Nama Mata Kuliah : Praktikum Farmakologi III
Nama Dosen Pengampu: 1. Apt. Retno Ariani, M.S.Farm
2. Apt. Tita Khosima Hidayati, M.Farm 3. Endah Kartika, M.Sc
Tanggal Praktikum: Minggu, 26 Januari 2025 Judul Modul:
UJI AKTIVITAS ANTELMINTIK SECARA IN VITRO
Asisten :
Raissa Bagus Ascharya
Laporan Praktikum 1. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan a. Mengetahui jenis jenis cacing parasit
b. Memahami mekanisme kerja obat antelmintika 2. PRINSIP DAN TEORI DASAR
Obat anthelmintic adalah obat yang bekerja secara local untuk mengatasi infeksi cacing dari saluran pencernaan atau secar sistemik membunuh cacik dewasa atau bentuk perkembangan yang menyerang organ atau jaringan. Metazoa parasite umumnya berumur Panjang dan memiliki siklus hidup yang relative kompleks, serta dapat memperoleh resistensi terhadap antelmintik dalam siklus hidupnya merupakan factor utama yang menyebabkan antelmintik tidak dapat digunakan hanya satu kali pemakaian namun harus diulang pada beberapa siklus hidupnya Antelmintik harus bersifat toksik selektif terhadap parasit.
Disusun Oleh : A19B + A18B NIM:
Kelompok :
1. Adi Hadiana NIM: D1A220081
2. Annisa Salma NF NIM: D1A230055
3. Luthfan Syauqi NIM: D1A230033
4. Ranti Anggraeni NIM: D1A230103
5. Siti Witarsah NIM: D1A220020
Hal ini biasanya dicapai dengan menghambat proses metabolisme yang vital bagi parasit tetapi tidak vital bagi atau tidak ada pada inang, atau dengan sifat farmakokinetik inheren senyawa yang menyebabkan parasit terpapar pada konsentrasi obat cacing yang lebih tinggi daripada sel inang .
Salah satu mekanisme kerja antelmintik untuk mengeliminasi cacing yang ada di dalam tubuh adalah dengan mempengaruhi sistem neuromuscular cacing. Gangguan pada sistem ini dapat terjadi dengan menghambat kerusakan atau dengan meniru atau meningkatkan aksi neurotransmitter.
Hasilnya adalah kelumpuhan parasit. Baik kelumpuhan spastik atau flacid dari cacing usus memungkinkannya dikeluarkan oleh aksi peristaltik normal dari inang. Secara in vitro cacing yang mati atau paralisis akibat pengaruh antelmintik dapat diamati melalui pergerakannya dalam air panas.
3. ALAT DAN BAHAN a. Hewan Uji :
Ascaris suum (Cacing gelang pada babi) b. Antelmintik :
Pirantel pamoat
Piperazin sitrat c. Bahan lain :
Aquadest
Infus simplisia nabati ( infus daun sirih )
d. Alat :
cawan petri diameter 20 cm
batang pengaduk
gelas piala 1L
pinset
sarung tangan
thermometer
inkubator tissue
4. PROSEDUR
1. Sebelum percobaan cacing harus diaktifkan terlabih dahulu pada suhu 370 C
2. Siapkan larutan uji dan pembanding (pyrantel pamoat, piperazin sitrat, dan infus uji)
3. Tuangkan 75 ml larutan uji masing masin g ke dalam tiap cawan petri dengan pola sebagai berikut
Cawan petri I Piperasin sitrat Cawan petri II Pirantel Pamoat
Cawan petri III Bahan uji konsentrasi I Cawan petri IV Kontrol ( air suling)
4. Tempatkan cawan yang telah berisi larutan uji ke dalam inkubator bpada suhu 37 0C 5. Ke dalam masing- masing cawan letakkan satu pasang Ascaris suum yang masih aktif dan
catat waktunya
Pengamatan
1. Amati pergerakan cacing dan posisi kepala cacing segera setelah penempatan cacing ke dalam larutan uji secara terus menerus selama 20 menit pertama kemudian pada T 30 , 45, 60, dst dengan interval 15 menit sampai 3 jam . Bandingkan pergerakan cacing dalam laruitan uji dengan cacing control
2. untuk melihat pakah cacing tidak bergerak: mati atau paralisis, usik cacing -cacing tersebut dengan batang pengaduk. Jika cacing tetap diam, segera pindahkan ke dalam air panas 500 C dan amati pergerakannya. Apabila dengan cara ini cacing tetap diam berarti cacing telah mati namun jika bergerak berarti cacing tersebut mengalami paralisis.
3. Nyatakan paralisis yang terjadi ; spastik atau flasid dengan melihat postur tubuh cacing tersebut.
4. Cacing yang tidak peka pada konsentrasi anti cacing yang digunakan akan tetatp bergerak aktif terutama bila diusik dengan batag pengaduk
5. Buatlah tabel hasil pengamatan
5. HASIL PENGAMATAN 5.1 Hasil Pengamatan
a. Cacing Ascaris suum betina
b. Cacing Ascaris suum jantan
Keterangan:
N : Normal
PS : Paralisis Spastik PF : Paralisis Flasid M : Mati
5.2 Hasil Perhitungan
Larutan Uji WAKTU
45 60 75 90 105 120 135 150 165 180
Air Suling N N N N N N N N M M
Daun Sirih N N N N N N PF PF PF M
Pirantel Palmoat PS PS PS PS PS PS M M M M
Piperasin sitrat PF PF PF PF PF PF PF PF M M
Larutan Uji WAKTU
45 60 75 90 105 120 135 150 165 180
Air Suling N N N N N N N N N M
Daun Sirih N N N N N N PF PF M M
Pirantel Palmoat PS PS PS PS PS PS PS M M M
Piperasin sitrat PF PF PF PF PF PF PF PF M M
6. PEMBAHASAN
Praktikum farmakologi ini bertujuan untuk menguji aktivitas antelmintik dari pirantel, piperazin, serta larutan uji berupa infus daun sirih, dengan air suling sebagai pembanding. Cacing gelang babi (Ascaris suum) digunakan dalam penelitian ini karena memiliki kemiripan dengan Ascaris lumbricoides yang menginfeksi manusia, serta ukurannya yang cukup besar sehingga memudahkan pengamatan efek obat.
Cacing yang digunakan terdiri dari jantan dan betina, di mana cacing jantan berukuran lebih kecil dengan ekor melengkung yang berfungsi dalam kopulasi, sementara cacing betina lebih besar dan memiliki tubuh lurus. Penggunaan kedua jenis kelamin bertujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan respons terhadap obat akibat variasi ukuran dan fisiologi.
Pirantel bekerja dengan menyebabkan paralisis spastik melalui stimulasi berlebihan pada reseptor nikotinik asetilkolin, sehingga otot cacing mengalami kontraksi terus-menerus yang akhirnya menyebabkan kematian. Kelebihan pirantel adalah efektivitasnya dalam melumpuhkan cacing yang aktif bergerak dan sulit menempel pada dinding usus. Sementara itu, piperazin bekerja dengan cara berlawanan, yaitu menyebabkan paralisis flasid melalui aktivasi reseptor GABA, sehingga cacing menjadi lumpuh dan tidak mampu mempertahankan posisinya dalam usus, lalu terbuang bersama feses. Kelebihan piperazin adalah kemampuannya melumpuhkan cacing yang lebih kuat menempel pada dinding usus.
Selain kedua obat sintetis tersebut, infus daun sirih diuji sebagai alternatif alami karena mengandung senyawa seperti tanin dan alkaloid yang diduga memiliki efek antiparasit. Keunggulan infus daun sirih adalah potensinya sebagai obat herbal dengan efek samping yang lebih rendah dibandingkan obat kimia, meskipun efektivitasnya perlu dibandingkan lebih lanjut. Air suling digunakan sebagai kontrol negatif untuk memastikan bahwa efek yang diamati benar-benar berasal dari obat atau larutan uji, bukan dari faktor lingkungan atau perlakuan mekanis. Hasil praktikum ini diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih dalam mengenai mekanisme kerja antelmintik serta mengevaluasi efektivitas obat sintetik dan alami dalam terapi cacingan.
Air suling digunakan sebagai kontrol negatif dalam praktikum ini untuk melihat apakah kematian cacing terjadi akibat perlakuan atau faktor lain. Pada menit ke-45, baik cacing betina maupun jantan masih menunjukkan aktivitas normal, yang menandakan bahwa air suling tidak memiliki efek toksik langsung terhadap cacing dalam jangka waktu tersebut. Namun, pada menit terakhir, kedua cacing mati, kemungkinan besar bukan karena efek air suling itu sendiri, melainkan akibat faktor lingkungan seperti kekurangan oksigen, perubahan suhu, atau stres akibat berada di luar habitat alaminya dalam waktu yang lama. Kematian ini menunjukkan bahwa tanpa adanya zat aktif dalam larutan uji, cacing tetap dapat bertahan untuk sementara, tetapi tidak mampu hidup dalam kondisi laboratorium yang berbeda dari lingkungan dalam tubuh inang.
b. Daun Sirih
Pada uji dengan infus daun sirih, cacing betina menunjukkan aktivitas normal hingga menit ke-135, kemudian mulai mengalami paralisis spastik pada menit ke-150, yang ditandai dengan kontraksi otot berlebihan. Kondisi ini berlanjut hingga mengalami kematian pada menit ke-165. Sementara itu, cacing jantan lebih cepat merespons larutan uji, mengalami paralisis spastik sejak menit ke-135 dan terus dalam kondisi tersebut hingga mati pada menit ke-180. Perbedaan waktu respons ini kemungkinan disebabkan oleh ukuran tubuh cacing betina yang lebih besar sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk menyerap zat aktif dalam daun sirih dibandingkan cacing jantan yang lebih kecil. Efek paralisis spastik yang diamati menunjukkan bahwa senyawa aktif dalam daun sirih, seperti tanin dan alkaloid, mungkin berperan dalam mengganggu sistem neuromuskular cacing, menyebabkan kontraksi otot berlebihan hingga akhirnya berujung pada kematian. Hal ini menunjukkan bahwa infus daun sirih memiliki potensi sebagai antelmintik alami dengan mekanisme kerja yang mirip dengan pirantel.
c. Pirantel Palmoat
Pada uji dengan pirantel pamoat, baik cacing betina maupun jantan mengalami paralisis spastik sejak menit ke-45, yang ditandai dengan kontraksi otot berlebihan akibat stimulasi terus-menerus pada reseptor nikotinik asetilkolin. Kondisi ini menyebabkan cacing kehilangan kemampuan bergerak secara normal dan akhirnya mati. Cacing jantan menunjukkan kematian lebih awal, yaitu pada menit ke-135, sedangkan cacing betina mati pada menit ke-150. Perbedaan waktu kematian ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan ukuran tubuh, di mana cacing jantan yang lebih kecil lebih cepat menyerap dan merespons efek obat dibandingkan cacing betina yang lebih besar. Akumulasi efek pirantel yang menyebabkan kelelahan otot dan gangguan metabolisme lebih cepat terjadi pada cacing jantan, sehingga kematiannya lebih awal. Hasil ini menunjukkan bahwa pirantel efektif dalam melumpuhkan Ascaris suum dengan mekanisme paralisis spastik, yang pada akhirnya menyebabkan kematian cacing dan memungkinkan pengeluarannya dari tubuh inang
d. Piperazin Sitrat
Pada uji dengan larutan piperazin sitrat, baik cacing betina maupun jantan mengalami paralisis flasid sejak menit ke-45, yang ditandai dengan hilangnya kemampuan bergerak akibat blokade impuls saraf ke otot. Piperazin bekerja dengan mengaktivasi reseptor GABA, yang menghambat kontraksi otot cacing, menyebabkan kelumpuhan lembek sehingga cacing tidak dapat mempertahankan posisinya di usus inang. Kematian kedua cacing terjadi pada menit ke-165, dengan waktu yang sama untuk cacing betina dan jantan. Hal ini kemungkinan karena efek piperazin tidak bergantung secara langsung pada ukuran tubuh, melainkan pada mekanisme kerja yang menyebabkan cacing kehilangan kendali otot secara perlahan hingga fungsi vitalnya terganggu.
Akibatnya, baik cacing betina yang lebih besar maupun cacing jantan yang lebih kecil mengalami kematian dalam waktu yang hampir bersamaan. Hasil ini menunjukkan bahwa piperazin efektif dalam menyebabkan paralisis flasid pada Ascaris suum, yang akhirnya membuat cacing tidak mampu bertahan dan mati dalam periode tertentu.
7. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil uji aktivitas antelmintik terhadap Ascaris suum menggunakan berbagai larutan uji, dapat disimpulkan bahwa setiap zat memiliki mekanisme kerja yang berbeda dalam mempengaruhi kelangsungan hidup cacing. Pirantel pamoat menyebabkan paralisis spastik dengan stimulasi berlebihan pada reseptor nikotinik asetilkolin, yang menyebabkan kontraksi otot terus-menerus hingga akhirnya cacing mati, dengan cacing jantan mati lebih cepat dibandingkan cacing betina. Piperazin sitrat bekerja dengan cara sebaliknya, yaitu menyebabkan paralisis flasid melalui aktivasi reseptor GABA, yang menghambat kontraksi otot dan menyebabkan kelumpuhan lembek hingga kematian cacing dalam waktu yang sama untuk kedua jenis kelamin. Infus daun sirih juga menunjukkan efek paralisis spastik secara bertahap, yang menunjukkan potensi sebagai antelmintik alami, meskipun memerlukan penelitian lebih lanjut untuk efektivitasnya dibandingkan obat sintetik. Air suling sebagai kontrol negatif tidak memiliki efek langsung terhadap cacing, namun kematian tetap terjadi akibat faktor lingkungan. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa pirantel dan piperazin efektif dalam membunuh Ascaris suum dengan mekanisme yang berbeda, sementara infus daun sirih menunjukkan potensi sebagai alternatif alami dalam terapi cacingan.
8. PUSTAKA
Anonim. 2009. Piperazine-citrate. Tanpa Kota: Tanpa Penerbit. Anonim. 2010.
Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Mycek.
2001.
Flaccid Paralysis Vs Spastic Paralysis. Tanpa Kota: Tanpa Penerbit. Astuti, Lilis Sri. 2007.
Klasifikasi Hewan. Jakarta: PT. Kawan Pustaka. Laskey, A. 2007.
Nurmansyah, A. 2019. Praktkum Farmakologi . Palembang. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Aisyiyah
Modul Praktikum Farmakologi III. 2024. Universitas Al-Ghifari
9. LAMPIRAN