Nama : Suryanto Gunawan NIM : 010002000227 Tanda tangan :
__________________________________________________________________________________
1. A. UU No 06 Tahun 2023 Tentang Cipta Kerja :
a. Pasal 1 angka 5 “Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”. Dalam pasal ini yang diperbaiki adalah kalimat Wakili Presiden yang seharusya ditulis tidak
menggunakan huruf capital karena tidak diikuti oleh nama atau instansi,diubah menjadi “Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang dibantu oleh wakil presiden dan menteri sebagaimana dimaksud dalam Undang – Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945”.
b. Pasal 9 ayat (1) huruf a dan B “Perizinan Berusaha untuk kegiatan usaha berisiko menengah sebagaimana dimaksud dalam pasal 7 ayat (7) huruf b meliputi :
-. kegiatan usaha berisiko menengah rendah ; dan
-. kegiatan usaha berisiko menengah tinggi”.Seharusnya kata menengah rendah diubah menjadi menengah kebawah agar lebih mudah dipahami oleh
masyarakat indonesia dan kalimat menengah tinggi diubah menjadi menengah keatas karena untuk masyarakat indonesia kalimat tersebut lebih mudah
dipahami.
c. Pasal 88C ayat (2) yang menyebut gubernur dapat menetapkan upah
minimum kabupaten/kota dengan syarat tertentu. Frasa "dapat" dalam pasal itu seharusnya dihilangkan, karena frasa “dapat” dapat sangat merugikan buruh
karena membuat penetapan upah minimum kabupaten/kota (UMK) menjadi bukan kewajiban.
B. Menurut saya harus mengganti kalimat dalam Pasal yang saya sebutkan, karena kalimat sebelumnya dirasa dapat merugikan atau membuat keliru bagi masyarakat, dan bisa berujung pada dirugikannya hak maupun kewajiban dari setiap masyarakat yang tunduk kepada Undang-undang tersebut.
2. Revisi Kitab Undang-undang Hukum Perdata
- ketentuan-ketentuan tentang Hipotik dalam Buku II BW titel XXI Pasal 1162 s.d.
1232 sepanjang mengenai tanah telah direvisi menjadi Undang-undang No. 4 Tahun 1996 tentang Hak TanggunganAtas Tanah Beserta Benda-benda yang Berkaitan dengan Tanah karena ketentuan dalam hipotik sudah tidak relevan dengan ukuran kapal saat ini, tetapi ketentuan- ketentuan tentang hipotik itu masih berlaku bagi kapal lautyang berukuran 20m3 ke atas
- Pasal pasal 164 HIR/284 RBG tentang Alat-alat bukti yang sah, dapat diberikan penambahan, yaitu alat pembuktian ditambah dengan UU Informasi dan
Transaksi Elektronik sekarang menjadi alat bukti yang sah.
- Pasal-pasal tentang Hak Opstal Pasal 711 -719 BW dan Pasal-pasal tentang Hak Erfpacht Pasal 720-736 BW di hapus seiring direvisi nya ketentuan-ketentuan tentang Hipotik dalam Buku II BW.
- Pembagian Barang dalam KUHPer yang lama ada 10, yaitu :
1.
Benda berwujud dan benda tak berwujud (Pasal 503 BW);
2.
Benda bergerak dan benda tidak bergerak (Pasal 504 BW);
3.
Benda habis pakai dan benda tidak habis pakai (Pasal 505 BW);
4.
Benda yang sudah ada dan benda yang masih akan ada (Pasal 1131 BW);
5.
Benda yang dapat dibagi dan benda yang tidak dapat dibagi (Pasal 1160 jo. 1163 BW);
6.
Benda dalam perdagangan dan benda diluar perdagangan (Pasal 537 jo 1132 BW);
7.
Benda harta karun dan benda bukan harta karun (Pasal 587 BW);
8.
Benda menghasilkan dan benda tidak menghasilkan (Pasal 575 BW);
9.
Benda bertuan dan benda tidak bertuan (Pasal 519 BW);
10.
Benda yang dapat diganti dan benda yang tidak dapat diganti (1694 BW).
Namun pembagian barang dalam BW yang baru hanya Barang yang berwujud dan barang tidak berwujud. Barang yang bergerak dan barang yang tidak bergerak. Barang yang dapat dipakai habis dan barang yang tidak dapat dipakai habis. Barang yang sudah ada dan barang yang masih akan ada.
3.
a. Peraturan Daerah Provinsi adalah Qanun yang berlaku di Provinsi Aceh dan Peraturan Daerah Khusus (Perdasus).
dasar hukum Perda : Qanun Aceh nomor 2 Tahun 2019 tentang Retribusi Aceh Termasuk dalam hierarki peraturan perundang-undangan karena dibentuk oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi dengan persetujuan bersama
Gubernur Aceh, serta Materi muatan Perda Provinsi berisi materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta
menampung kondisi khusus daerah dan/atau penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.
b. Materi muatan mengenai ketentuan pidana hanya dapat dimuat dalam:
-Undang-Undang;
-Peraturan Daerah Provinsi; atau -Peraturan Daerah Kabupaten/Kota.
Berdasarkan Pasal 238 ayat 2 Undang-Undang Pemerintahan Daerah, Perda dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
c. Surat Edaran Mahkamah Agung adalah salah satu bentuk peraturan yang dikeluarkan Mahkamah Agung terkait fungsi pengaturan yang dimilikinya. Surat Edaran Mahkamah Agung (SEMA) berkedudukan tidak lebih tinggi ataupun setara dengan undang-undang dalam hierarki peraturan perundang-undangan, SEMA dan Putusan Mahkamah Konstitusi dapat digolongkan kedalam peraturan perundang- undangan dan memiliki kekuatan hukum mengikat seperti yang ditentukan dalam pasal 8 ayat 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011.
d. Putusan inkonstitusional bersyarat adalah suatu putusan dimana pasal yang dimohonkan diuji tersebut pada saat putusan dibacakan adalah inkonstitusional, akan tetapi pasal tersebut akan menjadi konstitusional apabila syarat
sebagaimana ditetapkan oleh MK dipenuhi.
Walau telah berlakunya Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 91 Tahun 2020, tetapi UU 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja masih tetap berlaku. Karena MK telah lebih dahulu memberi waktu bagi pemerintah untuk memperbaiki omnibus law UU 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja selama 2 tahun. Namun UU tersebut bersifat putusan inkonstitusional, putusan tersebut dapat menjadi putusan konsitusional apabila telah memenuhi keadaan-keadaan yang dipersyaratkan oleh MK.
4.
a. Jika keadaan semacam itu dibiarkan berlarut-larut maka masyarakat di daerah itu bisa kehilangan kesabaran dan bisa bertindak anarkhis.
Kalimat ini tergolong ambigu, karena kata anarkhis seharusnya ditulis anarkis, agar tidak terjadi kesalahpahaman mengenai arti dari sebuah kalimat.
b. Dosen yang mendalami dan mengembangkan bidang ilmu yang langka diberikan anggaran dan fasilitas khusus oleh pemerintah atau pemerintah daerah.
Kalimat ini ambigu, karena kata langka memiliki arti luas sehingga tidak dimungkinkan untuk diberikan fasilitas khusus terhadap ilmu yang tidak jelas atau ambigu.
c. Gaji guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat berdasarkan perjanjian kerja dan/atau kesepakatan kerja bersama.
Kalimat ini ambigu karena perjanjian kerja tidak ada hubungan dengan gaji seorang guru.
d. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut dilakukan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dalam bentuk peningkatan kesehatan gigi, pencegahan penyakit gigi, pengobatan penyakit gigi, dan
pemulihan kesehatan gigi untuk mengembalikan fungsi kunyah oleh pemerintah dan/atau masyarakat serta swasta yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi, dan berkesinambungan.
Kalimat tersebut bersifat ambigu karena fungsi dari gigi tidak hanya untuk mengunyah, disamping itu dijelaskan bahwa Kesehatan gigi dan mulut untuk meningkatkan derajat Kesehatan, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi dari gigi tidak hanya untuk mengunyah, tetapi memiliki fungsi lain yang seharusnya dijelaskan dalam kalimat tersebut.
5. berdasarkan teori materi muatan undang-undang dari buku Ibu Prof Dr Maria Indrati Soeprapto, SH, MH, buku Kesatu Kitab Undang-undang Hukum Pidana memuat substansi, antara lain, ruang lingkup berlakunya hukum pidana, Tindak Pidana dan pertanggungjawaban pidana, pemidanaan, pidana, diversi, dan tindakan, juga tujuan dan pedoman pemidanaan, faktor yang memperingan pidana, faktor memperberat pidana, perbarengan, serta gugurnya kewenangan penuntutan dan pelaksanaan pidana, pengertian istilah, dan aturan penutup.