• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS LAMPUNG NOPEMBER, 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "UNIVERSITAS LAMPUNG NOPEMBER, 2017"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR TAHUN

PENELITIAN SOSIAL, HUMANIORA DAN PENDIDIKAN

MEMBANGUN RELEVANSI KURIKULUM PROGRAM STUDI PGSD DENGAN KURIKULUM SD MELALUI PENGEMBANGAN

UNIVERSITY-SCHOOL BASED CURRICULUM (UsBec) Tahun ke 1 dari rencana 3 tahun

Ketua/Anggota Tim

Ketua : Dr. Een Y. Haenilah, M.Pd. /NIDN 0030036210 Anggota : 1.Dr.H. Muhammad Fuad, M.Hum./NIDN 0022075903 2.Dr. Riswandi, M.Pd. /NIDN 0008087610

3.Drs. Maman Surahman, M.Pd . /NIDN 0019045917

Dibiayai oleh:

Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat Kementerian Riset,Teknologi, dan Pendidikan Tinggi

Sesuai dengan Kontrak Penelitian Nomor:071/SP2H/LT/DRPM/IV/2017

UNIVERSITAS LAMPUNG

NOPEMBER, 2017

(2)
(3)

i

RINGKASAN

Setiap perubahan kurikulum selalu diiringi oleh masalah ketidaksiapan guru dalam mengimplementasikannya. Oleh karena itu diperlukan kerjasama yang kondusif antara Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan sebagai penghasil guru dengan stakeholders sebagai pengguna lulusan.

Secara utuh penelitian ini menggunakan panduan Research and Development dari Borg dan Gall (2006). Kegiatan penelitian di tahun pertama bertujuan untuk mendapatkan data tentang analisis kebutuhan Sekolah Dasar (SD) dan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) sehingga dapat menghasilkan model prototipe (hypotetic model) untuk membangun relevansi kurikulum program studi PGSD dengan kurikulum SD melalui pengembangan University-School Based Curriculum (UsBec). Pada tahap berikutnya diperlukan sejumlah upaya penyempurnaan kurikulum PGSD fokus pada sejumlah mata kuliah Pembelajaran ke- SD-an yang meliputi; (a) memetakan capaian pembelajaran, (b) memetakan organisasi materi, (c) mendesain model perencanaan, (d) mendesain model pembelajaran. Kegiatan selanjutnya memvalidasi hasil desain model UsBec, dan terakhir adalah memproduk Model Hipotetik.

Sementara ini fakta di lapangan membuktikan bahwa sesungguhnya ruang lingkup kebijakan Kemenristek-dikti nomor 44 tahun 2015 sebagai pijakan kurikulum PGSD sudah memuat seluruh aspek yang dapat menghasilkan lulusan sesuai standar nasional dan tuntutan stakeholders, namun pengembangannya terutama pada dimensi dokumen dan implementasi belum tepat. Salah satu penyebabnya adalah terdapat perbedaan model kurikulum yang digunakan di PGSD dengan model kurikulum yang harus dikembangkan guru di SD.

PGSD seperti halnya program studi lainnya menggunakan kurikulum Subjek akademik (subject centered curriculum) yang berorientasi pada pembentukan keahlian secara khusus dan mendalam sedangkan di SD menggunakan kurikulum yang membangun keterhubungan antara Mata Pelajaran (interdiscilinary curriculum) dan bermuara pada pendidikan secara utuh (Permendikbud. No. 103 tahun 2014). Oleh karena itu diperlukan penyempurnaan kurikulum PGSD pada aspek organisasi materi dan pendekatan pembelajaran agar terbentuk relevansi antaran kepentingan PGSD sebagai penghasil guru dengan kepentingan lulusannya yang akan mengembangkan kurikulum SD.

Data analisis kebutuhan diperoleh dari 31 dosen PGSD dan 161 guru SD yang mewakili guru-guru di 20 kecamatan se Kota Bandar Lampung. Hasilnya menggambarkan SWOT baik tentang pengembangan kurikulum SD maupun PGSD yang mendorong dihasilkannya sebuah model kurikulum yang beradaptasi dengan kebutuhan lulusan PGSD agar siap menjadi pengembang kurikulum SD. Hasil analisis kebutuhan ini dituangkan dalam model hypotetic yang meliputi komponen (a) Desain Organisasi Bahan Kajian (b).Desain Pengalaman Belajar (c) Desain Implementasi (d) Desain Evaluasi.

Walaupun pada proposal penelitian tahun pertama ini belum menargetkan jenis luaran apa pun, tetapi di akhir penelitian sudah dapat dirumuskan draft artikel untuk jurnal internasional (terlampir).

Kata Kunci: Research and Development, University-School Based Curriculum (UsBec), subject centered curriculum, interdiscilinary curriculum

(4)

ii PRAKATA

Setiap perubahan kurikulum selalu diiringi oleh masalah ketidaksiapan guru dalam mengimplementasikannya. Oleh karena itu diperlukan kerjasama yang kondusif antara Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan sebagai penghasil guru dengan stakeholders sebagai pengguna lulusan. Model pendidikan guru yang hanya merujuk pada salah satu konsep tanpa memperhatikan kebutuhan lapangan hanya akan menghasilkan produk yang mubadzir. Begitu juga sistem penyelenggaraan pendidikan yang hanya memperhatikan paradigma “input-proses-output” dalam membekali seperangkat kompetensi akan menimbulkan sejumlah kelemahan. Oleh karena itu model kurikulum pendidikan tinggi penghasil guru harus selalu terjaga kesesuaiannya dengan kebutuhan di lapangan.

Kegiatan penelitian di tahun pertama ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang analisis kebutuhan SD dan PGSD sehingga dapat menghasilkan model prototipe (hypotetic model) untuk membangun relevansi kurikulum program studi PGSD dengan kurikulum SD melalui pengembangan University-School Based Curriculum (UsBec).

Pada kesempatan ini peneliti mengucapkan terima kasih kepada pemerintah melalui kemenristek-dikti yang sudah memfasilitasi kegiatan penelitian ini juga kepada guru SD dan dosen PGSD FKIP Universitas Lampung yang sudah menjadi responden dalam penelitian ini.

(5)

iii DAFTAR ISI

RINGKASAN ... i

PRAKATA ... ii

DAFTAR ISI... iii

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR GAMBAR ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Urgensi/Keutamaan Penelitian... 4

1.3 Indikator Capaian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Kurikulum 2013 Sekolah Dasar ... 6

2.2 Pembelajaran di Sekolah Dasar ... 7

2.3 PembelajaranTematik ... 9

2.4 Pendekatan Ilmiah pada Pembelajaran di SD ... .. 10

2.5 Model Kurikulum PGSD ... .. 11

BAB III TUJUAN DAN MANFAAT 3.1 Tujuan Penelitian ... .. 15

3.2 Manfaat Penelitian ... .. 15

BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian ... .. 16

4.2 Langkah Penelitian... .. 16

4.3 Lokasi Penelitian ... .. 18

4.4 Alat Pengumpul Data ... .. 18

4.5 Teknik Analisis Data... .. 19

4.6 Populasi dan Sampel ... .. 19

4.7 Jadwal Penelitian ... .. 19

BAB V. HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI 5.1 Hasil Analisis SWOT Kebijakan dan Implementasi Kurikulum SD ... .. 20

5.2 Hasil Analisis SWOT Kebijakan dan Implementasi Kurikulum PGSD ... .. 21

5.3 Redesain Model Kurikulum UsBec ... .. 22

(6)

iv

5.4 Luaran ... .. 23 BAB VI. RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA ... .. 26 BAB VII . KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan ... .. 27 7.2 Saran ... .. 27

DAFTAR PUSTAKA ... .. 28 LAMPIRAN

1. Data Hasil Penelitian (bahan analisis SWOT) 2. Model Hypotetic UsBec

3. Draft artikel Untuk Jurnal Internasional

(7)

v

DAFTAR TABEL

Tabel 5.1 Data Hasil Analisis SWOT Kebijakan dan Implementasi Kurikulum SD ... 20 Tabel 5.2 Data Hasil Analisis SWOT Kebijakan dan Implementasi Kurikulum PGSD ... 21

(8)

vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Taxonomi Belajar ... 9

Gambar 2.2 Irisan Kurikulum Humanistik dengan Kurikulum Subjek akademik ... 12

Gambar 4.1 Langkah-langkah Penelitian dan pengembangan ... 16

Gambar 5.1 Model University-School Based Curriculum (UsBec)... 22

Gambar 5.2 Desain Organisasi Bahan Kajian... 23

Gambar 5.3 Desain Pengalaman Belajar ... 24

(9)

vii

DAFTAR LAMPIRAN

1. Data Hasil Penelitan 2. Model Hypotetic USBek

3. Draft Artikel untuk Jurnal Internasional

(10)

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sejumlah hasil penelitian membuktikan bahwa ada korelasi antara kompetensi guru tentang apa dan bagaimana siswa belajar dengan kondisi untuk belajar, dan keberhasilan guru dalam mengajar (Marton et al, 2014;. Prosser & Trigwell, 2008; Ramsden, 2012; Biggs, 2003). Indonesia merespon kondisi ini melalui kebijakan Undang-Undang Nomor 14 tahun Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang secara langsung berimplikasi terhadap perlunya penyelarasan model, sistem, dan kurikulum pendidikan guru dengan kebutuhan stkeholders di lapangan, serta produk kebijakan pemerintah yang mengatur rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum 2013.

Model pendidikan guru yang hanya merujuk pada salah satu konsep tanpa memperhatikan kebutuhan lapangan hanya akan menghasilkan produk yang mubadzir.

Begitu juga sistem penyelenggaraan pendidikan yang hanya memperhatikan paradigma

“input-proses-output” dalam membekali seperangkat kompetensi akan menimbulkan sejumlah kelemahan, sehingga model konsep kurikulum yang sudah lama dijadikan icon di pendidikan tinggi pun sudah saatnya ditinjau ulang kesesuaiannya dengan tuntutan perkembangan ilmu dan teknologi saat ini.

Kurikulum subjek akademik (Separated subjek curriculum) sebagai satu-satunya model kurikulum yang selama ini menjadi kiblatnya kurikulum Pendidikan Tinggi.

Kurikulum ini bertumpu pada tujuan agar semua mahasiswa termasuk calon guru mampu menguasai kajian akademik secara mendalam. Calon guru SD dicetak untuk menguasai 1) sejumlah konten akademik (area of study) yang akan diajarkan di SD seperti ; Matematika SD, IPA SD, Bahasa Indonesia SD, IPS SD, dan PPKn SD. 2) sejumlah kajian konten pedagogik sebagai sarana mengemas bahan-bahan kajian ke SD-an menjadi sebuah pembelajaran yang mendidik (pedagogical content knowledge).

Di Pendidikan Tinggi, semua mahasiswa tidak terkecuali calon guru dituntut untuk menguasai bahan kajian secara mendalam dan parsial, tetapi manakala mereka mengajar di SD diharapkan secara otomatis akan mampu menggabungkan semua bahan kajian itu secara utuh dalam bentuk tematik terpadu, sesuai dengan tuntutan Permendikbud Nomor 67 Tahun 2013 tentang Kerangka dasar dan struktur kurikulum Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah bahwa ”Kurikulum 2013 untuk Sekolah Dasar didesain dengan menggunakan pembelajaran

(11)

2

“tematik terpadu”. Artinya guru dituntut untuk mengintegrasikan semua Mata pelajaran (Mapel) ke dalam suatu pembelajaran yang didasari oleh suatu tema.

Permendikbud. Nomor 160 tahun 2014 pasal 4 tentang pemberlakuan kurikulum 2006 dan kurikulum 2013 menegaskan bahwa satuan pendidikan dasar dan pendidikan menengah dapat melaksanakan kurikulum tahun 2006 paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020. Artinya di tahun tersebut tidak ada lagi pilihan tentang kurikulum kecuali semua sekolah harus menggunakan kurikulum 2013.

Kurikulum SD menegaskan tentang pentingnya filosofi model kurikulum humanistik yang memandang anak sebagai satu kesatuan kognisi, sosial, dan emosi. Kurikulum ini didasari oleh konsep pendidikan pribadi (persoznalized educationi) dari John Dewey dan J.J.

Rousseau yang mengarahkan pendidikan untuk membina manusia secara utuh , artinya bukan saja dari segi fisik dan intelektual tetapi juga segi sosial dan afektif (emosi, sikap, perasaan, dan nilai) secara terpadu sebagai dasar pendidikan selanjutnya.

Model kurikulum humanistik selama ini menjadi pijakan pengembangan kurikulum SD yang diberlakukan sejak kurikulum pertama yaitu tahun 1947. Hal ini mengacu pada landasan psikologis kebutuhan perkembangan anak usia SD yang direalisasikan melalui sistem guru kelas, dengan harapan dalam implementasinya guru dapat melaksanakan pembelajaran secara luwes, dapat mendekatkan konten antar Mata pelajaran (Mapel), atau konten suatu Mapel dapat menguatkan Mapel lainnya . Hal ini menjadi salah satu bukti dari strategi menyiapkan anak untuk memiliki landasan kepribadian secara utuh, bukan menyiapkan anak untuk menguasai keilmuan secara parsial.

Tuntutan kebutuhan perkembangan anak usia SD ini semakin dikuatkan oleh pemberlakuan kurikulum 2013 yang menekankan pendidikan secara konfluen dengan ciri-ciri utama 1) Partispasi; kurikulum ini menekankan partisipasi siswa dalam belajar. 2) Integrasi;

adanya interaksi, interpenetrasi, dan integrasi dari pemikiran, perasaan dan juga tindakan. 3) Relevansi; adanya kesesuaian antara kebutuhan, minat dan kehidupan sasaran didik. 4) Pribadi anak; memberikan tempat utama pada pribadi anak untuk berkembang dan beraktualisasi potensi secara utuh. 5) Tujuan; memiliki tujuan mengembangka pribadi yang utuh. 6) evaluasi; lebih mengutamakan proses dari pada hasil. Intinya sasaran pendidikan ini adalah perkembangan anak agar menjadi manusia yang lebih terbuka dan lebih mandiri.

Muara dari konsep ini maka guru SD dituntut untuk mengemas kurikulum secara tematik terpadu baik dalam dimensi dokumen maupun implementasi.

Keutamaan ini sekaligus menjadi ciri khusus kurikulum 2013 yang menjadikan Kompetensi Inti (KI) sebagai target dari standar kelulusan siswa dari suatu lembaga.

(12)

3

Kompetensi Inti yang dimuat dalam kurikulum 2013 meliputi aspek sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan. Sikap spiritual dan sikap sosial bersifat tidak diajarkan (indirect-teaching). Peran guru tidak cukup hanya sebagai sumber informasi tetapi guru juga harus menjadi model atau teladan yang akan ditiru secara langsung oleh sasaran didik-sasaran didiknya melalui perilaku pembiasaan. Dengan kata lain aspek pengetahuan dan keterampilan menjadi wahana pembentukan kepribadian anak secara utuh.

Guru harus mampu menyuguhkan pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa Mapel sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada sasaran didik (Rismiati, 2012; Azevedo, 2013). Landasan psikologis dari pembelajaran tematik terpadu adalah anak usia SD masih dalam rentangan berpikir integratif yaitu berpikir dari hal umum ke bagian demi bagian, mereka memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan (holistik), belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu (Piaget, 1972). Lebih lanjut Piaget menegaskan bahwa kemampuan berpikir anak usia SD masih pada level praoperasional dan terpadu, oleh karena itu pembelajaran bukan hanya diajarkan dengan menggunakan sistem guru kelas tetapi juga dikemas secara tematik terpadu. Ketika pembelajaran tidak tersekat-sekat antara satu Mapel dengan Mapel lainnya maka ketika itu pula terjadi proses pembelajaran yang melibatkan semua ranah sekaligus baik kognitif, afektif dan psikomotor. Kondisi psikologis tersebut menjadi landasan filosofis kurikulum 2013 SD.

Tuntutan kurikulum 2013 SD ini ternyata menimbulkan kesulitan pada guru dalam menyesuaikan paradigma berpikir mereka. Ketika mereka di Pendidikan Tinggi dirancang (by design) untuk menguasai kompetensi akademik secara parsial tetapi kurikulum 2013 SD menuntut guru untuk mengintegrasikannya secara tematik terpadu baik dalam merancang program, melaksanakan pembelajaran, dan mengevaluasinya.

Persoalan ini sesungguhnya menjadi suatu kewajaran karena selama ini kurikulum Pendidikan Tinggi yang digunakan untuk menyiapkan guru SD sama dengan kurikulum yang digunakan untuk menyiapkan calon guru Sekolah Menengah bahkan Pendidikan Tinggi yaitu menggunakan model kurikulum subjek akademik atau separated subject curriculum. Mereka dipersiapkan untuk menguasai bidang-bidang kajian secara mendalam dan terpisah antara satu bidang kajian dengan bidang kajian lainnya, tidak ada pendekatan khusus yang harus digunakan oleh dosen untuk menghubungkan mata kuliah yang diampunya dengan mata kuliah yang diampu oleh dosen lain, bahkan tidak ada mata kuliah khusus yang dikemas secara tematik untuk masuk ke semua mata kuliah secara terpadu. Oleh karena itu menjadi suatu kewajaran pula manakala sosialisasi dan workshop kurikulum 2013 SD yang sudah

(13)

4

dilakukan sejak awal tahun 2013 masih menyisakan kesulitan pada guru untuk mengembangkannya di lapangan. Pangkal persolalan dari masalah tersebut lebih didasari oleh kesulitan guru untuk merubah paradigma yang sudah dicetak sejak mereka dipersiapkan di Pendidikan Tinggi.

Persoalan ini harus menjadi kajian khusus di Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) terutama pada Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) yang selama ini menjadi garda terdepan dalam menyiapkan tenaga guru untuk jenjang pendidikan SD. Oleh karena itu menjadi suatu keniscayaan untuk merancang ulang (redesign) kurikulum dan pembelajaran LPTK agar mencerminkan sinergitas antara perkembangan akademik Pendidikan Tinggi dengan kebutuhan (Perpres, No 8 /2012).

1.2 Urgensi (keutamaan ) penelitian.

Salah satu indikasi keberhasilan kurikulum Pendidikan Tinggi (K-Dikti) yang dituntut oleh Permenriset, teknologi dan pendidikan tinggi nomor 44 tahun 2015 yaitu harus berlandaskan pada acuan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) berdasarkan Perpres. nomor 19 tahun 2012. Di dalam acuan itu outcomes K-Dikti yang dihasilkan harus memperhatikan scientific vision, tracer study dan signal marget yang berkembang di masyarakat.

Kurikulum PGSD sesungguhnya sedang dipertaruhkan untuk dapat memenuhi tuntutan tersebut. Di dalam perkembangannya kurikulum PGSD yang berada pada jenjang Pendidikan Tinggi seyogyanya selalu bersesuaian dengan tuntutan profesionalisme pengembang kurikulum pada jenjang Pendidikan Dasar terutama SD, tetapi faktanya setiap terjadi penyempurnaan kurikulum SD yang sudah dimulai sejak kurikulum tahun 1975 sampai yang bersifat pembaharuan seperti kurikulum 2004 yaitu dimulainya pembelajaran tematik pada kelas awal SD hingga sekarang diberlakukan kurikulum SD 2013 ternyata tidak berbanding lurus dengan upaya penyempurnaan kurikulum PGSD.

Saat ini model kurikulum PGSD masih mengacu pada kurikulum subjek akademik atau separated subject curriculum, setiap dosen yang mengampu mata kuliah ke-SD-an memiliki dinding pemisah yang sangat kokoh, sehingga satu dengan yang lainnya hanya membahas bidang keilmuannya (body knowledge) masing-masing tanpa menyentuh bidang ilmu yang lain. Begitu juga dosen yang mengampu mata kuliah pedagogik, menjadikan kajian keilmuannya semakin konseptual alasannya bahwa untuk menjadi guru SD yang profesional, lulusan PGSD masih harus melanjutkan ke jenjang pendidikan profesi. Kondisi ini akan

(14)

5

menimbulkan kesenjangan yang semakin lebar antara tuntutan profesionalisme pengembang kurikulum di SD dengan upaya PGSD dalam menghasikan guru.

Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) menjadi satu-satunya lembaga penghasil guru SD, baik pada level S1 maupun untuk pendidikan profesi jalur Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG). Untuk itu hal utama yang harus diperhatikan dalam mengembangkan kurikulum program studi ini adalah mutlak harus mengikuti perkembangan kebutuhan stakeholders di lapangan, menyiapkan outcomes yang memiliki paradigma berpikir sesuai dengan tuntutan sekolah, bahkan ketika mereka mengikuti pendidikan profesi seyogyanya dipersiapkan agar memiliki kemudahan dalam beradaptasi baik berkenaan dengan mind set yang dimilikinya maupun mematangkan kemampuan praktisnya melalui sejumlah latihan yang sesuai dengan kebutuhan sekolah.

1.3 Indikator Capaian

Pada setiap tahapan penelitian dihasilkan produk sebagai indikator capaian berikut ini;

Tabel 1.1; Indikator Capaian

No Jenis Luaran Indikator Capaian

TS 1) TS +1 TS+2

1 Gerakan sosial, lembaga sosial-kemasyarakatan, kebijakan, naslah akademik, prototipe 2)

Internasional

Nasional Tidak ada Tidak ada Tidak ada

2 Kelompok binaan 3) Internasional

Nasional Tidak ada Tidak ada Proses

pembentukan

Lokal Proses

pembentukan

Proses pembentukan

Sudah dilaksanakan 3 Publikasi ilmiah 4) Internasional Tidak ada Draft submitted

Nasional Terakreditasi

Tidak ada Draft Submitted

4 Pemakalah dalam temu ilmiah 5)

Internasional Tidak ada Draft Sudah dilaksanakan

Nasional Tidak ada Draft Sudah

dilaksanakan 5 Invited speaker dalam

temu ilmiah 6)

Internasional Tidak ada Draft Terdaftar

Nasional Tidak ada Draft Terdafar

6 Visiting lecture Internasional 7 Hak Kekayaan Intelektual

(HKI) 6)

Paten

Paten sederhana

Hak cipta Tidak ada Draft Granted

Merek dagang Rahasia dagang Desain Produk Industri 8 Model/Purwarupa/Desain/Karyaseni/

Rekayasa Sosial 7)

Tidak ada Draft Produk

9 Buku Ajar (ISBN) 8) Tidak ada Draft Sudah terbit

10 Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT)9) 2 3 4

(15)

6

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Kurikulum 2013 Sekolah Dasar

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat di abad ini berpengaruh langsung terhadap tatanan suatu bangsa. Indonesia pun menyambutnya dengan sejumlah pembaruan termasuk memperbaharui paradigma pembangunan pendidikan dari berbasis pengolahan kekayaan alam menjadi berbasis peningkatan kekayaan peradaban melalui pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM ) yang berpendidikan [berpengetahuan dan berketerampilan], berbudaya [Berkarakter kuat] untuk bersaing secara global].

Kondisi ini ditindaklanjuti oleh lahirnya kurikulum 2013 sebagai jantunya pendidikan yang membawa semangat pembaharuan berbagai aspek pada semua jenjang pendidikan.

Semua lembaga pendidikan di Indonesia dikembalikan pada fungsi dan peranannya dalam mengembangkan potensi anak didik di usianya. Sekolah Dasar (SD) merupakan lembaga pendidikan yang bertugas meletakkan dasar-dasar pembentukan perilaku dan mengembangkan potensi kemampuan dasar. Oleh karena itu pembelajaran yang dikembangkan pun tidak untuk menyiapkan siswa menjadi ahli bidang ilmu, tetapi untuk memiliki dasar-dasar akademik dan dasar-dasar perilaku yang akan dikembangkan pada jenjang pendidikan selanjutnya (Babbitt, 2012).

Esensi kurikulum tahun 2013 adalah untuk membangun kehidupan masa kini dan masa akan datang, yang dikembangkan dari warisan nilai dan prestasi bangsa di masa lalu, kemudian dipelihara agar bisa diwariskan dan dikembangkan untuk kehidupan masa depan.

Ketiga dimensi kehidupan bangsa, yaitu masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, menjadi landasan filosofis pengembangan kurikulum. Pewarisan nilai dan prestasi bangsa di masa lampau menjadi dasar bagi kehidupan bangsa dan individu sebagai anggota masyarakat, nilai-nilai ini menjadi modal yang digunakan dan dikembangkan untuk membangun kualitas kehidupan bangsa dan individu yang diperlukan bagi kehidupan masa kini, dan berkelanjutan kehidupan bangsa dan warganegara di masa mendatang. Dilandasi tiga dimensi tersebut kurikulum selalu menempatkan peserta didik dalam lingkungan sosial budayanya, mengembangkan kehidupan individu peserta didik sebagai warganegara yang tidak kehilangan kepribadiannya, sehingga bisa meningkatkan kualitas untuk kehidupan masa kini yang lebih baik, dan membangun kehidupan masa depan yang lebih baik pula

Semangat pengembangan kurikulum tahun 2013 setidaknya dilandasi oleh filsafat Esensialisme dan Progresivisme. Secara esensialis nilai-nilai agama dan budaya bangsa harus

(16)

7

selalu menjadi pijakan dalam beraktivitas, tetapi di samping itu tidak dapat dipungkiri bahwa pemikiran progresivisme pun (John Dewey,1964) cenderung menjadi alat kendali dalam mengembangkan pembelajaran di lapangan.

Perhatian Dewey tentang manusia sebagai subjek memiliki beragam potensi untuk dikembangkan dan sasaran penting dari pendidikan adalah untuk memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan dimana siswa berada. Oleh karena itu sesuatu yang dipelajari siswa harus mengandung nilai kebermanfaatan bagi kehidupannya dan ukuran untuk segala perbuatan tergantung pada manfaatnya dalam praktek. Pada akhirnya akumulasi dari pengembangan kurikulum adalah untuk merekonstruksi masyarakat agar selalu mampu menghadapi tantangan di jamannya. Pandangan progresivisme mengenai konsep belajar bertumpu pada anak didik. Di sini anak didik dipandang sebagai makhluk yang mempunyai beragam potensi yang harus dikembangkan secara sosiologis dan psikologis.

Kurikulum tahun 2013 SD didasari oleh dua hal tersebut, sehingga perlu keseimbangan orientasi antara mengembangkan kecerdasan intelektual dan emosional. Di dalam implementasinya aspek moral baik sikap spiritual maupun sosial tidak cukup hanya menjadi substansi kajian yang diajarkan melalui bidang studi selingkung, tetapi selalu menjadi pembungkus setiap pembelajaran pada semua bidang studi. Bahkan menembus batas-batas bidang studi yang harus direfleksikan dalam setiap tindakan oleh guru dan siswa secara nyata.

Pemikiran Dewey lebih diarahkan untuk pengembangan berpikir ilmiah dalam pembelajaran. Proses berpikir merupakan proses pengecekan melalui sejumlah kejadian nyata. Oleh karena itu Dewey sangat menghargai pengalaman. Beliau menegaskan bahwa

“experience is the only basis for knowledge and wisdom” (Dewey, 1964). Oleh karena itu tidak ada kegiatan yang bersifat spekulatif dalam pembelajaran.

Pengalaman yang dikatagorikan sebagai proses belajar menurut faham progresivisme harus diperoleh melalui aktivitas penginderaan. Jika itu dilakukan di SD maka harus melibatkan aktivitas sensorimotorik (Piaget 1977). Pengalaman selain sumber pengetahuan juga sekaligus menjadi bagian dari sumber nilai. Di sinilah pentingnya pengalaman sebagai wahana untuk mengimplementasikan nilai seseorang sekaligus menjadi media untuk meningkatkan kualitas hidup seseorang.

2.2 Pembelajaran di Sekolah Dasar (SD)

Pembelajaran di SD merupakan upaya mempersiapkan dasar-dasar pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang akan menjadi modal siswa dalam kehidupan maupun

(17)

8

melanjutkan pendidikannya. Setiap manusia membutuhkan sikap-sikap hidup yang positif agar bisa mensikapi hidupnya dengan benar, juga membutuhkan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan agar bisa beradaptasi dengan tuntutan lingkungannya. Di SD kegiatan pembekalan diberikan selama enam tahun berturut-turut. Pada saat inilah siswa dikondisikan untuk dapat bersikap sebaik-baiknya dan dihadapkan pada tantangan untuk dipecahkan secara ilmiah dengan menggunakan sejumlah ilmu yang diperolehnya secara komprehensif.

Kegiatan pembelajaran di SD mengedepankan landasan bagi persiapan pendidikan selanjutnya, karena tanpa pendidikan dasar, tentunya sulit bagi kita untuk memahami konsep- konsep baru pada jenjang pendidikan berikutnya.

Prinsip pembelajaran di SD dilandasi oleh teori belajar Gestalt. Teori ini mengutamakan keseluruhan dibandingkan dengan bagian-bagian secara parsial. Prinsip belajar ini sangat sesuai dengan kondisi anak usia SD. Karena dalam memahami sesuatu mereka harus mempelajarinya secara utuh. Contoh; mereka memahami sesuatu sebagai pohon jika sesuatu itu memiliki akar, batang, dan daun. Bagian-bagian itu memiliki tempat dan fungsi yang tidak dapat dipertukarkan. Lebih jauh teori belajar Gestalt menjelaskan bahwa bagian akan memiliki makna jika memiliki keterhubungan satu dengan lainnya kemudian akan membentuk satu-kesatuan. Atas dasar itu, maka di SD menggunakan pendekatan pembelajaran tematik yang berawal dari konsep interdisipliner dalam kurikulum terpadu yang dikemukakan oleh Fogarty (1991). Kurikulum terpadu cenderung lebih memandang bahwa suatu pokok bahasan harus terpadu (integrated) secara menyeluruh.

Keterpaduan ini dapat dicapai melalui pemusatan pelajaran pada satu masalah tertentu dengan alternatif pemecahan melalui berbagai disiplin ilmu atau mata pelajaran yang diperlukan. Kurikulum terpadu memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara kelompok maupun individu dengan lebih memberdayakan masyarakat sebagai sumber belajar.

Selain itu pembelajaran yang bermakna bagi siswa SD harus dikemas dalam bentuk pengalaman-pengalaman secara langsung (hands on experiences), yang akan menyatukan siswa dengan objek yang dipelajarinya. Implementasi model pendidikan ini menggunakan prinsip pembelajaran partisipatif dan mengasyikan sebagai ciri utama yang mengedepankan pentingnya siswa sebagai subjek pendidikan (Semiawan, 2008).

Prinsip berikutnya adalah anak usia SD sedang dalam tahap berpikir operasional konkret (Piaget, 1972). Umumnya kemampuan berpikir pada anak usia ini dikembangkan melalui pengalaman nyata. Kemudian akan membentuk pola sebagai struktur atau skemata

(18)

9

kognisi yang setiap melakukan proses belajar skemata ini akan semakin lengkap dan utuh.

Piaget menyebutnya proses ini sebagai asimilasi. Peletakkan struktur kognitif yang tepat tentang sesuatu konsep pada kognisi anak dianggap penting sebab pendidikan di SD sangat fundamental bagi tahap-tahap pendidikan selanjutnya. Ada kalanya individu tidak dapat mengasimilasikan rangsangan atau pengalaman baru yang dihadapinya dengan struktur kognitif yang ia miliki. Ketidakmampuan ini terjadi karena rangsangan atau pengalaman baru itu sama sekali tidak cocok dengan struktur kognif yang telah ada. Dalam keadaan seperti ini, individu akan melakukan akomodasi. Ada dua kemungkinan yang dapat dilakukan individu dalam situas ini, yakni (a) membentuk struktur kognitif baru yang cocok dengan rangsangan atau pengalaman baru; (b) memodifikasi struktur kognitif yang ada sehingga cocok dengan rangsangan atau pengalaman baru.

Dua prinsip pembelajaran di atas memberikan arah pada pembelajaran yang berorientasi pada siswa (student centered) . Pembelajaran ini bersifat partisipatif, yaitu pembelajaran yang menekankan pada keterlibatan peserta didik dalam melakukan kegiatan belajar secara aktif, bukan hanya pasif, mendengar, mengikuti, mentaati, dan mencontoh guru, tetapi siswa dituntut untuk dapat mengembangkan kecerdasan emosional, keterampilan, kreatifitas. Pembelajaran seperti ini bertumpu pada nilai-nilai demokratis, pluralisme, dan kemerdekaan peserta didik.

2.3 Pembelajaran Tematik

Kurikulum 2013 dirancang sedemikian rupa agar siswa mampu meraih kompetensi utama, yakni sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotor) secara utuh. Kompetensi tersebut diharapkan dapat menggambarkan kualitas yang seimbang antara pencapaian hard skills dan soft skills.

DOMAIN PEMBELAJARAN TEMATIK

Analyzing Evaluating Organizing/

Internalizing Characterizing/

Actualizing

Experi- menting

Questioning

Observing Associating Communicating

Knowledge (Bloom) Skill

(Dyers) Attitude

(Krathwohl)

Creating

Gambar 2.1; Taxonomi Belajar ( Anderson, 2001)

(19)

10

Pembelajaran yang dilandasi kurikulum 2013 selain berupaya mengintegrasikan semua Mata Pelajaran (Mapel) secara tematik juga membimbing jalannya pembelajaran berdasarkan pendekatan ilmiah. Dengan kata lain pembelajaran yang lahir dari kurikulum 2013 bukan hanya berupaya agar anak Sekolah Dasar (SD) memiliki kemampuan umum yang komprehensif, tetapi juga memiliki kompetensi yang terintegrasi antara kompetensi yang dibangun dari kemampuan akademik, sosial, personal, dan keterampilan.Kurikulum 2013 Sekolah Dasar (SD) secara dokumen menjadi acuan guru dalam mengembangkan pembelajaran di sekolah.

Pembelajaran tematik lahir dari kurikulum terpadu (integrated curriculum). Kurikulum ini memandang bahwa pembelajaran yang terpadu akan memberikan makna yang utuh bagi siswa (Forgaty, 1991). Salah satu alat yang dapat digunakan untuk menyatukan Mapel adalah tema atau materi yang terdapat pada salah satu Mapel yang berperan sebagai core centre bagi semua Mapel pada hari tertentu (Semiawan, 2008), karena itu pembelajarannya lebih dikenal dengan istilah pembelajaran tematik.

2.4 Pendekatan Ilmiah pada Pembelajaran di SD

Pendekatan ilmiah diyakini sebagai scaffolding perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan bagi siswa. Dalam pendekatan atau proses kerja yang memenuhi kriteria ilmiah, siswa dihadapkan pada prosedur pembelajaran berdasarkan fakta secara empirik yang digali sendiri oleh siswa. Pembelajaran ini mengedepankan pelararan induktif (inductive reasoning). Penalaran induktif memandang fenomena atau situasi spesifik untuk kemudian menarik simpulan secara keseluruhan dalam relasi idea yang lebih luas.

Metode ilmiah umumnya menempatkan fenomena unik dengan kajian spesifik dan detail untuk kemudian merumuskan simpulan umum. Terdapat sejumlah metode yang lahir dari pendekatan ilmiah (scientific appoach). Metoda ini memiliki prinsip membimbing kemampuan berpikir siswa secara induktif, mulai dari suatu kegiatan yang terjadi secara konkrit, dan mendukung siswa untuk berekspolasi (Joyce & Weil, 2011; John Dewey, 1964;

Hilda Taba,1962).

Metode ilmiah merujuk pada teknik-teknik investigasi atas fakta atau gejala empirik, memperoleh pengetahuan baru, atau mengoreksi dan memadukan pengetahuan sebelumnya.

Untuk dapat disebut ilmiah, metode pencarian (method of inquiry) harus berbasis pada bukti- bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-prinsip penalaran yang spesifik. Karena itu, metode ilmiah umumnya memuat tahapan-tahapan kegiatan pengumupan data melalui observasi dan ekperimen, kemudian menguji hipotesis

(20)

11 dan menyimpulkannya dalam suatu rumusan umum.

Proses pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah harus dipandu dengan kaidah-kaidah pendekatan ilmiah. Pendekatan ini memiliki ciri mengutamakan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan demikian, proses pembelajaran harus dilaksanakan dengan dipandu nilai-nilai, prinsip- prinsip, atau kriteria ilmiah.

Melalui pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah siswa dibangun kemampuannya untuk berpikir kritis, berbicara berdasarkan fakta, bukan hanya dapat menjawab persoalan tetapi dimulai dari menggali masalah dan berupaya mengatasinya dengan cara-cara berpikir logis. Hal ini menjadi awal pendidikan yang baik dalam membangun kemampuan berpikir kritis, sistematis, dan sekaligus logis. Menurut Ango (2002), kemampuan untuk dapat bekerja ilmiah yaitu memiliki keterampilan proses sains berupa: observing (pengamatan), classifying (klasifikasi), inferring (menafsirkan), predicting (prediksi), communicating (komunikasi), interpreting data (interpretasi data), making operational definitions (menerapkan konsep), posing questions (mengajukan pertanyaan), hypothesizing (hipotesis), experimenting (eksperimen), and formulating models (merancang eksperimen).

2.5 Model Kurikulum PGSD

Kesiapan guru SD sangat dipengaruhi oleh keberadaan LPTK sebagai lembaga penghasil calon guru. Kurikulum yang digunakan oleh LPTK harus bersesuaian dengan tuntutan profesionalisme pengembang kurikulum SD. Klimaks profesionalisme guru SD bukan hanya pada penguasaan bidang kajian ke-SD-an secara mendalam dan parsial tetapi bagaimana mengemas bidang yang parsial itu menjadi terpadu dalam suatu pembelajaran.

Hammond (2005) menegaskan bahwa ” ...develop teachers who can act on their commitments, who are highly knowledgeable about learning and teaching and who have strong practical skills “ Hamond menegaskan bahwa lembaga pendidikan guru sangat penting mengembangkan guru yang dapat bertindak atas komitmen mereka, yang sangat berpengetahuan tentang belajar dan mengajar dan yang memiliki keterampilan praktis yang kuat.

Struktur kurikulum PGSD harus mampu menyandingkan model kurikulum humanistik SD dengan kurikulum subjek akademik Pendidikan Tinggi. Kedua model kurikulum ini harus dicari irisannya untuk dikuatkan di kurikulum PGSD. Bagian yang beririsan ini harus dirancang menjadi kajian Content Subject Academic (CSA) ke–SD-an yang berorientasi pada pengembangan aspek kompetensi akademik sebagai praktisi

(21)

12

pendidikan dan akademisi ke-SD-an, sedangkan yang tidak beririsan menjadi muatan Content Specific Pedagogy (CSP) yang bisa dibangun menjadi suatu kajian akademik khusus tentang profesi pengembang kurikulum SD atau menjadi suatu pendekatan yang digunakan oleh semua dosen dalam merancang, melaksanakan dan mengevaluasi kajian content academic ke- SD-an. Dengan demikian kompetensi yang dikembangkan dari calon guru akan mendekatkan kemampuan untuk beradaptasi dengan tuntutan di lapangan

Gambar 2.2; Irisan Kurikulum Humanistik dengan Subjek Akademik

Gambar 2.2 di atas menunjukkan dua jenis kurikulum yaitu kurikulum humanistik dan kurikulum subjek akademik yang saling beririsan dan menjadi dasar pengembangan kurikulum program studi PGSD. Walaupun PGSD berada pada jenjang Pendidikan Tinggi yang selama ini menggunakan model kurikulum subjek akademik dengan orientasi untuk menghasilkan outcomes yang menguasai keilmuan secara mendalam, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa lulusan yang akan dihasilkan juga harus mampu beradaptasi dengan model kurikulum humanistik yang menjadi dasar pengembangan kurikulum SD. Pandangan terhadap profesionalisasi guru memiliki pengaruh terhadap elemen-elemen yang dipandang penting pada kurikulum pendidikan guru. Fokus ini bisa pada interaksi dosen-mahasiswa, content academic, bahkan berkontribusi terhadap pengembangan sekolah, atau hubungan guru dengan masyarakat sekitar (Marsh,2008).

Suatu hal yang tidak dapat dikesampingkan oleh LPTK adalah bagaimana mendesain kurikulum yang dapat membentuk paradigma calon guru agar memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan tuntutan lapangan. Berikut ini beberapa hal yang dianjurkan oleh Martin dan Loomis (2007) “... prior knowledge and experiences to help establish, obtain new

(22)

13

information and experiences from the text, class work, fieldwork, and other sources, combining prior knowledge with the new information and experiences”. Mendesain pengetahuan, pengalaman, dan peluang untuk menghadapi tantangan menjadi sama pentingnya bagi kurikulum LPTK dalam rangka mempersiapkan outcomes yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan tuntutan profesionalisme di lapangan.

Kurikulum subjek akademik menjadi satu-satunya model kurikulum di Pendidikan Tinggi. Kurikulum ini bersumber dari pendidikan klasik yang didasari oleh faham peresialisme dan esensialisme. Faham ini berasumsi bahwa semua ilmu pengetahuan dan nilai sudah ditemukan oleh para ahlinya pada masa lalu. Oleh karena itu fungsi pendidikan adalah harus memelihara dan mewariskannya. Orang yang berhasil dalam belajar adalah yang menguasai seluruh atau sebagian besar isi pendidikan itu dengan kata lain aspek intelektual yang paling diutamakan dalam kurikulum ini. Kurikulum ini lebih mengutamakan isi pendidikan yang diambil dari setiap disiplin ilmu. Guru sebagai penyampai bahan ajar mempunyai peranan penting, yaitu menguasai semua pengetahuan yang ada dalam kurikulum dan menjadi ahli dalam bidang-bidang studi yang diajarkan.

Kurikulum subjek akademis mempunyai beberapa ciri berkenaan dengan tujuan, metode, organisasi isi, dan evaluasi. Tujuan dari kurikulum subjek akademis adalah pemberian pengetahuan yang solid serta melatih para siswa menggunakan ide-ide dan proses

“penelitian”. Siswa diharapkan memiliki konsep-konsep dan cara-cara yang dapat dikembangkan dalam masyarakat yang lebih luas. Metode yang paling banyak digunakan dalam kurikulum ini adalah metode ekspositori. Ide-ide dari guru dielaborasi oleh siswa sehingga dapat dikuasai. Isi atau konten sudah terstruktur dalam buku-buku tekstual, dan sasaran evaluasinya adalah untuk mengetahui sejauhmana penguasaan konsep-konsep itu tercapai. Model kurikulum ini digunakan oleh jenjang Pendidikan Tinggi karena berorientasi untuk menghasilkan ahli suatu bidang tertentu.

Struktur keilmuan di Pendidikan Tinggi sudah sangat fixed, fokus, dan khusus. Di dalamnya mahasiswa hanya akan menguasai keilmuan yang menjadi pilihannya. Setiap ilmu tidak lagi dikembangkan untuk terhubung dengan ilmu yang lainnya walaupun berada dalam satu rumpun, karena masing-masing fokus pada body knowledge yang menjadi ciri khusus dari ilmu itu sendiri. Organisasi kurikulum ini dirancang dengan tujuan agar setiap mahasiswa mampu menguasai secara mendalam dan utuh setiap bidang kajian yang diminatinya, self-actualized, self-derected, proses persiapan karir, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis (Parkay, Actil, Hass, 2006).

(23)

14

Orientasi kurikulum subjek akademik sebagai ciri khas model kurikulum jenjang Pendidikan Tinggi sangat berbeda dari kurikulum humanistik yang digunakan oleh SD.

Kurikulum humanistik didasari oleh konsep aliran pendidikan pribadi (personalized education), John Dewey (Progressive Education) dan J.J. Rousseau (Romantic Education).

Aliran ini lebih memberikan tempat pada siswa dan memandang siswa sebagai subjek yang menjadi pusat kegiatan pendidikan. Ada beberapa aliran yang termasuk dalam pendidikan humanistik, diantaranya yaitu pendidikan konfluen.

Kedua kurikulum (subjek akademik dan humanistik) menjadi dasar pengembangan kurikulum PGSD. Di satu sisi tidak dapat dipungkiri karena PGSD berada pada jenjang Pendidikan Tinggi harus menggunakan model kurikulum subjek akademik agar lulusannya menguasai suatu bidang keilmuannya secara utuh, tetapi yang sama pentingnya adalah stakeholders yang menggunakan keahliannya menuntut profesionalisme pengembang kurikulum humanistik.

Kondisi ini menuntut PGSD untuk me-redesign kurikulumnya agar menyandingkan kedua model kurikulum di atas ke dalam struktur yang harmonis sehingga tidak kehilangan subjek akademiknya dalam rangka menyiapkan lulusan yang menguasai bidang ke-SD-an, tetapi kental dengan humanistiknya yang akan menjadi iklim pembelajaran di SD. Desain kurikulum PGSD ini harus merujuk pada pembelajaran yang menekankan content academic based dan content-specific pedagogy. Prinsip ini melandasi re-design kurikulum PGSD yang mengarah pada pengembangan PGSD dan kepentingan SD sekaligus, kurikulum ini tepat disebut University-School Based Curriculum (UsBec).

University-School Based Curriculum (UsBec) menjadi model kurikulum yang tidak akan mengurangi orientasi kurikulum subjek akademik, karena dengan penguasaan bidang ke-SD-an secara utuh dapat memudahkan guru untuk memadukan semua Mata Pelajaran (Mapel) ke dalam pembelajaran tematik terpadu di SD dan penguasaan pedagogi akan dapat mempermudah mengemas pembelajaran menjadi tidak kaku, untuk itu perlu dibangun core centra suatu mata kuliah dan melihat keterhubungan antar Mata Kuliah yang dapat memudahkan terbentukanya paradigma mahasiswa ketika menjadi pengembang kurikulum di SD. Desain UsBec ini memadukan berbagai konten akademik ke-SD-an melalui penguasaan konten pedagogik sebagai tuntutan pembelajaran yang efektif dan memberikan kesempatan untuk mengembangkan prinsip-prinsip pedagogik dalam praktik pembelajaran di sekolah.

(24)

15

BAB 3. TUJUAN DAN MANFAAT

3.1 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan model kurikulum program studi PGSD yang relevan dengan tuntutan profesionalisme pengembang kurikulum SD, secara rinci meliputi;

A. Kurikulum SD

1. Menganalisis persepsi guru SD tentang dimensi-dimensi kurikulum; a) ide, b) dokumen, c) implementasi, dan d) evaluasi.

2. Menganalisis tuntutan kebijakan pengembangan kurikulum SD, yang berkenaan dengan; a) Organisasi bahan ajar, b) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran, c) Implementasi pembelajaran, d) Evaluasi pembelajaran.

B. Kurikulum PGSD

1. Menganalisis persepsi dosen tentang dimensi-dimensi kurikulum ; a) ide, b) dokumen, c) implementasi, dan d) evaluasi.

2. Menganalisis struktur kurikulum PGSD yang berkenaan dengan; a) Ruang lingkup kurikulum PGSD, b) Orientasi kurikulum PGSD, c) Menganalisis kesesuaian antara kedalaman content academic yang disuguhkan dalam kurikulum PGSD dengan tuntutan penguasaan kompetensi akademik pengembang kurikulum SD, d) Menganalisis kesesuaian keragaman content pedagogic yang disuguhkan dalam kurikulum PGSD dengan tuntutan penguasaan kompetensi pedagogik pengembang kurikulum SD, e) menganalisis pendekatan pembelajaran di PGSD.

3.2 Manfaat Penelitian

Penelitian ini menargetkan untuk menghasilkan sebuah kurikulum program studi PGSD yang bersesuaian dengan tuntutan profesionalisme pengembang kurikulum SD sehingga outcomes yang dihasilkan akan memiliki kemudahan dalam menerapkan, mengembangkan, dan/atau memperkaya khasanah keilmuan. Selain itu, juga mampu menyebarluaskan dan mengupayakan penggunaannya dalam mengatasi permasalahan pendidikan. Penanda utama bahwa kurikulum PGSD berada dalam keadaan berkembang dapat tergambar dari kegiatan ilmuwan pada masyarakat ilmiahnya (its scientific community).

Hal ini dapat difasilitasi dengan membangun kurikulum PGSD yang bersesuaian dengan tuntutan profesionalisme pengembang kurikulum SD.

(25)

16

BAB 4. METODE PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis Research and Development, yaitu melakukan penelitian dan pengembangan. Obyek penelitian adalah membangun relevansi kurikulum PGSD dengan kurikulum SD melalui Pengembangan University-School Based Curriculum (UsBec). Model pengembangan yang dilakukan adalah model konseptual dan prosedural.

Model konseptual yang dianalisis dan dikembangkan dalam penelitian ini meliputi content academik, content specific pedagogik yang terdapat pada struktur kurikulum PGSD, serta persepsi dosen tentang pengembangan kurikulum PGSD. Adapun model prosedural dimaksudkan untuk menjelaskan dan menerapkan langkah-langkah sehingga dapat menghasilkan model kurikulum yang relevan dengan tuntutan profesionalisme pengembang kurikulum SD.

Prosedur penelitian pengembangan ini mengadaptasi tahapan penelitian pengembangan Borg dan Gall (2006) bahwa; “ Educational research and development (R&D) is a process used to develop and validate educational product” yang dimaksud produk dalam penelitian dan pengembangan menurut Borg & Gall termasuk di dalamnya pengorganisasian pembelajaran, kemudian dipadukan dengan tahapan model pembelajaran ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation) dari Lohr, Seels dan Glasgow (1991). Artinya melakukan penelitian dengan langkah-langkah Borg dan Gall dan pengembangan model pembelajaran untuk menggunakan pendekatan ADDIE. Tahapan penelitian pengembangan Borg dan Gall meliputi :(1)Research and information collecting, (2) Planning, (3) Develop preliminary form of product, (4) Preliminary field testing, (5) Main product revision, (6) Mail field testing, (7) Operational product revision, (8) Operational field testing, (9) Final product revision, (10) Dissemination and implementation.

4.2 Langkah-langkah Penelitian

Penelitian membangun relevansi kurikulum PGSD dengan kurikulum SD melalui Pengembangan University-School Based Curriculum (UsBec) ini untuk tahun pertama mengikuti langkah-langkah seperti tergambar pada chart berikut;

(26)

17

Gambar 4.1; Prosedur Penelitian dan Pengembangan 1. Studi Pendahuluan

ANALISIS KEBUTUHAN

UJI VALIDASI

MODEL HYPOTETIC (PROTOTIPE) PERENCANAAN PENGEMBANGAN PROGRAM

2. Perencanaan

4. Produk Model Hipotetik 3. Validasi ahli

Survey 1. Analisis kebijakan

dan dimensi kurikulumSD.

2. Analisis kebijakan, dan dimensi kurikulum PGSD 3. Analisis persepsi guru

tentang implementasi kurikulum SD.

4. Analisis persepsi dosen tentang implementasi kurikulum PGSD.

Studi Literatur 1. Kebijakan

kurikulum SD dan PGSD.

2. Filosofi kurikulum SD dan PGSD.

3. Model Kurikulum SD dan PGSD 4. Desain

Pembelajaran.

5. Pendekatan Pembelajaran.

Penyusunan Instrumen 1. Kebijakan

kurikulum SD dan PGSD.

2. Dimensi Kurikulum SD dan PGSD.

3. Model Kurikulum SD dab PGSD.

4. Model

Pembelajaran SD dan PGSD

(27)

18 1. Studi Pendahuluan

Studi pendahuluan terdiri dari tiga kegiatan, yaitu a) survey yang dilakukan untuk menganalisis kebutuhan tentang kebijakan kurikulum SD, dimensi kurikulum, dan persepsi guru tentang implementasi kurikulum SD, menganalisis kebijakan kurikulum PGSD, dimensi, kurikulum PGSD, dan implementasi kurikulum PGSD, b) studi literatur tentang; Kebijakan kurikulum SD dan PGSD, Filosofi kurikulum SD dan PGSD, Model Kurikulum SD dan PGSD, Desain Pembelajaran, Pendekatan Pembelajaran, c) Penyusunan instrumen.

2. Perencanaan

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan secara empirik dan studi literatur, maka dirumuskan sejumlah model desain;

a) Pemetaan capaian pembelajaran b) Pemetaan organisasi materi c) Desain model perencanaan d) Desain model pembelajaran 3. Validasi ahli

Rancangan yang sudah dibuat selanjutnya divalidasi oleh dua orang ahli, 1) ahli kurikulum, dan 2) ahli pembelajaran.

4. Produk Model Hipotetik

Model hipotetik merupakan produk hasil rancangan sesuai dengan kebutuhan lapangan dan sudah divalidasi ahli kurikulum, ahli pembelajaran, serta guru dan dosen sebagai praktisi pendidikan.

4.3 Lokasi Penelitian dan Sasaran

Penelitian membangun relevansi kurikulum dilaksanakan di Bandar Lampung.

Sasaran penelitian ditentukan berdasarkan karakteristik; a) Sekolah Dasar Negeri yang sudah mengembangkan kurikulum tahun 2013, b) Guru dengan latar belakang penddikan S1 PGSD Unila, c) dosen yang mengajar lima mata kuliah ke-SD-an.

4.4 Alat Pengumpul Data

Pada tahun pertama penelitian dan pengembangan ini targetnya adalah menghasilkan prototipe sebagai model hipotetik yang akan diujipublikan pada tahun ke dua. Oleh karena itu alat pengumpulan data ditujukan untuk mengungkap kebutuhan lapangan ketika survey pada tahap studi pendahuluan. Teknik pengumpulan data dalam penelitian menggunakan angket dan dokumentasi

1. Angket merupakan alat pengumpul data yang digunakan untuk mengungkap data a) persepsi guru tentang pengembangan kurikulum 2013 meliputi dimensi; ide,

(28)

19

dokumen, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. b) persepsi dosen tentang pengembangan kurikulum PGSD meliputi dimensi; ide, dokumen, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi, c) model kurikulum SD dan PGSD, d) organisasi materi di SD dan PGSD, d) pendekatan pembelajaran di SD dan PGSD.

2. Analisis dokumen digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang kebijakan dan perangkat pembelajaran.

4.5. Teknik Analisis Data

Hasil survey yang berbentuk data kuantitatif dianalisis secara statistik persentase, sedangkan untuk data yang bersifat kualitatif (deskriptif kualitatif) dilakukan analisis non statistik sebagai pelengkap data kuantitatif.

4.6. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian ini terdiri atas; 1) Guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) di 20 kecamatan di Bandar Lampung yang sudah menggunakan kurikulum 2013 berjumlah 1. 110 orang. Sampel ditentukan 161 orang secara purposif, 2) Dosen Program Studi PGSD berjumlah 10 orang, yang mengampu mata kuliah; (a) Pembelajaran IPA SD, (b) Pembelajaran IPS SD, (c) Pembelajaran Matematika SD, (d) Pembelajaran Bahasa Indonesia, (e) Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. 3) Ketua Program Studi PGSD.

4.7. Jadwal Penelitian

Kegiatan penelitian pada tahun pertama dilaksanakan selama 10 bulan, sesuai dengan jadwal berikut ini;

Rincian Kegiatan Bulan ke Tempat

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Analisis kebutuhan Kota Bandar lampung

Penyusunan rencana pengembangan

Unila

Penyusunan draft awal Unila

Validasi Unila

Revisi Unila

Penyempurnaan prototipe Unila

Fokus Group Discussion Meeteng room

Seminar Meeteng room

Publikasi Tempat Jurnal

(29)

20

BAB 5. HASIL DAN LUARAN

Hasil studi pendahuluan tentang analisis kebutuhan berdasarkan tuntutan kebijakan dan implementasi kurikulum SD dan PGSD, tergambar pada tabel 5. 1 dan 5.2 di bawah ini 5.1 Tabel Data Hasil Analisis SWOT Kebijakan dan Implementasi Kurikulum SD

KEBIJAKAN DAN IMPLEMENTASI

KURIKLUM SD

Strength (S) Weaknes(W)

Terdapat kebijakan yang mengatur standar nasional pendidikan.

Terdapat kebijakan yang menentukan standar acuan profesionalisme guru secara nasional

Sasaran kebijakan kurikulum 2013 SD bermuara pada penyempurnaan pola pikir dan penguatan tata kelola kurikulum, serta penekanan pada tata kerja guru menjadi bersifat kolaboratif;

educational leader penguatan sarana

Dimensi dokumen kurikulum 2013 diatur secara sentralistik tetapi teknik penyusunan secara disentralistik

Dimensi Implementasi kurikulum 2013 menjadi turunan atau operasionalisasi dalam bentuk konsekwensi logis dari dimensi dokumen. Implementasi kurikulum menggunakan pendekatan saintifik mengacu pada 4 C

(Communication, Collaborative, Critical Thinking and Problem Solving, Creativity and Innovation

Sasaran penilaian kurikulum 2013 adalah aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan dengan menggunakan penilaian otentik.

Rata-rata skor UKG guru rendah

Umumnya guru memiliki pola pikir bahwa

mengajar merupakan pekerjaan rutin saja.

Tidak semua guru mampu mengembangkan kurikulum sesuai dengan tuntutan kebijakan.

Pemahaman guru tentang pengembangan kurikulum terpadu masih rendah.

Umumnya guru masih kesulitan dalam mengoperasionalkan dokumen kurikulum.

Umumnya guru kesulitan dalam

mengimplemenatasikan pendekatan saintifik

Umunnya guru belum mampu melaksanakan sistem penilaian pada kurikulum 2013 sesuai dengan tuntutan kebijakan

Opportunity (O) Strategi SO Strategi WO

Hampir semua guru memahami orientasi SD secara benar.

Umumnya guru berupaya meningkatkan kemampuan mengembangkan kurikulum secara sungguh-sungguh.

Sebagian besar jumlah guru sudah berkualifikasi S1.

 Meningkatkan profesionalisasi guru

 Memfasilitasi dimensi dokumen kurikulum menjadi program operasional yang fungsional

 Memfasilitasi dimensi implemetasi kurikulum secara kontekstual.

 Memfasilitasi dimensi evaluasi secara otentik namun mengacu pada standar nasional

 Meningkatkan kerjasama kemitraan dengan pendidikan tinggi.

 Meningkatkan standar penerimaan guru.

Treath (T) Strategi ST Strategi WT

LPTK bukan satu-satunya pendidikan guru

Penyelenggaraan

Pendidikan semakin bersaing

Standar kompetensi yang dituntut oleh stakeholders semakin tinggi

Meningkatkan kualitas proses pembelajaran

Meningkatkan kompetensi guru

Meningkatkan kualitas kurikulum (dokumen, implementasi, evaluasi)

Menjalin kerjasama dengan pihak pendidikan tinggi untuk

meningkatkan

kompetensi lulusannya.

(30)

21

5.2 Tabel Data Hasil Analisis SWOT Kebijakan dan Implementasi Kurikulum PGSD

KEBIJAKAN DAN IMPLEMENTASI KURIKULUM

PGSD

Strength (S) Weaknes(W)

Terdapat kebijakan KKNI yang mengatur kualifikasi sarjana secara jelas dan terukur.

Terdapat kebijakan yang menetapkan standar nasional pendidikan tinggi. Terdapat kebijakan yang menetapkan acuan penilaian secara jelas.

PGSD menjadi satu-satunya lembaga penghasil guru SD.

PGSD memiliki kewenangan untuk menyusun kurikulum secara disentralistik.

PGSD memiliki kewenangan untuk menetapkan standar row input calon mahasiswa.

PGSD memiliki asosiasi sebagai partner dalam mengembangkan lembaga.

Kewenangan menyusun kurikulum secara disentralistik tidak ditindaklanjuti secara tepat.

Penyusunan dokumen kurikulum tidak menyertakan stakeholders dan penelusuran tracer study secara jelas.

Persepsi dosen tentang acuan standar kelulusan dan acuan penyusunan profil lulusan PGSD sangat beragam.

Model kurikulum yang dikembangkan di PGSD tidak mengacu pada model kurikulum pengguna lulusan

Orientasi desain perangkat pembelajaran sangat beragam.

Implementasi kurikulum PGSD didasari oleh model kurikulum subjek akademik.

Sasaran evaluasi pembelajaran belum bermuara pada

kompetensi calon pengembang kurikulum SD

Model pembelajaran yang digunakan oleh dosen sangat beragam.

Opportunity (O) Strategi SO Strategi WO

Terdapat kerjasama kemitraan dengan sejumlah SD.

Semua dosen sudah memiliki kualifikasi yang memenuhi tuntutan kebijakan.

Terdapat mata kuliah P4KAyang menjadi wadah penghubung antara PGSD dan

SD. Umumnya semua dosen PGSD berupaya untuk memahami tuntutan kurikulum SD.

Semua dosen memiliki perangkat pembelajaran.

Semua dosen mengembangkan

pembelajaran mengacu pada perangkat pembelajaran.

Semua dosen memaksimalkan kegiatan tapat muka dan melaksanakan UTS, serta UAS sesuai jadwal yang ditentukan.

Merumuskan profil lulusan sesuai target KKNI dan kebutuhan stakeholders.

Memfasilitasi relevansi program P4KA antara kepentingan PGSD dengan kepentingan SD.

Meredesain perangkat pembelajaran sesuai dengan tuntutan Standar Kelulusan (SKL) yang dituntut oleh kebijakan.

Merancang model pembelajaran yang seragam dalam rangka membangun paradigma mahasiswa sebagai calon pengembang kurikulum SD

Menguatkan kerjasama kemitraan antra PGSD dengan

SD. Meredesain kurikulum PGSD agar memiliki keseimbangan antara tuntutan SKL berdasarkan kebijkan kemenristek-dikti tetapi sesuai dengan tuntutan

stakeholders dan memperhatikan penelusuran tacer study di lapangan

Treath (T) Strategi ST Strategi WT

Terdapat saingan lulusan PGSD Memenuhi standar isi Merumuskan profil yang sesuai

(31)

22 dari perguruan tinggi yang lain.

Standar kompetensi yang dituntut oleh pengguna lulusan semakin tinggi.

Tuntutan profesionalisme guru semakin tinggi

pembelajaran, standar proses pembelajaran, standar penilaian pembelajaran, standar dosen dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana pembelajaran, standar

pengelolaan pembelajaran, dan standar pembiayaan

pembelajaran.

dengan standar profesionalisme guru.

Menyempurnakan model kurikulum PGSD agar memiliki relevansi dengan kurikulum SD.

Menciptakan model pembelajaran yang mampu membangun paradigma mahasiswa sebagai calon pengembang kurikulum SD

5.3 Redesain Model Kurikulum UsBec

Berdasarkan hasil studi pendahuluan tentang analisis kebijakan dan implementasi kurikulum SD dan PGSD, sangat jelas diperlukan upaya membangun relevansi kurikulum program studi PGSD dengan kurikulum SD melalui pengembangan University-School Based Curriculum (UsBec). Kerangka yang menggambarkan model UsBec ini selain mempertimbangkan kedalaman penguasaan konten akademik sesuai SKL program S1, juga harus membangun paradigma calon pengembang kurikulum SD. Oleh karena itu maka model yang disarankan bersifat interdicsiplinery pada lima mata kuliah ke-SD-an; (1) Matematika SD; (2) IPA SD; (3) IPS SD; (4) Bahasa Indonesia; (5) PPKn, seperti tergambar di bawah ini;

Gambar 5.1; Pengembangan Kurikulum Model UsBec

(32)

23 5.4 Luaran yang Dicapai

Luaran tahun pertama penelitian membangun relevansi kurikulum PGSD dengan kurikulum SD melaluiPengembangan University-School Based Curriculum (UsBec);

A. Model Hypotetic

Model hipotetik UsBec yang dihasilkan berkenaan dengan pengembangan model kurikulum interdisipliner pada lima mata kuliah pembelajaran ke-SD-an. Ke lina mata kuliah itu adalah (1) Pembelajaran IPA SD (2) Pembelajaran IPS SD (3) Pembelajaran Matematika SD (4) Pembelajaran Bahasa Indonesia (5) Pembelajaran PPKn. Komponen Model Hypotetic USBec meliputi:

1. Desain Organisasi Bahan Kajian

Gambar 5.2; Desain Organisasi Bahan Kajian

Organisasi bahan kajian model UsBec disajikan secara interdisipliner tanpa menghilangkan batang tubuh keilmuan setiap mata kuliah. Setiap mata kuliah memiliki Corse Learning Out Comes (CLO) sesuai dengan identitas keilmuannya, namun jabarannya diperkaya oleh bahan kajian dari Mata kuliah lain sehingga ketercapaian CLO menjadi komprehensif. Organisasi bahan kajian ini selain dapat memperkaya pemahaman mahasiswa juga sekaligus membangun paradigma mereka sebagai calon pengembang kurikulum SD yang bersifat tematik terpadu.

Gambar

Tabel 1.1; Indikator Capaian
Gambar 2.1; Taxonomi Belajar ( Anderson, 2001)
Gambar 2.2; Irisan Kurikulum Humanistik dengan Subjek Akademik
Gambar 4.1; Prosedur Penelitian dan Pengembangan 1. Studi Pendahuluan
+3

Referensi

Dokumen terkait

Tanda tangan penanggung jawab surat (peserta) 11. Nama penanggung jawab

TAHUN ANGGARAN Drafter Penanggung jawab Struktural Arsitektural Penanggung jawab DIPERIKSA OLEH MENGETAHUI. Nama / Jabatan

peraturan, menyerahkan surat ijin tidak mengikuti perkuliahan dari Program studi kepada dosen atau Bagian akademik, penanggung jawab mata kuliah selambat-lambatnya

FORMULIR EVALUASI JUMLAH TATAP MUKA PERKULIAHAN BPM/FORM/STD/PEND/01.03.02 PROSES PENANGGUNG JAWAB TANGGAL NAMA JABATAN

Penyusunan Biologi Dasar Mata Kuliah Dasar 2 1 30 Juni 2020 OTORISASI Dosen Pengembang RPS Koordinator RMK Ka Prodi Nama Tanda Tangan Nama Tanda Tangan Nama Tanda

Penyusunan FISIKA TPE4131 MIPA 4 1 23 Agustus 2020 OTORISASI Dosen Pengembang RPS Koordinator RMK Ka Prodi Nama Tanda Tangan Nama Tanda Tangan Nama Tanda Tangan Capaian

Penyusunan RISET OPERASI TPF 4237 Teknik 2 4 30 Juli 2020 OTORISASI Dosen Pengembang RPS Koordinator RMK Ka Prodi Nama Tanda Tangan Nama Tanda Tangan Nama Tanda Tangan Capaian

Penyusunan KEWARGANEGARAAN MPK60006 UMUM 2 1 Agustus 2020 OTORISASI Dosen Pengembang RPS Koordinator RMK Ka Prodi Nama Tanda Tangan Nama Tanda Tangan Nama Tanda Tangan Capaian