• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR MAKASSAR "

Copied!
107
0
0

Teks penuh

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENCEGAHAN KERANCIAN PANGAN DI DESA UJUNG LABUANG KECAMATAN SUPPA KABUPATEN PINRANG. Judul Skripsi: Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prevalensi Kerawanan Pangan di Desa Ujung Labuang Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prevalensi Kerawanan Pangan Di Desa Ujung Labuang Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang Provinsi Sulawesi Selatan Dibimbing oleh RATNAWATI TAHIR dan JUMIATI.

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang
  • Rumusan Masalah
  • Tujuan Penelitian
  • Manfaat Penelitian

Hasil analisis menunjukkan masih terdapat 6 desa/kelurahan yang berstatus prioritas 1 atau sangat rentan kerawanan pangan, 15 desa/. Kecamatan tersebut ditetapkan sebagai prioritas 2 atau rawan rawan pangan dan 35 desa/kelurahan ditetapkan sebagai prioritas 3 atau agak rawan pangan. Jumlah desa/kelurahan yang tergolong prioritas 1-3 atau sangat rentan hingga agak rentan kerawanan pangan sama dengan jumlah desa/kelurahan dan kecamatan Suppa.

KAJIAN PUSTAKA

Kajian Teoritis 1. Pangan

  • Ketahanan Pangan
  • Kemandirian Pangan
  • Kedaulatan Pangan
  • Konseptual Ketahanan Pangan
  • Kerawanan Pangan
  • Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketahanan Pangan

Menurut Hanani (2012), ketahanan pangan terdiri dari tiga subsistem utama, yaitu ketersediaan (foodavailability), akses (food access) dan serapan pangan (food pemanfaatan), sedangkan status gizi (nutritional status) merupakan hasil dari ketahanan pangan. Otoritas Keamanan Pangan Denmark (BKP, 2020) mendefinisikan kerawanan pangan sebagai kondisi tidak terpenuhinya pangan untuk suatu negara. Menurut Sumarmi (2014), konsep kerawanan pangan merupakan kondisi kebalikan dari “ketahanan pangan”.

Gambar 1. Kerangka Konseptual Ketahanan Pangan dan Gizi
Gambar 1. Kerangka Konseptual Ketahanan Pangan dan Gizi

Kajian Teoritis Dalam Alqur’an

Mereka yang memiliki daya beli tinggi dihadapkan pada permasalahan barang yang ingin dibeli tidak segera tersedia. Sedangkan bagi mereka yang daya belinya rendah, meskipun barang yang ingin dibeli cukup banyak, namun daya belinya tidak mencukupi, itu juga menjadi masalah. Terjemahannya: “Kemudian setelah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit, yang mana menggunakan apa yang kamu simpan untuk menyongsongnya (tahun-tahun sulit), kecuali sedikit dari (biji gandum) yang kamu simpan.” (QS.Yusuf:48)”.

Kajian Penelitian Yang Relevan

Hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tidak terdapat pengaruh indikator ketahanan pangan di Kabupaten Bangkalan dan Bupati Tulungagung terhadap proporsi BBLR. Hasil pengujian menunjukkan bahwa permasalahan yang berkaitan dengan keamanan pangan adalah penyediaan, distribusi dan konsumsi pangan. Konversi lahan sawah yang tidak dapat dikendalikan dengan baik dapat mengancam ketahanan pangan penduduk.

Rohman Taufiq Hidayat, dkk (2019) meneliti hubungan spasial dalam ketahanan pangan pada tingkat Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat. Hasil pengujian menunjukkan bahwa ciri-ciri utama yang menyebabkan tingginya kerentanan ketahanan pangan di Provinsi Jawa Barat adalah; Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anggota keluarga, umur dan pendidikan perempuan berpengaruh signifikan terhadap ketahanan pangan.

Pengaruh pendapatan keluarga, jumlah anggota keluarga, pendidikan kepala keluarga, lapangan usaha dan wilayah terhadap tingkat ketahanan pangan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh variabel mempunyai pengaruh terhadap tingkat ketahanan pangan dengan tingkat signifikansi 5%. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Ketahanan Pangan Keluarga Petani (Studi Kasus Desa Timbulharjo Kecamatan Sewon Bantul).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan, pendidikan kepala keluarga dan jumlah anggota keluarga berpengaruh terhadap ketahanan pangan dengan tingkat signifikansi 5%.

Tabel 1. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu
Tabel 1. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu

Kerangka Pikir

Hipotesis Penelitian

METODE PENELITIAN

  • Desain dan Jenis Penelitian
  • Lokasi dan Waktu Penelitian
  • Populasi, dan Informan
  • Metode Pengumpulan Data 1. Jenis Data
    • Sumber Data
    • Teknik Pengumpulan Data
  • Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Penelitian
    • Kerawanan Pangan (Y)
    • Luas Lahan Pertanian Yang Digarap (X 1 ), yang dimaksud dalam penelitian ini, adalah seberapa luas lahan pertanian yang digarap oleh
    • Jumlah Sarana dan Prasarana Penyedia Pangan (X 2 ), yang dimaksud dalam penelitian ini jumlah sarana penyedia pangan yang berada dilokasi
    • Tingkat Kondisi Sarana Trasportasi Yang Digunakan Dalam Penyediaan dan Penyaluran pangan (X 3 ), yang dimaksud dalam
    • Tingkat Pendapatan Kepala Rumah Tangga (X 4 ). Pendapatan rumah tangga yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendapatan atau upah
    • Proporsi Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Pangan (X 5 ), Pengeluaran rumah tangga merupakan salah satu indikator yang dapat
  • Teknik Analisa Data

Populasi dalam penelitian ini adalah penduduk dengan tingkat kesejahteraan terendah di Ujung Labuang yang berjumlah 161 jiwa (Dinas Sosial Kabupaten Pinrang, 2020) yang terindikasi rawan pangan. Kerawanan pangan yang ingin diketahui penelitian merupakan faktor-faktor penyebab kerawanan pangan di Desa Ujung Labuang Kecamatan Suppa Kabupaten Pinrang. Luas lahan pertanian yang digarap (X1) yang dimaksud dalam penelitian ini adalah seberapa luas lahan pertanian yang digarap oleh penelitian ini, yaitu seberapa luas lahan pertanian yang digarap oleh responden.

Mengingat wilayah Desa Ujung Labuang merupakan wilayah pesisir, maka lahan pertanian dalam penelitian ini merupakan lahan pekarangan yang digunakan untuk menanam sayuran, buah-buahan, peternakan dan perikanan, serta pangan lokal untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga sehari-hari. Jumlah sarana dan prasarana penyediaan pangan (X2) yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jumlah sarana penyediaan pangan pada lokasi penelitian. Jumlah sarana penyediaan pangan pada lokasi penelitian adalah jumlah sarana penyediaan pangan pada lokasi penelitian. Tingkat kondisi sarana transportasi yang digunakan dalam penyediaan dan distribusi pangan (X3) yang dimaksud dalam penyediaan dan distribusi pangan (X3) yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kondisi akses koneksi (jalan) yang memadai. kondisi), baik melalui darat maupun perairan dengan kriteria: (1) Baik; (2) Kerusakan ringan; dan (3) rusak berat.

Pendapatan rumah tangga dalam survei ini adalah pendapatan atau gaji rumah tangga tersebut, dan dalam survei ini yang kami maksud adalah pendapatan atau upah atas pekerjaan yang diterima oleh seluruh anggota keluarga yang bekerja dalam sebulan. Diasumsikan bahwa semakin tinggi pendapatan rumah tangga, maka rumah tangga tersebut tidak mengalami rawan pangan karena mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Pangsa pengeluaran rumah tangga untuk pangan (X5), Pengeluaran rumah tangga merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan Pengeluaran rumah tangga merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk memberikan gambaran mengenai keadaan sosial penduduk.

Jika sebaran pengeluaran pangan lebih besar dari total pengeluaran maka sebaran pengeluaran rumah tangga dikategorikan buruk.

DESKRIPSI LOKASI, HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Lokasi Penelitian

Waktu tempuh menuju ibu kota provinsi dengan kendaraan bermotor 3.00 jam Waktu tempuh menuju ibu kota provinsi dengan berjalan kaki atau. Kelurahan Ujung Labuang, Kecamatan Suppa, terletak pada kawasan yang strategis karena terletak di ujung pulau yang bersebelahan dengan Kota Pare-Pare. Akses menuju kawasan ini bisa dikatakan masih buruk, walaupun kondisi jalan sudah beraspal hampir seluruhnya rusak, namun kawasan ini masih mudah diakses baik dengan kendaraan bermotor, angkutan umum maupun perahu.

Teluk Parepare Timur Parepare Pare-Pare Barat Desa Wiring tasi / Desa Lero Suppa Pinrang Sumber : Data Sekunder LPPD Desa Ujung Labuang Tahun 2020. Desa Ujung Labuang mempunyai garis tanah yang datar dengan ketinggian antara 0 sampai 2 meter diatas permukaan laut. Arus laut di kawasan ini memiliki kecepatan 1,5 knot dengan tinggi gelombang antara 0 – 1 meter, jika angin kencang ombaknya bisa mencapai 1,5 hingga 2 meter.

Secara administratif Desa Ujung Labuang terdiri dari 2 dusun dan 4 rukun tetangga. Nama dusun yang ada di desa Ujung Labuang adalah Dusun Kassi Pute dan Dusun Tanah Millie. Berdasarkan tabel 5 di atas terlihat bahwa jumlah penduduk Dusun Kassipute lebih banyak dibandingkan dengan Dusun Tanahmilie.

Tabel 3. Batas Wilayah Desa Ujung Labuang
Tabel 3. Batas Wilayah Desa Ujung Labuang

Identitas Responden

  • Jenis Kelamin
  • Usia Responden
  • Tingkat Pendidikan dan Jenis Pekerjaan

Semua orang tua sangat menginginkan anaknya sukses dalam pendidikan dan karirnya, sehingga kedepannya dapat meningkatkan kualitas hidupnya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Terdapat perbedaan yang jelas dalam cara menyikapi suatu permasalahan antara masyarakat yang berpendidikan tinggi dibandingkan dengan masyarakat yang berpendidikan rendah, terkadang masyarakat yang berpendidikan tinggi lebih pintar dalam memutuskan suatu permasalahan dan lebih memikirkan masa depan dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan rendah. Jenis pekerjaan yang dilakukan responden sebagian besar adalah nelayan dan petani, untuk responden laki-laki, sedangkan untuk responden perempuan seluruhnya bermata pencaharian sebagai ibu rumah tangga.

Tabel 8 menunjukkan bahwa jenis pekerjaan tertinggi di Desa Ujung Labuang didominasi oleh nelayan dengan jumlah pekerja sebanyak 872 orang, disusul wiraswasta sebanyak 60 orang, sedangkan sektor pertanian/perkebunan hanya mempekerjakan 30 orang. Pasalnya, kawasan Desa Ujung Labuang terletak di pesisir pantai.

Tabel 6 menunjukkan bahwa frekwensi terbanyak berada pada usia  31-35  tahun  dengan  jumlah  responden  sebanyak  12  orang  (37,50%),  disusul  usia  26-30  tahun dengan  frekwesi  responden  sebanyak  10  orang  (31,25%),  selanjutnya  usia  31-35  tahu
Tabel 6 menunjukkan bahwa frekwensi terbanyak berada pada usia 31-35 tahun dengan jumlah responden sebanyak 12 orang (37,50%), disusul usia 26-30 tahun dengan frekwesi responden sebanyak 10 orang (31,25%), selanjutnya usia 31-35 tahu

Kajian Penelitian

Dengan kata lain, faktor yang sangat mempengaruhi tingginya tingkat kerawanan pangan di Indonesia adalah karena aspek ketersediaan pangan, aspek akses pangan, dan aspek penggunaan pangan. Penelitian ini akan mengkaji faktor-faktor penyebab kerawanan pangan di Desa Ujung Labuang Kecamatan Suppa dengan membagi 5 indikator individu dalam setiap aspek ketahanan pangan, yaitu indikator luas lahan pertanian yang bisa digarap, jumlah sarana dan prasarana pangan ( aspek ketersediaan pangan), indikator keadaan sarana transportasi (aspek ketersediaan pangan), indikator tingkat pendapatan rumah tangga dan porsi pengeluaran rumah tangga untuk pangan (aspek konsumsi pangan). Dengan memasukkan indikator-indikator proksim pada ketiga aspek ketahanan pangan, diharapkan diperoleh hasil penelitian terkait permasalahan faktor-faktor yang mempengaruhi kerawanan pangan di Desa Ujung Labuang, Kecamatan Suppa, Kabupaten Pinrang, dan solusinya untuk dijadikan informasi bagi pengambil kebijakan dalam melaksanakannya. intervensi untuk mengatasi kerawanan pangan yang lebih terfokus, tepat sasaran, berhasil dan efektif.

Indikator yang digunakan dalam penelitian ini merupakan gabungan antara indikator provinsi dan indikator kabupaten/kota. Perlu diketahui, indikator provinsi yang distribusi analisisnya berada pada tingkat kecamatan yang menggunakan 9 indikator, sedangkan untuk indikator Kabupaten/Kota sebaran analisisnya berada pada tingkat desa/kelurahan yang menggunakan 6 indikator. (BKP Kementerian Pertanian, 2021). Dalam analisis FSVA terdapat persamaan dan perbedaan indikator, oleh karena itu penggabungan indikator pada penelitian ini bertujuan untuk melihat secara jelas apakah indikator provinsi mempunyai dampak terhadap situasi kerawanan pangan di Kabupaten/Kota atau tidak.

Hasil Analisis dan Deskriptif Pembahasan Hasil 1. Hasil Analisis

  • Deskriptif Pembahasan Hasil
  • Solusi Pemecahannya

Koefisien tingkat pendapatan rumah tangga (X4) artinya setiap kali tingkat pendapatan rumah tangga meningkat maka ketahanan pangan akan meningkat. Nilai signifikansi t (X4) sebesar 0,021 < 0,05 maka H0 diterima dan H1 ditolak yang berarti variabel tingkat pendapatan keluarga secara parsial berpengaruh nyata terhadap kerawanan pangan di lokasi penelitian. Hasil wawancara kami dengan salah satu informan (MSD) mengenai pendapatan bulanan keluarga mengatakan demikian.

Berdasarkan hasil wawancara dan hasil pengolahan data primer, disimpulkan bahwa hasil koefisien tingkat pendapatan rumah tangga Koefisien proporsi pengeluaran rumah tangga untuk pangan (X5) artinya setiap kali proporsi pengeluaran rumah tangga untuk pangan meningkat maka kerawanan pangan akan meningkat. Berdasarkan teori Engel, semakin tinggi tingkat pendapatan maka persentase pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi pangan akan semakin menurun.

Jika sebaran pengeluaran pangan lebih besar dari 65 persen total pengeluaran, maka sebaran pengeluaran rumah tangga dikategorikan miskin (BKP dan WFP 2010; WFP 2009). Hasil wawancara kami dengan salah satu informan (KKT) mengenai pendapatan bulanan rumah tangga mengatakan demikian. Selain itu, pendapatan yang diperoleh juga digunakan untuk membeli peralatan rumah tangga dan pengeluaran lainnya.

Hal ini sejalan dengan hasil analisis koefisien porsi pengeluaran rumah tangga untuk pangan (X5) yang menunjukkan bahwa indikator tersebut tidak berpengaruh nyata terhadap faktor-faktor penyebab kerawanan pangan, sesuai dengan fakta empiris di tempat penelitian.

Tabel 10. Hasil Uji F-Statistik Analisis Regresi Linier Berganda
Tabel 10. Hasil Uji F-Statistik Analisis Regresi Linier Berganda

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa koefisien regresi luas lahan pertanian yang digarap (X1) adalah signifikan, artinya setiap luas panen bertambah 1 m maka akan meningkatkan ketahanan pangan. Koefisien regresi jumlah sarana dan prasarana penyediaan pangan (X2) mempunyai nilai, artinya setiap jumlah sarana dan prasarana bertambah maka ketahanan pangan akan meningkat sebesar. Koefisien regresi tingkat kondisi sarana transportasi (X3) artinya setiap peningkatan tingkat kondisi sarana transportasi maka kerawanan pangan akan semakin meningkat.

Koefisien porsi pengeluaran rumah tangga (X5) artinya setiap kali porsi pengeluaran rumah tangga meningkat, maka kerawanan pangan pun meningkat.

Saran

Penentuan dimensi dan indikator ketahanan pangan di Indonesia: review metode Dewan Ketahanan Pangan-Program Pangan Dunia. Analisis strategi coping dan ketahanan pangan rumah tangga petani di Desa Majasih Kecamatan Sliyeg Kabupaten Indramayu. -Faktor-Faktor yang mempengaruhi kerawanan pangan rumah tangga miskin di Desa Wiru Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang.

Ketahanan pangan rumah tangga berhubungan dengan status gizi anak dibawah dua tahun (Baduta) di Desa Kebon Kelapa, Kabupaten Bogor Tengah, Jawa Barat. Purwaningsih, 2011. “Analisis Identifikasi Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat Ketahanan Pangan Rumah Tangga Di Provinsi Jawa Tengah Tahun 2009”. Analisis ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan dalam mendukung pencapaian ketahanan pangan masyarakat di provinsi Jawa Tengah.

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

SUMMARY OUTPUT

ANOVA

Indikator Luas Lahan Pertanian Yang Digarap

Indikator Jumalah Sarana dan Prasarana Penyedia Pangan

Tingkat Kondisi Sarana Transportasi Yang Digunakan Dalam Penyediaan dan Penyaluran Pangan

Tingkat Pendapatan Rumah Tangga

Proporsi Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Pangan

Tingkat Kerawanan Pangan

Gambar

Gambar 1. Kerangka Konseptual Ketahanan Pangan dan Gizi
Tabel 1. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu
Gambar 2. Kerangka Pikir Penelitian KERAWANAN PANGAN DI
Tabel 3. Batas Wilayah Desa Ujung Labuang
+7

Referensi

Dokumen terkait

Segala Puji dan syukur penulis sampaikan kehadirat Allah SWT, karena berkat kerja keras dan ridlo-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul

Skripsi yang berjudul “Efektivitas Bimbingan Kelompok Berbasis Nilai Religius Untuk Mengurangi Kenakalan Remaja Peserta Didik Kelas VIII di MTs Manbaul Huda