UJI Transudat dan Eksudat
Elisa Albertine Rahmita Deran Ola, S.K.H (
2309020019)
KELOMPOK KOAS 8A
Pendahuluan
Transudat berasal dari ultrafiltrasi membran dan mengandung protein yang rendah.
Efusi transudat menunjukkan adanya proses non-inflamasi yang disebabkan oleh gangguan tekanan hidrostatik atau tekanan osmotik koloid.
Eksudat adalah cairan dan sel yang keluar dari kapiler dan masuk ke dalam jaringan pada waktu radang.
Terjadi : infeksi bakteri ->
mengakibatkan peningkatan
permeabilitas dinding kapiler pembuluh
darah.
Diferensial Diagnosis Cairan Efusi
1. Transudat murni, yang disebabkan oleh menurunnya tekanan osmotik
(hipoalbuminemia ≤ 1 g/dl). Sifat transudat murni : jernih, tidak berwarna, kandungan protein ˂ 2,5 g/dl , jumlah sel ˂ 500/µ, dan terdapat neutrofil non degenerasi.
2. Transudat modifikasi, ditandai dengan bertambahnya protein dan sel-sel.
Kongesti pasif dari hati dan gangguan aliran cairan limfa yang menyebabkan
akumulasi cairan. Terdapat sel-sel mesotelial, sel tumor pada permukaan
mesotelial yang berasal dari saluran limfatik dan venula.
Macam-macam tipe transudat termodifikasi:
•
Asites. Ciri-ciri dengan protein: 2,5-5 g/dl. Jumlah sel: 300 - 5500 sel/μl. Terdapat sejumlah eritrosit, neutrofil nondegenerasi, sel mesotelial, makrofag, kadang-kadang eosinofil (kasus dirofilariasis) dan limfosit.
•
Chylothorax (ruptur ductus thoracicus). Berwarna putih atau kemerah-merahan, tidak jernih (opaque). Protein tidak dapat diukur dengan tepat, karena banyak butir-butir lipid. Jumlah sel >
10000 /μI. Banyak limfosit kecil, sejumlah neutrofil nondegenerasi, banyak sel-sel yang lisis.
•
Efusi pseudochilus (pada penyakit jantung kucing). Cairan keputih-putihan, banyak butir lipid dan limfosit. Tidak dapat dibedakan dengan chylothorax, hanya tidak ada ruptur ductus
thoracicus.
•
Limfosarkoma dan neoplasma.
Jenis-jenis Eksudat
• Eksudat Serosa
Eksudat bening/jernih yang menyerupai serum darah dan hanya sedikit mengandung fibrin dan sel.
Ditandai dengan adanya cairan bening dan tipis pada permukaan mukosa, kulit, atau di rongga peritoneum, pleura, dan perikardial.
Eksudat Fibrinosa
Ciri khasnya mengandung banyak fibrin.
Eksudat fibrinogen ditandai dengan lepasnya molekul fibrinogen yang lebih besar dari sistem vascular sehingga cairan berwarna keruh atau kekuningan.
Eksudat Hemoragik
Ciri khasnya adanya kemerahan karena mengandung banyak eritrosit. Eksudat hemoragik biasanya bercampur dengan serum, fibrin, dan leukosit.
Eksudat Purulen
Ciri khasnya mengandung banyak sel polinukleus dan jaringan nekrotik yang lisis. Eksudat ini terlihat seperti PUS/Nanah akibat adanya akumulasi neutrofil mati.
Mekanisme Pembentukan Transudat dan Eksudat
Tekanan hidrostatik meningkat.
Tekanan koloid osmotik
Kenaikan filtrat kapiler dan protein
naiknya substansi dan pengumpulan cairan di ekstravaskuler, molekul-molekul kecil seperti air, elektrolit, dan kristaloid akan berdifusi secara cepat melewati plasma darah, sehingga terjadi penumpukan cairan
Transudat
infeksi bakteri yang mengakibatkan peningkatan permeabilitas dinding kapiler
pembuluh darah.
lapisan kapiler atau membrane rusak oleh proses peradangan atau neoplastik.
Akibatnya protein berukuran besar dan konstituen darah lainnya bocor keluar untuk
masuk ke jaringan dan rongga tubuh.
Eksudat
Perbedaan Transudat dan Eksudat
Transudat Eksudat
Penyebab :
Meningkatnya tekanan hidrostatik Menurunnya tekanan osmotik
Meningkatnya permeabilitas kapiler Menurunnya absorbsi limfatik
Non-inflamasi inflamasi
Bakteri (-) Bakteri (+)
Jernih, serous, kekuning, encer Jernih atau keruh dan kental Tidak Menyusun pembekuan Menyusun pembekuan Sel :
Sedikit endotel Limfosit kecil Eritrosit
Neutrofil Limfosit Eritrosit
Fibrinogen (-) Fibrinogen (+)
Jumlah leukosit <500 sel/µl Jumlah leukosit >500 sel/µl Kadar protein < 2,5 g/dl Kadar protein > 2,5 g/dl Kadar glukosa sama dengan plasma
darah
Kadar glukosa lebih kecil dari plasma darah
Zat lemak (-) Zat lemak (+)
Bj 1.006– 1.015 Bj 1.018– 1.030
Cairan Peritoneal
Sampel Pengujian
Cairan peritoneal adalah cairan di rongga peritoneum, ruang antara dinding abdomen dan organ di dalamnya. Cairan mengandung sel-sel yang berasal dari mesothelium dan pembuluh darah atau limfatik. Cairan tersebut berguna melumasi peritoneum sehingga dapat mengurangi gesekan antara peritoneum visceral dan parietal.
Cairan pleura adalah cairan dalam rongga pleura paru – paru. Rongga pleura yang berada diantara paru-paru dan dinding dada, dalam keadaan normal terdiri dari lapisan tipis, yang berisi cairan sebagai pelumas antara paru-paru dan ruangan pleura.
Cairan Pleura
Teknik Pengambilan Sampel
Abdominocentesis merupakan teknik pengambillan cairan dari rongga abdomen. Pengambilan cairan ini dapat dilakukan dengan posisi berdiri ataupun lateral recumbency. Koleksi akumulasi abdominal bertujuan untuk menganalisis keberadaan bakteri, adanya kandungan protein, dan perdarahan (Regmi dan Shah, 2017). Sebelum dilakukan koleksi, daerah abdomen dicukur dan disterilisasi terlebih dahulu. Koleksi cairan abdominal dilakukan dengan menggunakan IV kateter 24G dan syringe 5 ml steril yang diinjeksikan pada rongga peritoneum dan diaspirasi secara berlahan. Hasil aspirasi cairan abdomen kemudian ditampung pada wadah steril yang selanjutnya dilakukan pemeriksaan dan identifikasi cairan transudate ataupun eksudat sesuai parameter yang ditetapkan.
Abdominocentesis
Pengujian Transudat dan Eksudat
Makroskopis Mikroskopis
Pemeriksaan makroskopis transudat dan eksudat meliputi warna, kejernihan, bekuan, berat jenis, pH dan
bau
Perhitungan jumlah leukosit yang meningkat dan jenis sel leukosit seperti neutrofil
dan dapat disertai dengan jumlah makrofag, limfosit,
dan sel mesofel.
Uji Glukosa Uji Kolesterol
Uji Rivalta LDH
Kimia
Pemeriksaan Makroskopis
Parameter Pemeriksaan Alat dan Bahan serta mekanisme kerja
Interpretasi
Transudat Eksudat
Warna Alat: tabung reaksi
Cara:
Mengisi tabung reaksi dengan cairan yang dikoleksi kemudian secara visual mengamati warna
kekuning-kuningan bilirubin memberi warna kuning, warna merah atau coklat biasanya karena darah, pus
atau nanah
memberi warna putih sampai kunig
dan chylus
memberi warna putih susu
Kejernihan Alat: tabung reaksi
Cara:
Mengisi tabung reaksi dengan cairan yang dikoleksi kemudian secara visual mengamati kejernihan
Jernih Keruh dan
kekeruhan yang kemerah-merahan
Parameter Pemeriksaan Alat dan Bahan serta mekanisme kerja
Interpretasi Transudat Eksudat Bekuan Cara : biarkan sampel selama 1 jam
untuk melihat adanya bekuan tidak.
- +
Bau Menggunakan Indera penciuman Biasanya baik transudat mupun eksudat tidak mempunyai bau, kecuali kalau terjadi pembusukan protein. Infeksi dengan kuman anaerob dan oleh E. coli mungkin menimbulkan bau busuk, demikian adanya bau mengarahkan ke eksudat.
Berat Jenis Hidrometer 1.006– 1.015 1.018-1.030
pH Menghitung pH cairan transudat dan
eksudat dapat menggunakan kertas lakmus, pH indicator dan pH meter.
pH normal cairan pleura 7.6.
pH transudat 7.45-7.55
pH eksudat 7.30-7.45
➢ Hitung Jumlah leukosit
▪ Alat dan bahan : hemositometer bilik hitung Neubauer improve atau bilik hitung Fuchs Rosental, mikroskop, larutan turk dan NaCl 0.9%.
▪ Mekanisme kerja :
1. Hisap sampel kedalam pipet leukosit atau hemositometri sampai tanda 0,5.
2. Hisap larutan turk atau NaCl sampai tanda 11 kemudian homogenkan
3. Siapkan kamar hitung dengan kaca penutup diatasnya. Lalu isi kamar hitung dengan perlahan-lahan.
4. Kemudian hitung jumlah leukosit pada kamar hitung menggunakan mikroskop.
▪ Interpretasi :Interpretasi :
o Transudat : <1000 sel/µl (cairan plaura) dan 300 sel/µl (cairan peritoneal) o Eksudat : >1000 sel/µl (cairan plaura) dan 500 sel/µl (cairan peritoneal)
Pemeriksaan Mikroskopis
Pemeriksaan Kimia
▪ Uji Glukosa
Metode hexokinase adalah metode yang digunakan untuk menentukan konsentrasi glukosa.
Interpretasi hasil : jika kadar glukosa <3,6 g/dL maka mengindikasikan cairan tersebut transudat, sedang jika kadar glukosa >3,6 g/dL maka mengindikasikan cairan tersebut eksudat.
▪ Uji Kolestrol
Kolestrol diukur apabila cairan tubuh terlihat seperti susu dan dengan sentrifuse tidak menghasilkan cairan jernih.
Konsentrasi kolestrol eksudat lebih tinggi daripada transudat. Konsentrasi kolestrol eksudat > 45 mg/dl.
▪ Uji Rivalta
Uji Rivalta adalah metode sederhana untuk menentukan adanya protein dalam suatu cairan tubuh.
Kandungan protein yang tinggi dan konsentrasi fibrin dan mediator inflamasi yang tinggi menyebabkan reaksi positif.
Mekanisme kerja : tabung reagen transparan (10 mL) diisi dengan 8 mL aquades, ditambahkan 1 tetes asam asetat dan dihomogenkan. Lalu ditetesi cairan yang ingin diperiksa dengan jarak 1 cm dari permukaan cairan.
Interpretasi :
Hasil tes negatif (transudat) jika tetesan larut ke dalam reagen dan tetap jernih.
Hasil positif (eksudat), jika tetesan mempertahankan bentuknya, perlahan mengapung ke bawah, atau tetap menempel di permukaan.
▪ Laktat dehidrogenase (LDH)
Laktat dehidrogenase adalah suatu enzim transfer hidrogen yang mengkatalisa oksidasi dari laktat menjadi piruvat dengan perantaraan NAD+ sebagai penerima hidrogen.
Mekanisme kerja : Metode pemeriksaanya menggunakan fotometer. Fotometer berfungsi dalam menentukan kadar suatu bahan di dalam cairan tubuh seperti serum dan plasma. Untuk melakukan pemeriksaan, sampel terlebih dahulu di inkubasi. Kemudian, sampel disedotkan pada aspirator sehingga masuk ke dalam kuvet dan di baca oleh sinar cahaya. Hasil yang muncul dari pemeriksaan fotometer biasanya berupa angka.
Interpretasi : jika LDH > 200 IU/L (eksudat), jika LDH <200 IU/L (transudat).
“Laporan kasus : Feline Infectious Peritonitis Virus pada Kucing Lokal Jantan yang Mengalami Asites”
oleh Jayanti et al., 2021
Studi Kasus
➢ Sinyalemen
Identitas pemilik
Nama : Gede Juli Parwata
Identitas hewan
- Nama : Minmin
- Ras : Lokal
- Umur : 1 tahun
- Jenis kelamin : Jantan
- Berat badan : 4 kg
- Warna : Kuning kecoklatan
➢ Anamnesa
1. Keluhan : penurunan nafsu makan, lemas, sudah defekasi dan rongga abdomen membesar. Hal tersebut sudah berlangsung selama 7 hari.
2. Sebelum datang ke RSHP Unud, telah mndapatkan penanganan oleh dokter hewan namun belum menunjukkan perubahan yang signifikan.
3. Manajemen pemeliharaan : dilepas di dalam lingkungan rumah dengan satu ekor kucing lainnya.
4. Status vaksinasi dan obat cacing sudah diberikan 5. Pakan berupa dryfood dengan minum ad libitum.
➢ Pemeriksaan fisik
• Inspeksi : terlihat pembesaran di daerah abdomen tersebut terlihat simetris, seperti membentuk buah pir.
• Palpasi berulang : adanya getaran cairan bergelombang pada daerah abdominal.
• Pemeriksaan muskoloskeletal tampak kelemahan pada otot sehingga kucing enggan untuk berdiri secara sempurna.
• Pemeriksaan pernafasan diperoleh hasil terjadinya takipneu dengan tipe pernafasan thorakalis.
• Pada pemeriksaan kulit, mata, telinga, dan pencernaan diperoleh hasil normal.
➢ Pemeiksaan penunjang
1. Pemeriksaan Rontgen
Pemeriksaan rontgen bertujuan untuk mengetahui adanya abnormalitas ukuran maupun bentuk dari organ yang diperiksa (Singh et al., 2019). Pemeriksaan rontgen pada kucing kasus dilakukan pada posisi lateral dan ventrodorsal pada regio abdomen. Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya radioopasitas pada abdomen yang menggambarkan terjadi akumulasi cairan pada rongga abdomen.
Berdasarkan hasil tersebut pada pencitraan lateral dan ventrodorsal terlihat kepadatan rongga abdomen meningkat secara difus.
2. Pemeriksaan Hematologi
Hasil pemeriksaan hematologi pada kucing kasus menunjukkan bahwa terjadi leukositosis, granulositosis, limfositopenia
3. Pemeriksaan Kimia darah
Hasil pemeriksaan kimia darah pada kucing kasua menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar glukosa, alkaline phosphatase, persentase albumin: globulin, serta terjadi peningkatan pada kadar blood urea nitrogen (BUN).
4. Pemeriksaan Ultrasonografi
Hasil pemeriksaan ultrasonografi pada kucing kasus menunjukkan terjadinya hepatomegali dimana hal tersebut ditandai dengan adanya abnormalitas bentuk hati, adanya akumulasi cairan pada rongga abdomen, dan terjadinya peradangan pada ginjal
Gambar Hasil pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan terjadi penumpulan pada ujung hati (tanda panah putih) (A), adanya akumulasi cairan (citra anechoic) pada rongga abdomen (tanpa panah putih) (B), dan terjadi penebalan pada korteks renalis ditandai dengan perubahanechotexturemenjadi lebih echogenic (tanda panah hitam) (C) (Jayantiet al., 2021)
5. Abdominocentesis
Koleksi akumulasi abdominal bertujuan untuk menganalisis keberadaan bakteri, adanya kandungan protein, dan perdarahan. Hasil koleksi cairan abdomen berwarna kuning pucat dengan konsitensi cair mengental.
6. Tes Rivalta
Tes rivalta yang diujikan pada kasus ini menunjukkan hasil positif yang menyatakan bahwa cairan hasil aspirasi abdomen yang diujikan merupakan eksudat.
Feline Infectious Peritonitis
Etiologi : mutasi dari agen Feline Coronavirus, famili Coronaviridae dan genus Alphacoronavirus
Pembahasan
Terdiri dari 2 bentuk:
1. Bentuk non-efusi yang ditandai dengan adanya lesi pyogranulomatous pada organ serta
2. Bentuk efusi yang ditandai dengan terjadinya polyserositis (efusi abdomen atau thoraks) dan vaskulitis.
Gejala klinis
(sangat bervariasi tergantung distribusi vaskulitis dan lesi pyogranulomatous)
Asites merupakan tanda klinis yang umum teramati pada kucing dengan feline infectious peritonitis bentuk efusi.
Demam pireksia transien maupun persisten.
Pada pemeriksaan fisik diperoleh hasil bahwa terjadi distensi abdominal yang simetris. Saat diinspeksi terlihat bagian abdomen membesar seperti buah pir. Hal tersebut dikonfirmasi juga bahwa akumulasi cairan akan membentuk abdomen terlihat seperti buah pir.
Pada pemeriksaan pernafasan diamati adanya peningkatan frekuensi nafas dengan tipe pernafasan thorakalis. Hal tersebut disebabkan karena ada akumulasi cairan yang kemudian menekan rongga diafragma sehingga proses pengambilan nafas akan
meningkat.
Hasil pemeriksaan rontgen menunjukkan perubahan radioopasitas pada abdomen karena adanya akumulasi cairan pada organ tersebut. Berdasarkan hasil tersebut pada pencitraan lateral dan ventrodorsal terlihat kepadatan rongga abomen yang meningkat secara difus.
Hasil pemeriksaan ultrasonografi menunjukkan terjadinya hepatomegali ditandai dengan adanya abnormalitas bentuk hati, adanya akumulasi cairan pada rongga abdomen, dan terjadinya peradangan pada ginjal, dimana terjadi perubahan echotexture pada korteks renalis yang seharusnya hypoechoic menjadi lebih echogenic dibandingkan gambaran normal ginjal.
Hasil pemeriksaan hematologi pada kucing kasus menunjukkan bahwa terjadi
leukositosis, granulositosis, limfositopenia. Peningkatan nilai leukosit dan granulosit menunjukkan bahwa adanya infeksi yang menyebabkan peradangan kronis. Sedangkan penurunan kadar limfosit merupakan kompensasi dari peningkatan leukosit dan granulosit.
Hasil pemeriksaan kimia darah pada kucing kasus menunjukkan bahwa terjadi penurunan kadar glukosa, alkaline photsphatase, persentase albumin: globulin, serta terjadi
peningkatan pada kadar blood urea nitrogen (BUN). Peningkatan kadar BUN mengindikasi adanya keterlibatan organ ginjal pada penyebaran infeksi.
Hasil abdominocentesis menunjukkan adanya akulumasi cairan berwarna kuning terang dengan konsistensi seperti minyak di dalam rongga abdomen. Sharif et al. (2010) menyatakan bahwa efusi yang terlihat pada feline infectious peritonitis diklasifikasikan sebagai modifikasi transudate menjadi eksudat dengan kandungan protein yang tinggi dan adanya konten seluler.
Efusi feline infectious peritonitis mengandung biakan sel yang termasuk makrofag, neutrofil, dan limfosit dalam proporsi rendah
Hasil uji rivalta menunjukkan hasil positif yang ditandai dengan tetesan hasil tetes cairan efusi yang secara perlahan melayang turun ke dasar tabung seperti ubur-ubur (jellyfish like).
Diagnosis
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang, disimpulkan bahwa kucing Minmin terinfeksi Feline Infectious Peritonitis bentuk efusif.
Diagnoasa banding : toxoplasmosis, infeksi mikobakteri, lymphocytic cholangitis, right heart failure, dan gagal ginjal kronis
Prognosis
Prognosis hewan kasus adalah dubius - infausta.
Terapi
1. Pemberian diuretik furosemide 10mg/ml injeksi intravena dengan jumlah pemberian 0,45 ml (2 x sehari)
2. Hepatoprotektor ornipural injeksi subkutan dengan jumlah pemberian 2 ml (setiap 2 hari sekali)
3. Nefroprotektor ketosteril per oral dengan jumlah pemberian ½ tablet (setiap 2 hari sekali)
4. Anibiotik cefotaxim sodium 1g/ml injeksi intravena dengan jumlah pemberian 1,3 ml (2 x sehari)
5. Antiradang dexamethasone 5mg/ml injeksi subkutan 0,4ml (2 x sehari)
6. Transfer factor 1 x 1 tab selama 7 hari.
CREDITS:This presentation template was created by Slidesgo, and includes icons by Flaticonand infographics & images by Freepik