bunga bank di bawah 0%. Hal ini menjadikan BOJ bersama dengan ECB, Denmark, Swedia, dan Swiss sebagai satu-satunya bank sentral yang mendorong suku bunga bank di bawah "zero bound". Penerapan ketiga program dalam kebijakan stimulus moneter ini belum memperlihatkan hasil yang diharapkan sehingga target inflasi 2% yang ditetapkan oleh pemerintah Jepang dan BOJ masih belum bisa dicapai dan harus beberapa kali mengalami penundaan pencapaian target sebanyak 6 kali hingga tahun 2019.
2. Kebijakan Stimulus Fiskal, Kebijakan kedua Abenomics adalah kebijakan fiskal yang fleksibel dan ekspansif. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jepang dalam jangka pendek. Kebijakan ini memiliki 2 program atau
kebijakan yaitu, program peningkatan anggaran pembelanjaan negara dan program peningkatan pajak konsumsi. Pada tanggal 8 Agustus 2013, pemerintah menerbitkan rencana fiskal jangka menengah, yang bertujuan mengurangi defisit anggaran hingga setengahnya pada tahun 2015 (dibandingkan tahun 2010) dan menghilangkan defisit fiskal pada tahun 2020. Program yang kedua adalah peningkatan pajak konsumsi yang di lakukan secara bertahap oleh pemerintah Jepang untuk meningkatkan hasil pendapatan negara melalui pajak. Jika tingkat pertumbuhan riil Jepang pulih rata-rata 3,4% per tahun antara tahun 2013 dan 2022, pemerintah dapat mencapai tujuan untuk mengurangi defisit anggaran hingga setengahnya pada tahun fiskal 2015, namun tidak dapat menghilangkan defisit pada tahun 2020.
3. Kebijakan Reformasi Struktural, Kebijakan ketiga ini memiliki beberapa program atau kebijakan seperti:
a) Agriculture dan Kemitraan Trans-Pasifik (TPP). Pertanian ditempatkan sebagai pusat paket kebijakan ekonomi Shizo Abe. Abe berpendapat bahwa pendapatan pertanian harus berlipat ganda dan ekspor pertanian harus tiga kali lipat jika kekuatan pengisiannya diberikan.
b) Energi, Abe berupaya untuk memenuhi tujuannya dalam mengatasi masalah krisis energi yang melanda Jepang pasca bencana alam gempa dan tsunami tahun 2011 yang menyebabkan 42 pembangkit tenaga nuklir Jepang dinonaktifkan. Untuk beroperasi kembali, sebuah reaktor harus memenuhi serangkaian persyaratan peraturan dan menerima persetujuan dari pemerintah daerah.
c) Reformasi Pajak, Jepang masih merupakan salah satu negara dengan tarif pajak perusahaan tertinggi di Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Salah satu upaya pemerintah Jepang adalah menurunkan pajak perusahaan domestik dan perusahaan asing yang ada di Jepang. d) Cool Japan, Perdana Menteri Shinzo Abe telah memerintahkan Tomomi Inada, menteri negara untuk reformasi administrasi, untuk juga menjabat sebagai menteri strategi untuk program Cool Japan. Abe juga telah meluncurkan panel ahli yang bertujuan untuk mempromosikan kampanye Cool Japan pemerintah.
e) Reformasi Pekerja dan Womanomics, Reformasi pasar kerja telah berfokus pada rencana womanomics. Hal ini untuk menaikkan tingkat partisipasi perempuan
dari 68% menjadi 73% pada tahun 2020. Pemerintah telah meminta perusahaan untuk meningkatkan penunjukan posisi manajemen perempuan. Tujuan awalnya adalah agar para wanita mengisi sepertiga posisi bisnis senior pada tahun 2020. meningkatkan kompatibilitas dan daya saing internasional pendidikan tinggi di Jepang. Ini memberikan dukungan yang diprioritaskan untuk universitas kelas atas dan universitas paling inovatif yang dapat memimpin internasionalisasi universitas- universitas Jepang.
4. Apakah kebijakan tersebut dapat menyelesaikan permasalahan antara pengangguran dan inflasi?
Menurut analisis di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan yang dilakukan di negara Indonesia belum sepenuhnya dapat menyelesaikan permasalahan inflasi dan pengangguran.
Hal tersebut karena kebijakan yang dilakukan tidak banyak menguntungkan pendudukan Indonesia. Perusahaan besar di Indonesia belum dapat mewadahi angkatan kerja Indonesia.
Keberadaan tenaga kerja harus bersaing pada sektor formal karena menuntut keterampilan dan keahlian. Akibat tidak mampu bersaing maka pencarian kerja sektor informal terpaksa terabaikan. Terdapat hambatan terhadap upaya peningkatan kualitas tenaga kerja di Indonesia, sehingga belum semua warga negara bisa mencapai pekerjaan dengan upah yang diharapkan atau dapat dikatakan layak. Sedangkan dari segi inflasi, kebijakan di Indonesia juga dikatakan belum bisa mengatasi permasalahan inflasi. Indonesia yang masih tergolong negara berkembang, memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap negara lain khususnya negara maju. Jadi, perubahan kecil di negara maju akan berdampak besar terhadap negara berkembang seperti Indonesia. Namun, jika dilihat dari permasalahan pandemi maka dapat dikatakan bahwa pemerintah sudah dapat mengembalikan perekonomian yang sempat terpuruk meskipun belum sepenuhnya pulih.
Sedangkan untuk negara Jepang, berdasarkan analisis kebijakan abenomics yang terdiri dari program program yang terbagi dalam 3 bentuk kebijakan yang telah dijelaskan diatas, maka didapatkan kesimpulan bahwa masalah pengangguran dan inflasi di Jepang bisa dikendalikan, Negara Jepang yang tergolong sebagai negara maju tentunya lebih mudah untuk mengendalikan permasalahan perekonomiannya karena sudah memiliki pondasi perekonomian yang lebih kuat dibandingkan dengan negara yang masih berkembang.
Langkah Pemerintah Jepang dinilai responsif dalam menaganggani masalah pengangguran dan inflasi, seperti yang telah dijelaskan diatas, Bank Sentral Jepang (BOJ) mengeluarkan
kebijakan moneter yang dinilai berhasil menyelesaikan masalah tersebut. Sehingga masyarakat Jepang memiliki kepercayaan yang kuat pada pemerintahan Jepang, maka dari itu jika dimasa depan terjadi gejolak perekonomian masyarakat dan pemerintah dapat mengatasi masalah tersebut. Selain itu, jika dibandingkan dengan Indonesia, Jepang akan lebih mudah untuk mengendalikan permasalahan perekonomian karena memiliki sumber daya manusia yang lebih terlatih dan lebih unggul, terlebih lagi populasi di Jepang yang lebih rendah dari populasi di Indonesia. Selain itu, aspek permodalan di Jepang juga tentunya lebih unggul dibandingkan dengan Indonesia termasuk dalam kepemilikan teknologi modern.
[ CITATION adi18 \l 1033 ]
DAFTAR PUSTAKA
Astari, Mayra, dkk. 2019. Hukum Okun: Pertumbuhan Ekonomi dan Tingkat Pengangguram di Indonesia. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 8(1), 37-44.
Abas, Adi. 2018. Analisis Implementasi Kebijakan Abenomics di Jepang Tahun 2012- 2017. Jurnal Ilmu Hubungan Internasional, 6(2), 443-458.
Ewaldo, Davin, dkk. 2023. Analisa Kebijakan Pemerintah Indonesia Terkait Ancaman Pengangguran Pasca Inflasi. Jurnal Ekonomi, Manajemen Pariwisata dan Perhotelan, 2(1).
Fauzia, Mutia. Erlangga Djumena. 2020. BPS: Inflasi 2019 Terendah Sejak 10 Tahun Terakhir. Diakses 30 November, dari KOMPAS.com.
Fiona, dkk. 2022. Analisa Kebijakan Pemerintah Terkait Ancaman Pengangguran Pasca Kenaikan Inflasi. Jurnal Manajemen dan Bisnis, 4(3), 502-206.
Kitov, Ivan O. Inflation and Unemployment in Japan: from 1980-2050.
Nurrahman, Agung. Upaya Pemerintah Dalam Mengatasi Permasalahan Pengangguran di Indonesia.
Pablo, Samuel. 2019. Inflasi 2018 Tercatat 3,13% di Bawah Terget APBN. Diakses 30 November, dari CNBC Indonesia.
Priatna, Isep Amas, dkk. Hubungan Pengangguran dan Inflasi Dalam Perekonomian Indonesia (Menguji Teori Philips).
Sukanto. 2015. Fenomena Inflasi, Pengangguran, dan Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia: Pendekatan Kurva Philips dan Hukum Okun. Jurnal Ekonomi Pembangunan, 32(2), 96-106.
Syachbudy, Qiqi Qilang, dkk. 2023. Analisis Keterhubungan Invlasi dan Pengangguran di Indonesia Tahun 1985-2021 Melaui Pendekatan Kurva Philips. Jurnal Ilmu Ekonomi, 4(1).
Data.worldbank
*Dewi(051): Mencari dasar teori philips, menjabarkan data pengangguran dan inflasi di idonesia, menganalisis berlaku atau tidaknya teori philips di negara indo dan jepang, membuat dapus.
*Alfira (055): mencari data negara jepang, menambahkan penjelasan tentang kurva Philips dan menjabarkan penjelasan tentang data per 5 tahun dari negara jepang, menjelaskan kebijakan yang dianut oleh negara jepang.
*Juwita (143): Mencari data perekonomian indonesia, menjelaskan kebijakan negara dan menganalisis apakah kebijakan negara tersebut sudah terlaksana dengan benar.