DUKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN
MARET 2020
PEDOMAN TEKNIS PENANGANAN
DAN KONFLIK USAHA PERKEBUNAN TAHUN 20
REFOCUSING
UKUNGAN PERLINDUNGAN PERKEBUNAN
DIREKTORAT JENDERAL PERKEBUNAN KEMENTERIAN PERTANIAN
PEDOMAN TEKNIS
PENANGANAN GANGGUAN USAHA PERKEBUNAN TAHUN 2020
REFOCUSING
ii DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR LAMPIRAN ... iv
I PENDAHULUAN... 1
A. Latar Belakang... 1
B. Sasaran Nasional... 4
C. Tujuan... 5
II PENDEKATAN PELAKSANAAN KEGIATAN... 6
A. Prinsip Pendekatan Pelaksanaan Kegiatan... 6
B. Spesifikasi Teknis... 13
III PELAKSANAAN KEGIATAN... 24
A. Ruang Lingkup... 24
B. Pelaksana dan Penanggung Jawab Kegiatan... 28
C. Lokasi, Jenis dan Volume... 35
D. Simpul Kritis... 36
IV PROSES PENGADAAN BARANG... 38
V PEMBINAAN, PENGENDALIAN, PENGAWALAN DAN PENDAMPINGAN... 39
A. Pembinaan, Pengendalian, Pengawalan dan Pendampingan ... 39
B. Pelaksanaan Pembinaan, Pengendalian, Pengawalan dan Pendampingan... 40
VI MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN... 42
A. Monitoring... 42
iii
B. Evaluasi... 42
C. Pelaporan... 42
VII PEMBIAYAAN... 45
VIII PENUTUP... 46
Lampiran ... 47
iv DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1. Denah Demplot Mitigasi dan Adaptasi…... 48 2. Spesifikasi Ternak Kambing ... 49 3. Contoh Desain Rumah Kompos... 49 4. Spesifikasi Peralatan Pembukaan Lahan
Perkebunan Tanpa Membakar ………. 50 5. Lokasi dan Volume kegiatan Penanganan
Dampak Perubahan Iklim... 51 6. Lokasi dan Volume kegiatan Operasional
Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun ……….
51
7. Lokasi dan Volume kegiatan Demplot Pembukaan Lahan Perkebunan Tanpa Membakar ……….
52
8. Form Laporan Perkembangan Realisasi Fisik Dan Keuangan Kegiatan Penanganan Dampak Perubahan Iklim... 52 9. Out Line Laporan Akhir ... 53
1 I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kasus gangguan dan konflik usaha perkebunan terus meningkat jumlah dan kualitasnya baik dalam bentuk penjarahan produksi, pengrusakan asset perusahaan, penyerobotan lahan dan tuntutan masyarakat terhadap lahan, kebun dan posisi pimpinan perusahaan. Dampak terjadinya gangguan dan konflik usaha perkebunan yaitu terganggunya keberlanjutan usaha perkebunan yang akan berpengaruh pada kondisi sosial dan ekonomi serta gangguan keamanan masyarakat dan wilayah.
Permasalahan gangguan dan konflik usaha perkebunan memiliki karakter multidimensi yaitu ekonomi, politik, hukum, sosial dan lingkungan, sehingga penyelesaiannya tidak dapat dilakukan secara parsial dan kuratif serta harus melibatkan berbagai pihak terkait.
Berkaitan dengan hal tersebut diperlukan peningkatan sinergitas antara Pusat dan Daerah dalam upaya penanganan gangguan dan konflik usaha perkebunan dengan melakukan Fasilitasi, Inventarisasi, Identifikasi, serta Penanganan Kasus gangguan dan konflik usaha Perkebunan.
2 B. Sasaran Nasional
Teridentifikasinya, terinventarisasinya, termonitoring, terevaluasinya, dan terfasilitasinya penanggulangan gangguan dan konflik usaha Perkebunan.
C. Tujuan
Tujuan kegiatan adalah:
1) Melakukan inventarisasi dan identifikasi kondisi dan jenis gangguan dan konflik usaha perkebunan yang ada di daerah;
2) Membantu upaya dalam penyelesaian gangguan dan konflik usaha perkebunan dan berkoordinasi dengan instansi terkait dalam rangka penanganan kasus gangguan dan konflik usaha perkebunan;
3) Meningkatkan kesadaran pekebun dan masyarakat serta perusahaan perkebunan dalam penanganan gangguan dan konflik usaha perkebunan.
4) Meningkatkan koordinasi penanganan gangguan dan konflik usaha perkebunan antar instansi terkait di Pusat, Provinsi dan Kabupaten/ Kota.
5) Meningkatkan persamaan persepsi antar pihak terkait mengenai penanganan gangguan dan konflik usaha Perkebunan.
3 II. PENDEKATAN PELAKSANAAN KEGIATAN A. Prinsip Pendekatan Pelaksanaan Kegiatan 1. Pendekatan Umum
Prinsip pendekatan umum meliputi hal yang bersifat administratif dan manajemen kegiatan.
a. SK Tim Pelaksana Kegiatan
1) Penetapan SK Tim Pelaksana Kegiatan oleh Kepala Dinas/KPA paling lambat 1 (satu) minggu setelah diterimanya penetapan Satker dari Menteri Pertanian.
2) Penanggung jawab dan pelaksana kegiatan gangguan dan konflik usaha perkebunan untuk TP provinsi ditetapkan oleh Kepala Dinas Provinsi.
b. Rencana kerja
Rencana kerja pelaksanaan masing-masing kegiatan disusun paling lambat 1 (satu) minggu setelah ditetapkannya SK Tim pelaksana dan mengacu kepada Pedoman Teknis dari Ditjen Perkebunan.
c. Juklak, Juknis
Penanggungjawab kegiatan harus menyusun Juklak/Juknis yang mengacu kepada pedoman teknis yang dikeluarkan oleh Ditjen.Perkebunan.
Penyusunan Juklak/Juknis untuk kegiatan TP Provinsi/Kabupaten/Kota paling lambat 2 (dua) minggu setelah ditetapkannya SK Tim pelaksana.
4 d. Koordinasi dan Sosialisasi
Koordinasi dilakukan oleh satker pelaksana kegiatan dengan Direktorat Jenderal Perkebunan melalui Direktorat Perlindungan Perkebunan dengan melibatkan instansi terkait dan Dinas Kabupaten/Kota dimana terdapat lokasi kegiatan dilaksanakan.
Sosialisasi dilaksanakan oleh pelaksana kegiatan kepada pelaku usaha perkebunan, masyarakat dan aparat pemerintah.
e. Pelelangan/pengadaan
Pelelangan/pengadaan dilaksanakan sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
Pelelangan/pengadaan barang dan jasa harus selesai pada bulan Februari 2020.
f. Monitoring dan Evaluasi
Monitoring dan evaluasi dilakukan oleh satker pelaksana kegiatan selama kegiatan berlangsung.
g. Laporan
1) Laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan disampaikan oleh satker pelaksana kegiatan sesuai dengan jadual dan form Pedoman SIMONEV.
2) Laporan akhir kegiatan disampai kan oleh satker pelaksana kegiatan ke pusat paling lambat 2
5 (dua) minggu setelah kegiatan selesai dan tidak melewati bulan Desember 2020.
2. Prinsip Pendekatan Teknis
a. Melakukan Pertemuan/ Rapat Fasilitasi Penanganan gangguan dan konflik usaha Perkebunan dengan mengundang instansi terkait, pelaku usaha perkebunan dan masyarakat.
b. Melakukan koordinasi dan musyawarah untuk mufakat dengan masyarakat, pelaku usaha perkebunan dan instansi terkait untuk mendapatkan penyelesaian yang adil.
3. Tindak Lanjut
Berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi perlu dilakukan tindak lanjut sebagai berikut:
a. Tahap Pelaksanaan Kegiatan
1) Perencanaan kegiatan/Jadual kegiatan.
2) Pembuatan Juklak Juknis setiap kegiatan.
3) Menunjuk penanggung jawab dan pelaksana kegiatan.
4) Melakukan Inventarisasi, identifikasi dan fasilitasi penanganan kasus gangguan usaha perkebunan dan tindak pidana dibidang perkebunan.
5) Koordinasi dengan instansi terkait.
6) Melakukan pembinaan.
6 b. Tahap Pasca Pelaksanaan Kegiatan
Gangguan dan Konflik usaha Perkebunan.
Dinas provinsi /kabupaten /kota menindaklanjuti rekomendasi hasil fasilitasi bedah kasus serta melakukan pembinaan dan meningkatkan koordinasi dengan pelaku usaha perkebunan dan instansi terkait lainnya baik tingkat pusat, provinsi maupun kabupaten/kota.
4. Penerima Manfaat
Pelaku usaha perkebunan dan masyarakat di sekitar kegiatan berlangsung, Pemerintah Daerah, dan Pemerintah Pusat.
B. Spesifikasi Teknis 1. Kriteria
a. Kegiatan dilaksanakan di provinsi atau kabupaten/kota yang rawan terjadinya gangguan usaha perkebunan;
b. Provinsi atau Kabupaten/Kota yang terdapat usaha perkebunan.
2. Metode
a. Melakukan inventarisasi kasus gangguan dan konflik usaha perkebunan di wilayah kerja masing-masing;
7 b. Melakukan identifikasi dengan mengelompokan jenis kasus gangguan dan konflik usaha perkebunan (GUP- Lahan dan GUP-Non Lahan);
c. Membuat data rekapitulasi kasus GUP di wilayah kerjanya sesuai Format 1 yang terdapat dalam lampiran 1;
d. Melakukan fasilitasi penanganan gangguan usaha perkebunan;
e. Menyusun dokumentasi hasil fasilitasi (bedah kasus) yang meliputi surat undangan, daftar hadir, notulen/berita acara dan foto kegiatan.
8 III. PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Ruang Lingkup
1. Inventarisasi data dan informasi, terkait dengan gangguan dan konflik usaha perkebunan antara lain berdasarkan pengaduan atau temuan petugas;
2. Mengidentifikasi kondisi dan jenis gangguan dan konflik usaha perkebunan;
3. Groundcheck ke lokasi terjadinya gangguan usaha perkebunan dan tempat kejadian perkara untuk dilakukan pembinaan pada pihak terkait;
4. Indikator Kinerja;
No Indikator Uraian
1 Input/Masukan - Dana - SDM
- Data dan informasi 2 Output/Keluaran Terselenggaranya
Fasilitasi Penanganan gangguan dan konflik usaha Perkebunan dan Teridentifikasi serta terinventarisirnya data gangguan usaha perkebunan di daerah 3 Outcome/hasil Tersedianya data dan
informasi fasilitasi penanganan gangguan dan konflik usaha perkebunan (bedah kasus)
9 B. Pelaksana dan Penanggung Jawab Kegiatan 1. Pelaksana dan penanggung jawab kegiatan
Penanganan gangguan dan konflik usaha Perkebunan untuk TP provinsi adalah dinas provinsi yang membidangi perkebunan.
2. Kewenangan dan tanggung jawab :
a. Direktorat Perlindungan Perkebunan 1) Menyiapkan Terms of Reference (TOR)
dan Pedoman Teknis;
2) Melakukan bimbingan, pembinaan, monitoring dan evaluasi.
b. Dinas Provinsi yang membidangi perkebunan
1) Menetapkan Tim Pelaksana kegiatan Penanganan gangguan dan konflik usaha Perkebunan di tingkat provinsi;
2) Melakukan koordinasi dengan Direktorat Jenderal Perkebunan dan Dinas Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan serta institusi terkait lainnya;
3) Membuat petunjuk pelaksanaan kegiatan Penanganan Gangguan dan Konflik Usaha Perkebunan;
4) Melakukan pengawalan, pembinaan, monitoring dan evaluasi Penanganan
10 Gangguan dan Konflik Usaha Perkebunan;
5) Menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan kepada Direktorat Jenderal Perkebunan melalui Direktorat Perlindungan Perkebunan.
C. Lokasi, Jenis dan Volume
Kegiatan penanganan gangguan dan konflik usaha perkebunan dilaksanakan di 13 provinsi dengan sasaran 15 kasus gangguan usaha perkebunan dan dengan rincian pada lampiran 2.
D. Simpul Kritis
1. Kasus Gangguan dan Konflik Usaha Perkebunan pada umumnya sudah terjadi dan berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu dan penanganannya melibatkan berbagai pihak yang terkait baik di tingkat pusat maupun daerah;
2. Koordinasi antar instansi terkait belum berjalan optimal;
3. Penanganan kasus Gangguan dan Konflik Usaha umumnya masih bersifat parsial;
4. Belum semua Provinsi/Kabupaten/ Kota membentuk Tim penanganan kasus Gangguan dan Konflik Usaha Perkebunan;
11 5. Terdapat perbedaan pemahaman baik petugas, masyarakat, atau pelaku usaha perkebunan tentang peraturan perundang- undangan bidang perkebunan.
6. Penyelesaian Gangguan dan Konflik Usaha perkebunan adalah pejabat pemberi izin usaha perkebunan yaitu bupati/walikota sementara dinas perkebunan yang menangani hanya sebagai perangkat kerja pejabat tersebut.
12 IV. PROSES PENGADAAN BARANG
Pengadaan barang dan jasa kegiatan Perlindungan Perkebunan untuk dana Tugas Perbantuan (TP) Direktorat Jenderal Perkebunan mengacu kepada Perpres No 54 tahun 2010 dan Perpres No.70 tahun 2012.
Semua kegiatan pengadaan barang dan jasa yang melalui proses tender, pelaksanaan dan penetapan pemenang harus sudah sesuai dengan usulan rencana yang disampaikan oleh Satker pada awal tahun kegiatan.
13 V. PEMBINAAN, PENGENDALIAN, PENGAWALAN
DAN PENDAMPINGAN
A. Pembinaan, Pengendalian, Pengawalan dan Pendampingan
Kegiatan pembinaan, pengendalian dan pengawalan dana TP Provinsi dilakukan secara terencana dan terkoordinasi dengan unsur penanggung jawab kegiatan di Direktorat
Jenderal Perkebunan, Dinas
Provinsi/Kabupaten/Kota yang membidangi perkebunan.
Pelaksanaan kegiatan pembinaan, pengendalian dan pengawalan diutamakan pada tahapan yang menjadi simpul-simpul kritis kegiatan yang telah ditetapkan.
Dalam melaksanakan kegiatan pembinaan, pengendalian dan pengawalan dilakukan koordinasi secara berjenjang sesuai dengan tugas fungsi dan kewenangan masing-masing unit pelaksana kegiatan.
Sasaran kegiatan pembinaan, pengendalian, dan pengawalan terhadap pelaksana kegiatan (Man), pembiayaan (Money), Metode, dan bahan-bahan yang dipergunakan (Material). Kegiatan pembinaan, pengendalian dan pengawalan harus mampu meningkatkan kualitas pelaksanaan kegiatan melalui pemberian rekomendasi dan pemecahan masalah terhadap pelaksanaan kegiatan sehingga dapat mengakselerasi
14 kegiatan sesuai dengan tujuan dan sasaran kegiatan yang ditetapkan.
B. Pelaksanaan Pembinaan, Pengendalian, Pengawalan dan Pendampingan
Waktu pelaksanaan kegiatan pembinaan, pengendalian dan pengawalan minimal satu kali pada setiap jenis kegiatan yang dilaksanakan.
Pelaksanaan kegiatan hendaknya selalu di koordinasikan dengan pusat, provinsi dan kabupaten/kota sehingga pembinaan, pengendalian dan pengawalan efektif dan efisien.
Direktorat Perlindungan Perkebunan melakukan pembinaan dan pengawalan kegiatan pemberdayaan perangkat pada seluruh wilayah pelaksana kegiatan.
Dinas yang membidangi Perkebunan tingkat provinsi melakukan pembinaan, pengendalian, pengawalan dan pendampingan kegiatan tingkat provinsi.
15 VI. MONITORING, EVALUASI DAN PELAPORAN A. Monitoring
Monitoring ditujukan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan dan kemajuan yang telah dicapai pada setiap kegiatan.
Monitoring dilaksanakan oleh petugas Dinas yang membidangi perkebunan di tingkat provinsi pada wilayah kerja masing-masing. Pelaksanaan monitoring minimal satu kali selama kegiatan berlangsung.
B. Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui ketepatan/kesesuaian pelaksanaan kegiatan dan hasil yang dicapai dibandingkan dengan yang direncanakan serta realisasi/penyerapan anggaran. Hasil evaluasi sebagai umpan balik perbaikan pelaksanaan selanjutnya.
Evaluasi dilakukan oleh Direktorat Perlindungan Perkebunan, serta Dinas yang membidangi perkebunan Provinsi pada wilayah kerja masing- masing.
C. Pelaporan
Setiap kegiatan didokumentasikan dalam bentuk laporan tertulis sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan. Laporan dibuat oleh pelaksana kegiatan dan dilaporkan secara berjenjang kepada penanggung jawab/pembina kegiatan mengacu kepada pedoman outline
16 penyusunan laporan dan SIMONEV serta bentuk laporan lainnya sesuai dengan kebutuhan.
1. Jenis Laporan : a. Laporan Mingguan
Laporan Mingguan berisi laporan kemajuan (fisik dan keuangan) pelaksanaan kegiatan setiap minggu berjalan dan disampaikan kepada Direktorat Perlindungan Perkebunan setiap minggu hari Jum’at.
b. Laporan Bulanan
Laporan Bulanan berisi laporan kemajuan (fisik dan keuangan) pelaksanaan kegiatan setiap bulan berjalan dan disampaikan kepada Direktorat Jenderal Perkebunan paling lambat tanggal 5 pada bulan berikutnya.
c. Laporan Triwulan
Laporan Triwulan berisi laporan kemajuan fisik dan keuangan (Lampiran 3) pelaksanaan kegiatan setiap triwulan dan disampaikan setiap triwulan kepada Direktorat Jenderal Perkebunan, paling lambat tanggal 5 pada bulan pertama triwulan berikutnya .
d. Laporan Akhir
Laporan Akhir merupakan laporan keseluruhan pelaksanaan kegiatan, setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai dilaksanakan. Laporan akhir disampaikan
17 kepada Direktorat Perlindungan Perkebunan, paling lambat 2 minggu setelah kegiatan selesai. Laporan disampaikan melalui surat dan e-mail
2. Out Line Laporan
Out line laporan akhir kegiatan seperti dalam lampiran 4.
18 VII. PEMBIAYAAN
Kegiatan dukungan perlindungan perkebunan di daerah antara lain didanai dari APBN tahun anggaran 2020 melalui anggaran Tugas Pembantuan (TP) Ditjen. Perkebunan.
19 VIII. PENUTUP
Pedoman Teknis kegiatan Penanganan Gangguan dan Konflik Usaha Perkebunan merupakan acuan secara umum yang perlu dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dan Petunjuk Teknis (Juknis) yang lebih operasional. Diharapkan dengan pedoman teknis ini, pelaksanaan kegiatan tersebut dapat terlaksana sesuai dengan tujuan dan sasaran yang direncanakan.
---ooo---
20
LAMPIRAN
21 Lampiran I.
FORM PENANGANAN KASUS GANGGUAN USAHA PERKEBUNAN
PROVINSI ...
SAMPAI DENGAN BULAN ... TAHUN 2020
No Lokasi Terjad
inya GUP
Pihak yang terliba t kasus
GUP
Jenis Gangguan Usaha Uraian Singkat Permas
alahan
Upaya Penanganan
Keterangan Non Lahan Lahan
1. *) diisi
dengan jenis GUP berdasark an tipologi
*) diisi dengan jenis GUP berdasark an tipologi
*) dimediasi oleh... pada tanggal....
*) proses peradilan
*) Kasus selesai, dalam proses, pending, belum ditangani
1. CATATAN: Tipologi Kasus Gangguan Usaha dan Konflik Perkebunan
Tipologi GUP-Non Lahan, a.l:
a. Pelaku usaha perkebunan tidak memiliki izin usaha perkebunan;
b. Tuntutan masyarakat atas pembangunan kebun plasma 20% dari areal yang diusahakan oleh perusahaan (Permentan No.26 Th.2007 jo Permentan 98/2013)
c. Petani/pekebun tidak mampu dan/atau tidak ada keinginan membayar/melunasi kredit;
d. Penetapan harga/pembelian hasil panen tidak sesuai keinginan pekebun;
e. Masyarakat menolak pembangunan Perkebunan Kelapa Sawit karena dipengaruhi oleh LSM dan pihak ketiga lainnya (oknum);
f. Pengerusakan tanaman dan aset perkebunan;
g. Penjarahan dan pencurian produksi;
h. Masyarakat Ingin ikut serta sebagai peserta plasma;
22
i. Keterlambatan konversi kebun petani peserta/plasma;
2. Tipologi GUP – Lahan, a.l:
a. Penggunaan tanah adat/ulayat tanpa persetujuan pemuka adat/masyarakat;
b. Belum selesainya penetapan Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Provinsi/Kabupaten/Kota;
c. Okupasi/penyerobotan lahan pelaku usaha perkebunan oleh masyarakat;
d. Tumpang tindih lahan perkebunan dengan kawasan pertambangan;
e. Terjadinya tumpang tindih lahan karena izin baru;
f. Proses penerbitan HGU tidak sesuai peraturan perundangan;
g. Tuntutan masyarakat terhadap tanah yang sedang dalam proses HGU
h. Belum dilakukannya ganti rugi lahan/ganti rugi tanam tumbuh, tetapi usaha perkebunan sudah operasional;
i. Tanah masyarakat yang diambil alih perusahaan;
j. Kebun plasma yang menjadi agunan kredit diperjualbelikan oleh petani tanpa sepengetahuan perusahaan/bank;
k. Tuntutan masyarakat terhadap kebun plasma yang telah dijanjikan tidak dipenuhi perusahaan;
l. Masyarakat menuntut pengembalian tanah yang sudah dilakukan ganti rugi perusahaan;
m. Izin Lokasi sudah berakhir dan tidak dilakukan pembaharuan/perpanjangan;
n. Terhadap HGU yang diperpanjang, masyarakat menuntut pengembalian kembali lahannya;
o. Masyarakat menuntut lahan perusahaan untuk dimiliki/dikuasai;
p. Luas lahan plasma tidak sesuai dengan penetapan jumlah calon petani peserta oleh Bupati;
q. Lahan yang ditelantarkan oleh perusahaan;
23
r. Pelaku usaha perkebunan tidak menyelesaikan perolehan hak atas tanah;
s. Tanah-tanah perkebunan HGU dituntut untuk diserahkan kepada kelompok masyarakat tertentu dengan dasar tanah ulayatnya.
t. Pelaku usaha perkebunan diberikan Izin usaha perkebunan berdasarkan RTRWP/RTRWK, namun lokasi usaha perkebunan berdasarkan Peta Kawasan Hutan berada pada Kawasan Budidaya Kehutanan;
u. Pelaku usaha perkebunan membuka Kawasan Hutan sebelum ada Pelepasan Kawasan Hutan dari Menteri Kehutanan;
v. Pelaku usaha perkebunan memperoleh hak atas tanah sesuai peraturan, namun lokasi usaha perkebunan berdasarkan Peta Kawasan Hutan berada pada Kawasan Hutan.
w. Wanprestasi/ingkar janji kemitraan usaha perkebunan antar pelaku usaha perkebunan;
x. Penerbitan Izin Usaha Perkebunan yang belum/tidak sesuai ketentuan;
y. Pembangunan kebun melebihi areal yang diizinkan.
z. Pembagian sisa hasil usaha tidak proporsional.
Lampiran 2.Lokasi dan volume kegiatan penanganan gangguan dan konflik usaha perkebunan
NO PROPINSI JUMLAH KASUS
1. Aceh 1 KASUS
2. Riau 2 KASUS
3. Sumsel 1 KASUS
4. NTB 1 KASUS
5. Jawa Barat 1 KASUS
6. Bengkulu 1 KASUS
7. Jambi 1 KASUS
24
NO PROPINSI JUMLAH KASUS
8. Sumbar 1 KASUS
9. Sulteng 1 KASUS
10. Sumut 1 KASUS
11. Kalteng 2 KASUS
12. Balbel 1 KASUS
13. Sulut 1 KASUS
Lampiran 3. Form Laporan Perkembangan Realisasi Fisik Dan Keuangan kegiatan penanganan gangguan dan konflik usaha perkebunan
KEGIATAN : PROVINSI : KABUPATEN : LUAS :
POSISI : (Tanggal/bulan/tahun)
NO URAIAN PAGU (Rp)
REALISASI
KEUANGAN REALISASI
FISIK (%) KENDALA RTL Rp %
25 Lampiran4.Out Line Laporan Akhir Laporan Akhir dibuatsesuai out line sebagaiberikut:
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL (jika ada) DAFTAR GAMBAR (jika ada) DAFTAR LAMPIRAN (jika ada) I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang B. Tujuan dan Sasaran C. Ruang Lingkup Kegiatan D. Indikator Kinerja
II. TINJAUAN PUSTAKA III. PELAKSANAAN KEGIATAN
A. Waktu dan Lokasi B. Alat dan Bahan C. Metode
D. Tahap Aktivitas/Kegiatan/ Pelaksanaan E. Simpul Kritis Kegiatan
F. Pelaksana G. Pembiayaan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
26 B. Saran/rekomendasi
C. Rencana Tindak Lanjut VI. DAFTAR PUSTAKA