TUGAS.2 Pendidikan Agama Islam Nama : Dwiky Aji Pratama
NIM : 052144972
1. Hukum Islam bersumber dari Allah SWT untuk mengatur kehidupan manusia.
a. Jelaskan pengertian hukum syariat menurut isi kandungan Q.S. Al-
’Ankabut/29:45!
Ayat ini memliki arti :
"Sesungguhnya membaca Al-Qur'an itu membaca nyata bagi umat manusia, dan memberi petunjuk serta rahmat bagi kaum yang beriman." (Q.S. Al- Ankabut/29:45)
Dari ayat tersebut, dapat dipahami bahwa hukum syariat menurut isi kandungan Al-Qur'an adalah sebagai berikut:
• Membaca Al-Qur'an sebagai tindakan ibadah: Ayat ini menekankan pentingnya membaca Al-Qur'an sebagai suatu tindakan ibadah yang dijalankan oleh umat manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar bacaan biasa, tetapi membaca Al-Qur'an adalah suatu perbuatan yang memiliki nilai spiritual dan keagamaan yang tinggi.
• Memberi petunjuk: Al-Qur'an adalah sumber petunjuk bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan mereka. Ayat-ayat Al-Qur'an memberikan panduan dan pedoman bagi manusia dalam segala aspek kehidupan, mulai dari urusan ibadah, akhlak, hingga tata cara berinteraksi sosial.
• Memberi rahmat bagi kaum yang beriman: Al-Qur'an tidak hanya memberikan petunjuk, tetapi juga rahmat kepada mereka yang beriman dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Rahmat ini
mencakup berbagai kebaikan dan kemudahan yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya yang taat.
Dengan demikian, hukum syariat menurut isi kandungan Al-Qur'an adalah sebagai pedoman hidup yang diberikan oleh Allah SWT kepada umat manusia,
yang meliputi petunjuk dan rahmat bagi mereka yang beriman dan mengamalkannya.
Referensi :
• Al-Qur'an Surat Al-Ankabut (29):45
• Muhammad Taqi Usmani, "An Introduction to Islamic Law" (2000) b. Sebutkan dan jelaskan lima macam hukum Islam!
Terdapat lima macam hukum dalam Islam, yang dikenal sebagai "al-Ahkam al- Khamsa". Berikut adalah penjelasannya :
• Hukum Wajib (Fardh)
adalah kewajiban yang harus dipatuhi oleh setiap Muslim. Ini termasuk kewajiban-kewajiban seperti shalat lima waktu, puasa Ramadan, zakat, haji bagi yang mampu, dan sebagainya. Hukum wajib adalah aspek penting dalam kehidupan seorang Muslim karena merupakan perintah langsung dari Allah dalam Al-Qur'an dan sunnah Nabi Muhammad.
• Hukum Sunnah (Sunnah)
adalah tindakan atau perbuatan yang disunahkan atau dianjurkan oleh Nabi Muhammad, tetapi tidak diwajibkan. Ini mencakup segala hal yang
dianjurkan untuk dilakukan, seperti membaca dzikir, melakukan shalat sunnah, memberikan sedekah, dan lain-lain. Meskipun tidak wajib,
melaksanakan hukum sunnah mendatangkan pahala dan mendekatkan diri kepada Allah.
• Hukum Mubah (Mubah):
merujuk pada segala sesuatu yang diperbolehkan dalam Islam tanpa syarat apapun. Ini mencakup banyak tindakan sehari-hari yang tidak diatur secara khusus oleh hukum Islam, seperti makan, minum, berpakaian, dan kegiatan rutin lainnya. Tindakan-tindakan ini dianggap netral dalam Islam, tidak mendatangkan pahala ataupun dosa.
• Hukum Makruh (Makruh):
mengacu pada tindakan-tindakan yang dianjurkan untuk dihindari, meskipun tidak diharamkan secara tegas. Meskipun melakukan tindakan yang makruh
tidak membawa dosa, tetapi menghindarinya mendatangkan pahala. Contoh hukum makruh termasuk makan atau minum sambil berdiri, tidur terlentang saat siang hari, dan sebagainya.
• Hukum Haram (Haram):
merujuk pada segala sesuatu yang dilarang atau diharamkan dalam Islam. Ini termasuk tindakan-tindakan yang jelas-jelas dilarang oleh Al-Qur'an dan sunnah Nabi Muhammad, seperti mengkonsumsi minuman beralkohol, memakan daging babi, berzina, mencuri, dan lain-lain. Melakukan tindakan yang haram dianggap sebagai dosa besar dalam Islam dan dapat
mendatangkan hukuman dari Allah.
Sumber referensi :
• Kitab al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu (The Islamic Jurisprudence and Its Evidences) oleh Dr. Wahbah al-Zuhayli.
• Fiqh as-Sunnah oleh Sayyid Sabiq.
• Al-Muhalla oleh Imam Ibn Hazm.
c. Sebutkan dan jelaskan tujuh macam prinsip-prinsip umum hukum Islam!
Prinsip-prinsip umum hukum Islam, atau maqasid al-shariah, adalah panduan fundamental yang memastikan bahwa hukum Islam mencapai tujuannya untuk kemaslahatan manusia. Berikut adalah tujuh prinsip umum tersebut :
1. Prinsip Keadilan (Al-‘Adalah)
Keadilan adalah inti dari hukum Islam. Prinsip ini menuntut perlakuan yang adil dan setara terhadap semua individu tanpa diskriminasi.
Keadilan mencakup keadilan dalam hukum (procedural justice), keadilan sosial, dan keadilan ekonomi. Semua hukum dan keputusan harus
didasarkan pada keadilan agar tidak terjadi penindasan atau ketidakadilan.
2. Prinsip Kemaslahatan (Al-Maslahah)
Prinsip kemaslahatan bertujuan untuk memaksimalkan manfaat dan mengurangi kerugian bagi individu dan masyarakat. Hukum Islam harus
membawa kebaikan dan menghindari kerusakan, sesuai dengan tujuan syariat (maqasid al-shariah). Kemaslahatan mencakup aspek-aspek seperti perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
3. Prinsip Kepastian Hukum (Al-Yaqin)
Hukum Islam menekankan pentingnya kepastian hukum sehingga hak dan kewajiban setiap individu jelas dan tidak ambigu. Prinsip ini memastikan bahwa hukum diterapkan secara konsisten dan tidak berubah-ubah, sehingga menciptakan rasa aman dan kepercayaan di masyarakat.
4. Prinsip Keseimbangan (Al-Tawazun)
Keseimbangan dalam hukum Islam mencakup berbagai aspek kehidupan, termasuk keseimbangan antara hak dan kewajiban, antara kebutuhan individu dan masyarakat, serta antara aspek duniawi dan ukhrawi. Prinsip ini memastikan bahwa tidak ada kepentingan yang diutamakan secara berlebihan hingga merugikan yang lain.
5. Prinsip Kebebasan (Al-Hurriyah)
Islam menghargai kebebasan individu dalam batas-batas yang tidak merugikan orang lain atau melanggar ajaran agama. Kebebasan ini meliputi kebebasan beragama, kebebasan berbicara, dan kebebasan dalam beraktivitas ekonomi. Prinsip kebebasan harus diimbangi dengan tanggung jawab sosial dan moral.
6. Prinsip Solidaritas dan Kebersamaan (Al-Ta’awun)
Prinsip ini menekankan pentingnya saling membantu dan bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan. Solidaritas dalam Islam melibatkan berbagai bentuk dukungan sosial dan kepedulian terhadap sesama, termasuk zakat, sedekah, dan berbagai bentuk filantropi.
7. Prinsip Akuntabilitas (Al-Mas'uliyah)
Setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya di dunia dan akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT di akhirat. Prinsip
ini mengajarkan bahwa setiap tindakan harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab moral, baik kepada manusia maupun kepada Allah.
Sumber Referensi ;
• "Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu" oleh Dr. Wahbah Az-Zuhaili: Buku ini memberikan penjelasan mendalam tentang dasar-dasar hukum Islam dan prinsip-prinsip yang mendasarinya.
• "The Principles of Islamic Jurisprudence" oleh Mohammad Hashim Kamali: Karya ini menguraikan secara rinci prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi hukum Islam, baik dalam aspek teori maupun praktik.
d. Jelaskan pengertian taat kepada hukum Allah SWT sesuai dengan isi kandungan An-Nisaa’/4:59!
Ayat in memiliki arti :
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan Ulil Amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul
(sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian.
Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
Penjelasan isi kandungan An-Nisaa’/4:59:
• Ketaatan kepada Allah: Ini adalah ketaatan tertinggi dan paling utama dalam Islam. Segala hukum dan perintah Allah harus diikuti tanpa keraguan.
• Ketaatan kepada Rasul: Rasulullah SAW adalah pembawa risalah Allah, dan beliau merupakan contoh teladan yang harus diikuti oleh umat Islam.
Ketaatan kepada Rasul berarti mengikuti sunnahnya dan menjalankan ajarannya.
• Ketaatan kepada Ulil Amri: Ulil amri merujuk kepada pemimpin atau pemerintah yang sah dalam masyarakat Muslim. Ketaatan kepada mereka diwajibkan selama mereka memerintah sesuai dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Jika pemimpin tersebut memerintahkan sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya, maka ketaatan tidak diwajibkan.
• Penyelesaian Perselisihan: Apabila terjadi perselisihan atau perbedaan pendapat, solusinya adalah dengan merujuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Ini menunjukkan bahwa sumber hukum utama dalam Islam adalah wahyu Allah dan petunjuk dari Rasulullah SAW.
Referensi :
• Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat An-Nisaa’, ayat 59.
• Quraish Shihab, "Tafsir Al-Misbah," Tafsir Surat An-Nisaa’, ayat 59.
2. Al-Quran dan Sunnah menjadi sumber moral dan akhlak bagi manusia. Suri tauladan pelaksanaannya ada pada diri Rasulullah SAW. Dalam kerangka pendidikan dan pembinaan akhlak manusia.
a. Jelaskan sumber moral dan akhlak menurut isi kandungan QS. An-Nahl/16:125!
Ayat ini memiliki arti :
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik.
Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."
Dalam konteks sumber moral dan akhlak, ayat ini menekankan
pentingnya menyampaikan ajaran agama dengan bijaksana (hikmah) dan cara yang baik (pelajaran yang baik), serta berdialog dengan orang lain dengan cara yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa moral dan akhlak yang baik dalam Islam melibatkan cara berinteraksi dengan orang lain, yaitu dengan penuh hikmah, kebijaksanaan, dan kesopanan.
Referensi :
• Tafsir al-Jalalayn
• Tafsir Ibnu Katsir
b. Jelaskan peranan agama sebagai sumber akhlak menurut isi kandungan QS. Al- Ahzab/33:21!
Ayat tersebut memiliki arti :
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab/33:21)
Dalam konteks peran agama sebagai sumber akhlak, ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah contoh terbaik dalam hal akhlak dan moral bagi umat manusia. Sebagai utusan Allah, ajaran dan perilaku beliau menjadi pedoman bagi umat Islam dalam meniti kehidupan. Dalam hal pendidikan dan pembinaan akhlak manusia, ayat ini menekankan pentingnya mengambil Rasulullah sebagai panutan. Melalui penghayatan dan peneladanan terhadap ajaran dan perilaku beliau, manusia dapat mengembangkan akhlak yang baik dan bermoral.
Referensi :
• Al-Qur'an al-Karim.
• Interpretasi Tafsir Jalalain.
• Al-Misbah al-Munir, karya Dr. Wahbah al-Zuhaili.
3. Banyak ayat Al-quran yang berbicara tentang alam raya, materi dan fenomenanya, dan yang memerintahkan kepada manusia untuk mengetahui dan memanfaatkannya. QS.
Al-Jaatsiyah 45:13 menyatakan bahwa alam raya diciptakan dan ditundukkan Allah untuk manusia.
a. Tuliskan ayat dan terjemahan QS. Al-Jaatsiyah 45:13
ُهَاللّ
يِذَلا
َُرَخَس مهكَل اَم
ُِتا َواَمَسلاُيِف اَم َو
يِف
ُ ِض أرَ ألْا اًعيِمَج
َُنِإُ ۖ يِف
َُكِلََٰذ
ُ تاَي َلَ
ُ م أوَقَل
َُنو هرَكَفَتَي
"Allahu alladzi sakhkhara lakum maa fis samaawaati wa maa fil ardi jami'an, innafi dzaalika la aayaatil liqawmin yatafakkaruun."
Artinya :
"Allah-lah yang telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi seluruhnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang
memikirkan (mengambil pelajaran).
b. Jelaskan potensi pengembangan teknologi menurut QS. Al-Jaatsiyah 45:13!
Ayat tersebut menyatakan:
"Dan Allah telah tundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, inilah rahmat Allah; maka bagaimana dengan manusia jika mereka ingkar (kepada rahmat-Nya)?" (QS. Al-Jaatsiyah/45:13)
Dalam konteks potensi pengembangan teknologi, ayat ini mengisyaratkan bahwa Allah SWT telah menundukkan segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi untuk manusia. Hal ini mencakup berbagai potensi alam, sumber daya alam, dan fenomena alam yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Dengan memahami dan memanfaatkan rahmat yang telah Allah berikan dalam alam raya, manusia memiliki potensi untuk mengembangkan teknologi yang dapat memberikan manfaat bagi kehidupan mereka.
Ayat ini juga menekankan bahwa pemahaman dan penggunaan potensi alam raya haruslah diiringi dengan pengakuan atas rahmat Allah. Manusia
diperintahkan untuk mengenali kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya dan bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya.
Referensi :
• Al-Qur'an al-Karim.
• Tafsir Ibn Kathir.
• "Exploring the Quranic Sciences" oleh Mahmoud Ismail Saleh.